Selasa, 03 Juli 2007

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Setiap kali menjelang bulan Ramadan tiba, umat Islam di kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan sekitarnya menyambutnya dengan suka cita. Momentum kehadiran bulan Ramadan menjadi sesuatu yang istimewa, sebab terdapat tradisi Dandangan sebagai penanda masuknya bulan Ramadan. Tradisi ini sudah turun temurun atas warisan dari Sayyid Ja’far Sodiq atau yang sering dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Tradisi Dandangan sudah berlangsung ratusan tahun. Dahulu, tradisi ini bermula pada saat masyarakat mendatangi masjid Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman dari sesepuh masjid mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa Ramadan. Pengumuman diawali dengan permulaan menabuh beduk yang diterpasang Menara, lalu beduk tersebut kedengarannya menimbulkan suara “dhang…dhang..dhang”. Bunyi beduk itulah yang memunculkan kata dhandhang, sehingga kebiasaan tersebut dikenal dengan tradisi Dandangan.

Zaman terus berkembang, kini tradisi Dandangan tidak hanya sebatas menunggu beduk Menara Kudus ditabuhkan menjelang bulan Ramadan. Namun sudah menjelma menjadi tradisi atau dengan istilah lain yakni event yang tidak hanya dimiliki oleh masyarakat muslim saja, tetapi masyarakat non-muslim juga menyambutnya dengan suka cita.

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Membawa Berkah

Jika dahulunya masyarakat hadir ke Masjid Menara pada akhir Sya’ban menjelang awal Ramadan untuk menantikan pengumuman awal puasa. Kini, tradisi Dandangan bermetamorfosis menjadi tradisi yang besar dan meriah. Termasuk kemeriahannya membawa berkah kepada masyarakat luas. Selama tiga pekan menjelang ramadan, jalanan di sekitar kompleks masjid Menara dan makan Sunan Kudus, tumpah dibanjiri oleh para pedagang yang menjajakan segala macam barang dagangan, mulai dari makanan, pakaian, mainan anak-anak, aksesori, hingga kebutuhan sehari-hari.

Selain menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang hendak berziarah ke makam Sunan Kudus, tetapi juga masyarakat yang hanya sebatas ingin menikmati kemegahan bangunan Menara. Menara masjid pertama di pulau Jawa ini dibangun oleh Sunan Kudus begitu megah dan menarik karena bangunannya mirip dengan Pura tempat beribadah orang Hindu. Bukan tanpa maksud Sunan Kudus membangun seperti itu, sebab beliau berdakwah di daerah Kudus yang pada saat itu mayoritas masih beragaman Hindu. Strategi Sunan Kudus melakukan pendekatan akulturasi budaya, seperti Menara tersebut yang bercirikan Islam dan Hindu. Tidak heran jika Menara Kudus mendapat predikat sebagai simbol toleransi.

Momentum Kerukunan Masyarakat

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semaraknya tradisi Dandangan tidak hanya disambut hangat oleh masyarakat muslim, tetapi termasuk juga masyarakat non-muslim. Tidak sedikit dari masyarakat non-muslim yang ikut menjajakan dagangannya atau hanya sebatas datang untuk melihat Menara Kudus dari dekat.

Bebarapa tahun terakhir, Pemda kabupaten Kudus rutin mengadakan kirab budaya sebagai penanda resmi dibukanya tradisi Dandangan.

Dalam kirab tersebut ditampilkan kesenian, kebudayaan dan hasil Bumi dari masyarakat Kudus. Tidak heran jika tradisi Dandangan sudah hajat Pemda Kudus, karena momentum yang tepat untuk menyatukan masyarakat Kudus tanpa membeda-bedakan agama.

Tradisi Dandangan akan terus berjalan apabila masyarakat berkenan untuk terus melestarikannya. Tidak hanya sebatas melestarikan, tetapi juga harus memahami subtansi dari tradisi tersebit. Karena inti dari tradisi Dandangan, bagi masyarakat muslim adalah menyongsong sekaligus mengingatkan untuk mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin dalam melaksanakan peribadatan di bulan suci Ramadan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muhammad Zidni Nafi’, jurnalis Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung, asal Kudus

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 29 Juni 2007

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mantan Ibu Negara Nyai Hj. Shinta Nuriyah hari ini, Sabtu (9/3) merayakan hari ulang tahun yang ke-65. Dalam acara ulang tahun ini beberapa acara digelar di Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan atau Puan Amal Hayati, seperti Atraksi Egrang dan perkusi, pengobatan gratis dan pembagian sembako untuk masyarakat sekitar.

Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Puan Amal Hayati menggandeng Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Masyarakat. Sementara atraksi egrang dan perkusi ditampilkan oleh komunitas Tanoker dari Jember Jawa Timur.

Kepada masyarakat yang hadir, Shinta Nuriyah menyampaikan terima kasihnya dan meminta doakan agar keberkahan dan manfaat dapat dilimpahkan Allah khususnya kepada bangsa Indonesia. Shinta berharap perjalanan bangsa Indonesia ke depan dapat lebih baik dan lebih bermartabat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang dikaruniakan, khususnya kepada saya pribadi. semoga Allah juga senantiasa memberkati kita semua dan seluruh bangsa Indonesia," tutur Shinta yang lahir pada tanggal 8 Maret 1948 di Jombang ini.

Sementara itu, koordinator Pelayanan Masyarakat LKNU dr. Makky menyatakan kegiatan ini dilaksanakan oleh LKNU dalam rangka pengabdian masyarakat. Pengobatan gratis seperti ini juga sering dilakukan LKNU di berbagai tempat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"LKNU sebagai bagian tak terpisahkan dari NU berusaha terus mengabdi untuk bangsa, khususnya warga NU. Kami berharap pengabdian kami, sesedikit apa pun dapat bermanfaat dan terus berlanjut demi tegaknya bangsa yang lebih baik," tutur Makky.

Acara yang digelar dari pagi hingga sore hari ini diikuti oleh saratusan warga sekitar Ciganjur dan kolega Shinta Nuriyah dari dalam dan luar negeri.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 22 Mei 2007

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. KH AbdurrahmanWahid (Gus Dur) dan presiden Afrika selatan Nelson Mandela adalah dua tokoh bangsa yang dikagumi dan diteladani banyak orang. Keduanya sama-sama memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan anti diskriminasi.

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela

“Gus Dur dan Nelson Mandela ini pejuang HAM yang selalu dirindukan semua masyarakat sepanjang masa. Perjuangan dan gagasannya akan selalu menjadi teladan bagi pecinta dan pengagumnya,” kata Pengasuh Pesantren API Magelang KH Yusuf Chudhori dalam peringatan Haul keempat Gus Dur dan 40hari wafatnya Nelson Mandela di RM Bambu Wulung Kudus, Selasa (31/12) lalu.

Kiai muda yang sering disapa Gus Yusuf ini mengatakan, Gus Dur dan Nelson mempunyai kesamaan dalam perjuangan tetapi keduanya ada perbedaan di kala wafatnya. Nelson Mandela meninggal ketika masih jaya menjadi presiden, sementara wafatnya Gus Dur dalam kondisi sakit dan sudah tidak menjadi presiden.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Melihat kondisi demikian menurut teman saya pak Darmono, Gus Dur itu disebut sebagai resi karena meninggalnya didahului dengan loro lopo (sakit),” tutur Gus Yusuf.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Agus Maftuh yang turut memberikan orasi mengutarakan sejarah Nelson Mandela sangat terpengaruh dengan seorang sufi dan ulama besar yang lahir di Indonesia Syekh Yusuf Al Makassari.

“Dalam History Afroch, pemikiran-pemikiran Nelson Mandela? dipengaruhi oleh Syech Yusuf . Syekh Yusuf ini orang pertama kali yang mengajarkan Al-Qur’an di Afrika Selatan,” tuturnya.

Penulis pengantar? buku Islam Kosmopolitan karya Gus Dur ini, menuturkan Nelson Mandela pernah menyatakan bahwa Syekh Yusuf adalah putra terbaik afrika selatan dan menjadi panutan.

“Ini sebagai bukti, dulu ulama-ulama kita sudah mendunia? sebelum era global seperti halnya Gus Dur yang sudah diakui oleh dunia,” tandasnya. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 19 April 2007

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai”

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengajian Ansor Bersholawat yang digelar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Brebes mengajak ribuan jamaah menyaksikan kisah perjuangan KH Hasyim Asyari melalui pemutaran film “Sang Kiai” di alun-alun Brebes, Jawa Tengah, Ahad (8/12) malam.

Selain pemutaran film Sang Kiai, PC Ansor Brebes juga mengadakan sejumlah kegiatan seperti santunan kepada para sopir becak, donor darah, festival rebana, dan lomba tata administrasi masjid.

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai”

Kegiatan ini dihadiri Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Wakil Bupati Brebes Narjo, dan Sekda Brebes H Emastoni Ezam. Kecuali mereka, Ansor Bersholawat juga diikuti jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan masyarakat Brebes.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC GP Ansor Brebes menjelaskan, kegiatan Ansor Bersholawat tidak hanya melulu berisi pengajian umum. Berbagai kegiatan digelar sebagai manifestasi kecintaan kepada Rosulullah SAW.

“Ansor Bersholawat diisi dengan terutama kegiatan yang menyangkut kepekaan sosial sehingga nilai-nilai rahmatan lil alamin sebagai misi utama Islam bisa terwujud,” tegas Ketua PC Ansor Brebes.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senada dengan Ketua PC Ansor Brebes, Ketua PW Ansor Jawa Tengah Jabir Al-Faruqi meminta agar Ansor bisa berperan dalam masyarakat. Ketika negara sedang sakit misalnya, GP Ansor wajib mengobati.

“Namun ketika pemerintah baik dan mengambil kebijakan prorakyat, GP Ansor harus mendukung penuh,” tambah Jabir. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Quote, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 12 Maret 2007

Berbagi Kebahagiaan, MI Nurul Islam Santuni Anak Yatim

Probolinggo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagai upaya berbagi kebahagiaan dengan sesama dari kalangan keluarga kurang mampu, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam Desa Tigasan Wetan Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Rabu (5/11) memberikan santunan kepada ratusan anak yatim yang berada di sekitar madrasah.

Berbagi Kebahagiaan, MI Nurul Islam Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagi Kebahagiaan, MI Nurul Islam Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagi Kebahagiaan, MI Nurul Islam Santuni Anak Yatim

Ketua panitia Shofia mengatakan pemberian santunan kepada anak yatim ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap anak yatim sehingga mampu membantu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Santunan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian yang diberikan oleh MI Nurul Islam dengan harapan mampu memberikan manfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari anak yatim. Setidaknya bisa berbagi kebahagiaan di hari ulang tahun anak yatim ini,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Shofia yang juga Sekretaris Pengurus Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Probolinggo ini mengharapkan agar apa yang dilakukan oleh MI Nurul Islam ini bisa memberikan motivasi kepada masyarakat supaya memiliki kepedulian kepada anak yatim. Apalagi kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan uswatun hasanah (contoh) kepada masyarakat agar memiliki kepedulian kepada sesama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh siswa-siswi MI Nurul Islam ini bisa menggugah masyarakat agar bisa peduli dan memberikan perhatian kepada orang lain yang sedang membutuhkan, khususnya anak yatim,” harapnya.

Mantan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo ini menegaskan bahwa pemberian santunan kepada anak yatim ini bertujuan agar semakin meningkatkan kepedulian dan berbagi dengan anak yatim.

“Anak yatim merupakan titipan Allah SWT yang harus selalu kita perhatikan segala kebutuhannya. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab sekaligus sebuah kewajiban yang diberikan MI Nurul Islam kepada anak yatim yang berada di sekitar madrasah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Khutbah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 27 Februari 2007

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) mencangkan dua program unggulan sebagai upaya mensejahterakan masjid. Program ini didorong oleh keprihatinan LTMNU atas kelemahan masjid dalam hal pemberdayaan ekonomi.

Wakil Ketua PP LTMNU Mansur Syaerozi mengatakan, pihaknya akan melakukan terobosan di bidang dakwah dan pemakmuran masjid dengan mencanangkan “Gerakan Infak & Shodaqoh Memakmurkan Masjid” yang disingkat Gismas, serta “Masnu Payment” yang bergerak di bidang jasa layanan pembayaran atau pembelian secara online.

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan

Mansur menjelaskan, Gismas akan dikoordinir orang-orang khusus yang sudah mendapatkan pendidikan dan latihan dari LTMNU yang dikenal sebagai muharrik (penggerak) masjid. Muharrik disyaraktkan bersertifikat resmi dan menangani minimal 10 masjid. Hasil Gismas diperuntukkan untuk memakmurkan kegiatan masjid di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi jamaah, dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sementara Masnu Payment akan melayani mulai dari bayar rekening listrik, telepon, cicilan motor, bayar infaq ? dan sedekah, beli barang, dan lain-lain,” katanya dalam rilis yang dikirim ke NU Online, Rabu (17/7).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Mansur, masjid sudah sepatutnya sejahtera dan mandiri secara ekonomi untuk menopang seluruh kegiatan positif yang dipelopori masjid. Di zaman Rasulullah, masjid adalah tempat yang progresif dan tak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga pusat pemberdayaan umat.

“Secara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Masih banyak pengurus masjid yang tidak mampu mengoptimalkan peran dan fungsi masjid karena keterbatasan SDM untuk memakmurkan masjid, apalagi memikirkan para jama’ah yang fukara dan masakin di sekitar masjid,” katanya.

Rencananya, LTMNU akan meluncurkan secara resmi dua program unggulan tersebut pada Jumat (26/7) mendatang di gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, dengan menghadirkan 81 muharrik dari wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Penulis: Mahbib Khoioron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2007

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Nadlatul Ulama (JQHNU) menggelar seminar nasional bertajuk “Kontroversi Tilawah Langgam Nusantara”, Selasa (16/6) petang, di aula PBNU, Jakarta. Salah satu narasumber hadir dari Universitas Internasional al-Mustafa, Qum, Iran.

Ketua Umum PP JQHNU KH Abdul Muhaimin Zain mengatakan, seminar ini diselenggarakan atas permintaan masyarakat, menyusul polemik tentang kebolehan melantunkan al-Qur’an dengan langgam Jawa sebagaimana terjadi pada peringatan Isra’ dan Mi’raj pertengahan Mei lalu di Istana Negara, Jakarta. Pihaknya sengaja mengundang pakar qira’ah asal Iran lantaran langgam qira’ah yang lazim dibaca para qari’ mayoritas berasal dari Persia atau Iran.

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Sayyid Ali Rabbani, ulama Iran itu, di hadapan forum yang terdiri para mahasiswa, dosen, dan para pegiat al-Qur’an, mengatakan kontroversi ini juga pernah terjadi di negaranya, Iran. Pembacaan al-Qur’an dengan lagu bersyair mendapat simpati dari sebagian kecil ulama, meski ditolak oleh kebanyakan ulama qira’ah di sana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Soal tilawah di luar langgam Arab, katanya, secara akal bahasa Arab atau bahasa Inggris seyogianya diekspresikan menurut bahasa Arab atau Inggris. Namun ia menggarisbawahi bahwa seorang qari sebaiknya tidak terlalu fokus pada lagu, melainkan perenungan makna dan sampainya pesan al-Qur’an kepada para pendengar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ali Rabbani mengisi seminar bersama Kepala Lajnah Pentashih al-Qur’an Kemenag Muchlis M Hanafi, Rais Majelis Ilmi PP JQHNU KH Ahsin Sakho, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Peserta yang berpartisipasi antara lain dari qari internasional Ustadzah Maria Ulfa, serta akademisi dari Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta, Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, dan Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran "Al-Hikam" Depok.

Menurut hasil penelitiannya dari berbagai kitab klasik, Muchlis berpendapat bahwa tidak ada contoh valid pada zaman Rasulullah tentang lagu tertentu yang harus digunakan saat membaca al-Qur’an. Dengan demikian, ia meyakini langgam (nagham) datang atas kreasi umat Islam setelahnya atau bersifat ijtihadi.

Sebagaimana Muchlis, KH Ahsin Sakho setuju dengan adanya kebebasan dalam memilih lagu selama tidak menyalahi tajwid, makharijul huruf, dan kekhidmatan dalam pembacaan al-Qur’an. Baginya ini masalah sekunder karena menyangkut budaya manusia yang beragam. Yang primer dan masuk kategori ibadah adalah pembacaan al-Qur’an sesuai kaidah dan makna.

“Jadi menurut saya sah-sah saja (menggunakan langgam Nusantara), sejauh tidak ada mawani’ (penghalang) yang menyebabkan ia makruh atau haram,” ujarnya usai menayangkan video pembacaan al-Quran dari Afrika dan Saudi Arabia yang berbeda dari tujuh lagu yang lazim dibaca, yakni Bayati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rost, Jiharkah, dan Sikah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, RMI NU, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2007

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah