Rabu, 07 Februari 2018

Kiai Bisri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Ketika masyarakat menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pandangan keagamaan, para ulama Nahdlatul Ulama selalu hadir memberikan jawaban dan sudut pandang. Seperti yang dilakukan para kiai Jombang. Mereka bahkan membuat forum musyawarah khusus, membahas berbagai persoalan, saling menyodorkan dalil, dan menjawab kegelisahan.

Dipimpin KH M Bisri Syansuri salah satu pendiri NU), para kiai Jombang tercatat beberapa kali mengadakan forum Musyawarah Ulama Jombang. Kegiatan ini dikoordinasi oleh Pengurus Imarah Masjid Jami Kauman Utara Jombang.

Kiai Bisri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Bisri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Bisri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Hasil dari musyawarah itu terbit menjadi buku berjudul “Muqarrarâtus Syûrâ min ‘Ulamâ Jombang” (Keputusan Musyawarah Ulama Jombang) yang berisikan lima puluh masalah agama. Di antara masalah yang dijawab adalah soal hormat terhadap bendera merah putih yang jamak dilakukan di zaman itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menjawab tentang hormat bendera Merah Putih, tersebutlah dalam tanya jawab bernomor 17, sebagai berikut:

“Bagaimana hukum hormat bendera merah putih lambang negara RI sebagaimana yang berlaku ketika upacara bendera merah putih diadakan?”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawaban:

Mengingat bahwa bendera sang merah putih sebagai lambang negara RI  itu merupakan suatu anugerah Allah yang diberikan kepada bangsa Indonesia, maka hukum menghormati bendera itu adalah boleh, sebab disamakan dengan diperbolehkannya mencium peti (tabut) yang diletakkan di atas maqam para wali untuk diambil barokahnya.

Keterangan dari kitab:

Hasyiah al-Bajury ala Syarh Ibn Qasim,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Buku Muqarrarâtus Syûrâ min ‘Ulamâ Jombang yang memuat jawaban tentang persoalan tersebut diterbitkan pada 15 April 1981 M/ 10 Jumadil Akhir 1401 H dan ditandatangani oleh Ketua Musyawarah Ulama Jombang KH Mahfudz Anwar dan sekretarisnya H Abd. Aziz Masyhuri.

Adapun para ulama Jombang itu adalah:

1. K.H. M. Bisri Syansuri

2. K.H. Adlan Aly

3. K.H. Mahfudz Anwar

4. K.H. Syansuri Badawy

5. K. Muhdlor

6. K.H. Mansur Anwar

7. K.H. Abdul Fattah Hasyim

8. K.H. Cholil

9. K.H. Syansun

(Yusuf Suharto)



* Dikutip dari buku Hasil Keputusan Bahtsul Masail PCNU Jombang 2002-2015 Disertai Muqorrorot Ulama Jombang 1981





Baca juga: Ketika Kiai Umar Mangkuyudan Ditanya perihal Hormat Bendera

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Nusantara, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus PP Fatayat NU Dilantik

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah penyusunan jajaran pengurus PP Fatayat NU selesai dibentuk, pada Sabtu, 6 Agustus 2010, mereka dilantik sekaligus melaksanakan rapat kerja untuk selanjutnya dilakukan aksi nyata.



Pengurus PP Fatayat NU Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus PP Fatayat NU Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus PP Fatayat NU Dilantik

Berikut susunan pengurus PP Fatayat NU periode 2010-2015:

Ketua Umum: Dra Ida Fauziyah

Ketua I: Dra Muzaiyanah Zein

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua II: Dra Neng Dara Afiah MSi

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua III: Dra Rustini Murtadho

Ketua IV: Dra Yana Lathifah Msos

Ketua V: Anggia Ermarini SPd

Ketua VI: Dr Umi Khusnul Khotimah

Ketua VII: Dr Nur Rofiah

Sekretaris Umum: Dra Siti Masrifah MA

Sekretaris I: Nur Afifah SAg

Sekretaris II: Ratu Dian Hatifah SAg

Sekretaris III: Siti Mukarromah SAg

Bendahara Umum: Rahayu Sri Rahmawati SAg

Bendahara I: Hj Santi Anisah SAg

Bendhara II: Maria Apfiati ST

Bersama-sama dengan seluruh jajaran kepengurusan lembaga dibawah Fatayat NU, mereka dilantik oleh Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf. Hadir pula dalam acara tersebut Menakertrans Muhaimin Iskandar.

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah menjelaskan jumlah total kepengurusan mulai dari penasehat sampai anggota lembaga seluruhnya mencapai 99 orang. "Itu pun masih banyak orang yang ingin mengabdi," katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia

Sorong, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innâ lillaahi wa innâ ilaihi râji‘ûn. Kabar duka datang dari Papua Barat. Ketua Majelis Ulama Idonesia (MUI) Kabupaten Sorong dan Ketua Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sorong, KH Achmad Anderson Meage meninggal dunia, Ahad (31/1).

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia

Informasi yang berhasil terhimpun, almarhum wafat di Rumah Sakit Sele Be Solu sekitar pukul 16.00 WIT.

"KH? Achmad Anderson Meage, S.Pdi, M.Pd meninggal kemaren siang (31/1) saat akan mengisi ceramah pengajian di Klafdalim ,beliau pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Saat perjalnan menuju rumah sakit beliau meninggal," tutur KH Ahmad Sutedjo, Rais Suriah PCNU Sorong melalui sambungan telepon pagi ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jenazah almarhum tiba di rumah duka di SP 3 Kelurahan Makbusun sekitar pukul 17.45 WIT. Warga masyarakat yang mengetahui kabar meninggalnya almarhum langsung berbondon-bondong untuk bertakziah ke rumah duka.

Ribuan tamu datang silih berganti, mulai dari para pelajar, santri pondok pesantren, dan ratusan masyarakat dari Wamena. Mereka datang untuk berbelasungkawa dan memberikan penghormatan terakhir berpulangnya sang tokoh yang vokal dalam menyuarakan kerukunan dan persatuan itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampak hadir pula Wakil Bupati Sorong Suka Harjono, Sekda Kabupaten Sorong H Solossa, Kepala BPKAD Kabupaten Sorong Johny Kamuru, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sorong, jajaran Kemenag Kota Sorong, tokoh agama muslim maupun nonmuslim, tokoh masyarakat, dan tokoh adat setempat.

Almarhum dikenal sebagai sosok muslim Papua yang taat dan dekat dengan siapa saja, dan yang perlu diacungi jempol adalah sebagai seorang pemimpin selalu mengayomi semua pihak tanpa membeda-bedakan.

Selain sebagai Ketua MUI dan Ketua FKUB, semasa hidup ia juga sebagai Kepala Sekolah MTsN Model Mariyai (SP 2). Ia lahir tahun 1978 yang dikaruniai 4 orang anak dari satu istri, juga aktif sebagai pengurus Pondok Pesantren Nurul Yaqin (Makbusun). Selain mengajar, almarhum juga selalu aktif untuk memenuhi sejumlah undangan untuk berceramah dalam acara, baik tingkat lokal maupun tingkat Kabupaten.

Aktivis NU Papua, Abdul Wahab menilai Anderson termasuk ulama yang murah senyum dan tegas. Wahab yang pernah berkunjung ke kediamanya bebrapa bulan silam mengaku menerima banyak kenangan bersama ulama yang pandai berbahasa Jawa tersebut.

"Kenangan yang terngiang dibenak saya adalah ketika saya diajak bersama berkunjung ke Pulau Arar. Beliau banyak menceritakan tentang keadan umat beragama di Papua yang rukun dan damai. Beliau juga memberikan nasehat agar bagimana dakwah bisa diterima semua umat," tuturnya.

Wahab menceritakan, Anderson pernah menyampaikan bahwa Papua sebagai provinsi paling timur Indonesia bukan hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga menantikan sentuhan dakwah Islam.

"Tapi karakter Islam yang didakwahkan tersebut harus menampakkan wajah Islam yang santun, teduh, damai, toleran, dan penebar rahmat untuk semesta alam. Islam Nusantara bagi beliau dianggap mampu menjadi perekat NKRI," tuturnya. Al-Fatihah... (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Suluk Matan Turut Semarakkan Peringatan Haul Ke-567 Sunan Ampel

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peringatan haul ke-567 Sunan Ampel dimeriahkan salah satunya dengan acara Suluk Matan yang dilaksanakan selama dua hari, 21-22 Mei 2016, di gedung LPBA-MASA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab-Masjid Agung Sunan Ampel) Surabaya, Jawa Timur.

Matan merupakan singkatan dari Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mutabarah An-Nahdliyah (Matan), badan otonom Jam’iyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An-Nahdliyah (Jatman). Acara dihadiri sekitar 30 anggota dari berbagai daerah di Jawa Timur dan beberapa pelajar dari Malaysia.

Suluk Matan Turut Semarakkan Peringatan Haul Ke-567 Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Matan Turut Semarakkan Peringatan Haul Ke-567 Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Matan Turut Semarakkan Peringatan Haul Ke-567 Sunan Ampel

"Acara Suluk Matan memiliki tema ‘Mencerdaskan Akal, Memuliakan Hati’ yang memang baru pertama kali dilaksanakan di Surabaya sebagai jawaban atas beberapa keresahan kaum muda dan mahasiswa NU untuk memahami lebih jauh dunia thariqah," kata Ketua Panitia Suluk Matan Muhammad Zulfan Badrunaja dari Pesantren Nurul Khoir Wonorejo Rungkut Surabaya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua LPBA dan Ketua Yayasan Sunan Ampel Hifni Nawawi mendukung penuh kegiatan ini. Ia menilai acara yang menjadi rangkaian peringatan haul Sunan Ampel ini berkontribusi besar pada masyarakat dan NU untuk terus mengembangkan spiritualitas masyarakat melalui jalan thariqah.

Acara Suluk Matan diisi dengan pemaparan materi antara laian oleh KH Abdurrahman Navis (Ketua Aswaja NU Center Jatim) tentang ke-Aswaja-an, Wasith (Pengasuh Mahad Aly UIN Sunan Ampel) tentang sejarah Indonesia. Adapula materi kewirausahaan yang disampaikan? Hakim Jayli (Dirut TV9) dan Djohan dari PT Djarum. Sementara Abdulloh Hamid (Pengurus Pusat Matan) menyampaikan seputar organisasi Matan dan KH Zaid bin Muhammad (Muqaddam Thariqah Tijani Ampel Surabaya) menjelaskan tentang tarekat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tindak lanjut dari acara ini antara lain mmebangun kerja sama antara Matan dengan LPBA-MASA, PT Djarum, TV9, PWNU Jatim, dan berbagai pihak lainnya untuk mengadakan kegiatan rutinan Matan Surabaya, memperkuat paham Aswaja dan NKRI, serta membentuk kader-kader muda baru tarekat di area Surabaya dan Sidoarjo. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 06 Februari 2018

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Oleh Muhammad Ishom

Kata “al-ummi” sangat populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157. Secara etimologis kata “al-ummi” berasal dari kata bahasa Arab “al-umm” yang artinya “ibu” dalam bahasa Indonesia. Kata “al-ummi” sebetulnya memiliki makna atau arti yang beragam, salah satunya adalah seseorang yang diasuh sendiri oleh ibunya di rumah.

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Sewaktu saya masih kecil dan duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, salah seorang guru saya mengartikan “al-ummi” dengan “mbok-mboken” yang maksudnya adalah serorang anak yang tidak mau lepas dari ibunya (sehingga tidak pernah sekolah). Akibatnya sang anak menjadi buta huruf. Jadi jika kata “al-ummi” langsung diartikan “buta huruf” itu sebetulnya ada satu proses logis yang dilompati. Dalam kaitan dengan kata “al-ummi” yang dilekatkan kepada Nabi Muhammad SAW, tentu ada hubungannya dengan keberadaan ibu beliau,

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam hal ini cinta sang ibu – Siti Aminah - kepada beliau begitu dalam. Allah SWT juga sangat mencintai beliau sehingga tak seorang pun manusia diberi-Nya kesempatan menyentuh pikiran beliau dengan mengajarkan sesuatu melalui baca tulis. Oleh karena itu, banyak orang mengartikan kata “al-ummi” dengan “orang yang buta huruf” seperti dinyatakan WJS Poerwadarminta dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, terbitan PN Balai Pustaka Jakarta, tahun 1983, halaman 1124.

Pertanyaannya adalah, apakah Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawabnya, sulit untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf, dalam arti tidak bisa membaca dan menulis sama sekali sepanjang hidupnya sebab setelah turunnya Al-Qur’an beliau pernah merevisi rancangan Perjanjian Hudaibiyah yang draftnya ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW menghapus sendiri kata-kata “Rasulullah” dan menggantinya dengan “Ibnu Abdillah” setelah Ali bin Abi Thalib menolak untuk melakukannya. Ali bin Abi Thalib hanya bersedia menunjukkan tempat kata-kata “Rasulullah” saja.

Orang-orang Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr merasa keberatan dimasukkannya kata-kata “Rasulullah” ke dalam teks perjanjian tersebut dan menuntut supaya diganti dengan “Ibnu Abdillah” karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad. Tuntutan ini dipenuhi Nabi Muhammad SAW dengan menghapus dan mengganti sendiri kata-kata itu dengan kata-kata “Ibnu Abdillah”.



(Baca: Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata)


Selain itu Nabi Muhammad SAW juga pernah mengatakan bahwa ada tulisan ? (kafir) di antara kedua mata Dajjal sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam riwayat Muslim, Nabi bahkan mengeja kata ? (kafir) itu dengan ? ? ? (k f r). Artinya ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membaca karena mengeja itu bagian dari membaca.

Namun demikian, merupakan kesalahan besar untuk mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis karena tidak ada bukti empiris tentang hal ini. Dalam Al-Qur’an surah Al’Ankabut ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48 berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Tetapi setelah Al-Qur’an turun Nabi Muhammad SAW pernah suatu ketika menulis kata-kata sebagaimna tertuang dalam teks Perjajian Hudaibiyah di atas. Selain menulis, Nabi Muhammad SAW juga pernah membaca atau mengeja kata sebagaimana diriwayatakan oleh Bukhari dan Muslim di atas.

Hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT dan bukan karya beliau. Semua pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad adalah intuisi (wahyu) dari Allah yang tidak menuntut kemampuan membaca dan menulis. Malaikat Jibril paling sering menyampiakan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode pendengaran dengan mentransfer ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung ke dalam memori Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran dan hati beliau tanpa melibatkan kegiatan visual seperti membaca dan menulis.

Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, beberapa cendekia kontemporer kurang setuju jika hingga sekarang kata “al-ummi” yang melekat pada Nabi Muhammad SAW masih diartikan”buta huruf’. Sebagai gantinya mereka mengusulkan arti atau makna yang lebih sesuai dengan konteks sekarang, yakni “tidak bisa baca tulis” karena memang tidak pernah diajar guru manusia dengan metode baca tulis. Arti baru ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, karangan Ahmad Warson Munawwir, terbitan Pustaka Progresif Yogyakarta, tahun 1997, halaman 40, dimana kata “al-ummi” diartikan “Yang tak dapat membaca dan menulis” dan bukan “buta huruf”.

Rekontekstualisasi makna “al-ummi” di atas, menurut penulis, lebih baik sebab di zaman sekarang “buta huruf” sudah identik dengan “bodoh” dan “terbelakang”. Apalagi ada program pemerintah dan PBB untuk memberantas buta huruf di seluruh negeri dan penjuru dunia. Oleh karena itu rekontekstualisasi makna tersebut menjadi sangat penting untuk menjaga kebesaran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang memang secara faktual memenuhi sifat-sifat wajib rasul yang meliputi: fathonah (cerdas dan tidak pelupa), shiddiq (berkomitmen tinggi terhadap kebenaran), tabligh (mau dan mampu menyampakan wahyu), dan amanah (sangat kredibel).

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Nasional, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Pepatah klasik mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Dalam konteks Indonesia dahulu dan sekarang atau dalam istilah era milenial, “zaman old” dan “zaman now”, memahami secara luas tentang keindonesiaan memberikan energi positif terkait tumbuhnya rasa cinta dan sayang.

Ketika warga bangsa tidak memahami betapa kayanya Indonesia dari segala sisi, maka ia akan terjebal dengan primordialisme sempit. Dalam arti sikap tertutup (eksklusif) yang akan berdampak pada sikap apriori terhadap keberagaman bangsa Indonesia tersebut.

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Abdul Ghopur dan Rizky Afriono, dua anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang kini aktif sebagai Dirketur dan Sekretaris di Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) ingin menghadirkan kembali jiwa nasionalisme dan cinta di dada para pemuda dengan menulis buku Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui.

Buku ini bukan hanya mengemukakan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi berupaya mengungkap sembilan fakta tentang Indonesia yang perlu dipahami masyarakat secara luas. Tidak lain dan tidak bukan, fakta tentang khazanah bangsa Indonesia yang digubah dalam buku ini ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa kaya yang perlu dijaga.

Dengan mengungkapkan sembilan fakta tentang Indonesia guna menumbuhkan rasa mempunyai dan rasa cinta tanah air dalam diri warga bangsa, Ghopur dan Rizky sekaligus berusaha berusaha “menggugat” kembali makna dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang kian hari kian menipis, meluntur, dan perlahan sirna. Sirna yang entah karena tergerus oleh eforia dan hempasan globalisasi atau memang sirna karena bangsa ini menghendakinya? 

Buku ini juga hendak menggugah kesadaran kita bersama dan mengajaknya ke dalam serangkaian pengembaraan batin dan pemikiran pada “kekayaan” yang dimiliki Indonesia meliputi; sumber daya alam (SDA), keragaman etnis, suku, ras, bahasa dan budaya, adat istiadat, agama dan nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Anugerah kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan beraneka ragam jenisnya, selayaknya wajib disyukuri, dijaga dan tentunya dipelihara secara terus-menerus dari “tangan-tangan jahil” dan tidak bertanggung jawab, yang hanya mau mengeruk-kuras tanpa mempertimbangkan kelestarian dan keselarasan lingkungan. Sebab, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya harmoni dan keselarasan terhadap alam dan lingkungannya.

Menyitir perkataan Bung Karno, “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Ini prinsip kerja keras yang ada pada diri masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Selayaknya, prinsip agung para pendiri bangsa ini diwariskan kepada generasi muda agar tertanam jiwa kerja keras untuk menjaga dan merawat Indonesia yang kaya ini.

Adapun sembilan poin yang diungkap dalam buku ringan setebal 110 ini ialah, pertama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kedua, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Ketiga, Indonesia adalah negara dengan jumlah suku bangsa terbesar di dunia.

Keempat, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak saat ini. Kelima, Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Keenam, Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam terlengkap.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketujuh, Indonesia dengan negara keragaman Fauna terbanyak di dunia. Kedelapan, Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati laut terbanyak di dunia. Kesembilan, Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah perang dunia kedua.

Kesembilan fakta menakjubkan tentang Indonesia tersebut bukan hanya diterangkan secara retoris oleh Ghopur dan Rizky, tetapi juga diungkapkan dengan bukti dan data-data konkret. Bahkan, mereka berdua mengemas deskripsi dari sembilan fakta tersebut secara historis. Sehingga membawa pembaca juga memahami sejarah Indonesia dan perkembangannya saat ini. 

Menariknya, buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) pada Oktober 2017 ini menyisipkan lagu-lagu nasional di setiap akhir sembilan artikel fakta tersebut. Dua penulis buku lagi-lagi berupaya menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia lewat lagu-lagu tersebut. Sederhana, tetapi memberi pesan dan kesan mendalam di tengah krisis identitas seperti sekarang ini. 

Data buku

Judul: Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Penulis: Abdul Ghopur dan Rizky Afriono

Penerbit: Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB)

Cetakan: I, Oktober 2017

Tebal: xiv + 110 halaman

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Oleh Hagie Wana



Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses berkomunikasi adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata (verbal), gerakan tubuh (nonverbal) ataupun objek lainnya yang maknanya disepakati bersama seperti contohnya memasang bendera kuning adalah tanda berduka bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa. Simbol atau lambang tersebut sangat variatif dan bergantung pada kebudayaan yang berlaku di sebuah tempat.

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Dalam dunia Islam, penggunaan simbol sebagai media berkomunikasi bukanlah hal yang asing. Namun minimnya pengetahuan dan kekakuan dalam menginterpretasikan nash/dalil, tak jarang banyak pihak yang menolak keberadaan simbol-simbol dalam proses kehidupan beragama. Yang kemudian mengategorikan simbol-simbol dalam kehidupan beragama itu ke dalam takhayul, bid’ah, khurafat atau bahkan tak tanggung-tanggung, yaitu musyrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai contoh, suatu ketika saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa, Rasul memutar posisi sorbannya sebagai bentuk doa bir rumuz, yakni berdoa dengan menggunakan isyarat atau simbol. Berdoa dengan simbol pun sering dilakukan oleh umat Islam di Nusantara. Contohnya sebagian kelompok masyarakat Sunda ketika akan pindah/menempati rumah baru, hal yang pertama dipindahkan adalah pabeasan (tempat menyimpan beras) terlebih dahulu sebelum barang yang lain. Ini adalah bentuk doa agar kelak saat mendiami rumah tersebut akan tercukupi kebutuhan pangannya.

Tidak hanya dalam doa, penggunaan simbol juga biasa dilakukan dalam proses pendidikan. Sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mendapat aduan dari Yahudi yang merasa dizalimi oleh salah satu gubernurnya di wilayah pemerintahnnya kala itu, Umar bin Abdul Aziz mengambil sebuah tulang unta, kemudian membuat goresan lurus pada tulang tersebut dengan pedang, lalu beliau memerintahkan Yahudi itu untuk membawa tulang tersebut pada gubernurnya. Ketika tulang dibawakan ke hadapan gubernur, tiba-tiba sang gubernur bergetar dan bercucuran keringat. Si Yahudi pun terheran-heran. Saat ditanyakan, sang gubernur menjawab “Ini adalah pesan dari khalifah Umar agar aku berbuat adil (lurus) sebagaimana lurusnya garis pada tulang ini. Kalau aku tak sanggup, maka pedanglah yang akan meluruskan perbuatanku”. Sang gubernur itu lalu meminta maaf atas kekhilafannya. Menyaksikan kejadian ini, Yahudi itu tertunduk kagum pada dua orang yang ditemuinya itu, lalu dengan mantap ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses komunikasi dengan simbol tersebut, telah berperan mengantarkan Yahudi tadi memeluk agama Islam.

Jadi, proses pengunaan simbol yang kerap dilakukan oleh leluhur kita sebagai media bekomunikasi apa pun itu konteksnya, entah sebagai doa, nasihat, atau proses pendidikan, bukanlah hal yang bertabrakan dengan aqidah. Sebagaimana telah dilakukan dari zaman Rasul, Sahabat, dan generasi-generasi berikutnya hingga sampai pada kita sekarang. Ada banyak pesan moral yang terkandung dalam simbolisasi tersebut. Orang tua kita telah sedemikian sempurna dalam menyampaikan sebuah pesan melalui media simbol yang terkadang lebih efektif dan efisien dibanding dengan beretorika belaka. Masalahnya kita tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencari makna dari pesan yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut, lalu terjebak pemahaman yang cenderung normatif daripada substanstif dalam menginterpretasikan dalil, menyebabkan kekeliruan memahami konsep musyrik yang sebenaranya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu seiring perubahan zaman, masih efektifkah proses penyampaian pesan menggunakan simbol-simbol? Atau mampukah kita membuat model komunikasi dengan penggunaan simbol sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terdahulu kita?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah