Kamis, 09 Juni 2011

Pembelajaran Menyenangkan untuk Anak Lebih Berhasil

Brebes,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Asesor Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hasanudin mengajak para guru Raudlatul Athfal (RA) untuk menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Pasalnya, dunia anak tidak boleh lepas dari dunia permainan yang menyenangkan. Usia dini sangat menentukan bagi keberhasilan seseorang sepanjang hayatnya. Dengan pembelajaran menyenangkan akan lebih berhasil. 

“Keberhasilan pembinaan pada usia dini akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja di masa dewasanya,” kata Hasanudin saat mengisi seminar peningkatan mutu pendidikan bagi guru TK/RA Muslimat NU, di gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes, (29/12) kemarin.

Pembelajaran Menyenangkan untuk Anak Lebih Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembelajaran Menyenangkan untuk Anak Lebih Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembelajaran Menyenangkan untuk Anak Lebih Berhasil

Menurut ayah dari Abhinaya Fawwaz Nurhasan dan Tsurayya Nafeeza Nurhasanah, masa usia dini disebut sebagai usia emas perkembangan. Masa tersebut hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda atau ditangguhkan kehadirannya. Di sinilah, perlu adanya sinergitas dalam penanganan pendidikan anak usia dini dengan memikul bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Ia menambahkan, guru TK atau RA sangat berperan dalam proses belajar karena berkaitan erat dengan cara kerja dan perkembangan otak anak. Tugas pendidik, hanyalah menyediakan kesempatan bermain bagi anak dengan berbagai variasi, menyediakan alat permainan dalam jumlah yang cukup, menyediakan waktu bermain hingga anak menuntaskan gagasannya dan memberikan pendampingan, pijakan, penguatan, bantuan, dan assessment perkembangan anak. “Buatlah anak anak TK/RA senang tanpa beban,” ucap Hasanudin yang Konsultan PAUD dan Trainner Dewi Hughes Foundation.

Kepala Sekolah Alam Pelopor Bandung ini menegaskan, pada usia emas (golden age) 50 % kemampuan belajar seseorang ditentukan pada 4 tahun pertamanya (0-4 tahun); 30% berkembang pada 4 tahun berikutnya (4-8 tahun). Hal-hal yang dipelajari seseorang sepanjang hidupnya dibangun di atas dasar  ini (0-8 tahun); dan 20% sisanya berkembang pada 10 tahun berikutnya  (8-18 tahun). 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain Hasanudin, ikut memberikan materi Kepala Seksi TK Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Hj Roisah yang menyampaikan materi Implementasi Pendidikan Karakter Kurikulum 13 Anak Usia Dini.

Ketua Panitia Hj Nurhalimah SH menjelaskan, seminar diikuti 200 peserta yang berasal dari guru RA dilingkungan TK Muslimat NU se-Brebes utara. Kegiatan yang sama juga digelar di Bumiayu. Diharapkan peserta bisa bertambah wawasan dalam menerapkan pembelajaran di RA, sehingga anak didik bisa makin berkualitas. 

Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menambahkan, setiap tahun para guru RA dilingkungan Muslimat NU selalu mendapatkan pembinaan. Apalagi perkembangan anak dan lingkungan sekitar berubah drastis. Termasuk peningkatan alat peraga pendidikan yang musti diperbaharui dengan peningkatan kreativitas, inovasi dan mutu guru. (Wasdiun/Abdulllah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 Juni 2011

Gus Dur dan Syair Arab Jahiliyah

Oleh Fathurrahman Karyadi

Dalam salah satu wawancara dengan Jaya Suprana, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebutkan sebuah syair indah. Tak hanya dalam wawancara itu, di kesempatan lain pun Gus Dur sering mengutip syair ini. Termasuk diantaranya ngobrol santai KH. Maman Imanulhaq ? bersama Gus Dur yang terekam dalam salah satu CD berjudul ”Tawa dan Canda Gus Dur”.

Gus Dur dan Syair Arab Jahiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Syair Arab Jahiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Syair Arab Jahiliyah

Syair berbahasa Arab ini dikarang oleh seorang pujangga Arab kenamaan pra Islam, yaitu Al-Nabighah al-Dzubyani. Bagi Gus Dur Syair inilah yang mempengaruhi hidupnya. Bahkan dari syair ini pula kemudian Gus Dur mampu merubah dirinya sebagai sosok pemberani dan tokoh pluralisme (PLUR: peace, love, unity and Respect). Sehingga di kemudian hari ia melahirkan jargonnya ”Gitu aja kok repot” ? yang diadaptasi dari syair ini dengan Kaidah fiqhiyyah berbunyi ”Al-masyaqqah tajlib al-taisîr” (Kesulitan itu bisa mendatangkan kemudahan), Hadtis Nabi ”Yassirû wa lâ tuassirû” (Permudahlah sesuatu dan jangan mempersulit) serta firman Allah dalam Al-Baqarah: 185, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” ?

Berikut kutipan syair yang dimaksud:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

فإÙ? Ùƒ شمس والملوك كواكب ? # إذا طلعت لم Ù? بد Ù…Ù? Ù‡Ù? كوكب

ولست بمستبْق أخاً لا تلمه # ? على شعث Ø£Ù? الرجال المهذب؟

فإÙ? أك مظلوماً فعبد ظلمته # وإÙ? تك ذا عتبى؛ فمثلك Ù? عتب

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamu seperti matahari, sedangkan raja yang lain adalah bintang. Apabila matahari terbit maka bintang-bintang yang lain tidak mampu menunjukkan diri. Kamu tidak mungkin menemukan saudara yang tidak kamu cela karena kesalahan kecil. Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela? Jika aku dikhianati maka aku adalah hanya seorang hamba yang kau khianti. Jika Kamu orang yang menyalahkan perbuatanku, maka sosok sepertimu sungguh rela.”

Siapa Al-Nabighah Al-Dzibyani?

Ia bernama asli Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah Dhabab bin Jabir bin Yarbu’ bin Ghaidz bin Marrah bin ‘Auf bin Sa’d bin Dzibyan. Karena sejak muda pandai berpuisi ia lebih terkenal dengan panggilan ”Al-Nabighah” yang berarti seorang yang pandai berpuisi. Ibnu Qutaibah berpendapat, dinamai demikian karena salah satu puisi pernah menyebut kalimat “Nabightu”.Ia merupakan salah seorang tokoh penyair terkemuka Arab Jahiliyyah ? dan juga menjabat sebagai dewan hakim dalam perlombaan puisi yang diadakan di pasar Ukadz.?

Sebagian besar ahli sastra Arab mendudukan puisi Al-Nabighah pada deretan ketiga sesudah sesudah Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. ? Ketika perlombaan deklamasi dan berpuisi ? para penyair berdatangan dari segala penjuru tanah Arab semuanya berkumpul di pasar Ukadz, Daumat al-Jandal, dan Dzil Majanah. Dalam kesempatan ini, mereka mendirikan panggung untuk dewan juri, dan salah seorang dari dewan juri itu adalah Al-Nabighah sendiri, karena dia dikenal sebagai seorang yang mahir dalam menilai puisi. Dan apabila ada puisi yang dinilai baik, maka puisi itu akan ditulis dalam lembaran khusus dengan menggunakan tinta emas, kemudian digantungkan pada dinding Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyairnya.

Penyair ini selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada para pembesar dan menjadikan puisinya sebagai alat yang paling ampuh untuk mendapatkan kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itulah ia kerapkali dihasut oleh lawannya. Al-Nabighah termasuk salah seorang pemimpin para bangsawan kabilah Dzubyan, hanya saja karena usahanya mendapatkan harta melalui puisi, mengurangi kemuliaannya. Hampir seluruh umurnya, ia habiskan di kalangan keluarga raja Hira, sehingga raja Hira yang bernama Numan bin Mundzir sangat cinta kepadanya, sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penyair ini di kalangan raja Hira selalu memakai bejana dari emas dan perak, dan hal itu menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi raja Hira. Ini berlangsung cukup lama, sampai salah seorang saingannya memfitnahnya dan menghasut Numan, sehingga ia marah dan merencanakan untuk membunuh Al-Nabighah. Salah seorang pengawal Numan secara diam-diam menyampaikan berita tersebut, sehingga Al-Nabighah pun segera melarikan diri dan meminta perlindungan ke

pada raja-raja Ghossan yang menjadi saingan raja-raja Manadzirah dalam memperebutkan penguasaan atas bangsa Arab. ? Namun, karena lamanya persahabatan yang ia jalin dengan Numan bin Mundzir, Al-Nabighah berusaha untuk membersikan diri atas fitnah yang ditujukan kepadanya dan meminta maaf kepadanya dengan puisi-puisinya untuk melenyapkan kebencian Numan dan meluluhkan hatinya, serta menempatkan kembali posisinya semula di sisi raja Numan bin Mundzir. Hal tersebut dapat dilihat dalam puisi itidzariyat (apologi)-nya berjudul Lawm wa’tidzar sebanyak 12 bait seperti yang dikutip diatas. ?

Keistimewaan puisi Al-Nabighah bila dibandingkan dengan puisi Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma, lebih indah dan kata-katanya lebih berbobot, bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti oleh semua orang. Dan para penyair lain pun tidak jarang yang meniru gaya Al-Nabighah dalam berpuisi, sehingga orang yang suka akan kelembutannya puisinya, seperti Jarir, menganggap bahwa ia merupakan penyair Jahiliyyah yang paling piawai. Ketergiurannya untuk mencari penghidupan dengan puisi, justru membuka teknik baru dalam jenis puisi madah (pujian) serta melakukan perluasan dan pendalaman dalam jenis puisi itu, sehingga dia mampu memuji sesuatu yang kontradiktif.?

Hingga kini pun kumpulan puisinya masih banyak digemari. Diantaranya dikomentari oleh Batholius, diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Perancis oleh Monsiur Dierenburg pada tahun 1868. Al-Nabighah berusia panjang dan meninggal pada 18 SH / 605 M, menjelang keutusan Nabi Muhammad Saw.?

Gus Dur dan Sastra Arab

Secara sosiologis sastra merupakan refleksi lingkungan budaya dan satu teks dialektis antara pengarang dan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra. Sehubungan dengan ini sering dikatakan bahwa syair merupakan Diwan al-`Arab yaitu antologi kehidupan masyarakat Arab (Khafajy, 1973:195). ? Artinya, semua aspek kehidupan yang berkembang pada masa tertentu tercatat dan terekam dalam sebuah karya sastra seperti syair atau puisi.

Dalam sejarahnya, sejak kecil Gus Dur amat mengandrungi sastra. Ketika usainya masih terbilang muda bacaanya sudah serius, dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra. Di antara karya Sastra yang dibacanya ialah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Yang paling berat karya Faulkner,” kenang Gus Dur seperti yang dikutip Hernadi Tanzil.?

Persentuhannya dengan dunia sastra Arab dimulai ketia ia menempuh pendidikan pesantren di Tegalrejo Magelang di bawah asuhan Kiai Chudhori. Di sana bersama seluruh santri ia diwajibkan menghapal teks-teks klasik yang merupakan pelajaran inti pesantren. Teks tersebut lebih banyak berupa puisi berbahasa Arab seperti al-Imrithy, alfiyah, Uqud al-Juman dan sebagainya.?

Jiwa sastranya semakin menggebu ketika Gus Dur meneruskan rihlah ilmiahnya ke Al-Azhar Cairo Mesir. Ia menghabiskan waktu di salah satu perpustakaan yang terlengkap di Kairo, termasuk American University Library, serta toko-toko buku. Lalu pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di universitas ini pula ia banyak bertemu guru-guru luar biasa. Ada salah satu data menarik yang penulis temukan yaitu catatan Gus Dur pada tahun 1389 H atau 1969 M di salah satu cover buku kuliah di Baghdad yang dikarang oleh dosennya itu sendiri:

"Ust. Rasyid Abdurrahman al-Ubaidi adalah seorang guru yang pertama kali mempengaruhi perhatianku dalam bidang gramatika Arab. Oleh karenanya, aku ingin lebih mengenal beliau selama mengajariku, agar aku bisa mencapai derajat sebagaimana yang telah beliau capai."

Di kampus ini pula ia diwajibkan menghapal lebih banyak syair sebagai syarat ujian akhir semester. Selama empat tahun wajib menghapal sebanyak 2500 syair atau 625 bait syair setiapo tahunnya. Dari sinilah ia banyak mengenal, hapal dan terpikat oleh pujangga-pujangga Arab klasik, Al-Nabighah Al-Dzibyani salah satuya. Hingga tak heran tiga bait di atas menjadi pegangan hidupnya.

KH. Husein Muhammad menuturkan, melalui syair ini Gus Dur termotivasi kuat untuk senantiasa sabar menghadapi segala cobaan. ”Bila engkau mencacimaki orang lain, maka orang lain akan mencacimu,” demikian sedikit yang tersirat dari syair tersebut. Irwan Masduqi menambahkan bahwa syair ini dikutip Gus Dur diantaranya ketika beliau merasakan tekanan psikologis saat sedang menghadapi hujatan dari lawan-lawanpolitiknya. Jadi relevan dengan suasana hati dan sosial-politiknya. Gus Dur juga tak takut orde baru dan politikus-politikus saat itu karena Allah laksana matahari yg lebih pantas ditakuti.

KH. Maman Imanulhaq yang mewawancarai Gus Dur tentang syair ini menyimpulkan bahwa konflik di antara saudara bukanlah hal baru. Kepentingan dan kekuasaan jadi faktor utama persaingan itu. Sehinga, jangan heran bila kita dicaci maki oleh saudara sendiri. Kerendah hatian, kecerdasaan n kecerdikan yg akan menyelamatkan kita. Hingga kita bisa keluar jadi pemenang di tengah kepungan orang-orang yang punya ambisi akan kekuasaan.

Penulis adalah Mahasiswa Ma’had Aly Pesantren Tebuireng. Makalah ini disarikan dari berbagai sumber dan disampaikan dalam Halaqah Intelektual Muda Pesantren Bersama Tokoh Lintas Agama, Peringatan 1000 Hari Wafatnya Gus Dur di Tebuireng 28 September 2012. (Red: Anam). Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Halaqoh, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 26 Mei 2011

Ribery Merasa Islam Menjadikannya Lebih Kuat

Munich, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bersaing untuk menjadi pemain terbaik dunia 2013, pemain Bayern Munich asal Perancis yang beragama Islam, Bilal Franck Ribery menyatakan bahwa Islam telah memperkuat dirinya, membuatnya menjadi pemain dan kepala keluarga yang lebih bertanggung jawab.

"Agama merupakan persoalan pribadi, saya percaya, sejak saya memeluk Islam, saya menjadi lebih kuat, baik secara mental maupun fisik,” katanya kepada World Bulletin, Sabtu.

Ribery Merasa Islam Menjadikannya Lebih Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribery Merasa Islam Menjadikannya Lebih Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribery Merasa Islam Menjadikannya Lebih Kuat

“Agama tidak merubah kepribadian atau persepsi saya pada dunia,” katanya menekankan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gelandang Bayern Munich ini memeluk Islam sejak 2006 setelah menikahi Muslimah keturunan Marokko.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Walaupun dia jarang membicarakan keyakinannya, Ribery baru-baru ini mengatakan pada majalah Le Paris Match bahwa dia merasa “aman” dengan Islam.

Pemain berusia 30 tahun ini memperoleh posisi sebagai pemain terbaik Eropa musim 2012/13 akhir Agustus lalu, mengalahkan Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Dia merupakan penantang terberat pemain Barcelona Lionel Messi dan pemain Real Madrid Cristiano Ronaldo, untuk memenangkan Ballon d’Or pada 13 January 2014.

Dalam karirnya did sepak bola ia telah menerima banyak penghargaan dan kejuaraan, tetapi mimpi terbesarnya yang belum tercapai adalah ikut memenangkan kejuaraan Piala Dunia.

"Saya sekarang lebih berpengalaman, saya memenangkan Liga Champion, dan yang belum adalah Piala Dunia, ini mimpi saya,” katanya.

Menawarkan panutan pada generasi muda, Ribery membuka sebuah bar yang bebas alkohol yang menyediakan berbagai jenis jus buah pada akhir tahun lalu.

Bar tersebut dinamai "OShahiz", yang diambil dari nama kedua anaknya Shahinez dan Hizya.

Kebahagiaan

Setelah menemukan Islam selama beberapa tahun ini, dia mengaku mendapat kebahagiaan lain.

"Saya sadar bahwa hidup terdiri dari banyak hal kecil. Karena itulah, saya selalu berhenti ketika ada orang menegur saya di jalanan.”

“Saya berbicara dengan banyak orang. Misi saya adalah membuat orang bahagia.”

Ribery menunjukkan rasa terima kasihnya pada Ayahnya dan pada Wahiba Belhami, istrinya yang keturunan Algeria, yang menjadi alasan kenapa ia memeluk Islam. Dia mengatakan, keluarganya mengajarkannya untuk menghargai orang lain.

“Ayah saya bekerja banyak untuk saya. Dia mengajarkan karakter pemenang, bagaimana mengatasi kesulitan dalam hidup saya belajar banyak darinya. Dia mengajarkan saya untuk tetap “menginjakkan kaki di bumi” dalam setiap kesempatan hidup.

“Karena itulah, saya mencoba menikmati setiap momen, dalam latihan, dalam permainan, saya ingin membuat orang senang, di lapangan dan di luar lapangan.”

“Saya bekerja di konstruksi dengan ayah saya untuk membiaya hidup. Saya bisa main bola ketika masih kecil, dan bahkan sejak waktu itu, saya merasa sepak bola lebih penting daripada sekolah dan saya sadar, saya dapat memperoleh manfaat dari situ.

“Meskipun demikian, saya tidak pernah berpikir akan mencapai karir besar seperti sekarang. Saya pikir, saya dapat bermain di liga pratama atau liga kedua, tetapi saya tidak pernah berpikir mencapai tingkatan tertinggi. Saya memperoleh banyak dukungan dari ayah dan istri yang membantu saya mencapai ini. Sepak bola telah memberikan saya segalanya. (onislam/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 24 Mei 2011

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi

Seorang sahabat saya bercerita, ada teman fesbuknya menulis ujaran kebencian kepada seorang ulama. Isinya caci maki. Tulisan caci maki itu pun mengundang reaksi para pemuda Ansor.

Si penulis status buruk itu diperingatkan oleh anggota Ansor agar menghapus tulisannya. Dia menolak, tetap merasa berhak mencaci si ulama karena menurutnya si ulama itu orang sesat dan munafik karena dia anggap membela seorang Kristen. Sedangkan menurut dia Kristen itu kafir yang harus diperangi.

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi

Anggota Ansor yang lain mengingatkan dia agar berhenti mencaci ulama dan meminta maaf. Si penulis status bergeming, tetap merasa benar dan yang salah adalah si ulama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tak mempan dinasihati, seorang anggota Ansor yang lain lagi memberi ancaman: Tolong hapus tulisanmu, jika tidak, akan kami laporkan ke polisi".

Diancam begitu, si pemuda pengagum Rizieq Shihab itu malah menantang: "Silakan laporkan polisi. Saya tidak takut. Polisi itu thoghut, memakai hukum buatan manusia. Hukum Indonesia itu fasiq. Aku hanya takut hukumnya Allah".

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banyak yang gemes dengan sesumbarnya itu, tapi para anggota Ansor tetap tidak mengancam semisal akan memberi "hukuman adat" padanya.

Para anggota Ansor disertai beberapa angota IPNU lantas mendatangi rumah si penulis status. Itu upaya terakhir memberi nasihat. Dengan ditemui langsung diharapkan dia akan berhenti pongah. Ternyata tidak, tetap saja sombong dan menantang semakin kencang.

"Silakan laporkan polisi sekarang juga jika kalian tidak terima," ucapnya congkak.

Usai dari rumah si pemuda, para pemuda Ansor langsung ke kantor polisi untuk melapor. Polisi pun memproses laporan tersebut, dan pada hari berikutnya polisi menyampaikan surat panggilan pemeriksaan kepada si pemuda terlapor.

Tak seperti omongannya, si pemuda gemetar begitu mendapat surat panggilan dari polisi. Dia ternyata takut datang ke kantor polisi. Istrinya pun menangis karena melihat suaminya begitu ketakutan akibat terbayang akan dipenjara.

Sore itu, si pemuda congkak yang kini lututnya lemes itu lantas membawa anak dan istrinya ke rumah ketua Ansor. Sambil menangis mengiba-iba dia meminta maaf dan meminta agar laporan itu dicabut.

"Mas, Pak, Kang. Tolong kasihani saya. Ini keluarga saya akan menderita jika saya dipenjara. Mohon maafkan saya, status saya sudah saya hapus dan saya berjanji tidak akan mengulangi. Mohon cabut laporan ke polisi itu. Saya sungguh menyesal," katanya sambil menekuk lutut tanpa menyerah.

Sebenarnya para pemuda Ansor gemes padanya. Ingin mereka meniru ucapan orang-orang GNPF MUI dan FPI: "Maafkan sih maafkan, tapi proses hukum jalan terus". Atau bahkan menggerakkan massa untuk mendemo sampai tiga jilid.

Tapi jelas hal itu tidak akan dilakukan. Sahabat-sahabat Ansor itu terlalu lama digembleng ilmu hikmah oleh para kiai, sehingga hati mereka langsung luluh melihat tangisan seorang wanita dan anaknya. Kasihan pada istri dan si anak dari pemuda itu, maka dimaafkanlah sang penghina ulama.

Ketua Ansor lantas memerintahkan agar mencabut laporan ke polisi. Polisi dinego agar tidak melanjutkan kasus tersebut.

Saya tertawa membayangkan seorang yang congkak tiba-tiba gemetar dipanggil polisi. Hahaha... (Mohammad Ichwan)



Sumber Cerita: Ketua PW IPNU NTB


Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Budaya, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Mei 2011

Tiga Makam Keturunan Pengarang Simtuddurar

Mengikuti acara haul muallif (pengarang) kitab maulid Simtuddurar Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Gurawan Pasar Kliwon Solo, tentu terasa kurang lengkap apabila belum berkunjung ke sebuah ruangan kecil yang terletak di sebelah selatan Masjid Riyadh.

Di dalam ruangan tersebut, terdapat tiga makam para keturunan Habib Ali, yakni makam Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, dan diapit dua makam lainnya; Habib Anis bin Alwi al-Habsyi dan Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.

Tiga Makam Keturunan Pengarang Simtuddurar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Makam Keturunan Pengarang Simtuddurar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Makam Keturunan Pengarang Simtuddurar

Nama pertama yang disebut merupakan putera kandung Habib Ali. Habib Alwi hijrah ke Indonesia untuk berdakwah, dan pada akhirnya pada tahun 1355 H ia mendirikan sebuah masjid di Solo. Masjid tersebut diberi nama sama dengan masjid yang didirikan oleh ayahnya di Hadhramaut, yakni Masjid Riyadh.

Sedangkan dua nama berikutnya, merupakan putera Habib Alwi atau cucu dari Habib Ali Al-Habsyi. Habib Ahmad lahir ketika ayahnya masih di Hadramaut, lain halnya dengan adiknya, Habib Anis yang lahir di Indonesia. Keduanya meneruskan perjuangan para leluhurnya, sebagai pendakwah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain pada acara haul, ketiga makam tersebut setiap harinya hampir tidak pernah sepi dari peziarah. Bahkan, terkadang datang rombongan bus dari luar daerah. Hal yang tidak jauh berbeda dengan makam para Walisongo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut keterangan dari salah satu orang yang pernah nyantri kepada Habib Anis, KH Ahmad Baidlowi, peziarah paling banyak yang datang pada malam Jum’at. “Khususnya pada malam Jum’at Legi, saat diadakan rutinan pembacaan kitab maulid Simtuddurar,” terang Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo itu, belum lama ini.

Pada kesempatan itu, setidaknya ada ratusan pengunjung yang ikut hadir untuk ngalap berkah dari berziarah dan pembacaan sholawat nabi. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Khutbah, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 09 Mei 2011

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Di kalangan Nahdlatul Ulama berlaku pameo, jika tidak ada guyonan atau ledekan, maka itu bukan pertemuannya NU. Demikiian lekat pameo itu melekat NU, sehingga bisa dipastikan setiap ada pertemuan ulama atau para kiai NU, pasti ada humor segar yang terlontar. Spontan dan tentu saja menggelikan.?

Seperti terjadi di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Kamis (16/3. Meski masalah yang dibahas para kiai khos (kiai sepuh) NU adalah masalah genting negara dan bangsa, tetap saja terjadi ger-geran karena adanya guyonan yang dilontarkan.?

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Bahkan guyonan itu juga terjadi ketika pembacaan naskah deklarasi hasil pertemuan yang dinamai Risalah Sarang. Di penghujung acara, ketika para kiai mendapuk Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membacakan naskah risalah, mantan Rais Am PBNU yang biasa dipanggil Gus Mus ini pun membacakan naskah dengan gaya pidatonya yang puitis.?

Dengan nada sastra yang tartil, ia membacakan mukaddimah yang berisi ayat ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian ayat yang dikutip dari naskah Muqoddimah Qonun Asasi NU yang disusun Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, dibacakan Gus Mus dengan penuh khidmat. Hadirin dan para wartawan pun seksama mendengarkan, seraya merekam suara atau merekam video dengan kamera profesional atau smarthphone masing masing.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiba tiba, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin ini nyeletuk: "WAH, di sini gak ada Al Maidah ini...."

Spontan hadirin pun tertawa; "Gerrr... Hahahaa...."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa orang di barisan belakang menyeletuk: Wah, ini menohok ini... Hehehe....

Dan Gus Mus pun melanjutkan membaca poin-poin naskah risalah itu sambil sesekali melontarkan canda. Seperti ketika membacakan tentang komitmen terhadap NKRI, kiai yang pandai bersyair ini mencandai tuan rumah, Kiai Maimun Zubair.?

Mbah Maimun itu suka menyebut saya orang NU nomor satu. Karena saya dinilai selalu menomorsatukan NU. Sedangkan bagi beliau, nomor satu itu Garuda Pancasila, nomor dua baru NU. Tapi saya kan selalu bilang bahwa NU itu selalu ada dan selalu berada di depan untuk NKRI. Jadi tetap saja Republik Indonesia adalah nomor satu.?

"Gerrrr..." lagi lagi hadirin tertawa. Mbah Maimun yang persis berada di sampingnya ikut terkekeh meski tak sampai bersuara.?

Wah...mbulet tenan iki, sahut seorang peserta Silatnas. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Korp Pelajar NU Paciran Persiapkan Fasilitator Andal

Lamongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Corp Brigade Pelajar dan Korp Pelajar Putri NU Paciran kabupaten Lamongan mendidik 60 pelatih untuk membimbing para kader di Kantor MWCNU Paciran, Kamis-Jumat (11-12/12). Utusan dari setiap komisariat dan ranting ini, dipersiapkan secara mental dan materi untuk mengawal kader CBP-KPP di kepengurusannya masing-masing.

Komandan CBP Paciran Jion mengatakan, CBP dan KPP Paciran tengah berbenah diri khususnya dalam rangka meningkatkan kemampuan agar menjadi fasilitator andal di pelbagai kesempatan.

Korp Pelajar NU Paciran Persiapkan Fasilitator Andal (Sumber Gambar : Nu Online)
Korp Pelajar NU Paciran Persiapkan Fasilitator Andal (Sumber Gambar : Nu Online)

Korp Pelajar NU Paciran Persiapkan Fasilitator Andal

“Inilah alasan mengapa sering kali CBP KPP dipercaya untuk mengisi acara outbond di lembaga pendidikan utamannya saat MOP (masa orientasi pelajar) dan LATPIM (latihan kepemimpinan),” kata Jion.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua IPPNU Paciran Inayati Masadah mendukung upaya ini. Menurutnya, CBP dan KPP Paciran memang harus menjadi yang terbaik utamannya dalam menjadi fasilitator andal. Ia berharap kader setiap IPNU dan IPPNU Paciran menjadi pemateri pada MOP dan LATPIM. Sementara CBP dan KPP bisa ikut andil terutama dalam permainan out door.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu peserta Aprilia Rohmawati menganggap penting pelatihan seperti ini. “Dengan acara ini kami tahu bagaimana menjadi fasilitator dan bisa menciptakan permainan-permainan yang baru. Kita juga belajar bagaimana mengondisikan peserta di luar ruangan,” kata April. (Ruri/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah