Selasa, 24 Oktober 2017

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

NU tak dipisahkan dengan pesantren. Ketika regenerasi di pesantren mandek, maka akan mandek juga di NU. Sehingga butuh pengkaderan yang khusus untuk putra-putri kiai agar pesantren tetap jalan. Ketika itu berhasil, akan membantu untuk mendinamisasi NU yang pada gilirannya untuk bangsa Indonesia.?

Jadi, dengan demikian, kaderisasi dan regenerasi di pesantren tiada lain adalah untuk bangsa ini.?

Lalu bagaimana resep agar putra-putri kiai bisa menjalankan cita-cita NU dan bangsa ini? Pengasuh Pondok Pesantran Al-Huda Doglo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, KH Habib Ihsanuddin bercerita pengalaman dan resepnya kepada Abdullah Alawi dari Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Berikut petikannya.?

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

Bagaimana caranya mempertahankan pesantren?

Pertama kiai itu harus ikhlas. Ikhlas itu adalah nilai tertinggi. Dia mendirikan pondok pesantren itu betul-betul dari lubuk hati untuk bisa bagaimana umat islam bisa paham terhadap agama. pertama kiai itu harus ikhlas. Kedua, kiai itu harus istiqomah di dalam mengajar karena tidak istiqomah ibaratnya seperti ayam mengerami. Kalau ayam itu dikerami, tapi tidak istiqomah, sering ditinggal pergi, ya tidak akan jadi, tidak akan menghasilkan kutuk yang sangat baik, bahasa jawanya kemelekeren atau gagal. Podok juga sama.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang kedua kalinya, pondok itu harus ditangani dinomorsatukan dari yang lain, tidak boleh dinomorduakan. Kalau dinomorduakan banyak sekali, seorang kiai punya pondok pesantren merangkap menjadi anggota DPR, ini akhirnya pondoknya yang akan kalah, jika dinomorduakan.?

Jadi istilah orang punya istri, harus dijadikan istri nomor satu. Jadi saya ini saya udah 53 tahun membina anak-anak dari nol. Saya mempelajari setiap pergerakan itu. Sering saya pergi begitu saja, anak-anak itu sudah bimbang tidak karu-karuan. Jadi harus istiqomah, ikhlas, tabah, tiga itulah yang menjadi sayarat untuk mempertahankan pesantren.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jadi, terutama sekarang ini. Sekarang ini NU dalah kekuatan Indonesia. Kekuatan NU itu di pondok pesantren. Contohnya yang memimpin NU kan kiai-kiai. Semua kiai keluaran dari pondok pesantren. Tidak ada kiai keluaran bukan pondok pesantren. Kiai mesti keluaran pesantren. Kita harus betul-betul memperhatikan permasalahan pondok pesantren ini karena ini adalah dasarnya NU, mempertahankan pondok pesantren berarti mempertahankan NU.?

Oleh karena itu, kalau sampai terjadi rencana pelajaran hanya lima hari dan 8 jam, ini yang akan akan kena akibatnya adalah pondok pesantren. Karena pondok pesantren itu rata-rata sekarang sudah diadakan pendidikan formal. Kalau 8 jam sampai jam empat, diniyah itu biasanya waktu sore, anak sudah payah, habis pikirannya, sehingga diniyahnya hilang, padahal diniyah itu bagian dari pondok pesantren. Oleh karena itu, NU melalui Rais ‘Aam menolak gagasan itu, saya dari pondok pesantren sangat-sangat setuju.?

Bagaimana supaya putra dan putri pesantren bisa melanjutkan perjuangan orang tuanya, salah satunya melanjutkan pesantren?

Selain mempelajari pelajaran agama secara paripurna, artinya tidak sepotong-sepotong, kalau tafsir Al-Qur’an ya 30 juz, kalau hadits ya namanya Muslim 4 jilid, Bukhori 4 jilid, dan dimulai dari bawah nahwunya, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah sehingga dalam mempelajari agama itu betul-betul bisa paripurna, tidak sepotong-sepotong. Kemudian juga anak-anak itu di pondok itu harus diadakan sekolahan formal. Kalau tidak disertai dengan formal, sehingga katakanlah, dia bisa membaca kitab, tapi tidak bisa membaca tanda-tanda zaman. Oleh karena itu kedua-duanya harus ada. Dia nyantri, juga sekolah.?

Kemudian setelah ngaji, sekolah selesai, kemudian masuk organisasi, pendidikan yang sangat luar biasa organisasi itu karena banyak sekali kiai-kiai yang yang tidak berorganisasi itu enggak tahu keadaan sekarang seperti di Jakarta enggak tahu apa-apa, tapi masuk organisasi dari IPNU, Ansor, naik di NU, insyaallah akan tahu. Dia akan bisa. Selian itu juga harus sering membaca ya, bacaan-bacaan tujuan dia, membaca bukunya Pak Said Aqil, Gus Dur, Mbah Hasyim Asy’ari, sehingga kita akan bisa tahu para sesepuh dulu bagaimana perjuangannya. Juga para pimpinan sekarang. Kita kombinasikan. Insyaallah itu akan tahu tanda-tanda zaman.

Putra-putri kiai sebagai kader Ahlussunah wal-Jama’ah, bagaimana resep atau kunci mereka mengabdi di masyarakat?

Begini, yang pertama mengetahui bahwa ajaran Ahlussunah itu benar. Yakin. Kalau orang sudah yakin tidak mudah digoyah. Saya tiap bulan didatangi (dia menyebut nama sebuah organisasi), dari Solo, Yogya, dari pusat, mereka memberi penjelasan… Karena saya sudah yakin kepada kebenaran ajaran NU, ya tidak tergoyahkan. Perjuangan itu harus yakin dulu tentang apa yang diperjuangkan. Kalau tidak yakin, ya seperti orang-orang itu, pelacur politik, di sana tidak posisi pindah sini, di sini tak ada posisi pindah sana. Lha kalau kita didahului dengan yakin, kita tidak akan pindah. Kalau anda tidak bisa menyampaikan argumentasi yang bisa mengalahkan keyakinan saya, jangan harap saya ikut keyakinan saudara.?

Saya zaman Orba, didatangi tokoh-tokoh waktu itu, diberikan cek kosong untuk membangun pesantren, tidak bisa. Saya kalau tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam, Islam tidak ada sangkut pautnya dengan Ahlussunah wal-Jama’ah, tidak. Yakin itu sudah ada. Kita sudah mempelajari tuntunan konsep-konsep Ahlussunah wal-Jama’ah dengan sungguh-sungguh sejak zaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sampai Pak Idham Chalid, sampai sekarang, kita akan akan tahu programnya NU. Saya di hadapan orang-orang jenggotan, saya ini orang NU, didikan pesantren.?

Jadi, jika saudara mendengar dalil-dalil, argumen dari saya dalam debat nanti, itulah bahwa di Indonesia ada orang seperti saya, yang pendapatnya seperti saya, dahulu debat. Karena saya sudah yakin kebenaran jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Kemudian kita juga mengikuti perkembangan sekarang bagaimana berita, baik surat kabar, tv, buku-buku yang lain tentang doktrin Ahlussunah wal-Jama’ah. Itulah harapan kami.

Saya pernah didawuhi Pak Idham Chalid. Kalau ingin menjadi pemimpin itu, satu, jangan hasud. Jangan jadi orang dengki, iri hati. Itu harus dihilangkan dan jangan takut dihasudi. Jangan hasud dan jangan takut dihasudi.?

Saya tadi membaca orang yang menghasud Kiai Said Aqil. Tidak apa-apa, itu kan pendapat Saudara. Said Aqil tetap jalan terus, jangan berhenti. Menjalankan NU itu adalah menjalankan haq, menjalankan yang benar, jangan hasud, jangan dihasud. Orang yang hasud itu tidak akan menjadi pemimpin.?

Panjenengan semua itu harus bertanggung jawab, bahwa sespuh NU itu akan meninggal. Siapa lagi yang harus mengganti, ya kamu-kamu sekalian. Anak-anak muda itu harus mempersiapkan diri konsep-konsep NU, tujuan NU apa yang sekarang diperjuangkan NU, ini harus dipelajari di organisasi, mendapatkan gembelengan untuk memimpin. Pokoknya panjenegan harus bismillah siap untuk memikul tanggung jawab NU di masa yang akan datang. Benar, NU itu adalah haq, benar. Coba NU itu sudah berapa lama mau dihancurkan, sampai sekarang, tapi alhamdulillah wa qul jaal haqqu wazhaqal bathil innal bathila kana zahuqa.?

NU itu punya keistimewaan yang tidak dipunyai orang lain. Ya itu, masih banyak kiai yang ikhlas, masih banyak kiai yang memiliki karomah dan di dalam perjuangan itu tidak hanya pinter yang diajukan tapi syariat dengan haqiqat. Sebab syariat saja tanpa haqiqat itu, syariat hanya pintar saja, tidak disertai doa dan pendekatan kepada Allah, maka kosong, ibarat pohon tidak ada buahnya. Haqigar tanpa syariat, sampeyan berdoa saja, tanpa berjuang ngalor ngidul, ngetan ngulon, tidak mendirikan Pagar Nusa, tanpa Ansor, berdoa saja, klenik jadinya. Jadi kita harus syariat dan haqiqat besama-sama, insyaallah. Kepandaian dan wiridan yang ajeg, pondok pesantren itu tidak hanya dibangun semen dan beton dengna pasir, tapi panjang lagi harus dipndasi dengna prihatin, riyadlah supaya kekuatannya lahir batin.?

NU juga begitu. Saya akan selalu prihatin selain untuk pondok saya, saya juga insyaalah karena Idham Chalid mengatakan pesantren itu adalah ibarat ranjang dan kolong. Adanya NU adalah karena adanya pondok. Pondok itu karena yang mendukung orang NU. Syaiani mutalamijaini. Dua yang keberadaannya harus ada. Ada pondok ada NU. Ada pondok ada NU.?





Seandainya pondok itu berkurang atau bahkan tidak ada, bagaimana NU?

Saya rasa akan hancur. Karena NU itu dipimpin ulama. Ulama itu mesti lulusan pondok pesantren. Sampai detik ini belum ada ulama tidak tamatan pondok pesantren. Kalau ada ya ustadz. Jadi oleh karena itu, antara NU dan pondok pesantren harus ada. Ini menurut pendapat saya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Humor Islam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PWNU NTB Dampingi Persiapan Visitasi UNU Mataram

Mataram, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH. A. Taqiuddin Mansyur, Rabu (1/10) hari ini, mendapingi para civitas akademika dalam menyiapkan proses visitasi Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Mataram.

Kamis (2/10) besok sekitar pukul 13.00 WITA dijadwalkan Direktur Perguruan Tinggi Kemendikbud akan hadir di Gedung UNU beralamat di Jalan Pendidikan No 6 Mataram dalam rangkaian proses visitasi.

Ketua PWNU NTB Dampingi Persiapan Visitasi UNU Mataram (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU NTB Dampingi Persiapan Visitasi UNU Mataram (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU NTB Dampingi Persiapan Visitasi UNU Mataram

TGH. A. Taqiuddin mengarahkan para calon tenaga UNU agar melakukan persiapan dengan matang. Para tenaga pengajar maupun tenaga adminsitrasi diharapkan bisa bekerja dengan tulus ikhlas dalam pengembangan? dan kemajuan UNU khususnya, dan NU di Nusa Tenggara Barat umunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Gedung UNU ini juga diharapakan dapat dikelola dengan baik dan bertanggung jawab oleh para pengurus nanti,” pinta Ketua NU NTB yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Mansyuriah Al Maarif NU Bonder Lombok Tengah ini.

Ia mengaskan, UNU Matamar didirikan untuk bisa dikenang dan sebagai wadah pengembangan SDM di NTB, agar publik tahu bahwa NU di NTB besar dan kian meningkat dalam hal infrastrukur maupun supratsturktur. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, dirinya tidak mengarapkan apa apa dari UNU melainkan agar generasi ke depan dapat memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai. “Sebuah kesempurnaan ada pada akasi dan bukti, bukan pada wacana dan janji,” tutupnya. (Adi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, AlaNu, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 23 Oktober 2017

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Batam, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di Batam akan dimulai pada Selasa (14/3) besok. Rakernas yang dihadiri oleh perwakilan wilayah dan cabang seluruh Indonesia akan membahas beberapa isu strategis.

Rakernas V Lakpesdam NU akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali yang dihadiri oleh Walikota Batam Ahmad Dahlan, Ketua PWNU Kepulauan Riau H Gani Lasya dan perwakilan pengurus cabang NU se-Kepri? dan MWCNU se Kota Batam.

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Rabu (15/3) para peserta rakernas akan dibekali materi mengenai Garis Besar Perjuangan NU oleh H Abdul Mun’im DZ dari PBNU, kemudian disambung dengan sharing khidmah gerakan NU bersama Bupati Wonisobo H Kholiq Arief , dan Ketua PBNU H Imam Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari berikutnya para peserta Rakernas akan membahas mengenai implementasi UU Desa bersama Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam NU Yahya Ma’shum dan Erman A. Rahman yang dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Batam oleh para peserta Rakernas.

Menurut Ketua Rakernas V Eko Agus Priyono, Rakernas dikuti sekitar 70 perwakilan pengurus cabang Lakpesdam ditambanh pengurus wilayah. Masing-masing cabang atau wilayah mendelegasikan rata-rata 2 orang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiga hari sebelum Rakernas dimulai, sebagian peserta Rakernas telah hadir di Batam untuk mengikuti training of trainer untuk program Kader Damai. Menurut Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’shum, training itu merupakan bagian dari agenda PP Lakpesdam yang sengaja dilaksanakan berdekatan dengan kegiatan Rakernas. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Hadits, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 22 Oktober 2017

Ekstrimisme dan Kerancuan Dakwah MTA

Judul : Meluruskan Doktrin MTA; Kritik Atas Dakwah Majelis Tafsir Al-Qur’an

Penulis: Nur Hidayat Muhammad

Penerbit: Muara Progresif, Surabaya

Cetakan: I, Januari 2013

Ekstrimisme dan Kerancuan Dakwah MTA (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekstrimisme dan Kerancuan Dakwah MTA (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekstrimisme dan Kerancuan Dakwah MTA

Tebal : xiv + 206 hlm.

Peresensi: Ihya `Ulumuddin*

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam banyak hal, warga Nahdliyyin kerap menjadi target dan sasaran beruntun kelompok atau aliran-aliran yang kontra secara aqidah dan amaliah dengan ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Di antara kelompok yang secara gamblang menaruh “ketidaksukaan” kepada warga nahdliyyin ialah MTA atau biasa disebut Majelis Tafsir al-Qur’an, yakni lembaga dakwah yang menyublimasi dirinya menjadi sebuah yayasan dengan pendidirinya Abdullah Thufail Saputra pada 19 September 1972. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk kesekian kalinya, kemunculan MTA merupakan warning bagi warga Nahdliyyin secara khusus, dan umat Islam pada umumnya setelah Syiah, Wahabi, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tablig, Jama’ah Islamiyah dan sebagainya.

Apa yang sejatinya salah dengan MTA, dan mengapa juga kehadirannya menjadi peringatan bagi warga Nahdliyyin? Melalui karya saudara Nur Hidayat Muhammad dalam bentuk bukunya yang berjudul “Meluruskan Doktrin MTA; Kritik Atas Dakwah Majelis Tafsir Al Qur’an di Solo” banyak hal diungkapkan mengenai segala jeroan MTA, yang darinya dapat diambil sebuah pelajaran penting hingga nantinya bisa mengenali secara kaffah MTA dengan segala gerak-tingkah dan dakwahnya yang berpusat di Solo (Surakarta) ini.

Sejak awal pendirian, MTA sudah diindikasi sebagai sebuah organisasi yang tidak “dikehendaki” kelahirannya oleh masyarakat. Dalam situs resminya, MTA mengakui demikian. MTA tidak dikehendaki menjadi ormas/orpol tersendiri di tengah-tengah ormas-ormas dan orpol-orpol Islam lain yang telah ada, dan tidak dikehendaki pula menjadi onderbouw ormas-ormas atau orpol-orpol lain. Untuk memenuhi keinginan ini, bentuk badan hukum yang dipilih adalah yayasan. Pada tanggal 23 Januari tahun 1974, MTA resmi menjadi yayasan dengan akta notaris R. Soegondo Notodiroerjo. (http://www.mta-online.com/sekilas-profil/)

Meski dikenal sebagai sebuah yayasan, dalam pergerakannya ia tidak lazimnya sebuah yayasan. MTA sebagai yayasan mempunyai hidden mission, yakni misi dakwah dan pendoktrinan sebuah ajaran. Kalau boleh disinggung, sedikitnya ada tiga point penting yang perlu dicermati dari ekstrimitas gerakan dakwah dalam ajaran MTA ini. Antara lain, konsep jama’ah MTA, bangunan aqidah MTA, dan manhaj atau metode berpikir MTA.

Pertama, konsep jama’ah yang diyakini MTA ialah memakai sistem Imam yang dibai’at, dita’ati dan dijadikan sebagai panutan seluruh anggota MTA. Lebih ekstrim, jika ada anggota yang keluar dari MTA, tiada lain “hadiahnya” adalah diboikot. Kedua, dalam masalah aqidah, MTA mengingkari syafa’at di akhirat; mengimani kalau orang Islam masuk neraka, maka akan selamanya di neraka tanpa sedikitpun mencicipi surga, sebagaimana pemahaman kelompok Khawarij dan Mu’tazilah; dan mengingkari kesurupan jin dan mengingkari santet.

Begitupun manhaj yang dipedomani MTA, corak berpikir MTA dalam memahami dan mengambil sebuah hukum, porsi akal menduduki peran yang signifikan, bahkan tidak sedikit mereka mengesampingkan hadits-hadits shahih jika ada kontradiksi dengan al-Qur’an. Corak berifikir yang senantiasa mengunggulkan akal semacam ini, tentu akan beriring-kelindan dengan produk-produk ajarannya. Baik dari segi akidah, pemikiran, hukum (fiqih), tradisi-tradisi yang dijalankan, hingga pada lingkup yang lebih luas lagi. Satu misal dalam corak pemikiran MTA, mereka tidak lagi mengakui kredibilitas Ulama’ dan produk-produk ijtihadnya. Justru mereka memposisikan para Ulama’ sebagai kaum Ortodoks (kolot) yang tidak perlu diikuti, karena hanya al-Qur’an dan as-Sunnah saja yang benar menurut mereka.

Di samping pola gerakan MTA yang tergolong ekstrim, MTA juga boleh dikata memasuki wilayah kerancuan, ketidakjelasan dan tidak konsisten dalam berpendapat dan memutuskan sebuah hukum. Tahlil dan shalawat oleh MTA dinilai sesat karena tidak berdasarkan tuntunan Nabi, begitu pun yasinan dan selamatan, dituding sebagai amalan syirik yang tidak pernah sekalipun Nabi ajarkan. Meskipun demikian berani MTA menusuk ke organ-organ amaliah warga Nahdliyyin, disayangkan MTA tidak cukup berani untuk mendialogkan (baca: mempertanggungjawabkan) hasil dari “Ngaji Al-Qur’an Sak Maknane” tersebut di depan masyarakat luas. Wa’allahu ‘alam!

* Peresensi adalah staff di Aswaja NU Center PW NU Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

GP Ansor Bali Gelar Apel Kebangsaan Akhir Pekan

Buleleng, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali memastikan akan menggelar Apel Kebangsaan pada Ahad (14/5) mendatang. Pelaksanaan apel ini dipastikan setelah pengurus harian GP Ansor Bali melakukan audiensi ke Mapolda Bali, Senin (8/5).

Pengurus GP Ansor Bali langsung diterima oleh Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose. Dalam pertemuan ini Kapolda Bali menyetujui agenda pengumpulan kader Ansor Banser seluruh Bali yang akan dilaksanakan di Lapangan Lumintang Denpasar.

GP Ansor Bali Gelar Apel Kebangsaan Akhir Pekan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bali Gelar Apel Kebangsaan Akhir Pekan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bali Gelar Apel Kebangsaan Akhir Pekan

Ketua GP Ansor Bali Amron Sudarmanto mengatakan, apel kebangsaan ini sudah melalui prosedur pemberitahuan kepada kepolisian. Bahkan, sebagaimana hasil audiensi, Polda Bali akan memerintahkan Polres di kabupaten-kabupaten yang jauh dari Denpasar untuk membantu kendaraan pengangkut anggota Banser menuju Denpasar.

"Oleh karenanya, kami berharap ketua-ketua cabang GP Ansor berkoordinasi dengan pihak Polres terkait teknis pemberangkatannya," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang tak kalah pentingnya, lanjut Amron, pengurus harian cabang GP Ansor harus sudah mendata kader Ansor atau Banser yang ada di wilayahnya masing-masing dalam keikutsertaanya pada apel di Denpasar nanti.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk kepesertaan apel, Amron menargetkan 1000 kader Ansor Banser seluruh Bali, ditambah dengan delegasi banom-banom NU lainnya baik di tingkat wilayah maupun cabang. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 21 Oktober 2017

Jokowi: Syekh Nawawi Ulama Indonesia yang Dihormati Dunia

Serang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Presiden Joko Widodo turut menghadiri peringatan Haul ke-124 Syekh Nawawi Al-Bantani, Jumat (21/7) malam di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Kabupaten Serang, Banten. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Syekh Nawawi salah satu ulama Nusantara yang keilmuannya diakui dunia.

Jokowi: Syekh Nawawi Ulama Indonesia yang Dihormati Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Syekh Nawawi Ulama Indonesia yang Dihormati Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Syekh Nawawi Ulama Indonesia yang Dihormati Dunia

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengungkapkan kebahagiaannya bisa menghadiri Haul Syekh Nawawi. "Syekh Nawawi adalah ulama indonesia yang dihormati oleh dunia. Bahkan, beliau satu-satunya ulama yang dimakamkan disamping makam istri Rasulullah," ujarnya.

Jokowi juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Dalam berbagai pertemuan dengan sejumlah kepala negara di dunia, ia mengaku selalu menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai 714 suku, 17 ribu pulau, dengan ratusan bahasa tapi bisa menyatu.?

Menurutnya, inilah kekayaan Indonesia yang tak dimiliki negara lain. Hal ini harus dirawat bersama. Keberagaman ini merupakan fitrah dan anugerah Allah yang harus dijaga, jangan dipertentangkan, jangan dibuat bergesekan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Presiden juga mengaku, dalam berbagai konferensi di dunia, ia kerap menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.?

"Kita memiliki hampir 220 juta penduduk Indonesia beragama Islam. Ini akan saya sampaikan terus agar dunia tahu, bahwa Indonesia adalah negara besar dengan penduduk Muslim terbesar," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Presiden juga berharap, umat Islam Indonesia bisa meneladani perjuangan dan keulamaan Syekh Nawawi yang mampu membangkitkan Indonesia melalui jalur pendidikan ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sementara Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin menyampaikan penghargaan atas kehadiran Presiden RI dan tamu undangan lainnya.?

"Kita bersyukur punya Presiden yang mencintai Ulama. Sehingga Presiden keliling terus ke pesantren-pesantren," ujar Kiai Maruf dalam sambutannya.

Syekh Nawawi menurut cicitnya itu, merupakan Ulama Nusantara yang lahir di Tanara, Kabupaten Serang, Banten, yang karya-karyanya mendunia.?

"Sampai saat ini kitab-kitab beliau dikaji di berbagai pesantren dan universitas di berbagai negara di Dunia," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Setiap kali menjelang bulan Ramadan tiba, umat Islam di kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan sekitarnya menyambutnya dengan suka cita. Momentum kehadiran bulan Ramadan menjadi sesuatu yang istimewa, sebab terdapat tradisi Dandangan sebagai penanda masuknya bulan Ramadan. Tradisi ini sudah turun temurun atas warisan dari Sayyid Ja’far Sodiq atau yang sering dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Tradisi Dandangan sudah berlangsung ratusan tahun. Dahulu, tradisi ini bermula pada saat masyarakat mendatangi masjid Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman dari sesepuh masjid mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa Ramadan. Pengumuman diawali dengan permulaan menabuh beduk yang diterpasang Menara, lalu beduk tersebut kedengarannya menimbulkan suara “dhang…dhang..dhang”. Bunyi beduk itulah yang memunculkan kata dhandhang, sehingga kebiasaan tersebut dikenal dengan tradisi Dandangan.

Zaman terus berkembang, kini tradisi Dandangan tidak hanya sebatas menunggu beduk Menara Kudus ditabuhkan menjelang bulan Ramadan. Namun sudah menjelma menjadi tradisi atau dengan istilah lain yakni event yang tidak hanya dimiliki oleh masyarakat muslim saja, tetapi masyarakat non-muslim juga menyambutnya dengan suka cita.

Membawa Berkah

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Jika dahulunya masyarakat hadir ke Masjid Menara pada akhir Sya’ban menjelang awal Ramadan untuk menantikan pengumuman awal puasa. Kini, tradisi Dandangan bermetamorfosis menjadi tradisi yang besar dan meriah. Termasuk kemeriahannya membawa berkah kepada masyarakat luas. Selama tiga pekan menjelang ramadan, jalanan di sekitar kompleks masjid Menara dan makan Sunan Kudus, tumpah dibanjiri oleh para pedagang yang menjajakan segala macam barang dagangan, mulai dari makanan, pakaian, mainan anak-anak, aksesori, hingga kebutuhan sehari-hari.

Selain menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang hendak berziarah ke makam Sunan Kudus, tetapi juga masyarakat yang hanya sebatas ingin menikmati kemegahan bangunan Menara. Menara masjid pertama di pulau Jawa ini dibangun oleh Sunan Kudus begitu megah dan menarik karena bangunannya mirip dengan Pura tempat beribadah orang Hindu. Bukan tanpa maksud Sunan Kudus membangun seperti itu, sebab beliau berdakwah di daerah Kudus yang pada saat itu mayoritas masih beragaman Hindu. Strategi Sunan Kudus melakukan pendekatan akulturasi budaya, seperti Menara tersebut yang bercirikan Islam dan Hindu. Tidak heran jika Menara Kudus mendapat predikat sebagai simbol toleransi.

Momentum Kerukunan Masyarakat

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semaraknya tradisi Dandangan tidak hanya disambut hangat oleh masyarakat muslim, tetapi termasuk juga masyarakat non-muslim. Tidak sedikit dari masyarakat non-muslim yang ikut menjajakan dagangannya atau hanya sebatas datang untuk melihat Menara Kudus dari dekat.

Bebarapa tahun terakhir, Pemda kabupaten Kudus rutin mengadakan kirab budaya sebagai penanda resmi dibukanya tradisi Dandangan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kirab tersebut ditampilkan kesenian, kebudayaan dan hasil Bumi dari masyarakat Kudus. Tidak heran jika tradisi Dandangan sudah hajat Pemda Kudus, karena momentum yang tepat untuk menyatukan masyarakat Kudus tanpa membeda-bedakan agama.

Tradisi Dandangan akan terus berjalan apabila masyarakat berkenan untuk terus melestarikannya. Tidak hanya sebatas melestarikan, tetapi juga harus memahami subtansi dari tradisi tersebit. Karena inti dari tradisi Dandangan, bagi masyarakat muslim adalah menyongsong sekaligus mengingatkan untuk mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin dalam melaksanakan peribadatan di bulan suci Ramadan.

Muhammad Zidni Nafi’, jurnalis Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung, asal Kudus

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Syariah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah