Kamis, 16 April 2015

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi bahtsul masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, saya berencana menghajikan kedua orang tua karena memang keduanya belum pernah berhaji. Hal ini saya lakukan semata-mata sebagai bakti anak kepada kedua orang tua. Tetapi yang perlu diketahui saya ini juga belum pernah haji. Yang ingin saya tanyakan, apakah menghajikan kedua orang tua terlebih dahulu padahal saya belum pernah haji dapat diperbolehkan? Dan bagaimana hukumnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syarip/Bandung)

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Menghajikan kedua orang tua tentu merupakan sebuah amal kebajikan dan merupakan salah satu bukti bakti anak kepada keduanya. Sebab, sebagai anak berbuat kebajikan kepada kedua orang tua atau yang dikenal dengan istilah birrul walidain adalah sebuah kewajiban tak tersangkal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada masalah berarti. Masalah kemudian muncul ketika si anak menghajikan kedua orang tuanya, sementara ia sendiri belum berhaji. Biasanya alasan yang dikemukakan adalah lebih karena sebagai penghormatan dan bakti sang anak kepada kedua orang tuanya, alasan lainnya usia keduanya sudah sepuh padahal belum berhaji.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alasan-alasan ini tampak sangat logis dan mudah dimengerti. Tetapi apakah alasan-alasan ini benar-benar dapat diterima secara nalar. Bisa jadi jawabnya iya, tapi bisa juga tidak.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan diwajibkan bagi setiap mulsim yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh syara’. Sedangkan tindakan sang anak dengan memberangkat kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum dirinya termasuk tindakan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pihak lain dalam soal ibadah. ?

Dari sini kemudian terlihat jelas persoalannya, yaitu bagaimana hukum memberangkatkan haji kedua orang tua, sementara pihak yang memberangkatkan belum menunaikan kewajiban haji tersebut, padahal haji adalah ibadah wajib dan termasuk rukun Islam.

Untuk menjawab persoalan ini kami akan menghadirkan salah satu kaidah fikih yang termaktub dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair. Bunyi kaidah tersebut adalah “bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.”

? ? ? ?

Artinya, “Mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1403 H, halaman 116).

Kaidah ini mengandaikan bahwa mendahulukan orang lain dalam persoalan ibadah dihukumi makruh. Dengan kata lain, sebaiknya tindakan mendahulukkan ini dihindari. Berbeda dengan sebaliknya, yaitu mendahulukan atau lebih mementing orang lain daripada diri sendiri dalam hal yang berkaitan dengan non-ibadah maka sangat dianjurkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dan mendahulukan orang lain dalam persoalan selain ibadah itu sangat baik. Allah SWT berfirman, ‘Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas dirinya sendiri, padahal mereka juga memerlukan,’ (Surat Al-Hasyr ayat 9),” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Oleh sebab itu, maka Sulthanul Ulama` Syekh Izzuddin Abdus Salam memandang, tidak boleh mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri dalam soal ibadah. Sedangkan argumentasi yang dikemukakan beliau adalah bahwa esensi atau tujuan ibadah pada dasarnya untuk mengagungkan Allah SWT. Karenanya, ketika ada seseorang yang mendahulukan atau mengutamakan pihak lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka orang tersebut dianggap mengabaikan pengagungan kepada-Nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Syekh Izzuddin berkata, tidak boleh mengutamakan orang lain sementara dirinya membutuhkan dalam hal ibadah. Karenanya, tidak boleh mengutamakan orang lain dalam hal air untuk bersuci, menutup aurat, dan shaf pertama dalam shalat jamaah. Sebab, esensi dari ibadah adalah mengagungkan Allah SWT. Oleh sebab itu barangsiapa yang lebih mengutamana orang lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka ia telah mengabaikan pengagungan kepada-Nya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawabannya adalah tindakan seorang anak yang menghajikan kedua orang tua sementara ia sendiri belum pernah berhaji adalah boleh tetapi makruh. Sebab tujuan ibadah adalah pengagungan kepada Allah SWT.

Hal ini selaras dengan kaidah di atas yang menyatakan, “Bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.” Karena dihukumi makruh, maka sebaiknya tidak perlu dilakukan. Yang paling baik adalah berhaji sendiri baru kemudian menghajikan kedua orang tuanya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 05 April 2015

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Presiden Joko Widodo Kamis(26/2) siang menerima Pengurus Besar Nahdatul Ulama di Istana Bogor. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, Presiden menerima laporan mengenai rencana penyelenggaran Muktamar NU pada Agustus mendatang.

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar

"Presiden sangat menyambut baik dan mendukung dan mendoakan muktamar sukses dan berhasil, keputusan-keputusannya bermanfaat untuk bangsa dan umat Islam," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada wartawan usai diterima Presiden di Kompleks Istana Bogor.

Said Aqil Siroj mengatakan Presiden selain menyambut baik juga mengatakan banyak hal yang bisa dibicarakan mengenai kebangsaan dan juga kemajuan umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Harapan beliau NU bisa menjadi benteng Islam yang moderat, Islam yang ramah dan santun," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Said Aqil menjelaskan Muktamar akan dilangsungkan di empat pesantren masing-masing Tebu Ireng, Tambak Beras, Denanyar, dan Rejoso.

Dia menjelaskan, target dari kegiatan tersebut adalah mengembalikan dan mengokohkan kembali peradaban Islam sebagai pondasi keberlangsungan NKRI.?

"Jadi Islam yang berbudaya yang beradab," katanya.

Menurutnya, juga ada pandangan mengenai gerakan radikal, NU mengatakan pihaknya sangat anti hal tersebut.

"Kita tegas dari dulu bahwa NU tegas anti radikalisme. Siapapun yang menggunakan kekerasan atas nama agama Islam salah," tegas Said Aqil Siroj.

Menurut ketua Umum PBNU, sejumlah negara Islam meminta pada Presiden agar Indonesia berada di garis depan dalam melawan ISIS dan melawan radikalisme.

Said Aqil Siroj didampingi oleh Ketua Panitia SC Muktamar Slamet Effendy Jusuf dan juga Wakil Ketua Umum PBNU Asad Said Ali. (antara/mukafi niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 01 April 2015

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) menginginkan wibawa kesultanan dikembalikan sebagaimana dahulu kala. Kesultanan atau keraton merupakan elemen penting terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jatim di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, Jum’at (31/5) malam. 

Said Aqil menyampaikan keinginan untuk membangkitkan kembali keraton saat membahas peran dan eksistensi pesantren. Dikatakannya, sejarah mencatat sultan dengan wali (ulama) merupakan satu kesatuan. Secara kelembagaan itu berarti menyatunya antara kesultanan atau keraton dengan dunia pesantren yang terjalin mulai Samudera Pasai di Aceh, di Jawa hingga Ternate Todeore di Maluku dan Papua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Secara berangsur hubungan itu renggang bahkan terpisah, berdiri sendiri tanpa saling mengisi, bermula sejak zaman Belanda dan berlangsung hingga zaman orde baru. Padahal mulanya mereka sekeluarga. Dalam keterpisahan itu keduanya mengalami kemerosotan. Tetapi pihak kesultananlah yang paling merasakan akibatnya,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Kang Said, sekarang ini hanya tingga dua atau tiga kesultanan yang masih hidup dan berkuasa, yang lain tinggal nama, ataupun dihidupkan kembali tetapi tidak punya rakyat, tidak punya tentara. 

“Bayangkan dengan dunia pesantren, ketika ditindas Belanda dan direpresi orde baru, tetapi masih terus hidup. Saat ini umumnya pesantren yang jumlahnya ribuan itu ada yang memiliki santri dua ribu hingga lima ribu orang. Bahkan organisasi kepesantrenan masih memiliki kekuatan para-militer terlatih yang jumlahnya bisa ribuan orang. Hal yang sama tidak dimiliki oleh Kraton atau kesultanan manapun di Nusantara,” katanya.

Ketua Umum mengungkapkan, belakangan ini keraton baru menyadari kelemahan tersebut, bersamaan dengan kunjungan para Sultan Nusantara ke NU. “Karena itu mereka mulai merasa pentingnya kerjasama dengan organisasi kepesantrenan seperti NU, sebagai upaya mengembalikan wibawa kesultanan sebagaimana dahulu kala,” katanya.

Dengan ketemunya kembali dua elemen penting Nusantara yaitu antara kesultanan dan pesantren diharapkan Indonesaia bisa menemukan jatidirinya kembali. Karena keduanya sebenarnya pemangku utama budaya Nusantara yang berpegang teguh pada nilai tradisi dan norma agama, yang ini telah tertanam dan terjalin sejak berabad yang lalu yang telah dirintis oleh para wali sejak datangnya Islam di Nusantara. 

“Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, kembali pada nilai-nilai Nusantara menjadi sangat mendesak saat ini, sebab apa yang dirumuskan dalam sistem politik dan ketatanegaraan kita seperti Pancasila adalah merupakan produk dari falsafah dan budaya Nusantara. Karena itu nilai kenusantaraan dan kepesantrenan perlu terus digali bersamaan dengan proses menemukan jati diri bangsa ini,” tambahnya.

Selain para pengurus teras NU Jatim, pembukaan Konferwil NU Jatim dihadiri sejumlah tokoh antara lain sesepuh NU KH Muchit Muzadi dan KH bashori Alwi, Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Staquf dan KH Kafabihi Mahrus, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim Soekarwo dan Saifullah Yusuf, dan delegasi pengurus NU dari 44 cabang serta para kiai dari berbagai pondok se-Jatim.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Hikmah, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 29 Maret 2015

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Prof Alexis C Del Rosario dari Filipina didampingi Dirjen Ketahanan Pangan Sri Suhartini dan pemerhati UKM Dr Amarhansah meninjau kegiatan usaha pengelolaan hasil singkong menjadi tiwul di Waykanan. Kunjungan ini digelar dalam rangka melihat produk hasil dari singkong selain dari tepung.

Pengelolaan singkong menjadi beras tiwul merupakan usaha yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama Kabupaten Waykanan.

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Dalam kunjungan ini Ketua LPPNU Yoni Aliestiadi memberikan keterangan kepada tamunya tentang mekanisme pembuatan olahan dari singkong berupa tiwul yang merupakan makanan yang rendah karbohidrat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu juga ia mempraktikkan bagaimana cara pembuatan tiwul di depan rombongan dari Filipina dan Departemen Pertanian Dirjen Ketahanan pangan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Prof Alexis mengatakan bahwa ia merasa senang dapat melihat secara langsung pembuatan makanan alternatif dari singkong yaitu tiwul.

Ditambahkannya bahwa kunjungannya ke Waykanan memang mencari olahan apa saja yang dapat dihasilkan dari tanaman singkong. "Di Filipina singkong hanya dijadikan bahan untuk makanan ternak," ujar Prof. Alexis C. Del Rosario.

"Kami akan mengembangkan olahan yang dihasilkan dari singkong selain makanan ternak," tambahnya.

Sri Suhartini menambahkan bahwa tahun ini pemerintah pusat melalui Departemen Pertanian memberikan bantuan untuk tanaman singkong kepada kelompok petani singkong.

ia mengharapkan Pemda Waykanan dapat berkoordinasi dengan lembaga yang peduli dan memperhatikan para petani singkong untuk bersama-sama memberikan masukan dan pengawasan untuk batuan ini agar sesuai sasaran.

Pengelola pabrik tiwul, Yoni Aliestiadi merasa bangga dengan kunjungan dari Kementrian Pertanian dan perwakilan dari comprehensive assessment of the permormance of the cassava supply chain and value chain and identification of interventions for competitiveness dari Filipina.

Yoni meminta Pemkab Waykanan agar lebih peduli kepada pengusaha UKM yang ada di Waykanan, untuk mengembangkan usaha kecil menengah sehingga mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. (Heri Amanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 23 Maret 2015

Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam

Kisah ini diceritakan oleh KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY, yang juga santri Kiai Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, Rais Aam PBNU 1981-1984. Tahun 1984, sewaktu hendak berangkat menuju Muktamar Situbondo, Kiai Ali Maksum menjanjikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi muda, kalau nanti tidak lagi terpilih menjadi Rais Aam di Situbondo. ?

Dalam arena Muktamar, Kiai Ali adalah Rais Aam yang memang akan dipilih lagi oleh para kiai sepuh. Karena Kiai Ali terbukti mampu membawa NU menjaga keseimbangan dalam diri NU, disamping kapasitas keilmuan yang sudah diakui publik. Saat itu akhirnya disepakati Ahlul halli wal aqdi (AHWA), Kiai Ali ada di dalamnya bersama Kiai Asad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur.

Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam

Dalam AHWA ini, Kiai Ali tidak bersedia melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam. Kiai Ali malah mengharapkan NU dipimpin yang lebih muda, sehingga regenerasi di tubuh NU berjalan dengan baik. Akhirnya, terpilih KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seusai Muktamar, Kiai Ali kembali ke pesantren, fokus mengaji dengan para santri dan masyarakat. Kiai Ali fokus membangun generasi NU yang kelak siap memimpin NU dan bangsa di masa depan. Tidak lupa, Kiai Ali memenuhi janjinya memberikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi. Sekali lagi, Kiai Ali malah memberikan sejumlah uang kepada santrinya ketika tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam.

Kisah ketidaksediaan Kiai Ali akhirnya ditiru santrinya bernama KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), walaupun sudah ditetapkan AHWA sebagai Rais Aam, tetap saja Gus Mus menolaknya. Inilah akhlak yang dimiliki Kiai NU, sangat tepat menjadi pembelajaran bagi bangsa dan negara dalam berbagai agenda demokrasi. Pilpres dan Pilkada di Indonesia harus belajar kepada NU, karena demokrasi tanpa nilai-nilai kearifan, maka akan melahirkan pemimpin yang merusak dan menghancurkan demokrasi itu sendiri.

Akhlak para kiai NU menjadi referensi yang sangat tepat untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia. (Muhammadun, aktif di LTN NU DIY)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Maret 2015

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH M Dian Nafi’memaparkan, segala urusan harus dipertimbangkan secara proporsional. Apapun tindakan atau keputusan yang tidak tepat pada posisi dan kegunaannya, justru akan menjadi persoalan tersendiri dalam penerapannya.

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga

Ia menyampaian hal tersebut dalam sebuah diskusi mengenai gerakan radikalisme di Kompleks Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo Jawa Tengah, Jumat (5/9) siang. Selain Dia, hadir pula sebagai pembicara Ustadz Shabbarin (Sekjen Majelis Mujahidin Indonesia) dan Dr. Amir Mahmud (Ketua Forum Daulah Islamiyah).

“Sikap berlebih-lebihan dalam beragama itu justru dilarang oleh agama. Kerusakan yang terjadi pada masa-masa sebelumnya (sebelum Islam) itu terjadi juga karena sikap yang berlebih-lebihan seperti itu,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menanggapi santernya wacana mengenai kehadiran ISIS di Indonesia, kiai yang akrab disapa Pak Dian itu menegaskan, Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan. Termasuk kesederhanaan dalam bersikap, berpikir, dan berbuat.

“Umat Islam di Indonesia seharusnya juga tidak perlu ragu, untuk mendukung NKRI. Karena NKRI adalah amal jariyah umat Islam yang harus dijaga sebagai warisan untuk generasi masa depan,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu Shabbarin menegaskan bahwa ISIS tidak akan bisa berkembang di Indonesia karena sejak awal sudah tidak jelas posisinya dalam percaturan dan pergulatan umat Islam di dunia. Dia bahkan dengan tegas mengatakan ISIS adalah bentukan kelompok sempalan yang ingin memecah-belah Islam. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 13 Maret 2015

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Pondok Pesantren Al-Istiqomah Cibunigeulis, Bungursari pimpinan KH Didi Ruyani, dipadati jamaah pengajian. Santri dan ratusan warga masyarakat berbaur memadati tempat yang dipersiapkan panitia untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.?

Mengawali pengajian pada Rabu siang (5/5) itu, jamaah disuguhkan dengan penampilan qosidah rebana dan kreasi seni dari para santri.?

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Ketua panitia Ajat Sudrajat mengatakan, peringatan Isra dan Mi’raj ini dilaksanakan untuk menjaga tradisi keagamaan yang ada di NU.

“Saat ini telah terjadi fenomena dimana banyak kelompok yang terus gencar membidah-bidahkan tradisi dan amalan-amalan yang biasa dilaksanakan oleh kalangan NU. Makanya kita jadikan acara ini sebagai bentuk penguatan pemahaman terhadap Nahdliyyin,” terang pengurus Ansor Tasikmalaya bidang IPTEK ini.?

Lebih lanjut, Ajat mengingatkan akan peran dari pondok pesantren dalam upaya menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan para ulama terhadap umat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pesantren Al-Istiqomah ini sudah cukup lama berdiri di Bungursari, dan akan terus berkomitmen menjaga tradisi yang ? telah diwariskan oleh para ulama Ahlisunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah," terang keponakan dari KH Didi Ruyani ini.?

Ketua PMII Kota Tasik 2014-2015 ini mengatakan, "Tujuan kegiatan ini disamping untuk merawat tradisi, juga untuk menjaga ukhuwah Islamiah, serta mengambil Hikmah dari peristiwa Isra wal Miraj Nabi Muhammad SAW," pungkasnya

Mubaligh yang mengisi pengajian pada kegiatan itu adalah Pimpinan Pondok Hidayatul Ulum Awipari ? KH Asep Nur Ilyas. Dalam taushiyahnya, ia mengingatkan perihal perlunya menjaga tradisi Rajaban sebagai upaya memperkuat ukhuwah islamiyyah, wathoniyah dan basyariyah. (A. Arif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Tokoh, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah