Minggu, 24 September 2017

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 September 2017

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh telah berwasiat kepada beberapa kiai Kajen agar dimakamkan di kompleks pemakaman Syeikh KH Ahmad Mutamakkin. Ia mengkaveling tanah makam di sana tiga tahun silam karena berharap bisa dekat dengan leluhurnya.

KH Muadz Thohir yang masih kerabat dekat Mbah Sahal menceritakan hal tersebut kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dan beberapa tamu usai tahlilan mitung dino atau peringatan tujuh hari wafatnya Rais Aam PBNU tiga periode tersebut di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen-Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (28/1) malam.

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)
Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Menurut Pengasuh Pesantren Putri Roudloh At-Thahiriyyah Kajen ini, mula-mula dirinya diajak Pengasuh Pesantren Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kajen KH Junaidi Muhammadun untuk menghadap KH A Nafi’ Abdillah. Mereka berdua ingin mengklarifikasi kebenaran informasi ihwal wasiat Mbah Sahal kepada sepupu Ketua Umum MUI Pusat tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya masih ingat betul, awalnya Pak Jun ngajak saya untuk datang ke Kak Fe’ (Gus Nafi’). Saya tanya, ‘Ada apa?’ Jawab Pak Jun, ‘Sudahlah, nanti juga tau sendiri.’ ‘Jangan begitu, sebenarnya ada apa kok tumben ngajak ke sana?’ Saya masih penasaran,” terang Kiai Muadz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai tiga kali bertanya, lanjut Kiai Muadz, Kiai Junaidi tetap tidak mau bercerita. Lalu, sesampainya di kediaman Gus Nafi’, mereka berdua dikasih cerita oleh Gus Nafi’ tentang wasiat Mbah Sahal tersebut. Gus Nafi’ yang putra Almaghfurlah KH Abdullah Salam (Mbah Dulah) adalah orang yang diberi wasiat tentang makam oleh Mbah Sahal. Sontak, ketiganya tergugu menahan tangis lantaran belum siap ditinggal Mbah Sahal.

“Meski Kiai Sahal jarang mengajar di madrasah (Matholi’ul Falah-red), tapi ruhnya sangat terasa. Jadi, ketika beliau sudah bilang seperti itu rasanya tak lama lagi benar-benar akan meninggalkan kami semua,” ujar Kiai Muadz berkaca-kaca.

Ditanya seputar percepatan acara mitung dino Mbah Sahal, Musytasyar PCNU Pati itu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan wasiat kakeknya, KH Nawawi. Mbah Nawawi khawatir jika tradisi masa lalu itu dipahami layaknya syariat Islam. Oleh karenanya, beliau berpesan agar tidak terjadi hal demikian maka perlu dibuat beda.

“Mbah saya dari bapak mewasiatkan hal itu. Jadi, biar tidak sama persis dengan tradisi Hindu-Budha. Kita bikin netral dan luwes aja waktunya. Tidak harus tepat pada hari ketujuh to,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 September 2017

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Musyarrofah berhasil menyabet juara II pada ajang lomba Game Matematika Bela Negara, Rabu (2/8). Kompetisi ini diadakan oleh Kodim 0826 Pamekasan di Desa Bukek Tlanakan.

Lembaga di bawah naungan LP Maarif NU ini berhasil menyisihkan beberapa sekolah negeri dan swasta yang ada di Kabupaten Pamekasan. Dalam penyerahan hadiah, Musyarrofah diapit oleh Pangdam V Brawijaya dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii.

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Wakil Kepala SMA Maarif 1 Pamekasan Ainul Gurrih merasa bangga atas prestasi yang diraih Musyarrofah. Pihaknya mendoakan semoga prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi yang lain untuk semakin rajin belajar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dan semoga menjadi awal untuk bisa berpartisipasi di ajang perlombaan yang lain, baik lokal, regional, nasional, dan internasional. Dengan begitu, bisa membawa nama baik lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan LP Maarif NU Pamekasan," tukasnya.

Sementara itu, Musyarrofah menyatakan, dirinya merasa bangga dan bersyukur atas prestasi yang diperolehnya. Ia berjanji akan terus belajar guna meraih cita-cita yang diinginkannya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 20 September 2017

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alunan shalawat Nabi mengiringi peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan PBNU, Rabu (16/3) di lantai 8 Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Puluhan Habib Se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) turut hadir meramaikan kegiatan tersebut.?

Setelah pembacaan shalawat burdah, acara disusul dengan sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan perwakilan Habaib se-Jabodetabek Habib Husein bin Hamid Al-Attas.

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Kiai Said mengatakan bahwa banyak orang yang salah paham terhadap konsep Islam Nusantara. “Banyak yang salah paham, tapi mereka tidak mau bertabayun (minta penjelasan atau konfirmasi, red) ke PBNU,” jelas Kang Said.

Kang Said menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Islam dengan budaya, Islam yang bersatu dengan nasionalis, dan Islam yang bersatu dengan kebangsaan. Ia menerangkan bahwa Wali Songo-lah yang menjadi panutan dalam mengembangkan Islam Nusantara yang melebur dengan budaya, toleran, dan ramah.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun puncak konsep Islam Nusantara, imbuh Kang Said, adalah dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari dengan konsep penggabungan Islam dan kebangsaan. ? ?

“Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais,” terangnya.

Demikian, Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. “Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Setuju dengan Islam Nusantara silakan, tak setuju tidak apa-apa,” pungkasnya.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqofah tersebut mengaku kalau istilah dan konsep Islam Nusantara adalah gagasan PBNU. Ia membeberkan bahwa konsep ini dibahas di rapat gabungan Tanfidziyah dan Syuriyah PBNU sebelum akhirnya menjadi tema Muktamar Ke-33 NU di Jombang 2015 lalu.

Sejauh ini, banyak pihak yang tertarik dan ingin mengetahui lebih dalam tentang konsep Islam Nusantara, diantaranya adalah Laurent Booth (adik ipar Tony Blair), Dubes Perancis, Dubes Austria, Dubes Australia, Dubes Inggris, Mufti Ankara, dan Rektor Dar Al-Quran Sudan. ?

Acara tersebut dihadiri juga oleh Habib Abdurrahman Al-Attas, Habib Mahdi, Habib Muhsin Al-Habsyi, Sayyid Abu Bakar Al-Hamid, Habib Zein bin ? Hamid Al-Attas. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendaftaran mahasiswa baru (PMB) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) tahun ke-3 ini, menerapkan sistem PMB secara online. Strategi itu untuk menjangkau mahasiswa yang berada di luar Sidoarjo. Bagi calon mahasiswa dapat mengunjungi laman pmb.unusida.ac.id dan langsung melakukan registrasi.

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Kabag Promosi dan Humas (Promas) Unusida Achmad Wahyudi menjelaskan, waktu pendaftaran terbagi menjadi empat gelombang dengan batas penerimaan mahasiswa sampai tanggal 9 September 2016. Diantaranya jalur prestasi 4 Januari- 29 Februari, reguler I 1 Maret-29 April, reguler II 2 Mei-1 Juli, dan reguler III 4 Juli-9 September. Selama penerimaan tersebut juga diberikan potongan uang gedung sebesar 30 persen.

“Calon mahasiswa mulai sekarang seharusnya sudah aktif mencari informasi jurusan di perguruan tinggi. Sekaligus mereka harus tahu potensi dalam diri mereka masing-masing, agar tidak salah jurusan nantinya,” kata Achmad Wahyudi, Senin (11/1).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Wahyudi, di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya, jurusan yang ada di Unusida sangat prospect untuk membantu mencari kesempatan berkarir. Selain itu, empat fakultas yang terdiri dari 10 program studi yang ada bisa bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Wahyudi menambahkan, panjangnya masa pendaftaran diharapakan bisa dimanfaatkan calon mahasiswa untuk mencari informasi jurusan di Unusida. "Yang terpenting adalah prospect jurusan. Karena itu menentukan masa depan dan kualitas lulusan," tutup Wahyudi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Ubudiyah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 19 September 2017

Syahdunya Maulid Nabi di Turki

"Ya Nabi salam alaika

Ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika

Shalawatullah alaika"

Syahdunya Maulid Nabi di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Syahdunya Maulid Nabi di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

Syahdunya Maulid Nabi di Turki

Bunyi rebana menggaung disetiap sudut ruang. Mulut yang mengalunkan sholawat berpacu dengan hati yang khusyuk. Mereka yang hadir merapal puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ahad (26/1) menjadi hari istimewa bagi warga Nahdliyin di Turki. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melangsungkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang dilaksanakan di dalam gedung PASIAD, Istanbul, ini dihadiri Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul Abdullah Hariadi Kusumaningprang, perwakilan PASIAD Mucahit Bey, serta perwakilan organisasi kemitraan di Istanbul.

Dalam sambutannya, Abdullah Hariadi menyatakan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa Indonesia di Istanbul selama itu bernilai positif. Ke depan ia berjanji akan mengadakan perayaan-perayaan Islam lain. “Tolong diingatkan kalau saya lupa,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Datang pula memenuhi undangan “saudara jauh” dari PCINU Mesir. Dalam kesempatan ini, Ustadz Farid dari PCINU Mesir bersama Ustad Ulin Nuha dari PCINU Turki berkolaborasi membacakan barzanji. Kesyahduan bertambah ketika Ustadz Ulin membacakan arti lafal-lafal barzanji secara menggebu dari bait ke bait.

“Mereka yang anti dengan barzanji ini berarti belum memahami isi dari barzanji,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Ustad Ahmad Ginanjar Sya’ban, pengurus Syuriah PCINU Mesir, berkenan membagikan ilmunya tentang maulid. Menurut dia, momen maulid Nabi ini sungguh tepat dilaksanakan di bumi Turki, mengingat barzanji juga berasal dari Kurdi, salah satu etnis penyusun bangsa Turki.

Saat itu barzanji dibacakan untuk membakar semangat tentara Islam menghadapi pasukan salib. Barzanji yang berisikan sirah nabawi dan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW terbukti ampuh mengobarkan semangat jihad di dada tentara muslim. Setahun setelah pembacaan barzanji, tentara yang dipimpin oleh Salahuddin Al Ayyubi tersebut memenangi pertempuran.

Ustad Ginanjar juga menggambarkan keadaan di awal perkembangan Islam. Waktu itu bangsa arab dikenal sebagai bangsa tanpa peradaban. Bangsa yang jahil, amoral dan dipandang sebelah mata dibanding dengan dua kekuatan besar yang berkuasa, Romawi dan Persia. Kedatangan Nabi Muhammad benar-benar membalikkan keadaan. Hingga akhirnya dua negeri adi daya tersebut jatuh dalam kekuasaan islam.

Dia lalu mengibaratkan dengan keadaan sekarang. “Maaf, bukannya rasis. Misal saja di Papua terlahir seorang pembaharu.” Sontak hadirin tertawa. Pasalnya di sampingnya duduk wakil syuriah PCINU Turki yang lahir di Papua. “Kemudian Papua menjadi kuat hingga melahap kawasan-kawasan di sekitarnya. Australia, Filipina, hingga China menjadi propinsi di bawah Papua. Bahkan kemudian bahasa-bahasa mereka digantikan dengan bahasa Papua. Demikian lah keadaan Arab pada waktu itu.”

Acara maulid Nabi ini juga disiarkan melalui radio online PCINU Turki di www.pcinuturki.com/radio. (Ridho Ash-Shiddiqy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah