Selasa, 17 Maret 2015

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH M Dian Nafi’memaparkan, segala urusan harus dipertimbangkan secara proporsional. Apapun tindakan atau keputusan yang tidak tepat pada posisi dan kegunaannya, justru akan menjadi persoalan tersendiri dalam penerapannya.

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

NKRI Amal Jariyah yang Harus Dijaga

Ia menyampaian hal tersebut dalam sebuah diskusi mengenai gerakan radikalisme di Kompleks Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo Jawa Tengah, Jumat (5/9) siang. Selain Dia, hadir pula sebagai pembicara Ustadz Shabbarin (Sekjen Majelis Mujahidin Indonesia) dan Dr. Amir Mahmud (Ketua Forum Daulah Islamiyah).

“Sikap berlebih-lebihan dalam beragama itu justru dilarang oleh agama. Kerusakan yang terjadi pada masa-masa sebelumnya (sebelum Islam) itu terjadi juga karena sikap yang berlebih-lebihan seperti itu,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menanggapi santernya wacana mengenai kehadiran ISIS di Indonesia, kiai yang akrab disapa Pak Dian itu menegaskan, Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan. Termasuk kesederhanaan dalam bersikap, berpikir, dan berbuat.

“Umat Islam di Indonesia seharusnya juga tidak perlu ragu, untuk mendukung NKRI. Karena NKRI adalah amal jariyah umat Islam yang harus dijaga sebagai warisan untuk generasi masa depan,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu Shabbarin menegaskan bahwa ISIS tidak akan bisa berkembang di Indonesia karena sejak awal sudah tidak jelas posisinya dalam percaturan dan pergulatan umat Islam di dunia. Dia bahkan dengan tegas mengatakan ISIS adalah bentukan kelompok sempalan yang ingin memecah-belah Islam. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 13 Maret 2015

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Pondok Pesantren Al-Istiqomah Cibunigeulis, Bungursari pimpinan KH Didi Ruyani, dipadati jamaah pengajian. Santri dan ratusan warga masyarakat berbaur memadati tempat yang dipersiapkan panitia untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.?

Mengawali pengajian pada Rabu siang (5/5) itu, jamaah disuguhkan dengan penampilan qosidah rebana dan kreasi seni dari para santri.?

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Ketua panitia Ajat Sudrajat mengatakan, peringatan Isra dan Mi’raj ini dilaksanakan untuk menjaga tradisi keagamaan yang ada di NU.

“Saat ini telah terjadi fenomena dimana banyak kelompok yang terus gencar membidah-bidahkan tradisi dan amalan-amalan yang biasa dilaksanakan oleh kalangan NU. Makanya kita jadikan acara ini sebagai bentuk penguatan pemahaman terhadap Nahdliyyin,” terang pengurus Ansor Tasikmalaya bidang IPTEK ini.?

Lebih lanjut, Ajat mengingatkan akan peran dari pondok pesantren dalam upaya menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan para ulama terhadap umat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pesantren Al-Istiqomah ini sudah cukup lama berdiri di Bungursari, dan akan terus berkomitmen menjaga tradisi yang ? telah diwariskan oleh para ulama Ahlisunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah," terang keponakan dari KH Didi Ruyani ini.?

Ketua PMII Kota Tasik 2014-2015 ini mengatakan, "Tujuan kegiatan ini disamping untuk merawat tradisi, juga untuk menjaga ukhuwah Islamiah, serta mengambil Hikmah dari peristiwa Isra wal Miraj Nabi Muhammad SAW," pungkasnya

Mubaligh yang mengisi pengajian pada kegiatan itu adalah Pimpinan Pondok Hidayatul Ulum Awipari ? KH Asep Nur Ilyas. Dalam taushiyahnya, ia mengingatkan perihal perlunya menjaga tradisi Rajaban sebagai upaya memperkuat ukhuwah islamiyyah, wathoniyah dan basyariyah. (A. Arif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Tokoh, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 25 Februari 2015

KH Ma’ruf Amin Jelaskan Faktor Penyebab Munculnya Ideologi Radikal

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menyebut radikalisme dan terorisme merupakan bahaya global yang harus ditangkal melalui berbagai langkah strategis, salah satunya melalui media.

KH Ma’ruf Amin Jelaskan Faktor Penyebab Munculnya Ideologi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin Jelaskan Faktor Penyebab Munculnya Ideologi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin Jelaskan Faktor Penyebab Munculnya Ideologi Radikal

Aktivitas radikalisasi kian masif karena sejumlah faktor. Kiai Ma’ruf mengatakan, radikalisme muncul berpangkal dari pemahaman yang keliru, khususnya dalam memaknai istilah jihad.

Padahal menurutnya, jihad tidak selalu bermakna perang. Bahkan, upaya menjadikan kondisi masyarakat yang damai (islahiyyah) di segala lini kehidupan adalah jihad yang harus dilakukan.

“Dalam kondisi perang, jihad bisa berarti perang. Tetapi dalam kondisi damai, jihad bermakna perdamaian yang harus terus diusahakan,” ujar Kiai Ma’ruf, Rabu (22/3) di Jakarta dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama OKP dan Ormas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tragisnya, menurutnya Kiai Ma’ruf, para ekstremis terus mengampanyekan jihad sebagai perang sehingga yang terjadi adalah global war atau perang global.?

Kiai Ma’ruf juga menjelaskan, radikalisasi juga terjadi karena tidak sedikit masyarakat yang belajar Islam dari internet dan media sosial, terutama anak muda.

“Ada seseorang yang tidak pernah terlihat ngaji tetapi tiba-tiba jadi radikal, ternyata belajarnya dari media sosial,” urainya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berangkat dari kondisi tersebut, dia menuturkan bahwa media sosial mempunyai peran efektif dalam menyebarkan paham radikal. Hal ini menuntut masyarakat agar lebih cerdas dalam menerima dan mencerna informasi di dunia maya.

“Secara teologis, Islam itu toleran. Kita harus bekerja sama dalam mengatasi masalah itu karena selama ini media sosial sangat efektif dalam upaya radikalisasi,” ucap Kiai Ma’ruf. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Olahraga, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 23 Februari 2015

CBDRMNU Jalin Kerjasama dengan WWF

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Upaya turut serta NU dalam mengatasi bencana sebagai dampak dari perubahan iklim terus dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai fihak yang selama ini telah terlibat dalam kegiatan pengurangan risiko bencana ini.

Salah satu kerjasama yang dijalin NU, melalui lembaga yang khusus menangani masalah kebencanaan, Community Based Disaster Risk Management (CBDRMNU) adalah dengan World Wild Fund (WWF). Penandatanganan MoU ini dilakukan pada, Kamis (18/2) di kantor WWF, kawasan Mega Kuningan Jakarta.

CBDRMNU Jalin Kerjasama dengan WWF (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRMNU Jalin Kerjasama dengan WWF (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRMNU Jalin Kerjasama dengan WWF

Avianto Muhtadi, program manager CBDRMNU menjelaskan kerjasama ini berupa penyelenggaraan halaqah dan workshop adaptasi perubahan iklim yang terintegrasi dengan pelestarian lingkungan dan pengurangan risiko bencana dalam perspektif Islam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari halaqah ini juga akan diterbitkan buku tentang adaptasi perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dalam perspektif Islam yang nantinya dapat digunakan sebagai panduan bagi para kiai dan ulama dalam membantu mensosialisasikan persoalan perubahan iklim ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, perwakilan dari WWF Ari Muhammad menyatakan kerjasama dengan NU ini dilakukan karena banyak kelompok masyarakat NU yang hidup dan menyatu dengan alam sehingga sangat potensial untuk membantu dan terlibat langsung dalam pengurangan risiko bencana akibat perubahan iklim ini.

Latif Bustami, staff ahli CBDRMNU menjelaskan NU menggunakan pendekatan kultural dalam menangani berbagai masalah, termasuk dalam konteks kebencanaan sehingga mudah diterima oleh masyarakat, apalagi NU memiliki jaringan yang sangat luas yang mencakup seluruh wilayah di Indonesia.

“Kampanye pengurangan risiko bencana bisa dilakukan melalui kegiatan istighotsah, majelis taklim, seni dan lainnya sehingga gampang diterima,” tuturnya.

Para ulama dan kiai yang sangat dihormati dan ditaati petuahnya oleh masyarakat juga menjadi kekuatan NU dalam upaya kampanye pengurangan risiko bencana ini. Mereka dapat berperan penting dalam karena umat samian wa thoathan, atau mendengar dan mematuhi perintah para kiai. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Sholawat, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 15 Februari 2015

Begini Proses Mushaf An-Nahdlah

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. PBNU menghadirkan Al-Quran berkualitas guna memenuhi kebutuhan Muslim Indonesia yang mencapati 2 juta eksemplar per tahun. Untuk itu, diterbitkan mushaf An-Nahdlah. Mushaf itu diluncurkan di PBNU, Jakarta, Jumat (21/6).

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffaz Nahdlatul Ulama (PP JQHNU) Ahmad Ari Masyhuri menceritakan proses pembuatan mushaf tersebut.

Begini Proses Mushaf An-Nahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Proses Mushaf An-Nahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Proses Mushaf An-Nahdlah

Menurut Ari, ada sembilan Pimpinan Pusat JQH yang terlibat dalam pembuatan mushaf tersebut. Kesembilan orang tersebut adalah Rais Majelis Ilmi JQHNU KH Ahsin Sakho Muhammad, Ketua Umum JQHNU KH Muhaimin Zen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemudian KH Ahmad Fathoni , KH Jajim Khumaidi, KH Ahmad Dahuri, KH Masrur Ikhwan, Muthmainnah, Romlah Hidayah, dan Ahmad Ari Masyhuri, “Kesembilan orang ini mengawal subtansi untuk verifikasi dan validasi agar sesuai dengan Mushaf Utsmani,” katanya di sekretaria JQHNU, gedung PBNU, Jakarta selepas peluncuran Mushaf An-Nahdlah.

Mereka, tambah Ari, juga mengawal proses penerbitan, percetakan, halaman per halaman secara manual. Kemudian setelah dami masuk dikroscek halaman per halaman lagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Setiap halaman di mushaf itu ada  logo NU-nya,” katanya.

Mushaf Al-Quran bernama An-Nahdlah diterbitkan PBNU melalui PT Hati Emas yang menggandeng Asia Pulp & Paper (APP). Hadir pada kesempatan itu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, serta pengurus PBNU lain. Hadir pula beberapa Duta Besar negara sahabat seperti Mesir, Malaysia, Cina dan perwakilan OKI.  

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Internasional, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 14 Februari 2015

“Jihad Pagi” Perdana NU Pringsewu Disambut Antusias

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Program Ngaji Ahad Pagi atau “Jihad Pagi” yang digelar perdana Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pringsewu, Lampung, berlangsung lancar di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (22/2). Majelis yang dimulai pukul 06.00 sampai dengan 07.00 WIB ini mendapat sambutan positif warga.

Katib Syuriyah PCNU Pringsewu Munawir mengatakan, Jihad Pagi terbuka bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat. Dalam kesempatan itu, peserta bahkan tak sekadar ikut pengajian tapi juga melaksanakan ibadah lainnya.

“Jihad Pagi” Perdana NU Pringsewu Disambut Antusias (Sumber Gambar : Nu Online)
“Jihad Pagi” Perdana NU Pringsewu Disambut Antusias (Sumber Gambar : Nu Online)

“Jihad Pagi” Perdana NU Pringsewu Disambut Antusias

"Di akhir pengajian, para jamaah melaksanakan shalat duha dan kembali melaksanakan aktivitas dan rutinitas masing masing," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam forum pengajian perdana kali ini, Jihad Pagi mengangkat tema “Berdoalah, Jangan Sombong” di bawa asuhan Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi. Ia menyampaikan bahwa orang yang tidak berdoa termasuk dalam golongan mutakabbirin atau orang-orang yang sombong.

"Orang yang tidak berdoa sama saja tidak merasa butuh," tegasnya. Padahal, imbuhnya, segala fasilitas yang telah dinikmati selama hidup merupakan anugerah dari Allah SWT. Lumrah manusia selalu merasa kekurangan dan untuk memenuhinya salah satu cara yaitu meminta atau berdoa kepada Allah SWT.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Sujadi menjelaskan juga bahwa doa dapat dilakukan langsung kepada Allah ataupun melalui wasilah atau perantara. Salah satu yang dapat dijadikan wasilah seperti menggunakan 99 nama nama Allah SWT yang terkenal dengan sebutan Asmaul Husna. Hal ini sudah tertulis dalam al-Quran surat Al-Araf ayat 108.

"Dengan menjaga, mengamalkan, dan menghafalkan 99 Asmaul Husna kita juga akan masuk surga," terangnya. Hal ini sesuai dengan hadits nomor 2736 yang diriwayatkan Imam Bukhari, dan hadits nomor 2677 riwayat Imam Muslim, dan hadits nomor 7493 riwayat Imam Ahmad. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 29 Januari 2015

Membangun Pendidikan, Membangun Bangsa

Oleh A. Muchlishon Rochmat

Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya. Kalau kita renungkan, ungkapan tersebut tidaklah salah. Coba lihat saja Negara Jepang, Singapura, Korea Selatan lainnya. Memang, mereka tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah –sebagaimana yang dimiliki Indonesia, namun nyatanya mereka mampu menjadi negara maju dan menjadi salah satu ‘raksasa’ ekonomi dunia.

?

Membangun Pendidikan, Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Pendidikan, Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Pendidikan, Membangun Bangsa

Ada yang percaya bahwa untuk membangun sebuah bangsa yang maju dan besar dibutuhkan infrastruktur yang memadai, ada yang menganggap bahwa untuk mewujudkan bangsa yang maju harus membangun pemerintahan yang bersih terlebih dahulu, ada juga yang percaya bahwa untuk mewujudkan bangsa yang besar dan maju harus membangun kualitas manusianya terlebih dahulu, yakni dengan mendidik penduduknya tersebut dengan pendidikan yang berkualitas. Itu sah-sah saja.

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kalau kita cermati, negara-negara maju yang ada saat ini pasti memiliki sistem pendidikan yang bagus dan berkualitas tinggi. Lihat saja Amerika, Cina, Jepang, Korean Selatan, Jerman, Perancis, dan lainnya. Pendidikan menjadi pilar utama untuk menopang sebuah peradaban suatu bangsa. Karena sekaya apapun negerinya, seluas apapun wilayahnya, dan sebanyak apapun penduduknya namun kalau tidak dikelola dengan baik dan benar maka potensi tersebut malah akan menjadi beban. Dan pendidikan menjadi peran yang signifikan dalam mengelola potensi-potensi yang ada tersebut.

Kalau kita telisik peradaban-peradaban masa lalu seperti Babilonia, Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Bizantium, dan Islam, semuanya dibangun dengan ilmu pengetahuan. Bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi tentu tidak akan terlepas dari pengetahuan. Bangsa-bangsa tersebut tentu menyadari bahwa pendidikan dan pengetahuan menjadi kunci utama, sehingga dengan demikian mereka sangat memperhatikan kualitas pendidikannya.

Untuk membangun pendidikan yang baik dan berkualitas tentu harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya adalah sistem yang diterapkan harus selaras dengan karakter dan tujuan bangsa, kualitas guru yang baik, kurikulum yang tepat, sarana-prasarana dan bahan ajar yang memadahi, mendorong peserta didik untuk bereksplorasi, serta meningkatkan kualitas peserta didiknya sendiri. Tentu setiap aspek tersebut terkait satu dengan yang lainnya dan harus memiliki sinkronitas. Kalau setiap elemen tersebut sudah terbangun dengan baik dan selaras, maka sistem pendidikan yang berkualitas akan terbangun.

Perlu diperhatikan pemerintah bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk menjawab soal-soal yang diujikan, bukan untuk melewati ujian semata, bukan pula untuk tinggi-tinggian nilai. Namun yang harus pemerintah tekankan adalah bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia; bagaimana pendidikan membentuk karakter peserta didik, menghargai setiap potensi yang dimiliki peserta didik, mendorong peserta didik untuk mengenal dirinya dan lingkungannya, mengajak peserta didiknya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki bangsanya, dan mengadaptasi sistem dan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsanya sendiri. Bukan mengadopsi dari sistem dari luar yang tidak sesuai. Apalagi menerapkan sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan karakteristik daripada masyarakat yang ada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Memang, membangun pendidikan tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Finlandia membutuhkan waktu dua puluh sampai tiga puluh tahun untuk membangun sistem pendidikannya hingga menjadi yang terbaik di dunia sebagaimana yang kita saat ini. Dari Finlandia, kita bisa tahu bahwa tidak hanya butuh waktu yang cukup lama untuk membangun pendidikan yang baik dan berkualitas, namun juga pemerintahan, parlemen, para elit politik, pihak-pihak yang terlibat di dunia pendidikan bahkan sampai masyarakat pun harus terlibat dalam membangun pendidikan yang baik dan berkualitas. Masyarakat harus menyampaikan aspirasinya, sedangkan para pemegang kebijakan harus memperhatikannya sehingga kebijakan yang mereka keluarkan selaras dengan situasi dan kondisi yang ada di masyarakat.

Kita tidak harus mencontoh persis sistem pendidikan Finlandia, karena kita memiliki sifat dan karakter bangsa yang berbeda. Yang harus kita contoh adalah semangat dan aksi nyata dari Finlandia dalam mewujudkan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Perlu kita sadari bahwa membangun pendidikan adalah memangun bangsa itu sendiri, karena kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya.

Penulis adalah Wakil Sekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah