Minggu, 30 Juli 2017

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Compreng Kabupaten Subang akan segera memiliki sekretariat permanen.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua MWC NU Compreng, Tata Casmita usai penyelenggaraan Halal Bihalal dan Shilaturahmi Ulama dan Umaro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Compreng bekerja sama dengan MWC NU Compreng di Pendopo Kecamatan, Sabtu (22/7).

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

"Alhamdulillah, peletakan batu pertama sudah kita lakukan sekitar bulan Mei kemarin. Dalam momentum halal bihalal ini, kita harapkan progresnya semakin meningkat," ujar Tata yang merupakan Ketua Penyelenggara Halal Bihalal tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pihaknya berharap proses konstruksi pembangunan sekretariat tersebut bisa segera direalisasikan sehingga bisa selesai pada 2018 mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Alhamdulillah pembangunan sekretariat ini mendapatkan support dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Subang sehingga pengerjaannya bisa cepat selesai," jelasnya.

Camat Compreng, Deni Setiawan mendorong dan mendukung cita-cita MWC NU Kecamatan Compreng tersebut sebagai pusat kegiatan dakwah Islam di wilayahnya.

"Nantinya ini akan dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadi benteng ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dengan keikutsertaan semua kepala desa, mudah-mudahan cita masyarakat Compreng sgera terlaksana," paparnya.

Sekretariat MWC NU Kecamatan Compreng tersebut rencananya akan dibangun di lahan seluas 28 X 19 persegi. Rencananya, sekretariat yang percis berada di depan Kantor Camat Compreng tersebut akan dibangun dua lantai. Selain itu, lokasinya juga berdampingan dengan Masjid Agung Kecamatan Compreng, As-Saad. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 29 Juli 2017

Nasionalisme Islam Nusantara

Oleh Muhammad Iqbal



Nasionalisme dalam konteks sejarah kontemporer Indonesia, tampaknya dimaknai sebagai kepercayaan dan tindakan politik untuk mengubah secara radikal status Indonesia sebagai bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Dalam kalimat lain, nasionalisme Indonesia bertujuan untuk meruntuhkan sistem kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk apa pun dan dari manapun asalnya. Alinea pertama UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 menegaskan rumusan kepercayaan dan tindakan itu sebagai berikut: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Nasionalisme Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Islam Nusantara

Kemudian Islam sebagai doktrin dan tindakan pembebasan yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia sudah sejak kedatangan kaum penjajah ke Nusantara, menunjukkan wataknya yang sangat anti-penjajahan demi kemerdekaan. Adapun penganut Islam Nusantara tidak berjaya menghalau penjajahan sampai dengan masa proklamasi 17 Agustus 1945, semata-mata karena persoalan sejarah sebagaimana akan saya uraikan dalam tulisan ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Soekarno, nasionalisme atau perasaan nasionalistis itu “menimbulkan rasa percaya akan diri sendiri, rasa yang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menempuh keadaan-keadaan yang mau mengalahkan kita.” Dikatakan juga bahwa “Nasionalisme itu ialah suatu iktikad; suatu keinsafan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, satu ‘bangsa’!”

Dalam perkembangannya, nasionalisme Indonesia tidak saja ditujukan untuk melawan kolonialisme Barat, tetapi untuk melawan semua tipe kolonialisme. Di sini Islam sebagai kekuatan pembebas tidak saja bergandengan dengan nasionalisme itu, tetapi sekaligus memberikan fondasi spiritual yang kukuh kepadanya. Watak ini selama Perang Dunia II tidak dipahami dengan baik oleh Jepang yang masih berpikir bahwa nasionalisme Indonesia hanyalah anti-Barat, tidak anti-Jepang. Kesalahpahaman ini telah menempatkan pasukan Jepang pada posisi ruwet dan rumit dalam berhubungan dengan tokoh-tokoh nasionalis yang sebagian besar menganut Islam. Islamlah selama berabad-abad yang mengobarkan semangat anti-penjajahan ini, baik dalam teori maupun dalam praktik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum diurai lebih jauh ihwal hubungan nasionalisme dengan Islam, kita perlu terlebih dahulu mempunyai pemafhuman yang memadai tentang Islam sebagai kekuatan pembebas berhadapan dengan kebijakan kolonial Belanda terhadap gerakan-gerakan Islam selama empat dekade pertama abad ke-20 M. Bahkan, sebenarnya apabila ditelusuri lebih mendalam perihal akar sejarah perlawanan Islam terhadap sistem penjajahan, kita dapat memulainya sejak munculnya VOC (Vereenigde Oost-Indische Companie, ‘Kompeni India Timur’) pada permulaan abad ke-17 M. VOC sebagai usaha dagang yang telah mengeksploitasi sumber-sumber pribumi “melalui cara perniagaan (a mercantile way)” bahkan telah sejak semula mendapat permusuhan dari umat Muslim di Indonesia. Permusuhan itu sudah bercorak laten yang sewaktu-waktu akan muncul ke permukaan. Secara doktrin, Islam dan sistem penjajahan adalah dua sisi yang sangat berlawanan.

VOC memulai debut perdagangannya di Nusantara pada 1602 M dan berakhir pada 1799 M. Selama hampir 200 tahun ini, aparatus kolonial Belanda tidak pernah merasa tenang apabila berurusan dengan komunitas-komunitas Muslim di Nusantara. Pada pelbagai kejadian, konsolidasi dari perluasan kekuasaan mereka terancam oleh ledakan-ledakan perlawanan yang diilhami Islam, baik yang dipimpin oleh penguasa-penguasa di Nusantara yang telah mengikuti iman Nabi Muhammad Saw atau, pada tingkat lokal, oleh para ulama yang fanatik.

Fanatisme di sini hendaklah ditafsirkan sebagai refleksi logis dari kecintaan mereka terhadap kemerdekaan, serta kebencian mereka terhadap kekuasaan dan dominasi asing. Asing dalam perspektif ini tidak saja asing dalam arti agama, tetapi juga asing dalam arti bangsa. Terlihat di sini semangat agama telah menyatu dengan semangat bangsa, sekalipun pengertian bangsa pada waktu itu sama maknanya dengan suku bangsa, seperti bangsa Jawa, bangsa Aceh, bangsa Minang, bangsa Banjar, bangsa Bugis, dan sebagainya.

Perlawanan terhadap sistem kolonial dalam skala besar terjadi pada abad ke-19. Perang Paderi (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1872-1912), Perang Banjar (1859-1906), dan banyak yang lain adalah di antara bentuk perlawanan yang berskala besar dengan korban yang sangat besar pula pada pihak-pihak yang bertarung.

Melihat tahun-tahun perlawanan di atas, dapatlah dimafhumi mengapa misalnya sejarawan (alm.) T. Ibrahim Alfian menolak mitos yang sering kita dengar bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun, karena tidak cukup alasan untuk menerimanya. Tokoh bangsa Mohammad Natsir (1908-1993) juga menolak angka siluman 350 tahun, sebab itu hanya berlaku bagi sebagian kecil wilayah Nusantara, khususnya pada daerah-daerah tertentu di pulau Jawa. Aceh sendiri seperti terlihat pada angka di atas, hanyalah sempat dijajah Belanda selama 30 tahun (1912-1942), daerah tersingkat yang pernah berada di bawah sistem penjajahan. Orang Aceh pantas punya kebanggaan sejarah untuk kenangan heroik yang luar biasa itu.

Pasca menyadari panasnya bumi permusuhan Muslim terhadap kolonialisme Belanda, C. Snouck Hurgronye sering mengungkapkan, “Sebuah pemerintahan Si kafir pada hakikatnya adalah ilegal di mata Islam.” Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, berjuang melawan setiap tipe kolonialisme sama artinya dengan berjuang di jalan Allah, sebagaimana al-Qur’an memang mewajibkan untuk itu.

Strategi jangka panjang mereka adalah: kekuatan Belanda harus terusir dari Nusantara dan kemerdekaan penuh harus direbut kembali! Gagasan inilah yang tertanam dalam diri umat Islam, sekalipun mereka selalu gagal mewujudkannya hingga Agustus 1945. Kegagalan ini tidak sulit untuk dilacak sebab-sebabnya, yaitu terutama keunggulan penguasaan musuh dalam teknik perang dan persenjataan modern, sesuatu yang tak tertandingi oleh persenjataan yang dimiliki pejuang-pejuang Muslim dalam berbagai kontak senjata. Terlihat di sini bahwa doa panjang dengan persenjataan ala kadarnya saja sering benar dilumpuhkan musuh.

Ditambah lagi, pecahnya perlawanan-perlawanan yang diilhami Muslim itu hampir selalu bersifat lokal dan sporadis. Tidak pernah dalam bentuk kesatuan yang menyeluruh karena memang pada waktu itu kita belum lagi mengenal konsep kebangsaan, seperti yang dicanangkan oleh Sumpah Pemuda 1928. Itulah di antara sisi-sisi lemah dari perlawanan sporadis itu.

Belajar dari kegagalan demi kegagalan untuk mendapat kemerdekaan dari kekuasaan asing pada abad ke-19, dengan kedatangan abad ke-20, umat Muslim telah mengubah strategi perjuangannya dari bentuk perang fisik kepada bentuk gerakan sosiogama dan sosiopolitik. Dari pihak musuh, umat Muslim banyak juga mengambil pelajaran, seperti membentuk organisasi-organisasi modern dalam rangka menyiapkan umat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Asumsi dasarnya adalah bahwa tanpa sebuah umat yang cerdas, akan sulit sekali mereka memahami arah perubahan zaman. Melalui organisasi ini, umat dilatih untuk berjuang secara teratur, berencana dan menggunakan rasio sehat.

Terjadilah proses pencerdasan, pencerahan, dan pencairan berpikir. Dalam iklim kolonial, munculnya pergerakan Islam modern ini jelas merupakan sebuah terobosan sejarah. Umat ini sudah terlalu lama hidup dalam kebekuan berpikir. Jati dirinya telah remuk, lahir batin. Organisasi-organisasi ini dengan gaya dan caranya masing-masing pada dataran praksis sepenuhnya bersifat nasionalistik, sekalipun mereka tidak menganut filsafat nasionalisme dalam makna memberhalakan negara-bangsa, seperti yang diajarkan oleh Hegel dan Rousseau.

Di antara gerakan Islam modern yang muncul selama tiga dekade awal abad 20 ini adalah SI (Sarekat Islam), Muhammadiyah, NU (Nahdhatul Ulama), dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Selain itu, muncul pula beberapa organisasi Islam lokal di beberapa tempat dengan sifat khasnya masing-masing. Sekalipun berbeda, tujuannya satu, yaitu menyiapkan dan mencerdaskan umat untuk menghadapi masa depan yang bebas dari sistem penjajahan asing.

Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Makam, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Indonesia memiliki potensi alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Kendati memiliki keanekaragaman dari suku, agama, ras dan antargolongan, negeri ini tetap kondusif. Hal tersebut antara lain peran dari Nahdlatul Ulama.

"Tugas yang diemban para santri adalah mendorong kemajuan bangsa," kata Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Pandangan tersebut disampaikan menteri saat membuka final Festival Sastra Religi Musabaqoh Hafalan Nadzom tingkat Jawa Timur di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Jombang, Kamis (24/`11).

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri

Baginya, sumbangsih santri dapat dilakukan dengan memperkaya muatan moral. "Kemajuan sebuah bangsa juga ditopang dengan moral. Karena tanpa itu, perkembangan dan pengetahuannya akan menyakiti," katanya di hadapan peserta dan undangan. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sumbangsih santri dan NU bagi perbaikan negeri ini telah diakui sejarah. "Apalagi negara ini sedang dicoba, demikian pula ketika persatuan bangsa tengah menghadapi cobaan, maka NU bisa membuktikan sekaligus mengayomi," terangnya. Karenanya, pemerintah dalam hal ini Presiden RI sangat mengapresiasi kiprah NU tersebut karena menjadi pemersatu negeri, lanjutnya.

Selanjutnya Bapak Eko mengajak para santri menyadari potensi yang dimilki bangsa ini. "Kita bangga karena sebagai bangsa dikaruniai banyak kelebihan," katanya. Lahan tropis yang dimiliki Indonesia adalah terbesar di dunia. Demikian pula luas pantai merupakan yang terpanjang kedua di dunia. Belum lagi jumlah penduduk yang menempati 4 terbesar.

"Negara kita juga sebagai penganut demokrasi terbesar ketiga dunia," katanya disambut tepuk tangan hadirin. Demikian pula Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dan Indonesia tercatat sebagai 16 kekuatan ekonomi terbesar dunia. "Dan diperkirakan tahun 2035 nanti akan jadi terbaik kelima di dunia," tegasnya. Hal tersebut diingatkan Menteri Eko lantaran para generasi muda santri nantinya yang akan menjadi penentu bagi kemajuan bangsa ini.? Yang tidak aklah membanggakan adalah NU sebagai organisasi keagamaan dengan massa terbesar di dunia.

Tugas berat saat ini adalah bagaimana kebesaran yang ada tidak justru menjadi beban. "Kalau bisa, memberi contoh yang baik agar menjadi kebanggaan," pesannya. Dengan kebesarannya, NU dan umat Islam mampu mengayomi serta memberikan contoh yang baik bagi Indonesia dan dunia.

Kepada para santri yang usianya masih belia tersebut, menteri Eko berharap mereka memiliki? ? cita-cita tinggi. "Cita-cita tinggi itu penting agar saat berbaur dengan masyarakat tidak menjadi alasan untuk tidak semangat, termasuk memajukan desa," katanya.

Sekadar membandingkan, negara Swiss bisa jadi negara kaya walaupun tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. "Dan desa kalau dikelola sumber dayanya dengan baik, maka akan jadi kekuatan yang sangat besar," pesannya. Dia mengusulkan bagaimana desa dapat memiliki varian khusus sehingga benar-benar dapat diandalkan sebagai sumber penghidupan masyarakat, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Quote, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 28 Juli 2017

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sakai Nobukazu (57) dan Suzuki Masayuki (59) resmi memeluk agama Islam usai mengucapkan dua kalimat Syahadat di hadapan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan ratusan santri Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta, Sabtu (10/6) malam.

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Meski terbata-bata, namun keduanya nampak begitu khusuk dan menghayati saat membaca dua kalimat tersebut.

Kiai Said mengaku tidak mengajak mereka berdua untuk memeluk Islam, tetapi mereka masuk Islam atas kehendak sendiri. “Padahal saya nggak ngajak masuk Islam, tapi masuk Islam sendiri,” tuturnya.

Sejauh ini, ia menuturkan sudah ada enam belas warga Jepang yang menyatakan diri menjadi pengikut agama yang dibawa Nabi Muhammad itu. “Sudah empat belas, tambah dua orang (Sakai dan Suzuki) berarti enam belas,” ucapnya.

“(Setelah masuk Islam) Saya beri nama Ali Sakai Nobukazu dan Umar Suzuki Masayuki,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Lebih lanjut, Kiai asal Kempek Cirebon itu menjelaskan, Islam dan kemanusiaan itu sangat sesuai dan cocok. Karena cita-cita Islam adalah membangun keharmonisan dan kedamaian umat manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Antara Islam dan manusia sudah sangat cocok sekali,” ungkapnya.

Adapun kelompok teroris dan radikal yang mengatasnamakan Islam sebagai tameng, Kiai Said menilai bahwa mereka itu bukan Islam karena apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

“ISIS bertentangan dengan Islam itu sendiri, bertentangan dengan ajaran orisinil Nabi Muhammad yang mengajarkan kedamaian,” urainya.

Sementara itu, Ali Sakai bercerita bahwa orang tuanya adalah seorang bukio atau ulama Buddha. Namun kemudian, ia memeluk agama Islam karena Islam itu agama yang membawa kedamaian. Oleh karena itu, ia mengaku bahagia bisa menjadi bagian dari umat Islam.

“Saya banyak teman dari Malaysia dan Indonesia. Hanya Islam yang membawa kedamaian. Saya hari ini sangat bahagia karena sudah masuk Islam,” ungkapnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 Juli 2017

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mayoritas negara-negara Muslim di seluruh dunia menetapkan hari Rabu (10/7) sebagai hari awal bulan Ramadhan 1434 H dan hari dimulainya ibadah puasa. Beberapa lainnya menetapkan hari Selasa (9/7) sebagai awal mula Ramadhan.

Demikian dilansir kantor berita Kuwait KUNA (9/7). Dewan Kerajaan Saudi Arabia mengumumkan secara resmi jika hari Selasa ini merupakan hari terakhir yang menyempurnakan bulan Syaban, dan Rabu merupakan awal bulan Ramadhan.

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh Dewan Fatwa Mesir setelah melakukan proses rukyah di beberapa titik di negara itu, namun tidak dilihatnya tanda-tanda kemunculan hilal atau anak bulan sabit sebagai pertanda awal bulan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dewan Wakaf Sunni dan Dewan Fikih Irak di Baghdad juga mengumumkan kebijakan serupa. Irak akan memulai puasa pada Rabu esok.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa negara Arab lainnya seperti Kuwait, Yaman, Qatar, Emirat, Oman, Palestina, Lebanon, Jordan, Aljazair, Tunis, Maroko dan Sudan juga memaklumkan pengumuman serupa. Negara-negara Muslim di luar Arab lainnya, seperti Pakistan, Malaysia, Brunei dan Indonesia juga menetapkan keputusan yang sama.

Berbeda dengan mayoritas negara-negara Muslim di atas, ada juga beberapa institusi dan dewan fatwa Islam di beberapa negara Eropa, Russia, Kazakstan dan China yang mengumumkan awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa ini.

Penulis: Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sejarah, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Membludaknya jamaah shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin RW 07 Dusun Losari Desa Samudra Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah Ahad (25/6) pagi membuat warga memanfaatkan halaman masjid, bahkan ada yang sampai ke pekarangan warga.?

Ketua RW 07 Yuswo Hadi Yuwono memaparkan tahun ini shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin merupakan pelaksanaan tahun ketiga, di mana tahun-tahun sebelumnya warga melaksanakan shalat Idul Fitri di halaman SD 01 Samudra yang areanya lebih luas. Namun karena di sekolah tersebut sudah dibangun gedung baru, area halaman menjadi lebih sempit. Mushala Al Mujahidin sendiri hanya mampu menampung maksimal 100 jamaah.

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

“Alhamdulillah penyelenggaraan shalat idul Fitri merupakan salah satu agenda utama setiap tahunnya,” kata Yuswo seraya menambahkan tak kurang dari lima ratus warga turut mengikuti shalat Idul Fitri.

Selain sempitnya area shalat, dalam persiapan shalat Idul Fitri, panitia juga menghadapi satu persoalan, yakni karena akhir Ramadhan ini masih sering turun hujan, halaman dan pekarangan sekitar mushala menjadi basah dan becek. Bahkan pada sore dan malam hari sebelumnya, hujan turun cukup deras selama beberapa jam. Untuk mengantisipasinya, warga menaburkan arang di atas area halaman dan pekarangan sebelum dipasang alas dan sajadah?

Tokoh agama setempat, Ahmad Rido mengungkapkan dari tahun ke tahun selalu terjadi peningkatan kesadaran warga untuk mengikuti berbagai ibadah termasuk shalat Idul Fitri. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya warga yang ikut serta shalat Idul Fitri. Ia pun mengapresiasi hal tersebut. Menurutnya ada hal sangat penting untuk mengatasi masih lemahnya masyarakat dari menjalankan ritual agama Islam, yakni membuang rasa malas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemalasan ini faktor utama yang harus dihadapi setiap individu. Kalau mampu membuang kemalasan, tentu bisa giat dan selalu aktif melaksanakan ibadah,” kata pria asal Kabupaten Batang yang mengajar Pendidikan Agama Islam.

Ia mengaku rasa kasih sayang, empati dan perhatian menjadi kunci dalam menggerakkan masyarakat agar giat beribadah.

“Perhatian tanpa diminta oleh mereka harus kita berikan,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain peningkatan kesadara dalam beribadah, menurutnya masyarakat juga semakin kompak dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti dalam persiapan shalat Idul Fitri ini mereka juga bahu membahu membersihkan halaman dan pekarangan sekitar mushala.

Salah satu jamaah, Sarwono, mengatakan dirinya selalu bersemangat dalam melaksanakan shalat Idul Fitri.

“Idul Fitri ini kan momen berharga. Saya sangat senang kalau bisa berkumpul dengan seluruh keluarga dan bisa shalat, bertemu dan bersilaturahim dengan semua warga di sini,” katanya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 26 Juli 2017

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. PWNU Kalimantan Barat berpandangan, organisasi besar seperti NU, harus dikelola secara sistematis. Untuk tujuan itu, digelar Workshop Knowledge Managament (WKM) di Gedung Upelkes Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara, pada Kamis-Jumat (9-10/5).

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Ketua Panitia WKM, Abdul Mukti Rouf mengatakan, NU Kalbar ingin mengajak seluruh pengurus untuk memahami bagaimana cara mengelola organisasi. Jangan hanya tahu organisasi, tapi tidak paham cara mengelolanya. “Dengan adanya WKM ini diharapkan para pengurus paham dan tahu manajemen organisasi. Mereka menjalankan organisasi secara sistematis, terprogram, dan tepat sasaran,” tambahnya.

Menurut Mukti, dengan WKM, pengurus NU diajak mengelola berbagai pengetahuan empirik menjadi informasi yang menginspirasi bagi? pengurus lain. Misalnya, Cabang NU “A” atau orang NU “A” berprestasi di bidang tertentu, “Tidak ada salahnya NU yang lain belajar atau berguru dengan NU yang berprestasi tersebut,” jelas Mukti yang juga Dosen STAIN Pontianak ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tujuan digelarnya WKM ini juga agar seluruh pengurus NU di Kalbar fokus pada prestasi yang dapat membanggakan baik bagi jamiyyah dan jamaah. Kita ingin menjawab apakah organisasi yang besar dapat dibarengi dengan prestasi besar pula, “Jangan terbalik, organisasi besar tapi prestasi kecil, bahkan tak ada sama sekali. Hal ini tentu tidak kita inginkan,” papar dosen pengampu mata kuliah Pemikiran Islam ini.

Lebih jauh, dikatakan Mukti, lewat WKM ini seluruh peserta dapat merumuskan berbagai program berbasis pada kebutuhan, keunikan, dan local wisdom yang bersifat bottom up (dari bawah). Setelah dirumuskan tentunya segera diimplementasikan, “Kita tidak menginginkan habis WKM, seolah tak terjadi apa-apa. Maksudnya, apa yang dihasilkan dari WKM justru tidak memberikan perubahan bagi perkembangan organisasi NU itu sendiri,” harapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

WKM ini akan dibuka Ketua PWNU, M Zeet Hamdy Assovie MTM. Ia yang juga Sekda Kalbar mengapresiasi WKM. Dengan program tersebut, semakin membesarkan dan menancapkan eksistensi NU di Bumi Khatulistiwa.

Menurut Zeet, NU besar, karena para pengurusnya berpikiran besar. Mereka bekerja sepenuhnya untuk umat, tanpa digaji, semua lilahi ta’ala. Sikap itulah yang membuat NU besar, “Saya berharap, setelah WKM, para pengurus semakin berkiprah membesarkan NU untuk masyarakat Kalbar,” katanya.

Peserta pelatihan WKM terdiri dari PWNU, Pengurus Cabang, dan Banom. Para peserta diajarkan dan disegarkan tentang pengetahuan keorganisasian NU.

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? ? : Rosadi Jamani

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah