Selasa, 30 September 2014

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Paul Grigson di Jakarta, Jumat (11/9) sore. Kedua pihak ini membahas kelanjutan kerja sama yang sudah terbangun khususnya di bidang pendidikan dan pencegahan hingga penanggulangan gerakan ekstrem.

Pada pertemuan ini Paul menyatakan apresiasinya atas sikap moderat NU dan kampanye intensif deradikalisasi agama satu dekade terakhir. Ia menilai upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme agama tidak boleh berhenti.

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

“Kita membincang upaya mengatasi radikalisme agama,” kata Ketua PBNU H Marsudi Syuhud di Jakarta, Jumat (11/9) sore.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Paul melaporkan bahwa gejala radikalisme mulai muncul di Australia belakangan justru didominasi dari kalangan warga biasa. Radikalisme di Australia, digerakkan oleh keluarga biasa yang tidak memakai atribut Muslim dalam kesehariannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka meminta bantuan NU untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok radikal,” lanjut Marsudi.

Sementara di bidang pendidikan, kedua pihak akan terus melakukan pertukaran mahasiswa dan penyediaan beasiswa.

Paul Grigson merupakan Dubes Australia untuk Indonesia yang baru dilantik dua bulan lalu. Segera setalah pelantikan dahulu, Paul pernah mengadakan kunjungan ke PBNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 16 September 2014

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh Matroni Musèrang

--Kebudayaan selalu ada dalam kehidupan manusia, ia seperti angin yang keluar masuk dalam tubuh manusia. Dimana pun ada kehidupan, disitulah kebudayaan ada. Begitupun dengan puasa. Puasa merupakan bagian dari kebudayaan umat manusia. Ketika kita melakukan puasa, jangan menganggap agama kita paling benar. Sebab puasa bukan milik pribadi, akan tetapi puasa milik umat manusia, untuk itulah puasa menjadi sarana untuk lebih memanusiakan manusia, inilah yang saya sebut sebagai mi’raj sosial.

Mi’raj sosial artinya seseorang mampu melakukan perintah agama lalu mengaplikasikannya ke ruang publik, contoh, kita tidak lagi membeda-bedakan agama, ras, suku dan budaya, oleh karena itulah dalam mi’raj sosial, sesama manusia kita sama di hadapan kemanusiaan.

Puasa saya maknai sebagai perjalanan rohani untuk mi’raj yaitu mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas (spiritual), dari hati yang keras menuju perkampungan hijau yang bernama kesejukan dan kedamaian. Dua kampung ini kini telah di bakar oleh egoisme pragmatis-kapitalis, untuk itu saya ingin menjadi tuhan untuk “menghidupkan kembali” kampung kesejukan dan kedamaian. Dengan puasa sebagai ibu yang melahirkan kesejukan dan kedamaian. Mengapa puasa? Puasa dilakukan seseorang ketika ingin mendamaikan hati dan pikirannya dan puasa dilakukan oleh semua agama di dunia.   

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh sebab itu, Mi’raj sosial penting kita lakukan untuk mencapai derajat yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan. Sebab Tuhan menciptakan makhluk dengan tujuan untuk saling mengenal. Saling mengenal artinya kita diperintah Tuhan untuk selalu membaca, agar kita mengenal. Bagaimana mungkin kita akan kenal jika kita tidak melihat dan membaca?

Mi’raj sosial ini benar-benar penting di tengah maraknya masyarakat yang tidak lagi menghargai kemanusiaan. Maraknya masyarakat yang suka tawuran, suka membunuh, egois, suka saling sikat-sikut, suka mencela sesama manusia. Maka berlomba-lomba dalam ber-mi’raj sosial sangat penting untuk menjaga dan menghormati kemanusiaan. Apalagi lagi gencar-gencarnya tuduh-menuduh di antara para relawan kandidat presiden Indonesia, ada yang memfitnah, ada yang akan menghancurkan agama, PKI, Yahudi, Kristen, dan lain sebagainya.

Maka betapa sangat pentingnya kita menyadari bahwa mi’raj sosial sangat mendesak untuk kita lakukan sebagai terapi bagi manusia yang kurang menghargai manusia dan agama. Apakah dalam sebuah kompetisi kita harus memfitnah dan meracuni pikiran-hati kemanusiaan dan agama dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus bersih-bersih di taman mi’raj (mi’raj sosial dan religiusitas), agar apa yang menjadi tanggungjawab kita benar-benar berjalan sesuai dengan hati nurani kemanusiaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemanusiaan lebih dulu diwahyukan oleh Tuhan sebelum wahyu-wahyu lain diturunkan, ini artinya betapa sangat dan amat pentingnya sisi kemanusiaan daripada agama. Agama lahir karena adanya manusia, maka untuk mengetahui makna agama, harus terlebih dahulu mengetahui makna kemanusiaan. Agama seluruh dunia menegaskan sebagaimana dikatakan Karen Armstrong bahwa spiritualitas yang sejati harus diespresikan secara konsisten dalam tindakan berbagai kasih, kemampuan untuk merasakan bersama orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Iqra’ yang pertama kali turun sebelum syarat rukun agama merupakan bukti nyata bahwa Tuhan lebih mementingkan kemanusiaan (makhluk) daripada agama. Agama diturunkan jaman jahiliyyah untuk mengatur sisi kemanusiaan yang tidak menghargai manusia yang lain, maka jika hari ini ada manusia/tokoh/ulama/pemimpin yang tidak menghargai manusia, berarti sosok itu adalah manusia jahiliyyah. Sosok manusia yang memiliki akal yang tidak digunakan untuk berpikir, memiliki hati yang tidak digunakan untuk refleksi, memiliki indera yang tidak digunakan untuk melihat umat manusia.

Mi’raj religiusitas menjadi penting untuk dijadikan tempat bagi manusia untuk memanusiaan manusia, moment puasa merupakan cara untuk masuk ke perkampungan religiusitas. Religiusitas dalam ini adalah bersadarnya manusia dalam memperjuangkan masyarakat untuk lebih cerdas dan memiliki cakrawala yang luas dalam menjalani tugas sosial dan tugas agama.

Tugas agama memang berat dan keras. Perkampungan agama tidak tumbuh dengan sendirinya kata Karen, akan tetapi agama harus di bina dalam cara yang sama seperti halnya apresiasi seni, musik, dan puisi yang harus ditumbuhkan. Tugas agama kata Karen lagi sangat mirip dengan seni, yakni membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan.

Perjalanan sosial dan agama harus saling bergandeng tangan dalam menciptakan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas. Cita-cita inilah yang sebenarnya yang ingin kita capai dengan melakukan puasa. Cita-cita kemanusiaan yang damai, inklusif dan memberi rahmat alam semesta. Hanya di tangan manusia yang mi’raj kedamaian alam semesta ada. Puasa sebagai jembatan untuk sampai pada perkampungan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas.     

Masyarakat Reflektif

Dengan demikian, untuk menjaga mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas dibutuhkan refleksi yang baik dari kita sendiri. Refleksi ini lahir pembacaan dan nalar yang baik. Refleksi ini lahir juga dari masyarakat yang sadar, menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sebatas saling fitnah, saling sikat-sikut, tapi ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu bagaimana menciptakan masyarakat yang cerdas untuk mencapai masyarakat yang damai, makmur dan masyarakat tanpa kelas.

Masyarakat reflektif adalah masyarakat yang memiliki cita-cita untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (mi’raj sosial), masyarakat yang selalu ingin belajar, membaca dan berpikir tentang semesta dan masyarakat yang memiliki mental komitmen yang baik (mi’raj religiusitas). Masyarakat reflektif inilah yang diidealkan hari ini. Masyarakat yang akan menghargai usaha orang lain, menghargai karya orang lain, menghargai pemikiran orang lain, menghargai keberagaman dan menghargai keberagamaan.

Ketika masyarakat reflektif terealisasikan, kita akan melihat masyarakat yang saling hidup damai, berdampingan, saling tolong-menolong, dan secara otomatis bangsa dan negara akan makmur.

 

Matroni Musèrang, alumnus pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan peneliti sosial, agama dan kebudayaan Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 September 2014

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Beberapa hari terakhir ini, pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Pamekasan mengunjungi para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mereka melakukan silaturahmi guna pemantapan semangat berorganisasi.

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Ketua PC IPNU Pamekasan Faisol Ansori, Sabtu (8/1), menegaskan, silaturahmi ke MWCNU tersebut dirasa penting karena bagaimanapun IPNU merupakan bagian dari organisasi NU. Di samping, hal itu juga sebagai wujud penghormatan kepada para senior dan sesepuh NU.

"Kami mendapat sambutan positif dari para pengurus dan kiai yang aktif di MWCNU. Kami diberi wejangan bagaimana berorganisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah," terang mantan Ketua PAC IPNU Kadur, Pamekasan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus MWCNU yang didatangi meliputi mereka yang aktif di Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pagantenan, Kecamatan Proppo, dan lain sebagainya. Pasalnya, selain tujuan di atas, upaya tersebut dilakukan guna menyolidkan spirit mengabdi para pengurus PC IPNU Pamekasan.

"Alhamdulillah, silaturrahmi tersebut berlangsung lancar. Selanjutnya, nanti kami akan merapatkan barisan kembali berbekal ragam tausiyah dari para pengurus MWCNU yang tersebar di Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 03 September 2014

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M

Buku berjudul Travels in Arabia karangan John Ludwig Burckhardt terbit di London tahun 1829. Buku ini merekam catatan yang kaya akan data dan informasi terkait komunitas orang-orang Nusantara di tanah suci Mekkah-Madinah pada masa awal abad ke-19 M.

Burckhardt (1784—1817) adalah seorang orientalis Inggris asal Swiss yang berhasil menyusup masuk ke tanah suci Mekkah-Madinah (Haramayn) setelah terlebih dahulu melakukan penyamaran yang sukses; mengganti nama menjadi Haji Ibrahim ibn Abdullah, beridentitas seorang Muslim dari Albania, mengenakan pakaian khas Timur Tengah dengan jubah, surban, dan janggut yang menjuntai, dan utamanya kecakapan dalam menguasai bahasa Arab yang nyaris sempurna.

Sebelum mengembarai Hijaz (Haramayn), Burckhardt telah lebih dahulu menjelajahi negeri-negeri Timur Tengah lainnya yang pada masa itu berada di bawah kontrol kekuasaan Turki-Ottoman, seperti Aleppo, Suriah, Jerusalem, Petra (Burckhardt-lah yang dicatat oleh sejarah sebagai sosok yang menemukan kembali kota puba di tengah gugusan tebing sahara ini), Sinai, Mesir, Nubia, dan Sudan. Ia pun menuliskan pengalaman pengembaraannya itu dalam buku catatan perjalanan yang luar biasa; Travels in Syria and the Holy Land, kemudian Travels in Nubia, dan Arabic Proverbs, or the Manners and Customs of the Modern Egyptians.

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)
John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M





Burckhardt berada di Haramayn pada tahun 1814 M. Ia pun merekam beberapa peristiwa penting yang terjadi di Haramayn pada waktu itu, seperti peristiwa pemberontakan golongan Wahabi yang membangkang terhadap pemerintahan Turki-Ottoman, penumpasan atas gerakan tersebut yang dilakukan oleh Ibrahim Pasha dan pasukannya, putera Muhammad Ali Pasha yang merupakan seorang veli (gubernur) Turki-Ottoman untuk elayet (wilayah) Mesir. Atas peristiwa ini, Burckhardt menulis Notes on the Bedouins and Wahabys.

Setelah selesai melaksanakan “faraidh” ibadah haji, Burckhardt pun ikut serta bersama arak-arakan besar kafilah lainnya menuju Madinah guna menziarahi pesarean dan masjid Nabi Muhammad. Nah, saat itulah Burckhardt bergabung bersama rombongan kecil jemaah haji asal Melayu-Nusantara di dalam arak-arakan kafilah besar itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jarak yang jauh antara Mekkah dan Madinah (sekitar 490 KM) ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta. Tak ada yang berjalan sendiri atau dalam rombongan kecil. Semua Jemaah berangkat secara serentak bersama arak-arakan besar kafilah perjalanan yang jumlahnya bisa ratusan orang. Hal ini untuk meringankan beban perjalanan yang penuh resiko dan bahaya, utamanya ancaman para penyamun dan perompak bengis orang-orang Beduin yang datang kapan saja.

Burckhardt menulis:

“Hari ini aku telah menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab dengan teman-teman seperjalananku. Dalam sebuah kafilah perjalanan yang kecil, setiap orang dipaksa untuk dapat berjalan beriringan bersama rombongannya, tidak terpisah darinya. Para rombongan itu adalah orang-orang Melayu, atau sebagaimana disebut di Arab sini dengan sebutan Jawi”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain mereka yang berasal dari pesisir Semenanjung (Malaka), mereka juga ada yang berasal dari Sumatra, Jawa, dan pesisir Malabar. Semuanya adalah (jajahan) Inggris. Orang-orang Melayu pergi rutin berhaji dengan ditemani istri mereka. Sebagian besar mereka ada yang memilih tinggal di Mekkah Mukarramah dalam tempo beberapa tahun lamanya untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syari’at.

Orang-orang Jawi ini di Haramayn terkenal sebagai orang-orang yang taat beragama, disiplin dalam menuntut ilmu, atau minimal disiplin dalam menjalankan ritual agama Islam mereka. Sedikit dari mereka yang mampu berbicara bahasa Arab dengan sempurna, namun semua dari mereka membaca Al-Qur’an, dan sangat bersemangat untuk mempelajarinya meskipun dalam perjalanan.

Mereka menutupi biaya perjalanan dengan menjual kayu (al-Alûh Haits?) yang berkualitas tinggi dan dibawa dari negeri mereka, kerap juga disebut (Mâwardî). Harga satu pound timbangannya adalah tiga sampai empat dolar di negeri asal mereka, dan dijual di Mekkah dengan harga dua puluh sampai dua puluh lima dolar.

Baju mereka yang longgar, rahang mereka yang menonjol, perawakan mereka yang pendek dan kekar, dan gigi mereka yang bertumpuk menjadi ciri khas tersendiri bagi pengidentitasan tipikal orang-orang Jawi. Para perempuan Melayu memakai baju kurung, namun tidak semuannya memakai khimar, juga selendang dari kain sutera yang tersulam, buatan Cina.

Tampaknya mereka adalah bangsa yang memiliki adat yang kukuh, berimbang, berkarakter tenang, namun terkadang juga pelit.? Sepanjang perjalanan mereka makan nasi dan ikan asin. Mereka menanak nasi dengan air tanpa diberi tambahan zibdah (minyak samin). Zibdah adalah bahan pakan yang sangat mahal harganya di Haramayn namun mereka sangat menyukainya. Sebagian orang Jawi ada yang datang ke pelayanku meminta zibdah untuk ditambahkan ke periuk nasi mereka. Meskipun mereka memiliki cukup uang, namun pola makan mereka biasa saja (yaitu nasi dan ikan asin).

Namun, mereka pernah terkena laknat para gerombolan pencuri padang pasir. Para pencuri itu menjarah peralatan masak orang-orang Jawi itu; periuk nasi yang sedang dimasak oleh air, nampan mereka berbahan tembaga buatan Cina, dan teko air mereka tidak seperti yang kerap digunakan orang-orang Timur lainnya (biasa untuk mencuci dan wudhu), tetapi orang-orang Jawi ini membawa teko teh Cina yang mahal.

Di sela-sela kebersamaanku dengan orang-orang Melayu itu, aku menjadi memiliki kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka akan pemerintahan kolonial Inggris di negeri mereka. Yang mengejutkan, ternyata mereka menyatakan kebencian dan permusuhan mereka terhadap pihak Inggris. Mereka juga mensumpah serapahi perilaku orang-orang Inggris dan melaknatnya sampai habis. Hal terburuk yang paling tidak disukai mereka (orang-orang Jawi) dari orang-orang Inggris adalah kebiasaan mabuk-mabukan. Lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Meski demikian, orang-orang Melayu ini jarang yang mengkritik masalah keadilan pemerintahan kolonial Inggris. Pihak Inggris justru lebih baik jika dibanding dengan kesewenang-wenangan penguasa lokal orang-orang Melayu (bupati, dll). Jadi, meskipun orang-orang Melayu ini menyerapahi pihak Inggris dengan berbagai sumpah serapah dan laknat durjana, namun mereka juga memberikan pujian kepadanya dengan mengatakan “tapi pemerintahan mereka bagus”. Burckhardt menyebut semua kawasan Nusantara pada masa itu berada di bawah kontrol pemerintahan Inggris, bertepatan dengan masa pemerintahan Gubernur Letnan Sir Thomas Raffles (memerintah 1811—1816).

Di masa yang bersamaan, yaitu perempat pertama abad ke-19 M, saat itu terdapat beberapa ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Mahmud ibn Arsyad al-Banjari (putera Syaikh Arsyad Banjar), Fathimah binti Abd al-Shamad al-Palimbani (puteri Syaikh ‘Abd al-Shamad Palembang), Shalih Rawah, Ismail al-Mankabawi al-Khalidi (Minangkabau), ‘Abd al-Ghani al-Bimawi (Bima, Sumbawa), dan lain-lain.

Kairo, Ramadhan 1437 H





A. Ginanjar Sya’ban

Redaktur Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah tinggal di Kairo Mesir

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Kyai, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Agustus 2014

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kenakalan remaja belakangan ini semakin merebak. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kejahatan seksual ? dan sebagainya menjadi ? indikasi nyata bahwa kenakalan remaja sudah berada di titik yang mengkhawatirkan. Itulah sebabnya, para orang tua dihimbau agar melakukan pengawasan yang maksimal terhadap tindak-tanduk dan perilaku anak-anaknya.?

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat

Himbauan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch, Eksan saat berceramah dalam acara pengajian umum di Desa Daruangan, Kec. Tanggul, Jember, Jawa Timur, Senin (23/5). Menurut Ustadz Eksan, selain pengawaasan, orang tua juga wajib memberikan pendidikan yang optimal bagi sang anak.?

“Tangung jawab pendidikan anak itu ada di pundak orang tua. Bagaimanapun caranya, si anak harus mendapatkan pendidikan yang baik dan maksimal,” tukasnya di hadapan ratusan hadirin.

Mantan aktivis IPNU Jember tersebut menambahkan, dewasa ini tugas mendidik anak semakin berat. Sebab, lingkungan pergaulan dan sosial kian penuh dengan tantangan yang anehnya jusrru menjadi tren kecenderungan perilaku remaja. Misalnya pergaulan bebas, narkoba, kejahatan seksual dan sebagainya. Oleh karena itu, fungsi keluarga harus dikuatkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam hal ini, orang tua harus mampu mewujudkan rumah tangga yang teduh, menjadi tempat bernaung anak-anak dari berbagai persoalan yang melanda. Jadi orang tua jangan hanya sibuk mencari nafkah, tapi juga wajib memperhatikan masa depan anak-anaknya. Rumah tangga adalah benteng terakhir dari pertahanan anak-anak,” ucapnya.

Di bagian lain, ustadz Eksan mengaku miris dengan ? kejadian-kajadian yang melibatkan remaja, bahkan anak-anak sebagai pelakunya. Menurutnya, arus global yang membawa perubahan ? budaya, mempunyai kontribusi yang besar ? dalam membentuk dan menciptakan pergaulan yang amburadul.?

“Karena itu, supaya gak repot-repot, lebih aman memilih pesantren sebagai tempat menitipkan anak sekaligus mencari ilmu,” jelasnya (Aryudi AR/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 Agustus 2014

Ketika Umat Kecewakan Nabi Muhammad

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Selain karena faktor iklim dan cuaca yang ekstrem, ada faktor lain yang luput soal penyebab maraknya bencana alam di beberapa daerah Indonesia. Faktor tersebut adalah karena umat Islam mengecewakan Nabi Muhammad SAW.

Ketika Umat Kecewakan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Umat Kecewakan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Umat Kecewakan Nabi Muhammad

Demikian pendapat KH Maman Imanulhaq yang disampaikan pada taushiyah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang digelar warga Dusun Caracas 2, Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat Selasa (21/1) malam.

"Alam ini tercipta karena adanya Nur Muhammad, laulaka laulaka maa khalaqtu aflak. Kalau bukan karena engkau Muhammad, Aku tidak akan menciptakan alam ini," begitu argumentasi Kiai Maman dengan mengutip Hadits Qudsi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai yang akrab disapa Kang Maman itu menambahkan, saat ini umat Islam sudah sering mengecewakan Nabi Muhammad dengan cara meninggalkan ajarannya.

Ketika Nabi Muhammad kecewa, lanjut Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu, langit menawarkan diri kepada Nabi Muhammad untuk memberikan peringatan kepada manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Langit menawarkan diri, saya siap menyadarkan manusia, akhirnya banjir ada dimana-mana" tambahnya

Selain langit, Kiai Maman  menambahkan, gunung dan bumi pun melakukan hal yang sama seperti halnya langit, akhirnya gunung meletus, tanah longsor dan ombak sampai 3 meter.

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan hadirin itu, Kiai Maman mengajak kepada  masyarakat untuk dapat istiqamah dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, serta rajin membaca shalawat sebagai bentuk ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw agar kelak bisa mendapatkan syafaatnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 11 Agustus 2014

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Aceh, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ulama besar asal Pattani, Thailand, Tuan Guru Haji Ismail bin Umar akan berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Batee Iliek, Aceh. Kunjungan ke Batee Iliek dijadwalkan pada Sabtu (28/5) pagi setelah sebelumnya berkunjung ke beberapa dayah (pesantren) seperti Dayah Darul Muarrif, Dayah Ulee Titi, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Babussalam Blang Blahdeh, dan juga Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga.

Baba Ismail, demikian ia disapa, akan menyampaikan tausiah di depan santri dan dewan guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah sekitar pukul 08.00 Wib di Mushalla Teungku Ahmad Syarif. Selain dalam rangka dakwah, kunjungan pengarang beberapa kitab seperti Mizan ad-Durari, Hikam Jawi, dan Mawaiz al-Iman ini merupakan salah satu bentuk keseriusan para ulama di Pattani dalam memperkokoh hubungan silaturahmi dengan ulama Aceh yang sebelumnya telah berkunjung ke Pattani, termasuk pimpinan Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Dr Tgk Muntasir A. Kadir.

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Selain Baba Ismail, beberapa ulama dari luar yang berkunjung ke dayah yang berlokasi di Komplek Makam Syuhada Tgk Chik Kuta Gle ini, seperti Syeikh Abdurrahman bin Umar Al-Ahdhal dari Yaman, Mufti Damaskus Syekh Adnan Al-Afyouni, Syekh Mahmud Syahadah dan Syekh Omar Dib yang ketiganya berasal dari Suriah, dan juga beberapa ulama lainnya dari dalam dan luar negeri.

Banyaknya ulama yang berkunjung ke dayah salah satunya disebabkan nama besar pendirinya, Abu Mudi yang memang telah mempersiapkan 18 hektar lahan di tempat ini sebagai cikal bakal lahirnya Universitas Al-Aziziyah. (Muhammad Iqbal Jalil/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah