Kamis, 16 Oktober 2014

Aswaja Pedoman Warga NU

Judul:Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU

Penulis : KH Abdurrahman Navis Dkk,

Pengantar: KH Miftahul Akhyar 

Editor: Achmad Ma’ruf Asrori

Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Pedoman Warga NU

Penerbit: Kahlista, Surabaya

Cetakan: I, Juni 2012

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tebal: 346 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan, SH. I

Dengan didirikannya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja). Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah sebuah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. KH Bisri Musthofa mendefinisikan Aswaja yaitu aliran yang menganut madzhab fiqh yang empat, Imam Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Beliau juga menyebutkan, Aswaja merupakan paham yang mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi  dalam bidang akidah, sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid al-Bagdadi dan Imam Ghazali.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Paham Aswaja ini banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya diikuti oleh warga NU, yang di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasut, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

Buku Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah ini, disusun oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur yang salah satu tim penulisnya adalah, KH Abdurrahman Navis, Muhammad Idrus Ramli, dan Faris Khairul Anam. Dari ketiga tim tersebut, adalah pakar yang tidak diragukan lagi kealiman ilmunya, seperti Ustad Idrus Ramli yang sudah banyak melahirkan banyak karya tentang Aswaja. Salah satu tujuan disusunnya buku ini, yaitu sebagai modul bahan bacaan, dan pegangan warga NU agar supaya paham apa itu makna Aswaja, apa yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana cara mengaplikasikannya dengan baik dan sempurna. 

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah  sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang besar di Indonesia. Salah satunya, seperti aliran Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir, Majlis Tafsir al-Qur’an (MTA), Syi’ah, yang ajaran ideologinya telah bertentangan dengan Aswaja. Misi mereka adalah mengadu domba umat Islam, menuduh bahwa perbuatan yang dilakukan oleh warga NU bid’ah, syirik, dan tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadits. Tuduhan-tuduhan yang sudah meresahkan masyarakat tersebut sudah bebas di akses dimana-mana, baik melalui media cetak, elektro, buku, bahkan mereka mulai berani berdakwah di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan di komplek-komplek perumahan.

Adapun amaliah dan tradisi islami warga NU, yang diklaim bid’ah dan termasuk perbuatan syirik oleh mereka adalah, tradisi ngapati, mitoni, tingkepan, mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil, talqin saat pemakaman jenazah, ziarah kubur, selamatan dalam 7 hari kematian, memberikan jamuan makan kepada para pentakziah, membaca al-Qur’an di kuburan, istghosah, tahlilan, yasinan, dan diba’an. Sementara di dalam buku yang sederhana ini, dijelaskan bahwa tradisi tersebut tidak termasuk perbuatan bi’ah dan bukan perbuatan yang diharamkan. Dalil-dalilnya shahih, seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, hadist, dan kitab-kitab klasik yang telah muktabar dikalangan para ulama.  

Menariknya di dalam buku ini, menjelaskan beberapa aliran yang telah berkembang degan pesat di negara kita ini, seperti Syi’ah, Wahabi Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir (HTI), Jama’ah Tabligh, Jama’ah Islamiyah, Ahmadiyah, Jama’ah Ansharut Tauhid, Fron Pembela Islam (FPI), mulai dari pengertian, sejarah berdirinya, hingga ajaran dan penyimpangannya yang telah bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dan tak kalah menariknya juga dijelaskan tentang “Fikrah Nahdliyah” (metode berfikir ke NU-an). Sesuai keputusan Musyawarah Nasional Ulama di Surabaya “Fikrah Nadliyah”, didefinisikan sebagai kerangka berfikir yang didasarkan pada ajaran Ahlussunnah Waljama’ah yang dijadikan landasan berfikir Nahdlatul Ulama (Khittah Nadliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlah al-ummah (perbaikan umat) hal. 167.

Buku ini penting dibaca oleh siapa saja lebih-lebih dibaca oleh kader-kader muda NU yang masih mempunyai keyakinan bahwa amaliah dan tradisi yang selama ini kita yakini bukanlah perbuatan bid’ah seperti yang dituduhkan oleh kelompok Salafi Wahabi. Amaliah dan tradisi yang kita lakukan selama ini adalah perbuatan disunnahkan, yang tentunya dapat pahala bagi yang melakukannya. Wallahu a’lam

* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Warta, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 Oktober 2014

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila

Pekanbaru, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Provinsi Riau menggelar Apel Setia NKRI dan Pancasila di Lapangan Angkasa Pura, Pekanbaru, akhir pekan (29/5). Sedikitnya ada 1500 anggota organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini berpartisiasi dalam apel kali ini.

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila

Apel kesetiaan NKRI itu menjadi wujud kesiapan Banser dalam menangkal paham radikal dan aksi makar dari NKRI. Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaeni yang bertindak sebagai inspektur upacara mengatakan, selama ini berkembang kelompok kelompok yang radikal berbasis agama. Kelompok ini suka menganggap orang Islam yang berbeda dengan mereka sebagai kafir dan ingin mendirikan negara Islam.

"Posisi BANSER sangat jelas, yakni berada di setiap jengkal negara dan kita siap memberikan yang terbaik untuk tanah air termasuk darah dan nyawa," tegas Alfa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua GP Ansor Provinsi Riau, Purwaji menegaskan bahwa dalam sejarahnya Ansor dan Banser sudah terbukti paling depan dalam menangkal penjajah saat sebelum Indonesia merdeka dan menangkis PKI yang ingin mengubah dasar negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dalam lintasan sejarah, sikap NU, Ansor dan Banser sangat jelas dalam menangkis paham radikal dan upaya makar kepada negara. Jangan ragukan komitmen kami sebagai anak bangsa,? jika memang negara membutuhkan kami siap berada di garis depan membela negara," ujarnya.

Purwaji menandaskan, GP Ansor Riau siap mencetak kader militan yang memiliki pemahaman bahwa cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Kader Ansor dan Banser juga memiliki sikap yang moderat, plural yang siap bekerja sama dengan semua anak bangsa dalam satu kepentingn yakni mempertahankan NKRI.

Apel kesetiaan NKRI itu diisi dengan atraksi bela diri pendekar Pagar Nusa dan bela diri Banser. Sebagai penutup, Ansor memberikan penghargaan kepada Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) Riau dan Anggota DPR Lukman Edy atas partisipasinya pada Apel Banser Riau. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 01 Oktober 2014

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu, Lampung, KH Fuad Abdillah mengatakan, bahwa jika ukuran ibadah haji adalah kekayaan maka seluruh orang kaya sudah melaksanakan rukun Islam ke lima ini. Demikian saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam Walimatissafar Lil Haj Pengasuh Pondok Pesantren Al Wusto Pringsewu, Ustadz Nasihin, Sabtu (5/9) lalu.

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Kiai Fuad menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan oleh orang yang mampu. Kriteria mampu ini mencakup bukan hanya mampu dalam hal fisik dan materi, namun juga mampu dalam hal mental termasuk niatan yang kuat untuk melaksanakannya.

Keteguhan niat ini perlu dimiliki oleh seluruh orang yang akan menjalankan ibadah haji karena menurut Kiai Fuad, haji adalah ibadah yang merupakan latihan meninggal dunia. "Ketika melaksanakan ibadah haji, para jamaah tidak memikirkan hal-hal duniawi terlebih lebih harta. Ini karena mereka hanya memikirkan ibadah kepada Allah SWT sesempurna mungkin," terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam ibadah haji, tambah Kiai Fuad, banyak sekali ibadah-ibadah kepada Allah SWT yang terkesan unik. Namun dibalik keunikan ini mengandung hikmah yang sangat luarbiasa. Contohnya menurut kiai berkacamata ini, seperti rangkaian tawaf yang hanya lari berputar putar, sai y? ng berupa lari bolak balik sofa marwa dan mecari batu untuk lempar jumrah. "Walaupun kelihatannya seperti mainan, namun ibadah ibadah tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT," Jelasnya.

Oleh karena itu, Kiai Fuad yang juga Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini mengajak kepada seluruh jamaah untuk niat mantap melaksanakan ibadah haji tanpa ragu. "Ibadah haji itu sulit teorinya saja namun prakteknya gampang. Apalagi sekarang banyak KBIH yang siap membantu teori manasik sekaligus membantu secara teknis proses haji yang akan dilalui," Jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada acara walimatus Safar lil haj ini dihadiri oleh Ketua MUI Kabupaten Pringsewu H Hambali, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memberi sambutan Perwakilan tamu undangan dan beberapa Tokoh Masyarakat Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 30 September 2014

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Paul Grigson di Jakarta, Jumat (11/9) sore. Kedua pihak ini membahas kelanjutan kerja sama yang sudah terbangun khususnya di bidang pendidikan dan pencegahan hingga penanggulangan gerakan ekstrem.

Pada pertemuan ini Paul menyatakan apresiasinya atas sikap moderat NU dan kampanye intensif deradikalisasi agama satu dekade terakhir. Ia menilai upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme agama tidak boleh berhenti.

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

“Kita membincang upaya mengatasi radikalisme agama,” kata Ketua PBNU H Marsudi Syuhud di Jakarta, Jumat (11/9) sore.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Paul melaporkan bahwa gejala radikalisme mulai muncul di Australia belakangan justru didominasi dari kalangan warga biasa. Radikalisme di Australia, digerakkan oleh keluarga biasa yang tidak memakai atribut Muslim dalam kesehariannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka meminta bantuan NU untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok radikal,” lanjut Marsudi.

Sementara di bidang pendidikan, kedua pihak akan terus melakukan pertukaran mahasiswa dan penyediaan beasiswa.

Paul Grigson merupakan Dubes Australia untuk Indonesia yang baru dilantik dua bulan lalu. Segera setalah pelantikan dahulu, Paul pernah mengadakan kunjungan ke PBNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 16 September 2014

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh Matroni Musèrang

--Kebudayaan selalu ada dalam kehidupan manusia, ia seperti angin yang keluar masuk dalam tubuh manusia. Dimana pun ada kehidupan, disitulah kebudayaan ada. Begitupun dengan puasa. Puasa merupakan bagian dari kebudayaan umat manusia. Ketika kita melakukan puasa, jangan menganggap agama kita paling benar. Sebab puasa bukan milik pribadi, akan tetapi puasa milik umat manusia, untuk itulah puasa menjadi sarana untuk lebih memanusiakan manusia, inilah yang saya sebut sebagai mi’raj sosial.

Mi’raj sosial artinya seseorang mampu melakukan perintah agama lalu mengaplikasikannya ke ruang publik, contoh, kita tidak lagi membeda-bedakan agama, ras, suku dan budaya, oleh karena itulah dalam mi’raj sosial, sesama manusia kita sama di hadapan kemanusiaan.

Puasa saya maknai sebagai perjalanan rohani untuk mi’raj yaitu mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas (spiritual), dari hati yang keras menuju perkampungan hijau yang bernama kesejukan dan kedamaian. Dua kampung ini kini telah di bakar oleh egoisme pragmatis-kapitalis, untuk itu saya ingin menjadi tuhan untuk “menghidupkan kembali” kampung kesejukan dan kedamaian. Dengan puasa sebagai ibu yang melahirkan kesejukan dan kedamaian. Mengapa puasa? Puasa dilakukan seseorang ketika ingin mendamaikan hati dan pikirannya dan puasa dilakukan oleh semua agama di dunia.   

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh sebab itu, Mi’raj sosial penting kita lakukan untuk mencapai derajat yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan. Sebab Tuhan menciptakan makhluk dengan tujuan untuk saling mengenal. Saling mengenal artinya kita diperintah Tuhan untuk selalu membaca, agar kita mengenal. Bagaimana mungkin kita akan kenal jika kita tidak melihat dan membaca?

Mi’raj sosial ini benar-benar penting di tengah maraknya masyarakat yang tidak lagi menghargai kemanusiaan. Maraknya masyarakat yang suka tawuran, suka membunuh, egois, suka saling sikat-sikut, suka mencela sesama manusia. Maka berlomba-lomba dalam ber-mi’raj sosial sangat penting untuk menjaga dan menghormati kemanusiaan. Apalagi lagi gencar-gencarnya tuduh-menuduh di antara para relawan kandidat presiden Indonesia, ada yang memfitnah, ada yang akan menghancurkan agama, PKI, Yahudi, Kristen, dan lain sebagainya.

Maka betapa sangat pentingnya kita menyadari bahwa mi’raj sosial sangat mendesak untuk kita lakukan sebagai terapi bagi manusia yang kurang menghargai manusia dan agama. Apakah dalam sebuah kompetisi kita harus memfitnah dan meracuni pikiran-hati kemanusiaan dan agama dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus bersih-bersih di taman mi’raj (mi’raj sosial dan religiusitas), agar apa yang menjadi tanggungjawab kita benar-benar berjalan sesuai dengan hati nurani kemanusiaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemanusiaan lebih dulu diwahyukan oleh Tuhan sebelum wahyu-wahyu lain diturunkan, ini artinya betapa sangat dan amat pentingnya sisi kemanusiaan daripada agama. Agama lahir karena adanya manusia, maka untuk mengetahui makna agama, harus terlebih dahulu mengetahui makna kemanusiaan. Agama seluruh dunia menegaskan sebagaimana dikatakan Karen Armstrong bahwa spiritualitas yang sejati harus diespresikan secara konsisten dalam tindakan berbagai kasih, kemampuan untuk merasakan bersama orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Iqra’ yang pertama kali turun sebelum syarat rukun agama merupakan bukti nyata bahwa Tuhan lebih mementingkan kemanusiaan (makhluk) daripada agama. Agama diturunkan jaman jahiliyyah untuk mengatur sisi kemanusiaan yang tidak menghargai manusia yang lain, maka jika hari ini ada manusia/tokoh/ulama/pemimpin yang tidak menghargai manusia, berarti sosok itu adalah manusia jahiliyyah. Sosok manusia yang memiliki akal yang tidak digunakan untuk berpikir, memiliki hati yang tidak digunakan untuk refleksi, memiliki indera yang tidak digunakan untuk melihat umat manusia.

Mi’raj religiusitas menjadi penting untuk dijadikan tempat bagi manusia untuk memanusiaan manusia, moment puasa merupakan cara untuk masuk ke perkampungan religiusitas. Religiusitas dalam ini adalah bersadarnya manusia dalam memperjuangkan masyarakat untuk lebih cerdas dan memiliki cakrawala yang luas dalam menjalani tugas sosial dan tugas agama.

Tugas agama memang berat dan keras. Perkampungan agama tidak tumbuh dengan sendirinya kata Karen, akan tetapi agama harus di bina dalam cara yang sama seperti halnya apresiasi seni, musik, dan puisi yang harus ditumbuhkan. Tugas agama kata Karen lagi sangat mirip dengan seni, yakni membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan.

Perjalanan sosial dan agama harus saling bergandeng tangan dalam menciptakan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas. Cita-cita inilah yang sebenarnya yang ingin kita capai dengan melakukan puasa. Cita-cita kemanusiaan yang damai, inklusif dan memberi rahmat alam semesta. Hanya di tangan manusia yang mi’raj kedamaian alam semesta ada. Puasa sebagai jembatan untuk sampai pada perkampungan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas.     

Masyarakat Reflektif

Dengan demikian, untuk menjaga mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas dibutuhkan refleksi yang baik dari kita sendiri. Refleksi ini lahir pembacaan dan nalar yang baik. Refleksi ini lahir juga dari masyarakat yang sadar, menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sebatas saling fitnah, saling sikat-sikut, tapi ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu bagaimana menciptakan masyarakat yang cerdas untuk mencapai masyarakat yang damai, makmur dan masyarakat tanpa kelas.

Masyarakat reflektif adalah masyarakat yang memiliki cita-cita untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (mi’raj sosial), masyarakat yang selalu ingin belajar, membaca dan berpikir tentang semesta dan masyarakat yang memiliki mental komitmen yang baik (mi’raj religiusitas). Masyarakat reflektif inilah yang diidealkan hari ini. Masyarakat yang akan menghargai usaha orang lain, menghargai karya orang lain, menghargai pemikiran orang lain, menghargai keberagaman dan menghargai keberagamaan.

Ketika masyarakat reflektif terealisasikan, kita akan melihat masyarakat yang saling hidup damai, berdampingan, saling tolong-menolong, dan secara otomatis bangsa dan negara akan makmur.

 

Matroni Musèrang, alumnus pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan peneliti sosial, agama dan kebudayaan Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 September 2014

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Beberapa hari terakhir ini, pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Pamekasan mengunjungi para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mereka melakukan silaturahmi guna pemantapan semangat berorganisasi.

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Ketua PC IPNU Pamekasan Faisol Ansori, Sabtu (8/1), menegaskan, silaturahmi ke MWCNU tersebut dirasa penting karena bagaimanapun IPNU merupakan bagian dari organisasi NU. Di samping, hal itu juga sebagai wujud penghormatan kepada para senior dan sesepuh NU.

"Kami mendapat sambutan positif dari para pengurus dan kiai yang aktif di MWCNU. Kami diberi wejangan bagaimana berorganisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah," terang mantan Ketua PAC IPNU Kadur, Pamekasan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus MWCNU yang didatangi meliputi mereka yang aktif di Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pagantenan, Kecamatan Proppo, dan lain sebagainya. Pasalnya, selain tujuan di atas, upaya tersebut dilakukan guna menyolidkan spirit mengabdi para pengurus PC IPNU Pamekasan.

"Alhamdulillah, silaturrahmi tersebut berlangsung lancar. Selanjutnya, nanti kami akan merapatkan barisan kembali berbekal ragam tausiyah dari para pengurus MWCNU yang tersebar di Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 03 September 2014

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M

Buku berjudul Travels in Arabia karangan John Ludwig Burckhardt terbit di London tahun 1829. Buku ini merekam catatan yang kaya akan data dan informasi terkait komunitas orang-orang Nusantara di tanah suci Mekkah-Madinah pada masa awal abad ke-19 M.

Burckhardt (1784—1817) adalah seorang orientalis Inggris asal Swiss yang berhasil menyusup masuk ke tanah suci Mekkah-Madinah (Haramayn) setelah terlebih dahulu melakukan penyamaran yang sukses; mengganti nama menjadi Haji Ibrahim ibn Abdullah, beridentitas seorang Muslim dari Albania, mengenakan pakaian khas Timur Tengah dengan jubah, surban, dan janggut yang menjuntai, dan utamanya kecakapan dalam menguasai bahasa Arab yang nyaris sempurna.

Sebelum mengembarai Hijaz (Haramayn), Burckhardt telah lebih dahulu menjelajahi negeri-negeri Timur Tengah lainnya yang pada masa itu berada di bawah kontrol kekuasaan Turki-Ottoman, seperti Aleppo, Suriah, Jerusalem, Petra (Burckhardt-lah yang dicatat oleh sejarah sebagai sosok yang menemukan kembali kota puba di tengah gugusan tebing sahara ini), Sinai, Mesir, Nubia, dan Sudan. Ia pun menuliskan pengalaman pengembaraannya itu dalam buku catatan perjalanan yang luar biasa; Travels in Syria and the Holy Land, kemudian Travels in Nubia, dan Arabic Proverbs, or the Manners and Customs of the Modern Egyptians.

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)
John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M





Burckhardt berada di Haramayn pada tahun 1814 M. Ia pun merekam beberapa peristiwa penting yang terjadi di Haramayn pada waktu itu, seperti peristiwa pemberontakan golongan Wahabi yang membangkang terhadap pemerintahan Turki-Ottoman, penumpasan atas gerakan tersebut yang dilakukan oleh Ibrahim Pasha dan pasukannya, putera Muhammad Ali Pasha yang merupakan seorang veli (gubernur) Turki-Ottoman untuk elayet (wilayah) Mesir. Atas peristiwa ini, Burckhardt menulis Notes on the Bedouins and Wahabys.

Setelah selesai melaksanakan “faraidh” ibadah haji, Burckhardt pun ikut serta bersama arak-arakan besar kafilah lainnya menuju Madinah guna menziarahi pesarean dan masjid Nabi Muhammad. Nah, saat itulah Burckhardt bergabung bersama rombongan kecil jemaah haji asal Melayu-Nusantara di dalam arak-arakan kafilah besar itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jarak yang jauh antara Mekkah dan Madinah (sekitar 490 KM) ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta. Tak ada yang berjalan sendiri atau dalam rombongan kecil. Semua Jemaah berangkat secara serentak bersama arak-arakan besar kafilah perjalanan yang jumlahnya bisa ratusan orang. Hal ini untuk meringankan beban perjalanan yang penuh resiko dan bahaya, utamanya ancaman para penyamun dan perompak bengis orang-orang Beduin yang datang kapan saja.

Burckhardt menulis:

“Hari ini aku telah menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab dengan teman-teman seperjalananku. Dalam sebuah kafilah perjalanan yang kecil, setiap orang dipaksa untuk dapat berjalan beriringan bersama rombongannya, tidak terpisah darinya. Para rombongan itu adalah orang-orang Melayu, atau sebagaimana disebut di Arab sini dengan sebutan Jawi”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain mereka yang berasal dari pesisir Semenanjung (Malaka), mereka juga ada yang berasal dari Sumatra, Jawa, dan pesisir Malabar. Semuanya adalah (jajahan) Inggris. Orang-orang Melayu pergi rutin berhaji dengan ditemani istri mereka. Sebagian besar mereka ada yang memilih tinggal di Mekkah Mukarramah dalam tempo beberapa tahun lamanya untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syari’at.

Orang-orang Jawi ini di Haramayn terkenal sebagai orang-orang yang taat beragama, disiplin dalam menuntut ilmu, atau minimal disiplin dalam menjalankan ritual agama Islam mereka. Sedikit dari mereka yang mampu berbicara bahasa Arab dengan sempurna, namun semua dari mereka membaca Al-Qur’an, dan sangat bersemangat untuk mempelajarinya meskipun dalam perjalanan.

Mereka menutupi biaya perjalanan dengan menjual kayu (al-Alûh Haits?) yang berkualitas tinggi dan dibawa dari negeri mereka, kerap juga disebut (Mâwardî). Harga satu pound timbangannya adalah tiga sampai empat dolar di negeri asal mereka, dan dijual di Mekkah dengan harga dua puluh sampai dua puluh lima dolar.

Baju mereka yang longgar, rahang mereka yang menonjol, perawakan mereka yang pendek dan kekar, dan gigi mereka yang bertumpuk menjadi ciri khas tersendiri bagi pengidentitasan tipikal orang-orang Jawi. Para perempuan Melayu memakai baju kurung, namun tidak semuannya memakai khimar, juga selendang dari kain sutera yang tersulam, buatan Cina.

Tampaknya mereka adalah bangsa yang memiliki adat yang kukuh, berimbang, berkarakter tenang, namun terkadang juga pelit.? Sepanjang perjalanan mereka makan nasi dan ikan asin. Mereka menanak nasi dengan air tanpa diberi tambahan zibdah (minyak samin). Zibdah adalah bahan pakan yang sangat mahal harganya di Haramayn namun mereka sangat menyukainya. Sebagian orang Jawi ada yang datang ke pelayanku meminta zibdah untuk ditambahkan ke periuk nasi mereka. Meskipun mereka memiliki cukup uang, namun pola makan mereka biasa saja (yaitu nasi dan ikan asin).

Namun, mereka pernah terkena laknat para gerombolan pencuri padang pasir. Para pencuri itu menjarah peralatan masak orang-orang Jawi itu; periuk nasi yang sedang dimasak oleh air, nampan mereka berbahan tembaga buatan Cina, dan teko air mereka tidak seperti yang kerap digunakan orang-orang Timur lainnya (biasa untuk mencuci dan wudhu), tetapi orang-orang Jawi ini membawa teko teh Cina yang mahal.

Di sela-sela kebersamaanku dengan orang-orang Melayu itu, aku menjadi memiliki kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka akan pemerintahan kolonial Inggris di negeri mereka. Yang mengejutkan, ternyata mereka menyatakan kebencian dan permusuhan mereka terhadap pihak Inggris. Mereka juga mensumpah serapahi perilaku orang-orang Inggris dan melaknatnya sampai habis. Hal terburuk yang paling tidak disukai mereka (orang-orang Jawi) dari orang-orang Inggris adalah kebiasaan mabuk-mabukan. Lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Meski demikian, orang-orang Melayu ini jarang yang mengkritik masalah keadilan pemerintahan kolonial Inggris. Pihak Inggris justru lebih baik jika dibanding dengan kesewenang-wenangan penguasa lokal orang-orang Melayu (bupati, dll). Jadi, meskipun orang-orang Melayu ini menyerapahi pihak Inggris dengan berbagai sumpah serapah dan laknat durjana, namun mereka juga memberikan pujian kepadanya dengan mengatakan “tapi pemerintahan mereka bagus”. Burckhardt menyebut semua kawasan Nusantara pada masa itu berada di bawah kontrol pemerintahan Inggris, bertepatan dengan masa pemerintahan Gubernur Letnan Sir Thomas Raffles (memerintah 1811—1816).

Di masa yang bersamaan, yaitu perempat pertama abad ke-19 M, saat itu terdapat beberapa ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Mahmud ibn Arsyad al-Banjari (putera Syaikh Arsyad Banjar), Fathimah binti Abd al-Shamad al-Palimbani (puteri Syaikh ‘Abd al-Shamad Palembang), Shalih Rawah, Ismail al-Mankabawi al-Khalidi (Minangkabau), ‘Abd al-Ghani al-Bimawi (Bima, Sumbawa), dan lain-lain.

Kairo, Ramadhan 1437 H





A. Ginanjar Sya’ban

Redaktur Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah tinggal di Kairo Mesir

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Kyai, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah