Selasa, 09 Januari 2018

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Quote, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) danI katan Pelajar Putri NahdlatulUlama (IPPNU) Kota Makassar bekerja sama dengan SMP Islam Masjid Raya Makassar mengadakan Latihan Kader Muda (LAKMUD).

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lakmud di SMP Islam Masjid Raya Makassar

Kegiatan berlangsung di aula SMP tersebut di kecamatan Bontoala Makassar, Sulawesi Selatanpada 20-23 November 2014. Sekitar 35 siswa dan siswi mengikuti kegiatan bertema? “Pelajar hari ini, pemimpin hari esok”.

Dalam sambutanya, Kepala SMP Islam Masjid Raya Siti Asmah menekankan pentingnya kegiatan seperti itu siswa-siswi. Karena, menurut dia, pada dasarnya setiap orang diciptakan untuk jadi pemimpin, baik dalam keluarga, kelas, atau komunitas tertentu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pelajar tidak akan berguna, kecuali mengaplikasikan apa yang telah dipelajari,” imbuh Pengurus Muslimat Makassar tersebut.

Senada dengan dia, ketua IPNU Kota Makassar Muh Nur mengatakan, pelajar merupakan cikal-bakal pemimpin, sehingga kegiatan seperti ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa-siswi untuk jadi pemimpin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU dan IPPNU, kata dia, sebagai garda terdepan proses kaderisasi di NU, akan terus berusaha secara massif untuk mengadakan proses pengkaderan baik secara formal maupun informal.

Hadir dalam kegiatan tersebut, beberapa pengajar di SMP Islam Masjid Raya, Ketua IPPNU Kota Makassar Azizah Dahlan, serta beberapa kader dan pengurus IPNU - IPPNU Sulawesi-Selatan. (Andy muhammad idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Situbondo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Indonesia mengalami dinamika yang demikian pesat di berbagai aspek kehidupan. Perubahan tersebut harus juga diimbangi dengan langkah strategis agar bisa bertahan, dan memberi kontribusi termasuk Nahdlatul Ulama.

"Hingga saat ini tantangan NU adalah bagaimana memahami khittah secara komprehensif," kata Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Rabu (11/1) malam.

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Karena dalam pandangan penulis buku Piagam Perjuangan Kebangsaan? tersebut, khittah tidak semata dimaknai pandangan dan sikap dalam berpolitik.?

Yang tidak kalah penting dan ini kerap dilupakan adalah bahwa Khittah NU sebagai fikrah, amaliyah serta harakah (gerakan) Nahdliyah. Akibat dari kesalahan pandangan tersebut mengakibatkan banyak gerakan di NU yang kian ditinggalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Termasuk dalam pemikiran atau fikrah Nahdliyah kita akan bisa menyelamatkan dari mereka yang cenderung memiliki pandangan fundamentalis," jelasnya. Demikian pula, fikrah Nahdliyah akan menyelamatkan dari mereka yang beraliran kiri atau liberal, lanjutnya.

Dalam catatan Munim, prestasi yang layak dibanggakan dari konsisitensi NU memegang khittah adalah mau menyatukan berbagai friksi yang terjadi. "NU juga mampu menemukan jati diri sebagai organisasi sosial keagamaan," ungkapnya. Dengan keberhasilan tersebut, NU sangat leluasa melakukan gerakan setelah dianggap tidak berpolitik praktis, lanjutnya.

Lewat ketokohan KH Asad Syamsul Arifin, KH Ali Maksum, KH Ahmad Shiddiq, juga KH Abdurrahman Wahid, NU mengalami masa keemasan. "Bahkan NU menjadi kekuatan alternatif ? yang sangat menentukan arah politik nasional," jelasnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Akan tetapi dalam perjalanannya, NU mengalami krisis sehingga terjadi disorientasi. Sebagai langkah strategis, Munim memberikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan NU agar mampu kembali ke jati dirinya.?

"Pertama adalah konsolidasi struktur," katanya. Selanjutnya melakukan reorientasi gerakan NU, juga restrukturisasi politik.

Dan upaya perbaikan di internal NU dapat dilakukan dengan memantapkan khittah. "Karena khittah adalah urat nadi dalam berorganisasi," tegasnya.

Munim tampil sebagai pembicara bersama Abu Yazid pada seminar nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan merupakan kerjasama TV9 NUsantara, PW LTN NU Jatim serta forum alumni Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Banyuputih Situbondo. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Tegal, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah menerbitkan ikhbar bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1437 H jatuh pada Sabtu, 3 September 2016.

Keputusan tersebut diumumkan setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU melakukan rukyat hilal bil fi’li pada Kamis (1/9) petang. Selama observasi langit secara langsung itu, tim rukyat tak berhasil melihat bulan sabit tanda awal bulan. Dengan demikian, bulan Dzulqadah disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari.

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Berdasarkan hasil rukyat ini, Lembaga Falakiyah mengumumkan bahwa hari raya kurban atau Idul Adha 1437 H yang jatuh pada 10 Dzulhijjah bertepatan pada hari Senin, 12 September 2016.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengucapkan terima kasih kepada nahdliyin atas kontribusi dan partisipasi dalam prosesi rukyat hilal ini. “Selamat Idul Adha. Kita sambut dengan ibadah mengagungkan asma Allah, berkurban, mempererat silaturrahim dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Dalam hadits dijelaskan bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah termasuk hari-hari yang spesial. Namun di antara kesepuluh hari itu ada tiga hari teristimewa, yaitu 8 Dzulhijjah yang disebut dengan yaumu tarwiyah, tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut yaumul ‘arafah dan tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut yaumun nahr. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Internasional, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali mengatakan, Jombang merupakan daerah asal para pendiri NU. Ia berharap muncul para kader NU dari Jombang yang akan menjadi pionir perjuangan NU seperti para pendahulu.

Saat membuka Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) di Pondok Pesantren Babus Salam, Kalibening, Mojoagung Jombang, Jum’at (6/3) Waketum mengatakan, Muktamar NU pada tahun ini digelar di Jombang salah satunya karena banyak tokoh pendiri NU yakni KH Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansyuri berasal dari kota santri ini.

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU Berharap Kader Jombang Jadi Pionir

"Saya yakin Jombang tetap akan menjadi pioneer. Karenanya Muktamar dipilih di sini? dalam situasi yang seperti ini," tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu ia bahkan menyampaikan harapannya agar ada tokoh tokoh NU asal Jombang yang bisa memimpin NU dan dicalonkan dalam Muktamar. Ia mengaku dirinya sudah terlalu tua jika dicalonkan menjadi ketua umum pada muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang 1-5 Agustus nanti.

"Saya merindukan ada tokoh tokoh NU asal Jombang, yang bisa memipin NU ke depan. Kalau saya cukup mendampingi saja, tidak usah menjadi ketua umum PBNU, karena sudah terlalu tua, sudah usia 65 tahun," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Jakarta, H As’ad Said Ali datang bersama para instruktur kaderisasi dari PBNU diantaranya Abdul Mun’im DZ yang juga wakil sekjen PBNU asal Jombang, Enceng Shobirin Najd dan Adnan Anwar. Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik hadir di hari ketiga.

Hadir dalam pembukaan PKPNU Jombang KH Masduqi Abdurrahman Al Hafidz, KH Hasib Abdul Wahab Chasbullah, KH Wazir Aly, Munif Kusnan Wakil ketua PCNU Jombang, serta KH Salmanuddin dan para pengasuh Pesantren Babus Salam lainnya.

Asad mengatakan, NU sebagai Jamiyah harus kuat dalam organisasi, sebab jamaahnya sangat besar dan organisasi NU banyak dikagumi bangsa lain. Bahkan dikatakannya, beberapa negara seperti Inggris meminta NU hadir disana.

Untuk itu, dikatakan Asad, pelatihan kader penggerak NU kini terus dilakukan oleh PBNU setelah sejak lama tidak ada pelatihan kader. "Kita sudah melakukan pengkaderan ini dibeberapa wilayah untuk penguatan organisasi dan membuat strategi pengembangan NU," imbuhnya.

PKPNU di Jombang kali ini tidak hanya diikuti para kader dari kabupaten Jombang. Peserta juga datang dari perwakilan kader beberapa cabang NU seperti Batu, Lamongan, Kediri, dan Nganjuk. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keistimewaan Gemar Menolong Orang Lain

Khutbah I

Keistimewaan Gemar Menolong Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Keistimewaan Gemar Menolong Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Keistimewaan Gemar Menolong Orang Lain

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tak ada yang membantah bahwa menolong orang lain dalam kebaikan adalah sesuatu yang mulia. Pesan ini terlalu sering kita dengar lewatceramah-ceramah, mimbar khutbah, atau mungkin nasihat-nasihat bijak dari tokoh-cendekia. Saking seringnya kadang kepekaan atas nilai positif tolong-menolong itu menjadi hal yang biasa. Tak lagi istimewa. Dalam khutbah kali ini, al-faqir mengajak dan berusaha mengingatkan kembali kepada diri al-faqir sendiri secara khusus, dan jamaah sekalian secara umum.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan bentuk terbaik (ahsanu taqwim). Manusia memiliki keistimewaan dibanding ciptaan lain seperti jin, setan, malaikat, juga binatang. Manusia dibekali tidak hanya panca indra dan bentuk fisik yang indah, tapi juga akal pikiran yang membuatnya kreatif dan menjalani hidup dengan penuh makna.

Makna tersebut salah satunya bisa kita petik dari sikap baik kita terhadap orang lain. Kita tahu, manusia merupakan makhluk individual sekaligus makluk sosial. Yang terakhir disebut ini adalah sebuah keniscayaan. Manusia ditakdirkan tidak bisa hidup sendirian. Ia pasti membutuhkan yang lain, baik yang berkenaan dengan manusia maupun alam sekitar. Karena itu menolong orang lain yang membutuhkan termasuk perbuatan yang sangat ditekankan. Tolong menolong menjadi ajakan utama yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an maupun hadits.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dalam sebuah hadits yang cukup populer disampaikan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya...” (HR Muslim)

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Hadits tersebut memuat pesan cukup spesial. Jika kita perhatikan secara seksama redaksi hadits, kita segera tahu bahwa Allah melibatkan secara langsung seolah-olah berada di balik orang-orang susah dan siap memberi balasan setimpal bagi yang mau membantu orang-orang dalam kesulitan itu. Allah secara verbal berjanji akan memudahkan dan menolong orang yang mau menolong hambanya.

Kerap kita dengar orang bilang, “Jika kau sampai sentuh si A maka kau akan berhadapan denganku.” Pernyataan ini tentu keluar dari mulut orang yang begitu sayang dengan si A. Sampai-sampai berani pasang badan, memberi pembelaan ketika sesuatu tak mengutungkan menimpa si A.

Kasus ini bisa dianalogikan kepada hadits di atas. Pernyataan “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” adalah sinyal tentang betapa sayangnya Allah kepada orang-orang susah, dan karenanya memberi berjanji bakal pula menolong para penolong orang susah tersebut. Hal ini menegaskan kebenaran bahwa “Allah hadir di tengah-tengah orang susah”.

Orang yang gemar mengulurkan tangan kepada orang lain juga akan memperoleh kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Suatu ketika ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah. Lalu ia bertanya: wahai Rasulullah, siapa orang yang paling dicintai oleh Allah? Dan apa amalan yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah pun menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ( ? ? ? ) ?

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR ath-Thabrani)

Tidak ada yang paling beruntung dalam kehidupan manusia selain dicintai oleh Sang Maha Mencintai, Allah azza wa jalla. Kecintaan-Nya adalah anugerah terbesar, bahkan dibandingkan dengan kenikmatan surga sekalipun. Cinta adalah tanda keridlaah. Bukankah tujuan pokok manusia adalah mencari ridla Allah?

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Ternyata demikian besar yang kita dapat dari perbuatan gemar membantu orang lain. Kita melihat ada keselarasan pengaruh antara kesalehan kita secara sosial dengan kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan Rasulullah secara terang-terangan memandangnya lebih unggul daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.

Sasaran menolong itu sangatlah luas. Ia tak harus selalu berhadapa dengan masalah-masalah besar yang bahkan kita sendiri sukar mengatasinya. Memberi tempat duduk kepada ibu hamil di kendaraam umum adalah menolong. Begitu pula memberi makanan untuk anak-anak jalanan, membeli barang dagangan Pak Tua yang miskin, menghibahkan mukena untuk dipakai umum di sebuah masjid, melapangkan hati orang yang tertimpa musibah, dan lain-lain.

Semoga perintah Al-Qur’an dan sunnah Nabi yang ini dapat kita laksanakan dengan baik. Apalagi seiring perkembangan teknologi informasi yangsemakin canggih, ada kecenderungan masyarakat kian individualis, kepekaannnya memudar terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Wallahu a’lam bishshawab.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Nasional, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah