Minggu, 13 April 2014

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang masa orientasi siswa di Bojonegoro, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Bojonegoro mengadakan sosialisasi modul Masa Orientasi Peserta Didik Berkarakter, Rabu (16/7). Sosialisasi modul ini melibatkan pengurus PCNU Bojonegoro, Maarif NU, IPNU Jatim, dan PAC IPNU sekabupaten.

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru

Pada kegiatan di lantai dua Kantor PCNU Bojonegoro jalan A Yani, Ketua IPNU Bojonegoro Muhammad Masluhan mengatakan, sosialisasi ini baru pertama kali diadakan di Bojonegoro kendati IPNU Jatim telah menerbitkannya pada 2013 lalu.

Sosialisasi modul ini sengaja digelar, kata Masluhan. Pasalnya selama ini acuan resmi belum tersampaikan hingga tingkat bawah. "Sehingga, setelah sosialisasi ini, seluruh PAC IPNU-IPPNU dapat menerapkannya di seluruh lembaga pendidikan di kecamatan," terangnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara utusan IPNU Jawa Timur Mufarikhul Hazim menyampaikan isi modul MOPD-B tersebut. Ia menerangkan tujuan, mekanisme, tahapan, dan perihal terkait MOS di sekolah.

Karena memuat memuat materi ke-IPNU-IPPNUan dan sejumlah materi ke-NUan, LP Maarif mendukung kegiatan sosialisasi modul tersebut. Masluhan menjelaskan, paradigma pendidikan sikap mental, karakter dan lainnya terlupakan saat pelaksanaan MOS.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sudah ada beberapa sekolah di kecamatan Ngasem dan kecamatan Kepohbaru yang sudah siap bekerja sama dengan IPNU-IPPNU," terangnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Pahlawan, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 05 April 2014

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara

Judul Buku : NU dan Keindonesiaan

Penulis : Mohammad Sobary

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : 1, 2010

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara

Tebal : xviii + 258 halaman

Peresensi : Imdad Fahmi Azizi*


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak didirikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai kharismatik di Surabaya pada tahun 1926, NU mendapat banyak simpati dari berbagai kalangan karena kemampuannya mempertahankan dan menyeimbangkan antara kekuatan tradisionalisme dan budaya modern (almukhafadhatu alal qadimis sholeh wal akhdu bil jadidil ashlah). Disisi lain, tradisionalisme NU mampu mengarahkan umatnya untuk bersikap toleran, menghormati agama lain, serta menghindar dari sikap fundamentalisme dan radikalisasi.

NU menampilkan Islam yang akomodatif (moderat), berarti kesediaan menerima sikap dan pemikiran pihak lain dengan terbuka menciptakan jalan tengah. Tidak hanya dalam hal pemikiran keagamaan,  tapi kecenderungan akomodatif ini juga tercermin dalam sikap dan perilaku kebudayaan warga NU untuk menjadi penggerak kehidupan umat dalam sehari-hari sehinggga menjadi pelindung bagi kaum minoritas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sehingga sejarah telah mencatat, bahwa NU merupakan warisan para pejuang kemerdekaan dan salah satu ‘pemegam saham’ bagi lahirnya Republik ini. Sebagai ormas Islam terbesar, NU sudah lahir jauh sebelum republik berdiri. NU tetap setia menjaga Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadi kekuatan civil society (kekuatan sipil) yang menempatkan kemaslahatan dan kesejahteraan rekyat sebagai tujuannya. Di samping itu, NU dapat menjadi  lokomotif bagi arah kebangsaan di masa depan, sehingga mampu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas dan menjadi pelopor pembentukan identitas keindonesiaan (nation-character building) (hlm.132-135).

Bersama dengan Muhammadiyah, NU selalu konsisten dengan sikapnya yang akomodatif sehingga dipandang sebagai pilar utama Islam moderat. Keduanya menghargai pluralitas bangsa dan dialog antar agama yang merupakan cerminan harmonisasi antara tradisi kultural dan ajaran agama. Juga NU menekankan keserasian hidup di tengah lingkungan masyarakat yang begitu majemuk.

Begitu juga waktu dibawah kepemimpinan Gus Dur (1984-1999), NU telah diperkenalkan ke dunia nasional bahkan internasional. NU yang sebelumnya dikenal kaum sarungan dengan adat tradisional mampu mengangkat nilai-nilai ke-NU-an yang moderat dan anti kekerasan. Waktu itu, Gus Dur tiba-tiba menjelma sebagai tokoh yang disegani dan kharismatik dimata lawan maupun kawan khususnya rezim Orde Baru, belakangan Gus Dur dijadikan jimat NU. Dengan kata lain, NU tidak bisa dipisahkan dengan nama Gus Dur. 

Oleh sebab itu, Gus Dur mulai memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai kian relevan ketika dunia dihadapkan pada pelbagai bentuk ekstremisme dan fundamentalisme yang ujungnya adalah terorisme. Memperkuat moderasi kutural seraya melebarkan perhatian pada moderasi struktural merupakan tantangan NU di masa depan. NU harus tetap bergerak dan mampu berdiri di dua kesadaran sekaligus, yakni tradisi dan kemodernan. NU masa kini dan masa depan diharapkan tetap menjadi generasi yang mampu mempertautkan kearifan tradisi dan kemanfaatan modernitas. Oleh karenanya, diperlukan peran NU untuk lebih berani secara terbuka melakukan penyebaran moral (etika) dengan instrumen yang lebih kongkret terutama bagi para elite negeri ini.

Dengan kembali ke Khittah 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai kerangka dasar bernegara menempatkan NU pada posisi aman terhadap penguasa. NU menjadi jangkar nasional sehingga mampu memainkan peranannya untuk menjadi kekuatan budaya dan mampu memperkuat masyarakat sipil (civil society). Didalam tubuh tradisi ke-NU-an, Gus Dur melihat potensi pesantren yang progresif dengan mengistilahkannya sebagai agen perubahan. Keunikan pesantren ini merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Karena itu, NU harus memperkuat peran kiai yang berfungsi sebagai ulama (cleric) sekaligus cultural broker (makelar kebudayaan)- bukan political broker ataupun menjadi political operative pemodal yang membutuhkan mereka. Karena diakui atau tidak, NU selama ini terkesan terlalu elitis-politis, kurang populis.

Menurut refleksi Mitsuo Nakamura, pemerhati NU dan Profesor Emeritus Chiba University, Jepang yang harus dikembangkan oleh pucuk pimpinan NU adalah menjadikannya sebagai gerakan agama, pendidikan, dan sosial, yaitu gerakan moral force ; penegakan sejati Pancasila sebagai dasar negara ; pembelaan hak minoritas golongan serta penegakan keharmonisan dan integrasi antar golongan, etnis, dan agama. Ini semua adalah konsekuensi dari kembali le khittah 1926. Sehingga ulama NU dapat meneruskan dan mengembangkan warisan Gus Dur ke tahap yang lebih kuat dan lebih tinggi pada hari depan. (hlm.226-228)

Peran kunci yang juga diharapkan dari NU adalah dalam bidang ekonomi. Selama ini peran tersebut masih belum menonjol. Kaum Nahdliyin dan pesantren selama ini banyak bergelut dengan usaha kecil-menengah dan sektor pertanian, seharusnya NU memiliki potensi yang besar sebagai salah satu kekuatan ekonomi umat. Para pimpinan NU diharapkan mampu mengembangkan semangat kewirausahaan di pesantren. Semangat itu bisa digali dari salah satu sejarah pergerakan ini, di mana pernah muncul gerakan kaum saudagar  (Nahdlatut Tujjar) yang berperan penting memperjuangkan ekonomi umat.

Memang selama ini, NU kurang memberikan perhatian pada problem liberalisasi ekonomi, kapitalisme, neokolonialisme, yang menjadikan masyarakat pedesaan yang merupakan basis NU semakin dimarginalkan. Hal tersebut mestinya mendorong NU makin berperan dalam mewujudkan ekonomi rakyat berbasis sumber daya lokal. Dalam rangka menjalankan ekonomi tersebut setidaknya ada dua level ekonomi yang oleh NU harus diperhatikan, yakni level makro dan mikro dengan melakukan kontrol, advokasi dan pemberdayaan.

Buku yang ditulis oleh Kang Sobary seorang budayawan ini sangat menarik untuk dikaji kembali dan dijadikan referensi bagi peneliti NU tentang perannya. Buku ini juga berisi komentar-komentar dari tokoh Republik ini terhadap kiprah NU dan harapan mereka terhadap perannya bagi Indonesia terutama di bidang keagamaan, kebudayaan, politik dan ekonomi kerakyatan.

   

*Peresensi Adalah Koordinator Komunitas Penulis Nurul Jadid (KPNJ), Paiton, Probolinggo Jawa TimurDari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 20 Maret 2014

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina

Guangzhou, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rombongan wisata religi dari jamaah halaqah Senin Masjid Tsam Sha Tsui Hongkong yang berjumlah 35 orang, 30 orang diantaranya adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang saat ini sedang mengadu nasib bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Sampai saat ini jumlah pekerja yang berasal dari Indonesia sekitar 150.000 orang. Mengisi waktu libur sebulan 4 kali, mereka berkumpul melakukan berbagai aktifitas.

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina (Sumber Gambar : Nu Online)
BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina (Sumber Gambar : Nu Online)

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina

Salah satunya adalah kegiatan rohani dengan berkumpul dalam majelis taklim yang tidak hanya di masjid-masjid saja, namun kegiatan dilakukan di taman-taman yang indah di seluruh penjuru kota Hongkong. Saya sempat mengunjungi beberapa taman di Kowloon Park dan Victoria Park kalau pada hari Minggu banyak sekali kelompok-kelompok pengajian kecil yang mendatangkan ustadz dari Indonesia.

Salah satu kegiatan jamiyyah ini adalah wisata religi ke Guangzhou selain ke makam sahabat nabi Saad Bin Abi Waqas adalah mengunjungi masjid pertama yang sudah berusia 1300 tahun lebih itu, namanya Masjid Huaisheng terletak di Jalan Guang Ta Lu Kota Guangzhou Cina. Masjid ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhamad Saw, Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guang Ta, karena masjid dengan menara elok ini terletak di jalan Guang Ta. Ta berarti menara, karena menurut sejarahnya menara menara masjid yang tingginya 36 meter lebih ini tertinggi pada awal pembangunanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika rombongan turun dari bus masuk menuju masjid, saya justru memisahkan diri menelusuri jalan raya Guang Ta, saya merasa kalau di Surabaya jalannya seperti suasan di Jalan Walikota Mustajab, banyak pohon rindang namun tidak terlalu ramai. Di sepanjang jalan Guang Ta saya menjumpai banyak took-tokoyang menjual makanan halal dengan harga yang cukup miring. Saya membeli Roti Cedar (roti khas Arab) hanya dengan 10 Yuan saja dan berbagai makanan khas kambing banyak kita jumpai di sepanjang jalan Guang Tha.

Maklum, saat ini jumlah penduduk Muslim di Cina sekitar 150 juta lebih, meski dalam catatan resmi pemerintah Cina hanya sekitar 50 juta penduduk saja. Penyebaran agamaIslam di Cina memang dimulai sejak awal abad ke 7, pada jaman dinasti Tang, atau bahkan lebih tua lagi, yaitu dinasti Song. 

Sekitar setengah jam saya menelusuri jalan Guang Ta saya kembali menyusul rombongan jamaah yang sudah masuk ke dalam masjid yang ternyata sedang melakukan jamah sholat dzhuhur dipimpin oleh H Ahmad Muhaimin Karim, eksekutif dakwah Islamic Union Hongkong. Komplek masjid ini tidak terlalu luas Masjid ini menempati area tanah seluas kurang lebih 3000 meter persegi saja. Untuk memasuki masjid ini harus memasuki dua pintu gerbang yang semacam tugu selamat datang memasuki masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masjid Huaisheng arsitekturnya mengadopsi arsitektur masyarakat setempat dipadu dengan arsitektur Arab pada bangunan menaranya. Bagi kita, sepintas lalu mungkin tidak menyangka kalau bangunan ini adalah masjid, karena memang modelnya seperti kelenteng. Nyatanyamasjid ini adalah masjid pertama di Cina, bahkan di Asia!

Walaupun begitu yang nampak ini adalah sebuah masjid adalah ornament kaligrafi arab tampak sekali tulisan-tulisan dalam bahasa arab yang merupakan kutipan dari ayat-ayat Al Quran. Juga terdapat ukiran prasasti waktu empat kali pemugaran bangunan tersebut, yakni pada dinasti Yuan , Ming, Qing dan terakhir tahun 1935. Pada manuskrip Cina kuno disebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh Saad Bin Abi Waqas.

Masjid ini didirikan saat sahabat Nabi Saad Bin Abi Waqas menetap di Guangzhau yang kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah Islam yang paling berharga di Cina. Ketika datang bersama para sahabat lain, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh Dinasti Tang, Kaisar Kao Tsung (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, Sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasa sesuai dengan ajaran Konfusius.

Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban sholat lima kali dalam sehari dan puasa selama satu bulan penuh terlalu berat baginya hingga akhirnya tdak jadi memeluk agama Islam. Namun begitu, ia mengizinkan Saad Bin Abi Waqas dan para sahabat untuk mengajarkan kepada masyarakat Guangzhou. Oleh orang Cina, Islam disebut sebagai Yi Si Lan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Budha Ma-Hi-Wu atau Rasulullah Muhammad Saw.

Konon jaman dahulu, tiap bulan Mei dan Juni, banyak kapal dagang asing lalu lalang di sungai Mutiara. 

Seringkali umat Islam menyalakan lampu di puncak menara pada malam hari untuk memandu kapal-kapal yang berlayar, atau digunakan sebagai menara adzan mengajak umat Islam shalat. Menara tersebut akhirnya disamakan dengan mercusuar atau menara cahaya yang menjadi pemandu kapal. Menaranya berbentuk silinder sederhana dengan kubah bagian di atas merupakan bangunan bercirikhas arab, beda dengan Pagoda atau menara cina yang ada di tiongkok. Kalau dilihat dari tahun berdirinya pada awal abad ke 7, Masjid Huaisheng ini adalah masjid tertua di Asia setelah Masjidil Haram. Bandingkan dengan masjid Ampel Surabaya yang berdiri baru pada tahun 1421 M.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Abdul Aziz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 19 Maret 2014

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Sebanyak 136 santri penghafal Al-Quran (Tahfidz) Pesantren Sulaimaniyyah kembali dilepas Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk belajar di Turki. Menag melepas mereka dalam sebuah upacara wisuda santri di Aula HM Rasyidi Gedung Kemenag Jl MH Thamrin No 6 Jakarta, Selasa (11/7).

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki

Dalam laporannya, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, program ini merupakan kerja sama Ditjen Pendis Kemenag dengan Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia-Turki (UICCI-United Islamic Cultural Centre of Indonesia-Turkey).

“Kerja sama ini didasari atas komitmen bersama Kementerian Agama dan UICCI ? untuk mencetak kader kiai dan ulama yang mempunyai kapasitas pemahaman Al-Qur’an secara mumpuni,” kata Kamaruddin.

Menurut dia, sesuai nota kesepahaman bersama dari dua belah pihak, santri program ini akan mengikuti proses pembelajaran selama dua tahun di pesantren-pesantren Sulaimaniyah yang tersebar di Indonesia. Setelah itu, dilakukan seleksi ulang terhadap mereka untuk menentukan siapa yang akan lanjut belajar di Turki selama dua tahun.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kerja sama ini sudah berjalan selama tujuh tahun. ? Hingga tahun 2017, jumlah pesantren Sulaimaniyyah di Indonesia sebanyak 29 pesantren dengan jumlah santri 1.700 santri,” paparnya.?

Dari jumlah itu, lanjut Kamaruddin, santri yang sedang belajar di Turki total 325 santri. “120 santri sudah selesai dari Turki dan sekarang tersebar di pesantren-pesantren Sulaimaniyah di Asia Pasifik,” sambungnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Direktur PD Pontren Ahmad Zayadi mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari upaya dan komitmen Ditjen Pendidikan Islam untuk menjadikan Pendidikan Islam-Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam dunia ke depan. Kemenag sejak 2015 telah menetapkan Program 10.000 Hafizh dan Hafizhah di Pesantren.

“Program tahfizh diselenggarakan di sejumlah pesantren di Indonesia dan Turki. Diharapkan, setiap peserta tahfizh dalam kurun waktu dua tahun mampu menuntaskan hafalan Al Quran 30 juz dan pemahaman keagamaan yang baik,” harap Zayadi.

Wisuda Hafidz Al Quran ini dihadiri para pejabat Eselon I dan II Ditjen Pendidikan Islam, pihak UICCI Turki, serta para wali santri beserta keluarga besar masing-masing. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 16 Maret 2014

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Aktivis muda dari berbagai organisasi NU mengadakan audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi I, II, II dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka menuntut minimarket ilegal yang kembali marak ditutup lagi.

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya

Audiensi yang berlangsung Kamis (1/10) diikuti antara lain dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),  Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII), Gusdurian Tasikmalaya, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tasikmalaya, BEM STIE Cipasung. Mereka menamakan dirinya Forum Pembela Ekonomi Rakyat (FPER).

Pada 4 Januari 2015 lalu FPER mengadakan audiensi dan menuntut DPRD dan SKPD terkait untuk menutup 16 minimarket ilegal. Penutupan ternyata tak dipatuhi sepenuhnya. Setidaknya ada 3 minimarket ilegal yang berjejaring dengan Indomart mulai beroperasi, yaitu di Cintaraja (Kecamatan Singaparna), Kecamatan Sisayong dan Kecamatan Manonjaya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk kasus di Cintaraja, pengoperasian minimarket ilegal berujung pada penebangan pohon yang dilindungi pemerintah provinsi setempat. Dalam urusan ini, Koordinator FPER Asep Abdul Ropik mengaku telah mengundang SKPD terkait dan mengklarifikasi penebangan pohon di depan minimarket ilegal di Cintaraja dengan menghadirkan kepala desa Cintaraja.

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya itu juga mengatakan bahwa audiensi tersebut menghasilkan pembekuan 3 minimarket ilegal yang telah  melanggar  Peraturan  Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2014 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat pembelajaran dan toko modern terkait perizinan dan lain lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pertemuan juga mempertegas jam operasi minimarket yang sudah berizin agar menaati Peraturan Bupati (Perbup) terkait toko modern atau minimarket. Para aktivis NU itu juga merekomendasikan adanya kajian ulang terhadap Perda dan Perbup karena belum terdapat aturan pembatasan toko modern yang merusak ekonomi rakyat di tiap kecamatan.

“Dan juga menata ulang persoalan definisi dan seluruh yang berkaitan dengan tata kelolanya terkait pasar tradisional dan zonasi yang telah diatur dalam Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah),” terusnya.

“Dan untuk penebangan pohon yang didepan Indomart ilegal di Cintaraja kami meminta dinas terkait dalam hal ini Dinas Bina Marga, lingkungan hidup, hutan dan kebun, dan sebagainya, agar tegas melakukan tufoksinya yaitu pengawasan terhadap aset daerah,” tegas Ropik. (Husni Mubarok/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara, Ahlussunnah, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 14 Maret 2014

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar 40 hafidz dan hafidzah nampak berkumpul di Pendopo Pringsewu mengadakan semaan Al-Qur’an bil ghoib. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong datangnya tahun baru Hijriyah 1437 H yang jatuh pada Rabu (14/10/15) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu.

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an

Kegiatan ini juga merupakan kerjasama Pemda Pringsewu dengan Jamiyyatul Quro wal Huffadz NU (JQH NU) Kabupaten Pringsewu yang merupakan Badan Otonom Nahdlatul Ulama yang menaungi para penghafal Qur’an di Kabupaten Pringsewu.

Menurut Ketua JQH NU Kabupaten Pringsewu Jumangin, kegiatan ini merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan rutin oleh JQH.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami sangat mengapresiasi Pemda Pringsewu yang telah menyelenggarakan acara positif ini," Kata Jumangin disela sela kegiatan, Selasa ( 13/10/15 ).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, nampak warga masyarakat umum mendengarkan dan menyimak lantunan bacaan Qur’an dari para khafidzoh. Selain masyarakat umum, beberapa pegawai negeri di lingkungan Pemkab Pringsewu juga ikut serta menyimak.

Setelah semaan Qur’an dilaksanakan, pada malam harinya diadakan istighotsah kubro yang akan berdoa bersama dengan mendatangkan para kiai dan tokoh agama dan masyarakat di Pendopo Pringsewu. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 10 Maret 2014

Presiden Dipastikan Buka Munas Konbes NU

Mataram, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Presiden Joko Widodo, dipastikan menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Konbes NU), Kamis siang 23 November.

Presiden Dipastikan Buka Munas Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Dipastikan Buka Munas Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Dipastikan Buka Munas Konbes NU

Demikian disampaikan Ketua Munas Konbes NU 2017, Robikin Emhas di ruang konferensi pers Munas NU 2017 di Kantor PWNU, Kota Mataram, Kamis (23/11) pagi.

“Hari ini Presiden ada agenda kunjungi korban bencana banjir bandang di Lombok Timur, juga melakukan ziarah,” kata Robikin.

Namun, ia memastikan agenda Munas Konbes NU 2017 berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Opening  tetap kita siapkan pukul 13,” tambahnya.

Terkait dengan peserta Munas, saat ini juga telah hadir dari wilayah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Termasuk utusan dari 25 ribu pesantren NU sudah hadir di arena Munas Konbes,” lanjut Robikin.

Munas juga dihadiri unsur pengamat, peninjau, peneliti, akademisi. Mereka berasal baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Jumlah yang sudah terdapaftar sedikitnya 217 peninjau. 

Ajang Konbes tertutup untuk para peninjau. Namun untuk Munas, para peninjau diperbolehkan mengikuti. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, AlaSantri, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah