Kamis, 18 Januari 2018

Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji

Suatu ketika, Kiai Basyirun Salatiga menuntun syahadat mantan pastur dari salah satu gereja di Kota Salatiga Jawa Tengah. Belum genap satu tahun ia dinyatakan sebagai Muslim, Kiai Basyirun sudah memintanya untuk daftar inden ibadah haji, berangkat ke Tanah Suci.Tanpa banyak bertanya, ia pun segera melaksanakan perintah sang kiai.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya penantian untuk melakukan ibadah haji pun mulai dekat. Namun, cepatnya waktu yang bergulir tak senada dengan kecepatannya dalam memahami khazanah keislaman. Hal itu tentu membuat hatinya sedikit ciut seiring dengan semakin dekatnya keberangkatan ke Tanah Suci. Ia kemudian memutuskan untuk sowan ke tempat sang kiai, sekaligus meminta solusi mengenai permasalahannya yang mengusik hati.

Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji

"Sudahlah, tak usah khawatir. Yang terpenting kuncinya adalah qanaah. Terima terhadap apa-apa yang terjadi nanti di Tanah Suci," tegas Kiai Basyirun setelah mendengar keluh kesah muallaf tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai murid, ia hanya mengiyakan apa yang dikatakan guru spiritualnya. Berbekal ilmu agama yang tak seberapa, ia mulai meyakinkan hati kecilnya dan berangkat beribadah untuk menyempurnakan rukun agama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Syahdan, keriuhan Masjidil Haram saat musim haji membuat hatinya semakin tak keruan. Bagaimana tidak, seumur umur, baru kali pertama ini ia melihat begitu banyaknya manusia yang berjuta jumlahnya berkumpul dalam satu tempat dengan satu tujuan pula. Ya, untuk melakukan rukun Islam yang kelima.

Hal itu membuatnya lupa akan satu doa yang justru harus sering dikumandangkan. Ia terlupa kalimat talbiyah. Meskipun saat itu seluruh jamaah haji dari berbagai dunia melantunkannya, yang ia dengar hanyalah suara gemuruh tak jelas dari mana arahnya.

Menyadari hal itu, ia hanya dapat pasrah sembari menunggu ilham dari Allah subhanahu wa taala. Ia kemudian teringat akan pesan kiainya agar tetap terima dengan lapang dada, mengenai apa-apa yang terjadi ketika berhaji.

Di tengah jutaan manusia yang berjubel kemudian ia berdoa.

"Ya Allah, hamba pasrahkan semuanya kepadamu..." rintih muallaf mantan pastur tersebut.

Tiba-tiba, suara gemuruh tersebut menuntun lisannya tidak untuk melafalkan kalimat talbiyah:

? ? ?

Bukan, Bukanlah kalimat tersebut. Melainkan, gemuruh tersebut seakan membisikkan sebuah kalimat berbahasa Indonesia. Tanpa pikir panjang, ia pun menirukan apa yang ia dengar di tengah keriuhan Masjidil Haram. Dengan terbata ia berkata:

"Lama-lama baik... Lama-lama baik..." serunya menirukan bisikan tak jelas tersebut.

Meskipun ia mengetahui bahwa bukan ini talbiyah yang ia maksud. Namun bermodal kemantapan hati, ia kembali menyerukan kalimat tersebut dengan keyakinan bahwa inilah doa yang diilhamkan oleh Allah subhanahu wataala kepadanya.

Dan benar, ternyata kalimat yang diucapkannya berulang kali tersebut menurut Kiai Basyirun terkabul. Terbukti, setelah pulang berhaji keimanan muallaf tersebut semakin membaik lama kelamaan. (Ulin Nuha Karim)



Kisah ini bersumber langsung dari Kiai Basyirun Salatiga, disampaikan dalam acara Walimatus Safar lil Haj KH Muhammad Shofi Al Mubarok di kompleks Ponpes Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) bermaksud mengumumkan kepada publik mengenai kesempatan untuk mengikuti kompetisi esai dan multimedia yang bertujuan mengampanyekan Islam ramah, moderat dan damai terutama di dunia maya.?

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam

Dalam konferensi pers peluncuran kompetisi esai dan video tersebut, Selasa (27/9) di Gedung PBNU Jakarta hadir Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Pimred Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Achmad Mukafi Niam, Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo, awak media, dan para aktivis orgnaisasi pemuda.

Dalam paparannya, Helmy Faishal mengungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lee Kuan Yeuw School Singapura yang merilis data dari View Research Center. Hasil penelitian ini memngungkapkan bahwa 4 persen dari penduduk Indonesia atau tepatnya adalah 10 juta orang Indonesia setuju konsep negara Islam. Angka tersebut adalah para pemuda dan kaum urban.

“Mereka sepakat dan mendukung konsep Negara Islam (Islamic State) yang kita kenal ISIS. Ini jumlah yang besar sekali yang membuktikan bahwa Indonesia berada pada pusaran radikalisme global,” ujar Helmy.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sehingga menurut Helmy, upaya penanggulangan radikalisme bukan hanya tanggung jawab Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi tugas seluruh elemen bangsa demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia agar Pancasila dan UUD 1945 sebagai pondasi persatuan tetap kokoh.

Untuk menanggulangi problem radikalisme global yang terus menggerogoti keutuhan bangsa, menurut Helmy, perlu ada langkah-langkah konkret, baik dari civil society maupun pemerintah. Karena arah gerakan ini menyasar para pemuda sebagai pengguna besar media sosial dan dunia maya.

“Kami dari NU sudah bolak-balik menyampaikan kepada pemerintah untuk melakukan law enforcement karena semua sudah diatur dalam UU Terorisme. Kelompok-kelompok radikal secara jelas tidak mengakui dasar negara Pancasila yang sebenarnya sudah bisa diambil tindakan hukum,” papar Helmy. (Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Santri ke Depan Harus Siap Bersaing di Berbagai Bidang

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Jaringan Gusdurian Universitas Negeri Semarang (Unnes) bekerjasama dengan Kedai Kopi ABG menggelar diskusi di warung kopi yang tak jauh dari kampus Unnes pada Senin, 19 Oktober 2015. Hadir sebagai pemantik diskusi Mukhamad Zulfa (kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Semarang) dan Akhmad Luthfi (mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, PW IPNU Jawa Tengah).?

Santri ke Depan Harus Siap Bersaing di Berbagai Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri ke Depan Harus Siap Bersaing di Berbagai Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri ke Depan Harus Siap Bersaing di Berbagai Bidang

Diskusi bertema "Kalau Sudah (Jadi) Santri, Njur Ngapa?" diawali dengan pembacaan shalawat diiringi grup rebana Jamiyyah Mauliddurrasul Arrohman.

Luthfi menjelaskan latar belakang kenapa lahir peringatan hari santri. Bercerita bagaimana Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 memberikan makna yang tegas bahwa santri mempertahankan Indonesia seutuhnya. Di sisi lain Zulfa memahami bagaiamana seharusnya santri bahwa sekarang santri harus menjadi santri yang sejati. Seutuhnya memegang teguh akhlak al-karimah dan tradisi yang dimilikinya. Selain itu, ke depan santri harus mampu bersaing dengan berbagai macam elemen bangsa dengan meningkatkan kapasitas keilmuaannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diskusi tambah menarik ketika materi ini diperkaya peserta diskusi dengan pemaparan bahwa kiai-ulama kita dahulu dihormati oleh orang-orang Arab. Sebut Syekh Annawawi al-Bantani (1813-1897) menjadi ulama di tanah haram pada waktu itu.?

"Harusnya kita bisa mengaji khazanah pemikiran tokoh-tokoh lokal yang kita miliki dibandingkan dengan tokoh luar Nusantara," ungkap Gigih Firmansyah santri Al-Fadhlu Kaliwungu yang masuk juga kuliah di UIN Walisongo. Banyak karya-karya kiai-ulama Nusantara yang layak untuk diteliti.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tema pertanyaan ini menarik menjadi perbincangan malam itu. Berbagai nilai-nilai luhur bisa didapatkan dari pesantren mulai kedisiplinan, kebersamaan, kekeluargaan, keikhlashan, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang muda, toleransi, sopan-santun dan lain sebagainya.?

"Menjadi manusia dengan mengamalkan ilmu yang telah dapat di pesantren," ungkap Lutfi. Itulah jawaban yang menjadi tema diskusi kali ini.

Tentu dengan disahkan hari santri ke depan santri tidak lagi dipermasalahkan tentang ijazah pesantren yang mereka miliki. Di perguruan tinggi misalnya beberapa perguruan tinggi masih menolak ijazah muadalah yang dikeluarkan pesantren. Dan perlu diakui bersama bahwa alumni pesantren yang masuk dunia perkuliahan lebih mudah beradaptasi dengan proses kampus dengan keunggulan karakter spiritual quotient dan emotional quotient. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Perwakilan pengurus Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Singotrunan melakukan kunjungan ke kepengurusan Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Banyuwangi. Ketua PAC IPNU M. Sholeh Kurniawan dan Ketua PAC IPPNU Fitriyah Kecamatan Banyuwangi langsung menyambut kedatangan mereka di kantor PCNU Banyuwangi, Jumat (23/12) siang.

Ketua PR IPNU Singotrunan Ricky Fikryansyah mengatakan, kunjungan ini dilakukan untuk menyampaikan beberapa kesulitan saat menjalankan roda organisasi.

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ranting Singotrunan Bertanya tentang Kelola Organisasi

"Kita di sini masih baru masuk dan aktif di IPNU IPPNU. Kami perwakilan pengurus yang hadir meminta contoh-contoh kegiatannya seperti apa, dan segmentasi kegiatannya untuk siapa," ungkap pelajar yang saat ini menempuh pendidikan di MAN 1 Banyuwangi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia juga menyampaikan bagaimana tata kelola organisasi secara ideal. Karena dia berpikir sama saja jika melakukan berbagai kegiatan, ternyata tidak sesuai dengan aturan yang ada.

M. Sholeh Kurniawan menyampaikan beberapa jalan keluar dari segala permasalahan yang diangkat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebenarnya kegiatan kita tidak terlalu sulit. Karena segmentasi kita hanya di bidang keterpelajaran dan kaderisasi. Karena IPNU-IPPNU sendiri memprioritaskan mesin kaderisasi dan kegiatan keterpelajaran yang positif. Pendeknya kita lebih memaksimalkan di bidang pelajar, bukan yang lain," tegas Sholeh, melalui siaran pers Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sabtu (24/12).

Sholeh mengimbau kepada puluhan kader yang berkunjung untuk turut membantu di kegiatan Pimpinan Anak Cabang, bukan hanya sibuk di kepengurusan ranting saja.

Ia juga mengajak untuk membantu kepanitiaan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) di daerah Pakis di tanggal 29 Desember 2016 mendatang kepada mereka yang hadir. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berkat Ulama NU NKRI Berdiri

Purbalingga, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para ulama dan kyai NU, "maka mari kita tetap berkhidmat, khususnya kepada para kyai dan ulama NU."

Demikian disampaikan KH. Muhammad Faris El-Haq Fuad Hasyim dari Buntet Cirebon dalam acara Ansor Bersholawat dan Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh GP Ansor Kabupaten Purbalingga pada hari Ahad (17/6) dalam rangka peringatan isro Miroj Nabi Muhammad SAW dan pelantikan PAC GP Ansor Bukateja di halaman pendopo Kecamatan Bukateja.

Berkat Ulama NU NKRI Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkat Ulama NU NKRI Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkat Ulama NU NKRI Berdiri

Kontribusi ulama NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asyari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada tanggal 10 Nopember 1945 yang kemudian kita kenal dengan Hari Pahlawan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kyai dan ulama," katanya.

"Apalagi di jaman akhir ini di saat terjadinya dekadensi moral, kemerosotan moral generasi bangsa, peran orang tua dan kyai sangatlah dibutuhkan," tambah Gus Faris di hadapan ribuan jamaah yang hadir dalam acara tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelumnya Ketua GP Ansor Purbalingga Ulil Archam mengatakan, melalui media Ansor bersholawat dan Tabligh Akbar sebagai penanaman nilai-nilai Akidah Ahlussunah Waljamaah kepada generasi penerus, NU memiliki kepedulian dan empati yang besar terhadap keberlangsungan NKRI.

Acara ini juga dihadiri oleh Mudib (PP GP Ansor), PCNU, PC Muslimat NU dan Camat Bukateja mewakili Bupati Purbalingga yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Mujib mengajak generasi muda Ansor untuk semangat berjuang dalam menegakkan Islam Ahlussunah Annahdliyah melalu beragam acara seperti majlis dzikir dan sholawat Rijalul Ansor, Pengajian serta Bakti Sosial.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Torik Jahidin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Tegal, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Saat ini, semangat umat Muslim di Indonesia untuk ? menjalankan ibadah umrah semakin tinggi. Untuk mendukung semangat tersebut, PT AL ANSHAR ASBIHU TAMA SEJAHTERA atau ASBIHU Tour and Travel, menyediakan minimal empat kelompok keberangkatan setiap bulannya.?

Seperti pada Kamis (2/3) lalu, operator Asosisi Bimbingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) tersebut memberangkatkan 40 jamaah umrah asal Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Sebelum mengikuti penerbangan ke tanah suci, keempatpuluh jamaah melakukan silaturahim ke Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Mereka berkesempatan mendengarkan tausiyah pembekalan dari Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi.?

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Kiai Mujib mengatakan ibadah haji atau umrah merupakan panggilan dari Allah yang tidak semua orang dapat dengan mudah melaksanakannya. Orang yang dapat mengerjakan ibadah umrah adalah orang-orang pilihan.

“Ada orang yang mampu ekonominya, atau lebih pandai dan lebih banyak ilmu agamanya, tetapi tidak kunjung berangkat umrah. Bapak dan Ibu mungkin ilmu dan hartanya pas-pasan. Tetapi karena dipilih Allah, dapat melaksanakan ibadah umrah,” ujar Kiai Mujib.

Oleh karenanya, lanjut Kiai Mujib, ibadah umrah harus sungguh-sungguh diniatkan karena Allah. Salah satu implementasinya yakni dengan mengikuti peraturan, diantaranya jangan berbicara yang tidak perlu seperti berdebat, mengeluh atau bicara kotor; berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebaliknya jamaah harus memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Karena nilai pahala dari ibadah selama di Madinah dan Makkah akan dilipatgandakan oleh Allah Swt.

Kiai Mujib juga menyebutkan tanda-tanda umrah yang diterima Allah, adalah orang yang telah berumrah masuk surga ketika meninggal dunia. Bagi jamaah yang masih hidup di dunia, sepulang umrah atau haji, akan menjadi orang yang senang memberikan kedamain kepada orang lain; dan suka membantu orang lain yang memerlukan. (Kendi Setiawan/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah