Jumat, 28 Juli 2017

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sakai Nobukazu (57) dan Suzuki Masayuki (59) resmi memeluk agama Islam usai mengucapkan dua kalimat Syahadat di hadapan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan ratusan santri Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta, Sabtu (10/6) malam.

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Meski terbata-bata, namun keduanya nampak begitu khusuk dan menghayati saat membaca dua kalimat tersebut.

Kiai Said mengaku tidak mengajak mereka berdua untuk memeluk Islam, tetapi mereka masuk Islam atas kehendak sendiri. “Padahal saya nggak ngajak masuk Islam, tapi masuk Islam sendiri,” tuturnya.

Sejauh ini, ia menuturkan sudah ada enam belas warga Jepang yang menyatakan diri menjadi pengikut agama yang dibawa Nabi Muhammad itu. “Sudah empat belas, tambah dua orang (Sakai dan Suzuki) berarti enam belas,” ucapnya.

“(Setelah masuk Islam) Saya beri nama Ali Sakai Nobukazu dan Umar Suzuki Masayuki,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Lebih lanjut, Kiai asal Kempek Cirebon itu menjelaskan, Islam dan kemanusiaan itu sangat sesuai dan cocok. Karena cita-cita Islam adalah membangun keharmonisan dan kedamaian umat manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Antara Islam dan manusia sudah sangat cocok sekali,” ungkapnya.

Adapun kelompok teroris dan radikal yang mengatasnamakan Islam sebagai tameng, Kiai Said menilai bahwa mereka itu bukan Islam karena apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

“ISIS bertentangan dengan Islam itu sendiri, bertentangan dengan ajaran orisinil Nabi Muhammad yang mengajarkan kedamaian,” urainya.

Sementara itu, Ali Sakai bercerita bahwa orang tuanya adalah seorang bukio atau ulama Buddha. Namun kemudian, ia memeluk agama Islam karena Islam itu agama yang membawa kedamaian. Oleh karena itu, ia mengaku bahagia bisa menjadi bagian dari umat Islam.

“Saya banyak teman dari Malaysia dan Indonesia. Hanya Islam yang membawa kedamaian. Saya hari ini sangat bahagia karena sudah masuk Islam,” ungkapnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 Juli 2017

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mayoritas negara-negara Muslim di seluruh dunia menetapkan hari Rabu (10/7) sebagai hari awal bulan Ramadhan 1434 H dan hari dimulainya ibadah puasa. Beberapa lainnya menetapkan hari Selasa (9/7) sebagai awal mula Ramadhan.

Demikian dilansir kantor berita Kuwait KUNA (9/7). Dewan Kerajaan Saudi Arabia mengumumkan secara resmi jika hari Selasa ini merupakan hari terakhir yang menyempurnakan bulan Syaban, dan Rabu merupakan awal bulan Ramadhan.

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh Dewan Fatwa Mesir setelah melakukan proses rukyah di beberapa titik di negara itu, namun tidak dilihatnya tanda-tanda kemunculan hilal atau anak bulan sabit sebagai pertanda awal bulan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dewan Wakaf Sunni dan Dewan Fikih Irak di Baghdad juga mengumumkan kebijakan serupa. Irak akan memulai puasa pada Rabu esok.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa negara Arab lainnya seperti Kuwait, Yaman, Qatar, Emirat, Oman, Palestina, Lebanon, Jordan, Aljazair, Tunis, Maroko dan Sudan juga memaklumkan pengumuman serupa. Negara-negara Muslim di luar Arab lainnya, seperti Pakistan, Malaysia, Brunei dan Indonesia juga menetapkan keputusan yang sama.

Berbeda dengan mayoritas negara-negara Muslim di atas, ada juga beberapa institusi dan dewan fatwa Islam di beberapa negara Eropa, Russia, Kazakstan dan China yang mengumumkan awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa ini.

Penulis: Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sejarah, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Membludaknya jamaah shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin RW 07 Dusun Losari Desa Samudra Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah Ahad (25/6) pagi membuat warga memanfaatkan halaman masjid, bahkan ada yang sampai ke pekarangan warga.?

Ketua RW 07 Yuswo Hadi Yuwono memaparkan tahun ini shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin merupakan pelaksanaan tahun ketiga, di mana tahun-tahun sebelumnya warga melaksanakan shalat Idul Fitri di halaman SD 01 Samudra yang areanya lebih luas. Namun karena di sekolah tersebut sudah dibangun gedung baru, area halaman menjadi lebih sempit. Mushala Al Mujahidin sendiri hanya mampu menampung maksimal 100 jamaah.

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

“Alhamdulillah penyelenggaraan shalat idul Fitri merupakan salah satu agenda utama setiap tahunnya,” kata Yuswo seraya menambahkan tak kurang dari lima ratus warga turut mengikuti shalat Idul Fitri.

Selain sempitnya area shalat, dalam persiapan shalat Idul Fitri, panitia juga menghadapi satu persoalan, yakni karena akhir Ramadhan ini masih sering turun hujan, halaman dan pekarangan sekitar mushala menjadi basah dan becek. Bahkan pada sore dan malam hari sebelumnya, hujan turun cukup deras selama beberapa jam. Untuk mengantisipasinya, warga menaburkan arang di atas area halaman dan pekarangan sebelum dipasang alas dan sajadah?

Tokoh agama setempat, Ahmad Rido mengungkapkan dari tahun ke tahun selalu terjadi peningkatan kesadaran warga untuk mengikuti berbagai ibadah termasuk shalat Idul Fitri. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya warga yang ikut serta shalat Idul Fitri. Ia pun mengapresiasi hal tersebut. Menurutnya ada hal sangat penting untuk mengatasi masih lemahnya masyarakat dari menjalankan ritual agama Islam, yakni membuang rasa malas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemalasan ini faktor utama yang harus dihadapi setiap individu. Kalau mampu membuang kemalasan, tentu bisa giat dan selalu aktif melaksanakan ibadah,” kata pria asal Kabupaten Batang yang mengajar Pendidikan Agama Islam.

Ia mengaku rasa kasih sayang, empati dan perhatian menjadi kunci dalam menggerakkan masyarakat agar giat beribadah.

“Perhatian tanpa diminta oleh mereka harus kita berikan,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain peningkatan kesadara dalam beribadah, menurutnya masyarakat juga semakin kompak dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti dalam persiapan shalat Idul Fitri ini mereka juga bahu membahu membersihkan halaman dan pekarangan sekitar mushala.

Salah satu jamaah, Sarwono, mengatakan dirinya selalu bersemangat dalam melaksanakan shalat Idul Fitri.

“Idul Fitri ini kan momen berharga. Saya sangat senang kalau bisa berkumpul dengan seluruh keluarga dan bisa shalat, bertemu dan bersilaturahim dengan semua warga di sini,” katanya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 26 Juli 2017

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. PWNU Kalimantan Barat berpandangan, organisasi besar seperti NU, harus dikelola secara sistematis. Untuk tujuan itu, digelar Workshop Knowledge Managament (WKM) di Gedung Upelkes Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara, pada Kamis-Jumat (9-10/5).

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Ketua Panitia WKM, Abdul Mukti Rouf mengatakan, NU Kalbar ingin mengajak seluruh pengurus untuk memahami bagaimana cara mengelola organisasi. Jangan hanya tahu organisasi, tapi tidak paham cara mengelolanya. “Dengan adanya WKM ini diharapkan para pengurus paham dan tahu manajemen organisasi. Mereka menjalankan organisasi secara sistematis, terprogram, dan tepat sasaran,” tambahnya.

Menurut Mukti, dengan WKM, pengurus NU diajak mengelola berbagai pengetahuan empirik menjadi informasi yang menginspirasi bagi? pengurus lain. Misalnya, Cabang NU “A” atau orang NU “A” berprestasi di bidang tertentu, “Tidak ada salahnya NU yang lain belajar atau berguru dengan NU yang berprestasi tersebut,” jelas Mukti yang juga Dosen STAIN Pontianak ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tujuan digelarnya WKM ini juga agar seluruh pengurus NU di Kalbar fokus pada prestasi yang dapat membanggakan baik bagi jamiyyah dan jamaah. Kita ingin menjawab apakah organisasi yang besar dapat dibarengi dengan prestasi besar pula, “Jangan terbalik, organisasi besar tapi prestasi kecil, bahkan tak ada sama sekali. Hal ini tentu tidak kita inginkan,” papar dosen pengampu mata kuliah Pemikiran Islam ini.

Lebih jauh, dikatakan Mukti, lewat WKM ini seluruh peserta dapat merumuskan berbagai program berbasis pada kebutuhan, keunikan, dan local wisdom yang bersifat bottom up (dari bawah). Setelah dirumuskan tentunya segera diimplementasikan, “Kita tidak menginginkan habis WKM, seolah tak terjadi apa-apa. Maksudnya, apa yang dihasilkan dari WKM justru tidak memberikan perubahan bagi perkembangan organisasi NU itu sendiri,” harapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

WKM ini akan dibuka Ketua PWNU, M Zeet Hamdy Assovie MTM. Ia yang juga Sekda Kalbar mengapresiasi WKM. Dengan program tersebut, semakin membesarkan dan menancapkan eksistensi NU di Bumi Khatulistiwa.

Menurut Zeet, NU besar, karena para pengurusnya berpikiran besar. Mereka bekerja sepenuhnya untuk umat, tanpa digaji, semua lilahi ta’ala. Sikap itulah yang membuat NU besar, “Saya berharap, setelah WKM, para pengurus semakin berkiprah membesarkan NU untuk masyarakat Kalbar,” katanya.

Peserta pelatihan WKM terdiri dari PWNU, Pengurus Cabang, dan Banom. Para peserta diajarkan dan disegarkan tentang pengetahuan keorganisasian NU.

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? ? : Rosadi Jamani

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 Juli 2017

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur membentuk Tim Reaksi Cepat "Benteng NU". Tim ini akan menemui pelaku penghinaan terhadap ulama atau kiai NU yang marak muncul di media sosial atau Medsos.

Ketua GP Ansor Jatim Rudi Tri Wachid menjelaskan, komposisi Tim Reaksi Cepat "Benteng NU" terdiri atas aktivis Ansor dan Barisan Serba Guna (Banser) yang memang memiliki keahlian di bidangnya. "Pertama, ada tim yang ahli di bidang IT atau cyber," kata Ketua PW GP Ansor Jatim tersebut, Selasa (28/11).

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos

Dalam praktiknya, tim ini melakukan pelacakan terhadap pemilik akun medsos yang mengunggah pesan dengan konten hinaan kepada kiai. "Dipelajari dulu konten yang diunggah, dilacak pemilik akunnya, siapa dan di mana alamat yang bersangkutan," ujarnya.

Usai pemilik akun terlacak, tim yang bergerak adalah ahli negosiasi. Tim ini akan mendatangi alamat dan menemui pemilik akun dengan melakukan klarifikasi pesan yang diunggah berikut tujuannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Setelah klarifikasi atau tabayun, kalau terbukti menghina, maka tim akan menyarankan untuk meminta maaf kepada kiai yang dihina. Kalau perlu diajak untuk sowan ke kiai yang bersangkutan," tegas Rudi.

Jika tabayun dan negosiasi gagal, maka Ansor akan menggandeng Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU untuk melaporkan pemilik akun ke aparat berwenang. "Karena tradisi di NU adalah memaafkan, sedangkan langkah hukum adalah opsi terakhir," jelasnya.

Rudi menjelaskan bahwa tim tersebut dibentuk untuk melestarikan budaya sopan anak muda kepada orang tua. "Makanya, nanti tim bergerak melakukan langkah untuk mengajari bagaimana akhlak anak muda kepada orang tua," ujarnya.

Melihat massifnya gerakan kebencian saat ini, memang tengah ada rekayasa pihak luar yang ingin Indonesia bertengkar dan hancur lebur. Dimulai dari politisasi ayat, hadits dipotong seenaknya untuk mengobarkan permusuhan, sampai pelecehan kepada para kiai sepuh. "Semua ini harus dihentikan," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Kyai, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Pondok Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah merupakan salah satu pesantren termasyhur dengan dakwah melalui seni rebana oleh para ulama dan kiainya. Perkembangan pesantren yang berdiri tahun 1994 ini cukup pesat, yaitu dengan berdirinya Madin (Madrasaha Diniyah) pada tahun 1999, serta lembaga pendidikan lain di berbagai jenjang dalam rentang pembangunan antara tahun 2006 hingga 2008.

Namun dibalik perkembangan pendidikan yang pesat serta di tunjang dengan fasilitas yang belajar yang lengkap tersebut, pesantren Walisongo ternyata memiliki ciri khas kesenian rebana yang mana dari awal berdirinya pesantren sampai saat ini. Grup rebana tersebut selalu memiliki jadwal dakwah yang padat, artinya seni rebana pesantren Walisongo selalu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi dengan senantiasa berpegang pada ajaran agama, sehingga masyarakat selalu merindukan kehadiran nasihat bijak melalui syair shalawat yang dibawakan rebana walisongo.

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Secara individu KH Ma’ruf Islamuddin yang merupakan pengasuh pesantren sekaligus penggagas seni rebana Walisongo, memang senang dengan seni, terutama seni tarik suara. Kiai Ma’ruf memiliki moto ‘Dengan ilmu hidup lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup jadi terarah’, dan moto tersebut juga tertuliskan di studio rekaman Al Muntaha Record milik pesantren Walisongo.

Merujuk dari ciri khas para ulama yang menggunakan seni sebagai media dakwah, Kiai Ma’ruf Islamuddin pun juga menggunakan pedekatan seni. Seni dalam berdakwah merupakan sarana menyebarkan agama Islam yang telah dijelaskan di atas merupakan warisan dari para wali yang telah terbukti telah mengislamkan hampir semua wilayah di Jawa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Latar belakang dakwah dengan seni rebana

Sementara hal yang melatar belakangi dipilihnya rebana sebagai sarana dalam berdakwah, karena jamaah yang dihadapi sangat heterogen dilihat dari segi keimanan, maka Kiai Ma’ruf menggagas bagaimana caranya dakwah itu disampaikan melalui seni dan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Sehingga munculah ide itu berupa dakwah dengan kesenian musik rebana.

Seiring kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan dakwah di masyarakat, maka pesantren Walisongo melakukan upaya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi kesenian rebana ini dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu menjaring minat dan bakat santri serta siswa melalui kegiatan ektrakurikuler rabana, reorganisasi pemain rebana, mendirikan studio rekaman agar musik rebana bisa dinikmati orang setiap saat dengan kasetnya, dan mendirikan studio radio Walisongo Sragen agar masyarakat bisa mendengarkan ceramah Kiai Ma’ruf dan rebana tanpa melihat langsung.

Ternyata upaya mempertahankan eksistensi rebana tersebut secara tidak langsung juga bepengaruh terhadap meningkatnya jumlah santri. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap dakwahnya, baik secara langsung maupun dalam kaset VCD yang diperjual belikan, keberadaan pesantren Walisongo turut serta dipromosikan. Dalam setiap penerimaan santri baru, banyak yang mengaku mengetahui pesantren Walisongo dari kaset maupun dari nada dan dakwah yang ditampilkan rebana Walisongo.

Tidak hanya grup seni rebana yang beranggotakan santri dewasa yang disibukan dengan padatnya jadwal, namun grup seni rebana Madrasah Integral Walisongo pun tahun ini meraih juara tingkat kabupaten dan prestasi itu diraih selama empat kali berturut-turut. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Halaqoh, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Bahtsul masail atau pengkajian masalah-masalah Islam terus digiatkan PWNU Lampung. Hal ini dilakukan untuk mendinamisir pemikiran ulama dan intelektualisme warga NU. Demikian diungkapkan Ketua PWNU Lampung, KH.Khairudin Tahmid kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis (21/7) menanggapi peran ulama dan pesantren di tengah-tengah perkembangan zaman.

"Bahtsul masail baik yang dilakukan di pesantren maupun di lingkungan NU sangat penting dilakukan, untuk mendinamisir pemikiran ulama, karena dari situlah intelektualisme atau keulamaan NU berkembang," ungkapnya.

Dijelaskan Khairudin, antara NU dan tradisi pesantren dipertemukan dalam aktivitas Bahsul masail. Makanya, lanjut lulusan pesantren di Jombang ini, tidak aneh kalau dalam momentum perhelatan muktamar yang menjadi fokus perhatian adalah keputusan bahtsul masail NU. "Hingga kini tradisi itu tetap dipertahankan dalam setiap acara ke-NU-an, mulai dari lavel tertinggi yakni muktamar sampai istighasah di ranting-ranting NU, bahtsul masail selalu mendapat tempat," paparnya.

karena itulah, PWNU Lampung pasca muktamar ke-31 di Boyolali, terus menerus menggiatkan forum bahtsul masail sampai ke tingkat ranting NU. "Sekarang ini setiap minggu anak cabang dan ranting  menyelengarakan acara tersebut, yang kemudian diangkat ke bahtsul masail level wilayah yang diselenggarakaan tiga bulan sekali. Ini berarti ranting, anak cabang dan cabang juga menyelenggarakan hal serupa. Belum lagi kalangan pesantren sendiri secara rutin juga menyelenggarakan kegiatan ilmiah tersebut," kata lulusan IAIN Raden Intan Lampung ini.

Mengenai tema, dia mengatakan PWNU tidak menentukan tema, karena mencoba mengangkat persoalan yang terjadi di masyarakat paling bawah, yaitu ranting, sehingga yang diangkat adalah aspirasi mereka. "Walaupun kebanyakan dirumuskan oleh ulama dan pengurus tingkat desa, tetapi persoalan yang diangkat juga tidak kalah mendasar. Misalnya soal hukum mendapatkan hadiah Kuis SMS, perawatan jenazah dengan penguburan massal, soal tradisi kirim doa, termasuk isu kontemporer tentang munculnya kegiatan sembahyang jumat dengan imam wanita," paparnya menyudahi pembicaraan.(cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Hikmah, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama