Jumat, 01 April 2016

Ini 10 Adab Berdoa dalam Islam

Doa merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan agama. Sebagaimana ibadah lain, Islam juga mengatur adab yang meliputi tatacara dan etika doa. Salah satunya adalah keterjagaan hati. Doa merupakan komunikasi langsung hamba dan Sang Pencipta. Tidak heran kalau sebagian ulama memaknai doa sebagai bentuk eskpresi kefaqiran atau kebutuhan hamba-Nya kepada Allah SWT.

Mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar menyebutkan 10 adab berdoa. Hal ini menunjukkan betapa sakralitas ibadah doa.

Ini 10 Adab Berdoa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 10 Adab Berdoa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 10 Adab Berdoa dalam Islam

Pertama, kita menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir dalam setiap malam, dan waktu sahur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, kita memanfaatkan kondisi-kondisi istimewa untuk berdoa seperti saat sujud, saat dua pasukan berhadap-hadapan siap tempur, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat dan sesudahnya.

Ketiga, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keempat, mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah.

Kelima, menghindari kalimat bersajak dalam doa karena dikhawatirkan justru melewati batas dalam berdoa. Prinsipnya tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata saat berdoa.

Keenam, berdoa dengan penuh ketundukkan, kekhusyukan, dan ketakutan kepada Allah SWT.

Ketujuh, mantap hati dalam berdoa, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar dalam berdoa. Sufyan bin Uyaynah mengatakan, sadar akan kondisi dirimu jangan sampai menghalangimu untuk berdoa kepada-Nya. Allah, kata Sufyan, tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk.

Kedelapan, meminta terus menerus dalam berdoa.

Kesembilan, membuka doa dengan lafal zikir. Kita dianjurkan untuk membuka doa dengan pujian dan shalawat. Demikian pula ketika mengakhiri doa.

Kesepuluh, tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT dengan cara mematuhi segala aturan agama. Pasal sepuluh ini yang sangat penting.

? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT,” (Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 27 Maret 2016

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan jika keberadaan media sosial hendaknya dijadikan sebagai wasilah atau perantara untuk mencerdaskan masyarakat, terutama masyarakat dunia maya (Netizen).

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

"Diakui atau tidak hari ini sudah mulai banyak sekali perkembangan media sosial yang justru menimbulkan keresahan. Untuk itu kita harus bisa menggunakan media sosial tersebut menjadi manfaat untuk masyarakat," ujar Kiai Hasan dalam kegiatan Kopi Darat (Kopdar) Netizen NU Jawa Barat di Aula Dakwah PWNU, Jalan Terusan Galunggung, Kota Bandung, Kamis (19/1).

Dengan perkembangan media sosial tersebut, dirinya berharap kepada warga NU khususnya di Jawa Barat agar bisa melek dan tidak ketinggalan terhadap perkembangan modernisasi tersebut.

"Karena pada prinsipnya, perkembangan modernisasi dengan memanfaatkan media sosial tersebut bisa dijadikan sebagai wahana edukasi dan transformasi ilmu pengetahuan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren As-Shidqiyah 3 Cilamaya, Karawang tersebut.

Dirinya juga mengimbau kepada seluruh elemen NU agar tidak mudah terprovokasi dengan perkembangan medsos yang meresahkan dan maraknya pemberitaan hoax.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Maraknya pemberitaan hoax, fitnah, caci maki dan ujaran kebencian janganlah kita membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Kita harusnya bisa mencerminkan sebagai kaum terdidik sehingga ketika medsos ada ditangan kita, maka akan menjadi baik," tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk mencapai penguasaan media informasi tersebut, saat ini pihaknya telah memiliki website resmi PWNU Jawa Barat sebagai wahana transformasi dan edukasi serta ajang shilaturahmi seluruh warga NU di laman www.nujabar.or.id.

"Ini terbuka untuk seluruh warga NU. Silakan kirim tulisan dan informasi yang bermanfaat untuk dibaca. Adanya website tersebut untuk menambah wawasan dan khazanah keilmuan," pungkasnya.?

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, salah satu Ketua PBNU Robikin Emhas, Ketua LD PBNU KH Maman Imanulhaq, dan sejumlah kader NU di Jawa Barat. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, IMNU, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 23 Maret 2016

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi ke online media.

Sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan.?

Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutama abstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi (netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

?

Makna Ruang Maya Bagi Salafi

Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atau salafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam AshʿārÄ« dan MāturidÄ« sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.

Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah. ? Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.? Kembali kepada pandangan Talal Asad? bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.

Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” dari mainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak? karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.

Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengan cyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit.?

Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual space sangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.

*) Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 13 Maret 2016

Menjadi Muslim yang Tak Gampang Panik

Khutbah I



? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Menjadi Muslim yang Tak Gampang Panik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Muslim yang Tak Gampang Panik (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Muslim yang Tak Gampang Panik

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam salah satu riwayat shahih diceritakan bahwa pada zaman Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Menyaksikan tingkah ganjil ini para sahabat pun menghardik si Badui.

Namun apa yang dilakukan Rasulullah saat itu? Beliau melarang para sahabatnya naik pitam, kemudian membiarkan orang Badui tersebut menuntaskan hajat kencingnya. Selanjutnya Nabi memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fa innamâ bu‘itstum muyassirîn wa lam tub’atsû mu‘assirîn. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan,” pesan Nabi.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Kisah ini hanyalah sepenggal bukti bertapa muliannya akhlak Rasulullah. Beliau menunjukkan sikap yang sangat elegan dan menampilkan pribadi tidak gampang panik. Rasulullah tentu tidak setuju ada air kencing di masjid karena itu merupakan najis yang merusak kesucian tempat ibadah. Namun, beliau juga tidak setuju bila sahabat-sahabatnya menghardik si Badui. Larangan tersebut menjadi bukti bahwa cara-cara emosional dan mudah menghakimi bukan solusi yang tepat.

Yang dilakukan Nabi adalah membiarkan si Badui yang terlanjur mengencingi salah satu sisi masjid,? menyucikan najis, lalu berbincang dan menasihati si Badui secara baik-baik. Klarifikasi atau tabayyun ketika menyaksikan perkara ganjil sangat penting karena tak semua yang tampak salah adalah benar-benar salah secara mutlak. Bisa jadi kesalahan itu merupakan hasil dari ketidaktahuan, ketidaksengajaan, atau kesalahpahaman.

Nabi seolah hendak mengajarkan para sahabat tentang sikap yang tenang, berpikiran jernih, dan mengajukan penyelesaian masalah secara realistis dan manusiawi. Respon yang tak tergesa-gesa dan tak emosional memberi kesempatan bagi seseorang untuk banyak memfokuskan diri pada solusi nyata dan lebih bermanfaat. Kita bisa bayangkan, seandainya si Badui tadi menerima amarah para sahabat. Mungkin saja ia akan sadar akan kekhilafannya, tapi kemungkinan untuk takut lebih besar. Nabi tak menghendaki ketakutan tersebut terjadi dan karenanya pendekatannya sangat halus dan cenderung permisif. Lagi pula, Badui memang jauh dari peradaban kota sehingga perilaku nyelenehnya pun bisa dimaklumi.

Menunda atau lebih tepatnya bersabar atas kemungkaran tak selalu berarti membiarkan—apalagi menyetujui—kemungkaran itu terjadi. Kadang, sikap itu perlu diambil untuk menarik kemaslahatan yang lebih besar. Di dalamnya ada keharusan “memanusiakan manusia” yang mesti dipikirkan, proses dakwah santun yang perlu ditekankan, dan lain-lain. Ini pula yang ditunjukkan para pendakwah Islam di bumi Nusantara ini sehingga menuai kesuksesan yang luar biasa. Wali Songo menampilkan sikap yang tidak mudah panik, tidak gampang memvonis kafir, atau sikap-sikap keras lainnya.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Betapa sering kita dalam kehidupan sehari-hari melakukan kepanikan-kepanikan yang tidak perlu. Kepanikan yang membuat kita tergesa-gesa mengambil keputusan—meskipun tidak tepat. Kepanikan yang melalaikan kita untuk tabayyun, serta yang menjadikan kita tidak objektif dan utuh dalam melihat persoalan. Gejala ini banyak kita lihat ketika media massa memberitakan peristiwa-peristiwa yang tampak menghebohkan.

Yang ironis adalah manakala kehebohan itu menumpulkan akal sehat kita. Dengan munculnya berita ada aliran keagamaan baru, misalnya, kita tiba-tiba saja gemar menghujat sana-sini, meskipun kabar yang diterima baru sepintas saja atau mungkin rumor. Kepanikkan menandakan kedangkalan cara pandang dan pengetahuan. Sebab, pengetahuan yang luas akan melihat persoalan tidak hitam-putih karena melibatkan berbagai sudut pandang. Seperti cerita si Badui di atas, peristiwa tak dilihat dari sisi “mengencingi masjid” belaka dan karenanya pasti sesat, melainkan juga penting mencermati latar belakang mengapa tingkah itu bisa terjadi: kadar pengetahuan si Badui, kondisi sosialnya sebagai masyarakat gurun, dan lain sebagainya.

Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Gazali pernah berujar dalam karyanya, Tahâfutul Falâsifah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.”

Statemen ini berpesan agar umat Islam menjadi pembela agama yang sesuai dengan jalur yang sudah digariskan. Sebab, pembela agama yang menyimpang lebih buruk dari para penghina yang menggunakan cara-cara yang benar. Jalur yang digariskan tersebut tentu saja sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, yakni mengedepankan akhlak, kejernihan pikiran, sabar, tidak gampang panik, dan sikap terpuji lainnya.

Kita semua tentu paham bahwa sebagai pengemban risalah suci, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam banyak sekali melewati tantangan. Besarnya tanggung jawab yang dipikul menjadikan beliau harus menanggung besarnya cobaan yang mesti dihadapi. Oleh masyarakat musyrik kala itu, Rasulullah tak hanya sering dilempari kotoran unta atau dihujami batu, tapi juga pernah mengalami percobaan pembunuhan berkali-kali. Di tengah kondisi yang membahayakan nyawanya sendiri itu, Rasulullah justru kian teguh, kemuliaan akhlaknya semakin tampak dan memikat lebih banyak orang, tak terkecuali musuh-musuhnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur


Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 12 Maret 2016

Doa Bersama, Kawasan Seputar Monas Padat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Doa bersama yang hari ini, Jum’at (2/12) diselenggarakan dengan titik pusat di Monumen Nasional membuat kawasan tersebut sangat padat. Jl Medan Merdeka Selatan dan Medan Merdeka Timur dipenuhi massa yang sebagian besar berbaju putih. Jl Merdeka Utara di mana Istana Negara berada sengaja ditutup. Demikian pula Jl Merdeka Barat di mana terdapat kantor Mahkamah Konstitusi, RRI, Museum Nasional, Indosat, dan beberapa kantor kementerian, juga ditutup.

Doa Bersama, Kawasan Seputar Monas Padat (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama, Kawasan Seputar Monas Padat (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama, Kawasan Seputar Monas Padat

Sejak pukul 06.00 massa sudah mulai mengarah ke Monas. Di Jl Kwitang Raya, yang dekat dengan kawasan perdagangan Senin, sejumlah orang membagi-bagikan roti sebagai sarapan dan air dalam kemasan kepada jamaah yang lewat. Sementara di trotoar Jl Thamrin, terdapat ibu-ibu yang menerima donasi makanan dari jamaah yang lewat yang tampaknya akan dibagikan kepada jamaah yang membutuhkan.?

Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) sangat padat. Banyak sekali massa yang berjalan kaki ke arah Monas. Kendaraan-kendaraan yang bergerak menuju daerah Gajah Mada dialihkan ke arah Tanah Abang. Tetapi tidak ada massa berhenti di pancuran air HI yang biasanya sangat padat saat akhir pekan di mana ada hari bebas kendaraan bermotor.?

Sejumlah mobil dengan sound system sudah siap digunakan untuk berorasi. Salah satu orator di atas mobil yang sudah beraksi di bundaran Bank Indonesia menyampaikan pesan agar jamaah mampu menahan diri, menahan nafsu. Hal yang sama disampaikan oleh orator lain di jalan Thamrin yang mengingatkan agar jamaah mengikuti komando.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dua orang perempuan berjilbab sempat bertanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah karena kebingungan mencari pintu tenggara, yang merupakan pintu khusus untuk jamaah wanita.?

Para jamaah terlihat menikmati suasana pagi yang segar ini. Tak lupa mereka melakukan swafoto. Kebanyakan dengan latar belakang poster yang mereka bawa yang isinya meminta agar Ahok ditahan.?

Sejumlah sarana pendukung juga sudah disiapkan seperti mobil ambulan, toilet, mobil tangki air untuk wudhu, dan lainnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pasukan keamanan, baik tentara, polisi sudah siap siaga. Satpol PP juga membantu mengatur massa di beberapa lokasi.?

Tak lupa, para pedagang keliling, dengan insting bisnisnya, memanfaatkan situasi ini untuk menggelar dagangannya. Prinsipnya adalah di mana ada gula, di situ ada semut. Pedagang dapat untung, jamaah hilang lapar atau hausnya.? Di sisi lain, pertokoan yang dekat dengan area Monas terlihat menutup gerainya. Saat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah lewat di Jl Suryopratomo, sempat mendengar pria berpakaian rapi yang memberi penjelasan kepada satpam tentang banyaknya massa. Ia memilih untuk sementara menutup usaha guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.? (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 08 Maret 2016

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU Jawa Barat, khususnya Cirebon, kehilangan salah seorang kiainya. Sesepuh Pesantren Benda Kerep, Cirebon KH Hasan Abu Bakar wafat pada Jumat 29 September 2017 pada pukul 08:20.

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

“Beliau kiai sufi, panutan kiai NU Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka. Kuningan),” ungkap Nasrullah Affandi, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ketika dikonfirmasi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah tentang sosok Kiai Hasan.?

Menurut dia, para tokoh nasional pernah bersilaturahim kepada Kiai Hasan, di antaranya Wakil Presiden JUsuf Kalla, dan pejabat lain seperti menteri dan gubernur.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 05 Maret 2016

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Dalam rangka meringankan beban derita dan kepiluan etnis Rohingya, Myanmar, Polres  Jember  mengumpulkan dana dari jajaran internal Polres, Selasa (12/9). Acara yang bertitel Aksi Kemanusiaan Peduli Rohingya ini digelar di Mapolres Jember dengan mengundang Pengurus Baznas Jember.

Dana yang  terkumpul dadakan dari  kantong para polisi, termasuk Kapolres Jember Kusworo Wibowo mencapai Rp. 13.294.000. Dana itu langsung diserahkan kepada Ketua Baznas Jember HM Misbahus Salam.

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Kusworo menegaskan, pihaknya menaruh perhatian besar terhadap nasib dan penderitaan etnis Rophingya. Karena itu, ia mengaku terketuk hatinya untuk sebisa mungkin membantu meringankan beban berat etnis Rohignya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya ingin menginisiasi gerakan peduli kemanusiaan untuk etnis Rohingya, dan itu harus dimulai dari pribadi-pribadi di institusi yang saya pimpin," tukasnya.

Sementara itu, HM Misbahus Salam  menyampaikan terima kasih dan penghargaan untuk jajaran Polres Jember yang telah mengumpulkan sumbangan untuk entis Rohingya. Sumbangan tersebut, katanya, wajib disampaikan kepada yang berhak, yaitu etnis Rohingya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Namun kami masih belum tahu teknisnya, apakah sumbangan  itu lewat Kemensos ataukah Kemenlu, kami masih akan koordinasi dulu," jelasnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ia berharap agar gerakan peduli kemanusiaan yang digelar Polres Jember benar-benar bisa menginspirasi instansi lain, khususnya Polres yang berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok minoritas yang tengah dianiaya itu.

"Coba misalnya, setiap Polsek, bahkan Polres lain juga melakukan  gerakan serupa, berapa dana yang bisa disumbangkan untuk Rohingya," urainya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah