Kamis, 29 September 2005

Santri Berbondong Shalatkan Jenazah KH Zainal Abidin Munawwir

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mendengar kiainya wafat pada hari Sabtu (15/2) ba’da magrib, para santri Krapyak dan sekitarnya khususnya yang berdomisili di Yogyakarta berbondong-bondong untuk datang melaksanakan shalat jenazah.

Komplek Pesantren Krapyak, dipenuhi para santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan shalat jenazah untuk KH. Zainal Abidin Munawwir. Shalat jenazah dilaksanakan mulai sekitar pukul 20:30 WIB.

Santri Berbondong Shalatkan Jenazah KH Zainal Abidin Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Berbondong Shalatkan Jenazah KH Zainal Abidin Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Berbondong Shalatkan Jenazah KH Zainal Abidin Munawwir

Seraya ditemani dengan bacaan Surat Al-Ikhlas, para santri silih berganti memasuki ndalem untuk melaksanakan shalat jenazah. Petugas yang mengatur jalannya shalat jenazah pun kewalahan, karena saking banyaknya santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan shalat jenazah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengantisipasi antrian panjang para santri yang ingin shalat jenazah, tepat pada jam 22:00 WIB, jasad KH. Zainal Abidin Munawwir dipindahkan ke Masjid Pesantren Krapyak. Usai dipindahkan ke masjid, para santri yang belum melaksanakan shalat jenazah, kini dapat menjalankannya dengan jumlah jamaah yang lebih banyak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH. Zainal Abidin Munawwir merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya, Amien… (Nur Sholikhin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 Juli 2005

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam kembali memberikan penghargaan kepada para pionir, teladan, dan tokoh-tokoh yang peduli dan berdedikasi dalam pengembangan pendidikan Islam. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 di Jakarta, Jumat (11/12) malam.

API 2015 merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Kementerian Agama kepada insan pendidikan Islam yang telah berprestasi, berdedikasi, dan peduli dengan pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. ?

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

“Apresiasi ini diberikan kepada ? putera puteri bangsa dalam berbagai kategori, yang menunjukkan bahwa madrasah, sekolah, perguruan tinggi dan pesantren kita berhasil mengembangkan kognisi, afeksi dan psikomotoriknya serta karakter secara optimal,” kata Menag Lukman seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Apresiasi ? Pendidikan Islam juga dianugerahkan kepada para kepala madrasah, pengawas, guru/ustad, dan dosen di mana mereka telah berkarya dan mengabdikan dirinya dengan penuh totalitas.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Juga ? dianugerahkan kepada Bupati dan Walikota ? yang telah memberikan atensi pada pengembangan Pendidikan Islam,” tegas Menag.

Dikatakan Menag , Pemerintah memberikan apresiasi ? pendidikan ini, sebagai ekspresi kesyukuran dan pengakuan, bahwa kita memiliki banyak putera-puteri terbaik bangsa yang peduli dan mewakafkan dirinya untuk pendidikan Islam, agar terus maju dan berkembang di seluruh pelosok tanah air.?

“Peristiwa ? saat ini merupakan momen ? istimewa bagi saya dan keluarga besar Kementerian Agama. Suatu kebanggaan bagi kita semua dapat berkumpul dengan para pionir dan inspirator pendidikan Islam dari seluruh Indonesia,” katanya.

Pendidikan Islam menurut Menag, sejak beberapa dekade terakhir semakin menampakkan identitas yang khas, modern, dan berdaya saing. Fenomena ini tidak sekedar sebagai respon terhadap dunia yang terus berubah, tetapi sekaligus sebagai refleksi kebangkitan dunia pendidikan Islam sebagai salah satu pilar terdepan peradapan bangsa.

“Kita tidak akan membiarkan bangsa yang besar ini kalah bersaing dengan bangsa –bangsa lain karena kelemahan sumber daya manusiannya. Kita semua menginginkan pendidikan islam tetap menjadi tuan rumah dinegeri sendiri,” ucapnya.

“Karena alasan itulah, maka pemerintah memperioritaskan pembangunan bidang pendidikan, Kementerian Agama bahkan telah mengalokasikan anggaran lebih dari 85 persen untuk pendidikan agama dan keagamaan,” tambahnya.

Tampak hadir dalam acara Apresiasi Pendidikan Islam, Sekjen Kementerian Agama Nur Syam, Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin, para pejabat eselon II baik pusat maupun daerah, serta ? para penerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 08 Maret 2005

Kiai Imam Sarang dan Ikan Bandeng

Ini cerita mutawatir, banyak orang yang meriwayatkannya. Oleh karena itu, kesahihannya tidak diragukan lagi, dan saya telah mengonfirkasi saksi utamanya, yakni yang punya cerita: KH Zubaduz Zaman, atau Gus Bad dari Kediri.

Begini kisahnya. Dulu almagfurlah simbah Kiai Imam Kholil, pengsauh Pesantren MIS, Sarang-Rembang, Jawa Tengah, pernah memerintahkan santrinya untuk membuka tutup air tambak miliknya.

Kiai Imam Sarang dan Ikan Bandeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Imam Sarang dan Ikan Bandeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Imam Sarang dan Ikan Bandeng

Tambak tersebut berisi ribuan ikan Bandeng siap panen harus dibuka, agar Bandeng keluar ke sungai. Ide Kiai Imam itu muncul karena saat itu sedang masa paceklik ikan, bahasa setempatnya "terak". Pada masa itu, para nelayan sangat kesusahan mendapat ikan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Cung, mbrolen galengane, iwake ben metu" perintah Kiai Imam pada santrinya. Artinya, "Kang, buka saja pematangnya, biar ikan keluar semua. Setengah tidak percaya, tapi santri itu tidak berani nolak juga. Dia jawab, "Sendiko, Mbah."

Tak lama, si santri membuka pematang yang membendung air tambak pelan-pelan. Sambil menunggu Mbah Imam tidak kelihatan karena masuk ke ndalem. Ketika diperkirakan Mbah Imam sudah tidak kelihatan lagi, si santri segera menutup kembali galengan tersebut.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tapi tiba-tiba Mbah Imam muncul di belakangnya dan mbentak, "Hei Cung, ojo ditutup neh. Dibuka wae, iwake ben golek konco!" "Hei, Kang, jangan ditutup lagi. Dibuka aja. Ikannya biar cari teman!" Si santri akhirnya tidak berani melanggar perintah lagi.?

Setelah itu, banyak orang kampung cari ikan di sungai dan dapt ikan banyak. (Imam Baehaqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 02 Februari 2005

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Oleh Fathoni Ahmad

Dewasa ini tidak bisa dipungkiri bahwa dunia maya, era di mana interaksi sosial terjadi melalui koneksi internet melekat kepada dua generasi sekaligus, yakni Digital Native dan Digital Immigrant. Peran dua generasi tersebut saling melengkapi ketika generasi sekarang (Digital Native) mengisi dunia maya dengan berbagai ekspresi kekinian yang kerap kali disebut alay, kemudian dinetralkan oleh generasi tua yang baru beralih ke dunia internet (Digital Immigrant) dengan postingan yang berupaya menginternalisasi nilai-nilai luhur zaman dulu, terutama melalui media sosial.

Media sosial dalam berbagai bentuk atau channel, baik Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, WhatsApp, Google Plus, Youtube, dan lain sebagainya digunakan oleh Netizen (masyarakat dunia maya) untuk melakukan interaksi sosial, baik berbagi informasi atau sekadar menyampaikan keluh kesah dan kegalauan. Proses interaksi sosial lewat dunia maya ini terjadi setiap detik. Bahkan salah satu analis media sosial mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan interaksi sosial tertinggi di dunia per detik dalam penggunaan dunia maya khususnya media sosial.

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Lalu konten materi apa yang sering menjadi lalu lintas terpadat di dunia maya? Penulis mencatat bahwa mayoritas Netizen menyukai tulisan inspiratif dan konten keagamaan. Kurangnya pengetahuan agama dan keagamaan kerap kali membuat masyarakat dunia maya terjebak sehingga tidak jarang berdampak pada watak keras, sikap radikal, mudah menyalahkan, membatasi diri dari kehidupan sosial hingga pada titik kulminasi melalukan tindak kekerasan atas nama agama.?

Terkait dengan konten keagamaan yang terus menjadi primadona dalam kehidupan media sosial, momen Ramadhan atau bulan puasa juga dijadikan instrumen menyebarkan berbagai inspirasi keagamaan hingga wacana kontroversi berbagai hal yang berkaitan dengan puasa. Level dunia maya yang tadinya lekat (inheren) dengan religiusitas naik intensitasnya menjadi lebih religius.?

Namun demikian, kondisi inheren ini tidak dibarengi dengan koherensi, yakni usaha mewujudkan keseimbangan sosial dengan sikap saling menghormati. Seakan pemahaman agama seseorang berdiri sendiri sehingga seolah berhak melakukan tindakan semena-mena dengan dalih menghormati bulan Ramadhan seperti aksi sweeping, melarang orang berjualan di siang hari yang dapat mengganggu kekhusyuan puasa umat muslim, dan tindakan-tindakan serupa. Materi ini yang menjadi salah satu menu di dunia maya tiap momen Ramadhan tiba. Selain dialektika penetapan awal puasa dengan metode rukyat maupun hisab.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Soal warung buka di siang hari yang dianggap bisa membuat orang tergoda, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi wejangan bahwa “jika kita merasa Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Puasa maupun tidak puasa merupakan pilihan setiap individu karena urusannya langsung kepada Allah. Namun, Gus Dur juga menekankan kepada setiap muslim agar tetap menyampaikan dakwah yang baik, artinya dakwah yang mengajak, bukan mengejek apalagi menginjak. Hal ini justru dapat memberikan refleksi penyadaran diri kepada setiap individu bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terkena kewajiban berpuasa.

Kewajiban puasa merupakan ranah agama yang dibebankan kepada setiap individu yang sudah mukallaf. Mukallaf ini bukan tidak tahu hukum jika tidak melakukan puasa, tetapi dia memilih untuk tidak berpuasa tentu dengan menanggung kewajiban tersebut. Sebab itu, harus dihormati oleh individu lain sebagai sebuah pilihan karena tanggungan orang yang tidak melakukan puasa langsung berkaitan dengan Allah. Jadi jika ada warung yang buka di siang hari, lalu dirazia oleh pemerintah dalam hal ini Satpol PP, tentu langkah seperti ini justru di luar koridor pemerintah.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika berjualan di siang hari dapat menuai kesejahteraan bagi si penjual, pemerintah wajib mendukung jika mempunyai misi mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan malah merazia karena alasan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Perlu dicatat, seseorang yang sungguh-sungguh berniat puasa, tidak akan tergoda sedikitpun meski warung atau restoran ramai-ramai memamerkan menu makanannya tanpa ditutup tirai.

Media sosial dan kebaikan puasa?

Kembali ke dunia maya, momen bulan puasa tetap harus menjadi renungan bersama terkait aktivitas di media sosial atau di berbagai channel dunia maya secara keseluruhan. Hal ini tentu mempunyai korelasi bahwa kehidupan media sosial yang mempunyai karakter liar dan anarkis karena faktor interaksi sosial tidak langsung (indirect social interaction). Interaksi jenis ini kerap menimbulkan konflik horisontal yang berdampak pada kehidupan nyata karena media sosial juga dapat menciptakan kondisi nyata dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok.

Netizen sebagai warga dunia maya juga mempunyai peran menciptakan kondisi yang baik dan tenang di bulan puasa. Perspektif dunia maya yang dapat menciptakan inspirasi dan gerakan di dunia nyata ini dapat dijadikan ladang dakwah oleh setiap individu untuk menciptakan ketenteraman di bulan puasa. Media sosial dan dunia maya tidak sepatut dan selayaknya didominasi oleh informasi dan berbagai konten negatif secara tekstual maupun verbal. Hal ini tentu harus diwujudkan setiap hari tidak hanya pada momen bulan puasa sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium).

Untuk dapat meniciptakan kondisi tersebut, harus ada upaya dari setiap individu sebagai subjek dunia maya untuk setia pada informasi-informasi positif. Misal dengan mengakses berbagai channel dan portal dari berbagai media, baik cetak, online, visual, dan audio visual yang menyediakan konten-konten positif untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut. Paradigma ini persis seperti ngaji pasaran yang dilakukan di berbagai pesantren, madrasah, majelis taklim, masjid, dan mushola. Bedanya pengakses media sosial bisa langsung membagikan informasi positif tersebut ke sesama pengguna secara viral.

Jangan dikira menciptakan kebaikan di media sosial tidak diganjar pahala, karena terbukti interkasi di dunia maya dapat menciptakan kondisi di dunia nyata. Di titik inilah kebaikan bulan puasa dapat kita wujudkan secara menyeluruh (komprehensif) di berbagai media kehidupan, termasuk di media sosial agar ibadah puasa tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mampu menciptakan dampak (impact) positif di tengah kehidupan digital maupun natural (nyata).***

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 10 Desember 2004

Di Usia ke-68, Keadilan Sosial Belum Merata

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pada usia ke-68 Republik Indonesia (RI) keadilan sosial belum merata bagi semua lapisan masyarakat. Ketidakadilan sosial ini dirasakan langsung oleh lapisan masyarakat yang minus akses sosial, kekuasaan, modal finansial. Dari kenyataan demikian masyarakat dan segenap perangkat negara perlu berbenah untuk perbaikan.

Perihal ini dikatakan Sekretaris Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) M Aqil Irham ketika ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Kantor PP GP Ansor jalan Kramat Raya nomor 65A, Jakarta Pusat, Selasa (22/8) malam.

Di Usia ke-68, Keadilan Sosial Belum Merata (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Usia ke-68, Keadilan Sosial Belum Merata (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Usia ke-68, Keadilan Sosial Belum Merata

Sebagai contoh ketidakadilan sosial M Aqil Irham menunjuk pada sejumlah kasus diskriminasi yang terjadi di tengah masyarakat. Sebagian kelompok warga negara masih belum merdeka untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Kejadian itu ironisnya terus berulang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bayangkan saja sekelompok orang harus mengungsi karena perbedaan keyakinan baik agama maupun perubahan sekte,” kata M Aqil Irham.

Padahal Pancasila sebagai asas bernegara telah memberikan jaminan kemerdekaan penuh beribadah bagi semua warganya sejauh tidak menggangu ketertiban umum, tegas M Aqil Irham.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain kemerdekaan beribadah ketidakadilan sosial juga terkait dengan persoalan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan hak-hak sipil masyarakat lainnya. Masyarakat belum mendapat perlindungan di hadapan hukum. Semua itu, sambung M Aqil Irham, merupakan persoalan serius yang perlu keseriusan semua kalangan.

Kekuasan dan sumber perputaran ekonomi yang masih berpusat juga memiliki kecenderungan yang mengarah kepada ketidakadilan sosial. Dari situ, semua elemen masyarakat terutama pejabat publik perlu berbenah dan berupaya keras menciptakan kondisi yang akomodatif secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya bagi semua, tandas M Aqil Irham.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 06 Desember 2003

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

Banjar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ratusan siswa dan alumni Madrasah Aliyah Al-Azhar Kota Banjar menggelar perpisahan kelas dan Isra Miraj. Pada kesempatan ini mereka merampungkan Al-Quran sebanyak 30 kali khatam sejak pagi sekitar pukul 5.30-9.00 WIB di ruang kelas serta halaman sekolah, Rabu (11/5).

Menurut Ketua Panitia Irfan Saeful Rohman, sebanyak 142 siswa yang telah dinyatakan lulus perlu mendapatkan dorongan motivasi dari guru, orang tua, serta lingkungan menuju jenjang selanjutnya.

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

"Usaha kita upayakan para siswa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Doa pun kita panjatkan melalui khataman ini agar mereka dipermudah jalannya oleh Allah," terangnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Irfan berharap melalui kegiatan ini siswa senantiasa cinta terhadap agama dan NKRI. Pasalnya, siswa yang telah lulus juga perlu mendapatkan arahan agar tidak terjebak paham yang tidak jelas arahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semua alumni selalu kita kumpulkan dalam momentum tertentu. Intinya agar kita tahu perjalanan para alumni sekolah ini," pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepala sekolah Al-Azhar Drs KH Muin Abdurrohim menegaskan, siswa yang telah lulus diimbau untuk memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

"Saya berpesan semua alumni MA Al-Azhar senantiasa dekat dengan pesantren, dekat kiai serta wajib menjaga keutuhan NKRI dari segala paham transnasional yang bertentangan dengan Pancasila," tegasnya.

Dari informasi yang dihimpun Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, sebanyak 31 siswa telah diterima di perguruan tinggi yang ada di Indonesia melalui jalur program SNMPTN. (Muhafid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Pendidikan, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah