Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tiga perempuan santri bercerita tentang studinya di Eropa langsung dari Student Housing, Amsterdam, Belanda, Ahad (3/9) pagi waktu Belanda, sore waktu Indonesia. Para alumni perguruan tinggi Islam negeri itu berkisah tentang kegagalannya sampai bagaimana menjalani studi di jurusan pilihannya masing-masing.

Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Eva Nur Latifah semangatnya untuk studi ke luar negeri pernah turun karena gagal lulus dari program beasiswa LPDP. Tetapi perempuan yang kini sedang menempuh studi strata duanya di bidang Information Technology University of Twente itu tak patah arang.

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

?

Diterima sebagai penerima beasiswa kursus bahasa asing dari Kementerian Agama pada tahun 2015 lalu, ia kemudian bertemu rekan-rekan di sampingnya sehingga bangkit kembali gairahnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berpikir positif itu sih yang penting,” kata lulusan UIN Sunan Gunung Jati Bandung itu.

Sementara itu, Wakil Sekretaris PCINU Belanda Nur Inda Jazilah harus mengubur mimpi awalnya untuk studi ke Inggris guna mendalami Forensik Linguistik.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Vrije University Amsterdam dipilih dari lima kampus di dunia yang menawarkan jurusan yang sama mengingat keholistikannya karena studinya menempuh waktu dua tahun.

“Dia lebih holistik mempelajari forensik linguistiknya karena dua tahun,” ujar alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

Berbeda dengan keduanya yang studi di Belanda, Ianatul Avifah baru saja submit tesisnya di bidang TESOL di University of Manchester. 180 SKS dalam waktu satu tahun cukup menguras waktu dan pikirannya. Meski begitu, ia mengingatkan tiga hal penting dalam menempuh studinya, “Manajemen waktu dan presistens dan balance juga sih.”

At least kayak nonton YouTube sebentar,” lanjut alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Motivasi dan inspirasi

Berada di lingkungan positif yang saling mendukung menjadi hal terpenting dalam membangun motivasi untuk terus memupuk semangat studi Jazil, panggilan akrab Nur Inda Jazilah. “Yang penting berada di lingkungan semua orang-orang positif,” kata mahasiswa yang baru tiba di Belanda dua minggu lalu itu.

Lain halnya dengan Avifah. Ia selalu daftar setiap kali ada kesempatan short course ataupun student exchange ke berbagai negara. Tapi setiap kali ia daftar, setiap itu juga ia gagal. Lantas ia bertekad, untuk studi S2, ia tidak boleh gagal. “Besok kalau beasiswa S2 harus diterima,” kata perempuan yang pernah gagal mendapat beasiswa di Amerika Serikat itu.

Selain itu, motivasi terbesar baginya dalam menempuh studi di luar negeri adalah orang tuanya. “Orang tua itu yang benar-benar bikin motivasi terbesar,” lanjutnya.

Senada dengan Avifah, Eva juga mengungkapkan hal yang sama, yakni membuat orang tua bahagia. “Membahagiakan orang tua,” jawab Eva saat ia menerima giliran pertanyaan tentang motivasi dan inspirasi studi beasiswa ke luar negeri.

Sejak SMA sampai kuliah merasa sering merepotkan orang tua membuatnya termotivasi untuk bagaimana membuat orang tuanya bahagia. Studi S2 di luar negeri dengan beasiswa dirasa menjadi satu hal yang membuat kedua orang tuanya bangga.

Tantangan terbesar Muslimah studi di Eropa

Mengenai shalat, pelajar muslim tak perlu khawatir. Jazil mengatakan, “Di kampus ada mushallanya.” Selain itu, diskriminasi terhadap Muslim juga tidak ia temukan. “Sejauh ini tidak menemukan ada diskriminasi,” kata pemilik akun Instagram @jazilaaah. Hal terpenting baginya bagaimana menjaga perilaku saja. Mereka pun akan bersikap sama seperti apa yang kita lakukan.

Bahasa menjadi salah satu tantangan tersendiri. Belanda yang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian tidak menjadi masalah dalam studi. “Language barrier gak begitu berarti,” katanya. Dapat menyampaikan ide dengan baik itu hal terpenting menurut santri Pondok Pesantren Sirotul Fuqoha, Malang, tersebut.

Seperti di Amsterdam, University of Manchester juga menyediakan tempat ibadah bagi muslim. “Alhamdulillah lumayan banyak warga muslim di Manchester. Kampus pun menyediakan masjid meskipun sedikit jauh,” kata Afifah.

Masyarakat Inggris juga sangat terbuka dengan keberadaan muslimah. Hal tersebut dibuktikan dengan senyuman orang-orang sana meskipun mereka tidak saling mengenal. “Orang Britishnya welcome, mereka senyum meskipun gak kenal,” lanjut pemilik akun Instagram @ianatulavifah itu.

Pengetahuan tentang budaya negara tempat studi menjadi satu keharusan. “Setidaknya tahu 20-30 % culture negara yang kita kunjungi untuk membantu komunikasi,” kata santri Pondok Pesantren Annuriyah Surabaya itu. Hal itu menurutnya dapat diatasi dengan menonton film.

Eva menambahkan, bahwa pengetahuan budaya itu bisa juga didapat dengan mengikuti kelas akulturasi yang disediakan kampus. “Mungkin bisa masuk kelas akulturasi,” katanya.

Santri Pondok Pesantren Arrisalah Ciamis itu juga mengungkapkan, bahwa kampusnya sangat menerima keberadaan pelajar muslim. “Kampusku sangat welcome sama muslim,” ujarnya.

Selain terdapat masjid, di kampus tempatnya belajar juga terdapat organisasi muslim. Bahkan pemilik akun Instagram @eva_gram itu mengatakan “Kita dapat founding juga.” Di kampusnya tersebut, Eva dan rekanannya pernah mengadakan hijab workshop. Hal tersebut menjadi salah satu media dakwah baginya untuk mengenalkan Islam.

Sebelum mereka menjawab pertanyaan tentang tantangan studi di Eropa, tiga santri yang mendapat beasiswa Kementerian Agama itu masing-masing memberikan pernyataan tentang kebanggaannya menjadi santri, alumni UIN, dan deklarasi kembali ke Indonesia guna mengabdikan diri.

Obrolan para santri perempuan yang sedang studi di Eropa ini dipandu oleh Dito Alif Kurniawan. Pria alumni UIN Walisongo Semarang itu baru saja menyelesaikan studi magisternya di Vrije Universteit, Amsterdam, Belanda.

Diskusi ini disiarkan langsung melalui Instagram @Galerisantri dan @Kajiannusantara atas kerja sama Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Penasihat AIS Nusantara, Romzi Ahmad. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Ahlussunnah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia

Makkah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Imam dan Khatib Masjidil Haram yang juga Ketua Umum Pengurus Masjidil Haram Makkah dan Masjidin Nabawi Madinah Abdurrahman as-Sudais mengatakan, haji bukanlah ajang politik atau sektarianisme, melainkan wahana persatuan antarumat Islam.

Ia mengatakan hal tersebut dalam sebuah simposium haji di Makkah, seperti dilaporkan Arab News, Ahad (27/8). Simposium ini, katanya, digelar untuk mengampanyekan semangat perdamaian haji dan memposisikan Kabah dan Masjid Nabawi sebagai simbol perdamaian.

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia

Menurut as-Sudais, dunia sedang didera kekerasan terorisme, dan sektarianisme. Padahal, keadilan, keamanan dan perdamaian merupakan tujuan seluruh agama dan pesan ilahi.

"Perdamaian seharusnya menjadi dasar hubungan antara masyarakat, kelompok dan negara," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haji, imbuh as-Sudais, adalah momen tepat bagi dunia untuk menyaksikan umat Islam berkumpul, setara dalam hak dan kewajiban, dan diliputi suasana damai dan cinta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Al-Sudais mengajukan sejumlah rekomendasi, di antaranya soal publikasi ensiklopedia global tentang perdamaian menurut Islam dalam semua bahasa. Selain merekomendasikan musim haji kali ini sebagai momen menyebarkan semangat perdamaian di kalangan umat Islam, as-Sudais juga mengusulkan berdirinya pusat penelitian khusus di universitas yang peduli dengan perdamaian.

Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammed Salih Bentin berharap simposium tersebut akan meningkatkan pesan moderasi, nilai-nilai positif Islam, persaudaraan, perdamaian, dan persatuan antara umat Islam dan kemanusiaan secara keseluruhan.

Ia mengatakan, jumlah jemaah haji sejauh ini mencapai 1,6 juta orang, dan diperkirakan akan menembus angka 2 juta pada hari Arafah. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Quote, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) danI katan Pelajar Putri NahdlatulUlama (IPPNU) Kota Makassar bekerja sama dengan SMP Islam Masjid Raya Makassar mengadakan Latihan Kader Muda (LAKMUD).

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar

Kegiatan berlangsung di aula SMP tersebut di kecamatan Bontoala Makassar, Sulawesi Selatanpada 20-23 November 2014. Sekitar 35 siswa dan siswi mengikuti kegiatan bertema? “Pelajar hari ini, pemimpin hari esok”.

Dalam sambutanya, Kepala SMP Islam Masjid Raya Siti Asmah menekankan pentingnya kegiatan seperti itu siswa-siswi. Karena, menurut dia, pada dasarnya setiap orang diciptakan untuk jadi pemimpin, baik dalam keluarga, kelas, atau komunitas tertentu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pelajar tidak akan berguna, kecuali mengaplikasikan apa yang telah dipelajari,” imbuh Pengurus Muslimat Makassar tersebut.

Senada dengan dia, ketua IPNU Kota Makassar Muh Nur mengatakan, pelajar merupakan cikal-bakal pemimpin, sehingga kegiatan seperti ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa-siswi untuk jadi pemimpin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU dan IPPNU, kata dia, sebagai garda terdepan proses kaderisasi di NU, akan terus berusaha secara massif untuk mengadakan proses pengkaderan baik secara formal maupun informal.

Hadir dalam kegiatan tersebut, beberapa pengajar di SMP Islam Masjid Raya, Ketua IPPNU Kota Makassar Azizah Dahlan, serta beberapa kader dan pengurus IPNU - IPPNU Sulawesi-Selatan. (Andy muhammad idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Situbondo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Indonesia mengalami dinamika yang demikian pesat di berbagai aspek kehidupan. Perubahan tersebut harus juga diimbangi dengan langkah strategis agar bisa bertahan, dan memberi kontribusi termasuk Nahdlatul Ulama.

"Hingga saat ini tantangan NU adalah bagaimana memahami khittah secara komprehensif," kata Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Rabu (11/1) malam.

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Karena dalam pandangan penulis buku Piagam Perjuangan Kebangsaan? tersebut, khittah tidak semata dimaknai pandangan dan sikap dalam berpolitik.?

Yang tidak kalah penting dan ini kerap dilupakan adalah bahwa Khittah NU sebagai fikrah, amaliyah serta harakah (gerakan) Nahdliyah. Akibat dari kesalahan pandangan tersebut mengakibatkan banyak gerakan di NU yang kian ditinggalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Termasuk dalam pemikiran atau fikrah Nahdliyah kita akan bisa menyelamatkan dari mereka yang cenderung memiliki pandangan fundamentalis," jelasnya. Demikian pula, fikrah Nahdliyah akan menyelamatkan dari mereka yang beraliran kiri atau liberal, lanjutnya.

Dalam catatan Munim, prestasi yang layak dibanggakan dari konsisitensi NU memegang khittah adalah mau menyatukan berbagai friksi yang terjadi. "NU juga mampu menemukan jati diri sebagai organisasi sosial keagamaan," ungkapnya. Dengan keberhasilan tersebut, NU sangat leluasa melakukan gerakan setelah dianggap tidak berpolitik praktis, lanjutnya.

Lewat ketokohan KH Asad Syamsul Arifin, KH Ali Maksum, KH Ahmad Shiddiq, juga KH Abdurrahman Wahid, NU mengalami masa keemasan. "Bahkan NU menjadi kekuatan alternatif ? yang sangat menentukan arah politik nasional," jelasnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Akan tetapi dalam perjalanannya, NU mengalami krisis sehingga terjadi disorientasi. Sebagai langkah strategis, Munim memberikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan NU agar mampu kembali ke jati dirinya.?

"Pertama adalah konsolidasi struktur," katanya. Selanjutnya melakukan reorientasi gerakan NU, juga restrukturisasi politik.

Dan upaya perbaikan di internal NU dapat dilakukan dengan memantapkan khittah. "Karena khittah adalah urat nadi dalam berorganisasi," tegasnya.

Munim tampil sebagai pembicara bersama Abu Yazid pada seminar nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan merupakan kerjasama TV9 NUsantara, PW LTN NU Jatim serta forum alumni Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Banyuputih Situbondo. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Tegal, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah menerbitkan ikhbar bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1437 H jatuh pada Sabtu, 3 September 2016.

Keputusan tersebut diumumkan setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU melakukan rukyat hilal bil fi’li pada Kamis (1/9) petang. Selama observasi langit secara langsung itu, tim rukyat tak berhasil melihat bulan sabit tanda awal bulan. Dengan demikian, bulan Dzulqadah disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari.

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Berdasarkan hasil rukyat ini, Lembaga Falakiyah mengumumkan bahwa hari raya kurban atau Idul Adha 1437 H yang jatuh pada 10 Dzulhijjah bertepatan pada hari Senin, 12 September 2016.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengucapkan terima kasih kepada nahdliyin atas kontribusi dan partisipasi dalam prosesi rukyat hilal ini. “Selamat Idul Adha. Kita sambut dengan ibadah mengagungkan asma Allah, berkurban, mempererat silaturrahim dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Dalam hadits dijelaskan bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah termasuk hari-hari yang spesial. Namun di antara kesepuluh hari itu ada tiga hari teristimewa, yaitu 8 Dzulhijjah yang disebut dengan yaumu tarwiyah, tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut yaumul ‘arafah dan tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut yaumun nahr. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Internasional, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah