Rabu, 25 September 2013

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Batu prasasti “Perang Sabil” di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, yang menggambarkan kisah perlawan warga Lasem terhadap penjajah Belanda pada tahun 1751 menyedot perhatian warga.

Hal ini terbukti dengan banyaknya para peziarah yang berziarah di makam para kiai di Lasem berhenti sejenak untuk melihat prasasti yang bercerita tentang perjuangan para ulama yang ada di Rembang, khususnya Lasem, saat itu.

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah

Wakhidi, salah satu peziarah asal Jepara, mengaku dirinya termenung ketika membaca sepenggal kalimat yang mengkisahkan KH Ali Baedlawi yang membakar semangat warga Lasem melalui mimbar khotib jumat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kata-kata yang terukir di atas batu prasasti ini memang sangat menyentuh hati, jika kita memang orang yang beriman dan mencintai bumi pertiwi kita. Jujur saya sangat terharu dengan sepenggal kisah yang ditulis dalam batu itu meski saya tak tau persis sosok KH Ali Baedlawi,” ujarnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu pengurus Masjid Jami Lasem Abdullah Hamid yang juga salah seorang pemerhati sejarah di Lasem menjelaskan, keberadaan batu prasasti ini menjadi pengingat dan simbol bahwa peranan kiai bersama masyarakat bukan isapan jempol belaka.

"Ini bukti nyata yang disebut pahlawan bukan hanya mereka yang mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tetapi para kiai dan alim ulama bareng-bareng masyarakat adalah hal yang wajip ditonjolkan kepada generasi yang akan datang tentang arti dan bukti sebuah perjuangan dalam merebut kemerdekaan,” tuturnya.

Dalam batu seberat puluhan ton itu terukir tulisan, “Sarampunge sembahyang jumuwahan ing Masjid Jami Lasem kang diimami Kiai Ali Baedlawi, nuli wewara maring kabeh umat Islam diajak Perang Sabil ngrabasa nyirnakake? kompeni walanda (Babad Lasem).”

Tulisan berbahasa Jawa itu memiliki arti kurang lebih sebagai berikut, “Sesudah selesai sembahyang Jumat di Masjid Jami Lasem, yang diimami Kiai Ali Baedlawi, lalu mengumumkan kepada semua umat Islam, diajak Perang Sabil menumpas dan memusnahkan Kompeni dan Belanda (Babad Lasem).” (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 21 September 2013

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para penyedia jasa bekam tanduk sapi memenuhi setiap sudut di arena Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Kota Jombang. Bekam tradisional yang digeluti oleh orang-orang asal Madura ini memanen usahanya, sebab cukup banyak pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka.

Mansyur, pria asli Madura berusia 35 tahun telah puluhan tahun menyediakan jasa bekam tanduk sapi dari arena ke arena. Keahlian membekam dengan memanfaatkan tanduk sapi ini ia warisi secara turun-temurun dari keluarganya.

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

“Saya sudah 15 tahun menggeluti dan menyediakan jasa bekam tradisional ini. Awalnya kaku, tapi setelah belajar jadi terbiasa,” ujar Mansyur saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di sela kesibukannya membekam, Ahad (2/8) malam di Alun-alun Jombang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditanya soal perbedaan manfaat dibanding bekam biasa, Mansyur menjelaskan, bahwa bekam tanduk sapi ini merupakan terapi bekam tradisional yang reaksi khasiatnya dapat langsung dinikmati oleh pengguna.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penuturan Mansyur diamini oleh pengguna jasa bekam bernama Sugiyanto. Pria berumur 33 tahun asal Riau ini menerangkan, bahwa setelah badannya dibekam oleh bekam tanduk sapi, manfaatnya bisa langsung dirasakan.

“Badan saya serasa langsung enteng, enak sekali,” ucapnya.

Bekam jenis ini, selain memanfaatkan tanduk sapi, juga menggunakan minyak tradisional yang dibuat dari akar-akaran. Sedangkan agar tanduk yang digunakan dapat menempel di kulit, mereka menggunakan api dengan memanfaatkan kapas yang dililitkan ke sebuah kawat kecil. Setelah api menyala, api dimasukkan ke lubang tanduk selama dua detik saja, kemudian dengan cepat langsung ditempelkan di kulit.?

Sedangkan untuk dapat memperoleh khasiat dari bekam dari tanduk sapi ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 50.000 saja. Selama perhelatan Muktamar NU, Mansyur setiap hari bisa melayani hingga 10 orang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 07 September 2013

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Semangat menjaga kerukunan umat beragama telah menjadi wujud kepedulian bagi (Barisan Ansor Serbaguna) Banser untuk menghormati pemeluk agama lain agar bisa merayakannya dengan penuh kedamaian dan ketenangan. “Kita peduli pada pemeluk agama lain yang ingin menjalankan ibadahnya dengan penuh ketenangan,”

Demikian dikatakan Komandan Satuan Koordinator Nasional (Kasatkornas) Banser H Tatang Hidayat kepada wartawan di Kantor GP-Ansor, kemarin. Dia menambahkan setidaknya dengan suasana kondusif, bagi pemeluk yang ingin merayakan Natal, mereka bisa berbahagia dan berbagi kasih dengan keluarganya.

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Yang jelas, kata H Tatang, wujud kepedulian Banser semata-mata karena demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik. Bagaimanapun juga kerukunan umat beragama adalah modal dasar terciptanya keutuhan berbangsa dan bernegara.

Lebih jauh kata H Tatang, laporan dan data yang masuk ke Pimpinan Pusat GP Ansor memperkirakan ada sekitar 3015 gereja di seluruh Indonesia yang menjadi perhatian Banser untuk dibantu pengamananya. "Karena itu Banser berkoordinasi dengan aparat kepolisian setemapat, karena aparatlah yang memiliki kewenangan. Banser sifatnya hanya membantu aparat saja," tambahnya.

Ditanya berapa besar jumlah personil banser yang diterjunkan, H Tatang menyatakan jumlah personil Banser yang dikerahkan sekitar 15 ribu orang. Sementara, untuk pengamanan Jakarta saja sekitar 1000 personil dan ditempatkan pada lima wilayah, yakni Jakpus, Jaksel, Jaktim, Jakbar dan Jakut. “Masing-masing dikerahkan 200 orang per wilayah,”katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengamanan Natal oleh Banser ini, kata H Tatang, mulai berlangsung 23- 27 Desember 2006. Sedangkan untuk pengamanan Tahun Baru 2007, dimulai 29 Desember 2006- 2 Januari 2007. “Jumlah kekuatan tetap dan tidak bertambah, kecuali memang ada permintaan dari masing-masing daerah,”tegasnya. (eko/gpa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Budaya, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

FDS Jangan Bikin Muhammadiyah-NU Bertengkar

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School Nadirsyah Hosen turut mengomentari soal Full Day School (FDS) yang lagi ramai di perbincangkan belakangan ini. Meski demikian, ia tidak ingin mengomentari aspek pendidikannya karena ia merasa bukan ahli pendidikan.?

FDS Jangan Bikin Muhammadiyah-NU Bertengkar (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS Jangan Bikin Muhammadiyah-NU Bertengkar (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS Jangan Bikin Muhammadiyah-NU Bertengkar

Nadirsyah mengomentari hubungan NU dan Muhammadiyah yang menurut dia, melalui masalah FDS ini, jangan sampai jadi pintu masuk mengacak-acak relasi kedua ormas besar di Indonesia.?

“Ini jangan digiring pada pertarungan keduanya. Kita semua berkepentingan agar PP Muhammadiyah dan PBNU kompak dan rukun menjaga NKRI. Kalau dibiarkan saja, ini jadi bola liar,” katanya melalui status Facebook dan twitt di Twitter yang diakses Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Selasa (15/8).?

Menurut dia, PBNU bereaksi soal FDS itu tentu wajar saja karena dikhawatirkan ini mengganggu keberlangsungan Madrasah Diniyah (Madin) di lingkungan NU. Sementara ? kebijakan Mendikbud tentang FDS layak dikritik.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tapi ingat ini kebijakan pemerintah. Jangan dilihat ini kebijakan menteri yang orang Muhammadiyah,” tegasnya.?

Jadi, lanjutnya, semua kritikan FDS itu diarahkan kepada pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, bukan diarahkan kepada Muhammadiyah. NU merasa dirugikan lalu kritik Mendikbud wajar saja. Tapi reaksi PP Muhammadiyah yang secara terbuka membela Mendikbud mengundang tanya.

“Apa kerugian PP Muhammadiyah kalau FDS dibatalkan, dan apa keuntungannya kalau diteruskan? Kenapa Muhammadiyah total mendukung FDS?” tanyanya. "Di saat NU merasa dirugikan oleh FDS, kenapa Muhammadiyah malah mendukung FDS? Ini pertanyaan para Kiai NU,” lanjutnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut dia, NU dan Muhammadiyah tidak boleh melihat Mendikbud sebagai orang Muhammadiyah. Mendikbud itu representasi pemerintah. Ini harus dipilah. Jadi, ia memohon isu FDS jangan disikapi sebagai pertarungan Muhammadiyah dan NU. Namun, harus dilihat sebagai protes NU kepada Mendikbud sebagai representasi pemerintah.

“Kengototan Mendikbud di saat Presiden Jokowi sedang menyiapkan Perpres tentu mengagetkan. Kenapa FDS jalan terus? Kenapa tidak menunggu Perpres?” tanyanya lagi

Reaksi keras NU mengindikasikan bahwa Kemendikbud belum tuntas menyosialisasikan konsep FDS. Konsultasi dengan masyarakat diabaikan.Karena itulah saat ini PBNU sudah mengeluarkan instruksi ke jajarannya untuk menentang pemberlakuan FDS. PWNU Jatim langsung bereaksi meresponnya. Sejumlah kiai yang kalem dan adem mulai bersuara tegas akan kebijakan Mendikbud soal FDS ini. Mendikbud sudah memancing kegaduhan.

“Saran saya Presiden Jokowi membuat pertemuan dg PBNU dan PP Muhammadiyah serta Mendikbud dan Menag untuk cari jakan keluar bersama. Semoga ada kompromi dan jalan keluar bersama agar isu FDS ini tidak disamber pihak lain yang ingin mengacak-acak relasi Muhammadiyah dan NU,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Khutbah, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 04 September 2013

Pangeran Diponegoro Tentukan Tempat untuk Makam Dirinya

Gorontalo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ekspedisi Islam Nusantara di hari kedua di Makassar, Sulawesi Selatan diawali dengan berziarah di makam Pangeran Diponegoro. Pejuang dari tanah Jawa ini meninggal jauh dari kampung halamannya karena melawan penjajah Belanda yang dalam sejarah dikenal Perang Jawa pada tahun 1825 sampai 1830.

Pangeran Diponegoro Tentukan Tempat untuk Makam Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangeran Diponegoro Tentukan Tempat untuk Makam Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangeran Diponegoro Tentukan Tempat untuk Makam Dirinya

Setelah melakukan tahlilan di makam tersebut, Ekspedisi Islam Nusantara yang dipimpin Wakil Sekretris Jenderal PBNU Imam Pituduh ini mewawancarai juru kunci makam tersebut, Irhamsyah Diponegoro.

Menurut Irham, Pangeran Diponegoro dimakamkan di Makassar karena keinginan dia sendiri. Setelah bertahun-tahun ditahan Belanda, suatu ketika, Pengeran Diponegoro sakit. Sakit ini sepertinya dia punya firasat bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Karena itulah dia meminta izin kepada Belanda untuk mencari tempat dimana ia akan dikuburkan kelak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pangeran Diponegoro, lanjut Irham, kemudian meminta izin kepada Belanda selama tiga hari untuk mencari tempat yang cocok untuk peristirahatan terakhirnya. “Saya ingin tahu masyarakat ini, bangsawan ini,” katanya mengibaratkan perkataan Pangeran Diponegoro kepada Belanda di kompleks pemakaman Pangeran Diponegoro, Senin (23/5).

Belanda, lanjut keturunan generasi kelima pangeran tersebut, mengizinkan permintaan Pangeran Diponegoro. Tapi ia tidak dibiarkan bebasa berjalan sendirian, melainkan dikawal opsir Belanda.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah berkeliling tiga hari, akhirnya Pangeran Diponegoro menemukan perkampungan orang-orang Melayu bernama Jerak. Setelah itu, ia kembali ke Rotterdam. Di situ ia berpesan kepada kepada anak istrinya, apabila di kemudian hari ia meninggal, jasadnya tidak usah dipulangkan ke kampung halaman. Makamkan saja di Jerak.

Ketika Pangeran Diponegoro meninggal, awalnya Belanda mau mengirimkan jasadnya ke Yogyakarta, tapi anak istrinya menolaknya. Kemudian, anak istrinya pun tidak bisa pulang ke Jawa. Mereka harus tinggal di Makassar dalam pengawasan Belanda.

Selepas berziarah ke makam Pangeran Diponegoro, Ekspedisi Islam Nusantara kemudian melakukan wawancara dengan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Arifin Numang. Lalu ke benteng Somba Opu dan diakhiri ke Museum Karaeng Pattilanggoang. Keesokan harinya, menyaksikan ragam kesenian Sulawesi Selatan di Universitas Islam Makassar. kemudian bertolak ke Gorontalo.(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Doa, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 September 2013

Pesantren An-Nawawi Gelar Tradisi Pengajian Kilatan

Purworejo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengasuh pesantren An-Nawawi KH Achmad Chalwani membuka pengajian kitab khusus yang biasa disebut Pasanan atau Kilatan sepanjang Ramadhan di kompleks pesantrennya, Berjan, Purworejo. Pengajian Kilatan ini rutin digelar pesantren An-Nawawi asuhan Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah itu setia Ramadhan.

Pesantren An-Nawawi Gelar Tradisi Pengajian Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren An-Nawawi Gelar Tradisi Pengajian Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren An-Nawawi Gelar Tradisi Pengajian Kilatan

Saat ditemui saat acara pembukaan Kilatan pada Ahad (29/6) malam, Ketua panitia M Lutfi mengatakan, “Ramadhan itu bulan penuh berkah. Karenanya, pesantren An-Nawawi menjadikan pengajian Kilatan sebagai bagian tak terpisahkan dari bulan Ramadhan.”

Kilatan pada Ramadhan ini diikuti sejumlah 1525 santri baik putra maupun putri. Mereka terdiri dari satri An-Nawawi sendiri dan santri tamu dari berbagai daerah. Mereka akan mengaji hingga 21 Ramadhan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam Kilatan, ustadz dan ustadzah mengajarkan sedikitnya 30 kitab oleh . Luthfi menyebutkan sejumlah kitab itu antara lain kitab Jawahirul Bukhori (hadis), Ta’lim al-Muta’alim (Akhlak), Tafsir Jalalain (Tafsir), I’anat at-Tholibin (Fiqh).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Chalwani sendiri mengampu Jawahirul Bukhori setiap ba’da Tadarus al-Quran dan Ta’lim al-Muta’alim karangan Syeh Zarnuji ba’da Magrib. Pesantren membebaskan santri An-Nawawi memilih kitab yang akan dipelajari sejauh tidak berbenturan dengan jadwal wajib pengajian kitab mereka. (Mukti Ali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 25 Agustus 2013

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Oleh H Sujatmiko Huda

Berjuta maaf saya sampaikan kalau tulisan ini jauh panggang dari api, jauh pena dari ilmu. Sebab, tulisan ini hanya kontemplasi diri atas fenomena di abad googleliyah ini. Refleksi diri yang awam dan jahil alias bodoh. 

Dulu (menurut cerita para orangtua), kenyamanan beribadah dan mencari ilmu (khususnya agama) agak sedikit terganggu. Terlebih kalau sudah masuk senja, hanya mengandalkan lampu tempel (yang minyaknya sangat dihemat-hemat), tapi semangat anak-anak kecil untuk mencari ilmu kepada seorang yang dianggap mumpuni keilmuannya sangatlah besar. Bahkan semangat yang besar itu seakan menjadi kobaran api yang mengalahkan kobaran obor yang dibawa mereka saat mencari ilmu. Karena buat mereka, menghilangkan kebodohan adalah awal dari kesuksesan.

Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Mereka amat semangat untuk mengaji agama kepada pak kiai, pak ustadz, guru, ajengan dan seterusnya, demi ilmu dan demi kesuksesan dunia akhirat. Tapi ternyata, bukan hanya ilmu yang mereka cari, bukan cuma impian sukses yang mereka harapkan, mereka pun belajar berakhlak yang baik, akhlak al karimah. Betapa mereka amat bergembira bila mencium telapak tangan ibu dan bapaknya ketika berangkat mengaji, lalu mencium telapak tangan gurunya ketika tiba di pengajian. Tidak berani membantah perkataan orangtua, perintah guru dan seterusnya. 

Sekarang di zaman twitteriyah dan facebookiyah ini, entah fenomena apa yang sedang ku saksikan sebenarnya. Bada maghrib mereka kaum muda lebih senang buka facebook, google, yahoo messenger, twitter dan seterusnya hanya untuk post status, demi mengeluh dan mengadukan masalah-masalahnya ke semua teman mayanya. Dan yang lebih ironis serta kronis, yaitu mereka me-repost catatan-catatan keilmuan/keagamaan tanpa pernah memiliki guru yang membimbing. Mereka sudah merasa sangat pandai dan ‘alim bila me-repost/share link-link keagamaan tersebut atau tulisan keagamaan dari buku yang dia baca.

Bahwa mencari ilmu itu sebuah kewajiban bagi muslim adalah benar, tapi belajar kepada guru untuk mencari ilmu adalah keharusan dalam agama. Belajar tanpa guru, maka syaithan yang menjadi gurunya, begitu para ulama mengatakan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dan celakanya, mereka anggap internet itu adalah guru yang kompeten dan pakar dalam agama, akhirnya mereka melupakan dan mengacuhkan kitab-kitab yang dibawakan oleh para guru dalam sebuah majlis talim. Sehingga pantas jika mereka hanya memiliki kemampuan knowledge saja tapi tidak memiliki keunggulan dalam akhlak. Mereka senang menyalahkan perilaku orang lain, gemar menganggap orang lain itu salah, bahkan mereka berani mengatakan orang lain itu melakukan perbuatan syirik dan kafir, karena mereka menganggap orang lain itu melakukan sesuatu yang tidak diajarkan oleh agama. Padahal yang menurut mereka ajaran agama itu sebenarnya adalah ajaran internet. Mereka faham agama sebatas lisan dan mata, bukan kandungan dari agama itu sendiri.

Tidak terlarang mencari pengetahuan dari apapun termasuk dari eyang google dan sebangsanya, tapi yakinkan apa yang kita lihat dan pelajari itu adalah sesuatu yang haq dengan bimbingan seorang guru.

Lihatlah salah satu syarat dalam mencari ilmu, yaitu irsyadul ustadz atau bimbingan seorang guru. Dan perhatikanlah tujuan dari bitsaturrasul,yaitu li utammima makarimal akhlaq atau menyempurnakan akhlak yang baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sujatmiko Huda, Santri Majelis al Musnid Bekasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah