Senin, 11 Desember 2017

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama mengintruksikan kepada pengurus Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang Pergunu untuk melakukan shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi yang meninggal Sabtu (11/3) dini hari.

berikut intruksi tersebut:

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Pimpinan Pusat Pergunu menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. (Wakil Ketua PP Pergunu. Berkaitan dengan wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. tersebut, PP Pergunu mengintruksikan kepada Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Anak Cabang Pergunu se-Indonesia agar menyelenggarakan shalat Ghaib dan Tahlil ditujukan untuk almarhum.



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Surat dengan intruksi bernomor 109/PP Pergunu/3/2017, dikeluarkan 11 Maret 2017 tersebut ditandatangani Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim dan sekretaris Umum H. Gatot Sujono.

H. Akhsan Ustadhi wafat Sabtu dini hari (11/3). Menurut keterangan keluarganya yang dishare di media sosial, ia kecapekan beraktivitas. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 43 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anak. (Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Doa, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak cara yang dilakukan masyarakat dalam memperingati hari sejuta pohon sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Januari. Di Sidoarjo, Jawa Timur, puluhan siswa dan guru sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sunan Kalijogo, Ketimang, Wonoayu, mencabuti paku yang berada di pohon. Aksi ini sebagai upaya melestarikan lingkungan agar pohon tetap tumbuh sehat dan tidak mati.

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon

Puluhan siswa dan guru MI Sunan Kalijogo ini langsung menyerbu beberapa pohon yang berada di depan sekolahan. Dengan menggunakan alat seadanya seperti catut, tang dan palu catut, siswa dan guru ini langsung mencabuti paku yang berada di pohon. Paku-paku ini bekas atribrut atau iklan yang dipasang di pohon oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Dengan antusias, siswa dan guru ini mencabuti paku. Paku-paku ini diduga sudah beberapa bulan berada di pohon sehingga siswa dan guru ini harus mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk bisa mencabut pakut tersebut. Pasalnya, paku tersebut sudah berkarat dan sudah lama berada di pohon.

Salah satu siswi MI Sunan Kalijogo, Riska Nur Amalia mengaku kesulitan saat mencabut paku yang berada di pohon. Karena paku tersebut sudah berkarat. Meski begitu, Riska dan teman-temannya tetap semangat mencabuti paku-paku tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Paku ini sudah berkarat sehingga kami sulit mencabutnya. Tapi alhamdulilah, paku tersebut bisa kami cabut," aku Riska kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (10/1).

Selain mencabut paku yang berada di pohon, puluhan siswa dan guru ini juga melakukan aksi tanam pohon. Sejumlah pohon ini ditanam di sekitar halaman sekolah sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepala sekolah MI Sunan Kalijogo, Achmad Syamsudin mengatakan, bahwa selain makanan dan minuman sebagai kebutuhan hidup manusia, pohon juga merupakan kebutuhan manusia. Pasalnya, manusia bernafas atau menghirup udara yang dikeluarkan oleh pohon.

Oleh sebab itu, pihaknya mengajak kepada para siswa dan guru agar turut berpartisipasi melestarikan lingkungan agar pohon-pohon ini tetap tumbuh sehat dan tidak mati.

"Kami mengajak para guru dan anak didik kami, agar mensosialisasikan kepada masyarakat sekitarnya, bahwa dengan mencabut paku dan menanam pohon ini merupakan wujud sosial terhadap alam, supaya pohon-pohon ini tetap tumbuh sehat," ujar Syamsudin.

Syamsudin mengimbau kepada masyarakat agar tidak memasang iklan di pohon dengan cara memaku atribut iklan tersebut. Agar pohon tidak mati dan manusia bisa menghirup udara yang dihasilkan oleh pohon tersebut. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

Tema Dakwah itu Luas

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menyesuaikan antara tema dan latar belakang pendidikan audiens merupakan hal pokok dalam strategi penyampaian dakwah. Sebab, tanpa mensinkronkan keduanya, pesan-pesan dakwah sulit diterima oleh hadirin. 

Demikian dikemukakan Siti Habibah dalam seminar memperingati Harlah ke-63 Fatayat NU dan Hari Kartini yang ke-13 di aula MWCNU Ambulu, Ahad (21/4). 

Tema Dakwah itu Luas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tema Dakwah itu Luas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tema Dakwah itu Luas

Menurut Habibah, selain mensinkronkan antara tema dan latar belakang audiens, perlu juga dipilih tema-tema aktual sebagai bumbu dakwah. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bumbu-bumbu dakwah itu penting agar audiens bersemangat dan materi dakwah tidak monoton,” tukasnya.

Ketua Anak Cabang Fatayat NU Ambulu itu menambahkan, konteks dakwah itu sangat luas. Dakwah  tidak selalu identik dengan ajakan shalat, bayar zakat dan sebagainya. Namun demikian, yang namanya dakwah intinya adalah mengajak kepada kebaikan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ya intinya amar ma’ruf nahi mungkar walaupun bisa jadi temanya soal politk misalnya,” urai Habibah.

Selain Habibah, hadir juga koordiantor Da’i Fatayat NU Ambulu, Nyai Siti Aisyah Masdib. Ia membahas soal perlunya membangun keluarga sakinah. Meski tidak ada hubungannya dengan dakwah namun peserta cukup  khidmat menyimak pemaparan Siti Aisyah. 

“Untuk menjadi da’i yang baik, perlu dukungan keluarga sakinah,“ kata Siti Aisyah.

Seminar dengan tema “Esensi dan Strategi Dakwah Fatayat NU di era Global” itu sendiri dihadiri oleh 100 orang lebih. Mereka berasal dari utusan 15 anak ranting Fatayat NU Ambulu. Ketua MWCNU Ambulu, Sutikno dan sejumlah kiai, juga mengisi kursi deretan depan. 

Menurut ketua panitia, Uzainatul Latifah, bahwa peserta seminar kali ini diprioritaskan untuk calon-calon da’i dari Fatayat.  

“Jadi ini semacam pembekalan untuk terjun di masyarakat,” ucapnya.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Asisten 1 bidang Pemerintahan dan Sosial H Athoillah Syatori mengajak kepada jamaah Calhaj Brebes untuk mematuhi segala petunjuk yang diberikan oleh para instruktur. Pasalnya, para pemberi materi telah berpengalaman dalam menjalani ritual ibadah haji. Termasuk petunjuk dokter dan tenaga medis, agar terjaga kesehatannya saat menjalani peribadatan.

“Ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik dan psikis, untuk itu kesiapan lahir batin harus dimiliki para calhaj,” kata Athoillah saat membuka bimbingan manasik jamaah calon haji (calhaj) Kabupaten Brebes di Islamic center, jalan Yos Sudarso Brebes, Selasa (11/7).

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis

Para petugas haji, kata Athoillah, biasanya dipaido atau dirasani saat menjalani tugas. Hal ini karena para calhaj mengganggap para petugas haji sudah menguasai seluruh materi ibadah haji dan mampu melayani jamaah dengan sepenuh hati.

Athoillah berpesan, meskipun ada yang sudah menunaikan ibadah haji berkali-kali, namun perkembangan di tanah sangat pesat sehingga perlu mencari hal-hal baru. Alangkah bijaksananya bila seluruh jamaah calhaj mengikuti kegiatan manasik dengan penuh antusias. Bekal ilmu yang disampaikan para pembimbing, akan sangat berguna selama perjalanan ibadah haji.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes menjelaskan, tahun haji 1438/2017 sebanyak 1.169 Jamaah Calon Haji (Calhaj) Kabupaten Brebes bakal diberangkatkan. Saat ini tengah menjalani bimbingan manasik haji massal tahap I berupa teori, di Aula Islamic Center Brebes sedangkan tahap II akan digelar pada 15 Juli mendatang berupa praktek.?

Jumlah tersebut, termasuk para tim petugas haji daerah (TPHD) yang mendampingi para calhaj dari daerah asal, di tanah suci dan hingga kembali ke daerah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, pada tahun 2015, jumlah kuota haji Brebes ?sebanyak 983 orang dan meningkat di tahun 2016 menjadi 1.248 orang. “Jumlah quota Brebes turun untuk tahun 2017 meskipun quota 20 persen dari Arab Saudi sudah dikembalikan yakni sebanyak 1.169 calhaj,” tandasnya.

Kepala Seksi Haji dan Umrah Kemenag Brebes Syauqi Wijaya menambahkan, Calhaj Brebes tergabung dalam empat kelompok terbang (kloter) yakni kloter 8, 51, 52, dan 53. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muslimat NU Grobogan Tanggapi Keluhan Penyakit Rahim Anggota

Grobogan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Grobogan prihatin akan penyakit yang sering dikeluhkan anggotanya, khususnya masalah rahim.

Muslimat NU Grobogan Tanggapi Keluhan Penyakit Rahim Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Grobogan Tanggapi Keluhan Penyakit Rahim Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Grobogan Tanggapi Keluhan Penyakit Rahim Anggota

Pimpinan Muslimat menanggapi permasalahan itu dengan mengadakan seminar kesehatan di Gedung Pendopo Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Ahad (15/12).

Kegitan tersebut diikuti semua pengurus Muslimat mulai dari tingkat cabang hingga tingkat ranting (desa).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah seorang Pengurus Cabang Muslimat NU Kabupaten Grobogan, Sulthonatun mengatakan, tujuan mengadakan kegiatan itu untuk membekali ilmu kesehatan ibu-ibu Muslimat NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir sebagai narasumber dr. Slamet Widodo. Sebelum  narasumber menyampaikan materi, ibu-ibu muslimat terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muslimat sebagai bentuk Nasionalisme.

Di antara materi yang ia paparkan adalah mengenai  penyebab kanker leher rahim. Menurutnya,  99,7% kanker leher rahim terkait secara langsung dengan infeksi sebelumnya dengan Human Papilloma Virus (HPV).

“Cara pencegahan secara primer adalah diperlukan imunisasi HPV, sedangkan cara pencegahan secara sekunder adalah dengan cara memeriksakan diri secara teratur minimal satu tahun sekali untuk dilakukan tes skrining,” jelas dr.Slamet Widodo.

Seusai seminar dilanjutkan Rapat Kordinasi Cabang (rakorcab) membahas mengenai harlah Muslimat dan hari jadi Grobogan. Di akhir acara, ibu-ibu Muslimat itu berdoa dipimpin oleh Seksi Dakwah PC Muslimat NU, ibu Shofiyatun. (Ibnu Muslih/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemuda NU Tasikmalaya Tuntut DPRD Tutup Minimarket Ilegal

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para pemuda NU Kabupaten Tasikmalaya mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi 1 dan 2, untuk menanyakan tindak lanjuti minimarket ilegal di kabupaten tersebut. Pada pertemuan tersebut terjadi adu argumen dari yang berjalan alot.

Pemuda NU Tasikmalaya Tuntut DPRD Tutup Minimarket Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU Tasikmalaya Tuntut DPRD Tutup Minimarket Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda NU Tasikmalaya Tuntut DPRD Tutup Minimarket Ilegal

Salah seorang pemuda NU, Asep Abdul Ropik pada pertemua 4 Januari 2015 tersebut menuturkan pihaknya mendesak penindakan dan penutupan ke 16 minimarket ilegal yang sampai sekarang masih beroprasi dengan batas waktu 2x24 jam.

Menurut dia, keberadaan minimarket tersebut jelas melanggar aturan Perda Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Pembelanjaan dan Toko Modern No 6 Thn 2014, Permendag No 70 thn 2013, dan Perpres No 112 thn 2007, serta SE Menteri Perdagangan No.1310/M.DAG/SD/12/2014 tgl 22 Desember 2014 ttg Perizinan Toko Modern, Gub/Bupati/Walikota, utk sementara tidak mngeluarkan izin usaha toko modern (IUTM).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meski berjalan alot, pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa sebanyak 16 minimarket ilegal dari 47 minimarket yang ada di Kabupaten Tasikmalaya harus ditutup dalam waktu dua kali 24 jam.

Para pemuda tersebut terdiri (GP Ansor, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia (PMII). Turut serta dalam pertemuan tersebut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE Cipasung dan KNPI. Mereka menamakan diri Forum Penyelamat Ekonomi Rakyat (FPER). (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Islam, Antara Prinsip dan Teknis

Oleh Ahmad Nur Kholis

Dalam kehidupan nyata, kepiawaian dalam membedakan antara prinsip-prinsip dasar dan masalah-masalah teknis sangat dibutuhkan. Karena kerancuan dalam memahami dan membedakan kedua hal ini akan berakibat kerancauan beragama. Hal-hal yang merupakan prinsip dianggap sebagai teknis sehingga membuat kita dengan leluasa mengubahnya. Demikian juga hal-hal yang merupakan permasalah teknis sepele bisa dianggap prinsip sehingga mencoba memaksakan sesuatu yang tidak perlu.

Islam, Antara Prinsip dan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Antara Prinsip dan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Antara Prinsip dan Teknis

Prinsip dasar tersebut dalam Islam disebut dengan syariah, sedangkan masalah teknis operasionalnya adalah diatur dalam fiqih. Masalah penegakan hukum Islam itu adalah prinsip yang ada dalam ajaran Islam. Bahwasanya umat Islam harus menegakkan agamanya dan keadilan, itu memang kewajiban dan itu prinsipnya. Namun, bagaimana cara kita menegakkannya, itu masalah teknis yang boleh saja berbeda.  Demikian pula dalam masalah penegakan keadilan. Bagaimana seorang Islam yang menjadi rakyat harus menegakkan Islam dan keadilan, seorang pemimpin harus menegakkan Islam dan keadilan itu bisa saja berbeda.

Sementara kalangan umat Islam berpendapat bahwa kita wajib menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Dan jalannya adalah ‘harus khilafah’. Hal ini adalah mengikat kepada seluruh umat Islam. Semua umat Islam wajib menegakkan syariah dan khilafah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam pandangan penulis, pendapat seperti itu menunjukkan pendapat yang tidak bisa membedakan antara syariah dan fiqih. Karena pendapat tersebut harus dibedakan menjadi dua. Yakni hal-hal yang prinsip tersebut di satu sisi dan hal-hal yang berbau teknis di sisi lain.

Bahwasanya hukum Allah harus ditegakkan maka itu memanglah sebuah kewajiban. Namun, apakah khilafah adalah sebuah kewajiban juga dengan alasan bahwas ia sebagai alat untuk menegakkan hukum Allah? Jawabannya tidak. Karena Khilafah itu hanyalah teknis saja.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Khilafah tidak menjadi wajib karena ia bukan satu-satunya jalan atau alat menegakkan ajaran Islam. Cara yang lain dalam wujud dakwah moral, dakwah sosial juga banyak. Bahkan hal inilah yang dilakukan para pendakwah Islam di Indonesia sejak zaman dahulu.

Dalam kenyataan sejarahnya, Khilafah Islamiyah juga tidak menunjukkan keunggulannya sebagai sebuah pemerintahan dibandingkan model lainnya. Banyak di antara khalifah Islam yang dalam tindakannya sebagai pemimpin melenceng dari ajaran Islam. Hal ini bukan tidak mendapatkan kritikan dari para ulama pada waktu itu.

Para pemimpin Bani Umayyah, contohnya, yang mendapatkan kritikan dan tanggapan negatif dari para ulama di masa itu karena pola hidup elite kerajaan yang cenderung flamboyan dan keluar dari prinsip-prinsip syariat. Bahkan terjadi persaingan tidak sehat di lingkungan kerajaaan sendiri. Praktis khalifah yang dianggap baik dan berada dalam koridor syariat dalam generasi ini hanya Umar bin Abdul Aziz saja.

Kekhalifahan bani Abbasyiyah yang datang pada masa berikutnya juga sama. Selama berabad-abad dinasti ini dipimpin 37 orang khalifah, praktis yang paling baik hanyalah 3, salah satunya Khalifah Harun Al-Rasyid. Yang lain kurang lebih seperti, atau bahkan lebih buruk, dari Pak Harto. Demikian pula pada masa selanjutnya.

Demikianlah, akibatnya jika kita terlalu menyucikan apa yang dinamakan khilafah. Kenyataannya tidak. Karena hal itu adalah institusi politik, bukan institusi agama. Dan mengagamakan politik serta mempolitisasi agama inilah yang keliru. Karena tidak sesuai dengan prinsip agama dalam Al-Qur’an: “wala talbisul haqqa bil bathil.”

Kiai Hasyim Asy’ari dalam buku Fajar Kebangunan Ulama (karya Lathiful Khuluq) tercatat bahwa ia juga pernah belajar kepada pengajur Pan-Islamisme Mesir yakni Muhammad Abduh. Dalam buku itu juga dikatakan bahwa salah satu ajaran Islam Muhammad Abduh yang paling mendasar di mata KH Hasyim Asy’ari adalah persatuan Islam (pan-Islamisme). KH Hasyim menerima ide persatuan Islam tersebut. Tapi, ia menolak ide tidak wajibnya bermadzhab bagi kaum muslimin.

Namun kemudian, ketika Muktamar di Banjarmasin tahun 1936 yang kemudian menjadi keputusan alim ulama, Kiai Hasyim mengatakan bahwa menjalankan syariat Islam di Indonesia adalah wajib tapi menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam tidaklah wajib. Sikap demikian inilah yang dikatakan sabagai kejernihan berpikir. Cara berpikir yang mampu memikirkan bagaimana terlaksananya prinsip-prinsip Islam dan teknis-teknisnya.

*) Penulis adalah guru MTs Nahdlatul Ulama Kepuharjo, Karangploso, Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah