Senin, 25 Desember 2017

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. MA Walisongo Pecangaan mewakili LP Maarif NU Jepara mengikuti Lomba Perpustakaan tingkat SMA/ MA se-Jepara yang diselenggarakan Perpustakaan Daerah kabupaten Jepara medio bulan ini. Lomba rencananya diikuti 6 sekolah, 3 SMA Negeri 3 lainnya sekolah swasta. 

Untuk menghadapi lomba persiapan sudah dilaksanakan. Hal itu terlihat dengan semakin giatnya pustakawan dalam melengkapi administrasi serta semakin banyaknya siswa yang mengunjungi tempat tersebut.

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan

Perpustakaan yang dibangun diatas bangunan mushola MA Walisongo memang menarik selain dipenuhi dengan ribuan koleksi, baik buku pelajaran maupun yang lainnya, perpustakaan juga dilengkapi dengan sarana komputer dan internet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nur Sahid, salah satu pustakawan mengatakan bahwa perpustakaan MA Walisongo telah siap untuk menghadapi penilaian dari Perpusda Jepara. “Perpustakaan MA Walisongo Pecangaan tidak melakukan persiapan khusus namun hanya menata serta menginventarisir kembali buku-buku baru yang belum masuk dalam daftar inventaris perpustakaan,” katanya.

Sahid menjelaskan mulai tahun ini perpustakaan mulai menggunakan aplikasi perpustakaan elektronik meskipun programnya belum dijalankan secara penuh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mulai minggu kemarin komputer server yang ada di perpustakaan ini telah diberikan aplikasi perpustakaan elektronik yang fungsinya sebagai pusat data jumlah bahan bacaan yang ada namun aplikasinya perlu untuk disempurnakan lagi,” imbuhnya.

Kepala Madrasah Drs Rohmadi mengungkapkan lomba tersebut tidak dimaknai sebagai persaingan untuk merebutkan juara namun hanya semata-mata sebagai motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan di perpustakaan. “Kegitan tersebut merupakan motivasi untuk meningkatkan pelayanan serta fasilitas yang ada di perpustakaan,” pungkasnya. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Nahdlatul Ulama, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru

Bandar Lampung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Untuk mengajak dan mengenalkan kepada mahasiswa baru (maba), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unveritas Lampung (Unila) mendirikan stan pendaftaran di depan gedung serba guna Universitas Lapung (Unila), Selasa (30/08).

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru

“KMNU dan PMII Unila sengaja membuka stan pendaftaran pada tahun ajaran ini dengan harapan kolaborasi organisasi bernapaskan Nahdlatul Ulama (NU) bisa membangkitkan gerakan mahaiswa, baik di bidang kajian keagamaan ataupun dibidang kajian-kajian sosial,” ujar Sandi Setia Makruf, Seketaris PMII Unila.

Selain membuka stan, KMNU dan PMII Unila juga menyebarkan brosur pendaftaran calon anggota. Di tengah kegiatan tersebut mereka juga berdiskusi, memabahas berbagai hal yang menjadi agenda-agenda untuk mahasiswa baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bidang Kaderisasi KMNU Unila, Hafid mengatakan, pembukaan stan ini akan berlangsung sampai 31 Agustus 2016. “Rencananya pembukaan stan akan berahir sampai tanggal tangal 31 karena izin dari DPM (Dewan Perakilan Mahasiswa) hanya berlaku sampai besok. Semoga saja dengan adanya kegitan kami ini, bisa menjadi daya tarik mahasiswa baru untuk gabung di KMNU ataupun di PMII,” katanya. (Imam Mahmud/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Said Aqil Siroj Sampaikan Pidato Kebudayaan Malam Ini

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj akan menyampaikan pidato kebudayaan di PBNU Jakarta Selasa malam (31/1) ini. ? Pidato tersebut dalam rangka peringatan Harlah ke-91 NU dengan tema “Budaya sebagai Infrastruktur Penguatan Paham Keagamaan”.

Menurut Ketua Panitia Harlah ke-91 NU, Masduki Baidlowi, Kiai Said akan menyampaikan Islam Nusantara, budaya, dan masalah kemasyarakatan seperti menyinggung masalah ekonomi dan lain-lain. “Intinya Kiai Said akan menyampaiakan kerangka berpikir gerakan keagamaan melalui budaya. Dan itu harus diperkuat,” katanya di gedung PBNU, Senin (30/1).

KH Said Aqil Siroj Sampaikan Pidato Kebudayaan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Said Aqil Siroj Sampaikan Pidato Kebudayaan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Said Aqil Siroj Sampaikan Pidato Kebudayaan Malam Ini

Ia menambahkan, tema tersebut diusung dengan beberapa pertimbangan, di antaranya NU ingin menegaskan kembali strategi dakwah Islam yang berhasil tersebar dan dipeluk penduduk Nusantara.?

“Bahwa Islam menyebar ke Nusantara dari abad ke-9, berhasil diterima dengan gencar pada abad 12 dan 13 menggunakan kebudayaan lokal sebagai pemahaman keagamaan,” katanya di gedung PBNU, Jakarta pada Senin (30/1). ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut dia, contoh konkret dakwah dengan budaya adalah wayang. Wayang dipakai sebagai jalan nilai Islam. Cerita pewayangan yang berkembang kemudian dimasuki nilai-nilai keislaman sehingga diterima masyarakat lokal. Begitu juga ? tahlilan.

Selain pidato Kiai Said, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin akan berceramah.?

Harlah tersebut akan dihadiri Kepala Kepolisian Jenderal Tito Karnavian dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo. Juga dimeriahkan pelawak Cak Lontokng, penyair D Zawawi Imron, beberapa musisi, dan Nahdliyin. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Meme Islam, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Ansor Gayam Luncurkan “Obor” dan Media Dakwah “Irodah”

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Gayam Bojonegoro meluncurkan forum dialog bertajuk Obrolan Bareng Ansor (Obor) dan Buletin Irodah. Dua kegiatan ini diresmikan langsung oleh Rois Syuriah MWCNU Kecamatan Gayam, Sabtu (5/9) kemarin.

Ansor Gayam Luncurkan “Obor” dan Media Dakwah “Irodah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gayam Luncurkan “Obor” dan Media Dakwah “Irodah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gayam Luncurkan “Obor” dan Media Dakwah “Irodah”

Ketua PAC GP Ansor Gayam, Nur Chamid mengatakan, dialog Obor akan diadakan setiap satu bulan sekali, tema yang diangkat nantinya akan? berbeda-beda setiap bulanya.

"Temanya nanti kita bedakan menjadi tiga, pertama tentang problematika ke NU-an, Kedua tentang wirausaha dan ketiga soal keilmuwan multidisiplin," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Harapanya, kegiatan tersebut dapat memberikan peningkatan wawasan dan manfaat bagi para pemuda setempat. Selain itu, ia berharap nantinya lewat kegiatan itu akan muncul pula wirausahawan dari kalangan pemuda Ansor.

"Kedepanya. Akan ada banyak diskusi dengan tema - tema yang menarik dan kontekstual," lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disisi lain,? adanya pembuatan Buletin Irodah diharapkan akan menjadi media syiar pemuda Ansor Gayam. "Termasuk memuat hasil Kajian Obor, profil tokoh islam lokal serta berisi konten dakwah lainya," tandasnya.

Sementara itu, Rois syuriyah MWCNU Gayam, Solikhin Shohih menyampaikan apresiasinnya terhadap kajian dan buletin tersebut. Ia berharap kegiatan tersebut? bisa menjadi forum yang mencetak kader - kader potensial.

"Kegiatan ini akan menjadi Laboratorium Sosial di Ansor Gayam, semoga bermanfaat untuk masyarakat luas," harap kyai yang juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren alm KH Sahal Mahfudh ini. (M. Yazid/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dua Ulama dari Singaparna

Zaman penjajahan Belanda, dua pemuda dari Kampung Bageur, Tasikmalaya, minimba ilmu di Pesantren Gunung Pari. Keduanya bernama Umri dan Dimyati. Masih sadaura sepupu, yang jalur silsilah keluarga bertemu di H. Arijam.

Umri dan Dimyati belajar di pesantren atas biayai seorang kaya, Hj. Juariyah. Sepulang belajar, dua pemuda tersebut dinikahkan kepada dua perempuan yang masih saudara sepupu, dan masih kerabat dengan Hj. Juariyah.

Dua Ulama dari Singaparna (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Ulama dari Singaparna (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Ulama dari Singaparna

Oleh Hj. Juariyah pula, mereka diberi tanah untuk mendirikan pesantren. Pada tahun 1922, Dimyati mendirikan pesantren Sukahideng di Desa Bageur. Lima tahun kemudian, 1927, Umri juga mendirikan Pesantren Sukamanah di Desa Cikembang. Kedua pesantren tersebut hanya berjarak 1,5 km. Waktu itu, keduanya masuk wilayah Kecamatan Singaparna. Karena pemekaran, sekarang berada di Kecamatan Sukarapih.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Melalui pesantren, Umri dan Dimyati bahu-membahu berjuang mendidik masyarakat sekitar yang masih gelap pengetahuan agama.

Dua Zainal

Pada tahun 1928, Hj. Juariyah kembali menunjukkan kedermawanannya. Ia memberangkatkan kedua kiai muda tersebut ke tanah suci. Sepulang menunaikan ibadah haji, keduanya berganti nama; Umri menjadi Zainal Musthafa, dan Dimyati menjadi Zainal Muhsin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sepuluh tahun kemudian, 1938, Dimyati alias Kia Haji Zainal Muhsin Wafat. Kepengurusan pesantren dilanjutkan salah seorang menantunya, yaitu Kiai Haji Yahya Bahtiar Afandi sampai dengan tahun 1945. Dari tahun 1945, pesantren dilanjutkan anak sulung Dimyati, yaitu Kiai Haji A. Wahab Muhsin.

Umri melawan Jepang

Pada masa kolonial, tangan-tangan Belanda pun sampai daerah Singaparna. Rakyat di sana mendapat pengawasan yang ketat. Pasalnya, selain rakyat teguh beragama, teguh pula memegang kebangsaannya. Pada saat yang sama dari pesantren tumbuh alasan-alasan yang sangat menggetarkan hati untuk memberontak terhadap penjajahan totaliter, termasuk pada Jepang yang memeras dan menyiksa rakyat melelui romusha.

Pada tanggal 25 Februari 1944 M, bertepatan dengan tanggal 1 Rab’ul Awal 1365 H, Umri yang sudah berganti nama Zainal Musthafa, melawan penjajahan Jepang karena mereka sudah berlebihan. Mereka menyuruh Seikerei, menghormat kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo.

Kiai Zainal jelas menolak. Praktik Seikerei bentuk lain dari kemusyrikan dan kekafiran yang bertentangan dengan tauhid dalam Islam.

Karena itulah, Kiai Zainal yang aktif menjadi Wakil Rais Syuriyah NU sejak tahun 1933 tersebut, tidak hanya dipenjara, melainkan dihukum mati. Bertahun-tahun, jasadnya tidak diketahui keberadaannya.

Pada tahun 1970 M, Kepala Erevele Belanda Ancol Jakarta memberi kabar, bahwa KHZ Musthafa telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol Jakarta.

Pada tanggal 20 November 1972, KH Zainal Musthafa dianugerahi “Pahlawan Nasional” dengan SK Presiden RI No : 064/TK Tahun 1972.

Dua Zainal telah wafat. Keduanya mewariskan pesantren yang melahirkan ribuan santri. Dua pesantren tersebut, Sukahideng dan Sukamanah, berada dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Perguruan KHZ Musthafa.

Yayasan tersebut dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1959 oleh putera Dimyati, KH Wahab Muhsin, Rais Syuriyah NU Kabupaten Tasikmalaya (wafat 2000), bersama Letnan Syarif Hidayat (santri KHZ Musthafa) sebagai pelestarian perjuangan kedua almarhum dalam bidang pendidikan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jelang Pilkada, Warga NU Diimbau Jaga Ukhuwah

Wonosobo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Musim pemilihan umum kepala daerah atau Pilkada kerap membawa warga sebagai pemilik hak suara ke dalam suasana persaingan politik. Para kandidat kepala daerah berlomba mengeruk dukungan suara sebanyak-banyaknya, dan rentan merusak kerukunan masyarakat lantaran perbedaan aspirasi politik yang ditimbulkan.

Jelang Pilkada, Warga NU Diimbau Jaga Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilkada, Warga NU Diimbau Jaga Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilkada, Warga NU Diimbau Jaga Ukhuwah

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Wonosobo KH Abdul Chalim AYM berpesan kepada Nahdliyin untuk menjaga ukhuwwah dan kebersamaan, khususnya dalam menyambut Pilkada yang akan dihelat pada 9 Desember mendatang.

"Warga NU harus tetap rukun, dan menggunakan hak pilihnya dengan cerdas dan bertanggung jawab, untuk memilih pemimpin yang jujur dan amanah, yang akan memimpin Wonosobo ke arah yang lebih baik," ujarnya dalam acara Penguatan Aqidah Ahlussunanah Wal Jamaah dan Sosialisasi Hasil-hasil Muktamar NU XXXIII, akhir pekan lalu (22/11).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Forum yang diikuti lebih dari 3000 warga tersebut digelar di Gedung Serbaguna SMK Andalusia Wonosobo dan dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan jajaran pengurus NU Kabupaten Wonosobo dari tingkat cabang hingga tingkat ranting.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Kang Said, sapaan akrab Ketua Umum PBNU, menyampaikan bahwa warga NU harus cerdas dan up to date. "Warga dan pimpinan NU harus mampu menyampaikan nilai-nilai luhur yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu dengan bahasa yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan zaman.”

“Adalah tugas dan tanggung jawab ulama-ulama NU untuk menjabarkan gagasan-gagasan dan ijtihad ulama terdahulu dengan bahasa yang modern dan sesuai dengan perkembangan zaman," imbuhnya.

Kang Said juga mengapresiasi peran para pimpinan dan warga NU dalam menjaga toleransi dan meminimalisasi konflik. "Sejauh ini para pengurus dan warga NU memiliki peran yang luar biasa dalam mengatasi konflik dan menjaga perdamaian, sehingga perpecahan dan permusuhan dapat dihindari. Seorang Rais Syuriah di tingkat ranting, sudah tentu mampu mengantisipasi bibit-bibit konflik yang mengancam. Ulama-ulama di Timur Tengah, mereka sangat alim dan faqih, tapi konflik dan peperangan terus berlangsung," ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah