Sabtu, 23 Desember 2017

Ansor Sukahening Bantu Bedah Rumah Warga

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Sukahening Kabupaten Tasikmalaya mengadakan bakti sosial terhadap rumah tidak layak huni milik Nenek Juarsih (97), warga Kp. Anggeukleung, Desa Sukahening, Ahad (11/6).

?

Ansor Sukahening Bantu Bedah Rumah Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sukahening Bantu Bedah Rumah Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sukahening Bantu Bedah Rumah Warga

Sebelum dibongkar, rumahnya hanya berdinding bilik, bertiang bambu ala kadarnya. Kondisinya sangat mengkhawatirkan jika sewaktu-waktu roboh. Dari situlah PAC Ansor Sukahening terketuk hati untuk segera bergerak cepat. Demikian dikatakan oleh Asep Yoyo, Ketua PAC GP Ansor Sukahening.

"Terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam pembangunan ini, sahabat-sahabat Ansor, Banser, dan pihak lainnya, khususnya kepada Pepen Supendi sebagai pembina Ansor Sukahening yang telah membantu moral bahkan morilnya," Asep.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Momoh sebagai anak sulung dari Nenek Juarsih, merasa senang dan terharu atas perhatian Ansor Banser yang peduli atas rumah sederhananya ini.?

“Intinya kita semua Gerakan Pemuda Ansor Sukahening ikut membantu gotong royong sesuai kadar kemampuan, apalagi sekarang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah sekaligus bedah rumah,” tandasnya. (Abdullahi/Mukafi Niam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU Cilegon Desak Pemerintah Upayakan Kesamaan Upah

Cilegon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. PCNU Kota Cilegon Banten mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon agar perusahaan yang mempekerjakan orang asing dan pribumi diupah dengan seimbang. Kuota tenaga kerja pribumi juga harus lebih banyak daripada orang asing. 

“Kami dari PCNU Kota Cilegon mendesak kepada Pemkot Cilegon agar memperketat izin orang asing untuk bekerja ataupun tinggal di Wilayah Cilegon,” kata KH. Hifdullah selepas kegiatan bahsul  masail PCNU Kota Cilegon beberapa waktu lalu.

NU Cilegon Desak Pemerintah Upayakan Kesamaan Upah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Cilegon Desak Pemerintah Upayakan Kesamaan Upah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Cilegon Desak Pemerintah Upayakan Kesamaan Upah

KH. Hifdullah juga berpandangan, kehadiran para pekerja asing asal Korea di Kota Cilegon berpotensi akan mengubah budaya dan perilaku masyarakat, yang cenderung akan semakin jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Berdasarkan laporan dari warga Nahdliyin yang masuk kepada kami, banyak sekali warga asing terutama Korea yang membawa budayanya ke Cilegon. Bahkan pada saat bulan Ramadhan, restoran yang menyajikan menu Korea buka di siang hari, dan ini jelas sekali menyalahi pertauran pemerintah. Kami siap mengawal apabila ada organisasi atau instansi yang terkait untuk melakukan pengawasan terhadap pekerja asing, terutama Korea,” tegas KH. Hifdulloh.

Karena itulah PCNU juga mendesak supaya pemerintah membuat lembaga yang memberikan pengawasan orang asing di Cilegon. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait hal itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cilegon, Erwin Harahap mengatakan, untuk masalah warga negara asing yang bekerja di Cilegon, pihaknya sudah cukup ketat dalam memberikan izin. Dokumen tenaga kerja asing yang masuk semuanya sudah lengkap. Bahkan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan membentuk tim untuk mendatangi KS-Posco dan mengecek jumlah pekerja orang asing. 

"Apakah sudah sesuai dengan yang dilaporkan atau tidak. Kalau terjadi penyimpangan, akan kami beri tindakan tegas. Untuk mempelajari hal tersebut, kami butuh payung hukum seperti apa penerapannya. Untuk itu tanggal 2 September besok, kami akan lakukan studi banding ke Batam terkait penanganan pekerja asing,” terang Erwin. 

Seperti diketahui, menurut PCNU Kota Cilegon, perkembangan investasi Korea Selatan makin pesat di Kota Cilegon. Kemudian pekerja asal Korea yang berdatangan dan menetap di Kota Cilegon.

Redaktur    : Abdullah ALawi 

Kontributor: AA Candra Zaini  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sambutan Ketua Umum PBNU

Alhamdulillah berkat dan rahmat dari Allah SWT, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama ini bisa terlaksana dengan penuh semarak dan penuh hidmat.

Hal ini tidak lain berkat dukungan dari semua pihak, baik dari kalangan alim ulama, kalangan pejabat dan kalangan pengusaha. Dan yang tidak kalah pentingnya  adalah berkat pengabdian, sumbangan yang tulus tak terhingga dari rakyat atau masyarakat di sekitar pesantren.

Sambutan Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambutan Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambutan Ketua Umum PBNU

Hanya NU organisasi yang berani menyelenggarakan hajat nasional bertempat pesantren di desa terpencil. Tahun 1983-1984  lalu NU menyelenggarakan Munas dan Muktaar di desa terpencil Asembagus di Situbondo sana. Tetapi ingin di desa terpencil itu NU menegaskan kembali ke Khittah 1926 dan menegaskan di hadapan rakyat dan dihadapan presiden yang hadir di desa itu bahwa Pancasila dan NKRI harga mati. Tahun 1986 NU juga menyelenggarakan Munas di desa terpencil Kasugihan Cilacap di situ ditelorkan gagasan besar  mengenai pembangunan Nasional dan konsep Ijtihad yang mampu menggerakkan dunia pemikiran Islam. Lalu tahun 1987 NU menyelenggarakan Munas di Bagu, sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Barat. Di situ NU mengeluarkan keputusan dibolehkannya wanita menjadi presiden, yang saat itu dianggap masih sangat controversial.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekarang NU kembali mengadakan Munas- Konbes di desa yaitu di pesantren Kempek di desa yang sederhana ini yang mungkin masih banyak kekurangan di sana sini, baik fasilitas maupun cara penyambutannya, yang memang semuanya dipersiapkan dengan mendadak. Tetapi kami berharap kekurangan yang ada ini tidak menghalangi kita untuk merumuskan dan melahirkan gagasan-gagasan besar seperti Munas-Kobes sebelumnya, yang diharapkan oleh umat dan bangsa ini. Karena para ulama, para kiai yang biasa hidup sederhana dan selalu bekerja keras, bisa berkarya besar tanpa harus dengan fasilitas lengkap. Banyak kaia melahirkan karya besar yang mempengaruhi dunia justeru dari pesantren terpencil.

Hadirin sekalian

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kali ini NU sengaja menyelenggarakan hajat penting ini di pesantren desa, karena NU saat ini bertekad untuk kembali ke pesantren, baik secara spirit dan secara fisik. Di tengah kehidipan yang serba materialistis dan pragmatis ini kita mencoba untuk kembali pada spirit pesantren yang mengutamakan nilai kejujuran, pengabdian, kesederhanaan, gotong royong, kebersamaan. Kembali secara spirit dan filosofis ini perlu disertai kembali secara fisik, karena dengan kembali ke pesantren, kita dihadapkan pada fasilitas seadanya, dilayani secara apa adanya. Tetapi dari sini bisa kita bangkitkan pola hidup sederhana dan kebersamaan.

Kita berani menyelenggarakan kegiatan nasional di desa karena melihat kesiapan masyarakatnya. Meskipun mereka tidak terbilang kaya, tetapi mereka dermawan yang siap membantu pelaksanaan Munas ini dengan penuh semangat dengan menyumbangkan harta dan tenaganya. Sejak menjelang munas mereka telah menyumbangkan beras, sapi, sayuran secara suka rela dan mereka melakukan kerjabakti membersihkan kampong, jalan dan saluran air demi menyambut peserta Munas. Ini menujukkan bahwa kswadayaan masyarakat masih ada, kegotongroyongan masih ada. Ini berarati Pancasila masih ada, Pancasila masih hidup dan berkembang di masyarakat dalam bentuk nyata. Itulah cara NU dan kaum pesantren ber-Pancasila.

Hadirin yang terhormat  

Dengan menyenggarakan Munas di pesantren desa sebenarnya kita ingin menjunjung martabat rakyat ternyata mereka bisa. Hal itulah yang dilakukan rakyat ketika membantu memberikan perlindungan dan menyokong logistic tentara pejuang yang memerdekakan negeri ini. Dan ternyata semangat juang rakyat masih ada. Terbukti saat ini mampu menyelenggarakan Munas di Pesantren Kempek ini. Ini menunjukkan bahawa Semangat proklamasi semangat perjuangan 1945 maasih  ada pada rakyat kita, walaupun  mereka generasi baru, tetapi mendapatkan warisan spirit dari orang tua, guru dan para ulama, agar menjadi pejuang dan pembela Indonesia.

Cita-cita Rakyat, cita-cita bangsa itulah yang kemudian kita anggap menjadi tema  Munas Alim Ulam dan Konbes NU ini mengangkat tema Kembali ke Khittah Indonesia 1945, yang tidak lain adalah ajakan untuk kembali pada semangat  Proklamasi untuk membangun Indonesian yang merdeka dan berdaulat. Kermbali pada nilai-nilai luhur Pancasila dan juga  kembali kepada amanat Mukadimah UUD 1945. Dari situ pula NU mengajak semua pihak untuk mengevaluasi proses perjalanan bangsa ini baik bidang peolitik, ekonomi dan budaya. Kebebasan perlu dibuka, tagar muncul kreativitas dan tanggung jawab. Semuanya akan dibahas dan diputuskan sebagai landasan kerja NU ke depan.

Sebagai tuan rumah sekali lagi kepada semua pihak yang  telah membantu terlaksananu Munas-Konbes ini kami ucapkan banyak terima kasih jaza kumullah khairal jaza. Dan juga kami tidak lupa mohon maaaf atas segala kelemahan, kekurangan dalam penyelenggaraaan Munas-Konbes ini, kekorang sopanan dalam menyambut para kiai, dan segenap undangan. Ini semua bukan kesengajaan tetapi hanya itu kemampuan kami. Maka semuanaya mohon dimaafkan. Wallaul muwafiq ila aqwamit thariq.  

Cirebon, 17 September 2012

Dr. KH. Said Aqil Siroj 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Sukoharjo. Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar tujuh ribu jamaah tumplek blek di Balai Desa Mulur Kecamatan Bendosari Sukoharjo, hadiri pengajian bertajuk “Jamaah bertanya Kiai menjawab” yang digagas Pengurus Wakil Cabang (MWC NU) Bendosari bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Sukoharjo, Rabu malam.

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Kiai Muhammad Adib Zein dan Kiai Ahmad Baidlowi selaku narasumber mengupas sekitar thaharah. Sedikitnya ada tujuh jamaah bertanya secara langsung dan sembilan bertanya melalui SMS. Walau membicarakan tema thaharah, tapi jamaah ada yang bertanya tentang berbagai hal diantaranya soal, hukum makan bekicot, hukum makan daging anjing, yang di duga kelompok lain menghalalkan daging anjing, tata cara menyembelih hewan, dan kedudukan perempuan datang bulan yang mengikuti pengajian di masjid, dan lain sebagainya.

Pantauan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, acara pengajian Jamaah Bertanya Kiai Menjawab identik dan menjadi “tandingan” pengajian kelompok lain di Solo Raya yang juga memakai metode sama, cuma bedanya yang ditanyakan selalu seputar hukum ziarah kubur, tahlilan bid’ah, dan kalau ada pertanyaan lain sang ustadz selalu berupaya mengarahkan dan menyinggung tata cara amaliah NU yang dianggap keluar dari tuntunan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Ketua PCNU Sukoharjo Muhammad Nagib Sutarno, model pengajian ala NU mengupas kitab kuning, lalu santri (jamaah) bertanya, harus digalakkan lagi di kalangan NU secara massif agar jamaah mengetahui secara mendalam berbagai persoalan baik ubudiyah maupun lainnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sisi lain, jamaah terjaga dari pemahaman dari luar yang “menyerang” amaliyah NU. “Pengajian ini rutin dilakukan oleh NU Sukoharjo, untuk membangun soliditas jamaah,” kata Sutarno.

Sementara itu Ketua MWC NU Bendosari Agus Purwanggono menjelaskan, suksesnya pengajian ini tak lepas dari partisipasi semua pihak. Tampak hadir diantaranya Kepala Desa Mulur, Muspika Kecamatan Bendosari, pengurus GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, Jatman dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh    

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Takmir Masjid dan Mushalla Diminta Tingkatkan Kenyamanan Ibadah Tarawih

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta para takmir masjid dan mushalla di Kabupaten Probolinggo agar senantiasa meningkatkan kualitas ibadah shalat tarawih dalam bulan suci Ramadhan.

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin ketika menghadiri haul akbar para masayikh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Sabtu (13/5).

Takmir Masjid dan Mushalla Diminta Tingkatkan Kenyamanan Ibadah Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Takmir Masjid dan Mushalla Diminta Tingkatkan Kenyamanan Ibadah Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Takmir Masjid dan Mushalla Diminta Tingkatkan Kenyamanan Ibadah Tarawih

“Shalat Tarawih adalah media kita untuk berkomunikasi dan bermesraan dengan Allah, seharusnya kita semua harus lebih khusyuk saat menjalankanya. Jangan terburu-buru dan jangan dipercepat. Lakukan dengan santai dan tertib, insya Allah akan lebih khusyuk dan membawa manfaat,” katanya.

Demi menghormati bulan suci Ramadhan, Hasan pun juga menyerukan para pengusaha warung makan agar mengubah pola waktu usahanya dari yang sebelumnya pagi sampai sore menjadi sore hari menjelang berbuka puasa sampai malam. “Bukalah menjelang waktu berbuka puasa hingga sahur,” jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait peringatan haul, Hasan menegaskan bahwa hal itu merupakan salah satu kekayaan budaya warga NU sebagai upaya memelihara kelestarian budaya. “Haul ini merupakan salah satu media untuk mempererat tali silatarurrahim warga NU,” tegasnya.

Peringatan haul para masayikh juga bermanfaat untuk mencari keteladanan amal saleh dan keilmuan agamanya sehingga akan membawa dampak yang baik dan dapat meningkatkan amal saleh dengan jalan meneladani amaliyah dan kebaikan-kebaikannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haul akbar untuk mendoakan para sesepuh pondok pesantren yang telah wafat ini dihadiri juga oleh segenap pejabat Forkopimka Krejengan dan diikuti oleh ribuan warga NU dari dalam maupun luar Kecamatan Krejengan. Turut hadir pula KH Moh Hasan Abdil Bar Genggong serta Habib Jawat bin Abdullah Assegaf dari Banyuwangi untuk memberikan taushiyah agama. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang memfasilitasi kegiatan bedah fatwa MUI Tangerang perihal ideologi yang dapat merusak integritas kebangsaan Republik Indonesia. Di Villa Binual Cilember, Bogor, Selasa-Rabu (25-26/11), mereka mencoba melihat posisi gerakan ideologi keislaman di tengah konsep negara Indonesia.

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya para kiai di kampus STISNU. Ketua FSPP KH A Baijuri Khotib berkata, “Pertemuan ini bertujuan membangun persepsi dari seluruh ormas Islam di Tangerang yang cinta NKRI terkait integritas kebangsaan.”

Sementara Ketua PCNU Kota Tangerang H A Bunyamin memandang, pilar-pilar kebangsaan secara subtansi tidak bertentangan dengan ajaran luhur keislaman. Sebab itu, merawat keutuhan NKRI dengan antara lain memerangi ideologi transnasional harus digalakkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita harus menyiapkan generasi kita di masa depan agar negara ini tetap ada sampai hari Kiamat,” kata H Bunyamin.

Pertemuan ini dihadiri oleh FSPP kabupaten Tangerang KH Hasbiyallah, FSPP Tangerang Selatan KH Muslihuddin, FSPP Kota Tangerang KH M Tabar, PCNU Tangsel KH Abbas Hurobby, Syuriyah PCNU Kota Tangerang KH Mamun, dan STISNU Nusantara Tangerang HM Qustulani. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hadroh selama ini merupakan kesenian khas pesantren dan NU. Seni shalawat ini tumbuh kembang sangat baik di wilayah Jawa Timur.?

Untuk mengikat para anggota NU telah membentuk organisasinya yakni Ishari (Ikatan Seni Hadroh Indonesia), termasuk di Kabupaten Blitar. Maka tidak jarang, setiap acara acara NU, hadroh selalu ditampilkan sebagai pemanis acara.?

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara

Bahkan saat Bupati Blitar dipegang oleh H Imam Muhadi, hadroh sangat diberdayakan. Setiap acara pemerintahan yang sifatnya massal.Pasti hadroh ditampilkan. Bahkan pada acara larung sesaji di Pantai Tambakrejo, hadrah juga mewarnai acara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Belakangan ini, posisi hadroh mulai berkurang gairah. Akibat hadirnya beberapa kesenian serupa yang terkesan lebih modern. Namun demikian, kalangan pengurus Ishari tidak gentar. Karena, hadroh memiliki pangsa pasar sendiri dan anggotanya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Untuk itu kedepan NU harus memfasilitasi kesenian hadroh ini agar bisa tumbuh kembang dengan baik," ujar H Rohman Salim, salah seorang tokoh hadroh di Kabupaten Blitar.

Diakui oleh Rahman Salim, di Blitar dua tahun belakangan ini aktifitas hadroh terkesan menurun, karena beberapa sebab. Selain hadirnya kelompok salawat yang terkesan modern. Juga lantaran terjadi perpedaan pendapat ditingkat pengurus ISHARI Blitar.

“Untuk itu senyampang pengurus NU ini masih baru. Maka kedepan kami mohon NU mau peduli dengan ISHARI dan mengembangkannya," pintanya.

KH Masadain Rifai, ketua terpilih NU Kabupaten Blitar, sangat mengapresiasi dengan keinginan anggota ISHARI tersebut. Karena keinginan itu sesuai dengan visi misi program kerja NU Kabupaten Blitar hasil dari Konfercab bulan lalu.?

“Salah satu butir hasil konfercab dari komisi program kerja adalah ? memperjuangkan kebudayaan (baik sebagai khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma dan kesenian NU, termasuk ISHARI," tandas Kiai Dain.

Selain itu, lanjut Kiai Dain, NU akan memfasilitasi dan memberi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas berbagai karya seni para seniman ? NU. “Jadi Ishari sudah masuk di dalamnya," tambahnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah