Jumat, 01 Desember 2017

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

Tangsel, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan agama tidak dipungkiri menjadi salah satu benteng penting dan ? bisa diandalkan dalam menyambut modernitas global. Karenanya, diperlukan langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan agama, salah satunya dengan ? meningkatkan standar kompetensi ? lulusan peserta didik.?

Pesan ini disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin kepada ? para Kepala Seksi Kurikulum (Kasi) ? Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi dan para guru madrasah. Menurutnya, jajaran Ditjen Pendidikan Islam dari pusat sampai daerah harus benar-benar serius dalam memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan agama sehingga ? di masa mendatang ? Indonesia tidak terjebak menjadi negara sekuler. Demikian dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

“Karena ini akan sangat menentukan dan tercetaknya generasi Indonesia ke depan,” katanya di Hotel Grand Zuri BSD City, Rabu (07/10).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jadi Indonesia hari ini, lanjut Dirjen, sesungguhnya menaruh harapan besar dari madrasah. Sebab, jika Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) tidak mencetak pendidikan keagamaan Islam yang bermutu, maka Indonesia bisa menjadi negara sukuler.

Kamaruddin memandang madrasah ? sebagai salah satu ? benteng pertahanan pendidikan agama ? yang bisa diandalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita tidak bisa berharap dari sekolah, hanya belajar agama selama dua jam satu minggu. Sementara 66 juta anak-anak itu disekolahkan di sana, mereka akan mampunyai pengalaman pendidikan agama yang sangat standar,” paparnya

Menurutnya, suka tidak suka, tren globalisasi akan terus menancapkan pengaruhnya dan bersamaan dengan itu, madrasah dan pesantren menjadi salah satu harapan.?

“Jika dua lembaga ini berhasil memberikan pendidakan bermutu dan berkualitas maka generasi Indonesia bisa bertahan,” terangnya.?

Di hadapan para Kasi dan guru yang hadir, Dirjen mengimbau agar mereka dapat melakukan evaluasi pelajaran agama yang salama ini dihadirkan kepada anak-anak madrasah. Ia berharap, jangan sampai apa yang selama ini diberikan hanya sekadar pemahaman yang bersifat koginitif saja.

“Tapi juga bagaimana (pelajaran) agama mampu membentuk karakter, sebagai instrumen transformatif, bisa merubah dan membentuk perilaku anak-anak kita. Memperkuat kesalehan di sisi lain, dan ? bisa menjadi instrumen perekat sosial, dalam artian bahwa ajaran tentang kerukunan toleransi dan menghargai perbedaaan itu juga harus diajarkan,” pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU-IPNU Salatiga Kenalkan NU ke Santri TPQ

Salatiga, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Untuk mengenalkan NU sejak dini, Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Salatiga, Jawa tengah, mengadakan kegiatan Alim (Ajang Kreasi Anak Muslim), di MTS NU Salatiga, Ahad (24/11).

Ketua IPPNU Salatiga Lia Agustin menjelaskan acara ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan. “Alim II ini merupakan rangkaian acara Pra-Konfercab. Sekaligus, ajang untuk mengenalkan sekolah yang dimiliki LP Ma’arif NU,” terangnya, Senin (25/11).

IPNU-IPNU Salatiga Kenalkan NU ke Santri TPQ (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPNU Salatiga Kenalkan NU ke Santri TPQ (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPNU Salatiga Kenalkan NU ke Santri TPQ

Dalam acara tersebut, sekitar 200 peserta dari berbagai TPQ se-Salatiga dan Kabupaten Semarang, mengikuti perlombaan yang ada. “Lomba meliputi mewarnai, dai cilik, dan qiro’ah,” imbuh gadis yang akrab disapa Lia ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sayangnya, peserta pada tahun ini agak menurun dibandingkan tahun kemarin. “Tahun lalu peserta 300 anak. Yang kedua ini menurun karena jenis lombanya dikurangi,” ungkapnya.

Namun, ia berharap dari penyelenggaraan Alim II kali ini, para pelajar NU dapat lebih dekat dengan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tema acara, "Membangun Generasi Aswaja Aktif, Kreatif & Religius”. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, News, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Empat kontingen bersaing untuk mendapatkan gelar juara umum pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencask Silat yang digelar Pagar Nusa di Padepokan Pencask Silat Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kontingen tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Sumatera Barat.

“Jawa Timur menjadi kandidat terkut juara umum. Satu emas lagi, dipastikan mereka menggondol juara umum,” kata Sayid Rdho, salah seorang panitia Kejurnas II yang digelar Pencak Silat NU pagara Nusa yang berlangsung dari Ahad (21/8) dan akan ditutup Kamis (25/8).

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jawa Timur, menurut dia, merupakan satu-satunya kontingen yang mengirimkan atlet dengan lengkap di antara 177 kontingen lain. Hanya Jawa Timur pula yang mengikuti pertandingan dan festival silat di seluruh partai, kelas, dan golongan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siang ini di gelanggang Padepokan Pencak Silat Indonesia mempertandingkan final TGR (tunggal, ganda, regu) dewasa dan remaja. Pada tunggal putra telah keluar sebagai juara yaitu kesatu Gorontalo, kedua Jawa Timur, dan ketiga Bali. Sementara pada tunggal putri juara I diraih jatim, juara II Sumatera barat, dan juara III Gorontalo.

Malam ini akan berlangsung sesi festival pencak silat. Sesi tersebut tak hanya diikuti kontingen-kontingen Pagar Nusa, tapi turut berpartisipasi beberapa perguruan silat seperti Jokotole, Persinas Asad dan Persaudaraan Setia Hati (PSH).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada kejurnas II dan Festival tersebut diikuti sekitar 257 pesilat putra dan putri yang berlaga pada golongan remaja dan dewasa. Sementara jumlah official sekitar 82 sehingga yang hadir sekitar 339. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Ulama, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU Harus Kontrol Para Politisi

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama harus selalu melakukan kontrol langsung kepada para politisi yang berlatar belakang NU. Dengan adanya kontrol, mereka akan tetap terjaga menjadi politisi NU yang lurus dan tidak nakal.

NU Harus Kontrol Para Politisi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Harus Kontrol Para Politisi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Harus Kontrol Para Politisi

Demikian yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni (PB-IKA) PMII H Arief Mudasir Mandan saat menanggapi pertanyaan peserta dalam halaqah keagamaan di STAIN Kudus, Selasa (7/5).

Dikatakan, sebagai bentuk kontrolnya NU harus selalu mengadakan internalisasi ideologi-ideologi organisasi (NU). NU harus mengundang dan menegur bila terdapat politisi NU yang sudah keluar dari norma etika sebagai wakil rakyat.

“PBNU sudah sering mengundang politisi. Kendati begitu, kadang masih saja ada politisi yang nakal,” ujar Arief bernada otokritik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menandaskan esensi mendasar dari politik adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Arief yang juga ketua PW PPP jawa tengah ini mengutip pernyataan KH Maimun Zubeir, berpolitik itu berat karena terdapat nahi munkar.

“Dari sini, dibutuhkan keteladanan kepemimpinan laku politik dan sosial. Jangan biarkan politik diisi oleh para petualang dan preman,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, ia memaparkan untuk mencetak kader muslim harus dilakukan sinergi antara komponen akademis, pesantren, dan organisasi.

“Ketiganya ini harus menjadi lem perekat sehingga tidak terjadi centang mencentang,” tambahnya.

Ketua PWNU Jateng H Muhammad Adnan menegaskan kader-kader NU yang menjadi politisi di Jawa Tengah aman dari kesandung masalah.

“Disini (Jateng) tidak terpengaruh Senayan, semoga saja tetap aman,” tandasnya singkat.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peran Banser Ansor Serbaguna (Banser) kian meningkat, hingga juga merambah dalam peran penting di dunia pendidikan. Seperti halnya sejumlah Banser Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur yang juga ikut andil dalam pengawasan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Unggulan Nahdlatul Ulama (NU) setempat.

Keikutsertaan dalam peran penting tersebut, ditandai dengan penyerahan MoU antarkedua belah pihak (Ketua PAC GP Ansor Mojoagung Zahidi dan Kepala Sekolah) yang disaksikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto pada pekan ini.

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama

Zahidi mengungkapkan bahwa Banser dan SMK NU sudah semestinya menjalin kerja sama yang baik dalam membesarkan NU di dunia pendidikan. Termasuk bimbingan atau pengawasan terhadap siswa dalam setiap tindak yang dinilai tidak baik, misalnya bolos saat jam sekolah berlangsung tanpa ada keterangan yang jelas.

Dengan MoU itu, dimana pun anggota Banser bekerja, jika melihat siswa SMK NU keluyuran saat jam sekolah, diminta untuk menanyai dan mencatat identitasnya kemudian melaporkan ke sekolah. "Banser dan siswa SMK NU ini sama-sama dalam naungan NU. Jadi pasti kita amankan," kata Zahidi. Rabu (27/7/2016).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

MoU ini sebagai rangsangan, bentuk kepedulian terhadap madrasah/ institusi pendidikan dan komitmen untuk bersama-sama membangun dan membina anak muda generasi bangsa ini menjadi generasi yang berintegritas baik dan berprestasi atas potensi yang dimiliki.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu secara terpisah, H Zulfikar mengimbau agar peran tersebut juga bisa diterapkan di luar jam pelajaran, mengingat saat ini banyak anak muda yang salah dalam pergaulan sehingga terjerumus pada pergaulan bebas (free sex) atau pengaruh miras dan narkoba.

"Saya pikir pengawasan kepada peserta didik atau siswa siswi ini tidak hanya di lingkungan sekolah saja, perkembangan di luar sekolah juga harus menjadi perhatian," ujarnya.

Namun demikian H Zulfikar sangat mengapresiasi terhadap pengambilan peran tersebut. Ia berharap bisa demikian itu dapat dicontoh Banser dan Ansor yang lain. Sinergi ini penuh kemanfaatan dan kemaslahatan bagi Ansor maupun SMK NU. Mudah-mudahan bisa ditiru yang lain, ucapnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, IMNU, Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Region Jatim III memasuki babak final. Laga final yang bakal dilaksanakan pada serangkaian Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Stadion? Kodam V Brawijaya,? Sabtu (10/9), mempertemukan Pesantren Bahauddin Ngelom Sidoarjo dengan Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Pertandingan laga final ini merupakan hasil pemenang dari laga semifinal yang terselenggara pada Kamis (8/9) di Lapangan Karang Pilang Surabaya, Jawa Timur, antara Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo versus Pesantren Al Muhajirin Mojokerto mendapatkan hasil 1-1. Gol dicetak oleh Ikhwan dari Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo pada menit ke-27, dan berhasil dibalas oleh Pesantren Al Muhajirin pada menit ke-44 oleh Sokep, kemudian dilanjutkan tendangan penalti dengan skor akhir 2-5 untuk Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Sedangkan pertandingan semifinal yang lain, antara Pesantren Bahaudin Sidoarjo versus Pesantren Ibrohimi Gresik hingga peluit dibunyikan mendapatkan hasil akhir 2-1 untuk Pesantren Bahauddin Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gol pertama tercipta oleh santri Pesantren Bahauddin pada menit ke-11 yang bernama M. Arif, dan gol kedua tercipta pada menit ke-41 oleh Dimas, untuk itu Pesantren Al Muhajirin Mojokerto akan menantang Pesantren Bahaudin Sidoarjo di laga final.

Menurut ketua panitia H. Arifin Hamid, "Siapa pun yang akan menjadi juara pertama hasil final nanti berhak mengikuti Kompetisi LSN Tingkat Nasional yang akan digelar di Yogyakarta," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu juara pertama, kedua dan ketiga berhak mengikuti event Piala Gubernur Jatim, tambahnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Merekonstruksi Peran Politik NU

Jika dihitung berdasarkan kalender Masehi, pada 31 Januari 2014 kemarin, NU sudah berusia  88 tahun. Kalau diibaratkan manusia, usia tersebut sudah mencapai kematangan yang cukup. Bahkan tergolong sepuh. Prilakunya biasanya cukup arif. Jarang bicara, namun sekali “ngomong” cukup bertuah. Tindakannya tidak gegabah, jarang membuat kesalahan karena belajar dari pengalaman.

Demikian juga NU. Di usianya yang sudah berkepala delapan ini, idealnya NU sudah cukup matang dalam bertindak dan menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Untuk urusan ubudiyah dan “perlawanan” terhadap faham-faham kontra Aswaja, NU cukup  oke. Tapi untuk soal-soal “horizontal” yang terkait langsung dengan pelayanan umat seperti pendidikan, dakwah maupun kesehatan masih perlu terus ditingkatkan. Terus terang, sejauh ini  hanya bidang dakwah yang mempunyai progress  cukup  menggembirakan karena rata-rata kiai NU memang muballigh. Sedangkan bidang yang lain biasa-biasa saja.  

Salah satu yang kerap menjadi sorotan masyarakat adalah “pelayanan” NU di bidang politik. Syahwat politik NU yang cukup posesif dan fluktuatif, membuat ormas ini selalu mengundang perhatian. Dikatakan  tidak berpolitik, tapi faktanya kerap telibat dalam permainan politik. Dikatakan berpolitik, NU katanya selalu berpegang kepada khittah.

Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Peran Politik NU

Memang, NU mempunyai koridor politik yang jelas. Khittah NU menggariskan bahwa secara kelembagaan NU tidak boleh berpolitik. Meminjam istilah KH. Muchith  Muzadi, NU tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Dengan kata lain, orang NU bahkan pengurus NU, secara perorangan tidak haram bergabung dengan partai politik tertentu, tapi dilarang keras membawa-bawa nama NU. Kalimat ini cukup gamblang tapi aplikasinya sangat absurd. Pantas saja langkah politik yang ditempuh NU dalam berbagai event politik, selalu menimbulkan pro-kontra. Sebab, bagaimana mungkin memisahkan antara figur seorang ketua NU dan jabatan yang disandangnya dalam ranah permainan politik. KH. Abdullah Syamsul Arifin yang menjadi Cawabub Jember, Guntur Ariyadi, Ali Maschan Moesa yang menjadi Cawagub Jatim, Soenaryo dan bahkan KH. Hasyim Muzadi yang menjadi Cawapres Megawati Soekarno Putri.

Demikian juga tokoh kunci/Ketua NU lain, yang maju dalam perhelatan politik,  mereka semua itu tetap tak bisa dilepaskan dari posisinya selaku pengurus NU kendati sudah non aktif. Di manapun mereka berkampanye, mesti dikait-kaitkan dengan NU. Akhirnya, mau tidak mau institusi NU juga terseret di keriuhan politik praktis.

Kalau menang, nama NU berkibar. Jika kalah, nama NU juga tercoreng. Ironisnya, banyak calon yang diusung NU, kalah telak. Cibiran pun kerap menyeruak; NU sudah tak laku, NU keropos dan sebagainya.

Mereka (tokoh-tokoh NU yang berpolitik praktis) tidak salah. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah ikhtiar politik untuk ikut terlibat aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya warga NU. Mereka adalah tokoh yang loyalitas dan pembelaannya terhadap NU begitu mumpuni, sehingga jika menang, NU juga yang akan memetik buahnya. Cuma persoalannya, hampir dipastikan pengurus NU tidak satu suara dalam menyikapi figur NU yang maju dalam bursa pemilihan kepala daerah, atau apalagi dalam perhelatan politik semacam Pileg. Aklibatnya suara warga NU juga pecah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang tidak ada yang mengingkari bahwa massa NU cukup bejibun. Kader NU juga bertebaran di hampir semua lini. Mereka kompak di bawah satu komando (NU) ketika harus dihadapkan kepada persoalan yang terkait dengan keumatan. Namun ketika yang dibahas soal politik dan kekuasaan, tunggu dulu. Alih-alih bersatu, mereka malah silang sengkurat. Sebab, mereka mempunyai agenda politik masing-masing yang boleh jadi berseberangan satu sama lain.

Kendati demikian, sampai detik ini NU masih merupakan komoditas politik yang cukup diminati. NU masih dianggap sebagai magnet sekaligus alat progpaganda untuk menarik simpati massa. Lihat saja, menjelang Pileg ini betapa banyak Caleg yang membawa-bawa nama NU dalam baliho atau spanduk kampanyenya, mulai dari yang sekedar menempelkan logo NU hingga yang mengklaim sebagai putra asli NU. Ini menunjukkan bahwa NU dinilai masih mempunyai potensi politik yang cukup besar.  

Terlepas dari itu semua, NU memang harus mengkonstruksi ulang posisi sekaligus peran politiknya di masa-masa yang akan datang. Tidak mungkin  NU lepas dari “bermain” politik praktis, baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Massa NU yang besar jumlahnya adalah modal politik yang cukup signifikan. Lebih baik modal politik itu dikelola dan dimanfaatkan sendiri untuk kepentingan NU, dari pada dimanfaatkan orang lain yang mengatasnamakan NU, tapi ujung-ujungya tidak jelas pembelaannya terhadap NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena itu, NU harus jeli membaca peluang sekaligus memetakan kekuatan sumberdaya politik yang ada. Kegagalan demi kegagalan di masa lalu harus menjadi pelajaran berharga untuk melangkah ke depan dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada umat, baik bidang politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Jangan sampai NU jatuh dua kali di lobang yang sama.

NU, kau ditunggu umat di pagi yang cerah. Bukan dinanti kelak di senja yang merah. Selamat merenung, dan selamat harlah.

 

Aryudi A. Razaq, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jember.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah