Senin, 29 Januari 2018

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peringatan tahun ketiga wafatnya Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, ulama terkemuka Suriah, berlangsung meriah di Auditorium Universitas Damaskus, Damaskus, Suriah. Para ulama dan petinggi negara setempat hadir memberi hormat Imam Masjid Besar Umayyah Damaskus yang syahid akibat serangan bom bunuh diri ini.

Bagian Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud) KBRI Damaskus kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah melaporkan, acara yang digelar Senin (28/3) tersebut dihadiri sekitar dua ratus orang, termasuk tokoh Suriah seperti Menteri Kebudayaan Suriah Dr Essam Khalil, Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto, Dubes Iran, serta para akademisi, ulama, mahasiswa, masyarakat dan para undangan lainnya.

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Para pembicara dalam acara tersebut adalah Dr Badie Lahham atas nama murid almarhum; Dr Taufik Ramadhan al-Buthi, putra tertua almarhum sekaligus Ketua Persatuan Ulama Syam, mewakili keluarga almarhum; Rektor Universitas Damaskus Dr Muhammad Hasan Kurdi, Menteri Wakaf Suriah Dr Muhammad Abdul Sattar al-Sayyed, dan Menteri Pendidikan Tinggi Suriah Dr M Amer Mardini.

Dalam testimoni mereka memuji Syekh Said Ramadhan al-Buthi sebagai tokoh dengan jasa yang luar biasa kepada masyarakat Suriah. Terbunuhnya al-Buthi oleh kelompok garis keras pada 21 Maret 2013 dinilai tak bisa membungkam semangat juang dan ilmu-ilmunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peringatan haul kali ini juga menjadi momen peluncuran dalil “warisan” Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buti yang berisi pelajaran, khutbah, rekaman acara televisi, video, audio dan buku-bukunya yang dapat diakses melalui media sosial: naseemalsham.com/app, facebook.com/sh.albouti, facebook.com/albouti.e (untuk bahasa Inggris)? dan youtube.com.naseemalshami.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Imam Syahid Muhammad Said Ramadan Al-Bouti yang lahir pada tahun 1929 dikenal sebagai ulama moderat berjuluk “Guru dari Tanah Syam” atau “Syaikh of the Levant.” Ia juga dikenal sebagai pakar dalam berbagai disiplin ilmu agama dan menulis lebih dari 60 buah buku keilmuan Islam dalam bidang syariah, akidah, tasawuf, sejarah, dakwah dan pengajian Islam. Buku-bukunya banyak diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mudik ke Jombang

Pada 1-5 Agustus 2015 dalam suasana mudik lebaran, Nahdlatul Ulama (NU) akan menyelenggarakan forum permusyawaratan tertinggi Muktamar ke-33. Muktamar kali ini sangat istimewa karena digelar di daerah asal para pendiri NU: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri. Hampir satu abad organisasi NU berdiri baru kali ini muktamar digelar di Jombang.

Sebenarnya ada dua lagi pilihan lagi daerah yang diusulkan sebagai tuan rumah muktamar dalam Munas dan Konbes NU 2014 lalu, yakni Medan Sumatera Utara dan Lombok Nusa Tenggara Barat. Muktamar di luar Jawa akan mempunyai nilai syiar yang lebih luas. Pada masa awal-awal NU berdiri tahun 1936 pun NU sudah menggelar Muktamar di Banjarmasin. Selain itu, Muktamar ke-30 tahun 1999 kemarin sebagai salah satu muktamar terpenting karena waktu itu Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden RI juga telah diadakan di Jawa Timur, di Pesantren Lirboyo Kediri. Namun semangat untuk bermuktamar di daerah asal sekaligus daerah dimana para pendiri NU dimakamkan itu memang sudah tak terbendung. Menjelang peringatan satu abad, NU dirasa perlu memikirkan langkah dan strategi baru dari Jombang.

Muktamar ke-33 akan dihadiri oleh perwakilan 34 wilayah (PWNU) dan lebih dari 500 cabang (PCNU) seluruh Indonesia, ditambah perwakilan cabang istimewa (PCINU) luar negeri. Masing-masing akan mendelegasikan 6 peserta resmi, sesuai dengan jumlah sidang komisi yang ada: bahtsul masail diniyah waqiiyah, bahtsul masail diniyah maudluiyah, bahtsul masail diniyah qonuniyah, komisi program, organisasi dan rekomendasi. Namun panitia tidak mungkin membatasi warga NU yang ingin hadir menyaksikan muktamar di luar utusan resmi. Ditambah warga Nahdliyin yang ada di Jombang dan sekitarnya, diperkirakan ratusan ribu warga akan hadir memeriahkan Muktamar.

Mudik ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik ke Jombang

Muktamar Jombang akan diadakan di empat pondok pesantren besar yakni Pesantren Tebuireng, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Denanyar, dan Pesantren Darul Ulum. Para Muktamirin akan menginap di empat pesantren itu. Masing-masing pesantren akan menjadi tuan rumah sidang-sidang komisi, sementara acara pembukaan dan sidang pleno akan dipusatkan di alun-alun kota Jombang. Warga Nahdliyin yang tidak mengikuti forum-forum resmi muktamar akan mengunjungi stand-stand pameran, bazaar dan pasar rakyat, pentas seni budaya, atau berziarah ke makam-makam para kiai dan pendiri NU di Jombang dan sekitarnya.

Salah satu yang menarik menjelang Muktamar ke-33 ini adalah tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.” Tidak biasanya tema muktamar menjadi bahan perbincangan dan diskusi karena media massa lebih suka mengolah isu-isu yang “news” yang dibahas dalam sidang-sidang komisi, terutama dalam komisi bahtsul masail diniyyah yang membahas berbagai persoalan hukum Islam. Istilah “Islam Nusantara” yang dimunculkan oleh NU ternyata memicu polemik yang berkepanjangan di sejumlah media massa nasional. Sebagian besar perbincangannya cukup menarik disimak karena melibatkan para tokoh dan cendekiawan muslim. Perkembangan media sosial modern berbasis internet juga menyebabkan perbincangan mengenai Islam Nusantara juga cepat sekali menyebar dan bersahut-sahutan. Beberapa kalangan Muslim yang merasa “terganggu” atau salah paham dengan istilah Islam Nusantara itu juga praktis menambah semarak suasana menjelang muktamar.

Forum permusyawaratan tertinggi lima tahunan tentunya juga mengagendakan proses pergantian kepemimpinan. Muktamar kali akan menerapkan model baru dalam pemilihan Rais Aam NU dengan sistem yang disebut ahlul halli wal aqdi atau sering disingkat ahwa. Sistem ini merupakan penerjemahan dari istilah musyawarah mufakat yang ada dalam AD/ART NU, yakni pemilihan oleh 9 orang kiai yang dipilih oleh utusan seluruh PWNU, PCNU dan PCINU. Jadi muktamirin tidak lagi memilih pemimpin NU secara langsung, namun mendelegasikan hak pilih kepada 9 orang ahlul halli wal aqdi itu. Dalam draft yang ada, 9 anggota ahlul halli wal aqdi akan memilih Rais Aam sebagai pucuk Pimpinan NU, setelah itu mereka akan menetapkan calon-calon Ketua Umum sebagai pelaksana organisasi dan kemudian dipilih secara langsung oleh muktamirin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebenarnya ahlul halli wal aqdi sudah diterapkan sejak NU berdiri tahun 1926, namun kemudian berganti dengan sistem pemilihan langsung semenjak NU menjadi berubah menjadi partai politik tahun 1950-an. Kemudian pada Muktamar ke-27 tahun 1984, NU menyatakan “Kembali ke Khittah 1926” sebagai organisasi sosial keagamaan dan menerapkan kembali sistem ahlul halli wal aqdi. Namun sistem ini tidak berlanjut pada muktamar-muktamar berikutnya. Eforia demokrasi mengarahkan NU untuk menerapkan sistem pemilihan langsung.

Setelah beberapa kali pelaksanaan muktamar, terutama muktamar terakhir yang ke-32 kemarin di Makassar, model pemilihan langsung dirasakan tidak paas untuk organisasi ulama atau dalam pemilihan pemimpin para ulama. Para kiai atau para pendukungnya akan tampil berhadap-hadapan seperti dalam pelaksanaan pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. Maka dalam Rapat Pleno PBNU di Wonosobo tahun 2013 dan Munas-Konbes 2014 di Jakarta disepakati untuk diterapkannya kembali sistem ahlul halli wal aqdi, terutama dalam pemilihan Rais Aam. Jika telah diketok palu dalam muktamar ke-33 nanti, maka sistem ahlul halli wal aqdi langsung akan diterapkan.

Semua warga Nahdliyin pasti berharap yang terbaik dari pelaksanaan muktamar kali ini. Warga Nahdliyin saat ini sudah tersebar sedemikian rupa, tidak hanya di desa-desa, tetapi juga di kota-kota besar di berbagai daerah di Indonesia dan di luar negeri dengan berbagai polarisasi bidang, peran, dan konsentrasi dan dalam suasana yang berbeda dengan seratus tahun yang lalu menjelang NU didirikan. Bahkan menilik kembali tema muktamar yang sangat ambisius “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,” berarti bukan hanya Nahdliyin yang boleh berharap kepada NU, tetapi juga bangsa Indonesia dan warga dunia. Bukan hanya soal pemimpin NU yang terpilih, tetapi juga keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam muktamar, gebyarnya, suasananya, dan proses-prosesnya adalah cerminan dari sebuah ormas Islam terbesar di dunia. (A. Khoirul Anam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU AGH M. Sanusi Baco memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (20/12) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tampak � hadir dalam penganugerahan itu antara lain Dr H M. Jusuf Kalla, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Dalam sambutan Promotor dan Co Promotor Prof Dr H. Minjahuddin MA dan Prof Dr H. Achmad Abubakar M.Ag. mengatakan, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Beliau telah berupaya pengembangan Ilmu Perbandingan Mazhab, selaku dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin mengajarkan Ilmu Ushul Fikih dan Ilmu Fikih Perbandingan Mazhab. Ternyata ketiak Promovendus menjadi Ketua Jurusan Perbandinagan Mazhab Fakultas Syariah antara tahun 1977-1983," jelas Minhajudin.

"Beliau telah berupaya mengembangkan Ilmu Fiqih Perbandingan Mazhab dengan mewajibkan bagi mahasiswa yang akan ujian akhir jurusan agar membaca salah satu buku referensi dalam Mata Kuliah, diantaranya, Kitabul Fiqh ‘ala Habbul Arba’ah (Mazhab Syafi’i), Bidayatul Mujtahid (Mazhab Maliki), Fiqh Hanbali, dan Fiqh Al Islamiyah Wa Adillatuhu (MAzhab Hanafi),” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Metode perbandingan Mazhab juga diajarkan Promovendus kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Penyelenggaraan PKU tersebut dipusatkan di Masjid Raya Makassar dan Asrama PHI dan hingga kini sudah terlaksana sampai angkatan ke-15. Lulusan PKU tersebut ada yang melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2-S3) UIN Alauddin Makassar, ada yang menjadi PNS, Pengusaha dan ada yang menjadi imam dan membina pesantren di daerahnya. Jelas Promotor beliau

AGH M. Sanusi Baco, Lc dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai Rois Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua MUI Sulsel, serta pada Muktamar NU 2009 di Makassar beliapun masuk dalam jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Redaktur Â? Â? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Doa, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Episode Baru PCINU Pakistan

Oleh Firman Arifandi

Sudah merupakan tradisi yang sejak lama bergulir, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sarat dengan pendekatan-pendekatan intelektual dan sosial kemasyarakatan guna mensyiarkan Islam yang tasamuh rahmatan li-alamin. Hal ini juga menjadi pedoman kami, Pengurus Cabang Istimewa  Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan dalam menjalankan program kerja di negeri Ali Jinnah ini.

PCINU Pakistan merupakan wadah organisasi NU di Pakistan yang berdiri pada tanggal 28 Mei 2005 dan diresmikan oleh Rais Syuriah DR. KH. M. Mashuri Naim, MA. Peresmian yang juga diisi dengan sumpah pengurus tersebut disaksikan oleh Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan Duta Besar RI untuk Pakistan H. Anwar Santoso serta para pejabat KBRI dan masyarakat Indonesia di Islamabad.

Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Episode Baru PCINU Pakistan

PCINU Pakistan yang diresmikan adalah Muhammad Niam, LLM selaku Musytasyar, Reza Muhammad, Lc selaku Rais Syuriah dan M. Sodiq Ahmad, Lc selaku Ketua Tanfidziah untuk masa jabatan 2005-2006.

Salah satu tujuan penting diresmikannya PCINU Pakistan adalah untuk mensinergikan program yang bertujuan memberdayakan kader muda NU. PCI-NU Pakistan yang semula hanya berbentuk paguyuban komunitas NU merubah diri menjadi PCI-NU untuk lebih memperkuat hubungan struktural dengan PBNU di Jakarta. Masyarakat NU di Pakistan menyebar tidak hanya di Islamabad, namun juga di kota-kota lain seperti Lahore, Karachi dan Rawalpindi terdiri dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di Pakistan dan beberapa pekerja Indonesia di lembaga asing di Pakistan.

Sepanjang perjalanannya sejak diresmikan, tak sedikit agenda yang dihelat dan tak lepas dari nuansa keilmuwan, kekeluargaan, dan semangat kenusantaraan. Karena mayoritas warga NU di Pakistan adalah mahasiswa yang notabene menempuh jurusan agama seperti ushuluddin dan fakultas syariah, maka tak jarang mereka menggelar acara diskusi keilmuwan, bahtsul masail, dan lain sebagainya yang memang sengaja dikemas untuk seluruh warga Indonesia di Pakistan dan tidak bersifat eksklusif. Selain itu, acara-acara yang bertujuan mempererat tali persaudaraan antar WNI dan bersifat santai juga kerap digelar seperti tabadul hadayah, Jalan santai berhadiah, perlombaan anak-anak, NU Cup, dan lain-lain sehingga NU di mata WNI dirasa sangat dekat dan bersahabat tidak hanya antar sesama muslim tapi juga semua.

Namun perjalanan yang maksimal ini sempat  mengalami masa kevakuman beberapa waktu dikarenakan beberapa hal. Yakni pada pertengahan tahun 2010 pasca kejadian pemboman di kampus International Islamic University yang menelan belasan korban, dan kemudian berdampak pada kebijakan pemerintah untuk memperketat regulasi di bidang imigrasi. Sehingga terasa sekali susahnya mendapat visa study ke Pakistan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara para pelajar dan mahasiswa yang kerap mewarnai pergerakan NU di Pakistan juga sedikit demi sedikit kembali ke tanah air karena masa studynya telah usai. Masa kevakuman ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dengan kuantitas SDM yang sangat minim sekali, namun NU masih ada dan eksis dengan segala kegiatannya yang sederhana di internal.

Pada akhir tahun 2012 intensitas kehadiran mahasiswa baru mulai kembali dirasakan dan mahasiswa berlatarbelakang NU juga mulai nampak terlihat antusiasnya untuk membentuk aktivitas pada interes yang sama. Mulailah sejak enam bulan setelahnya, yakni tepatnya pada Agustus 2013 kumpulan mahasiswa ini sepakat untuk menggelar yasinan dan kajian rutin setiap malam jum’at bergilir di setiap asrama. Ide terus bergulir hingga akhirnya komunitas NU kembali bisa merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan menggelar pengajian mingguan ke rumah-rumah.

Atas inisiasi bersama, akhirnya mahasiswa berlatarbelakang NU yang berjumlah 25 orang setelah berkonsultasi dengan senior yang ada dan masyarakat yang telah lama tinggal di Pakistan, semuanya sepakat untuk melanjutkan roda organisasi PCI-NU Pakistan yang sempat mengalami masa surut.

Untuk memaksimalkan kerja usaha membangun komunikasi, rencana dan strategi maka PCI NU Pakistan penting  untuk dilanjutkan. Lembar episode baru kini mulai ditoreh kembali setelah para warga Nahdliyin di Pakistan yang terdiri dari segala elemen WNI, mereka kembali menggelar Konfercab NU pada bulan februari 2014 yang saat itu berhasil membentuk formatur dewan Suriah dan pengurus Tanfiziyah yang baru untuk masa Bhakti 2014-2015.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berawal dari pengajian dan tahlilan rutin setiap malam Jum’at di hostel kampus IIUI sejak pertengahan tahun 2013 lalu, dipupuk rasa kebersamaan antar mahasiswa, hingga saat ini PCI-NU Pakistan dan warganya kembali merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan bergilir menggelar yasinan, tahlil dan dilanjutkan dengan kajian kegamaan dari rumah ke rumah. Hal ini dibentuk demi menghidupkan dua aspek penting yaitu menyambung silaturahim dan atmosphere keagamaan.

Beberapa waktu lalu, pada tanggal 2 Maret 2014 Lakpesdam yang dikomandoi oleh saudara Hasanuddin Tosimpak, S.Pd.I menggelar acara nonton bareng alias nobar film Sang KIai mengundang segenap mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Islamabad. Nobar ini dimaksudkan untuk merefleksikan kembali perjalanan kalangan santri dan ulama yang mewarnai proses menuju kemerdekaan Indonesia. Hadir dalam acara tersebut, ketua PIP-PKS Pakistan, saudara Irfan Abdul Aziz, ketua Pengurus Muhammadiyah cabang Pakistan saudara Hatta Fahamsyah, dan perwakilan PERSIS cabang Pakistan saudara Emha Hasan Saifullah. Bedah film dipresentasikan oleh rais Syuriah NU Pakistan saudara Ahmad Badruddin, Lc.

Tak kalah pentingnya, badan otonom Fatayat NU yang merupakan wadah untuk mengoptimalkan gerakan muslimat pada khususnya, juga menggelar kegiatan yang berkaliber unggul. Hingga saat ini program yang rutin mereka gelar adalah kajian mingguan dan satu program yang melibatkan masyarakat Indonesia di Pakistan bernamakan DKI (Daily Khotmil-Qur’an Islamabad), yakni merupakan program mengaji harian untuk membiasakan setiap orang bisa mengkhatamkan satu juz dalam sehari, targetnya agar setiap individu tak lepas kesehariannya dari Qur’an sebagai pedoman dan kemudian mentadaburinya. Program DKI ini dikoordinir oleh saudari Fina Fandini, S.Pd.I dan saudari Ummi Salamah S.Pd.I

Dalam bidang pengembangan  sumber daya masyarakat yang dipegang oleh Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat) PCI-NU Pakistan akan berkonsentrasi menggelar kajian-kajian bertemakan Islam dan nusantara, menggelar bahtsul masail terhadap fenomena-fenomena kontemporer. Selain itu, Lakpesdam juga berkonsentrasi memfasilitasi  paham ke NU-an untuk warganya dalam program orientasi NU yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, Lakpesdam juga telah menggelar pelatihan penggunaan almaktabah as-syamilah dan metodologi penelitian berbasis teknologi digital yang digelar untuk umum dan pada mahasiswa khususnya.

Demikianlah progress seputar PCINU Pakistan pasca konfercab pada Februari kemarin, lembaran baru telah dimulai harapannya ke depan kita mampu bersinergi bersama seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh instansi Indonesia di Pakistan dalam menerapkan program bersama demi membangun solidaritas dan menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan agama.

 

Firman Arifandi, Ketua PCINU Pakistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Ciputat, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kematian tragis salah seorang petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, mengetuk hati masyarakat Indonesia untuk menyampaian solidaritas, tak terkecuali mahasiswa.

Atas peristiwa tersebut, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat menggelar aksi solidaritas di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas membentangkan poster dan juga bendera PMII.

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Aksi yang berlangsung Kamis (1/10) ini dimulai dari depan Fakultas Tarbiyah yang kemudian berjalan menuju taman Fakultas Sains Teknologi dan Fakultas Ekonomi Bisnis. Lalu, massa bergerak menuju taman Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Setelah itu berhenti di Fakultas Adab dan Humaniora dan Fakultas Syariah dan Hukum. Hingga berakhir di depan pintu masuk UIN Jakarta. Setiap taman Fakultas yang disinggahi, mereka berorasi dan mengajak kepada seluruh civitas akademika UIN Jakarta untuk turut bersimpati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami mengangkat tema ‘Ciputat Berduka Cita Atas Meninggalnya Salim Kancil’, dengan maksud membuka setiap mata para civitas akademika UIN Jakarta bahwa ada pelanggaran HAM dalam peristiwa yang menimpa saudara kita di Lumajang,” ujar Abdurrahman Wahid selaku koordinator lapangan aksi.

Dalam aksi tersebut, mahasiwa menuntut pemerintahan Lumajang agar segera menyelesaikan kasus tersebut, dan menghukum seberat-beratnya pelaku yang telah menganiaya korban penganiayaan, Tosan; serta korban pembunuhan sadis, Salim Kancil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya berorasi, mereka juga membawa kotak donasi untuk Tosan yang masih dirawat. Aksi solidaritas tersebut juga diwarnai dengan puisi untuk Salim dan drama teatrikal. Aksi yaang sempat membuat macet jalan raya depan kampus UIN Jakarta ini berlangsung lancar dan damai. (Dany Setiyawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementeria Agama akan memfasilitasi siswa Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Trate Putra Gresik Noval Ilham Arfiansyah untuk menjadi salah satu wakil Indonesia, di ajang Olimpiade Matematika tingkat internasional pada Juli 2016 di Singapura mendatang.

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan memastikan kalau Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag akan menanggung biaya untuk mengikutsertakan Noval pada ajang ilmiah bergengsi itu.

"Kemenag sudah menyiapkan anggaran untuk memfasilitasi para siswa berprestasi untuk mengikuti ajang olimpiade internasional," tegas M. Nur Kholis di Jakarta, Kamis (5/5) melalui rilis pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

"Bahkan siswa madrasah yang menjadi pemenang Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI juga akan difasilitasi keberangkatannya ke Arizona (Amerika)," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut M Nur Kholis, Kementerian Agama selama ini berkomitmen untuk terus memudahkan akses para siswa madrasah dalam meraih prestasi. Pada saat yang sama, Kemenag juga terus meningkatkan kualitas pendidikan madrasah untuk memastikan para siswanya mendapat pendidikan berciri khas Islam yang bermutu.

Karenanya, lanjut Nur Kholis, dalam beberapa tahun terakhir banyak prestasi yang diraih para siswa madrasah. Bahkan, tidak sedikit siswa madrasah yang diterima di beberapa perguruan tinggi ternama, baik di dalam negeri, Jepang, maupun Eropa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Diversifikasi madrasah dan pendirian Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di berbagai daerah menjadi bukti kehadiran Kemenag dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat," kata sosok yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sebelumnya, diinformasikan di salah satu media bahwa Noval Ilham Arfiansyah terancam batal ikut Olimpiade Matematika di Singapura. Pasalnya, pihak keluarga maupun jajaran pengurus dan pengajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Trate Putra Gresik, Jawa Timur, tidak punya dana untuk membiayai kepergiaan Noval mengikuti kejuaraan tingkat Internasional tersebut.

"Dana yang dibutuhkan itu mencapai sekitar Rp 15 juta, sementara pihak sekolah tidak mempunyai dana sebesar itu. Kalau nanti tidak ada pihak dari luar sekolah yang bersedia membiayai, terpaksa Noval tidak bisa ikut," kata Kepala Sekolah MINU Trate Putra Gresik Huda Arifin.

Selain Noval ada satu lagi siswa MINU Trate Putra Gresik yang berhasil menjadi wakil Indonesia di Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut. Ia adalah Tangguh Achmad Fairuzzabady. Namun berbeda dengan Noval, orangtua Tangguh telah menyatakan sanggup menyediakan dana pribadi bagi anaknya dalam mengikuti Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut.

“Kalau Tangguh, kemungkinan besar akan bisa berangkat mengikutinya, karena orangtuanya memang cukup mampu dan berada, sementara Noval tidak,” ucap Huda.

Noval dan Tangguh berhak mewakili Indonesia di ajang tersebut setelah mencatat prestasi apik di Kompetisi Matematika Nalaria Realistik se-Indonesia (KMNR) ke-11 tingkat SD/MI yang digelar oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Gedung Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga Bogor, bulan lalu. Tangguh membukukan medali perak, sementara Noval menyabet perunggu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanulhaq mengungkapkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Jokowi harus disertai perhatian negara untuk pesantren.

Hal itu dikemukakan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat ini saat memberikan materi dalam Focus Group Discussion (FGD) RUU Madrasah dan Pondok Pesantren, Rabu (19/10) di Hotel Lumire Jakarta Pusat.

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Dalam FGD yang digelar LP Ma’arif NU, FPKB DPR RI, dan Kementerian Agama tersebut, kiai yang akrab disapa Kang Maman ini menuturkan bahwa menurutnya, selama ini seolah hari santri hanya sebatas arak-arakan, kirab, dan seremonial.

“Oleh negara, kita seolah sudah cukup bergembira dikasih hari santri. Pengakuan negara terhadap santri mestinya disertai perhatian mereka bahwa pesantren selama ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap pembangunan bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” papar Anggota DPR RI FPKB ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu menurutnya, momen penting Hari Santri harus dimanfaatkan oleh NU untuk mem-breakdown gagasan-gagasan demi kepentingan pesantren dari sudut pandang alokasi anggaran tetap APBN untuk pesantren dan madrasah.

Karena menurut penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini, tidak terpungkiri bahwa selama ini pesantren dan madrasah terutama swasta masih mengalami diskriminasi alokasi anggaran negara. Tidak seperti pendidikan umum yang terbiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekaligus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka dari itu, pengguliran RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini semoga bisa memperkuat payung hukum yang ada selama ini sehingga eksistensi penting madrasah dan pesantren tidak terabaikan secara regulatif,” terangnya.

Senada dengan Kang Maman, Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI M. Nur Kholis Setiawan juga menerangkan bahwa warga NU jangan hanya gegap gempita dengan Hari Santri. Tetapi juga harus mendorong pemerintah atau negara agar melakukan rekognisi (pengakuan) sehingga pesantren terperhatikan dalam alokasi anggaran negara.

“Kita sekarang masih gegap gempita dengan Hari Santri, tetapi bagi saya, ekstrim saya katakan, percuma ada Hari Santri kalau pesantren masih hanya dianggap sebagai pemadam kebakaran. Negara belum hadir di sana,” ujar Nur Kholis.

Karena menurutnya, kita tidak mungkin berargumentasi bahwa guru-guru dan ustadz-ustadz pesantren harus mendapatkan penghargaan negara. “Sama sekali belum bisa. Sebab selama ini, pesantren hanya masuk nomenklatur pendidikan non-formal,” tutur Nur Kholis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah