Jumat, 03 Maret 2017

Diminta Teken Surat Pernyataan, HTI Pilih Bubarkan Diri

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muktamar Tokoh Umat 1437 H yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jember di New Sari Utama, Jember, Ahad (1/5)  bubar sebelum waktunya. Pasalnya, hal tersebut mendapat penolakan keras dari Ansor Jember.

Penolakan tersebut ditandai dengan diturunkannya sekitar  300 anggota Banser  untuk “memantau” acara tersebut.  Selain  mengusung spanduk bertuliskan “Jangan Usik Pancasila & NKRI oleh Khilafah” mereka juga menggelar orasi yang meminta agar acara tersebut dibubarkan.

Diminta Teken Surat Pernyataan, HTI Pilih Bubarkan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Diminta Teken Surat Pernyataan, HTI Pilih Bubarkan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Diminta Teken Surat Pernyataan, HTI Pilih Bubarkan Diri

“Bubarkan acara ini. Bubarkan HTI. Siapa pun yang coba-coba merongrong NKRI dan Pancasila, maka harus berhadapan dengan Banser,” teriak Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jember Ayub Junaidi

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun HTI tak keder. Acara yang dihadiri puluhan peserta itu masih dilanjutkan. Polisi pun membentuk barikade pagar betis untuk menghalau anggota Banser yang berusaha merangsek. Sempat terjadi saling dorong antara anggota Banser dan polisi. Ketegangan agak mereda setelah perwakilan Banser yang terdiri dari Ayub Junaidi, Lutfi Alif dan Saiful Bahri diberi akses untuk menemui panitia muktamar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepada mereka, Ayub menyodorkan surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh pimpinan HTI. Isi pernyataan tersebut adalah berupa janji kesetiaan HTI terhadap NKRI dan Pancasila, janji untuk menghentikan segala bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan ideologi Pancasila dan janji tidak akan menyebarluaskan paham khilafah.

“Namun mereka menolak tanda tangan. Dan memilih untuk membubarkan diri. Kalau menolak teken, itu artinya mereka menolak Pancasila dan sebagainya. Kalau begitu, tunggu apalagi untuk dibubarkan,” ujar Lutfi Alif kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Dan sejurus kemudian acara itu pun bubar. Sebagian besar peserta pulang lewat pintu samping sebelah barat gedung. Namun massa Banser sudah kadung “panas” hingga Kapolres Jember turun tangan untuk memimpin pengamanan.

Sementaa itu, Ketua PCNU Jember, Abdullah Syamsul Arifin mengapresiasi langkah yang dilakukan Banser Jember. Melalui WA grup  PCNU Jember, Gus A’ab –sapaan akarabnya—menulis “Selamat utk Ansor dan Banser yg telah bubarkan acara HTI. Bravo Ndan Ayub dkk,” (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejak dahulu kala perkembangan dan kemajuan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar pondok pesantren. Setiap pondok pesantren di Indonesia memiliki figur sentral ulama yang enggan disebut-sebut sebagai ulama, sehingga mereka lebih nyaman apabila dipanggil kiai, ajengan, guru, tuan guru, Abuya dan sebagainya.

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Rabu (16/11). Ia menulis pernyataannya itu dalam akun Facebook pribadinya.?

Menurutnya, ulama sebagai figur sentral di pondok pesantren bukan sekedar bertanggung jawab mentransfer ilmu-ilmu dasar agama, melainkan lebih penting dari itu adalah contoh teladan terbaik di hadapan para santrinya.?

“Ulama di pondok pesantren adalah teladan mereka, karena ulama adalah manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW, baik dari sisi ilmunya maupun akhlaknya,” tulis Gus Ishom.

Dengan demikian, lanjutnya, dari dunia pondok pesantren akan dan telah terlahir generasi yang bermanfaat bagi manusia lainnya, yang bukan saja pandai mengutip ayat atau hadits Nabi, melainkan lebih penting dari itu menjadi "santri" yang mampu untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. sepanjang hayatnya, sehingga ia pun menjadi contoh teladan terbaik bagi masyarakat sekitarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya sebut sebagai pesantren asli Indonesia, karena para kyai pengasuhnya selalu memberikan keteladanan akan arti penting mencintai tanah air Indonesia. Karena bumi Indonesia adalah tempat yang wajib dijaga keamanannya agar agama dapat terjaga dengan cara diajarkan dengan sebenar-benarnya dan dilaksanakan dengan sempurna,” urainya.

Terbukti tidak terhitung jasa para kiai dan para santri yang telah berjihad mengusir penjajah dari bumi kita, selain mengusir sejauh mungkin penyakit kebodohan dari jiwa manusia sebagai salah satu sebab pengganggu keamanan negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya sebut pesantren asli Indonesia, karena sejak dahulu kala hingga kini nama-nama pondok pesantren itu meskipun terkadang ada nama Arabnya, namun lebih sering populer disebut nama daerah tempat lokasinya, seperti pondok pesantren Bangkalan (Madura), pondok pesantren Langitan (Tuban), pondok pesantren Lirboyo (Kediri), pondok pesantren Ploso (Kediri), pondok pesantren Tebu Ireng (Jombang), pondok pesantren Kempek (Cirebon), pondok pesantren Buntet (Cirebon), pondok pesantren Babakan Ciwaringin (Cirebon), pondok pesantren Leler (Banyumas), pondok pesantren Kesugihan (Cilacap) dan masih sangat banyak yang tidak bisa disebutkan lagi,” papar kiai muda asal Lampung ini.

Pendek kata, tambahnya, untuk menjadi pusat tafaqquh fiddin (pendalaman ajaran agama Islam) yang berasal dari dunia Arab maka tidak harus mengimpor apa saja yang berbau budaya Arab, melainkan bahwa dunia pondok pesantren tetap tidak pernah keluar dari berkomitmen untuk menjaga dan menjunjung tinggi budaya lokal.?

Dia menjelaskan, menjadi seorang muslim Indonesia itu tidak mesti harus seperti orang Arab dengan segala budayanya. Sehingga tepat dan benarlah ungkapan kaidah fikih, bahwa tidak patut keluar dari adat kebiasaan orang di sekitar kita sepanjang adat istiadat itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pondok pesantren di Indonesia adalah hasil budaya asli bangsa Indonesia yang biasanya secara turun temurun diwariskan. Maka sebagai "barang warisan", setiap pondok pesantren yang ada mestilah dijaga dari kepunahan, harus terus dikembangkan dan "lebih dicanggihkan" agar tidak tergerus atau terpinggirkan oleh kompleksitas perkembangan zaman.?

“Jika tidak dipelihara, maka pondok pesantren "barang warisan" itu akan habis atau akan menjadi barang antik seperti keris sakti yang kehebatannya hanya bisa menjadi bahan cerita untuk berbangga-bangga dari para pewaris "Gus atau Kang" dunia pondok pesantren,” tutup Gus Ishom. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 28 Februari 2017

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Tiga tahun berturut-turut, sejak 2015 ribuan santri mengikuti turnamen sepak bola pada ajang Liga Santri Nusantara yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bahkan tahun ini, santri yang mengikuti turnamen itu diperkirakan 22 ribu santri dari 1048 pesantren di seluruh Indonesia. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku percaya sepenuhnya kepada para kiai akan bisa mengatur para santri kapan mereka harus mengaji dan sepak bola. Para kiai telah berpengalaman mengatur ribuan santri. Dan titah kiai akan selalu dipatuhi para santri.   

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

“Saya yakin, saya yakin, kiai akan mengatur itu, kiai bisa mengatur itu, kapan waktunya ngaji, shalat, kapan waktunya tahajud, istighotsah, kapan waktunya sepak bola,” katanya selepas menonton Grand Final Liga Santri Nusantara tahun lalu dari awal hingga usai di stdion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta antara kesebelasan Walisongon dan Nur Iman. 

Liga Santri Nusantara, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, tidak lain untuk menggali bakat para santri. Ia meyakini jutaan santri di Indonesia adalah sumber bakat terpendam dalam berbagai hal, termasuk olahraga. Namun sampai saat ini masih sebatas potensi, belum menjadi prestasi.  

“Santri-santri kita ini punya potensi, tapi belum dimenej dan dikembangkan. Sehingga potensi belum menjadi prestasi,” ungkap pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan adanya Liga Santri Nusantara, ia berharap akan bermunculan sepak bola di Timnas Indonesia yang berprestasi dari kalangan pesantren. Hal itu akan mengangkat nama pemainnya, pesantrennya sendiri dan NU. 

Ia menyebutkan, dalam sepak bola memiliki sisi positif yang bisa dikembangkan, yang selama ini menjadi sikap para santri. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di dalam sepak bola ada sifat yang positif, yaitu tidak boleh memiliki sikap egois. Ada kerja sama, dengan memberikan bola kepada temannya, terbangun jaringan yang sangat solid, membangun teamworking yang sehat untuk kemenangan bersama,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Makam, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PCINU Sudan Gelar Konfercab ke-13

Khartoum, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Khartoum, Jum’at (11/4) kemarin waktu setempat mengadakan Konferensi Cabang (Konfercab) Istimewa NU ke-13 di gedung serbaguna KH Agus Salim Kedutaan Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea.

PCINU Sudan Gelar Konfercab ke-13 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Gelar Konfercab ke-13 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Gelar Konfercab ke-13

Konfercab yang diketuai Wildan Habibul Ula pada tahun ini, dilangsungkan di dua waktu dan tempat. Pertama Konfercab yang diadakan Jum’at untuk membahas sidang pleno I, II dan III.

Kedua, dilaksanakan Sabtu (12/4) hari ini untuk ceremonial yang akan dihadiri oleh beberapa tokoh mustasyar dari Sudan, warga NU dan segenap undangan dari berbagai negara kawasan Afrika dan Asia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sengaja, pada tahun ini acara diadakan di dua waktu. Untuk lebih matangnya teman-teman dalam menggodok materi sidang,” kata Wildan di sela-sela kesibukannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hajatan akbar PCINU Sudan, KONFERCAB XIII pada tahun ini bertema  “Aktualisasi Nilai-Nilai Ahlussunnah wal-Jama’ah Demi Mewujudkan Kader Ulama Bertaraf Internasional”. Menurut ketua SC (Steering Committee ) Konfercab ke-13, H. Zainul Alim, tema Konfercab ini merupakan hasil perenungan pada puncak kegelisahan tim SC untuk merangkum spirit perjuangan NU di Sudan pada tahun ini, setelah melalui berbagai perjalanan dan sejarah 12 tahun PCINU berdiri di negeri dua Niil.

Pada pembukaan dan sambutan pengurus yang diwakili oleh H. Auzai Mahfudz Ashirun. Ia mengatakan bahwa U harus memiliki dua sikap yang harus ekuivalen, antara ke dalam dan keluar. Dalam sambutannya, Auzai menekankan bahwa kepengurusan depan, sebelum menjabat menjadi pengurus, yang terpenting adalah kesiapan diri dalam mengemban roda kepemimpinan organisasi dalam satu periode.  Dikatakannya, banyak pengurus yang tidak menyelesaikan masa jabatan satu periode karena berbagai hal alasan.

Agenda acara hari ini hanya akan membahas tata tertib, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja dan Rekomendasi. Acara puncak akan diadakan besok, hari Sabtu (12/4/14) di auditorium Daar Mushaf. (Ibnu Nawawi/Tajul Mafachir/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Budaya, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 26 Februari 2017

PBNU Dukung Penghentian Pengiriman TKW ke Timteng

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendukung langkah pemerintah menghentikan pengiriman TKW ke negara-negara di Timur Tengah. Untuk tenaga kerja laki-laki, hal ini masih dimungkinkan pengiriman ke sana. 

PBNU Dukung Penghentian Pengiriman TKW ke Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penghentian Pengiriman TKW ke Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penghentian Pengiriman TKW ke Timteng

Kiai Said yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai dengan S3 di Arab saudi berpendapat laki-laki lebih tahan banting dan bisa keluar dari rumah majikannya. 

“Kalau perempuan ditahan, ruang hidupnya dibatasi empat tembok. Begitu masuk rumah, sudah ngak bisa keluar sama sekali. Apa pun yang terjadi di dalam rumah ini, tetangga sebelah tidak tahu. Mereka rentan dieksploitasi,” jelasnya di gedung PBNU, Kamis. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tradisi masyarakat di Arab Saudi memang sangat tertutup. Mereka yang bukan muhrim tidak bisa masuk dalam rumah. Tamu hanya diterima di luar pagar karena keluarga di Saudi menganggap aib kalau orang yang bukan muhrim istri dan anak perempuannya kelihatan.

“Dampak jeleknya, apapun yang terjadi di dalam rumah kita tidak tahu. TKW diapakan, kita tidak tahu. Disana ngak ada LSM, ngak ada pengacara yang siap membantu,” tandasnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal ini berbeda jika permasalahan yang timbul terjadi antara sesama orang Arab Saudi sendiri karena masing-masing akan dimediasi oleh sukunya sedangkan bagi orang asing, pihak kedutaan atau bahkan polisi pun akan kesulitan untuk masuk.

Ia menilai, TKW yang pergi ke Taiwan dan Hongkong lebih baik perlakuannya karena mendapat perlindungan yang lebih baik dan hak libur setiap akhir pekan. 

“Yang ke Saudi Arabia dan Timur Tengah pada umumnya lebih sering terjadi kasus penzaliman. Kalau di Taiwan dan Hongkong juga terjadi satu dua kasus, tapi kecil. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 22 Februari 2017

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Garut, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang moment penilaian Piala Adipura yang semakin dekat, Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU), Garut, Jawa Barat melakukan aksi sosial. Aksi dilakukan dengan mengecat trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Kawasan Pengkolan.

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Ketua Banser NU Garut, Yudi Cahyadi mengatakan, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian akan keindahan Kota Garut. Menurutnya untuk meraih Piala Adipura perlu kesadaran masyarakat dalam memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan.

Karena itu, Banser NU ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa Kota merupakan milik bersama yang harus dijaga. "Kita mau menunjukan bahwa Kota ini harus dipelihara terlebih mendekati Adipura," katanya saat dijumpai di Kawasan Pengkolan, Selasa (12/04).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jajaran Banser NU Garut berinisatif untuk melakukan pembenahan Kawasan Pengkolan agar telihat lebih tertata dengan rapi. Apalagi selama ini Kawasan Pengkolan yang menjadi pusat kota. "Kami melakukan bakti sosial di Pengkolan ini mengingat Adipura sebentar lagi akan diselenggarakan jadi kita berinisatif untuk berkontribusi," katanya.

Kawasan pengkolan sendiri menurut Yudi masih terlihat kumuh dan kotor. "Dengan perdikat pusat kota Kawasan Pengkolan seharusnya di tata lebih baik, namun sekarang nampaknya lebih kumuh," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk pendaanaan aksi sosial diambil dari iuran setiap anggota dan beberapa donatur yang secara sukarela menyisihkan sedikit rezekinya untuk berkontribusi membenahi Kota Garut. (M Nur El Badhi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Hadits, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sarung sebagai Identitas Budaya Indonesia Harus Terus Diperkuat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman agama, suku, bahasa, seni bahkan sampai pakaian. Dari segi pakaian, sarung adalah salah satu pakaian yang sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu.?

Sarung sebagai Identitas Budaya Indonesia Harus Terus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung sebagai Identitas Budaya Indonesia Harus Terus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung sebagai Identitas Budaya Indonesia Harus Terus Diperkuat

“Sarung ini sudah beratus-ratus tahun menjadi bagian dari hidup orang Indonesia,” kata Ketua Panitia Seminar Nasioanl Sarung Nusantara H Muiz Ali Murtadho saat ditemui di lantai 4, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (3/4).

Muiz menjelaskan, masyarakat Indonesia sudah memakai sarung sebelum penjajah ? datang ke Indonesia. Menurutnya, dalam kegiatan apapun, masyarakat selalu mengenakan sarung, entah saat menggendong bayi, ketika ronda dan aktivitas keseharian lainnya.

“Sudah lekat sekali sarung dengan masyarakat kita, rata-rata masyarakat kita itu memakai sarung,” katanya.?

Tetapi pada perkembangannya, kata dia, masyarakat Indonesia mulai gagap dan tidak percaya diri untuk memakai sarung, karena menganggap sarung hanya pantas dipakai orang sholeh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas dasar itu, melalui Seminar Nasional Sarung Nusantara yang akan diadakan Lembaga Takmir Masjid-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) pada Kamis (3/4) di lantai 8, Gedung PBNU, Muiz berharap menemukan poin-poin ilmiah sehingga bisa menjadikan sarung sebagai budaya Indonesia.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Oleh karena itu, kita harus gali landasan ilmiahnya sarung sebagai identitas budaya Indonesia,” jelasnya.

“Kita (masyarakat Indonesia) yang harus bertanggung jawab untuk memelihara, menggunakan sarung dalam kehidupan kita sehari-hari,” tambahnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah