Senin, 18 Desember 2017

Puluhan Santri Tambakberas dan Tebuireng Masuk Kelas Jurnalistik

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Puluhan Santri dan Pelajar Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas kabupaten Jombang terlihat antusias mengikuti pelatihan jurnalistik yang digelar KPM Bahrul Ulum bersama Persatuan Wartawan Indonesia Perwakilan (PWI) Perwakilan Jombang.

Kegiatan yang diikuti santri putra dan santri putri yang tergabung dalam KPM BU itu digelar di Aula Yayasan Pondok Pesantren selama dua hari. "Saya minta usai mendapatkan pelatihan jurnalistik ini, santri yang tergabung dalam KPM Bahrul Ulum bisa menghidupkan lagi media pesantren, apakah itu buletin, majalah atau website.”

Puluhan Santri Tambakberas dan Tebuireng Masuk Kelas Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Santri Tambakberas dan Tebuireng Masuk Kelas Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Santri Tambakberas dan Tebuireng Masuk Kelas Jurnalistik

Kegiatan yang tertajuk Sekolah Jurnalistik Pelajar dan Santri menghadirkan kalangan awak media cetak dan televisi. Mereka antara lain Sutono wartawan Harian Surya, Ramadlan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Syafii, Radio Elshinta, Syaiful Arif, fotografer Antarajatim, Yusuf Wibisono Berita Jatim, dan Amir Metro TV.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Santri harus terbiasa menulis, apakah itu menulis berita, sejarah. Semuanya bisa ditulis dan dipublikasikan. Ini adalah kesempatan langka, karena seluruh narasumber untuk pelatihan mulai dari catak, online dan TV hadir memberikan materi," ujar Syafii, pengurus PWI Perwakilan Jombang mengatakannya.

Santri harus bisa meniru KH Wahab Hasbullah, pendiri pesantren Bahrul Ulum sekaligus pendiri NU, karena ia sudah terjun dalam dunia jurnalistik sejak tahun 1928. Dengan mendirikan Majalah Warta Nadhatoel Oelama dengan tulisan arab pegon.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Karenanya santri harus melanjutkan perjuangan Mbah Wahab dalam dunia jurnalistik," imbuhnya.

Syafi’i menambahkannya, Sekolah Jurnalistik bagi pelajar dan santri sengaja digelar untuk memberikan pemahaman bagi kalangan santri pesantren dan pelajar tingkat SMA atau MA di kota santri di tengah arus besar media yang tidak bisa dibendung. "Kita harus bisa ikut mengisi perkembangan arus media, dengan informasi yang benar, dan ini adalah tugas santri kedepan,” jelasnya, Ahad (29/11).

Beberapa materi yang diberikan di antaranya adalah jurnalistik dasar, teknik reportase, teknik menulis berita, teknik wawancara, fotografi, dan video jurnalis, dan produksi media.

Setelah dari pesantren Tambakberas, sekolah jurnalistik juga dilaksanakan di SMA Wahid Hasyim Tebuireng, MTs Bahrul Ulum Ngoro dan juga SMAN 1 Jombang.

“Pelatihan di masing-masing sekolah digelar selama dua hari. Sedangkan materi yang diberikan seputar dasar-dasar jurnalistik. Semisal, teknik reportase, teknik menulis, serta video jurnalis, dan juga fotografi," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah yang kami hormati. Ibadah Jumat dinilai sebagai hari Ied bagi umat Islam. Di dalamnya para jamaah mendengarkan nasihat-nasihat ketakwaan dalam khutbah Jumat.

Yang saya tanyakan, bagaimana hukumnya kalau seorang khatib mengangkat masalah politik praktis dan menjelek-jelekan orang lain terutama politikus dan partai tertentu terlebih lagi di tengah pilpres, pilkada, pilbup? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Jakarta/Abdurrahim).

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Khutbah merupakan rangkaian yang wajib dilakukan dalam ibadah Jumat. Seorang khatib di dalam khutbahnya wajib berpesan kepada jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan ketakwaan ini merupakan satu dari lima rukun khutbah itu sendiri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang tidak ada ketentuan perihal pilihan kata terkait pesan ketakwaan atau washiat ketakwaan. Khatib hanya diwajibkan untuk menyampaikan washiat ketakwaan meskipun dengan “taatlah kepada Allah”.

Meskipun demikian, seorang khatib perlu memerhatikan rambu-rambu khutbah. Berikut ini kami kutipkan anjuran para ulama seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Majemuk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Terkait kata-kata asing yang sulit dijangkau oleh daya pikir sebagian jamaah ini, Syekh Sulaiman Jamal mengingatkan agar para khatib menghindarkan untuk mengeluarkan kata-kata yang terlalu berat untuk dipahami atau bahkan kontroversial seperti istilah-istilah para filsuf atau para sufi yang “berat-berat”.

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? .

Artinya, “(Tidak menggunakan kata aneh dan asing) tidak lazim dalam penggunaan. Syekh Al-Qamuli berkata bahwa khatib dilarang dengan makruh menggunakan kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga dimakruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Yang terakhir ini menjadi haram bila khatib terjatuh melakukan hal yang diharamkan melalui ucapannya. Selesai penjelasan Syekh Barmawi,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal, Hasyiyatul Jamal ala Syarhi Manhajit Thullab, Juz 5 halaman 478).

Rambu-rambu seperti di atas memang sengaja dirumuskan para ulama karena mempertimbangkan penyampaian nasihat sebagai tujuan pokok dari pesan ketakwaan itu sendiri. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli yang kami kutip berikut ini.

? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.(? ? ?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat. Penyampaian nasihat ini dianggap memadai meski dengan lafal selain “washiat”. Maka dianggap memadai dengan lafal ‘Taatlah kamu kepada Allah’,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Meskipun tidak ada ketentuan perihal redaksi wasiat, khatib dianjurkan untuk membatasi diri pada lafal “washiat” itu sendiri. Ini yang lebih utama sebagaimana usul Syekh Qaliyubi yang kami kutipkan berikut ini.

? : ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perihal (washiat ketakwaan), kalau khatib hanya menggunakan lafal ‘washiat’, tentu lebih utama karena tidak adanya ketentuan perihal lafal ketakwaan disepakati para ulama,” (Lihat Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Lalu bagaimana dengan khatib yang menyelipkan isu politik praktis di dalam washiat ketakwaan dalam khutbahnya? Hemat kami, mimbar Jumat terlalu suci untuk diwarnai dengan kepentingan politik praktis, apalagi misalnya kalau khutbah itu digunakan untuk menghasut, mencaci-maki, melontarkan ghibah, atau melontarkan kata sufistik yang kontroversial (syathahat). Ini jelas diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Sulaiman Jamal dalam Hasyiyah-nya seperti kami kutip di atas.

Kami menyarankan agar para khatib memerhatikan kembali tujuan utama dari washiat ketakwaan itu sendiri, yakni mengingatkan para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan kata-kata yang bijak dan santun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) Ansor Ke-83, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Temayang Kabupaten Bojonegoro menziarahi pejuang NU yang ada di Jombang, Ahad (7/5).

Ketua GP Ansor Temayang Subeki mengatakan, ziarah diawali dari makam KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Setelah itu mereka bergeser ke makam KH Romli, pendiri Pesantren Darul Ulum dan makam KH Bisri Syansuri.

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU

"Ziarah napak tilas ini ditutup ziarah ke makam KH Wahab Hasbullah," jelasnya.

Ziarah yang mengusung tema Napak Tilas Perjuangan dan Impian Kiai yang dilakukan kader NU Kecamatan Temayang ini bertujuan untuk menguatkan para penerus muda NU. Selain menjadi silaturahmi pengurus GP Ansor Temayang ziarah ini juga bertujuan untuk menyolidkan kepengurusan ke depan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Serta mengingat perjuangan para pendiri NU. Melalui ziarah ini diharapkan pengurus Ansor semakin berkhidmat pada NU ke depannya," pungkasnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Internasional, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menjadi Pengajak yang Bijak

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Pengajak yang Bijak

? ? ? :? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang dua orang bersaudara dari kalangan? Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras: yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran? pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa taala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Cerita tersebut mengungkapkan fakta yang menarik dan beberapa pelajaran bagi kita semua. Ahli ibadah yang sering kita asosiasikan sebagai ahli surga ternyata kasus dalam hadits itu justru sebaliknya. Sementara hamba lain yang terlihat sering melakukan dosa justru mendapat kenikmatan surga.

Mengapa bisa demikian? Karena nasib kehidupan akhirat sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Manusia tak memiliki kewenangan sama sekali untuk memvonis orang atau kelompok lain sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, dilaknat atau dirahmati. Tak ada alat ukur apa pun yang sanggup mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti.

Jika diamati, ahli ibadah dalam kisah hadits di atas terjerumus ke jurang neraka lantaran melakukan sejumlah kesalahan. Pertama, ia lancang mengambil hak Allah dengan menghakimi bahwa saudaranya “tak mendapat ampunan Allah dan tidak akan masuk surga”. Mungkin ia berangkat dari niat baik, yakni hasrat memperbaiki perilaku saudaranya yang sering berbuat dosa. Namun ia ceroboh dengan bersikap selayak Tuhan: menuding orang lain salah sembari memastikan balasan negatif yang bakal diterimanya.

Dalam konteks etika dakwah, si ahli ibadah sedang melakukan perbuatan di luar batas wewenangnya sebagai pengajak. Ia tak hanya menjadi dâ‘i (tukang ajak) tapi sekaligus hâkim (tukang vonis).? Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik, dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (An-Nahl [16]: 125)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Al-Kahfi [18]: 29)

?

Ayat ini tak hanya berpesan tentang keharusan seseorang untuk berdakwah secara arif dan santun melainkan menegaskan pula bahwa tugas seseorang hamba kepada hamba lainnya adalah sebatas mengajak atau menyampaikan. Mengajak tak sama dengan mendesak, mengajak juga bukan melarang atau menyuruh. Mengajak adalah meminta orang lain mengikuti kebaikan atau kebenaran yang kita yakini, dengan cara memotivasi, mempersuasi, sembari menunjukkan alasan-alasan yang meyakinkan. Urusan apakah ajakan itu diikuti atau tidak, kita serahkan kepada Allah subhânahu wa ta‘âlâ (tawakal).

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Kesalahan kedua yang dilakukan ahli ibadah dalam kisah tersebut adalah ia terlena terhadap prestasi ibadah yang ia raih. Hal itu dibuktikan dengan kesibukannya untuk mengawasi dan menilai perilaku orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, sikap macam ini dapat membawa seseorang pada salah satu akhlak tercela bernama tajassus, yakni gemar mencari-cari keburukan orang lain. Apalagi, bila orang yang menjadi sasaran belum tentu benar-benar berbuat salah. Seringkali lataran kesalahmahaman dan perkara teknis, sebuah perbuatan secara sekilas pandang tampak salah padahal tidak. Di sinilah pentingnya tabayun (klarifikasi) dalam ajaran Islam.

Tentu saja memperbanyak ibadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi ujub (bangga diri). Ujub merupakan penyakit hati yang cukup kronis. Ia bersembunyi di balik kelebihan-kelebihan diri kemudian pelan-pelan mengotorinya. Bisa saja seseorang selamat dari perbuatan dosa tapi ia kemudian terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam, yakni ujub. Mesti diingat, menghindari perbuatan dosa memang hal yang amat penting, tapi yang lebih penting lagi bagi seseorang yang terbebas dari dosa adalah menghindari sifat bangga diri. Sebuah maqalah bijak berujar, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Watak buruk dari kelanjutan sifat ujub biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Dakwah berasal dari lafadh da‘â-yad‘û yang secara bahasa semakna dengan an-nidâ’ dan ath-thalab. An-nidâ’ berarti memanggil, menyeru, mengajak; sementara ath-thalab dapat diterjemahkan dengan meminta atau mencari. Istilah dakwah bisa didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru kepada iman kepada Allah dan segenap syariat yang dibawa Rasulullah serta nilai-nilai positif lainnya.

Dakwah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi (‘anil) munkar. Umat Islam diperintah untuk menyebarkan pesan kebaikan (ma’ruf) dan tak boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran.? Hanya saja, dalam praktiknya semua dijalankan dalam koridor yang bijaksana, sehingga usaha amar ma’ruf terealisasi dengan baik dan pencegahan kemungkaran pun tak menimbulkan kemungkaran baru lantaran tidak dijalankan dengan cara-cara yang mungkar.

Karena itu, kita mengenal dalam proses dakwah dua hal, yaitu isi dakwah dan cara dakwah. Terkait isi, dakwah memiliki lingkup yang sangat luas, dari persoalan akidah, ibadah hingga akhlak keseharian seperti ajakan untuk tidak menggunjing dan membuang sampah sembarangan. Dakwah memang bukan monopoli tugas seorang dai, siapa pun bisa menjadi pengajak, namun dakwah menekankan pelakunya memiliki bekal ilmu yang cukup tentang hal-hal yang ingin ia serukan. Hal ini penting agar dakwah tak hanya meyakinkan tapi juga tidak sepotong-sepotong.

Yang tak kalah penting adalah cara. Betapa banyak hal-hal positif di dunia ini gagal menular karena disebarluaskan dengan cara-cara yang keliru. Begitu pula dengan dakwah. Dalam hal ini kita bisa berkaca kepada Rasulullah. Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun beliau sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan? Kunci dari kesuksesan revolusi peradaban itu adalah da‘wah bil hikmah, seruan yang digaungkan dengan cara-cara bijaksana. Akhlak Nabi lebih menonjol ketimbang ceramah-ceramahnya. Beliau tak hanya memerintah tapi juga meneladankan. Rasulullah juga pribadi yang egaliter, memahami psikologi orang lain, menghargai proses, membela orang-orang terzalimi, dan tentu saja berperangai ramah dan welas asih.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah,

Khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian bahwa ada rambu-rambu dakwah yang perlu diingat, yakni jangan membenci dan merendahkan orang lain, apalagi mencaci maki dan memojokkannya. Karena jika hal itu kita lakukan maka keluarlah kita dari motivasi dakwah sesungguhnya. Dakwah berangkat dari niat baik, untuk tujuan yang baik, dan semestinya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Itulah makna sejati dakwah. Bila ada pendakwah gemar menjelek-jelekan orang atau golongan lain, mungkin perlu diingatkan lagi tentang bahasa Arab dasar bahwa dawah artinya mengajak bukan mengejek. Sehingga, dakwah mestinya ramah bukan marah, merangkul bukan memukul.

Yang paling mengerikan tentu saja adalah dakwah dikuasai amarah dan hawa nafsu sehingga menimbulkan pemaksaan dan aksi-aksi kekerasan, hanya kerena menganggap orang lain sebagai musyrik, musuh Allah, dan karenanya harus diperangi. Jika sudah sampai pada level ini, pendakwah tak hanya sudah melenceng jauh dari esensi dakwah, tapi juga pantas menjadi sasaran dakwah itu sendiri. Al-Quran sudah sangat benderang menegaskan bahwa tak ada paksaan dalam agama, dan oleh sebab itu menggunakan pendekatan kekerasan sama dengan mencampakkan pesan ayat suci.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " . ? : ? ? ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : " ? ? "

Dari Hudzaifah radliyallâhu ‘anh, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an sampai terlihat kegembiraannya dan menjadi benteng bagi Islam, kemudian ia mencampakkannya dan membuangnya ke belakang punggung, membawa pedang kepada tetangganya dan menuduhnya syirik.” Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi, siapakah yang lebih pantas disifati syirik, yang menuduh atau yang dituduh?” Rasulullah menjawab: “Yang menuduh.” (HR Ibnu Hibban)

Na’ûdzubillâhi mindzâlik. Semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan buruk baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Tekun dalam beribadah kemudian mengajak sesamanya untuk melakukan hal yang serupa merupakan sesuatu yang dipuji dalam agama. Hanya saja, dakwah atau mengajak memiliki batasan-batasan. Setidaknya ada dua tips yang bisa dipegang agar seseorang tak melampaui batasan tugas sebagai seorang pengajak. Pertama, muhâsabah (introspeksi). Meneliti aib orang yang paling bagus adalah dimulai dari diri sendiri. Muhasabah akan mengantarkan kita pada prioritas perbaikan kualitas diri sendiri, yang secara otomatis akan membawa pengaruh pada perbaikan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ashlih nafsaka yashluh lakan nâs. Perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu.”

Kedua, tawâdlu‘ (rendah hati). Sikap ini tidak sulit tapi memang sangat berat. Rendah hati berbeda dari rendah diri. Tawaduk adalah kemenangan jiwa dari keinginan ego yang senantiasa merasa unggul: merasa paling benar, paling pintar, paling saleh, dan seterusnya—yang ujungnya meremehkan orang lain. Tawaduk membuahkan sikap menghargai orang lain, sabar, dan menghormati proses. Dalam perjalanan dakwah, tawaduk terbukti lebih menyedot banyak simpati dan menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah seruan kebaikan. Fakta ini bisa kita lihat secara jelas dalam perjuangan Nabi dan pendakwah generasi terdahulu yang tercatat sejarah hingga kini. Wallâhu a‘lam bish-shwâb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Mahbib Khoiron

*) Teks khutbah ini pernah diikutsertakan pada Sayembara Khutbah Damai yang digelar PeaceGeneration Indonesia, Gerakan Islam Cinta, Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Bandung, Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia (FSUII), Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), Penerbit Salam Books, dan MasterPeace Writing Labs

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Humor Islam, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengabdi di Ansor, Banser Ini Dapat Berkah Umrah Gratis

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kaget bercampur gembira dirasakan Ichwan Solihin ketika namanya disebut vokalis Debu, Mustafa. Ichwan disebut sebagai pemenang undian umrah gratis dari Gerakan Pemuda Ansor. Undian itu kemudian diberikan secara simbolis oleh Habib Novel Alaidrus pada Jumat (10/3) malam.

“Alhamdulillah, saya senang sekali dan bersyukur. Tidak menyangka dapat hadiah umrah gratis,” ujar Ichwan, anggota Banser Pasar Kliwon itu.

Mengabdi di Ansor, Banser Ini Dapat Berkah Umrah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdi di Ansor, Banser Ini Dapat Berkah Umrah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdi di Ansor, Banser Ini Dapat Berkah Umrah Gratis

Ketua PC GP Ansor Surakarta Arif Syarifuddin menerangkan, pemberian hadiah gratis umrah tersebut sekaligus menandai peresmian Travel Umrah dan Haji Plus PT Sorban Nusantara Tourism GP Ansor Cabang Surakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Arif berharap hadiah ini juga dapat memotivasi anggota lain dalam berkhidmah bersama Ansor dan Banser. “Tambah semangat dan berkah. Semoga dalam berkhidmah di Banser senantiasa ikhlas dan tanggung jawab dalam mengemban tugas,” ujar dia.

Sementara itu Manajer Cabang PT Sorban Solo M Anwar menjelaskan, pembentukan PT Sorban Nusantara Tourims merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi GP Ansor, yakni pemberdayaan potensi kader dan mewujudkan kemandirian ekonomi kader dan organisasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, salah satunya Sorban Nusantara Tourism yang hari ini secara resmi kita launching" terang Anwar. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil

Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.

”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.

Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil

Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.

”Nu’man.”

”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

"Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Quote, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang (PC) Badan Pengelola I’anah Syahriyah Nahdlatul Ulama (BPSNU) Kraksaan memberikan santunan kepada 52 anak yatim se Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan. Santunan yang diberikan berupa tas dan alat-alat tulis sekolah serta uang sebesar Rp. 50 ribu untuk masing-masing anak yatim.

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim

BPSNU Cabang Kraksaan terbentuk pada awal tahun 2012 yang lalu. Dalam perjalanan selama setahun, BPSNU telah mampu mengumpulkan dana i’anah syahriyah sebesar Rp 65 juta dari pengurus dan anggota NU Kraksaan. Selama ini, dana tersebut belum pernah dikeluarkan untuk kegiatan apapun.

“BPSNU dibentuk untuk menghimpun dana dari pengurus dan anggota NU yang mempunyai kelebihan harta setiap bulannya. Jumlah dana yang diberikan oleh tiap-tiap pengurus dan anggota NU bervariasi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing,” ungkap Ketua PC BPSNU Kraksaan Tasrifin kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Senin (4/2).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Tasrifin, santunan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian dari pengurus dan anggota NU untuk berbagi dengan anak yatim agar nantinya bisa termotivasi dalam belajar dan menuntut ilmu di sekolah.

“Mudah-mudahan santunan ini mampu memberikan motivasi dan semangat kepada anak yatim untuk belajar dan sekolah. Paling tidak, kami sebagai pengurus dan anggota NU bisa berbagi kebahagiaan dengan para anak yatim. Ke depan BPSNU juga berencana akan memberikan beasiswa kepada anak NU yang berprestasi,” pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah