Selasa, 18 April 2017

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuai kontroversi di tengah masyarakat. Pro dan kontra datang silih berganti. Perkaranya, pembubaran organisasi masyarakat tersebut dilakukan tanpa proses pengadilan, meskipun sesuai konstitusi dengan lahirnya Perppu No. 2 tahun 2017.

Pengamat politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Sofi Mubarok, menilai pemerintah mengambil langkah yang tepat. Menurutnya ada dua faktor ketepatan pemerintah. Pertama, HTI rentan dimasuki ISIS. Meskipun dalam kaderisasinya HTI tidak memberikan paham radikal pada anggotanya, tetapi dogma agama yang beririsan dengan ISIS sangat berpotensi ditunggangi militan ISIS. Atau, meskipun mereka berdalih bahwa tidak mengajarkan kekerasan dalam proses pengkaderan, faktanya menunjukkan anggotanya demikian.

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI

Saat alumni Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, itu mengisi seminar di Bandung, ada seorang yang memaki salah satu pemateri dengan teriakan dan memotong pembicaraan pemateri. Menurut penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah itu sudah mengandung radikalisme.?

Sementara di sisi lain, Indonesia sedang krisis radikalisme. Mengutip data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), alumni Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, itu menyampaikan, bahwa di Jawa Timur saja sudah teradapat 16 kabupaten/kota yang terindikasi radikalisme akut. Ini menjadi faktor kedua tepatnya HTI dibubarkan mengingat ideologi HTI sebagian beririsan dengan motif-motif penggerak radikalisme ISIS.

Dalam beberapa kesempatan, juru bicara HTI Ismail Yusanto selalu mengatakan bahwa organisasi mereka adalah organisasi dakwah. Tetapi, HTI tidak pernah berbicara konsep agama sebagai suatu sistem nilai, hanya konsep kenegaraan saja. Itu pun masih mengawang. Sebab, Ismail tidak bisa menjawab ketika ditanya oleh Aiman dalam satu program televisi swasta tentang bagaimana tatacara pemilihan khalifah dan siapa khalifahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengungakapkan alasan Ismail tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Ia menyebutkan bahwa faktanya terdapat begitu banyak perbedaan cara pemilihan pemimpin. Nabi Muhammad tidak menunjuk penggantinya secara langsung. Sayyiduna Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih secara musyawarah. Sayyiduna Umar ditunjuk langsung oleh Sayyiduna Abu Bakar. Sementara itu, Sayyiduna Utsman bin Affan dipilih dengan sistem ahlul halli wal aqdi. Lain lagi dengan Sayyiduna Ali yang konon dibaiat oleh pemberontak. Lebih-lebih pada masa Muawiyah dan seterusnya yang pemilihan khalifahnya bukan berdasarkan atas kemampuan, tetapi hubungan kekerabatan. Oleh karena begitu beragamnya cara pemilihan khalifah, HTI kebingungan sendiri.

Sofi menyatakan, khilafah termasuk dalam domain grand theory siyasah. Dalam seluruh literatur studi Islam, seluruh ulama sepakat siyasah adalah persoalan duniawi dan muamalah, bagaimana interaksi antar personal dan komunitas dibangun. Oleh karena, keliru jika khilafah diyakini sebagai dogma agama.

Mengutip Abdul Wahab Khalaf, staf ahli Kementerian Agama itu mengatakan, dalil-dalil tentang ahkamul muamalah itu semuanya ijmali (umum), tidak tafshili (terperinci). Ayat-ayat ahkamul muamalah bersifat ijmali itu bertujuan karena berkaitan dengan kemaslahatan hamba.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mereka mengatakan bahwa menegakkan khilafah sebagai bagian dari menegakkan agama. Dalam maqashid syariah (tujuan diterapkannya syariah), menjaga agama (hifdz al-din) menempati posisi paling atas. Tetapi tidak selamanya demikian. Sofi lalu mencontohkan peristiwa Nabi Harun membiarkan masyarakat Bani Israil dengan kekufurannya saat ia diserahi kepercayaan oleh Nabi Musa.

Saat itu, Nabi Harun melihat dua hal yang kontradiksi di tengah umatnya, yakni kemaslahatan menjaga akidah dan kemasalahatan memelihara persatuan. Nabi Harun memilih hal kedua, menjaga keteraturan masyarakat, sebab di dalamnya terdapat maqashid syariah yang lain, yakni menjaga diri (hifdz al-nafs) dan menjaga harta (hifdz al-mal). Alasan lain kalau tidak dijaga eksistensi umat itu maka akan timbul perampasan harta, atau bahkan sampai saling bunuh. Pilihan kedua itu dipilih sebab bersifat lebih abadi.

“HTI tidak melihat itu. Hirarki yang mereka lihat hanya khilafah menegakkan agama. Tidak sesederhana itu persoalan bangsa,” ujarnya.

Tidak ada wahyu Nabi tentang kekhalifahan,? Nashb al-imam ala al-ta’yin ghaitru maujud. Penunjukan imam dengan menunjuk individu itu tidak ada. Itu menunjukkan tidak ada wahyu secara jelas.

“Tentang siyasah itu ranahnya ijtihadi,” ujarnya mengutip pendapat ulama.

Oleh karena itu, di akhir pembicaraan, ia mengajak HTI untuk mengaji kembali. Ia meminta orang-orang HTI untuk kembali membuka literatur-literatur fiqh siyasah.? (Syakirnf/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 17 April 2017

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang

Gunung Sugih, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para kader NU yang tergabung dalam IPNU dan IPPNU Lampung Tengah siap menyukseskan pelaksanaan Kongres dua organisasi pelajar NU ini yang akan berlangsung di Palembang, akhir November ini.

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang

Ketua IPNU Lampung Tengah, Dedi Kurniawan kepada kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Gunung Sugih menyampaikan akan mengirimkan 40 peserta CBP dalam rangka Jambore Pelajar dan Santri Nusantara. CBP Lampung Tengah akan bergabung dengan peserta CBP se - Indonesia di Palembang. 

”Sedangkan ketika kongres nanti akan berangkat beberapa pengurus IPNU dan IPPNU Lampung Tengah ,” tambah alumni Jurusan Syari’ah STAIN Jurai Siwo Metro – Lampung ini, Ahad (25/11). 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Akhmad Syarief Kurniawan 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang Pemilihan Presiden Indonesia, khususnya dunia maya, gencar kampanye tak sehat, bahkan saling menyerang dan menjatuhkan. Menanggapi hal itu, Pejabat Rais ‘Aam PBNU KH A Mustofa Bisri menyerukan supaya tim kampanye melakukan cara-cara yang elegan, sportif, dan beradab. ?

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab

“Aku membayangkan andai ada poros lain yang mengkampanyekan 2 pasangan yang sedang bersaing saat ini, dengan cara yang elegan, sportif, dan beradab,” katanya melalui akun Facebook, Jumat (23/5).

Kiai asal Rembang tersebut menambahkan, dengan latar belakang spanduk bergambar 2 pasangan pesaing, Jurkam mengingatkan bahwa tujuan kedua pihak yang bersaing ini sama. Untuk Indonesia dan Bangsa Indonesia. Jadi mereka kedua pasangan itu bersaing sebagai saudara. Bukan sebagai musuh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat disilakan memilih salah satunya dengan merdeka dan santai tanpa bersitegang dan saling menyerang. Apalagi sampai harus bermusuhan.

Di ujung statusnya, ia mengatakan, mudah-mudahan Allah - yang berkuasa mengangkat siapa saja yang Ia kehendaki - memilihkan yang terbaik untuk kita dan negeri kita. Amin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara di akun Twitter, bertitel TWEET JUMAT, kiai yang akrab disapa Gus Mus ini mengatakan, “Gunakanlah kekuatanmu untuk melakukan amal2 baik dan gunakan kelemahanmu untuk meninggalkan perbuatan2 buruk.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Halaqoh, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 16 April 2017

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini

Lampung Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pesantren di Indonesia kurang lebih ada 23.000. Peran pesantren sangatlah besar, salah satunya? adalah ikut mencerdaskan anak bangsa melalui proses pendidikan yang ada di negara ini. Pesantren jelas tulang punggung republik ini.

Demikian disampaikan Hj Nihayatul Wafiroh selaku anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di sela-sela sambutannya dalam agenda Tasyakkur dan Peresmian Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah di kompleks kampus setempat Jalan Kotasari RT 12 / RW 06 No 1 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (3/9).

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tulang Punggung Republik Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini

“Jangan pernah malu mondok di pesantren. Jebolan pesantren bisa menjadi apapun, dengan barokah doa kiai insya Allah ilmu kalian akan bermanfaat di masyarakat,” pungkas Dosen Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi Jawa Timur ini.

Sementara Kiai Andi Ali Akbar selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah menambahkan, kehadiran kampus ini dirintis sejak 2014 lalu. Alhamdulillah tiga bulan lalu surat izin operasional sudah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami berharap dengan hadirnya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah ini mampu menambah corak atau warna pendidikan tinggi di Lampung Tengah dan menciptakan generasi muda Islam yang andal dalam keilmuan, menjadi ilmuwan yang saleh atau salehah dan ilmunya membawa kemaslahatan untuk masyarakat sekitar,” pungkas Wakil Ketua GP Ansor Lampung ini.

Hadir dalam agenda tasyakkur dan peresmian Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah tokoh-tokoh NU yaitu mantan Ketua PWNU Propinsi Lampung KH Ngaliman Marzuqi, Wakil Sekretaris PCNU Lampung Tengah Imam Kastolani, Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono, Wakil Ketua Fatayat NU Lampung Tengah Hj Laili Mashitoh, PMII Lampung Tengah Irmansyah, KOPRI Lampung Tengah, IPNU Lampung Tengah, IPPNU Lampung Tengah, Camat Kotagajah Eduart Hartono, Pengasuh pesantren Sunan Ampel Punggur Kiai Ali Fadilah Musthofa, Ketua MWCNU Kotagajah Kiai Imron Rosyadi, Sekretaris MWCNU Kotagajah Kiai Sumarjono, LP Ma’arif? NU Kotagajah H Moch Sofyan, Fatayat NU Kotagajah Laila Rahmawati, Kasubag Hukum Diktis Kemenag RI Ibnu Anwaruddin, Sekretaris Kopertais Wilayah VII Sumbagsel Herizal, Dosen IAIN Jurai Siwo Metro Imam Mustofa, Rektor Institut Agama Islam Agus Salim Metro Ahmad Khoiri, dan ratusan santri pesantren Nurul Ulum Kotagajah, serta masyarakat sekitar. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Kyai, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 15 April 2017

Cegah Banjir, Daerah Ini Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Talud

Magelang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Prioritas penggunaan dana desa di bidang infrastruktur terus dimanfaatkan untuk pembangunan desa, salah satunya upaya pencegahan banjir dan longsor dalam menghadapi musim penghujan melalui pembangunan talut.

Hal ini diungkakan Kepala Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Magelang, Zainal Mustofa, saat menerima kunjungan tim Jelajah Desa Nusantara (JDN) Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. "Pembangunan talut ini sudah berdasarkan musyawarah desa (Musdes) yang rutin berjalan," ujar Zainal.

Cegah Banjir, Daerah Ini Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Talud (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Banjir, Daerah Ini Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Talud (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Banjir, Daerah Ini Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Talud

Demi melakukan pembangunan talut secara merata, Zainal mengaku Dana Desa tahun 2015 dibagi secara merata di 5 dusun. "Dana desa ini kami bagi ke 5 dusun. Setiap dusun mendapatkan alokasi dana sebesar 40 juta," terangnya.

Kades Ngadirejo menyatakan bahwa pembangunan talut sepanjang 120 meter dan tinggi 1,5 - 3 meter yang menjadi salah satu program penggunaan dana desa dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat setempat.

"Seperti amanah Menteri Desa Marwan Jafar, proyek ini dikerjakan oleh masyarakat secara padat karya atau swakelola," sebut Zainal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih jauh, Zainal menjelaskan, penggunaan dana desa untuk membangun talud itu sesuai dengan hasil musyawarah masyarakat desa (musdes). "Pengerjaannya juga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, Bupati Magelang Zaenal Arifin mengatakan penyaluran dana desa tahap pertama di Kabupaten Magelang tahun ini baru 50% atau sekitar Rp113 miliar dari total anggaran Rp226 miliar. Dana desa tersebut telah disalurkan kepada 210 desa dari total 367 desa.?

"Penyaluran sedikit tersendat karena ada desa-desa yang belum memenuhi ketentuan sehingga pencairan dana desa belum bisa dilakukan. Itulah salah satu alasannya kenapa baru bisa 50% karena ada desa-desa yang belum memenuhi ketentuan yang ada," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penyaluran dana desa tahun ini dilakukan dalam dua termin. Kementerian Keuangan telah menyalurkan Dana Desa pada tahap pertama sebesar 60% mulai Maret lalu. Sisa 40% Dana Desa akan disalurkan pada Agustus 2016. Zaenal menjanjikan penyaluran dana desa di Kabupaten Magelang akan selesai pada November 2016.

Untuk Dana Desa di Kabupaten Magelang, lanjut Zainal, pihaknya mendapatkan kenaikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar 91% dari anggaran tahun sebelumnya yang hanya Rp118 miliar. "Untuk Alokasi Dana Desa (ADD) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencapai Rp124 miliar," urainya.

Seperti diketahui, alokasi Dana Desa pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar Rp46,9 triliun yang akan disalurkan kepada 74.754 desa. Setiap desa akan mendapatkan Rp600 juta hingga Rp800 juta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Nusantara, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 14 April 2017

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menanggapi pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menganggap bahwa putusan pemerintah terkait pembubaran HTI sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam.

“Pemerintah sama sekali tidak melawan dakwah Islam. Pemerintah Republik Indonesia tidak melawan agama Islam sama sekali. Yang dilawan adalah gerakan politik Hizbut Tahrir,” kata Kiai Ishom saat menjadi pembicara pada diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/5).

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

HTI, kata Kiai Ishomuddin, merupakan gerakan politik yang menggunakan simbol bendera putih dan hitam yang bertuliskan tauhid dengan menempuh jalan dakwah di negara Republik Indonesia.

Ia menambahkan, HTI seringkali mengatasnamakan umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya, yaitu menegakkan khilafah yang sifatnya internasional.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka ingin membuat sistem negara khilafah yang dipimpin khalifah mulai dari Sabang sampai Maroko, bukan Sabang sampai Merauke, tapi dari Sabang sampai Maroko,” terang Kiai Ishomuddin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka menentang nation-state, negara bangsa,” tambahnya.

Diskusi ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kang Said menguraikan singkat sejarah Hizbut Tahrir dari mulai Palestina sampai masuk ke Indonesia. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terorisme di Indonesia

Oleh Ferial Farkhan Ibnu Akhmad

--Bangsa Indonesia kemarin Kamis (14/1) kembali diguncang aksi terorisme. Peristiwa peledakan bom dan baku tembak yang terjadi di kawasan Sarinah Jl MH Thamrin Jakarta Pusat sempat membuat tegang kondisi Ibu Kota. Motif penyerangan kejadian itu hampir sama dengan teror yang terjadi di kota Paris Prancis beberapa waktu yang lalu. Pihak Kepolisian menyatakan bahwa otak dari aksi teror tersebut adalah jaringan ISIS yang dilakukan oleh seorang militannya yang bernama Bahrun Naim.

Tindakan terorisme merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan dan akan menimbulkan ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh bangsa di dunia ini kiranya sepakat untuk mengutuk segala bentuk aksi terorisme. Ada banyak latar belakang yang melahirkan gerakan radikalisme. Saat ini presepsi masyarakat selalu berasumsi bahwa akar dari terjadinya tindak radikalisme adalah motif agama. Dan yang paling sering dimaksud adalah agama islam. Padahal islam pada hakikatnya adalah agama yang menebarkan kasih sayang dan rahmat bagi seluruh alam.  

Terorisme di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme di Indonesia

Faktor lahirnya terorisme

Ada banyak definisi terorisme. Penulis sendiri akan mengutip pada Perpu Nomor 1 Tahun 2003 yaitu “setiap tindakan dari seseorang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional”. Sedangkan menurut Oxfords Advance Leaners Dictionary (1995) terorisme adalah “Segala bentuk tindakan kekerasan untuk tujuan politis atau untuk memaksa sebuah pemerintahan untuk melakukaan sesuatu, khususnya untuk menciptakan ketakutan dalam sebuah komunitas masyarakat”. 

Jika kita tengok kilas sejarah munculnya terorisme memang sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Namun istilah terorisme mulai populer sejak abad ke-18. Menurut buku yang berjudul Political Terrorism (1982) karangan Grant Wardlaw mengatakan bahwa manifestasi terorisme sistematis muncul sebelum revolusi prancis tahun 1798. Tapi baru mencolok sejak pertengahan dan menjelang akhir terjadinya perang dunia I dan terjadi hampir di semua belahan dunia. Sedangkan aksi teror yang bermotif agama sudah ada sejak zaman pemerintahan khalifah Ali Bin Abi Thalib yang diprakarsai oleh aliran Khawarij. Namun radikalisme agama semakin populer mulai satu setengah dekade yang lalu dangan adanya penyerangan gedung WTC di New York AS oleh kelompok Islam radikal Al Qaeda yang dipimpin oleh Osama Bin Laden. Aksi teror pun merambah ke Indonesia dengan adanya peristiwa Bom Bali I dan II pada tahun 2002 dan 2005.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada dasarnya ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan terorisme. Ketidakadilan yang terjadi baik itu dari segi ekonomi, sosial maupun politik semakin mendukung adanya tindakan tersebut. Akan tetapi faktor yang paling fundamental adalah masalah ideologi dan teologi yang diusung oleh pelaku itu sendiri. Semua kelompok yang melakukan tindakan terorisme bertujuan untuk membumikan ideologi yang mereka yakini. Hal ini bisa terjadi karena adanya ketidakpuasan dengan ideologi yang ada sebelumnya. 

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengerucutkan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Ideologi Pancasila merupakan produk pemikiran luhur para founding father kita yang dijadikan sebagai falsafah hidup rakyat Indonesia kini sedang diserang oleh berbagai kekuatan ideologi lain. Dan yang paling utama adalah ideologi negara agama. Apa itu ideologi negara agama ? yaitu suatu kekuatan ide pemikiran untuk mendirikan negara yang berlandaskan syariat Islam secara formal. Ideologi semacam ini di Indonesia bermula dari adanya kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang didirikan oleh SM Kartosuwiryo guna mendirikan sebuah negara Islam Indonesia (NII).

Ideologi negara agama tercipta atas dasar keinginan untuk menciptakan suasana kehidupan beragama guna menjalankan syariat agama Islam secara murni dan sempurna dengan berdasarkan  Al-Qur’an dan Al-Hadist di atas sebuah negara. Tapi sayang, Pemahaman ajaran agama hanya diimplementasikan secara tekstual saja di negara yang multikultural ini. Menerapkan ajaran agama dengan kekerasan serta menganggap kelompoknya yang paling benar. Mereka pun tak segan memvonis kelompok yang tak sejalan dengan pemikirannya sebagai kelompok salah yang wajib diperangi dengan dalih jihad. Memperjuangkan ideologi bagi mereka adalah proses mencapai jaminan tuhan menuju surga yaitu dengan mendapatkan gelar mati syahid. Walaupun dengan cara yang konyol seperti bom bunuh diri. Mereka menyampingkan hakikat ajaran islam yang Rahmatan lil alamin. Penyimpangan ajaran agama seperti itulah yang menjadi doktrin pada setiap anggota yang berhasil mereka rekrut. Visi yang selalu mereka kampanyekan adalah berdirinya Negara Islam (Dar al-Islam) dan menganggap bahwa negara Indonesia adalah negara musuh (Dar al-Harb) maka wajib untuk diperangi. Sistem pemerintahan yang selama ini berjalan mereka anggap toghut (Kafir) sehingga harus diganti dengan sistem khilafah islamiyah. Dan barang siapa yang berupaya mencegah maka halal hukumnya untuk dibunuh. Sungguh merupakan pemahaman ajaran agama yang salah kaprah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Permasalahan bangsa semacam ini sungguh sangat menuntut kita sebagai warga negara untuk melakukan upaya mempertahankan keutuhan negara. Pastinya kita tidak ingin negara kita yang telah diraih dengan darah dan nyawa hilang begitu saja. Ikhtiar yang harus kita lakukan tidak sebatas sebatas menangkap dan menghukum pelaku teror saja. Tapi bagaimana kita mencegah tumbuh suburnya ajaran ideologi yang mereka bawa. Karena barapa pun banyaknya teroris yang ditangkap tapi ideologi mereka masih bersemi di negara ini, sampai kapanpun terorisme akan tetap ada. Kita harus belajar dari sejarah ketika ideologi Pancasila bertempur dengan ideologi komunis. Ucapan Petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika akan dihukum mati mengatakan “PKI sebagai partai mungkin bisa mati, namun komunis sebagai ideologi tidak akan bisa mati”. Ini  harus kita cermati dan kita renungkan. 

Upaya penanggulangan radikalisme di Indonesia

Fenomena ini bagaikan benang yang kusut. Perlu adanya kerjasama yang baik dari semua elemen masyarakat. Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan dalam meghadapi permasalahan ini. Pertama, Membangkitkan kembali spirit kekuatan dari nilai-nilai ideologi Pancasila yang menjadi dasar negara. Tanpa disadari semakin kesini semakin memudar kesaktian Pancasila. Pada hakikatnya semua nilai yang terkandung dalam Pancasila sudah mencakup kebutuhan kita dalam kehidupan bernegara. Permasalahannya adalah selama ini nilai pancasila hanya diaktualisasikan sebatas ingatan kepala saja. Belum sepenuhnya bisa diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga selalu dijadikan celah untuk diserang oleh ideologi lain. Dan cara yang paling efektif adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan di negara kita. Agar nilai-nilai Pancasila bisa ditanamkan sejak dini pada semua anak bangsa secara konsekuen.

Kedua, adanya perbaikan pada metode dakwah yang dilakukan oleh para pemuka agama. Sudah saatnya masyarakat diajarkan pemahaman ajaran dan doktrin agama yang damai dan menyejukkan. Sadarkan kepada semua umat beragama bahwa tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang kekerasan. Bukan malah menebar rasa kebencian kepada sesama manusia.  Klaim fanatik yang menganggap ajaran yang mereka yakini paling kaffah sehingga selalu menyalahkan kelompok lain itu adalah awal mula lahirnya kepribadian yang radikal. Sehingga mudah untuk dijejali doktrin kekerasan dalam beragama. Dakwah yang disampaikan pun jangan hanya mengajarkan ritual ibadah secara yang simbolik saja. Tapi bagaimana kita bisa melaksanakan ibadah dengan benar, baik itu ibadah yang langsung berhubungan dengan Tuhan (Hablum Minallahu) maupun yang berhubungan dangan sesama manusia (Habblum Minannas). Sehingga akan tercipta sebuah iklim yang harmonis dalam kehidupan beragama. 

Ketiga, Meningkatkan kepedulian seluruh elemen masyarakat akan pentingnya bela negara. Karena dengan itulah ideologi kita bisa tahan dari serangan musuh. Bela negara bukan hanyalah tanggungjawab militer saja. Tapi semua manusia yang hidup di atas negara bhineka ini. Tanamkan rasa cinta tanah air kepada semua masyarakat. Ini juga merupakan tugas para ulama untuk menyadarkan para jamaahnya untuk meningkatkan rasa cinta tanah air. Seperti yang sudah dilakukan para kyai NU pada zaman penjajahan dulu. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pernah mengatakan bahwa “Agama dan Nasionalisme tidak bisa dipisahkan”. Tentu ini merupakan ijtihad pemikiran beliau dalam mengatasi permasalahan bangsa pada saat itu.

Keempat, poin keempat ini menurut penulis adalah jurus pamungkas dalam menghadapi gerakan radikalisme yang ada di negara ini. Yaitu harus adanya perbaikan dalam tatanan pemerintahan negara ini sesuai dengan nilai Pancasila. Kondisi perpolitikan di negara ini pun juga harus dibenahi. Masyarakat setiap hari selalu disuguhkan oleh media wajah perpolitikan negara ini yang rancu. Itu menambah deretan panjang penyebab munculnya rasa ketidakadilan. Ingat, adanya terorisme di negara ini sama dengan adanya pertempuran ideologi. Selama ideologi Pancasila tidak bisa menjawab segala permasalahan bangsa dan merealisasikan rasa keadilan seperti yang termaktub dalam sila kelima, maka tunas-tunas terorisme dan separatisme akan selalu ada dan semakin subur di negara ini. Segala upaya yang tercantum dalam poin sebelumnya harus sinergi dengan perbaikan ekonomi dan pembagunan sosial. Almarhum KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan “Nasionalisme tanpa keadilan adalah ilusi”.

Penulis masih berkeyakinan bahwa ideologi pancasila masih bisa kita andalkan untuk menghadapi segala permasalahan yang terjadi di negeri ini. Tentu itu semua tak terlepas  kesadaran kita sebagai warga negara. Jika itu bisa dilakukan, maka akan tercipta suatu kedamaian sehingga negara ini bisa menjadi negara yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.

Ferial Farkhan Ibnu Akhmad, Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Sejarah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah