Rabu, 18 Februari 2009

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus NU di tingkat manapun perlu mendampingi warga dalam melakukan amaliyah ke-NUan seperti istighotsah, tahlilan, maulidan, dan lainnya. Kesempatan orang tua untuk mengenalkan tradisi ke-NUan, perlu diperkuat dengan menitipkan anak mereka di pesantren dan madrasah.

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Demikian disampaikan KH Dimyati Zaini di tengah belasan ribu jamaah dalam peringatan Harlah ke-91 NU di Bakung Barat kecamatan Undawanu, Blitar, Selasa (10/6).

“Yang lebih penting lagi, kita harus memerhatikan pendidikan putra-putri kita. Jangan sampai salah memasukkan sekolah. Sedapat mungkin kita masukkan anak-cucu ke pesantren dan pendidikan formal milik NU,” terang Kiai Dimyati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, warga tidak perlu menyangsikan kualitas pendidikan pesantren dan sekolah NU. “Lembaga pendidikan di lingkungan kita saat ini sudah baik, bahkan tidak kalah dengan milik orang lain. Sebagai contoh Mts dan Aliyah Ma’arif NU,’’ katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kaderisasi, menurut Kiai Dimyati, perlu diupayakan secara terpadu dengan menggerakkan amaliyah NU dan melibatkan unsur pendidikan di lingkungan sekolah NU. “Tujuannya mengamankan masa depan remaja NU.” (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 31 Desember 2008

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan meluncurkan program baru untuk para santri yang sedang belajar di pondok pesantren.

Program baru dengan nama “Beasiswa Santri” diperuntukkan bagi anak-anak muda di lingkungan Nahdlyyyin yang punya minat besar untuk belajar di pondok, tetapi tidak memiliki biaya sama sekali.

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri

"Ini program baru untuk para generasi muda NU yang ingin belajar di pesantren yang tidak memiliki biaya," ujar Lukman Kamil, Ketua PC Lazisnu Kota Pekalongan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, program beasiswa santri yang diluncurkan Sabtu (11/7) ini sekaligus mendukung program Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) berupa "Ayo Mondok" yang sudah diluncurkan beberapa waktu yang lalu. LAZISNU sebagai penghimpun dana dari muzakki (pemberi zakat) dan munfiq (pemberi infaq) berusaha menjembatani dalam hal biaya mondok.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jadi ini sebuah sinergitas antar lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama, yang kebetulan mendapat dukungan penuh dari (pengurus) Syuriyah, sehingga anak-anak muda NU sebagai kader penerus perjuangan tetap berada di jalur ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)," kata Kamil.

Acara peluncuran program beasiswa santri dilaksanakan di sela sela kegiatan LAZISNU Kota Pekalongan memberikan santunan kepada 60 anak yatim di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pekalongan Utara.

Kegiatan yang berlangsung di Musholla Al Islah Ranting NU Pabean diakhiri dengan buka puasa bersama dihadiri oleh jajaran PCNU Kota Pekalongan, pengurus MWCNU Pekalongan Utara, dan Pengurus Ranting NU Pabean.

Lukman merasa optimis program beasiswa santri mendapat respon yang cukup positif, mengingat saat ini banyak anak-anak Nahdliyin sedang belajar di pondok pesantren baik di wilayah Jawa Tengah maupun di Jawa Timur.

Untuk anak-anak muda yang baru akan belajar di pesantren bisa menghubungi pengurus ranting NU setempat atau LAZISNU Cabang Kota Pekalongan di nomor telepon 0858 1010 1926, sedangkan untuk yang sedang belajar di pesantren akan diadakan pendataan terlebih dahulu, karena program ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 Juli 2008

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kabupaten Pamekasan sudah lama dikenal sebagai salah satu lumbung bandar narkoba di Jawa Timur. Kepolisian Resort (Polres) setempat bahkan menjadikan pantura sebagai daerah merah peredaran dan pemakaian narkoba. Atas dasar ini Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Pamekasan Ra Hasan Al-Mandury menyasar para pemuda pantura untuk tidak tergoda barang haram tersebut.

Ra Hasan digandeng aliansi PAC GP Ansor Pantura untuk melatih sekaligus berbagi pengalaman dan ilmu dengan para pemuda pantura di MTs Pesantren Al-Mardliyah, Waru, Pamekasan, Kamis (20/10).

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura

Kegiatan ini mengetengahkan pembentukan Sahabat Baanar, sosialisasi Baanar beserta sosialisasi peran pemuda dalam menghadapi bahaya narkoba sehari.

"Usai kegiatan selama sehari, dilanjutkan dengan makan bersama dan malamnya diisi pelatihan Desain Grafis oleh Ra Hasan. Kebetulan di samping banyak makan garam soal organisasi, ia ahli dalam hal desain grafis," terang Ketua GP Ansor Waru Syafiuddin yang sekaligus Ketua Aliansi PAC GP Ansor Pantura (Batumarmar, Waru, Pasean).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Sahabat Baanar nanti berencana mengagendakan perampungan rangkaian kegiatan guna menghadapi persoalan narkoba, khususnya di daerah pantura.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara keterampilan grafis dipelajari guna memudahkan dan menghasilkan produk grafis yang menunjang keorganisasian GP Ansor di Kabupaten Pamekasan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Juni 2008

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang mengabdi di Desa Geneng Batealit bekerja sama dengan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Kabupaten Jepara mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk.

Pelatihan yang dilaksanakan di Balai Desa Geneng, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (9/2) itu diikuti 30 peserta yang merupakan pelaku usaha kecil se-Desa Geneng, di antaranya usaha batik tulis Jepara, sirup Jahe, kerajinan aksesori, meubel, catering, dan lainnya.

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Lukman Ihsanuddin, koordinator desa kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan pengembangan dan pemasaran produk merupakan progam KKN Unisnu Desa Geneng. Tujuannya untuk mengenalkan potensi daerah, seperti batik tulis Jepara, boga, dan kerajinan aksesori kepada masyarakat Jepara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kegiatan ini kami sesuaikan dengan tema KKN Unisnu 2016, yaitu ‘Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan’. Dan kami mengajak kerja sama dengan BPC Hipmi Jepara, karena organisasi tersebut memiliki jaringan bisnis yang luas," tambah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Umun BPC Hipmi Kabupaten Jepara Syamsul Anwar mengatakan, pihaknya memang merasa bertugas untuk menularkan semangat dan pengalaman dalam berwirausaha untuk mengembangkan dunia usaha di Kabupaten Jepara.

"Kami tidak hanya memikirkan pekerjaan dalam bisnis usaha yang kami jalani, tapi juga memikirkan bagaimana agar dunia usaha yang sudah ada bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami mendampingi pada pelaku usaha agar bisa mengakses pasar sehingga produk-produk lokal bisa ekspor," kata Syamsul.

Ia juga menambahkan, batik tulis Jepara perlu diperjuangkan seperti halnya kain tenun Troso yang awal-awal juga membutuhkaan perjuangan bersama, dan hasilnya sekarang tenun Troso menjadi andalan bagi Jepara, dan tidak menutup kemungkinan batik tulis Jepara juga akan seperti tenun Troso.

Dwi Bambang Hermawan, petinggi Desa Geneng menyampaikan terima kasih kepada Tim KKN Unisnu dan Hipmi Jepara yang telah mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk bagi warga Desa Geneng.

"Ini juga ikut membantu progam Pemerintah desa Geneng dalam meminimalisir pengangguran, sehingga menciptakan penghasilan bagi warga kami. Dan pengembangan dalam dunia usaha perlunya menekankan pada produk dengan selalu kreatif dan inovatif," tambah pria berumur 33 tahun ini.

Pelatihan yang dimoderatori Miswan Anshori, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, memberikan pengantar pentingnya strategi dalam mengembangkan dan memasarkan usaha dalam dunia bisnis, salah satunya yaitu dengan fokus pada usaha.

"Menjadi pengusaha jangan cepat menyerah, dan jadikan kegagalan sebagai cambuk untuk bangkit menjadi lebih baik," kata Muhammad Habli Mubarok, narasumber dalam pelatihan tersebut.

Ia memberikan strategi pada peserta pelatihan dalam pengembangan usaha, yaitu harus fokus dalam masa depan usaha, fokus kesempatan dengan 80 persen peluang, dan 20 persen problem. Sukses apa yang ada dan buatlah itu semua menjadi sebuah kejadian nyata.

Peserta tampak sangat antusias dalam mengikuti pelatihan tersebut, terlihat dari beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Ibu April, salah satu pembatik Desa Geneng, menanyakan bagaimana membangun mental dalam berwirausaha.

Lain halnya yang ditanyakan Faridatun, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Geneng yang memproduksi sirup jahe. Ia menanyakan tentang kiat bersaing dalam memasarkan produk. Adapun yang ditanyakan oleh Siti Rofiatun pengrajin aksesoris, sudah beberapa kali memasarkan produknya, tapi terkadang masih belum bisa memasarkan secara luas.

"Membangun mental wirausaha harus berani, karena dunia usaha kadang juga ada untung dan ruginya. Memasarkan produk agar bisa bersaing perlunya dibuat yang menarik kemasannya, bagaimana izin administrasinya dan tentunya label. Lakukan promosi terus menerus, sehingga produk tersebut menjadi dikenal banyak orang," jawab Mubarok.

"Hipmi merupakan mitra dari Pemerintah Kabupaten Jepara untuk membangun dan mencarikan solusi atas apa yang menjadi masalah bagi pelaku usaha," tambah Syamsul saat memberikan kesimpulan dalam pelatihan tersebut. (Muhammad Miqdad Syaroni/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 07 Juni 2008

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Siapa santri yang tak kenal dengan Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’i atau Imam Jalalain. Setiap santri pasti kenal ulama-ulama besar tadi. Pertanyaannya, darimana kita bisa kenal para ulama yang hidupnya terpaut beratus tahun dari kita. Satu jawabnya, kita kenal Beliau semua lewat karya-karyanya yang dikaji di pesantren.

Hal ini disampaikan, pimpinan umum website Pesantren Al-Hikmah 2, M. Jihad Fawwaz pada peserta pelatihan blog program santri menulis, Rabu (24/10). Tidak kurang sepuluh santri ambil bagian di pelatihan yang digulirkan tim website pesantren ini.

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2

“Pelatihan program santri menulis berlangsung dua hari tiap minggunya yakni Selasa dan Rabu. Hari Selasa untuk materi pelatihan blog, sedangkan Rabunya untuk teknik kepenulisannya,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jihad berharap, lewat program ini nantinya bisa lahir santri-santri yang piawai di bidang penulisan. Selain juga bisa memanfaatkan teknologi dengan baik.

Kedepannya, pihaknya menuturkan juga akan meluncurkan lomba blog antar santri di Pesantren Al-Hikmah 2.

“InsyaAllah, bila sesuai rencana, setelah dua bulan pelatihan blog ini, akan ada lomba blog antar santri dengan tema penulisan yang berganti tiap bulannya,“ jelas Jihad

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Alfa Wanasabani

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Doa, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 April 2008

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kabar wafatnya Ulama asal Suriah Syekh Wahbah Az-Zuhaili, belum lama ini (8/8), menjadi kehilangan tersendiri bagi dunia keilmuan Islam, khususnya di bidang fiqih. Seperti yang telah banyak diketahui, Syekh Wahbah merupakan salah satu ulama terkemuka asal Suriah di abad ini, anggota Dewan Fiqh di Makkah, Jeddah, India, Amerika dan Sudan.

Ia juga dikenal sebagai seorang cerdik cendikia (alim allamah) yang menguasai berbagai disiplin ilmu (mutafannin). Seorang ulama fiqih kontemporer peringkat dunia, pemikiran fiqihnya menyebar ke seluruh dunia Islam melalui kitab-kitab fikihnya.

Terdapat sebuah kisah tersendiri berkaitan dengan salah satu kitab karyanya, Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh. Seperti yang diceritakan salah satu pengajar di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, Kiai Abdul Aziz Ahmad.

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kitab tersebut termasuk “kitab putih” (al Kutubul Ashriyah) atau kitab-kitab karya ulama sekarang yang metode penulisannya mengikuti kaidah modern, yang memuat perbandingan madzhab dan pada beberapa permasalahan juga dipaparkan beberapa pendapat madzhab selain madzhab empat.

Kiai Aziz mengisahkan, persentuhan dengan kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh berawal dari alm. KH Baidlowi (pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Brabo) yang kala itu masih tinggal di Pesantren Al-Muayyad.

“Pak Baidlowi dengan semangat menunjukkan kitab yang terdiri dari delapan jilid besar itu dan menjelaskan keistimewaannya. Misalnya, kitab tersebut menggunakan redaksi yang mudah difahami, rangkaian kalimatnya sederhana dan sistematikanya sesuai dengan kaidah kontemporer. Isinya adalah tentang fiqih dari semua madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) yang disertai proses penyimpulan hukum (istinbathul ahkam) dari sumber-sumber Hukum Islam baik yang naqli maupun yang aqli,” ungkap Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena bagusnya kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh, Pak Baidlowi sangat menganjurkan para calon ulama atau para kiai mau membaca, mempelajari dan memilikinya. Atas anjuran tersebut, Kiai Aziz menjadi tertarik untuk membaca, mempelajari dan memilikinya. Akhirnya ia berhasil memiliki kitab tersebut seharga Rp 330.000.

Rujukan Bahtsul Masail

Setelah memiliki kitab karya Syekh Wahbah itu, ia menjadikannya untuk rujukan setiap ada kegiatan bahtsul masail di kalangan NU atau MUI. Termasuk, ketika PCNU Surakarta sedang giat-giatnya mengadakan bahtsul masail antara tahun ? 1997 hingga 2004.

“Mbah Kiai Abdurrochim, Mbah Kiai Daimul Ihsan, Mbah Kiai Abdul Wahab Shiddiq, Mbah Kiai Dasuki, Mbah Kiai Abdullah Asy’ari, dan para kiai sepuh lainnya, pada awalnya masih mempertanyakan apakah kitab ini mu’tabar dan bisa dijadikan rujukan atau tidak,” kata Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun setelah beberapa kali ia menunjukkan kepada beberapa kiai tersebut, khususnya Mbah Kiai Abdurrochim dan Mbah Kiai Daimul Ihsan, ternyata mereka sangat menyukai kitab ini. Bahkan beberapa kali mereka meminjam kitab tersebut untuk dipelajari (muthola’ah).

Pada waktu yang sama, ketika sering mengikuti forum bahtsul masail di tingkat PWNU Jawa Tengah, ia melihat belum ada kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan. Para kiai PWNU masih belum menunjukkan apresiasinya terhadap kitab fiqih dengan penulisan model baru ini, dan juga masih mempertanyakan mu’tabar atau tidak.

Dan ketika dirinya berkesempatan mengikuti bahtsul masail tingkat nasional - Pra Muktamar di Sukabumi 1990 - dalam komisi yang penulis menjadi anggota? tidak ada satupun kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan.

Ketika memberikan jawaban tentang hukum jual beli jangkrik dengan menggunakan kitab ini sebagai rujukan, dan kebetulan berbeda dengan jawaban Kiai Mas Subadar dari Pasuruan dan para kiai lainnya yang menggunakan ma’khodz kitab-kitab kuning, maka jawabannya dikesampingkan.

Waktu itu, Kiai Aziz mencoba menyampaikan jawaban: “wa yashihhu baiul hasyarot wal hawam kal hayyat wal aqorib idza kana yuntafa’u bih” (dalam Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh). Sedangkan para kiai menggunakan jawaban: “fala yashihhu bai’ul hasyarot” (dalam Fathul Wahab) dan “wa ammas shororotu faharomun ala ashohhil wajhaini kal khunfusa’i” (dalam Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab).

Namun demikian, pada sidang pleno akhirnya jawaban dengan rujukan Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh juga dipakai.

Ketika Muktamar NU ke-31 berlangsung di Donohudan Boyolali pada tahun 2004, PBNU meminjam kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh miliknya. Kitab tersebut meskipun tergolong “kitab putih” telah diakui sebagai kitab yang mu’tabar oleh para ulama dan dapat dipakai sebagai rujukan dalam bahtsul masail tingkat nasional.

Karya-karya Syekh Wahbah juga kerap menjadi rujukan bagi berbagai komisi bahtsul masail, baik waqi’iyah (tentang peristiwa kasuistik), maudluiyah (tentang tema-tema tertentu), maupun qanuniyah (tentang perundang-undangan), termasuk pada Munas NU 2012 dan Muktamar Ke-33 NU belakangan ini. Karya master fiqih ini dirujuk lantaran dinilai menyediakan jawaban bagi persoalan kekinian yang jarang ditemukan di kitab-kitab klasik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

?

?

Sumber terkait : Pak Baidlowi, Pemrakarsa Pengenalan Kitab Putih di Kalangan Kiai NU (Majalah Serambi Al-Muayyad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Khutbah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 27 April 2008

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Nahdlatul, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah