Selasa, 04 September 2012

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap pekan sejumlah pelajar NU meninggalkan kampusnya di Surabaya untuk menuju Jombang. Mereka di akhir pekan mengajar baca-tulis warga di sekitar utara Brantas, Jombang. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat itu untuk mengentaskan buta huruf yang diidap banyak warga setempat.

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Ketua IPNU Ngusikan Jombang Hendra Setiawan salah satu dari relawan itu. Sudah 3 bulan lebih Hendra yang tengah kuliah jurusan PLS Unesa Surabaya ini, menjalani aktivitas tersebut.. Hal itu dilakukan untuk mengajar ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok buta aksara di dusun Munggut desa Ngusikan, Jombang.

"Kalau ngajar ibu-ibu setiap Selasa malam dan Jumat malam. Tetapi saya senang meski harus tiap minggu pulang dua hari," ujar Hendra.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain Hendra, kader IPNU yang berstatus mahasiswa seperti Miftahul Ulum, Yusuf, dan Roziq juga tercatat sebagai tutor bagi 60 warga Cupak, Ngusikan, yang ikut pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ada 6 kelompok di Cupak. 3 kelompok di dusun Munggut dan 3 kelompok di dusun Cupak. Setiap kelompok 10 orang. Mereka rata-rata berusia antara 40 hingga 60 tahun," imbuhnya.

Ia bersama kader-kader NU bertekad untuk membantu pemberantasan buta aksara. Untuk program KF, pembelajaran yang diajarkan mencakup pengenalan huruf, membaca, menulis hingga berhitung. Proses belajar dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini KF sudah rampung. Kini menginjak Keaksaraan Usaha Mandiri, membuat kerajinan sandal dan tikar dari pandan dan membuat kue," ujar Dahril Kamal (Gus Ariel) yang pernah menjadi Katib Syuriyah MWCNU Ngusikan.

Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), kata Gus Ariel, memanfaatkan potensi alam daerah yang berada di tengah hutan Ngusikan. Karena, desa Cupak berada di tengah hutan yang ditempuh dengan jalan terjal dan berliku, sekitar 11 km dari kecamatan Ngusikan. Banyak pepohonan pandan di samping jati.

"Untuk bahan kerajinan, warga tidak beli. Mereka kini menunggu peran pemerintah untuk ikut memasarkan hasil kerajinan warga peserta KUM," imbuhnya.

Sementara salah satu peserta KF Genah (67) ini rela menempuh jarak 6 km dari rumahnya bersama belasan perempuan untuk belajar bersama. Nenek asal dusun Munggut yang telah memiliki 7 cucu ini menumpak kendaraan terbuka. Genah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 sekolah dasar (dulu SR), masih bersemangat meski terlihat malu-malu.

"Dulu hanya sampai kelas 1, karena gurunya meninggal dunia, dan sekolahnya bubar," ujarnya dengan bahasa Jawa saat menjawab pertanyaan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab yang menjadi guru tamu dadakan. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 Agustus 2012

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu

Sukabumi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Sukabumi menyantuni 99 anak yatim piatu di lapangan kantor Kelurahan Cisarua, Kamis malam (26/5). Santunan dilaksanakan pada tabligh akbar bertema “Meningkatkan Ukhuwah dalam Kebinekaan dengan Meraih Keberkahan Ramadhan”.

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu

Pada kesempatan itu, Ketua PCNU Kota Sukabumi KH Ahmad Nawawi Sadali mengatakan menyantuni yatim piatu merupakan ciri umat Islam.

“Jika masih banyak umat di bumi ini yang sudah mampu dalam dunianya, apalagi dia umat Islam, namun tidak memberi, maka identitas agama Islamnya perlu diragukan, karena memberi anak yatim piatu adalah perintah Allah SWT," jelasnya.?

KH Ahmad Nawawi Sadali mengajak semua pihak, terutama pemerintah, untuk memperhatikan anak yatim piatu dari mulai sekarang karena hal itu tanggung jawab bersama.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita mengadakan santunan ini bukan karena punya, namun inilah kita, keluarga NU, selalu ikut merasakan betapa sedihnya mereka menghadapi bulan yang mulia ini, tidak ditemani oleh bapak ibu mereka.”

Anak-anak yang memiliki orangtua, lanjutnya, selama bulan puasa bisa makan enak dan dibelikan baju lebaran. Sementara yatim piatu tidak mendapatkan hal itu. Maka mereka tanggung jawab bersama. ?

Santunan diberikan GP Ansor kepada yatim piatu diiringi tabuahan rampak beduk bertalu-talu. (Jahid Ghofiri/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 Agustus 2012

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Produktivitas Nahdiyin Kalbar dalam penulisan buku tak perlu diragukan. Buktinya, Dr Ir H Gusti Hardiansyah M Sc GAM, Wakil Ketua PWNU Kalbar berhasil menerbitkan dua buku. Kedua buku itu berjudul REDD Peluang HPH Turunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK Kalbar.?

"Terbitnya dua buku ini sebagai bukti kemampuan Nahdiyin dalam penulisan buku. Dua buku ini sangat bagus karena berkaitan dengan upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca," kata Ketua PWNU Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie MTM di kediamannya, belum lama ini.

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Dijelaskan M Zeet, selama ini yang namanya NU tak lari dari urusan agama. Namun, kalangan Nahdiyin di Kalbar, tak hanya bicara agama juga konsen bicara masalah lingkungan. Apa yang diperlihatkan Gusti Hardiansyah memperlihatkan nahdiyin memiliki sumber daya manusia andal berbicara lingkungan.

Buku REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) Peluang HPH (Hak Penguasaan Hutan) Menurunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK (Gas Rumah Kaca) Kalbar tulisan Gusti Hardiansyah merupakan karya fenomenal. Sebab, jarang penulis ? menerbitkan buku di bidang emisi gas rumah kaca. Kalau buku bicara tentang agama memang banyak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebagai Ketua NU, saya bangga atas karya buku yang dipersembahkan oleh Gusti Hardiansyah. Karya buku itu diharapkan bisa menjadi referensi bagi perusahaan pemilik HPH maupun seluruh Pemda di Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca," harap M Zeet yang juga Sekda Kalbar.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Buku tersebut sejalan dengan Keputusan Presiden yang komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen tahun 2020. Gusti secara detail memberikan gambaran umum tentang cara bagi pemerintah daerah maupun masyarakat luas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.?

"Harapan saya, tak hanya Gusti yang berdedikasi tinggin untuk penyelamatan lingkungan hidup, melainkan juga Nahdliyin lainnya. Semakin banyak Nahdliyin memperlihatkan karya nyata, saat itulah kiprah NU semakin dirasakan oleh masyarakat," ujar M Zeet.

Di tempat sama, Gusti merasa senang bukunya disambut baik oleh M Zeet. Dua buku tersebut buah karya nya yang selama ini bergelut dengan kehutanan di Kalbar. Dia berharap, bukunya tersebut bisa memberikan pencerahan bagi pemilik HPH, Pemda, pemerhati lingkungan, dan masyarakat luas.

"Sebagai Nahdliyin, buku tersebut saya persembahkan untuk Indonesia. Semoga memberikan manfaat besar bagi Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya," harap Gusti yang juga Dosen Fakultas Kehutanan Untan Pontianak ini.?

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 13 Agustus 2012

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Riau mengimbau agar perguruan tinggi konsisten mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masuknya ideologi HTI yang memproklamirkan khilafah dan antidemokrasi di kampus merupakan ancaman yang nyata bagi keberlangsungan NKRI di masa mendatang.

Hal ini disampaikan untuk menanggapi kegiatan Indonesia Congress of Muslim Student (ICMS) yang dihelat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jumat (17/10) ini di Kampus Universitas Islam Riau (UIR) dengan tema "We Need Khilafah Not Democracy),

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI

"Kalau HTI menolak demokrasi dan mendukung khilafah, berarti sudah menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi acuan kita berbangsa dan bernegara. Yang semacam ini seharusnya tidak dibiarkan leluasa merekrut mahasiswa kita di kampus-kampus," kata Wakil Ketua GP Ansor Riau Purwaji dalam siaran pers kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, klaim HTI untuk mendeklarasikan bersama 5000 mahasiswa di UIR sudah jelas-jelas menginginkan NKRI bubar dan itu berarti mengingkari hasil perjuangan para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak masuk ke Indonesia tahun 1980-an HTI memang terus menggalang dukungan untuk mengganti sistem negara kita yang berdasar Pancasila menjadi negara dengan sistem yang mereka sebut khilafah Islamiyah.

Terkait hal itu, Purwaji meminta pihak kampus, Polri dan pemerintah daerah Riau mengantisipasi kemungkinan lahirnya pemikiran yang akan mengancam keberlangsungan NKRI di masa depan.

"Kampus harus hati-hati memantau gerakan seperti yang dilakukan HTI dan gerakan fundamentalis Islam lainnya. Dan Polri juga jangan seenaknya ngasih izin kegiatan mereka, sebab orang mengajak NKRI bubar kok dibiarkan dan dikasi izin," tandasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Makam, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kongres Gerakan Pemuda Ansor XV yang akan digelar pada 25-27 November 2015 di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta mendatang, diharapkan mampu mencetak kader yang militan, sehingga mampu menjalankan serta mengamalkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah.

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Demikian ungkapan Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Slamet Budiono saat dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (3/11). "Semoga dengan adanya kongres itu nanti mampu menjaga keutuhan NKRI melalui sistem pengaderan yang telah tertuang di PD/PRT dan PO," ungkap Slamet.

Slamet menyatakan bahwa ke depan para aktivis sekaligus warga Nahdliyin bisa memahami sistem pengaderan keorganisasian Ansor. Tanpa melalui pengaderan yang terstruktur, menurutnya, akan mengurangi militansi dalam berorganisasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Slamet berharap, semua kegiatan atau program unggulan GP Ansor di semua tingkatan terutama jamiyah shalawat dan dzikir Rijalul Ansor yang sudah diatur pelaksanaannya, supaya ditambah dengan halaqoh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"PC GP Ansor Sidoarjo berharap dalam kongres nantinya, agar melibatkan keluarga pondok pesantren menjadi pengurus GP Ansor di semua tingkatan. Mari berjuang bersama dengan keluarga pondok pesantren untuk dakwah Islamiyah. Sehingga ponpes tidak terkesan eksklusif bagi masyarakat yang sulit berkomunikasi dengan pihak pesantren," harapnya.

Sekretaris GP Ansor Sidorjo, H Rizza Ali Faizin berharap pelaksanaan kongres tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua umum baru. Akan tetapi mampu memilih dan menjadikan pemimpin yang banyak menghasilkan perubahan.

"Semoga kongres nantinya berjalan lancar, kondusif dan sukses sehingga tidak sampai mengakibatkan kegaduhan. Saya juga berharap bagi Ketum yang terpilih nanti mampu memprioritaskan program kemandirian ekonomi, mampu mengawal paham Aswajah An-Nahdliyah serta eksistensi Ansor untuk bangsa dan negara," kata Rizza. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 Agustus 2012

Sekularisme Lokal

Suatu hari KH Masduqi Mahfudz (alm. Rais Syuriyah PBNU) diundang oleh kepala preman dan pencopet di Malang agar memberi pengajian di rumahnya.

Seusai pengajian, KH Masduqi Mahfudz bertanya kepada kepala preman itu.

Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekularisme Lokal

“Sampeyan itu kan preman dan pencopet, kok ngundang saya untuk memberi pengajian?”

Sang preman menjelaskan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Begini kiai, walaupun saya ini preman dan pencopet, saya tetap ingin beribadah. Ngaji itu ibadah kiai, lha nyopet itu kerja. Ngaji ya ngaji kyai, kerja ya kerja. Jangan dicampur-campur!”

Kiai Masduqi Mahfudz tertawa dengan keras ketika menceritakan peristiwa tersebut. Katanya, sang kepala preman dan pencopet itu telah menerapkan faham sekularisme meskipun tingkat lokal. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 Agustus 2012

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Oleh? Rijal Mumazziq Z

Gula menjadi salah satu basis industri andalan kolonial Belanda pasca (hampir) bangkrutnya mereka akibat Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh. Melalui sistem tanam paksa, penjajah menikmati kemakmuran di Hindia Belanda, apalagi dengan adanya sistem sewa tanah 70 tahun. Para bangsawan Jawa, misalnya, dengan ceroboh banyak yang menyewakan tanah-tanah leluhurnya untuk kepentingan industri gula, teh, kakao, dan kopi yang dikelola pengusaha Eropa. Mengenai kejamnya sistem kapitalis yang disokong feodalisme konyol ini bisa dibaca dalam novel "Max Havelaar"-nya Multatuli.

Dua dasawarsa sebelum pergantian abad 19 ? ke 20, pabrik gula didirikan di berbagai daerah. Semua menjadi mesin yang menggelembungkan kantong bangsawan Belanda dan mengeringkan keringat kaum pribumi. Mangkunegoro IV, tercatat sebagai salah satu raja Jawa terkaya, yang turut mendirikan beberapa pabrik gula untuk menopang ekonomi keraton, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu. Di eranya, industri ini menjadi salah satu pabrik gula pribumi yang bersaing dengan industri gula milik kaum kolonial. Prof Wasino menjelaskanan seluk beluk industri gula yang dikuasai bangsawan Jawa, Mangkunegoro IV (dan sedikit ulasan mengenai pabrik milik Hamengkubowono VII dengan kepemilikan 17 pabrik gula itu) dalam "Kapitalisme Bumiputra", sebuah buku menarik soal industri gula di pergantian abad.

Berdirinya pabrik gula di beberapa daerah juga diiringi dengan berdirinya permukiman di dekatnya. Adanya permukiman alias tangsi bagi buruh pabrik yang berasal dari luar daerah juga diiringi dengan tumbuhnya bisnis haram seperti perjudian, penjaja minuman keras, hingga prostitusi terselubung tak jauh dari lokasi pabrik. Jadi, lazim terjadi manakala setelah menerima upah, mereka akan menandaskannya di meja judi maupun memberi saweran kepada penari yang merangkap pekerja seks.

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Lalu, bagaimana ulama kita menyikapi fenomena ini? Alih-alih hanya mencaci maki, dengan cerdas dan bijak, para ulama menyalakan pelita di tempat gelap ini. Maka, berdirilah pesantren-pesantren legendaris tak jauh dari pabrik gula.

Pondok Tebuireng berhadapan menantang Pabrik Gula Tjoekir. Ponpes Denanyar tak jauh dari PG Djombang Baru. Ponpes Lirboyo tak jauh dari PG Pesantren Baru. Ponpes Zainul Hasan Genggong tak jauh dari PG Padjarakan. Ponpes Salafiyah Syafiiyah berdekatan dengan PG Asembagoes. PP Assuniyah Kencong Jember berdekatan dengan PG Gunungsari. Ponpes Annur Bululawang Malang juga tak jauh dari PG Krebet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam fakta lain, berdirinya pondok pesantren di dekat pabrik gula ini kelak juga menghambat pengaruh PKI di kalangan buruh pabrik. Kaum kiri memang mendominasi gerakan buruh pabrik dan jawatan kereta api. Aksi-aksi pemogokan buruh beberapa kali juga dimotori kaum kiri, khususnya era 1920-an dan 1930-an.

Dalam kasus pembantaian ulama di Madiun, 1948, PKI menggerakkan buruh PG Pagotan sebagai milisi yang menggorok Kiai Shiddiq dan beberapa ulama lain di desa Kresek. Bahkan KH Masyhudi, Mursyid Thariqah Syadziliyah, yang juga menantu Kiai Shiddiq, menjelaskan apabila sebelum dieksekusi, milisi PKI menggunakan salah satu bangunan di PG Pagotan sebagai ruang penyekapan.

Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, juga menjadi lokasi penyekapan para kiai, camat, pamong desa, lurah, mantri, dan ratusan orang lainnya pada September 1948 itu. Kemudian para tawanan ini dieksekusi dengan cara diberondong senapan mesin. Kiai Imam Shafwan dan putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, dikubur hidup-hidup setelah sebelumnya disiksa habis-habisan. Adapun Kiai Mursyid, pengasuh PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan, yang juga menjadi salah satu kawan diskusi KH Abdul Wahid Hasyim tatkala di BPUPKI, ikut dilenyapkan dan tidak diketahui makamnya. Para pelaku pembantaian ini, kabarnya adalah anggota serikat buruh pabrik gula Pagotan dan Rejosari yang didukung militer yang pro FDR.

Bisa dibilang, adanya pesantren di dekat pabrik gula menjadi penanda lanjutan Perang Jawa. Para cucu Laskar Diponegoro yang berdiaspora di pedalaman Jawa itu kemudian memilih melawan mesin kolonialisme Belanda bukan dengan cara yang frontal, melainkan dengan pencerdasan masyarakat yang terkonsentrasi di tangsi buruh maupun masyarakat sekitar pabrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Langkah-langkah yang dilakukan oleh para kiai di atas memberikan sebuah hipotesa awal bahwa siyasah alias politik yang dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas akan bertahan lama!

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Khutbah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah