Sabtu, 29 November 2014

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penasihat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Achmad Sujudi mengatakan, dasar perjuangan pemberantasan Tuberculosis (TB) adalah semangat atau passion. Semangat tersebut dapat bisa dibangunkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui inspirasi dari karya seni.?

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Sujudi menyampaikan hal itu dalam diskusi bertema “Praktik Terbaik Program Kemitraan Stop Tuberculosis dengan LSM/CSO” di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12) siang.

“Karya seni dari poster, sajak dan lagu dapat menjadi semangat. Dari puisi Chairil Anwar berjudul Aku terdapat kata-kata ’tak perlu sedu sedan itu/aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang/biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih perih/dan aku akan lebih tidak perduli/aku mau hidup seribu tahun lagi,” demikian Sujudi mengutip puisi karangan Chairil Anwar.

Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004) ini menjelasakan penderita TB ibaratnya seperti binatang jalang dari kumpulan sampah yang terbuang.?

“Tapi mereka tidak menyerah, justru ingin hidup (sampai) seribu tahun lagi. Itu bisa menjadi slogan dan semangat para penderita TB,” tegas Sujudi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bentuk seni berikutnya adalah poster yang bisa diambil dari karya pelukis Sudjojono berjudul “Bung, Ayo Bung!”

“Poster itu mengajak semua orang untuk berjuang. Semangat perjuangannya bisa ,” kata Sujudi dalam diskusi yang dihadiri para pemerhati penanganan TB.

Berikutnya dalam lagu karangan Ismail Marzuki berjudul “Indonesia Pusaka”. Menurut Sujudi, ? lagu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga Indonesia, termasuk melalui perbaikan kesehatan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 November 2014

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 04 November 2014

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan konferensi, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2013-2018, secara resmi dilantik di kantor MWC NU setempat, Jumat (31/1).

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Selain pelantikan, rangkaian acara juga meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara pelantikan dilanjutkan dengan musyawarah kerja (Musker) MWC NU Balen.

Panitia pelantikan, Mulazim, menjelaskan, sebelum pelantikan Jumat siang ini, tahtimul Quran lebih dulu digelar Kamis (30/1) malam di kantor MWC NU Balen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC NU Bojonegoro, Cholid Ubed berpesan kepada seluruh pengurus hinga tingkat ranting, termasuk jajaran badan otonom NU, baik IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor, untuk tetap memegang sikap kejujuran.

"Kuncinya jujur, karena kejujuran merupakan pondasi yang tidak akan pernah terkalahkan. Serta orang yang mau mengurusi, baik meengurusi NU maupun organisasi dan masyarakat," sambung dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan, kebersamaan, kejujuran dan kepedulian perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat bisa bersatu dan tidak terjadi konflik sosial.

Rais Syuriyah MWC NU Balen Abdullah Hilmi Al-Jumadi mengajak para undangan dalam acara pelantikan, untuk meneladani sosok Gus Dur. Pasalnya presiden keempat RI itu tidak pernah diskriminatif di tengah keragaman budaya dan agama di Tanah Air.

"Kita orang Indonesia yang beragama islam, bukan islam yang hidup di makkah," ujar Kepala KUA Kecamatan Malo, Bojonegoro ini. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 02 November 2014

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Rahmat El-Basqy

66 Tahun yang lalu, 4 Agustus adalah hari lahir KH Abdurrahman Wahid. Bagi kalangan anggota Nahdlatul Ulama khususnya dan aktifis kemanusiaan dunia, tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari besar bagi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. Meski ada 2 tanggal lahirnya hari lahir, sebagian besar memilih tanggal 4 Agustus sebagai hari lahir. Menurut Greg Barton (2003), Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 4 September. Meski demikian, sebagain besar orang tidak ingin berpolemik soal kapan Gus Dur dilahirkan. Mereka lebih senang mendapatkan cerita-cerita tentang Gus Dur dan cara mengisi kehidupannya.

Sebagai anak pesantren, lahir dan besar di pesantren sekaligus cucu pendiri NU, Gus Dur memiliki kelebihan yang berbeda dengan yang lain. Meski demikian, sebagaimana tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, setiap ulama yang telah wafat, orang-orang biasa biasa merayakan hari wafatnya dengan haul dibandingkan merayakan hari lahirnya.

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Greg Barton (2003: 25) dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid menggambarkan, “Namun dia tidak selalu membaca hal-hal yang bersifat agama atau melakukan kegiatan budayayang berkaitan dengan agama. Ketika berdiam di Yogyakarta lah ia mulai menyukai film secara serius. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskan dengan menonton film”.

Gambaran tersebut membuat kita yang paham menjadi sangat lumrah kala Gus Dur memiliki referensi-referensi yang kaya tentang semua jenis keilmuan. Pengetahuannya yang luas karena buku dan pengalamannya yang banyak tergambar dari wacana-wacana pemikirannya yang dinamis dan kontemporer. Dia mampu mengekspor banyak pemikiran tentang Islam dan kenegaraan pada kancah dunia tanpa sedikitpun meninggalkan akar budaya lokal; Hidup di Pesantren dan aktif di Nahdlatul Ulama yang disebut kaum tradisional, mencintai negaranya melebihi apapun yang dimilikinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada prinsipnya, Gus Dur pada masa hidupnya telah selesai semua urusan lahir maupun bathin. Meski lahir dari keluarga besar dan tokoh nasional, Gus Dur memilih berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralitas yang diyakininya. Nilai-nilai keagamaan, kenegaraaan, Humanisme dan lain sebagainya. Beberapa orang memprotes pemikirannya tapi sebagian besar mengiyakan semua yang dilakukan Gus Dur, bahkan tak sedikit yang merapat dan berbaris dibelakang Gus Dur tanpa memandang latar belakang agama, profesi atau kebudayaannya.

Gus Dur dengan segala dialektikanya telah masuk ke dalam semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Apapun wacana pemikiran orang-orang baik dalam negeri bahkan luar negeri sudah menjadi pemikiran Gus Dur. Kumpulan tulisan beliau misal Tuhan Tidak Perlu di Bela, Islam Kosmopolitan,Pribumisasi Islam, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan (2001) dan lain-lainnya adalah gambaran bagaiman beliau memiliki wacana yang sangat dinamis dan luar biasa. Dari sekian banyak tulisan beliau, tak pernah lepas dari tentang nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, kebudayaan, HAM dan isu-isu humanisme.

Hingga sekarang, Islam Nusantara menjadi gagasan menarik bahkan kontoversial bagi kritikus pemikiran keagamaan maupun pemerhati keagamaan di Indonesia. Istilah yang mulai ramai saat digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Jika kemudian beberapa orang mengganggap Islam Nusantara sebagai paham keagamaan baru sesungguhnya tidak benar dan justru menodai semangat lahirnya Islam Nusantara. Islam Nusantaralahir untuk melestarikan kebudayaan lokal yang dalam koridor nilai-nilai Islam.

Menteri Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan buku Zainul Milal (2016: 3) menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kebudayaan yang perjuangkan Gus Dur. Gus Dur sesungguhnya spirit Islam Nusantara karena beliau mampu menjelaskan secara detail dan logis mengapa Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-berbeda tapi bisa terjalin harmonisasi. Dari sekian banyak budaya yang terpengaruh ajaran-ajaran Islam, tak satupun yang bertentangan dengan Islam.

Syaiful Arif (2013: 96) menjelaskan pendapat Gus Dur terkait persebaran Islam di Nusantara. “Pertama Pola Aceh yang menghadirkan Islam secara kultural da dengan kultural Islam yang kuat, didirikanlah kerajaan berbasis syariat. Kedua pola Minangkabau, yang mana sebelum datangnya Islam sudah ada hukum adat, hingga akhirnya terjadi perang Padri. Ketika pola Goa (Baca Sulawesi Selatan), yang mana meskipun sebelum Islam telah ada hukum adat, Islam bisa seiring sejalan dengan adat. Dan pola keempat, pola jawa. Di masyarakat Jawa telah ada aliran Kejawen sebelum kehadiran Islam. Maka kerajaan Mataram Islam mengakomodasi Kejawen dengan memberikan ruan bebas secara kultural.”

Pendapat tersebut sebagai contoh dari sekian banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menjadi referensi utama Islam Nusantara dalam isu-isu lokalitas dan kemanusiaan. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tersebut akan selalu dilestarikan penggerak Islam Nusantara tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan atau memisahkan keduanya. Artinya, Islam Nusantara adalah cara berpikir tanpa harus membedakan antara Islam dan kebangsaan Indonesia apalagi mempertentangkan keduanya.***

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung, Ketua PC IPNU Lampung Tengah 2009-2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 22 Oktober 2014

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo

Boyolali, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah


Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, menyerahkan sejumlah bantuan untuk korban banjir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Penyerahan bantuan tersebut langsung dilakukan secara simbolis oleh Ketua PC GP Ansor dan Kasatkorcab Banser Boyolali, kepada perwakilan Ansor-Banser setempat yang ikut menjadi relawan.

Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Ketua PC GP Ansor Boyolali, Choiruddin Ahmad, mengatakan pemberian bantuan terwujud dari upaya bersama dari para kader Ansor dan Banser di Boyolali. “Semoga dapat meringankan beban mereka yang tertimpa musibah," ujar Choiruddin, Sabtu (24/12).

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat ini merupakan partisipasi dan bantuan, dari seluruh sahabat Ansor, termasuk dari Anak Cabang. “Sebagian dari mereka bahkan ada yang mengadakan aksi sosial untuk penggalangan dana bagi para korban banjir ini,” kata dia.

Choiruddin menambahkan, dana yang terkumpul kemudian dibelikan sembako untuk diserahkan kepada korban banjir.

"Kami harap masyarakat tak melihat jumlah bantuan yang kami berikan, tapi ketulusan dan kepedulian kami," tuturnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 19 Oktober 2014

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara!

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Syair kitab Barzanji selalu didendangkan di pesantren-pesantren NU tiap malam Jumat. Sebagian santri menghafalnya sebagaimana mereka ingin menguasai kitab Alfiyah Ibnu Malik dan kitab-kitab lain. Di masyarakat, terutama pedesaan, syair riwayat Nabi Muhammad itu dijadikan iringan dalam selamatan kelahiran bayi.

Menurut pegiat teater Syahid, Abdullah Wong, para santri dan masyarakat yang sedang membacakan Barzanji, tanpa disadari sedang menjalani “momen teatrikal”. Dari prolog sampai epilog Barzanji, ketika dibacakan orang-orang pesantren menjadi “peristiwa tetrikal” dan “peristiwa sastra”.

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara!

Penulis novel Mada ini mengatakan, seorang Rendra terpukau kepada “peristiwa” Barzanji. “Kita tahu bahwa dia tidak mengerti bahasa Arab. Dia hanya melihat bagaimana performen Barzanji dibacakan pada proses abtadiul imla sampai mahalul qiyam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Itu sebagai peristiwa teatrikal bagi Rendra. Selain sebagai peristiwa teatrikal, itu sebagai peristiwaa sastra,” jelasnya setelah menonton Permata Kalung Barzanji yang dipentaskan 50 santri dari 9 pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat malam (7/2).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sini, lanjutnya, Rendra bukan lebih dulu terpukau kepada Nabi Muhammad, tapi pada “peristiwa Barzanji”. Nah, peristiwanya saja sudah memukau Rendra, “Wallahu a’lam, itu mungkin hidayah. Rendra kemudian yang meminta diterjemahkan, untuk menyelami siapa Nabi Muhammad itu,” katanya.

Ia menambahkan, peristiwa teater sudah berlangsung dalam tradisi kita, dalam pesantren-pesantren NU. “Dalam peristiwa teatrikal Barzanji misalnya, bagaimana kita duduk bersama, kemudian semuanya berdiri, ketika pas bacaan tertentu. Tubuhnya pun diartikulasikan. Itu teater,” jelasnya.

Pada saatt berdiri itu, kata dia, mereka sedang mengapresiasi kehadiran Nabi Muhammad. Nabi Muhammad bagi mereka bukan imajinasi.

“Bahkan bagi kalangan mistikus, pada peristiwa itu, Rasulullah itu hadir. Maka dhomir (kata ganti orang dalam bahasa Arab)nya itu selalu ya nabi salam alaika. Dhomir yang menunjukkan kata ganti orang kedua. Bukan ya nabi salam alaihi, (kepadanya). Langsung dhomir mukhotob (kata ganti orang kedua). itu peristiwa teatrikal, Saudara!” kata santri asal Brebes ini.

Lebih jauh, Abdullah Wong juga menilai, kesaharian santri bersikap kepada guru, ketika dia lewat, membalikkan sandal guru, itu juga peristiwa-peristiwa teater. “Pesantren sebagai subkultur Indonesia, telah lama mengalami peristiwa teater, terutama dalam persoalan berekspresi.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 Oktober 2014

Aswaja Pedoman Warga NU

Judul:Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU

Penulis : KH Abdurrahman Navis Dkk,

Pengantar: KH Miftahul Akhyar 

Editor: Achmad Ma’ruf Asrori

Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Pedoman Warga NU

Penerbit: Kahlista, Surabaya

Cetakan: I, Juni 2012

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tebal: 346 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan, SH. I

Dengan didirikannya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja). Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah sebuah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. KH Bisri Musthofa mendefinisikan Aswaja yaitu aliran yang menganut madzhab fiqh yang empat, Imam Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Beliau juga menyebutkan, Aswaja merupakan paham yang mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi  dalam bidang akidah, sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid al-Bagdadi dan Imam Ghazali.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Paham Aswaja ini banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya diikuti oleh warga NU, yang di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasut, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

Buku Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah ini, disusun oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur yang salah satu tim penulisnya adalah, KH Abdurrahman Navis, Muhammad Idrus Ramli, dan Faris Khairul Anam. Dari ketiga tim tersebut, adalah pakar yang tidak diragukan lagi kealiman ilmunya, seperti Ustad Idrus Ramli yang sudah banyak melahirkan banyak karya tentang Aswaja. Salah satu tujuan disusunnya buku ini, yaitu sebagai modul bahan bacaan, dan pegangan warga NU agar supaya paham apa itu makna Aswaja, apa yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana cara mengaplikasikannya dengan baik dan sempurna. 

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah  sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang besar di Indonesia. Salah satunya, seperti aliran Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir, Majlis Tafsir al-Qur’an (MTA), Syi’ah, yang ajaran ideologinya telah bertentangan dengan Aswaja. Misi mereka adalah mengadu domba umat Islam, menuduh bahwa perbuatan yang dilakukan oleh warga NU bid’ah, syirik, dan tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadits. Tuduhan-tuduhan yang sudah meresahkan masyarakat tersebut sudah bebas di akses dimana-mana, baik melalui media cetak, elektro, buku, bahkan mereka mulai berani berdakwah di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan di komplek-komplek perumahan.

Adapun amaliah dan tradisi islami warga NU, yang diklaim bid’ah dan termasuk perbuatan syirik oleh mereka adalah, tradisi ngapati, mitoni, tingkepan, mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil, talqin saat pemakaman jenazah, ziarah kubur, selamatan dalam 7 hari kematian, memberikan jamuan makan kepada para pentakziah, membaca al-Qur’an di kuburan, istghosah, tahlilan, yasinan, dan diba’an. Sementara di dalam buku yang sederhana ini, dijelaskan bahwa tradisi tersebut tidak termasuk perbuatan bi’ah dan bukan perbuatan yang diharamkan. Dalil-dalilnya shahih, seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, hadist, dan kitab-kitab klasik yang telah muktabar dikalangan para ulama.  

Menariknya di dalam buku ini, menjelaskan beberapa aliran yang telah berkembang degan pesat di negara kita ini, seperti Syi’ah, Wahabi Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir (HTI), Jama’ah Tabligh, Jama’ah Islamiyah, Ahmadiyah, Jama’ah Ansharut Tauhid, Fron Pembela Islam (FPI), mulai dari pengertian, sejarah berdirinya, hingga ajaran dan penyimpangannya yang telah bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dan tak kalah menariknya juga dijelaskan tentang “Fikrah Nahdliyah” (metode berfikir ke NU-an). Sesuai keputusan Musyawarah Nasional Ulama di Surabaya “Fikrah Nadliyah”, didefinisikan sebagai kerangka berfikir yang didasarkan pada ajaran Ahlussunnah Waljama’ah yang dijadikan landasan berfikir Nahdlatul Ulama (Khittah Nadliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlah al-ummah (perbaikan umat) hal. 167.

Buku ini penting dibaca oleh siapa saja lebih-lebih dibaca oleh kader-kader muda NU yang masih mempunyai keyakinan bahwa amaliah dan tradisi yang selama ini kita yakini bukanlah perbuatan bid’ah seperti yang dituduhkan oleh kelompok Salafi Wahabi. Amaliah dan tradisi yang kita lakukan selama ini adalah perbuatan disunnahkan, yang tentunya dapat pahala bagi yang melakukannya. Wallahu a’lam

* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Warta, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah