Jumat, 09 Februari 2018

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah mengadakan pelatihan metode membaca kitab secara cepat dengan metode Al-Ikhtishor dan Al-Lubab di aula Kemenag Demak, Selasa (7/10). Sebanyak 100 perwakilan dari pengurus pesantren dan madrasah diniyah takmiliyah sekabupaten Demak mengikuti pelatihan metode yang dikembangkan alumni pesantren Mathaliul Falah dan Al-Anwar Sarang ini.

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning

"Metode cepat membaca kitab kuning banyak. Sudah ada empat metode yang kita (Kemenag Kanwil Provinsi Jawa Tengah-red) fasilitasi. Ada metode Amtsilati, Ibtidai, Al-Lubab, dan Al-Ikhtisor. Ini merupakan solusi yang efektif bagi orang tua yang tidak punya banyak waktu untuk mendidik dan mengajari baca kitab anaknya," kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kemenag Jawa Tengah Mukhtasit, Selasa (7/10).

Sejalan dengan itu, belakangan ini muncul banyak metode cepat agar bisa memahami kitab kuning. "Kalau dulu perlu belajar sampai 10 tahun di pesantren, kini satu bulan cukup untuk bisa membaca kitab kuning," ujar Fakhrudin, pencetus metode Al-Lubab. Ini merupakan solusi atas minimnya waktu untuk mempelajari kitab kuning dengan panduan satu kitab Al-Lubab.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk Al-Ikhtishor sudah ada memiliki manajemen untuk mengembangkan metode ini. Di bawah naungan KH Nur Kholis, metode Al-Ikhtishor sudah berjalan selama empat tahun. Hanya dengan waktu dua bulan dalam waktu lima puluh jam sudah bisa membaca kitab gundul. Dengan pengajaran satu jam tiap harinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kunci yang harus dipegang adalah tidak hanya hafal tapi teliti dan mau berpikir," ungkap kiai Amin Fauzan Badri selaku penulis kitab Al-Ikhtishor.

Kitab ini merupakan teori yang dilanjutkan praktik. Seseorang yang ingin menguasai kitab kuning harus praktik 3-6 bulan untuk kitab yang berkategori mudah seperti Fathul Qorib, kitab fikih Tahrir untuk menengah dan sulit untuk kitab gundul secara umum.

Metode Al-Ikhtishor, ibarat pisau, semakin sering digunakan semakin tajam. Tinggal bagaimana kita menggunakan pisau ini untuk kebutuhan kita dalam memahami kitab sebagai sumber ilmu pengetahuan. Selain itu, Semua kalangan bisa menggunakan metode ini dengan syarat bisa baca tulis latin (bahasa Indonesia) dan Arab.

Kegiatan ini merupakan respon atas keprihatinan pendidikan diniyah yang tak banyak mendapatkan perhatian dari para orang tua. Terlebih setelah dikeluarkannya Surat Edaran (SE) No. 420/006752/2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jateng untuk melaksanakan lima hari sekolah tingkat SMA/SMK.

Ini merupakan kekhawatiaran tersendiri bagi eksistensi pendidikan diniyah di provinsi Jawa Tengah. Pasalnya, selama ini pendidikan diniyah banyak dilakukan siang/sore hari. Maka ilmu-ilmu keagamaan akan banyak dilupakan. Itulah hal yang yang dikhawatirkan Sholihin, Kabid PD Pontren Kemenag ? Jateng. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara, Berita, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sambut Siswa Baru, Pelajar Ta’mirul Islam Gelar Pentas Seni

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Halaman Masjid Tegalsari Surakarta berubah bak pasar rakyat. Tumpah ruah pengunjung meramaikan acara pameran dan pentas karya seni yang digelar SD-MI Ta’mirul Islam Surakarta, Ahad (31/1) pagi.

Menurut Ketua panitia kegiatan Andang Adiyanto, acara pentas seni dan pameran hasil karya siswa ini diselenggarakan untuk mendorong anak untuk bisa berkreasi lewat karya dan pentas seni.

Sambut Siswa Baru, Pelajar Ta’mirul Islam Gelar Pentas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Siswa Baru, Pelajar Ta’mirul Islam Gelar Pentas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Siswa Baru, Pelajar Ta’mirul Islam Gelar Pentas Seni

“Kami ingin mengajak anak-anak agar berani berkreasi dan berkarya. Selain itu juga memperkenalkan mereka pada kesenian Islam,” terang Andang saat ditemui di sela-sela acara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lomba yang diadakan di antaranya lomba peragaan busana muslim, hafalan surat pendek, dan lomba mewarnai yang diikuti siswa TK/RA se-Solo Raya. “Untuk pentas seni anak-anak menampilkan seni rebana dan drama,” ujar dia.

Acara ini diadakan setiap tahunnya dan kali ini bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Selain lomba dan pentas seni, panitia juga mengadakan kegiatan bazar. Bazaar yang berisi hasil karya seperti kaligrafi dan lukisan, dan kerajinan tangan lainnya, buatan para siswa.

Roni, salah satu pengunjung mengatakan sangat gembira mengikuti acara ini, “Acaranya sangat mengasyikkan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan yang menampilkan pentas seni dan karya anak ini memang bagus untuk memancing kreativitas anak. Selain itu, lewat acara ini juga dapat menumbuhkan keberanian pada anak sehingga dapat memunculkan karakter yang bagus bagi anak. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LPBINU Lakukan Langkah Taktis Tangani Korban Gempa Aceh

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Korban gempa bumi 6,5 SR yang mengguncang Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun di Provinsi Aceh makin terus bertambah berdasarkan data statistik. Jumlah korban yang masih berbeda-beda yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga membuat LPBINU terus melakukan langkah taktis penanganan korban.

LPBINU Lakukan Langkah Taktis Tangani Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Lakukan Langkah Taktis Tangani Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Lakukan Langkah Taktis Tangani Korban Gempa Aceh

Menurut Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) M. Ali Yusuf, validasi data korban terdampak berperan penting agar distribusi bantuan tepat sasaran.

“Hingga sekarang Tim LPBINU yang telah turun ke lapangan terus melakukan assessment langsung terhadap jumlah korban karena hal ini penting untuk segera melakukan tindakan bantuan secara cepat dan tepat,” ujar Ali Yusuf, Jumat (9/12) di Jakarta.

Dia juga menerangkan bahwa timnya sudah berkoordinasi dengan para pengurus NU di Aceh, baik PWNU maupun PCNU di tiga kabupaten. Pos kemanusiaan NU juga telah didirikan di beberapa titik untuk memudahkan proses evakuasi korban dan distribusi bantuan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Informasi sementara yang kami dapatkan, saat ini para korban sangat membutuhkan makanan instan cepat saji yang tidak memerlukan proses lama. Selain itu, kebutuhan obat-obatan dan logistik yang diperuntukan bagi perempuan dan anak-anak juga krusial,” jelasnya.

Rilis terkini data korban

LPBINU juga ikut merilis data yang telah dikelaurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Aceh selain data dari Dinas Sosial yang kecenderungannya berbeda-beda.?

Data dari 3 kabupaten yaitu Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun menurut BPBD Aceh hingga 9 Desember 2016 adalah sebagai berikut:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Korban meninggal: 103 orang

Korban luka: 589 orang

Mengungsi: 10.301 orang

Rumah rusak: 11.378

Masjid rusak: 58

Mushollah rusak: 88

Ruko rusak: 109

Dayah/Pesantren rusak: 3

“Selain itu, Kampus Al-Aziziyah dan sebuah sekolah juga hancur serta berbagai fasilitas umum, kantor, dan infrastruktur juga rusak,” tandas Ali Yusuf. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

Bawa HP ke Masjid

Dua orang santri polos sedang berlibur di daerah Gunung Kidul. Sebut saja namanya Jono dan Udin.? Kebetulan hari itu adalah hari Jumat. Hari dimana umat Islam melaksanakan kewajiban Shalat Jumat.

Namun yang satu ini unik. Pasalnya Jono dan Udin ragu ketika hendak melaksanakan Sembahyang dua rakaat berjamaah itu.

Bawa HP ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Bawa HP ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Bawa HP ke Masjid

Di Sebuah masjid yang Jono dan Udin hendak mengikuti jamaah shalat, sang khotib sedang fasih-fasihnya berdalil, sementara mereka malah sibuk berdiskusi.

Udin: Jon, ketoke dewe rasido Jumatan iki (Jon, kayaknya kita bakal gak jadi sembahyang Jumatan ini).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jono: Loh, kok?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Udin: Iyo, aku wedi Jon (Iya, saya takut Jon).

Jono: Kok wedi? Ga ono Teroris kok wedi (Kok takut? Gak ada teroris kok takut).

Udin: Aku wedi di pateni Jon (Saya takut dibunuh Jon).

Jono: Maksudmu !!!

Udin: iku lho, deloken nang tembok ono tulisan, "Ingkang betho HP nyuwun tulung dipateni" (Itu lho lihat di dinding ada tulisan "Bagi yang bawa HP mohon dimatikan).

Jono: Wah, hoo din, aku yo gowo HP, waduh piye iki? Mlayu wae din timbang dewe mampang ndek koran (Wah, iya din, saya juga bawa HP, waduh, gimana ini? Lari aja yuk, daripada kita mampang di koran).

(Anwar Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi berharap Hari Raya Idul Fitri dapat diperingati bersama oleh umat Islam. Karena itu, ia berharap sidang isbat (penatapan) 1 syawal yang diselenggarakan Deperteman Agama 22 Oktober menghasilkan keputusan yang sama.

 

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai

“Kami berharap sidang itsbat menghasilkan keputusan sama atau tidak ada berbedaan diantara umat Islam,” kata KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Kamis (19/10).Jika terjadi perbedaan, Cak Hasyim, demikian ia akrab disapa,  menyerukan kepada umat Islam untuk saling menghargai satu sama lain. Ia tidak menghendaki terjadi gesekan antara kelompok umat Islam gara-gara penetapan bulan syawal yang berbeda.”Andai tidak mencapai kesepakatan bersama, diharapkan semuanya saling menghargai,” katanya.

 

Lebih lanjut, mantan Ketua PWNU Jawa Timur itu menambahkan, perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam dalam menetapkan awal bulan selama ini sebenarnya hanya persoalan metodologi. NU selama ini menggunakan cara rukyah atau melihat bulan secara langsung, selain cara hisab atau perhitungan astronomi. Sementara ormas lainnya menggunakan cara hisab saja.”Perbedaan itu hanya karena perbedaan metodologi. Karena itu, harus ada saling menghargai satu sama lain,” tegasnya.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menanggapi adanya kalangan yang menginginkan agar pemerintah tidak campur tangan dalam menetapkan awal bulan syawal, ia mengatakan, bahwa pemerintah dalam hal ini Departemen Agama harus tetap berparan dalam penetapan awal syawal.”Harus ada yang jadi hakim, yaitu pemerintah,” katanya.(mil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Ahlussunnah, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dibesarkan dalam tradisi surau di Sumatera Barat, Asrul Sani memperjuangkan aspirasi para kiai. Iklim politik era Sukarno, memosisikan prinsip-prinsip estetika di dalam lingkaran aspirasi yang harus diperjuangkan di tengah masyarakat. 

Perihal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Abdul Mun‘im DZ kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (25/3) petang.

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai

“Di era Orde Lama, kesenian merupakan sebuah sarana terdepan bagi perjuangan antarpartai,” tambah Abdul Mun‘im DZ.

Pada waktu itu, lanjut Abdul Mun‘im, Asrul Sani menilai pentingnya kehadiran sayap kesenian dari para kiai tergabung dalam Partai Nahdlatul Ulama. Karena argumentasi yang bagus, Asrul Sani sanggup meyakinkan partai NU untuk membentuk lembaga kesenian yang kemudian disebut Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Argumentasi keagamaan yang dikedepankan Asrul Sani di hadapan para kiai mencerminkan kematangan Asrul Sani sebagai seniman yang dibesarkan surau.

Kepercayaan para kiai NU membuat Asrul Sani bergerak leluasa dalam memperjuangkan aspirasi Partai NU dalam bidang kesenian. Selain itu, ia menjembatani para kiai NU dan seniman yang akan bergabung di Lesbumi.

Asrul menjaring para sineas antara lain Misbach Yusa Biran, Sukarno M Noor, Usmar Ismail, dan lain-lain dalam gerbong LESBUMI. Mereka aktif menulis dan membuat film sesuai dengan prinsip estetika di kepala kiai NU, tandas Abdul Mun‘im.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Pondok Pesantren, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU Jatim Dukung Revisi UU Terorisme demi Kedaulatan NKRI

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemerintah dan DPR harus segera melakukan revisi terhadap Undang-undang terorosme. Sejumlah pasal harus diubah lantaran banyaknya ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pandangan ini disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW LTN NU Jatim), Ahmad Najib AR usai silaturahim dengan sejumlah Ketua PC LTN NU se-Jatim di Malang.

NU Jatim Dukung Revisi UU Terorisme demi Kedaulatan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Dukung Revisi UU Terorisme demi Kedaulatan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Dukung Revisi UU Terorisme demi Kedaulatan NKRI

"Dalam pandangan kami, ancaman terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI sangat jelas di depan mata," katanya, Ahad (27/3). Masuk dan berkembangnya ideologi di luar Pancasila yang nyata-nyata melawan NKRI hingga kini demikian tumbuh subur dan tidak dianggap sebagai ancaman berarti oleh negara, lanjutnya.

Padahal perubahan ideologi yang masuk ke negeri ini demikian cepat. "Nah, demikian cepatnya ideologi tersebut juga harus diimbangi dengan sikap tegas dan cepatnya aturan yang ada," terang Gus Najib, sapaan akrabnya.

Pada kegiatan yang berlangsung di Kantor PC NU Kota Malang tersebut, Gus Najib kemudian mengemukakan bahwa UU Nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan terorisme dan UU Nomor 9 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan terorisme sudaj kalah gesit dengan perkembangan terorisme itu sendiri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekedar memberikan contoh, serangan teroris yang pernah terjadi di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, awal tahun lalu sebagai bukti akan kelemahan dari aturan yang menyangkut terorisme. "Hanya karena tidak ada payung hukum, maka beberapa orang yang nyata-nyata memiliki bukti kuat akan melakukan tindakan teror, akhirnya tidak dapat ditindak," kata alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Dan penangkapan terhadap sejumlah orang terkait aksi teror di Jalan MH Thamrin tersebut baru dilakukan setelah teror terjadi, lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kendati demikian, Gus Najib yang diamini utusan dari sejumlah kota dan kabupaten di Jatim ini mengingatkan bahwa tindakan preventif dan deradikalisasi memang mutlak dilakukan. "Namun negara harus melakukan kajian mendalam terkait penindakan, sehingga tanpa harus melanggar Hak Asasi Manusia," terangnya.

Karena sangat mendesaknya kondisi ini, maka Gus Najib berharap semua komponen yakni DPR dan pemerintah untuk dapat duduk bersama dalam membincang persoalan krusian ini. "Jangan sampai kita terlambat, dan baru menyadari potensi radikalime telah tumbuh subur di sejumlah daerah sehingga dapat menyulitkan," pesannya.

Salah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Baytul Hikmah Pasuruan tersebut kemudian membandingkan dengan Malaysia dan Singapura. "Dua negara ini langsung dapat mendeteksi orang yang baru pulang dari Suriah karena terlibat ISIS," ungkapnya. Sedangkan untuk di Indonesia, sudah ada 100 lebih orang yang kembali dari Suriah, namun tidak ada penanganan yang intensif, lanjutnya.

Berdasarkan catatan kepolisian pada November 2015 lalu, terdapat 384 warga negara Indonesia yang sudah terkonfirmasi bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah. Sebanyak 46 di antara mereka sudah kembali ke Indonesia. "Angka ini tentu saja terus bertambah dan akan menjadi ancaman yang sangat berat bagi NKRI di masa mendatang," katanya.

Gus Najib juga sangat menyayangkan lahirnya organisasi yang nyata-nyata tidak mengakui ideologi Pancasila, namun bebas beraktifitas. "Mereka melakukan rekrutmen anggota, mengadakan tablig akbar dan sejenisnya padahal tidak mengakui NKRI dan Pancasila," sergahnya.

Karena itu sudah sangat mendesak untuk dilakukan revisi terkait aturan yang menyangkut terorisme. "Bila tidak, negeri ini akan menjadi luluh lantah karena kemunculan gerakan sempalan yang tidak mampu dibendung negara," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah