Senin, 19 Desember 2016

Pemkab Sinjai Gandeng UIM Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mengadakan Tudang Sipulung dalam rangka Peningkatan Produksi dan Produktivitas menuju Swasembada Pangan, 30-31 Desember, di Ruang Pola Kantor Bupati Sinjai, Kabupaten Sinjai.

Pemkab Sinjai Gandeng UIM Tingkatkan Produktivitas Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Sinjai Gandeng UIM Tingkatkan Produktivitas Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Sinjai Gandeng UIM Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Sinjai H Sabirin Yahya. Peserta bejrumlah sekitar 300 orang yang terdiri dari para camat se-Kabupaten Sinjai, kepala desa se-Kabupaten Sinjai, para penyuluh pertanian Sinjai, dan kelompok tani.

Rektor UIM yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi NU Sulsel Dr Majdah M Zain dalam kuliah umumnya menyampaikan komitmen UIM dalam membangun sektor pertanian. Menurutnya, hal ini sejalan dengan beberapa program studi UIM yang konsen dalam bidang pertanian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majdah bersyukur saat ini kurang lebih 200 alumni S1 dan S1 UIM bidang pertanian telah mengabdikan dirinya terhadap Kabupaten Sinjai untuk memajukan pertanian. Bahkan, katanya, saat ini sejumlah alumni mengabdikan dirinya di Kabupaten Sinjai, di antaranya sebagai Kepala BP4K (Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan) Sinjai.

"Di sisi lain saat ini UIM sedang menjajaki kerja sama dengan 4 kementerian yakni, Kementerian Sosial, Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Pemuda dan Olahraga, serta Pertanian untuk membangun program 5 Bina bagi desa di Sulawesi Selatan, yaitu Bina Akhlak, Bina Ukhuwah, Bina Sinergi, Bina Dana, serta Bina Produk dan Pasar," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menjelaskan, program 5 Bina ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi masyarat desa dalam hal pembangunan moralitas,? persatuan, sinergitas, pembangunan perekonomian, melalui baitul mal, dan pembangunan produktivitas untuk berdaya saing menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Tentunya harapan kami, UIM mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat Sinjai dengan program 5 Bina ini," ungkapnya.

Turut hadir Wakil Bupati Sinjai H Andi Fajar Yanwar, Kapolres, Dandim, Direktur Pascasarjana UIM Dr Nurul Fuadi, Asdir I PPs UIM Dr Suardi Bakri, dan Ketua Prodi Ilmu Pertanian S2 Dr Helda Ibrahim. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Warta, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 10 Desember 2016

PMII Siapkan 300 Paket untuk Korban Gempa Aceh

Banda Aceh, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikut andil dalam membantu korban bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) lalu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang tergabung dalam PMII Peduli memberikan berbagai macam bantuan.

Setelah sebelumnya PMII Kota Banda Aceh menyalurkan bantuan berupa sandang pangan dan beberapa kebutuhan pokok lainnya, kali ini mereka bersama PMII luar Aceh kembali akan menyalurkan bantuan berupa 300 paket perlengkapan sekolah untuk anak-anak korban gempa di Pidie Jaya.

PMII Siapkan 300 Paket untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Siapkan 300 Paket untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Siapkan 300 Paket untuk Korban Gempa Aceh

Koordinator bantuan, Fauzan memaparkan perihal bantuan yang akan disalurkan, Ahad (18/12) besok. "Bantuan ini merupakan amanat sahabat-sahabat PMII luar Aceh, diantaranya dari PK PMII STAIS Pasuruan, Kopri PC PMII Cianjur, PC PMII Kota Jambi, PC PMII Kota Bima NTB, PC PMII Surakarta dan PC PMII Kutai Timur,” jelas Fauzan yang juga Wakil Ketua II PC PMII Banda Aceh.

Ketua PC PMII Banda Aceh, Akmaluddin menambahkan, bantuan tersebut bukan bantuan yang terakhir, karena sampai sejauh ini masih banyak sahabat-sahabat PMII luar daerah yang ingin menyalurkan bantuan melalui PMII Banda Aceh untuk membantu saudara-saudara di Pidie Jaya.

“Bantuan ini merupakan wujud solidaritas kami atas nama PMII Peduli kepada masyarakat Pidie Jaya yang sangat membutuhkan. Besar harapan semoga bantuan yang kami salurkan bisa sedikit meringankan beban para korban gempa,” ujar Akmaluddin. (Fauzi E/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 09 Desember 2016

Pemerintah Wajib Jadikan Petani Produsen Utama Pangan Nasional

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Forum Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2012 mengeluhkan nasib malang mayoritas kaum tani akibat kebijakan impor pemerintah atas kebutuhan pangan dalam negeri. Pemerintah dinilai masih menekankan ketahanan pangan ketimbang kedaulatan pangan yang memakmurkan jutaan petani sendiri.

Pemerintah Wajib Jadikan Petani Produsen Utama Pangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Wajib Jadikan Petani Produsen Utama Pangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Wajib Jadikan Petani Produsen Utama Pangan Nasional

Selain mengkritisi sejumlah pasal dalam Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Pangan, peserta sidang mendesak pemerintah melakukan reorientasi dalam menangani masalah pangan.

“Harus tetap menjadikan dan membina petani sebagai produsen pangan nasional utama, dan tidak mengalihkan tanggung jawab produksi pangan kepada perusahaan,” tutur Sekretaris Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qanuniyah Sarmidi Husna saat membacakan keputusan akhir komisinya di hadapan 600 kiai dari unsur pengurus NU dan ulama-ulama non-struktural, Senin (17/9), di Pondok Pesantren Kempek Cirebon.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa butir RUU Pangan yang dikritik merupakan pasal yang potensial menghalalkan importasi berlebihan dan hanya menguntungkan perusahaan asing.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Terlalu memberi peluang impor yang dapat merugikan kaum tani. Atas dasar tersebut, sebelum RUU ini diundangkan, perlu ada pengawalan yang serius terkait dengan membatasi impor pangan demi terwujudnya kedaulatan pangan, dan perlindungan terhadap petani,” sambungnya.

Di sela sesi dialog, Nusron Wahid menyatakan, pemerintah juga perlu memikirkan kerugian tanaman pangan yang dialami para petani dengan memberikan asuransi. Tuntutan ini dinilai masuk akal karena sudah diatur dalam UU APBN.

“Sehingga kalau petani itu menanam kena banjir, kena kekeringan, kena hama, dan sebagainya, itu kegagalan panennya ditannggung pemerintah,” tandas Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor ini.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Ulama, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 08 Desember 2016

Asad Ali: Radikalisme Lebih Bahaya Ketimbang Terorisme

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Ketua Umum PBNU KH Asad Said Ali menegaskan, gerakan radikalisme atau paham garis keras jauh lebih berbahaya ketimbang terorisme. Jika radikalisme berkurang, katanya, maka dengan sendirinya aksi terorisme melemah.

Hal itu dikatakan As’ad saat memberikan sambutan dalam pembukaan Workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda bertempat di Hotel Acacia, Jakarta, Senin (15/6).

Asad Ali: Radikalisme Lebih Bahaya Ketimbang Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Ali: Radikalisme Lebih Bahaya Ketimbang Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Ali: Radikalisme Lebih Bahaya Ketimbang Terorisme

Atas hal itu, penulis buku “Al-Qaeda” ini sangat mendukung ulama muda NU yang berkhidmah di dunia jurnalistik, untuk terus melangkah dalam membangun jaringan komunikasi umat. Jaringan komunikasi, terangnya, harus terus menerus dikembangkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“jaringan komunikasi harus sambung-menyambung guna mengakomodasi NU dan spirit kebangsaan. Jika NU hancur, maka NKRI juga hancur. Begitu pula sebaliknya, tatkala NKRI hancur, maka NU ikut hancur. Di sinilah penting diketengahkan semangat wathaniyah (kebangsaan),” urainya.

Ketika gerakan radikalisme kian merebak melalui jaringan media online, maka warga NU tidak boleh tinggal diam. Perang pikiran atau ide dan perang data mesti diperkuat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Melalui ide yang diperkuat dengan data, maka kita bisa kokoh. Kita harus berdebat dengan ilmu. Dan ilmu berpangkal pada perpaduan ide dengan keberadaan data,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai As’ad juga menerangkan, Indonesia mesti dipelihara secara berkesinambungan. Sebab, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang bukan sekuler dan tidak pula negara agama.

“Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang mampu mengawinkan spirit negara agama dengan negara modern. Indonesia kita sudah wathaniyah, menjunjung kebangsaan yang nilai kemanusiaannya cukup kuat,” pungkasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Gembira Teroris Tertangkap

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) gembira dengan tertangkapnya beberapa tokoh dan anggota jaringan teroris yang sering menggunakan simbol-simbol Islam dalam berbagai aksi mereka.

Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj mengingatkan kembali perlunya menggiatkan upaya pemberian pemahaman keislaman yang benar, terutama pada generasi muda, agar tidak mudah tergelincir dan bergabung dengan kelompok yang memahami Islam secara sempit.

”Kita adalah ummatan wasatan, laitakûna syuhadâ’a alannâs. Artinya bukan hanya berakidah melainkan juga sehat sejahtera, berilmu, berahlaq, berkebudayaan, pinter cerdas dan canggih,” katanya di Jakarta, Sabtu (16/6).

PBNU Gembira Teroris Tertangkap (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gembira Teroris Tertangkap (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gembira Teroris Tertangkap

Pemahaman penting yang perlu diluruskan, kata Kang Said (panggilan akrab KH Said Aqil Siradj) adalah mengenai anjuran jihad yang diartikan sebagai pengrusakan dan pembunuhan terhadap manusia lain.

”Jihad yang penting adalah daf’u dhororin ma’shûmin, memberi keamanan kepada orang baik-baik. Kata "ma’sûmin" itu bukan bandar narkoba, bukan preman, bukan pengedar senjata terlarang tidak suka mabuk-mabukan, bukan penjahat, bukan perampok, walhasil orang baik-baik lah! Ini harus dijaga, baik mereka muslim atau bukan.

Nahdlatul Ulama, kata Kang Said, tidak pernah radikal kecuali pada Resolusi Jihad untuk menghadapi NICA yang ingin kembali menjajah Indonesia pascakemerdekaan 17 Agustus 1945. Waktu itu Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ary menyerukan Resolusi Jihad kepada warga NU untuk mengusir secara paksa para penjajah ke negeri asal mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Kita justru harus melindungi orang-orang China, orang-orang Kristen, jangan sampai mererka hidup di tengah-tengah mayoritas muslim tetapi selalu diliputi ketakutan, maka berdosa lah kita,” kata Kang Said.

”Yang dilarang oleh Allah adalah kita membantu orang-orang muslim yang nyata-nyata mefasilitasi untuk menyerang orang-orang muslim sendiri. Contoh konkritnya adalah Saudi Arabia, Bahrain, Kuwait Qatar mempersiapkan lapangan terbang beserta segala fasilitas mereka untuk tentara Amerika yang jelas-jelas akan membunuh dan memerangi Iraq,” tambahnya.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 07 Desember 2016

PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan KH Zaenuri Zainal Mustofa mengatakan, yang disebut santri selain dirinya pernah menimba ilmu di pesantren atau mondok di pesantren, juga meskipun tidak pernah mondok akan tetapi mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari bisa juga disebut santri.

Selama ini masih sering terjadi salah kaprah dengan istilah santri yang selalu diidentikkan dengan pondok pesantren, ini tidak salah. Tetapi yang tidak pernah mondokpun dan mendalami ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari hari mereka juga bagian dari santri.

PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri

Hal tersebut disampaikan KH Zaenuri di hadapan ribuan pengunjung yang hadir pada Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kota Pekalongan yang dihelat di Lapangan Mataram, Jumat (27/8) malam.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Pekalongan HM Saelany Mahfudz berpesan kepada santri agar para santri terus belajar menuntut ilmu dan momentum hari santri adalah upaya menunjukkan jati diri santri yang bisa mandiri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Santri Nasional dengan mengusung tema Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI, sejak ditetapkan sebagai hari nasional pada 2015 lalu melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, peringatan hari santri dimanfaatkan oleh seluruh warga NU dan rakyat secara umum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para ulama dan santri.

Pengakuan negara ini menurut Saelany yang juga mengelola pondok pesantren menunjukkan bahwa perjuangan kalangan pesantren dan rakyat Indonesia melalui fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 berhasil mengusir penjajah.

Kegiatan peringatan hari santri di Kota Pekalongan selain menggelar istighotsah dan pentas seni bareng Ki Ageng Ganjur, juga pihak panitia akan menggelar seminar nasional dan kirab merah putih Sabtu (22/10) di Gedung PPIP Kota Pekalongan.

Tampak hadir dalam peringatan hari santri, selain plt Walikota Pekalongan, Ketua DPRD, Kapolres Pekalongan Kota, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), jajaran Pengurus PCNU, MWCNU dan ranting NU se-Kota Pekalongan, badan otonom NU, para habaib dan ratusan undangan SKPD di lingkungan Pemkot Pekalongan. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 06 Desember 2016

Puasa untuk Para Pekerja Berat

Ibadah puasa tidak dimaksudkan untuk menghalangi aktivitas harian terlebih lagi aktivitas mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pasalnya, kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dapur tidak kalah wajibnya dengan puasa Ramadhan.

Namun ketika bulan Ramadhan tiba, kondisi orang dalam keadaan beragam. Ada di antara mereka yang sehat dan segar bugar, juga muda. Ada lagi yang sudah renta, ada yang terbaring sakit, ada lagi yang dalam perjalanan, juga mereka yang pekerjaannya membutuhkan tenaga ekstra.

Puasa untuk Para Pekerja Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa untuk Para Pekerja Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa untuk Para Pekerja Berat

Perihal orang yang kesehariannya bekerja agak berat, Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyrol Karim mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika memasuki Ramadhan, pekerja berat seperti buruh tani yang membantu penggarap saat panen dan pekerja berat lainnya, wajib memasang niat puasa di malam hari. Kalau kemudian di siang hari menemukan kesulitan dalam puasanya, ia boleh berbuka. Tetapi kalau ia merasa kuat, maka ia boleh tidak membatalkannya.

Tiada perbedaan antara buruh, orang kaya, atau sekadar pekerja berat yang bersifat relawan. Jika mereka? menemukan orang lain untuk menggantikan posisinya bekerja, lalu pekerjaan itu bisa dilakukannya pada malam hari, itu baik seperti dikatakan Syekh Syarqawi. Mereka boleh membatalkan puasa ketika pertama mereka tidak mungkin melakukan aktivitas pekerjaannya pada malam hari, kedua ketika pendapatannya untuk memenuhi kebutuhannya atau pendapatan bos yang mendanainya berbuka, terhenti.

Mereka ini bahkan diharuskan untuk membatalkan puasanya ketika di tengah puasa menemukan kesulitan tetapi tentu didasarkan pada dharurat. Namun bagi mereka yang memenuhi ketentuan untuk membatalkan puasa, tetapi melanjutkan puasanya, maka puasanya tetap sah karena keharamannya terletak di luar masalah itu. Tetapi kalau hanya sekadar sedikit pusing atau sakit ringan yang tidak mengkhawatirkan, maka tidak ada pengaruhnya dalam hukum ini.

Dengan kata lain, bagaimanapun wajibnya mencari nafkah, kewajiban puasa Ramadhan perlu dihargai. Dalam artian, kita tetap memasang niat puasa di malam hari. Kalau memang di siang hari puasa terasa berat, kita yang berprofesi sebagai pekerja berat dibolehkan membatalkannya. Uraian ulama tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa Ramadhan kendati mereka yang udzur tetap mendapat keringanan untuk berbuka puasa. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah