Kamis, 30 November 2017

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Region Jatim III memasuki babak final. Laga final yang bakal dilaksanakan pada serangkaian Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Stadion? Kodam V Brawijaya,? Sabtu (10/9), mempertemukan Pesantren Bahauddin Ngelom Sidoarjo dengan Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Pertandingan laga final ini merupakan hasil pemenang dari laga semifinal yang terselenggara pada Kamis (8/9) di Lapangan Karang Pilang Surabaya, Jawa Timur, antara Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo versus Pesantren Al Muhajirin Mojokerto mendapatkan hasil 1-1. Gol dicetak oleh Ikhwan dari Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo pada menit ke-27, dan berhasil dibalas oleh Pesantren Al Muhajirin pada menit ke-44 oleh Sokep, kemudian dilanjutkan tendangan penalti dengan skor akhir 2-5 untuk Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Sedangkan pertandingan semifinal yang lain, antara Pesantren Bahaudin Sidoarjo versus Pesantren Ibrohimi Gresik hingga peluit dibunyikan mendapatkan hasil akhir 2-1 untuk Pesantren Bahauddin Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gol pertama tercipta oleh santri Pesantren Bahauddin pada menit ke-11 yang bernama M. Arif, dan gol kedua tercipta pada menit ke-41 oleh Dimas, untuk itu Pesantren Al Muhajirin Mojokerto akan menantang Pesantren Bahaudin Sidoarjo di laga final.

Menurut ketua panitia H. Arifin Hamid, "Siapa pun yang akan menjadi juara pertama hasil final nanti berhak mengikuti Kompetisi LSN Tingkat Nasional yang akan digelar di Yogyakarta," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu juara pertama, kedua dan ketiga berhak mengikuti event Piala Gubernur Jatim, tambahnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Merekonstruksi Peran Politik NU

Jika dihitung berdasarkan kalender Masehi, pada 31 Januari 2014 kemarin, NU sudah berusia  88 tahun. Kalau diibaratkan manusia, usia tersebut sudah mencapai kematangan yang cukup. Bahkan tergolong sepuh. Prilakunya biasanya cukup arif. Jarang bicara, namun sekali “ngomong” cukup bertuah. Tindakannya tidak gegabah, jarang membuat kesalahan karena belajar dari pengalaman.

Demikian juga NU. Di usianya yang sudah berkepala delapan ini, idealnya NU sudah cukup matang dalam bertindak dan menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Untuk urusan ubudiyah dan “perlawanan” terhadap faham-faham kontra Aswaja, NU cukup  oke. Tapi untuk soal-soal “horizontal” yang terkait langsung dengan pelayanan umat seperti pendidikan, dakwah maupun kesehatan masih perlu terus ditingkatkan. Terus terang, sejauh ini  hanya bidang dakwah yang mempunyai progress  cukup  menggembirakan karena rata-rata kiai NU memang muballigh. Sedangkan bidang yang lain biasa-biasa saja.  

Salah satu yang kerap menjadi sorotan masyarakat adalah “pelayanan” NU di bidang politik. Syahwat politik NU yang cukup posesif dan fluktuatif, membuat ormas ini selalu mengundang perhatian. Dikatakan  tidak berpolitik, tapi faktanya kerap telibat dalam permainan politik. Dikatakan berpolitik, NU katanya selalu berpegang kepada khittah.

Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Peran Politik NU

Memang, NU mempunyai koridor politik yang jelas. Khittah NU menggariskan bahwa secara kelembagaan NU tidak boleh berpolitik. Meminjam istilah KH. Muchith  Muzadi, NU tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Dengan kata lain, orang NU bahkan pengurus NU, secara perorangan tidak haram bergabung dengan partai politik tertentu, tapi dilarang keras membawa-bawa nama NU. Kalimat ini cukup gamblang tapi aplikasinya sangat absurd. Pantas saja langkah politik yang ditempuh NU dalam berbagai event politik, selalu menimbulkan pro-kontra. Sebab, bagaimana mungkin memisahkan antara figur seorang ketua NU dan jabatan yang disandangnya dalam ranah permainan politik. KH. Abdullah Syamsul Arifin yang menjadi Cawabub Jember, Guntur Ariyadi, Ali Maschan Moesa yang menjadi Cawagub Jatim, Soenaryo dan bahkan KH. Hasyim Muzadi yang menjadi Cawapres Megawati Soekarno Putri.

Demikian juga tokoh kunci/Ketua NU lain, yang maju dalam perhelatan politik,  mereka semua itu tetap tak bisa dilepaskan dari posisinya selaku pengurus NU kendati sudah non aktif. Di manapun mereka berkampanye, mesti dikait-kaitkan dengan NU. Akhirnya, mau tidak mau institusi NU juga terseret di keriuhan politik praktis.

Kalau menang, nama NU berkibar. Jika kalah, nama NU juga tercoreng. Ironisnya, banyak calon yang diusung NU, kalah telak. Cibiran pun kerap menyeruak; NU sudah tak laku, NU keropos dan sebagainya.

Mereka (tokoh-tokoh NU yang berpolitik praktis) tidak salah. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah ikhtiar politik untuk ikut terlibat aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya warga NU. Mereka adalah tokoh yang loyalitas dan pembelaannya terhadap NU begitu mumpuni, sehingga jika menang, NU juga yang akan memetik buahnya. Cuma persoalannya, hampir dipastikan pengurus NU tidak satu suara dalam menyikapi figur NU yang maju dalam bursa pemilihan kepala daerah, atau apalagi dalam perhelatan politik semacam Pileg. Aklibatnya suara warga NU juga pecah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang tidak ada yang mengingkari bahwa massa NU cukup bejibun. Kader NU juga bertebaran di hampir semua lini. Mereka kompak di bawah satu komando (NU) ketika harus dihadapkan kepada persoalan yang terkait dengan keumatan. Namun ketika yang dibahas soal politik dan kekuasaan, tunggu dulu. Alih-alih bersatu, mereka malah silang sengkurat. Sebab, mereka mempunyai agenda politik masing-masing yang boleh jadi berseberangan satu sama lain.

Kendati demikian, sampai detik ini NU masih merupakan komoditas politik yang cukup diminati. NU masih dianggap sebagai magnet sekaligus alat progpaganda untuk menarik simpati massa. Lihat saja, menjelang Pileg ini betapa banyak Caleg yang membawa-bawa nama NU dalam baliho atau spanduk kampanyenya, mulai dari yang sekedar menempelkan logo NU hingga yang mengklaim sebagai putra asli NU. Ini menunjukkan bahwa NU dinilai masih mempunyai potensi politik yang cukup besar.  

Terlepas dari itu semua, NU memang harus mengkonstruksi ulang posisi sekaligus peran politiknya di masa-masa yang akan datang. Tidak mungkin  NU lepas dari “bermain” politik praktis, baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Massa NU yang besar jumlahnya adalah modal politik yang cukup signifikan. Lebih baik modal politik itu dikelola dan dimanfaatkan sendiri untuk kepentingan NU, dari pada dimanfaatkan orang lain yang mengatasnamakan NU, tapi ujung-ujungya tidak jelas pembelaannya terhadap NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena itu, NU harus jeli membaca peluang sekaligus memetakan kekuatan sumberdaya politik yang ada. Kegagalan demi kegagalan di masa lalu harus menjadi pelajaran berharga untuk melangkah ke depan dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada umat, baik bidang politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Jangan sampai NU jatuh dua kali di lobang yang sama.

NU, kau ditunggu umat di pagi yang cerah. Bukan dinanti kelak di senja yang merah. Selamat merenung, dan selamat harlah.

 

Aryudi A. Razaq, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jember.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelindungan Keprofesian Bagi Guru Dikmen (SMA/SMK) Zona Bali yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Dikmen Dirjen GTK Kemendikbud RI, 6-8 Desember 2016.

Dua orang guru yang mewakili Pimpinan Pusat Pergunu yang ikut adalah Lewa Karma dan Moh. Sahlan. Selama kegiatan mereka mendapatkan sejumlah materi, antara lain tentang kebijakan Direktorat PG Dikmen, batasan dan bentuk kekerasan, pelanggaran HAM, hukum dan etika; batasan, bentuk dan prosedur pelayanan pelindungan; pelindungan keprofesian guru, dan displin positif untuk siswa.

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali

Dalam siaran pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Bimtek yang menghadirkan narasumber dari pejabat Ditjen GTK, LPTK, KPAI, Komnas HAM, LKBH Jakarta, dosen UI (psikolog) ini merupakan rangkaian kegiatan 3 zona yang diselenggarakan di Batam, Jakarta dan Bali. Bimtek zona ini menghadirkan guru pendidikan menengah (Dikmen) wilayah Indonesia Timur (Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku dan Papua).

Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok profesi, termasuk di dalamnya Pergunu, dan kelompok K3. Kelompok K3 sejumlah 100-an orang mendapatkan materi yang berhubungan dengan keselamatan kerja guru yang berhubungan dengan praktik dan layanan pendidikan di sekolah. Kelompok Profesi sejumlah 94 orang mendapatkan materi yang berhubungan kesejahteraan, pengharhgaan dan perlindungan (kesharlindung) yang berkenaan dengan penaganan siswa dan penguatan profesi guru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hasil dari Bimtek ini diharapkan bisa menambah khazanah, wawasan dan kepekaan guru dalam persoalan kesharlindung guru sekaligus sebagai penguatan pelindung profesi guru. Materi berjalan lancar dan dilengkapi dengan bedah kasus masalah siswa dan guru. Oleh sebab itu, anggota Pergunu perlu tahu dan ikut? serta dalam kegiatan ini untuk diimbaskan kepada anggota Pergunu lainnya, karena berkenaan dengan semangat kolektivitas organisasi profesi. (Red: Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan

Sumedang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Talif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Sumedang Ayi Abdul Kohar mengatakan, kegiatan NU di Sumedang dari tingkat ranting sampai tingkat cabang, akhir-akhir ini sangat banyak. Hal itu belum terhitung  kegiatan lembaga dan banom NU yang sering berbarengan.

“Semua panitia kegiatan tersebut suka minta kepada pengurus LTNNU Sumedang untuk diliput dan dibuatkan berita kegiatannya supaya masuk website PCNU Sumedang dan media-media lokal,” katanya pada pembukaan Pelatihan Jurnalistik di aula PCNU pada Kamis (11/5) yang diikuti 20 anak muda NU.  

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan

LTNNU Sumedang, kata dia, mempunyai tugas mengelola website PCNU, sering kerepotan memenuhi undangan liputan tersebut. Karena wartawannya masih sedikit.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mengingat hal tersebut, LTNNU Sumedang merasa sangat perlu mencetak kader yang bisa menulis berita,” lanjutnya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas dasar pertimbangan itulah, lanjut Ayi, LTNNU Sumedang melaksanakan pelaatihan jurnalistik selama dua hari Kamis-Jumat (11-12/5) dengan menghadirkan salah seorang Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, untuk berlatih bersama anak muda NU.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Sumedang Cucu Suhayat berharap pelatihan itu bisa  menghasilkan output yang luarbisa dalam peningkatan kapasitas SDM para jurnalis di PCNU Sumedang.

“Ke depannya tidak hanya berita kegiatan NU saja yang ditulis, tapi pemikiran-pemikiran ulama NU Sumedang bisa ditulis juga,” pintanya.  (Red: Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berdayakan Warga Pesisir Hutan, Perhutani Gandeng PCNU Kendal

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Perum Perhutani Kendal menyepakati kerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal dalam pengembangan ketahanan pangan dan pemberdayaan serta pendampingan masyarakat desa hutan di Kendal. Penandatangan kesepakatan dilangsungkan di Gedung NU Kendal, Kamis (17/9).

Menurut Ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial, kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama serupa di tingkat PBNU dengan direktur utama Perum Perhutani pada akhir Januari 2015.

Berdayakan Warga Pesisir Hutan, Perhutani Gandeng PCNU Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Warga Pesisir Hutan, Perhutani Gandeng PCNU Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Warga Pesisir Hutan, Perhutani Gandeng PCNU Kendal

“Di Kendal ada sekitar ? 36 desa yang berada di sekitar hutan yang dikelola oleh Perhutani. Mayoritas penduduk desa di sekitar hutan tersebut adalah warga NU.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Oleh karena sangat tepat jika Perhutani menggandeng PCNU Kendal dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat sekitar hutan.

Sementara dari pihak Perhutani menjelaskan bahwa perjanjian kerja sama ini berlaku untuk dua tahun ke depan. Bila membawa hasil yang menguntungkan bagi kedua pihak, kerja sama akan dilanjutkan pada tahap berikutnya. (Fahroji/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

Bagaimana gerak derap langkah kaki Anda ketika melewati anak tangga masjid? Mungkin Anda akan melangkahkan salah satu kaki Anda ke anak tangga pertama. Kemudian disusul langkah kaki selanjutnya dengan posisi menginjak anak tangga kedua.

Hal itu lumrah dan umum dilakukan. Tetapi, berbeda dengan Kiai Turaihan Kudus. Kiai yang terkenal akan sifat ihtiyath, kehati-hatian dalam segala hal ini, sangat memperhatikan sekali langkah kakinya ketika memasuki area masjid. Di mana pun ia berada.

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

"Mbah Kiai Turaihan Kudus itu kalau melewati anak tangga masjid, ketika masuk, maka ia langkahkan kaki kanannya menuju anak tangga yang pertama, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan menyejajarkan kaki kiri di anak tangga yang pertama," tutur KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan di sela sela pengajian kitab bersama para santri.

Ya, betapa kehati-hatian Kiai Turaihan Kudus tercermin dalam penuturan tersebut. Jadi ia tidak serta merta hanya mengawali langkah kakinya menapaki anak tangga dengan kaki kanan di awalnya saja. Melainkan dalam setiap derap kakinya meniti anak tangga itu, selalu dia awali dengan kaki kanan dan kemudian ia akhiri dengan menyejajarkan kaki kirinya di anak tangga yang telah dipijak kaki kanan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sang kiai begitu sabarnya meniti anak tangga satu per satu dengan kaki kanan sebagai awalan dan ditutup dengan kaki kiri. Begitu seterusnya hingga ia mencapai atas, puncak dari anak tangga tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dan lebih hebatnya lagi, kiai asal kudus tersebut tidak hanya melakukan ritual tersebut saat memasuki masjid. Melainkan ia juga mengulangi cara tersebut ketika pulang dengan metode yang berkebalikan. Dalam artian, langkah pertama kaki kiri, kemudian turun ke anak tangga yang sama dengan menutupnya menggunakan kaki kanan. Subhanallah.

Betapa Kiai Turaihan begitu memiliki perhatian yang sangat mendalam. Hingga hal terkecil seperti melangkahkan kaki ke masjid pun, sangat ia perhatikan. Lalu, bagaimana dengan kita, meski kita tahu bahwa hal tersebut sunah. Sudahkah kita mengamalkannya? Wallahu alam. (Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Ahlussunnah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah