Jumat, 22 Desember 2017

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Acara Musabaqah Kitab Kuing (MKK)? ini mendapatkan momentumnya di tengah kegairahan keagamaan yang tinggi sekaligus di tengah kebutuhan untuk meningkatkan kualitas kedalaman ilmu agama di masyarakat.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP-PKB) H Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) saat membuka MKK The Finals 2017 tingkat ula dan ulya di Graha Gus Dur DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (21/7).

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia

Menurut Cak Imin, hari-hari ini umat Islam Indonesa selain gairah yang tinggi diuji kedewasaaan di dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Diuji kematangan di dalam memahami ilmu-ilmu agama sehingga bisa beradaptasi dan mengisi dakwah kita dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Acara MKK ini juga mendapatkan momentum untuk menggairahkan para santri-santri kita di tanah air dan siap menjadi garda terdepan bagi kemajuan Islam di Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Apalagi sebagai santri, kita ini dengan Musabaqah Kitab Kuning akhirnya mulai percaya diri, bukan hanya Anda, kami, kita semua yang di Jakarta akhirnya berbangga, bersyukur. Insya Allah regenerasi ulama Ahlussunah wal Jamaah, regenerasi ilmu-ilmu agama, regenerasi pejuang-pejuang Nahdlatul Ulama tidak akan putus dan akan abadi selamanya,” terangnya dengan bangga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap, keilmuan dan tradisi-tradisi pesantren yang terbangun dengan sangat sistematis dan sangat mengakar ini menjadi modal yang besar buat Islam Indonesia untuk tumbuh menjadi kekuatan keagamaan bukan saja untuk bangsa Indonesia tapi juga untuk dunia.

Acara MKK the finals sendiri diselenggarakan pada Jumat-Sabtu (21-22/7/). Kitab yang diperlombakan ialah Fathul Qarib, dan Nadham Imrithi untuk tingkat ula, dan Kitab Ihya Ulumiddin dan Nadham Alfiyah Ibnu Malik untuk tingkat ulya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Mengoperasionalkan “Politik Tingkat Tinggi NU”

Seperti biasa menjelang pemilihan umum presiden dan wakil presiden, NU mau tidak mau pasti akan masuk ke dalam pusaran politik. Dalam sistem permusyawaratan apalagi mengandalkan suara terbanyak seperti sekarang ini, NU sebagai organisasi muslim terbesar di Indonesia pasti menjadi daya tarik.

Apalagi para bakal calon presiden atau wakil presiden atau para tim pendukungnya itu tidak hanya sowan ke kantor PBNU di Jakarta, tetapi juga sudah datang menemui para tokoh, sesepuh NU dan kiai-kiai di berbagai pesantren.

Kehadiran para calon dan para pendukungnya itu tidak hanya dimaknai secara pragmatis, bahwa mereka sedang meminta dukungan agar terpilih sebagai pemimpin negeri ini. Itu sangat mungkin. Namun kehadiran mereka juga perlu dimaknai secara positif, bahwa mereka sedang ingin meminta nasihat tentang bagaimana seharusnya mengelola negeri ini. Para kiai juga pasti lebih dekat dengan apa yang mereka sebut sebagai “rakyat” itu sehingga lebih tahu tentang apa keinginan dan kebutuhan mereka.

Mengoperasionalkan “Politik Tingkat Tinggi NU” (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengoperasionalkan “Politik Tingkat Tinggi NU” (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengoperasionalkan “Politik Tingkat Tinggi NU”

Almaghfurlah KH M.A. Sahal Mahfudh dalam Munas-Konbes NU 2012 di Kempek Cirebon telah mengingatkan bahwa semenjak kembali ke Khittah 1926, -meski tidak berubah pola tetap sebagai organisasi massa- NU tidak lagi bergiat dalam politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah atau siyasah safilah. Peran ini dijalankan oleh partai politik dan warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan. Setelah Kembali ke Khittah pada 1984, NU menjalankan peran politik tingkat tinggi atau siyasah ‘aliyah.

Mbah Sahal menerangkan bahwa politik tingkat tinggi ini terkait tiga hal besar yakni politik kebangsaan, kerakyatan dan etika berpolitik. Politik kebangsaan berarti NU akan selalu istiqomah dan proaktif dalam mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun.

Adapun etika berpolitik itu menyangkut niai-niai yang harus selalu ditanamkan oleh NU kepada kader dan warganya pada khususnya, dan masyarakat serta bangsa pada umumnya, agar berlangsung kehidupan politik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Demikianlah tiga hal yang disebut politik tingkat tinggi NU. Namun tiga hal itu masih terlalu besar dan bersifat umum sehingga masih sangat perlu disyarahi lebih detil lagi. Politik tingkat tinggi NU masih harus dijelaskan secara lebih operasional agar bisa diterapkan oleh NU secara institusional, dan menjadi bekal sekaligus arahan bagi mereka yang sedang menjalankan peran politik kekuasaan, termasuk warga NU.

PBNU telah menyelenggarakan banyak pertemuan pra Munas-Konbes NU 2014 dan melibatkan banyak ahli di bidang masing-masing. Beberapa di antaranya mengangkat tema khusus mengenai “Konsep Ekonomi Nasional". Dalam satu pertemuan misalnya terungkap kalau utang negara Indonesia selama hampir 10 tahun pemerintahan presiden SBY telah bertambah sebesar US$ 104 miliar menjadi US$ 180 miliar. Padahal 32 tahun pemerintahan presiden Soeharto hanya membebani utang negara sebesar US$ 51,5 miliar.

Jadi Indonesia sekarang sudah masuk pada kondisi harus menambah utang baru untuk melunasi hutang lama dengan risiko menambah utang lebih banyak lagi. Nah dalam konteks politik tingkat tinggi, terutama terkait politik kerakyatan, NU juga akan berurusan dengan ideologi ekonomi yang sedang diterapkan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Lebih operasional lagi, misalnya, politik kerakyatan NU juga akan berurusan dengan kebijakan negara mengenai anggaran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Maka mengoperasionalkan peran politik tingkat tinggi mutlak dilakukan, agar NU tidak hanya dimanfaatkan sebagai penggait massa lima tahun sekali. (A. Khoirul Anam)

 

Gambar: Bakal calon presiden Joko Widodo saat bersilaturrahim ke kantor PBNU bebrapa waktu lalu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Gusdurian Lampung? dan GP Ansor Pakuan Ratu serta Negara Batin Kabupaten Way Kanan menyelenggarakan bakti sosial pengobatan alternatif dan pengolahan sampah plastik? untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2016.

"Lingkungan hidup adalah masa depan bersama. Banyak yang masih tidak peduli dengan hal tersebut. Itu yang menjadi dasar kami memperingati Hari Pahlawan dengan harakah (gerakan) tersebut," ujar Ketua GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Ghozali di Blambangan Umpu, Rabu (9/11).

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Didampingi Ketua GP Ansor Negara Batin Hozin Munir, Bakti menjelaskan, pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di Pesantren Al-Falakhussdah asuhan Kiai Zainal Maarif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tema kegiatan ini ialah "Berdamai Dengan Lingkungan Hidup. Berdamai Dengan Masa Depan yang Hidup". Para santri akan diajak untuk mengolah sampah plastik menjadi bantal, boneka, dan ecobricks sebagai bentuk pengamalan Surah Ar-Rum [30]: 41.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengurangi pencemaran tanah hingga polusi udara dihasilkan dari pembakaran plastik yang memacu timbulnya efek rumah kaca dan juga merusak lapisan bumi (ozon) serta dapat memicu sel kanker.

"Serta menuju masyarakat sehat tanpa polusi udara dari pembakaran sampah plastik yang dapat melepaskan zat berbahaya di udara seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil maupun partikel berbahaya lainnya yang berefek buruk bagi kesehatan," kata Bakti.

Adapun bakti sosial digelar ialah berupa penyembuhan alternatif nonmedis untuk lemah syahwat, migrain, darah tinggi, asma, jantung dan lain-lain.

"Medianya dengan tangan dan air. Masyarakat yang mengikuti penyembuhan tersebut berinfaq sukarela. Hasilnya akan didonasikan untuk sedekah oksigen," kata dia lagi.

Selain itu, juga penyembuhan bekam untuk masyarakat setempat juga akan dilakukan sehubungan adanya program Halal atau Hijamah Sambil Beramal untuk kemandirian organisasi Ansor.

"Ansor dan Gusdurian berharap bisa terlibat aktif mengajak masyarakat mengurangi penistaan agama dan Al-Quran melalui perilaku yang selama ini acap luput, dibiarkan dari pengamatan, yakni membuang atau membakar sampah plastik sembarangan," kata Bakti lagi.

Selain itu, juga mengajak santri dan masyarakat menjadi pahlawan melalui bidang lingkungan hidup, salah satu mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam sedekah oksigen yang bertumbuh alias sedekah pohon. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Budaya, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejumlah penjual atribut ke-NUan berjajar menghadapi meja di area Munas-Konbes NU 2014 di halaman Gedung PBNU, Sabtu (1/11) siang. Sejumlah produk tertata rapi di atas meja yang antara lain menampung kaos bergambar wajah kiai NU, batik, poster, stiker, buku, hingga gantungan kunci yang menunjukkan arah kiblat sembahyang. Di jajaran trotoar Gedung PBNU, penjual batu akik hadir di salah satu barisan pedagang.

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014

Andri, pria berkaos hitam itu mencoba peruntungan penjualannya di tengah hilir-mudik peserta Munas-Konbes NU dan warga yang ingin melihat jalannya sidang. 

“Saya berkeliling dari kota ke kota untuk menjual akik. Kemarin dari Bengkulu. Sebelumnya dari Medan,” kata Andri menghadapi bentangan papan yang bertaburan batu-batu indah di atasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pria asal Padang ini menggelar lapaknya persis mulut gerbang PBNU. Andri berdua dengan sahabatnya mencoba mengadu nasib lewat berjualan akik yang kini digandrungi banyak warga mulai dari remaja hingga setengah tua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mengaku baru setahun berjualan akik melihat belakangan ini tingginya permintaan warga Indonesia terhadap akik. Selain kaos, batik, dan gantungan kunci, cincin akik merupakan salah satu ciri khas kiai NU dan Nahdliyin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Hj Khofifah Indar Parawansa berharap aktivitas Koperasi Muslimat NU Inkopan meingkatkan kesejahteraan masyarakat. Inkopan diminta kesiapannya untuk menggerakan perekonomian masyarakat.

“Koperasi Muslimat NU harus bisa memodali masyarakat yang ingin mengawali usahanya,” kata Hj Khofifah di hadapan peserta pendidikan kewirausahaan sejak pagi hingga petang di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (19/5).

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat

Kongres Muslimat NU pada 1979, lanjut Hj Khofifah, sudah mengingatkan kita untuk mengadakan koperasi. Saya sendiri sejak akhir 1990-an keliling Indonesia untuk menyadarkan pengurus Muslimat NU akan pentingnya koperasi.

“Koperasi ini dapat menyelamatkan mereka yang membutuhkan modal dari jeratan rentenir. Mereka yang ingin membeli bibit dan pupuk. Mereka yang ingin melaut dan mencari ikan dengan membutuhkan solar dan cadangan makanan yang memadai. Kita mesti membebaskan mereka dari jeratan rentenir melalui koperasi,” tegas Hj Khofifah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, Al-Quran sudah menjelaskan bahwa riba adalah haram, zina haram, dan judi haram. Tetapi bagaimana kita bisa menyelematkan umat dari yang haram? Masalah ini membutuhkan penanganan khusus, rancangan matang sistematis, dan gerakan ekonomi terorganisasi.

Ia mengakui bahwa sebuah gerakan ekonomi misalnya tidak harus dikaitkan dengan Muslimat NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Secara individu kalau bisnis jalan, maka ia akan menyejahterakan umat. Ustadzah dan Muslimat NU tidak perlu meminta sekian persen. Cukup jadi amal jariyah Muslimat NU,” kata Khofifah saat mendorong pemasaran produk Susu Kambing Kurma Madu Indonesia (SKKMI) yang akan meluncur bulan depan di pasaran.

“Saya minta tim ini mengikhlaskan produk. Jangan sampai, belum apa-apa organisasi sudah memberatkan. Kita berharap individu kelak berkontribusi buat organisasi. Organisasi cukup memediasi dan memfasilitasi jamaah,” tutup Hj Khofifah yang kini diamanahi sebagai Menteri Sosial RI. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Santri, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Membendung Radikalisme di Kampus

Oleh Wasid Mansyur

--Semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta hari-hari ini mulai kedatangan mahasiswa baru. Berbagai agenda awal rutinan menanti bagi mereka yang terdaftar, misalnya orientasi kemahasiswaan dalam rangka mengenalkan berbagai aktivitas kampus dari kegiatan kependidikan hingga kegiatan organisasi internal  kemahasiswaan.

Kehadiran mahasiswa menjadi petanda bahwa pendidikan tinggi ini masih dipandang salah satu lembaga penting dalam rangka melahirkan kader-kader masa depan sesuai dengan bidang-bidang yang digelutinya, meskipun tidak sedikit di antara anak bangsa itu tidak bisa mengikutinya akibat terjerat problem kemiskinan. Tidak ada harapan dari mereka, kecuali agar mampu memberikan kontribusi bagus bagi keberlangsungan dunia pendidikan di kampusnya masing-masing, sekaligus dari mereka muncul komitmen untuk terus terlibat dalam perbaikan apapun di negeri ini.

Membendung Radikalisme di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membendung Radikalisme di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membendung Radikalisme di Kampus

Namun, harapan itu mengalami beragam tantangan, khususnya berkaitan dengan perubahan cara berpikir mahasiswa yang berbeda bila dibandingkan ketika masih di tingkat Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah. Dalam kondisi transisi pola pikir ini, mahasiswa mudah disusupi ideologi radikal oleh kelompok tertentu dengan ragam bentuknya, dari pendekatan personal hingga penyebaran pamflet yang berisi ajakan penegakan Syari’ah Islam dan Khilafah Islamiyah, termasuk menolak sistem demokrasi yang dipandang sesat.

Tak anyal, penulis dalam salah satu kesempatan di Pusat Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Ampel, melihat keresahan tergambarkan dari para wali mahasiswa agar anak-anak mereka bebas dari segala bentuk radikalisasi. Ketakutan para wali ini cukup beralasan sebab tindakan kelompok radikal dengan nama apapun cukup meresahkan bukan saja dalam konteks keyakinan yang cenderung memaksakan dan memandang yang lain salah, tapi sering kali tindakannya bertentangan dengan spirit nilai-nilai berbangsa yang dibangun di atas pondasi kedamaian dalam perbedaan.

Maka, tidak heran beberapa kampus menjadi incaran, dan tidak sedikit berbagai tindakan radikal dan teror telah melibatkan mahasiswa dari kampus tertentu. Pertanyaannya, siapa yang bertanggungjawab?, padahal kampus adalah arena persemaian terdidik yang mengedepankan tradisi ilmiah, rasional dan pembibitan karakter berkepedulian pada sesama sebagai mana tersirat dalam nilai-nilai Tri Darma Perguruan Tinggi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Perlunya Smart Movement. Munculnya ajakan jihad yang dilangsir media youtobe oleh kelompok radikal yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) baru-baru ini memantik keprihatinan banyak pihak, apalagi ajakan jihad ini dilakukan oleh pemuda Indonesia. Memang, ISIS adalah gerakan lokal, tapi bila ajakannya dibiarkan tidak mustahil mahasiswa dan pemuda lainnya akan tertarik dengan model gerakannya, yang otomatis akan menjadi bom waktu bagi keutuhan NKRI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk itu, dalam konteks kampus perlu gerakan cerdas (smart movement) dalam membendung radikalisasi dengan jenis dan nama apapun, termasuk ISIS. Pertama, perlunya terus mengembangkan dan menebarkan nalar teologis yang lebih menyejukkan di kampus, apalagi dalam kampus-kampus umum yang notabenenya nuansa materi keagamaan lebih sedikit dari pada materi umum.

Bisa dibayangkan, bila kampus tidak melakukan filterisasi ideologi radikal atas materi keagamaan yang diajarkan. Setidaknya, pembibitan baru kelompok radikal akan bermunculan, bahkan kampus tertentu akan menjadi sarang radikalisme. Oleh karenanya, munculnya pesantren mahasiswa (ma’had al-Jami’ah) selama ini di berbagai kampus diakui adalah salah satu alternatif dari langkah membendung radikalisme, di samping peran para pengajar dan civitas kampus dalam memberikan keteladanan untuk menyuburkan teologi toleran dan moderat tidak kalah pentingnya.

Sementara kedua, harus ada orientasi jelas dari keorganisasi keagamaan, baik internal maupun eksternal. Artinya, organisasi kemahasiswaan harus semestinya bebas dari paham radikal dan berideologi keindonesiaan sebab mereka termasuk salah satu stakeholder komunitas kampus. Karenanya, sinergitas pimpinan kampus dengan organisasi mahasiswa menjadi penting agar komitmen pimpinan kampus memerangi radikalisme benar-benar direspon secara baik di level mahasiswa.

Dengan begitu, maka perlu kegiatan atau training apapun dilakukan secara masif agar tercipta dalam diri mahasiswa untuk selalu berkreasi dan berinovasi dalam menatap kehidupan, misalnya training kepemimpinan atau kewirausahaan serta kepenulisan. Pasalnya, pandangan sempit yang dialami para mahasiswa tertentu dalam memaknai hidup acap kali membuat mereka tergoda dalam mengambil jalan pintas untuk melakukan perubahan hidup, apalagi dengan “iming-iming” mendapat kebahagian abadi di Surga melalui semangat jihad.

Akhirnya, gerakan cerdas membendung radikalisme ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama semua civitas akademik kampus,  sekaligus menjadikan radikalisme sebagai musuh bersama. Dengan cara-cara seperti ini, kita berharap radikalisme betul-betul tidak ada di kampus manapun, lebih-lebih di kampus umum karena memang kita hidup di Indonesia dengan nilai-nilai keragaman yang harus dipertahankan melalui sikap saling menghormati dan terus menyuburkan semangat gotong-royong.

 

Wasid Mansyur, Pengurus Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya, Aktivis Lembaga Dakwah NU Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah . Tanggal 5 Oktober merupakan hari bersejarah bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atas instruksi Presiden Sukarno yang oleh ulama Nahdlatul Ulama (NU) diberi gelar Waliyul Amri Dhoruri Bisyaukah. Namun hal jarang diketahui publik, kebersamaan TNI dan ulama bersama mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bhineka ini. 

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

"Panglima Besar Jenderal Sudirman ialah sosok relijius luar biasa. Diangkat sebagai jenderal saat usia 29 tahun dan dengan kondisi beliau sakit parah, harus bergerilya untuk memimpin pasukan, demi kedaulatan negara Indonesia. Beliau dikabarkan sangat dekat dengan rakyat, tidak pernah mengeluh, dan tetap berusaha untuk istiqomah dalam perjuangannya," ujar Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama, di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (6/10).

Peran serta Jenderal Sudirman dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sungguh luar biasa besarnya. Mengkondisikan serangan serentak dari seluruh wilayah bantuan Belanda sehingga menghambat laju tentara Belanda dan berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih ada. Peristiwa ini menimbulkan kecaman dunia internasional, dan berakhir dengan manis, yakni pengakuan kedaulatan Indonesia. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tapi belum sempat menikmati masa damai, beliau harus berpulang, menyongsong haribaan Ilahi," ujar dia lagi.

Ia menambahkan ulama yang mempunyai peran dalam kedaulatan negara adalah Simbah Kiai Haji Machrus Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sosok yang luar biasa berkharisma ini tentu lebih dikenal sebagai begawan ilmu agama yang jarang ada tandingannya. Beliau begitu dicintai oleh seluruh santri dan masyarakat karena terbukti berkhidmah tanpa syarat," tuturnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa Yang Mulia Simbah Kiai Haji Machrus Aly salah satu pengawal NKRI sejati. 

"Beliau turut berperan menginstruksikan pelucutan tentara Jepang di Surabaya dan mengomando 97 santri Lirboyo untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November. Beliau berprinsip untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai hingga titik darah penghabisan," ujar dia lagi.

Hal tersebut, imbuh Shuniyya, yang di kemudian hari menjadi embrio Kodam Brawijaya, penjaga keutuhan NKRI di Jawa Timur. 

"Sehingga tidak heran jika beliau begitu dihormati oleh kalangan militer. Istiqomah beliau sungguh luar biasa. Beliau mengambil jalan tetap berada di pesantren untuk mengawal keilmuan agama. Tidak terbersit untuk menggayuh kekuasaan," paparnya.

Ulama lain penjaga NKRI yakni Singa Karawang alias Yang Mulia Simbah Kiai Haji Nur Ali. "Tokoh kharismatik tersebut tidak diragukan lagi pengabdiannya untuk NKRI. Pada saat perang kemerdekaan, beliau berangkat ke Yogyakarta dan ditemui oleh Jenderal Urip Sumoharjo sebab Jenderal Sudirman sedang tidak ada di tempat. Keadaan negara dalam kondisi genting.”

"Beliau diminta untuk membentuk pasukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak di wadah TKR. Beliau akhirnya membentuk Tentara Hizbullah-Sabilillah dan berkali-kali berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda melalui taktik perang gerilya. Beliau pulalah yang melindungi kelompok orang-orang Kristen yang hendak dibantai oleh pasukan Belanda. Beliau pulalah yang berinsiatif mengibarkan ribuan bendera merah-putih sehingga membuat Belanda marah besar. Atas perjuangan beliau yang luar biasa, beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006," demikian Shuniyya Ruhama. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

 

Keterangan Foto: Wahono (Pangdam V Brawijaya) disambut KH Machrus Aly saat berkunjung ke Pesantren Lirboyo, Kediri. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Lomba, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah