Rabu, 08 November 2017

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Jember,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Manusia wajib menjalankan fungsinya yang mulia, yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Sebagai abdullah, manusia dituntut beribadah kepada Allah. Sebagai khlaifatullah, manusia dituntut  untuk memperlakukan bumi dan sisinya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban Islam.

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Demikian diungkapkan Wakil Ketua PCNU Jember, KH. Misbahussalam saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus MWCNU Bangsalsari, Selasa (9/9).

Menurut H. Misbah, sapaan akrabnya, peran manusia sebagai abdulah dan khlafifatullah harus seimbang dan selaras.  "Itulah yang dimaksud dengan tawazun dalam prinsisp-prinsip NU. Dan itulah tujuan kita bergabung dengan NU; menjalankan fungsi kita sebagai abdullah dan khalifatullah," ucapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan tujuan yang kedua, tambahnya, adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan syariat Islam, sehingga selamat di dunia dan akhirat, berkumpul dengan para ulama di surga-Nya kelak. H. Misbah mengakui, point yang kedua ini terdengar klasik, tapi justru itulah yang sejatinya menjadi tujuan semua  manusia. "Kita  semua ingin sukses di dunia dan selamat di  akhirat," ucapnya.

H. Misbah menambahkan, warga nadhliyyin juga dituntut untuk membela dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dikatakannya, tegaknya NKRI tidak lepas dari usaha dan perjuagan para ulama NU. "Sehingga kita selaku warga NU, wajib menjaga keutuhan NKRI," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara pelantikan itu sendiri digelar di lapangan Curahcabe, Desa Gambirono, Kecamatan Bangsalsari, persis di depan Gedung MWCNU Bangsalsari yang baru selesai dibangun.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PCNU Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin, anggota Muslimat NU, Fatayat, GP. Anshor dan para pengasuh Pondok Pesantren se-Kecamatan Bangsalsari. Prosesi pelantikan tersebut dipimpin oleh H. Misbah. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Bahtsul Masail, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi”

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penyair Gusjur Mahessa tampil di acara Ngalogat Sastra Lesbumi NU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat di Halaman Kantor PCNU, Jalan dr. Soekardjo No 47, Ahad (29/5) malam. Melalui puisi-puisi yang bertemakan "Mending Gelo daripada Korupsi", Gusjur berhasil membawa imajinasi yang hadir untuk kembali mengingat bahwa banyak yang berteriak anti korupai, tapi nyatanya korupsi juga.

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi”

"Maka, daripada korupsi mending gelo (gila)," kata Ketua Lesbumi, Aan Farhan yang hadir dalam pertunjukkan tersebut.

Penampilan penyair kelahiran 1 Agustus 1966 di suatu Kabupaten di Jawa Timur ini menyajikan puisi-puisi hasil refleksi pengalaman sendiri. Bertema dari pertanyaan tentang diri seperti yang berjudul "Aku Bukan Anak Kecil", Agama sampai ke Demokrasi menggunakan bahasa sangat jujur.

"Gus, kenapa kau selalu menyuruhku. Aku bukan anak kecil. Gus aku bukan anak kecil. Umurku udah 40 tahun lebih. Maaf aku. Gusti Yang Agung..mmuaaach," kata Gusjur sambil mengecup telapak tangannya saat membacakan syair.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam puisi berjudul Mending Gelo daripada Korupsi, Gusjur begitu eksentrik. Dengan memakai seragam Banser, Gusjur ekspresif sekali ketika bilang, "Hai kamu. Katanya kampanye anti korupsi. Ternyata kok malah dipenjara karena korupsi. Gubrak," kata Gusjur sambil menjatuhkan diri.

Penonton pun langsung tertawa karena ekspresi penyair yang kerap dipanggil Agus Jurig itu begitu mengena dan ekspresif dengan setiap kata yang dilantunkannya. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Masyarakat Baduy yang tinggal di kecamatan Kanekes kabupaten Lebak Provinsi Banten, sejak lama dikenal sebagai masyarakat adat yang tertutup dari jangkauan peradaban luar. Namun seiring bergulirnya waktu beberapa entitas dan komunitas masyarakat Baduy mulai berusaha membuka diri terhadap peradaban dan pengetahuan yang lebih luas.

Salah komunitas yang berusaha membuka diri terhadap pengetahuan yang lebih luas adalah Komunitas Saung Belajar yang terletak di Luwung Titipan, sekitaran kawasan pemukiman Baduy. Komunitas Saung Belajar ini mengajarkan anak-anak Baduy Dalam untuk belajar membaca dan menulis.

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online

Demikian dinyatakan oleh Mang Pulung saat berkunjung ke Kantor Redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Ahad (14/6). Menurut Mang Pulung, memang ada beberapa kendala terkait proses belajar di Saung yang dibangunnya ini antara lain letaknya yang di luar perkampungan dan adat yang mengikat masyarakat Baduy.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dulu pernah ada seorang pengajar yang ditugaskan oleh pemerintah bernama Guru Asid dari Karang Balang, tetapi karena ia sudah pindah ke Gunung Talaga, maka kegiatan belajar jadi terhenti untuk sementara. Anak-anak tidak mau belajarnya pinda karena lokasinya yang jauh dari pemukiman Baduy," tutur Mang Pulung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih lanjut Mang Pulung menjelaskan, kendala-kendala dalam proses belajar di saungnya antara lain adalah keterbatasan sarana belajar dan teguran dari kokolot (sesepuh) adat. Termasuk adanya aturan tidak boleh berseragam dan tidak boleh membawa perlengkapan belajar pulang ke rumah.

Lelaki berumur 45 tahun ini bahkan mengaku sempat putus asa dalam mengupayakan Komunitas Saung Belajarnya. "Tapi Alhamdulillah, ada banyak kawan dari luar yang turut membantu menyiapkan perlengkapan dan sara belajar di Saung ini," tandas ayah dari seorang putri berusia 12 tahun ini.

Masyarakat Baduy tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka.

Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut.

Akibatnya, mayoritas populasi yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 8.000 orang ini tetap tidak dapat membaca atau menulis hingga sekarang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Dar Buka Wawasan Siswa Lewat Pendidikan Kepemimpinan

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Batu Bintang, Batu Marmar, Kabupaten Pamekasan KH Mudarris (Gus Dar) menyampaikan wawasan keilmuan para siswa melalui Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Jumat (27/1). Kegiatan yang diikuti OSIS MTs dan SMA Nurul Falah ini akan berlangsung hingga Ahad (29/1) mendatang.

"LDKS diketengahkan atas kesadaran bahwa siswa merupakan bagian atau komponen yang penting diperhatikan sebagai generasi masa depan. Dari itu, siswa menjadi bidikan utama dalam LDKS untuk menjadi lebih baik dan terampil," ujar Gus Dar.

Gus Dar Buka Wawasan Siswa Lewat Pendidikan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dar Buka Wawasan Siswa Lewat Pendidikan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dar Buka Wawasan Siswa Lewat Pendidikan Kepemimpinan

Menurutnya, perjuangan dalam mencerdaskan generasi bangsa tidak akan pernah selesai. Selama hayat masih dikandung badan, pengabdian adalah pilihan paling aman untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

"Aman dari hiruk-pikuk dan carut marut keadaan yang sudah mulai kacau. Ingar bingar kehidupan saat ini sangat mengontaminasi pola pikir banyak orang, dan siapa saja termasuk siswa," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika siswa hari ini tidak diperhatikan secara sungguh dengan berbagai macam persoalan yang menimpanya, terutama integritas siswa, sikap dan perilaku yang mulai menyimpang, kata Gus Dar, maka keberlangsungan hidup negeri ini akan terancam punah.

LDKS adalah bagian dari sekian banyak kegiatan yang diharapkan mampu memberikan wawasan dan perubahan terhadap pola pikir siswa. Sejak dini, siswa harus diperkenalkan dengan berbagai hal, termasuk bagaimana menjadi pemimpin dan mengelola sebuah organisasi. Dari sinilah, kemampuan siswa akan terbentuk.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Meski tempat kami hidup–sebagian orang mengatakan–terpencil, tepatnya di Batu Bintang, kecamatan Batu Marmar, tapi kami tidak putus asa untuk memberikan yang terbaik, menciptakan siswa kreatif, inovatif, dan produktif.”

Menurutny, hal ini sudah sesuai dengan tema yang diusung dalam kegiatan ini, yaitu akselerasi pembangunan mental, menuju siswa kreatif, inovatif, dan produktif berlandaskan Imtaq dan Iptek.

Sebagai inisiator, Gus Dar mendoakan agar kegiatan yang diselenggarakan dalam kurun waktu tiga hari ke depan ini tidak mendapatkan suatu halangan yang berarti; mendapat ridha Allah SWT dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Pringsewu Ajak Alumni Santri Tunjukkan Jati Diri di Segala Profesi

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober harus menjadi momen kebangkitan santri dalam ikut berperan serta membangun Indonesia. Dalam lingkup kabupaten, santri di Pringsewu juga harus ikut memberikan warna dalam perjalanan pembangunan menuju arah Pringsewu yang lebih baik.

Hal ini disampaikan Bupati Pringsewu H Sujadi saat hadir dalam kegiatan peringatan Hari Santri Nasional yang dilaksanakan oleh GP Ansor NU Kabupaten Pringsewu di Aula Gedung NU, Jumat (21/10) malam.

Bupati Pringsewu Ajak Alumni Santri Tunjukkan Jati Diri di Segala Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Pringsewu Ajak Alumni Santri Tunjukkan Jati Diri di Segala Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Pringsewu Ajak Alumni Santri Tunjukkan Jati Diri di Segala Profesi

Santri alumnus Pesantren Kalibeber Temanggung ini juga mengatakan, dalam berpartisipasi dalam pembangunan, seorang santri harus teguh memegang prinsip dan jati dirinya agar apa yang dilakukannya sesuai dengan kesantriannya yang berpegang teguh pada agama.

"Di manapun kita, apapun kita, siapapun kita, sebagai santri kita harus memiliki sifat kesantrian yang teguh dan memberikan nuansa kesantrian pada aktivitas kita," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mustasyar PCNU Pringsewu ini menyatakan, santri harus memiliki kebanggan terhadap jati dirinya. Kebanggaan itu bukan ditujukan untuk takabur atau sombong, namun untuk memberikan nuansa spiritual kepada lingkungan sekitar.

Sejarah mencatat bahwa banyak para pahlawan yang terinspirasi oleh para santri sekaligus tersulut semangatnya dalam berjuang memerdekakan Indonesia. Ia mencontohkan seperti Bung Tomo yang memekikkan perjuangan untuk bebas dari penjajah dan RA Kartini dengan konsep "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang semua itu terdorong karena kesemangatan santri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kegiatan yang dihadiri segenap pengurus dan anggota GP Ansor Pringsewu ini juga dilakukan Pembacaan Dua Paket Shalawat Nariyah yang merupakan salah satu instruksi PBNU melalui kegiatan Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah.

Pembacaan yang ditujukan untuk keselamatan bangsa ini dipimpin oleh Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim dan dilanjutkan dengan pembacaan Simtudduror. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Sejarah, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri

Oleh Ferial Farkhan Ibnu Akhmad

Tanggal 22 Oktober adalah tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah). Tanggal tersebut menjadi sebuah alasan yang mendorong terjadinya peristiwa pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa yang menyimpan makna sejarah yang tak terlupakan bagi negara yang sudah merdeka 70 tahun ini. Sehingga setiap tanggal 10 November kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dan terbebas dari kolonialisme selama lebih dari tiga setengah abad, bangsa ini kembali harus berhadapan dengan pasukan Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mengatasnamakan blok sekutu dengan misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.?

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri

Sehingga peristiwa tersebut menuntut warga negara Indonesia untuk kembali mengangkat senjata melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan jiwa dan raga. Runtutan peristiwa itulah yang menginisiasi lahirnya fatwa Resolusi Jihad dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Fatwa tersebut yang berhasil membakar semangat para ulama, santri, arek-arek Surabaya, seluruh rakyat Indonesia untuk berjihad membela bangsa dan negara.

Saat ini Presiden RI Joko Widodo telah menandatangani Keppres Hari Santri Nasional pada 15 Oktober 2015. Penetapan ini sebagai realisasi janji Presiden Joko Widodo pada saat masa kampanye 1 tahun yang lalu. Proses menentukan hari besar nasional tersebut sempat terjadi dinamika didalamnya. Semula akan ditentukan setiap tanggal 1 Muharram, kemudian diganti tanggal 22 Oktober atas dasar masukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan ormas Islam lainnya. Sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam memberikan kontribusi kepada bangsa ini menjadi alasan utama PBNU memberikan saran tanggal tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Santri Nasional bukan hanya sebatas menggugurkan janji Presiden Jokowi saja. Banyak hal yang perlu masyarakat refleksikan dari ditetapkannya hari besar tersebut. Ini sebagai upaya membuka pemikiran seluruh warga negara Indonesia bahwa para ulama dan santri mempunyai saham besar atas berdirinya negara ini. Peran dan perjuangan kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia mulai dari sebelum kemerdekaan hingga sekarang tidak bisa dikesampingkan apalagi dihapuskan. Saat ini banyak masyarakat yang menilai bahwa ulama dan santri yang dikenal dengan kaum sarungan hanya mengurusi masalah keagamaan saja. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi pemerintah pada zaman Orde Baru yang sengaja menghapuskan peran ulama dan santri dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Perlakuan tidak adil ini teraplikasikan dari minimnya catatan sejarah resmi yang menjelaskan bahwa ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam tegaknya Republik Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dinamika Perjuangan Kalangan Pesantren

Pada zaman sebelum kemerdekaan para ulama berupaya untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah. Menurut Manfred Ziemek dalam buku hasil penelitiannya Pesantren Dalam Perubahan dituliskan bahwa “Para pejuang kemerdekaan melawan kaum penjajah adalah para kiai dan santri yang terpanggil memprakarsai dan memimpin perlawanan”.?

Rasa cinta para ulama dan santri terhadap negara sangatlah besar. Jika kita melihat poin penting ? dari isi fatwa Resolusi Jihad antara lain yaitu. Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dangan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia. Keempat, umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang. ?

Memahami isi dari fatwa dari pendiri NU ini, tentu ini bukan hanya sebatas ajakan biasa untuk berjuang. Tapi fatwa tersebut adalah buah dari ijtihad para ulama sebagai modal para santri dan arek-arek Surabaya untuk berjihad. kita bisa merasakan betapa besarnya keinginan para ulama mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Hasilnya pun bisa kita rasakan sampai sekarang. Tapi sekali lagi sangat disayangkan, tidak banyak generasi saat ini yang mengetahui peristiwa bersejarah tersebut.

Kontribusi yang diberikan oleh para ulama dan santri tidak sebatas pada saat pra kemerdekaan saja. Sesudah merdeka pun ulama dan santri tidak hanya berdiam diri dalam menjaga kedaulatan Republik ini. Salah satunya dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara. Ketika Pancasila dipertentangkan oleh sebagian kelompok intoleran, para ulama NU-lah yang menuntaskan penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan bernegara. Bahkan salah satu ulama NU KH As’ad Syamsul Arifin menegaskan bahwa sebagian kiai dan umat Islam Indonesia berpendapat bahwa menerima Pancasila hukumnya wajib (Lihat Prof Dr Maksoem Machfoedz dalam bukunya Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama). Diperkuat lagi dengan keputusan Muktamar NU tentang pengukuhan dan pengesahan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Poin ke lima dari Deklarasi tentang hubungan Pancasila dan Islam dijelaskan “Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konseksuen?

oleh semua pihak.”

Tanggal 22 Oktober 2015 pertama kalinya pemerintah meresmikan “Hari Santri Nasional” sudah sepatutnya para kalangan pesantren menyambut momen ini dengan suka cita. Sudah saatnya para santri menjadi agen perubahan masa depan bangsa ini. Ada beberapa upaya yang menurut penulis bisa dilakukan para santri untuk hal tersebut, yaitu pertama, sudah saatnya santri bersikap lebih progresif dalam menuntut ilmu. Tidak hanya mendalami ilmu agama saja, akan tetapi juga mempelajari semua ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Selama ini para jebolan pesantren apalagi yang pesantren salaf berjubel di jurusan Tarbiyah saja sehingga kebanyakan hanya menjadi tenaga pendidik. Perlu adanya upaya menyebarkan santri di segala disiplin ilmu. Baik ilmu sosial maupun teknologi. Sehingga diharapkan akan terlahir para ilmuan dan teknorat yang berjiwa santri.

Kedua, perlu adanya metode pembelajaran baru yang diselenggakan di pesantren. Kesan suasana pesantren yang tradisional dan klasik seakan menjadi penghambat minat para anak-anak untuk mau belajar di pesantren. Modifikasi cara belajar perlu dilakukan tanpa harus menghilangkan substansi keilmuan yang akan disampaikan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih seharusnya dimanfaatkan untuk sarana transfer of knowladge para santri saat ini. Sehingga istilah Gaptek (gagap teknologi) tidak dialami lagi oleh para santri. Perlu diingat, bahwa sebagian besar generasi muda saat ini ketika bertanya perihal agama cenderung lebih memilih bertanya melalui internet daripada langsung bertanya kepada ustad atau kyai. Disinilah peran santri sangat diperlukan untuk selalu membagi ilmunya melalui udara.

Ketiga, perlu adanya penyeimbangan antara ditetapkannya hari santri nasional dengan perhatian pemerintah terhadap pesantren. Artinya supaya pemerintah tidak terkesan hanya menetapkan hari tersebut tanpa adanya visi masa depan. Tetapi benar-benar pemerintah bisa membantu menjadikan pesantren sebagai produsen yang menciptakan insan-insan masa depan bermutu yang bisa diandalkan untuk kemajuan bangsa ini. Saat ini perhatian pemerintah lebih besar tertuju kepada lembaga pendidikan formal saja. Mulai dari sarana dan prasarana pesantren hingga kesejahteraan pendidik haruslah ditingkatkan. Sehingga paradigma masyarakat terhadap pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata dan percaya untuk menitipkan putra-putrinya untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan milik para kyai tersebut. Bukankah beberapa Founding Father bangsa ini juga berasal dari kalangan pesantren yaitu Wahid Hasyim, A Kahar Mudzakir, Agus Salim, dan lain-lain.

Beberapa upaya di atas bisa terwujud dengan adanya kerjasama berbagai pihak. Gerakan “Ayo Mondok” yang dicetuskan oleh Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), lembaga yang merupakan asosiasi pesantren seluruh Indonesia adalah upaya nyata untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yang adil dan beradab untuk seluruh rakyatnya. Semoga.

Ferial Farkhan Ibnu Akhmad, Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

?

Foto ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur ketika melaksanakan Upacara HUT Kemerdekaan Ke-69 RI, 17 Agustus 2014 lalu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

MA IPNU NTB Harapkan Ahwa Berlaku untuk Rais Aam dan Ketua Umum

Lombok, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kegiatan Pra-Muktama NU di NTB telah tuntas membahas konsep Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan saat ini konsep sedang dirumuskan oleh Tim Materi Komisi Organisasi. Majis Alumni IPNU se-NTB berharap penerapan model pemilihan tak langsung ini tidak hanya berlaku untuk Rais Aam tetapi juga Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada muktmar 1-5 Agustus di Jombang mendatang.

“Kita harus dukung itu, Ahwa kita harapkan tidak hanya berlaku untuk Rais Aam saja tapi berlaku untuk tanfidziyah,” harap H. Zamroni Aziz, sekretaris MA IPNU NTB di Lombok, Ahad malam lalu (12/4).

MA IPNU NTB Harapkan Ahwa Berlaku untuk Rais Aam dan Ketua Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
MA IPNU NTB Harapkan Ahwa Berlaku untuk Rais Aam dan Ketua Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

MA IPNU NTB Harapkan Ahwa Berlaku untuk Rais Aam dan Ketua Umum

Menurutnya, Pemilihan langsung tidak tepat jika diterapkan bagi pimpinan NU sebagai organisasi ulama. “Kalau Pemilihan langsung kan pasti ada yahanu yahanunya, oleh karena itu Ahwa harus kita dukung,” terangnya Kabag HUMSA Kemenag Propinsi NTB ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tidak tepat seorang pemimpin para ulama di adu dengan pemilihan langsung, apa lagi Rais Aam, karena itukan tempat para ulama lainnya meminta fatwa,” urai mantan ketua IPNU NTB ini

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait kriteria Rais Aam dan Ketua Umum PBNU mendatang, Zamroni berharap agar Rais Aam ke depan yang tidak berpolitik. Karena kalau berpoltik di khawatirkan organisasi akan menjadi korban. “Intinya Ra’is Am nanti jangan yang berpolitik, karena kalau masuk ke sana (politik), organisasi akan jadi korban,” khawatirnya.

“Saat ini kader-kader NU ada di mana-mana tapi tidak kemana-mana, contohnya saja kan kader NU ada yang di PKB, PPP, Golkar, gerindara, Hanura dan  di partai politik lainnya pun ada kader NU,” katanya.

“Oleh karena itu kalau Rais Am dan Ketua Umum Tanfidziah nanti yang berpoltik maka akan sulit memposiskan dirinya sebagai pemimpin ulama,” terangnya.

Lebih janjut NU juga saat ini sudah berkembang hingga negara-negara luar, oleh karena itu penting di berlakukan Ahwa untuk tanfidziah juga agar menghindari kampanye negatif kepada Kiai satu dengan Kiai yang lainnya.

“Sangat tidak elok tim sukses calon satu sama lain nanti saling menebar fitnah,” tutupnya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah