Senin, 28 Juli 2014

BEM FIA Unipdu Jombang Kirim Bantuan dan Relawan

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Musibah erupsi Gunung Kelud membuat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang mengadakan aksi kemanusiaan. Selain mengumpulkan donasi uang dan barang, para aktivis mahasiswa Unipdu juga bergerak sebagai relawan.

Ada enam mahasiswa Unipdu yang rela bergabung dengan relawan erupsi Gunung Kelud. "Mereka akan berada di posko Kelud sekitar satu minggu," kata Dianti Ninda Putri, Gubernur BEM FIA kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis (20/2).

BEM FIA Unipdu Jombang Kirim Bantuan dan Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)
BEM FIA Unipdu Jombang Kirim Bantuan dan Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)

BEM FIA Unipdu Jombang Kirim Bantuan dan Relawan

Para relawan akan mengawal seluruh bantuan dari masyarakat untuk disampaikan kepada korban. "Mereka yang akan memberikan informasi terbaru kondisi dan barang apa saja yang paling mendesak untuk diberikan kepada pengungsi," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada saat yang sama, para aktivis Unipdu juga terus berupaya menghimpun dana dari masyarakat di sejumlah titik strategis. BEM FIA Unipdu berkomitmen akan terus menggalang dana bantuan selama masih dibutuhkan. Selain mahasiswa, donasi juga datang dari para dosen dan pimpinan fakultas.

Secara khusus, Dianti? mengajak segenap warga untuk turut berpartisipasi dalam penyaluran bantuan bagi erupsi Kelud.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Namanya makhluk sosial tidak bisa hidup sendirian tanpa bantuan orang sekitar, semuanya saling berkaitan," tandasnya seraya berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan korban. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Cerita, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 19 Juli 2014

PMII Bojonegoro Minta Disperta Jamin Perlindungan Petani

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Mayoritas mata pencarian warga Bojonegoro adalah petani. Tetapi kehidupan petani, masih belum layak karena saat panen harga hasil panen tidak sesuai keinginan petani. Aktivis PMII Bojonegoro mengajak Dinas Pertanian (Disperta) setempat berdiskusi untuk menjamin perlindungan petani.

Diskusi diselenggarakan di kantor PMII Bojonegoro Jalan Pondok Pinang Nomor 2A Bojonegoro, Selasa (8/3). Selain diikuti puluhan aktivis dari kampus di Kota Ledre, hadir langsung Kepala Disperta Ahmad Djupari yang didampingi Kepala Bidang (Kabid) di Disperta setempat.

PMII Bojonegoro Minta Disperta Jamin Perlindungan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Minta Disperta Jamin Perlindungan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Minta Disperta Jamin Perlindungan Petani

Diskusi dengan tema "Dari Hulu ke Hilir Pertanian di Bojonegoro, Harus Bisa Sejahterakan Petani", berlangsung gayeng dan penuh inovasi gagasan pengembangan pertanian di Bojonegoro.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Permasalahan petani sangat kompleks, mulai tanam sampai panen," kata koordinator diskusi Imam Mukhibul Maruf.

Aktivis pergerakan itu memaparkan bagaimana keluhan petani, hasil observasi PMII yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Bahwa permasalahan petani sangat kompleks, mulai dari modal tanam yang mayoritas hasil pinjaman, mahalnya harga pupuk dan obat, serta Sumber Daya Manusia (SDM) petani yang semakin berkurang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Serta akses air yang bagian selatan sulit air dan bagian bantaran Bengawan Solo yang sering banjir dan lain sebagainya. Apalagi saat panen, harga jualnya yang murah. "Sehingga perlu perlindungan hak-hak mereka, agar mereka lebih berdaya saing tinggi dan sejahtera," terangnya.

Ketua PMII Bojonegoro Ahmad Syahid meminta lima hal yang menjadi gagasan besar diskusi tersebut. Salah satunya perlindungan kepada petani, mulai dari bibit, proses tanam, persediaan dan harga pupuk bahkan saat musim panen.

"Termasuk harus ada BUMD yang khusus menangani hasil pertanian di Bojonegoro sehingga bisa terwujud pasar induk beras, jagung, dan kedelai yang menjadi andalan pertanian Bojonegoro," ungkapnya.

Ia meminta PPL Disperta harus lebih intens mendampingi petani, memfungsikan lumbung padi desa dan simpan pinjam petani yang bunganya ringan bisa diintegerasikan dengan Bumdes. Terakhir evaluasi program yang kurang berjalan (Program Jambu, Seribu embung, Pompanisasi, Traktor bagi Poktan).

"Sebenarnya program yang telah direncanakan baik, tapi untuk realisasinya perlu dikontrol dan evaluasi. Intinya PMII mendorong agar Disperta lebih getol untuk menjamin perlindungan hak petani," tandasnya.

Kepala Disperta Ahmad Djupari menerangkan kepada puluhan aktivis PMII bahwa luas lahan pertanian Bojonegoro adalah 32 persen luas Kota Ledre. Jadi harus inovasi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian di Bojonegoro ini.

"Meskipun lahan tidak terlalu luas, Bojonegoro sudah surplus hasil pertaniannya bahkan nomor tiga Se-Jawa Timur," tuturnya.

Namun memang masalah yang di hadapi petani sangat kompleks dan bahkan petani sering merugi. Jadinya generasi muda gengsi untuk bertani. Sedangkan generasi tua susah untuk diajak berinovasi.

"Dari permasalahan yang disampaikan PMII, kami sangat mengapresiasi perannya. Namun kita terbatas SDM sehingga butuh bantuan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pada intinya saya sepakat bila petani berhak untuk hidup lebih sejahtera lagi," pungkasnya saat diskusi. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 17 Juli 2014

Salurkan Zakat, LAZISNU Pekalongan Santuni Anak Yatim

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan kembali melakukan gerakan santunan kepada 100 anak yatim di Kota Pekalongan.

Salurkan Zakat, LAZISNU Pekalongan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Salurkan Zakat, LAZISNU Pekalongan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Salurkan Zakat, LAZISNU Pekalongan Santuni Anak Yatim

Acara yang dilaksanakan di Masjid Kholid bin Walid, Senin (6/7) dikemas dengan kegiatan buka puasa bersama dihadiri jajaran Pengurus NU Cabang, MWC dan Ranting NU serta orang tua masing masing anak yatim berlangsung cukup meriah.

Menurut Ketua LAZISNU Kota Pekalongan Luqman Kamil, kegiatan santunan anak yatim merupakan yang ketiga kalinya sejak dirinya dipercaya sebagai pengurus. Untuk kali ini dilaksanakan di dua tempat, yakni di MWC Pekalongan Timur dan Pekalongan Utara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya kami mengadakan kegiatan santunan anak yatim dengan sejumlah uang tunai dan paket sembako," ujar Kamil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, dana yang disalurkan merupakan dana zakat mal, infaq dan shodaqoh dari pada muzakki (pemberi zakat) dan munfiq (pemberi infaq) di wilayah Kota Pekalongan. Selain santunan anak yatim, LAZISNU juga menyalurkan dana untuk beasiswa yang diberikan setiap awal tahun ajaran sekolah.

Sekretaris PCNU Kota Pekalongan, H. Muhtarom mengatakan, LAZISNU merupakan lembaga resmi yang diakui oleh negara untuk menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh.

Meski diakui, saat ini masih banyak lembaga sejenis yang tumbuh di tengah tengah masyarakat, akan tetapi dana yang dihimpun sebagian besar untuk kepentingan lembaga tersebut.

"Masyarakat harus hati hati jika ada tawaran dari lembaga zakat dengan dalih akan disalurkan kepada yang berhak, jangan sampai tertipu dengan iming iming sebagaimana marak dengan berbagai iklan," ujar Tarom saat memberikan kata sambutan pada acara santunan.

Oleh karena itu dirinya meminta kepada muzakki dan munfiq untuk dapat menyalurkan kepada lembaga resmi yang diakui negara yakni LAZISNU yang tidak akan mengambil dana sepeserpun untuk biaya operasional. Pasalnya, untuk kegiatan rutin harian, LAZISNU telah disediakan dana yang cukup dari Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pekalongan Timur RM. Firdaus kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah mengatakan, sebenarnya di wilayahnya terdapat cukup banyak anak anak yatim yang perlu mendapat perhatian dari NU, akan tetapi dirinya sangat menyadari akan keterbatasan dana yang dihimpun oleh LAZISNU.

LAZISNU Kota Pekalongan sebagai lembaga resmi memiliki empat program andalan yakni NUSmart layanan beasiswa, NUCare layanan tanggap darurat, NUSkill layanan pembekalan ketrampilan dan NUPreneur layanan pemberdayaan ekonomi siap menerima dan menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh dari masyarakat. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi 0285-7876742 dan 0815 923 6742. (Abdul Muiz/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Quote, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 04 Juli 2014

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat

Beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, para santri putri di pesantren-pesantren berinisiatif mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka mengisi kemerdekaan. Mereka tidak mau kalah dengan organisasi-organisasi perempuan terutama dari Partai Komunis Indonesia (Gerwani) yang lebih sering tampil di muka umum.

Para santri putri ini kemudian merencanakan membuat satu grup drumband. Nah, ternyata Kiai Bisri Syamsuri mendengar geliat ini. Dengan bersemangat beliau melarang kegiatan ini. “Perempuan tidak boleh main drumband. Nanti auratnya kelihatan,” katanya.

Para santri putri lantas melaporkan, peringatan Kiai Bisri ini ke Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang adalah kakak ipar Kiai BIsri sendiri. Biasanya, Kiai Wahablah satu-satunya kiai yang lebih memahami keinginan mereka. Kiai Wahab lantas menemui Kiai Bisri. “Nggak apa-apa wong masih pakek kerudung koq, nggak seperti Gerwani. Pokoknya, auratnya nggak kelihatan,” katanya kepada Kiai Bisri. Kiai Bisri terdiam, tidak melarang. Baiklah grup drumband jadi dibentuk. Kiai Wahab berpesan, “Janganlah sampai Kiai Bisri tahu dulu!” Para santri putri yang tergabung di dalamnya langsung mengadakan latihan. Ada yang menenteng drum kecil, ada yang lebih besar sampai seperti bedug kemudian dipukul-pukul. Ada juga yang membawa tongkat kemudian diayun-ayunkan ke atas. Rupaya dia memimpin drumband-nan itu. Tiba-tiba kiai Wahab meminta latihan itu dihentikan. “Jangan pake goyang-goyang, itu namanya aurat,” kata Kiai Wahab kepada salah seorang yang membawa tongkat. Kiai Bisri yang kemudian ikut menyaksikan drumband-nan itu mengetahui hal itu manggut-manggut.

Jauh-jauh hari sebelumnya, pada masa-masa menjelang kemerdekaan, perempuan-perempuan pesantren melakukan demonstrasi menuntut para kiai agar mereka diperkenankan untuk bergabung dalam pasukan non-reguler Hizbullah dan Sabilillah, berjihad mengusir para “kumpeni.” Para kiai menenangkan, “Perempuan juga punya kesempatan untuk berjihad. Jihadnya perempuan itu di rumah tangga.” Namun itu tidak membuat semangat kaum perempuan kendur. Mereka tetap memaksa bergabung dengan pasukan perang.

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat

Kiai Bisri pun bersuara. “Perempuan tidak boleh ikut berperang, karena berbahaya.” Lagi-lagi Kiai Wahab tampil dan ikut bersura, “Tidak apa-apa asal tetap menutup aurat dan yang menjadi pimpinan tetap laki-laki, perempuan mengikuti komando saja kalau nanti pas nyerang.”

Demikianlah. Ada Kiai Bisri yang sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. “Hukum harus berdasarkan dalil yang paling jelas, dan aturan harus diputuskan dengan sangat hati-hati.” Ada juga kiai Wahab mengedepankan efektifitas dan katakanlah semacam “substansi” hukum, kaitannya dengan pengabdian para santri, warga NU untuk negaranya tercinta, Indonesia. Dan bukan untuk yang lain. (A Khoirul Anam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Nahdlatul Ulama, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 03 Juli 2014

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Sumedang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat kembali mengadakan Pelatihan Muharrik Masajid di Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, Selasa (26/1).

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Ketua LTMNU Eman Sulaeman mengatakan, muharrik (penggerak) masjid adalah orang yang bertugas mengatur dan menggerakan para pengurus takmir masjid dengan memanfaatkan segala sumber daya dan dana yang dimilki oleh masjid bersangkutan.

Seorang muharrik, katanya, juga membantu pengurus takmir masjid untuk memahami dan menghadapi kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. “Jadi seorang muharrik tidak hanya memberi rekomendasi dan melakukan presentasi, akan tetapi dituntut selalu tampil dalam proses implementasi. Ia berperan sebagai pendamping takmir dalam mengimplementasikan agenda revitalisasi masjid,” terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus LTMNU kini sedang melakukan pendataan terhadap masjid NU. Eman bersyukur pihaknya sudah berhasil memberikan surat keputusan (SK) masjid-masjid di empat kecamatan di Sumedang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dan ini menjadi program prioritas LTMNU untuk terus meng-SK-an masjid-masjid di Kabupaten Sumedang. Sehingga kita dapat mengetahui jumlah masjid-masjid NU itu ada berapa, tipologinya seperti apa di Sumedang ini. Di samping bertujuan untuk membentengi dari paham-paham yang menghancurkan paham Ahlusunnah wal Jamaah,” katanya.

Pendidikan bagi para penggerak masjid ini dihadiri 50 orang. Hadir sebagai pemateri Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh. Menurutnya, jumlah masjid yang begitu banyak membuktikan bahwa keberadaan tempat ibadah ini sangat penting di mata umat Islam.

Di negeri yang dihuni mayoritas umat Islam ini, sambungnya, jumlah masjid dan mushala mencapai 1.070.000. Jumlah tersebut berdasarkan data Kementerian Agama RI pada tahun 2009. Sementara, berdasarkan data Lazuardi Biru tahun 2010, kurang lebih 80 persen masjid di Indonesia menggunakan amaliyah ala NU dalam hal beribadah, misalnya qunut saat shalat subuh, wirid setelah imam salam, adzan jumat dilakukan dua kali, dan sebagainya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 26 Juni 2014

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Slamet Effendi Yusuf mempersoalkan validitas argumentasi penolakan atas konsep berikut mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi untuk diberlakukan di Muktamar NU Agustus ini. Slamet menganggap penolakan Ahlul Halli oleh sejumlah cabang itu lebih didasarkan pertimbangan politis.

“Kita harus memerhatikan apa dasar setuju atau menolak penerapan Ahlul Halli ini. Apakah lebih bersifat politis atau memiliki dasar keilmuan yang memadai,” ujar Slamet menceritakan pengalamannya di sejumlah cabang NU yang menolak Ahlul Halli.

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar

“Kalau kita perdalam alasan penolakannya, mereka jawab ‘Pokoknya tidak’,” cerita Slamet dalam rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pekan lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada Munas NU pertengahan Juni 2015 ini, para pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU akan melaporkan bahwa tugas PBNU untuk menyusun konsep mekanisme Ahlul Halli sesuai amanah Munas NU sebelumnya, sudah selesai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita ingatkan para pengurus wilayah di Munas nanti bahwa konsep Ahlul Halli ini berurusan dengan sesuatu yang fundamental untuk membuat NU sebagai jam’iyah diniyah, bukan siyasiyah. Keinginan kita bersama ialah mengangkat Rais Aam yang hebat, berwibawa, wir’oi, dan bahkan kita menginginkan Rais Aam yang tidak menghendaki diri untuk menjadi Rais,” kata Slamet.

Slamet mengingatkan teladan para guru-guru perihal imam di masjid. Ketika adzan tiba, mereka saling mempersilakan satu sama lain untuk menjadi imam. “Para kiai kita mempraktikkan ini dalam memilih Rais Aam NU.”

Ia lalu menceritakan kembali pengalamannya menghadiri Muktamar. Kiai Ali Maksum, Slamet menyambung, pernah pulang dari Muktamar di Kaliurang ke Krapyak hanya karena takut dipilih jadi Rais Aam. Kiai Mahrus juga pulang ke Kediri, takut dipilih.

Bahkan Kiai Ali Maksum mengatakan seperti penuturan Slamet, “Kalau ada sebiji dzarroh saja kehendak ingin menjadi Rais Aam, maka orang lain tidak boleh memilih saya.”

“Begitu juga soal Kiai Wahab dan Kiai Bisri. Inikan sering kejadian di masjid kita ketika hendak sembahyang. Para guru kita saling mempersilakan sesamanya untuk menjadi imam. Mari kita kembalikan kepada seperti ini,” pungkas Slamet.

Sementara Prof DR Maksum Mahfudz mengatakan, Ahlul Halli ini hakikatnya lebih pada membangun supremasi syuriyah di masing-masing cabang dan wilayah NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 21 Juni 2014

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Kabupaten Demak mengadakan maulid Rasulullah SAW dan istighotsah di halaman pesantren, Sabtu (9/1). Acara ini diikuti oleh lebih dari 5000 hadirin. Mereka terdiri atas para kiai, dewan guru, dan siswa lembaga yang ada di Yayasan Pesantren Futuhiyyah.

Acara diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah, dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qu’an, sambutan, pembacaan istighotsah serta pembacaan maulid Simtud Duror yang dipimpin oleh grup hadrah Babul Musthofa pimpinan Habib Luthfi dari Pekalongan.

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen

Menurut pengasuh Pesantren Futuhiyah KH Muhammad Hanif Muslih, kegiatan ini merupakan salah satu agenda tahunan di Yayasan Pesantren Futuhiyyah. Kegiatan semacam ini perlu dilaksanakan untuk membekali baik para guru maupun siswa yang ada di yayasan untuk senantiasa meniru dan meneladani Rasulullah SAW, terutama akhlak Beliau. Karena pada Rasulullah terdapat suri teladan yang bagus sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. “Selama ini kita sulit untuk mencari suri tauldan yang bagus.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menjelaskan pentingnya kegiatan semacam ini. Kegiatan ini mendorong guru dan siswa di yayasan ini untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan ala Aswaja seperti istighotsah, pembacaan manaqib, tahlil serta maulid nabi yang selama ini sudah dilaksanakan oleh para guru pendiri yayasan.

Semua amalan itu harus terus dilestarikan walaupun akhir-akhir ini banyak aliran dan paham yang menyatakan bahwa pembacaan manaqib, tahlil, ziarah kubur, istighotsah, maulid adalah bid’ah, bahkan ada yang menyatakan syirik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia meminta segenap guru untuk senantiasa meniru akhlak rasul, berakhlak dengan Al-Qur’an. Pembina yayasan ini memerintahkan dewan guru untuk memberikan teladan baik kepada siswa. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah