Senin, 15 Januari 2018

Hidayat dan Hasyim Dukung Tim Investigasi Katering Haji

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nurwahid dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mendukung penuh putusan Presiden SBY membentuk tim investigasi kasus katering haji. Masyarakat pun diimbau ikut memberikan dukungan.

"Semua pihak harus mendukung penuh tim investigasi yang dibentuk Presiden untuk mengoreksi secara penuh pelaksanaan ibadah haji tahun ini agar kejadian kelaparan yang terjadi tidak terulang di masa datang," kata Hidayat Nurwahid usai bertemu Hasyim di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1)

Menurut dia, pemerintah melalui menteri agama harus meminta maaf secara tulus dengan bahasa yang dipahami jamaah haji dengan tetap menyampaikan bahwa telah terjadi ketidaktepatan kebijakan tentang penunjukan itu serta menyampaikan usaha perbaikan terus dilakukan.

Hidayat dan Hasyim Dukung Tim Investigasi Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayat dan Hasyim Dukung Tim Investigasi Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayat dan Hasyim Dukung Tim Investigasi Katering Haji

Hidayat meminta agar pengembalian ongkos katering haji tidak dipotong. "Janganlah jamaah haji dicederai oleh pengembalinan yang tidak penuh. Pengembalian harus penuh sebagaimana diperintahkan Presiden," ujarnya.

Selain itu, Hidayat meminta Presiden berkomunikasi dengan Saudi Arabia agar tidak terjadi hubungan yang renggang akibat tragedi ini. Sebab selama ini hubungan Saudi Arabia dengan Indonesia sudah terjalin cukup baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal yang sama disampaikan Hasyim Muzadi. Menurutnya, ada dua hal yang disoroti dalam kasus katering haji. Pertama, hal teknis yakni harus ada perbaikan supaya tidak terjadi lagi.

"Kalau pemerintah Indonesia telah memenuhi prosedural dalam menunjuk pelaksananya, di lain hari mesti ada klaim siapa yang ditunjuk itu supaya pemerintah tidak semata-mata yang disalahkan," kata Hasyim.

Sedangkan hal yang substansial, pemerintah harus minta maaf kepada jamaah haji dan jangan saling menyalahkan dalam pemerintah itu sendiri.

Presiden SBY bahkan membentuk tim khusus untuk melakukan evaluasi dan menyelidiki kasus katering haji. Tim akan dipimpin oleh KH mantan Menteri Agama Tolchah Hasan, dan Irjen Depag Qodry Azizy selaku sekretarisnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu, Departemen Agama akan mengembalikan uang katering jamaah sebesar Rp 141 miliar (SR 56 juta) kepada jamaah haji Indonesia yang berjumlah 188.477 orang. Tiap orang mendapat uang ganti katering sebesar SR 300. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Lamongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Peranan manajemen dan kepemimpinan dalam sebuah organisasi pendidikan sangat diperlukan guna menjadikan organisasi pendidikan tersebut mencapai arah, maksud, dan tujuan yang dicanangkan. Untuk itu, perlu diupayakan perencanaan yang baik terhadap sumber-sumber daya yang tersedia.

Pernyataan tersebut dikemukakan dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, Dr Abdul Kadir Riyadi dalam sebuah seminar bertajuk: “Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah, Pesantren, dan TPQ” di Gedung MI Nurul Huda, Majenang, Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (26/8).

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Pria kelahiran Tuban itu mengatakan, sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU)untuk lebih menata diri lagi dalam menentukan, arah, maksud, dan tujuan sebuah organisasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Selain itu, mereka juga perlu melakukan semacam perencanaan strategis dan evaluasi terhadap proses atau manajemen yang ada dalam sebuah organisasi,” terang Riyadi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam seminar yang terselenggara atas Kerjasama PBNU, British Council Indonesia, Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kedungpring, dan Yayasan Nurul Huda Majenang itu, Riyadi juga mengingatkan pentingnya seorang pemimpin atau manajer untuk memiliki kecakapan tinggi dalam menetapkan tujuan, menentukan visi, dan mampu memotovasi.

Sementara, Ketua Panitia yang juga pembicara dalam seminar tersebut, Sudarto Murtaufiq, menekankan, sebuah organisasi pendidikan perlu memiliki kemandirian dalam mengambil sikap terutama bagaimana menentukan arah dan tujuan guna mencapai mutu pendidikan yang ideal.

“Antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lain memiliki “bahasa” yang berbeda dalam menerjemahkan kualitas (mutu) pendidikan itu sendiri. Karena itu wajar jika banyak kalangan/praktisi pendidikan yang hingga kini masih memahami secara berbeda—dan agaknya memang harus berbeda—mengenai prinsip-prinsip jaminan mutu pendidikan,” terang Murtaufiq.

Seminar yang mengundang para pimpinan lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di wilayah Kecamatan Kedungpring itu selain dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kedungpring, seperti Drs. Khamim Baidlowie, H. Sisyanto, Drs. Mubarok, Drs. Imam Sujono, seminar itu juga dihadiri sejumlah pengurus Yayasan Nurul Huda Majenang. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Beragama secara Substantif

Agama merupakan jalan hidup (the way of life) setiap manusia yang menginginkan koneksi dengan Tuhan. Koneksi di sini bukan konotasi pragmatis, melainkan sadar bahwa Tuhan dengan segala “Maha”-Nya turun melalui ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah-Nya. Di sinilah manusia harus memahami bahwa ayat-ayat Tuhan diperuntukan bagi kebaikan segenap manusia di jagat raya, bukan semata-mata untuk kebaikan Tuhan sendiri.

Paradigma agama untuk kebaikan manusia inilah yang sering disalahartikan manusia dari berbagai golongan sehingga membuat diri dan kelompoknya merasa berhak mewakili Tuhan. Akhirnya mereka memahami agama hanya sebagai simbol, bahkan untuk melegitimasi setiap gerakannya yang tak jarang merugikan manusia secara materi maupun imateri melalui perilaku-perilaku anarkis.

Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama secara Substantif

Mereka terjebak dengan pemahaman simbolik yang berdampak pada pengerdilan ajaran agama yang mulia dan adiluhung. Buku gubahan Fariz Alniezar, anak muda NU berjudul Jangan Membonsai Ajaran Islam ini merupakan potret gamblang yang memberikan argumentasi lugas terkait pemahaman agama yang kontraproduktif di atas.

Penulis buku ini berupaya memberikan pemahaman agama dari sisi lain yang ditulis secara apik dengan tidak lari dari kompleksitas kehidupan beragama yang selama berjalan, baik di lingkungan sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Di titik ini, buku setebal 156 yang terdiri dari 35 artikel renyah namun substansial ini menemukan public interest-nya. Artinya, setiap pembaca langsung mencapai rasa karena kemungkinan besar terjadi di dalam pikiran dan laku setiap harinya. Atau minimal melihat dan menyaksikan kejadian nyata yang diulas secara lugas dalam buku tersebut.

Penulis buku ini juga jernih dalam membaca kontekstualitas dengan tetap berangkat dari dinamisasi tradisi, budaya, dan pemahaman agama yang berkembang di tengah masyarakat. Substansi dalam buku ini banyak memotret sekaligus mengkritisi laku yang berkembang dari umat beragama dengan menawarkan solusi yang dibalut dengan argumen kuat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam salah satu artikelnya berjudul ‘Berislam tanpa Menjadi Teroris’ (halaman 137), penulis buku mengawali coretan panjangnya dengan menukil Bernard Lewis yang berbunyi: Most Muslims are not fundamentalist, and most fundamentalist are not terrorist, but most present-day terrorist are muslims and proudly identify themselves as such. Dari kutipan Berbard Lewis tersebut, penulis buku ingin menunjukkan bahwa berislam tidak harus menjadi teroris. Bahkan sangat tidak manusiawi membawa panji-panji Islam sebagai legitimasi menyakiti dan membunuh orang lain.

Dari Bernard Lewis itu juga sesungguhnya menjadi pukulan telak bagi umat muslim karena kenyataannya tindakan teroris banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya beragama Islam, namun tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam berislam yang merupakan bagian integral dalam beragama. Narasi besar yang tersirat dalam kutipan tersebut adalah fundamentalisme sebagai akar dari tindakan terorisme, tetapi fundamentalis sendiri belum tentu teroris. Artinya, akar dari segala akar terorisme adalah paham fundamentalisme yang menumbuhkan radikalisme sehingga kristalisasinya adalah terorisme.

Di titik inilah penulis buku menemukan konteksnya dalam menggubah argumentasi sehingga pembaca dapat langsung memahami kondisi yang sedang berkembang dan terjadi di tengah masyarakat. Tetapi betapa sangat memilukannya karena agama Islam sendiri terstigma teroris sehingga gerakan kultural yang dilakukan oleh sebagian besar warga Nahdlatul Ulama (NU) patut didukung oleh seluruh masyarakat dalam menangkal akar-akar tindakan terorisme.

Penulis buku juga dengan apik menjelaskan istilah jihad secara filosofis yang selama ini memang banyak disalahpahami oleh sebagian kelompok agama. Penulis buku seperti yang telah ditulis dalam artikelnya (halaman 146) mengajak kepada masyarakat untuk merumuskan kembali makna jihad yang lebih tajam dan aktual untuk konteks masa dan juga konteks masyarakat plural di Indonesia.

Jika ditelaah lebih jauh, tulisnya, kata jihad merupakan satu rumpun (derivasi) dari kata jahada yang berarti berusaha (fisik). Dekat juga artinya dengan kata ijtihad, segala upaya yang lebih mengandalkan kerja otak dan intelegensia serta mujahadah, yakni usaha yang lebih menekankan pada dimansi intuitif (bathiniyah). Artinya, di titik ini bisa ditarik benang merah bahwa ideal seorang muslim (bahkan mansuai secara umum) yaitu orang yang mendayagunakan keseluruhan dimensi-dimensi spiritual tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendayagunaan dimensi-dimensi tersebut secara anakronis (separuh-separuh, setengah-setengah, sepenggal-sepenggal), berdampak pada pemahaman Islam yang juga setengah-setengah. Perilaku ini tentu akan berdampak pada tereduksinya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan sehingga seorang tersebut menjelma menjadi manusia yang anti-budaya, anti-tradisi bahkan sampai pada titik anti-perbedaan. Dalam hal ini, muncul diktum Birds born in a cage think flying is an illness, burung yang lahir di sangkar akan berpikir bahwa terbang adalah sebuah kejahatan. Untuk itulah keterbukaan akses pemikiran dalam beragama tidak hanya teks, tetapi juga konteks yang melingkupi sehingga beragama tidak melulu simbol namun bagaimana melihat substansi nilai.

Dalam semua artikelnya, penulis buku juga berusaha ingin menyampaikan revitaliasi spiritualitas dengan tetap berpegang pada tradisi yang berkembang di masyarakat. Antara lain memaknai tradisi mudik yang dikorelasikan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian nilai kesabaran dalam berpuasa secara substantif di mana selama ini ritus-ritus tersebut hanya dipahami secara retoris bahkan munafik, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan ‘kriuk’ lainnya yang dapat memberi pemahaman kepada pembaca terkait ajaran Islam yang substantif dan inspiratif, bukan aspiratif yang hanya menggembar-gemborkan Islam secara simbolik untuk kepentingan diri dan kelompoknya.***

Identitas buku:

Judul: Jangan Membonsai Ajaran Islam

Penulis: Fariz Alniezar

Penerbit: Quanta PT Elex Media Komputindo

Tebal: x + 156 halaman

Cetakan: I, Maret 2015

Peresensi: Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Fragmen, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Tim Operasi Bersih Rarahan Adri Nusantara LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama) mengibarkan bendera merah putih di atas puncak Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur.

Sekitar 20 orang pendaki yang tiba di Kota Malang pada 17 Oktober 2016 disambut H. Syaiful Efendi Ketua PCNU Malang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. “Karena momentum hari santri sangat tepat gaungnya apabila ada dari tim ekspidisi yang mengibarkan bendera di puncak Gunung Semeru,” ujarnya.

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru

Proses pendakian dimulai Selasa (18/10) pukul 10.00 WIB dari Desa Ranupane, menuju camp Kalimati. Tim tiba di puncak pada Kamis (20/10) pukul 22.00 WIB dan langsung melaksanakan pengibaran bendera merah putih, bendera NU, dan bendera LPBINU.

Sabtu (22/10) Tim Ekspedisi Islam Nusantara tiba di Jakarta dan bergabung bersama puluhan ribu santri di acara apel Hari Santri Nasional di Monumen Nasional.

Ketua Tim Operasi Bersih Rarahan Adri Nusantara LPBINU Yuslianto menyampaikan, pendakian tersebut membawa beberapa misi tentang sosialisasi pengelolaan lingkungan. “Yang pertama operasi sampah, terutama sampah plastik yang kemudian akan diolah menjadi ecobriks, berikutnya adalah pengenalan aplikasi NUbricks,” katanya. (Anty Husnawati/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaNu, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Permudah Siswa Daftar Sekolah, Pelajar NU Kedung Asem Buka Konsultasi PPDB

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam memudahkan masyarakat untuk mendaftarkan sekolah, Pimpinan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) bersama NU Ranting Kedung Asem Kecamatan Rungkut Surabaya membuat Program Konsultasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Permudah Siswa Daftar Sekolah, Pelajar NU Kedung Asem Buka Konsultasi PPDB (Sumber Gambar : Nu Online)
Permudah Siswa Daftar Sekolah, Pelajar NU Kedung Asem Buka Konsultasi PPDB (Sumber Gambar : Nu Online)

Permudah Siswa Daftar Sekolah, Pelajar NU Kedung Asem Buka Konsultasi PPDB

Program konsultasi ini sudah dimulai sejak 25 Juni 2016 dan akan berakhir pada tanggal 1 Juli 2016 yang bertempat di gedung MWCNU Kecamatan Rungkut Surabaya. Tujuan dari program ini untuk membantu ? siswa yang mengalami kebingungan dalam menentukan sekolah setelah mengikuti Tes Formal masuk SMPN atau SMAN se-Surabaya.

"Prosedur untuk mengikuti layanan Konsultasi PPDB ini tergolong mudah. Siswa cukup mengisi formulir pendaftaran, lalu segera Tim Konsultan akan memanggil nama peserta didik yang sudah terdaftar untuk melakukan proses layanan konsultasi," ujar Ketua IPNU Kedung Asem, Muhammad Bagus.

Menurutnya, program ini akan terus dikembangkan supaya bisa bermanfaat bagi pelajar secara umum. "Ingin kita, ayo teman-teman kumpul nanti kita belajar bersama menganalisis probabilitas Nilai Siswa untuk masuk SMPN atau SMAN di Surabaya," lanjut Bagus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua NU Ranting Kedung Asem, Moch. Yusuf, S.A menjelaskan bahwa Konsultasi PPDB ini tahun depan akan kami tingkatkan untuk keperluan calon Mahasiswa. "Ini sedang kami matangkan formula tentang bagaimana menghitung Probabilitas Nilai UN pelajar NU bisa masuk Perguruan Tinggi," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tim Bahtsul Masail MUDI Rekam Hasil Kajian Isra’ Mi’raj

Bireuen, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tim Bahtsul Masail lembaga pendidikan islam Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, Bireuen membuat rekaman hasil penelitian sejarah Isra’ Mi’raj. Aktivitas rekaman perdana yang berlangsung di ruang LBM, Rabu (8/5), dimaksudkan untuk menyosialisasikan pengetahuan secara audio untuk kemudian disiarkan di stasiun radio Yadara FM.

Materi rekaman ini juga disiarkan langsung dari lantai dua dayah Multimedia Aceh Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb melalui frekuensi 92.8 Mhz Live Streaming. Materi kajian bertema “Fiqh Sirah Nabawiyah atas peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw”.

Tim Bahtsul Masail MUDI Rekam Hasil Kajian Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Bahtsul Masail MUDI Rekam Hasil Kajian Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Bahtsul Masail MUDI Rekam Hasil Kajian Isra’ Mi’raj

Materi ini dibawakan oleh dewan penasihat LBM Tgk H Sulaiman Hasan. Sulaiman yang kini mengajardi Dayah MUDI pernah menimba ilmu di Zabid Yaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kehadiran media Islam akan memberikan kontribusi bermanfaat untuk semua kalangan, khususnya dalam mendapatkan ilmu dan informasi sesuai ajaran Ahlussunnah Waljama’ah,” kata Ketua LBM MUDI Mesjid Raya Samalanga Tgk Mursyidi A Rahman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Materi rekaman menyangkut hikmah di balik peristiwa malam Isra’ dan Mi’raj dan pengertian mukjizat (Tgk Martunis Ajalil/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemkab Rembang Peringati Maulid Nabi saat Jam Kerja

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad, Rabu pagi (28/12), di halaman kantor Bupati Rembang. Perayaan tahunan yang digelar saat jam kerja tersebut dihadiri ribuan warga dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang.

Meski digelar pada jam kerja, terlihat tak ada pelayanan yang tersendat. Bupati Rembang H Abdul Hafidz memastikan tak ada pengajian peringatan Maulid Nabi yang mengganggu pelayanan publik meski dilaksanakan saat jam kerja dan digelar di halaman kantor pemerintahan.

Pemkab Rembang Peringati Maulid Nabi saat Jam Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Rembang Peringati Maulid Nabi saat Jam Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Rembang Peringati Maulid Nabi saat Jam Kerja

"Saya tegaskan, tidak ada pengajian Maulid Nabi yang mengganggu pelayanan. Mau meminta, apa saja pelayanan hari ini juga pasti dilayani," jelaskan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Maulid Nabi ini diselenggarakan untuk memperkuat persaudaraan antarwarga, serta menghilangkan sekat antara ulama dan umara demi kemajuan di Kabupaten Rembang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hafidz menambahkan, dengan kondisi bangsa Indonesia yang menghadapi rongrongan dan sejumlah permasalahan sudah seharusnya masyarakat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengajian yang diisi oleh kiai kondang dari Bojonegoro, Jawa Timur KH Anwar Zahid kali ini merupakan pengajian maulid dengan jumlah pengunjung terbanyak yang dilaksanakan di halaman pendopo kantor Bupati.

Hafidz juga mengaku bersyukur, di Kabupaten Rembang tidak ada yang pergi ke Jakarta saat aksi 212 yang di gelar di Jakarta. Ia juga bersyukur, di Indonesia setiap pengajian bisa digelar tanpa harus izin terlabih dahulu. Maka dari itu, masyarakat wajib bersyukur digelarnya pengajian umum peringatan Maulid Nabi. (Ahmad Asmui/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah