Minggu, 20 Agustus 2017

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan.

Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.?

Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun. ? Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak. Yang sulung sudah kuliah; yang bungsu masih duduk di bangku SD.

Tabahnya Hati Seorang Muadzin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabahnya Hati Seorang Muadzin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Melihat banyaknya orang yang menshalatkan Bu Bariyah, baik laki-laki maupun perempuan, dan jumlah pelayat yang tidak bisa dihitung satu per satu, ditambah lagi banyaknya pelayat yang secara suka rela mengantarkan jenazah hingga tempat pemakaman dalam suasana hujan gerimis, orang awam saja bisa mengambil kesimpulan Ibu Sri Bariyah insyaallah husnul khatimah. Sebagai istri, kebaikan Bu Bariyah ? kepada Pak Syakur diakui banyak orang.

Aku pun juga mengakui kebaikan pasutri itu. Aku cukup tahu siapa mereka berdua. Rumahnya gandeng dengan rumah yang aku tempati, hanya posisinya bertolak belakang. Istriku juga sering bercerita Bu Bariyah ? adalah orang sabar, selalu hormat dan bakti kepada suami.

Maka tidak mengherankan ketika Kiai Halim di sore itu menanyakan kepada para pelayat apakah Bu Bariyah orang baik, semua hadirin menjawab serempak, “Orang baik!” Dan jawaban itu diulang hingga tiga kali. Dalam Islam, orang baik yang meninggal dunia di hari Jumat akan terlindung dari siksa api neraka. Ya, hari itu adalah Jumat, 9 September 2016, Ibu Sri Bariyah, S.Pd.I. pulang ke rahmatullah. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada banyak peristiwa dari pagi hingga sore hari itu terkait wafatnya Bu Bariyah dan prosesi pemakamannya. ? Namun, hal yang paling membuatku terharu adalah saat Pak Syakur berada di tempat pemakaman. Dalam susana seduka itu Pak Syakur masih sanggup mencucurkan keringat mencangkul tanah urug untuk mengurug kembali liang lahat dimana jenazah istrinya dibaringkan untuk selamanya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketabahan hati Pak Syakur memang dahsyat dan itu sekaligus merupakan ungkapan ridha seorang suami bahwa ia ikhlas ditinggal sang istri demi menghadap Sang Khaliq yang telah memanggilnya pulang dan takkan pernah kembali. Pak Syakur telah membuktikan kata-katanya di depan Kiai Halim yang membacakan mahasinul mayyit Bu Bariyah bahwa ia ridha atas apa yang menimpa istrinya. Sebelumnya Kiai Halim memang menanyakan hal itu.?

Allahumaghfirlaha... warhamha... wa’afiha... wa’fu ‘anha... waj’alil jannta matswaha. amin.





Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta





Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Kajian, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 18 Agustus 2017

ISNU Kalbar segera Terbentuk

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) segera terbentuk. Diperkirakan akhir tahun ini komposisi pengurus lengkap. Bila sudah lengkap segera dikirim ke ISNU pusat untuk minta disahkan.

"Komposisi pengurus hampir lengkap. Tinggal beberapa biro yang masih dicarikan personelnya. Insyaallah, akhir tahun ini sudah lengkap," kata Ketua ISNU Kalbar, Dr Agung Hartoyo M Pd di kantornya, siang kemarin (22/12).

ISNU Kalbar segera Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Kalbar segera Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Kalbar segera Terbentuk

Dijelaskan Agung yang juga dosen FKIP Untan ini, mencari orang untuk dimasukkan pengurus gampang. Cuma, mencari orang yang pas di posisi nya yang agak sulit. Belum lagi kesediannya, apakah mau atau tidak jadi pengurus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semua kita hubungi dulu untuk mohon kesediannya. Apabila bersedia baru kita masukkan. Bila tidak, tak bisa kita paksakan. Kita berharap seluruh pengurus bisa bekerja memajukan ISNU," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Belum lama ini ada pengurus ISNU pusat datang ke Kalbar. Dia meminta agar cepat dikirim komposisi pengurus. Harapannya, sebelum pelantikan Gubernur Kalbar, ISNU sudah dilantik.

"Makanya, kita akan persiapkan dengan cepat. Mudah-mudahan kita mendapatkan personel yang tepat agar ISNU Kalbar eksis," harap Agung.

Apabila ISNU Kalbar terbentuk, diharapkan menjadi wadah bagi sarjana untuk berkiprah bagi masyarakat. ISNU akan memperlihatkan kegunaannya untuk mengabdi pada bangsa dan negara.

"Itulah harapan kita. Memang berat, namun kalau sejumlah sarjana bersatu, kita yakin tujuan mulia itu bisa diwujudkan ISNU," tekad Agung.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Rosadi Jamani 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Hikmah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 17 Agustus 2017

"Keluarga" Allah di Bumi Lakukan Tujuh M Ini

Jakarta,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dosen ilmu tasawuf Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Shodiq menyampaikan tujuh hal yang harus dilakukan untuk menghormati Al-Qur’an. Pertama, yang harus dilakukan umat Islam membacanya.

Membaca di sini bukan sekadar membaca. Kalau membaca Al-Qur’an tanpa remuk redam hatinya atau menangis, berarti ada masalah dalam keimanannya terhadap kitab itu,” katanya saat berceramah di yang diselenggarakan Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di gedung Student Center, pada Selasa (18/10).

Keluarga Allah di Bumi Lakukan Tujuh M Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Allah di Bumi Lakukan Tujuh M Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

"Keluarga" Allah di Bumi Lakukan Tujuh M Ini

Kiai Shodiq mengutip pernyataan seorang sufi besar, Malik bin Dinar, bahwa tidak beriman seorang hamba dengan Al-Qur’an ini kecuali akan remuk redam hancur hatinya. Pernyataan ini ia kutip dari kitab Addurarul Mansur karya Imam Suyuti.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau udah bener imannya, ndak mungkin kamu gak gemetar membacanya,” ucapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah itu, menghafalnya. Dalam menghafal, kita tidak dituntut untuk menghafalkan semuanya. Tidak cukup sampai menghafal, kita juga harus memahaminya. Namun, kita juga jangan berpuas diri sampai pada tahapan memahami.

Di akhir zaman nanti, Kiai Shodiq menjelaskan, akan banyak generasi yang hanya senang melafalkan Al-Qur’an dan Al-Qur’an cuma menjadi wacana diskusi, tetapi tidak merasuk ke dalam hati.

Tentu tidak akan ada gunanya kalau hanya memahami aturan tetapi melanggarnya. Maka dari itu, kewajiban kita selanjutnya adalah melaksanakan. Dia mencontohkan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, udzkurullah dzikran katsira. Kita mengetahui, paham, dan hafal ayat tersebut. Tetapi kita tidak berzikir banyak-banyak.

“Lah terus untuk apa?” tanyanya dengan nada menyindir.

Selanjutnya membiasakan. Melaksanakan tidak cukup sekali. Lawan nafsu untuk terus melaksanakannya terus menerus.

Membiasakan itu masih bisa goyah. Maka, tahap selanjutnya adalah kita harus mempribadikan Al-Qur’an. Artinya, kita harus menjadikan Al-Qur’an itu sebagai akhlak kita.

“Akhlaknya Rasul itu ya Al-Qur’an,” ujar Kepala Pusat Mahad UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengutip pernyataan Sayyidah Aisyah.

“Quran itu bukan lagi dalam pikiran, tapi sudah masuk dalam perasaan,” lanjutnya.

Setelah semua langkah itu terpenuhi, maka tahapan terakhir, menurutnya, adalah kita harus memasyarakatkan Al-Qur’an.

Mereka yang melakukan tujuh hal di atas adalah ahlullah fil ard, keluarga Allah di bumi. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU: Resolusi DK PBB Efektif untuk Dunia Islam, Tidak bagi Israel

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, setiap resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) hanya efektif bila diterapkan pada negara-negara berpenduduk sebagian besar Muslim atau dunia Islam. Sebaliknya, resolusi sekeras dan setegas apapun tak akan mempan pada Israel.

Hal tersebut dikatakan Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Ahad (3/6). Ia mengatakan hal itu menyusul Sidang Paripurna DPR RI yang akan meminta pertanggungjawaban Pemerintah terkait dukungannya terhadap Resolusi DK PBB nomer 1747 soal program nuklir Iran.

PBNU: Resolusi DK PBB Efektif untuk Dunia Islam, Tidak bagi Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Resolusi DK PBB Efektif untuk Dunia Islam, Tidak bagi Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Resolusi DK PBB Efektif untuk Dunia Islam, Tidak bagi Israel

Presiden World Conference on Religions for Peace itu mengingatkan kepada pemerintah bahwa sidang yang bakal digelar pada Selasa, 5 Juni mendatang itu, seharusnya dijadikan titik tolak untuk mengukur atau menilai kembali perilaku nasionalisme bangsa Indonesia dalam dimensi nasional dan internasional.

“Untuk menghindari polarisasi, jangan lagi kita bicara agama, bicara kemanusian saja sudah akan banyak yang krusial, di samping posisi Indonesia sebagai negara bebas-aktif dan pelopor Gerakan Non-Blok,” terang Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Ia mengaku tak habis pikir tentang perilaku sebuah pemerintahan yang secara sukarela mengizinkan negara asing memasuki daerah wilayah teritori pertahanan. Demikian pula dalam bidang ekonomi. “Bagaimana Rancangan Undang-undang Penanaman Modal Asing menjadikan asing sebagai pemilik, sementara pemilik Indonesia sebagai orang asing?’ gugatnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu, mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengikuti dengan cermat sidang paripurna tersebut. Tujuan utamanya untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya keadaan moral politik, moral ekonomi dan moral budaya para pemimpin serta pengendali bangsa. “Masihkah ada harapan?” katanya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gara-gara Palestina Gus Mus Jadi Penyair

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Selain dikenal sebagai seorang kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri juga adalah seorang penulis, seniman, budayawan, dan penyair. Ada deretan judul buku yang telah ditulis Gus Mus. Diantarannya adalah buku kumpulan puisi-puisi.

Gara-gara Palestina Gus Mus Jadi Penyair (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Palestina Gus Mus Jadi Penyair (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Palestina Gus Mus Jadi Penyair

Lalu, apakah ada yang tahu bahwa awal mula Gus Mus terjun menjadi penyair adalah karena Palestina?

Hal itu disampaikan oleh Ketua Panitia acara Doa Untuk Palestina Ulil Abshar Abdalla saat memberikan sambutan ketua panitia.

"Gus Mus menjadi penyair karena Palestina," jelas Ulil, Kamis (24/8) di Gedung Graha Dakti Budaya dalam malam Doa dan Pembacaan Puisi untuk Palestina. 

Pada tahun 1982, KH Abdurrahman Wahid yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar acara yang sama. Yaitu pembacaan puisi untuk Palestina di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Gus Mus membaca kan puisi 35 tahun yang lalu di Taman Ismail Marzuki," ucapnya.

KH Husein Muhammad juga mengamini apa yang dikatakan oleh Ulil itu bahwa Gus Mus pertama kali membaca Puisi karena diundang oleh KH Abdurrahman Wahid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Gus Mus pertama baca puisi diundang oleh Gus Dur," ujarnya.

"Dan saya pertama kali baca puisi diundang oleh Gus Mus," lanjutnya disambut derai tawa penonton. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 16 Agustus 2017

Piagam Madinah Rasulullah, Konstitusi Pertama di Dunia

Waktu Rasululullah SAW dan para sahabatnya memasuki kota Madinah, beliau mendapat sambutan yang luar biasa, sehingga setiap orang dari mereka menawarkan agar beliau tinggal di rumahnya. Nabi SAW tidak mau mengecewakan ajakan mereka dan beliau pun tidak melebihkan salah seorang dari mereka, baik kaya atau miskin. Agar tidak mengecewakan penduduk Madinah, Nabi tidak singgah di rumah salah seorang dari mereka. Nabi mengatakan: “Biarkan unta itu berjalan, di mana ia berhenti, di situlah kami tinggal, karena unta itu telah ada yang memerintah”.

Perhatian ribuan orang kini tertumpu pada unta Nabi yang bernama al-Qushwa, yang berjalan sendiri, diikuti oleh semua orang. Orang-orang Madinah dalam hati kecilnya berharap, semoga unta itu berhenti di rumahnya. Ternyata unta itu terus berjalan berbelok ke kanan ke kiri, lurus, belok lagi dan ketika sampai di tanah lapang yang luas tempat menjemur buah kurma, unta itu tiba-tiba berhenti kemudian berlutut beristirahat di lapangan itu. Semua orang berteriak histeris. Dengan rasa haru dan bahagia mereka mengatakan: “Di sini kami akan bangun masjid Rasul SAW” (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi a-Rahmah, hal. 62-63).

Piagam Madinah Rasulullah, Konstitusi Pertama di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Piagam Madinah Rasulullah, Konstitusi Pertama di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Piagam Madinah Rasulullah, Konstitusi Pertama di Dunia

Tanah lapang tempat menjemur kurma itu adalah milik dua orang anak yatim, kakak beradik bernama Sahal dan Suhail. Tanah lapang itu kemudian dibeli oleh Nabi untuk membangun masjid raya. Sahal dan Suhail pada mulanya menolak pembelian itu, keduanya ingin mewakafkan saja tanah itu kepada Nabi, tetapi Nabi tidak akan menyia-nyiakan hak seseorang, apalagi anak yatim, maka Nabi pun membayar dengan harga yang sewajarnya. Di tempat itulah dibangun masjid raya yang kini kita kenal dengan Masjid Nabawi yang berkubah hijau di kota Madinah.





Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ukhuwah Islamiah

Selain membangun masjid raya sebagai tempat ibadah dan pusat dakwah Islamiah, Nabi menegakkan ukhuwah Islamiah atau persaudaraan sesama umat Islam, antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah, kaum Anshar, pribumi Madinah dan berbagai bangsa lain seperti orang Persi, orang Rum atau Bizantium, orang Afrika dan sebagainya Nabi mengokohkan tali persaudaraan sesama umat Islam, disatukannya antara orang-orang Muhajir dengan Anshar dan bangsa lain dalam persaudaraan yang penuh kasih sayang. Nabi bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kamu dapati orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, saling mencintai dan saling beriba hati di antara mereka, bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh itu sakit maka akan dirasakan oleh seluruh tubuhnya”. (HR. Bukhari, No: 5552, Muslim, No: 4685, Ahmad, No: 17684).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, karena itu seseorang tidak boleh menyakiti saudaranya dan jangan membiarkannya tersiksa. Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan kesulitan orang Islam maka Allah melepaskan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Siapa yang menutupi aib atau kekurangan seorang muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. (HR. Bukhari, No: 2262, Muslim, No: 4677). 

Seorang muslim dengan muslim yang lain hendaknya menjalin persatuan, tolong menolong terhadap sesama mukmin dan saling berbuat kebajikan. Nabi bersabda:

? ? ? ? ? ? ? 

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah bagaikan bangunan yang satu, satu bagian dengan bagian yang lain saling menguatkan”. (HR. Bukhari, No: 459. Muslim, No:  4684).

Persaudaraan antara pengikut Nabi, Muhajir dan Anshar, serta bangsa-bangsa lain adalah persudaraan yang sangat tulus, kasih sayang yang benar-benar tumbuh dari hati sanubari mereka. Mereka tidak mengharapkan apapun selain keridhaan Allah semata. mengenai keikhlasan pribumi Madinah yang disebut kaum Anshar dan kaum Muhajir diabadikan dalam Al-Qur’an:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr, 59: 9-10).

Konstitusi Madinah

Selain membina persaudaraan sesama orang-orang Islam atau ukhuwah Islamiah di kota Madinah, Nabi SAW juga membina persaudaraan antara sesama umat manusia atau ukhuwah insaniah. Dalam mengatur di kota Madinah, yang penduduknya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama, Nabi membuat perjanjian dengan berbagai kalangan yang disebut Konstitusi Madinah, atau Piagam Nabi Muhammad SAW Masyarakat Madinah terdiri dari kaum muslimin, yang merupakan gabungan antara kaum Muhajir dan kaum Anshar, masyarakat Yahudi yang terdiri dari berbagai suku, kaum Nasrani dan masyarakat Madinah yang masih musyrik. 

Konstitusi di zaman Nabi, sebagai Konstitusi tertulis yang tertua itu terdiri dari sepuluh bab, berisi 47 Pasal. Di antaranya mengatur mengenai persaudaraan seagama, persaudaraan sesama umat manusia, pertahanan bersama, perlindungan terhadap minoritas, pembentukan umat dan sebagainya.

Perhatikan beberapa contoh pasal berikut ini: Pasal 1: Pembentukan umat, sesungguhnya mereka adalah satu bangsa (umat) bebas dari pengaruh manusia lainnya. Dalam pasal-pasal yang menyangkut hak asasi disebutkan bahwa hak dan kewajiban yang sama antara kaum Muhajir, Anshar dan suku-suku lain seperti Suku Auf, Bani Saidah, Bani al-Harits, Bani Najar dan sebagainya. Pasal tentang persatuan seagama, disebutkan segenap orang-orang yang beriman yang bertakwa harus menentang setiap orang yang berbuat kedzaliman, melanggar ketertiban, penipuan, permusuhan, di kalangan masyarakat orang-orang yang beriman. (Lihat: Hayatu Muhammad, hal. 225-227 dan Z.A. Ahmad, Piagam Nabi Muhammad, hal. 21-30).





KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah

Manusia tak pernah putus menerima aliran nikmat Allah dalam bentuk apapun baik material maupun nonmaterial yang disadari sebagai sebuah nikmat atau yang tak disadari. Kalau sudah begini, mereka harus menjaga adab kepada Allah dalam bentuk syukur.

Ada juga sebagian orang yang tidak taat dan kufur sering tampak hidup makin membaik, segar bugar tanpa sakit, makin jauh dari kemiskinan, dan seterusnya. Tidak perlu heran karena di sinilah sebenarnya rahmat Allah untuk mereka.

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Gagal Lewati Ujian di Sini Menurut Ibnu Athaillah

Sebenarnya ketika seseorang mendurhakai Allah sementara anugerah-Nya terus mengalir bahkan secara lahiriah bertambah banyak, ia patut waspada karena bisa jadi itu merupakan bagian dari istidraj dari Allah sebagai disinggung Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Takutlah pada kebaikan Allah kepadamu di tengah keberlangsungan durhakamu terhadap-Nya karena itu bisa jadi sebuah tipudaya (istidraj) seperti firman-Nya, ‘Kami memperdayakan (mengistidrajkan) mereka dari jalan yang mereka tak ketahui.’”

Istidraj adalah semacam perangkap bagi manusia di mana mereka yang durhaka kepada Allah tampak semakin makmur, jaya, dan sejahtera. Tetapi sejatinya peningkatan kemakmuran yang terus beranjak naik bahkan melimpah itu sejatinya adalah uluran atau semacam penundaan untuk azab Allah yang pada gilirannya lebih dahsyat menimpa yang bersangkutan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Istidraj adalah ujian tersembunyi di balik sebuah anugerah Allah. Istidraj terambil dari kata ‘daraj’ (angsuran), seperti anak kecil yang mulai berjalan selangkah demi selangkah. Terambil dari kata ini juga adalah anak tangga di mana seseorang dapat naik ke atas. Sama halnya dengan orang yang diistidraj. Ia dicekal melalui nikmat sedikit demi sedikit tanpa sadar. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya kami cekal mereka dengan kenikmatan, lalu kami jerumuskan mereka ke dalam siksa tanpa mereka sadar.

Perihal ini Syekh Zarruq berkata, ‘Wahai para murid, takutlah pada karunia-Nya untukmu berupa kesehatan, kelapangan, kucuran deras rezeki, dan aliran deras  kekuatan baik material maupun spiritual di tengah kedurhakaanmu terhadap-Nya berupa kelalaian dan keteledoran,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101).

Orang yang terjaga mata batinnya selalu waspada dan khawatir atas penambahan nikmat dari Allah berupa harta, jabatan, status, eksistensi, dan lain sebagainya. Mereka khawatir nikmat itu merupakan istidraj dari Allah karena kerap lalai bersyukur atas nikmat itu. Kekhawatiran ini merupakan sifat orang-orang beriman.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Takut pada ujian melalui nikmat Allah adalah sifat orang beriman. Tidak takut pada ujian kenikmatan di tengah kedurhakaan adalah sifat orang kafir. Sebagian ulama mengatakan, tanda-tanda istidraj adalah durhaka kepada Allah, terperdaya dengan ketenangan waktu, mengandung penundaan siksa atas kewajiban sampai pada-Nya. Ini adalah tipudaya tersembunyi. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya tanpa mereka sadari. Syekh Ibnu Athaillah berkata, ‘Setiap kali mereka bermaksiat, Kami perbarui nikmat untuk  mereka dan kami membuat mereka lupa pada istighfar atas maksiat tersebut,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Indonesia, Maktabah Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, halaman 51).

Manusia dianjurkan untuk selalu bersyukur kepada Allah dalam bentuk ucapan, keyakinan, dan tindakan. Dalam menerima nikmat dengan segala bentuknya, manusia juga ditekankan untuk tidak melupakan jasa dan budi baik orang lain. Agama menganjurkan manusia untuk berterima kasih terhadap sesama karena tanpa disadari manusia berutang budi satu sama lain sebagai disinggung Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap orang, ketika merasakan nikmat lahir-batin dan material-spiritual, wajib mengetahui kewajibannya dan segera mensyukurinya melalui ucapan, keyakinan, dan perbuatan. Lidah mengucap ‘Alhamdulillah’. Mulut bersyukur. Keyakinan itu melihat kehadiran Allah dalam nikmat tersebut dan menyandarkan nikmat kepada-Nya, dan tak perlu lagi melihat sebab kucuran nikmat di mana semuanya diyakini dengan hati dan disyukuri dengan ucapan. Tetapi siapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain atas jasanya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Orang yang paling berterima kasih kepada orang lain adalah orang paling bersyukur kepada-Nya. Apabila seseorang berterima kasih kepada orang lain dengan ucapan, ‘Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalas budi baikmu),’ maka ia telah menjalankan kewajibannya untuk syukur. Bentuk syukur dengan perbuatan adalah penggunaan segala nikmat tersebut untuk taat kepada Allah sebagaimana keterangan lalu.

Kalau ia tidak bersyukur baik dengan ucapan, keyakinan, maupun perbuatan, dikhawatirkan nikmat itu ditarik atau menjadi istidraj. Istidraj ini lebih buruk daripada penarikan nikmat. Simpulannya, kewajiban syukur adalah adab kepada Allah sebagai pemberi nikmat. Orang yang su’ul adab ketika datang nikmat, maka akan diberi pelajaran agar beradab. Pengajaran di dalam batin ini yang kerap jarang disadari banyak orang,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101-102).

Singkatnya, manusia harus menjaga adab kepada Allah dan kepada orang lain. Jangan sampai kufur nikmat dan tidak tahu terima kasih kepada orang lain. Manusia harus bersyukur kepada Allah dengan segala bentuknya dan juga berterima kasih kepada orang lain atas jasa mereka. Husnul adab menjadi kata kunci penolak istidraj. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Hadits, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah