Kamis, 09 November 2017

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. “Buku ini baca, ini amanat dari saya. Selain menikmati bahasa, muatannya sangat bagus, ini dapat menjawab pertanyaan Kiai Abdul Fatah, NU ini bagaimana? NU-nya rusak atau kadernya, atau NU tidak bisa masuk Ipad?”

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Itulah yang disampaikan oleh Ahmad Tohari dalam acara Bedah buku bedah yang berjudul “Sang Penakluk Badai” yang diselenggarakan oleh PWNU DIY, di kantor PWNU DIY jalan MT Haryono Selasa (14/05).

“Sebagai sastrawan buku ini sudah bagus, ini dapat menjawab realitas sosial NU saat ini,” ujar Ahmad Tohari, sastrawan NU berasal dari Banyumas.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dari riwayat yang ditulis, jelas Hadratus Syekh Hasyim Asy ‘ari sangat mempedulikan umat sekarang. Bukan seperti NU saat ini, yang banyak berorientasi empiris. Buku ini, menjawab permasalahan NU,” tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam diskusi yang dilaksanakan pada jam 19:30, ini banyak dihadiri oleh kader-kader NU, terutama para pelajar. Turut hadir juga sebagai pembicara, di antaranya adalah Aguk Irawan Mn dan Ahmad Tohari. Sebelum acara bedah buku tersebut dimulai, ada beberapa tampilan puisi dari para kyai dan sastrawan Yogyakarta.

“Sepulang dari sini, saya berharap baca buku ini” tandas Ahmad Tohari memberi amanah para pengunjung.?

“Menulis buku setebal ini tidak mudah, tapi mas Aguk selaku penulisnya selesai menyelesaikan buku ini, ini merupakan luar biasa,” tambahnya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Solikhin, Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Laila Zahrotul Awaliya, salah satu kader Fatayat NU Kecamatan Ajibarang meraih Juara pertama dalam lomba pemilihan putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas? tahun 2017. Lomba ini diadakan untuk memperingati harlah (Hari Lahir) Ke-67 Fatayat NU, Senin (24/4).

Laila Zahrotul Awaliya yang akrab disapa Awal mengaku sangat senang dan bahagia bisa menjadi juara pertama dalam lomba tersebut. "Ini adalah kado terindah yang saya berikan buat Fatayat NU Ajibarang," katanya ketika diwawancarai.

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Ia mengatakan, juara ini bukan untuk dirinya melainkan dia persembahkan untuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Ajibarang dan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Desa Lesmana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tentunya saya tidak berjuang sendirian, di situ banyak sahabat-Fatayat yang selalu mendukung saya sehingga bisa menjadi juara," jelasnya.

Sebagai juara pertama Awal mendapatkan piala dan uang tunai sebesar Rp 750.000,00 serta berhak memakai mahkota putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas 2017. "Uang tersebut nantinya akan saya berikan untuk kas Fatayat," lanjut Awal.

Ahmad Soim, Suami Laila Zahrotul Awaliya mengaku sangat bangga dengan kiprah gerakan istrinya di Fatayat sertra prestasi yang diraih istrinya tersebut. (Kifayatul Ahyar/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Denpasar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 

Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Denpasar, Bali menerima anggota baru melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA). Kegiatan tersebut berlangsung di desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan 29 September-1 Oktober lalu.

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Pada Mapaba yang diikuti belasan mahasiswa dan mahasiswi itu, panitia pelaksana mengambil tema "Membangkitkan Jiwa Nasionalis serta Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Keadilan". 

Menurut Ketua Panitia Mapaba Agus Irawan, kegiatan itu diadakan untuk mencetak kader PMII yang religius dan nasionalis sebagai pelanjut pergerakan organisasi itu di Denpasar. 

PMII, kata dia, melihat jiwa nasionalis pada mahasiswa dan mahasiswi di Denpasar semakin menurun. Hal itu disebabkan oleh apatisnya terhadap permasalahan yang ada di Indonesia dan adanya sekelompok orang yang ingin menggantikan Pancasila.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan Ketua Komisariat PMII STAI Denpasar Teguh Irwansyah berharap anggota PMII baru itu menjadi kader yang berwawasan kebangsaan dengan pijakan Islam yang rahmatan lil alamin.

“Selain itu dapat memberikan sikap loyalitas terhadap organisasinya," tegasnya.

Ketua PC PMII Denpasar Moh. Nur Wakhid Al-Hadi pada acara penutupan Mapaba mengajak untuk bersama-sama menanamkan rasa haus akan ilmu. 

“Ini adalah modal utama bagi kita untuk menjadi agen of change yang akan mengemban tongkat estafet untuk generasi penerus Bangsa ke depan,” katanya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

1001 Kisah Pohon Kurma

Pohon kurma tumbuh sejak zaman dahulu. Konon, pohon ini sudah tumbuh sebelum manusia diciptakan. Ada kisah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam turun ke bumi ia mendapati bumi ini dihuni oleh barbagai macam tumbuhan. Salah satunya adalah pohon kurma.?

Kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun. Pohon kurma diyakini berasal dari sekitar teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir.

Bukti arkeologis pernah ditemukan dari mumi yang ditutupi oleh tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Selain itu ditemukan juga sebuah pohon kurma utuh di sebuah kuburan kuno di daerah Shakra dan kuburan itu sudah ada sejak 3200 tahun SM (Alvarez-Mon 2006).?

1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)
1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)

1001 Kisah Pohon Kurma

Penduduk jazirah Arab kuno telah memanfaatkan hampir keseluruhan pohon kurma, dari mulai batangnya yang digunakan sebagai tiang-tiang rumah. Pelepah kurma digunakan sebagai atap rumah dan bahan tikar, di samping khasiat buahnya yang banyak mengandung vitamin dan karbohidrat. Kurma adalah makanan yang bisa disimpan sepanjang tahun sebagai penunjang kebutuhan pokok.

Namun bagi umat Islam, kurma lebih dari sekedar buah. Menikmati kurma saat berbuka puasa adalah sunah. Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan”.

Nah, dari sekian banyak cerita tentang kurma, terdapat kisah menggelitik antara Nabi Muhammad dengan menantunya, Ali bin Abi Thalib.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang kumpul bersama. Buah kurma tersaji di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Sahabat Ali yang duduk persis di samping Nabi tanpa sadar telah menghabiskan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain, termasuk milik Rasulullah.

Karena merasa malu atau keisengan sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasulullah. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Nabi.

"Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu." Jawaban Nabi langsung mengundang tawa dari para sabahat lainnya.? (Zunus)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Oleh Ahmad Suhendra

Era 1980-an perbukuan di Indonesia sangat “dibatasi”. Karena Orde Baru masih berkuasa. Reformasi menjadi titik awal menggeliatnya perbukuan di Indonesia. Tumbangnya Orde Baru menimbulkan beberapa kalangan haus dengan buku-buku kritis, seperti filsafat dan wacana kiri. Begitu juga dengan diskursus keislaman kritis yang ikut berkembang pesat. Akhirnya, sebelum tahun 2000-an banyak beredar buku-buku diskursus, yang melahirkan pemikiran-pemikiran segar bagi peta perpolitikan maupun wacana keagamaaan di Indonesia.

Namun, pasca tahun 2000-an geliat konsumsi buku-buku diskursus itu mengalami penurunan. Itu ditandai dengan adanya pergeseran perbukuan di Indonesia, dari buku-buku filsafat ke buku-buku populer, dan dari keislaman kritis ke buku-buku keislaman pragmatis. Sekarang orang cenderung malas membaca buku ‘serius’. Padahal itu yang dapat menggerakkan sebuah peradaban. ?

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Yang juga perlu disayangkan, maraknya buku-buku non-diskursus itu dibarengi dengan semakin populernya buku-buku berbahasa marah. Buku marah dimaknai sebagai buku yang berpandangan sempit dan tidak mau menerima perbedaan. Sebab itu buku semacam ini suka menghujat, mengafirkan dan membid’ahkan golongan lain. Tipe buku yang penuh amarah ini memang bukan sesuatu yang baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun pada abad ke-21 ini, buku penuh amarah bukan saja sekadar bacaan, melainkan sudah menjadi sikap sebagian masyarakat yang suka marah: suka menyalahkan, suka mengafirkan. Di balik buku penuh amarah itu menyimpan banyak misteri, mulai dari politik, ekonomi dan budaya.



Buku Marah Hilangkan Keseimbangan


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat muslim perkotaan (urban) menjadi sasaran utama buku marah. Mereka paling rentan terkena pengaruh dibanding masyarakat muslim pedesaan. Karena muslim perkotaan memegang peranan penting, baik di sektor pemerintahan maupun perkantoran. Selain itu mereka juga heterogen, baik dari tingkat pemahaman keagamaan maupun tingkat pendidikan. Muslim kota disibukkan dengan segala aktivitas dan kerja. Sehingga mereka kering dengan urusan-urusan yang sifatnya spiritual. Maka mereka mencari semacam penawar yang sifatnya religius-spiritual dan mudah dipahami serta instant.

Kehadiran buku-buku marah dalam konteks Indonesia sesungguhnya membawa problem. Pertama, problem kebangsaan. Indonesia terlahir sebagai bangsa yang plural. Plural dari sisi budaya, bahasa maupun agama. Dalam konteks itu dibutuhkan sikap saling menerima, menghormati dan kerja sama. Kedua, problem dari sisi keberagamaan. Sudah berabad-abad muslim di Indonesia saling berinteraksi dalam bingkai pluralitas kebangsaan. Tatanan yang harmonis itu tentu akan rusak jika sesama muslim saling menghujat.

Buku-buku yang berbahasa marah, terutama yang mengidentifikasi diri dari ajaran agama (Islam), ketika lahir dengan penuh amarah, terbukti tak mampu membangun peradaban yang saling menghargai. Ini jelas tak sesuai dengan tradisi Nusantara yang ramah dan santun. Buku dengan bahasa marah justru melahirkan tradisi dan peradaban yang jauh terbelakang. Buku itu telah menghilangkan keseimbangan dalam membangun peradaban Indonesia.

Sebab itu buku-buku berbahasa marah itu harus dilawan dengan menerbitkan buku-buku keislaman yang ramah dan toleran. Buku-buku keislaman yang ramah dan toleran itu mesti menyasar muslim perkotaan. Buku-buku itupun harus dikemas dengan bahasa ringan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat.



Pesantren dan Rumah Bahasa Nusantara


Tidak mudah untuk membendung peredaran buku-buku marah itu. Ini tantangan bagi para penerbit yang mengedepankan Islam yang toleran. Pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga peredaran buku-buku toleran. Pesantren bisa menjadi kantong-kantong beredarnya buku-buku toleran. Proses transformasi keilmuan di pesantren mengkombinasikan budaya Arab dengan budaya lokal.

Untuk itu, perbukuan Indonesia masa depan harus kembali menata visinya yang jelas dan tegas. Bangsa ini harus kembali kepada “Visi Indonesia” yang sudah mempunyai “rumah” sendiri, yakni rumah bahasa yang khas Nusantara. Rumah bahasa yang khas Indonesia selalu emoh dengan bahasa yang marah, bahasa porno dan bahasa yang tidak mempunyai ikatan dengan jiwa Nusantara. Rumah bahasa yang khas Nusantara selalu mengedepankan kesantunan dan keramahan.

Rumah bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal buku-buku model tersebut. Sebab itu, buku-buku itu tidak akan mendapatkan tempat dalam rumah bahasa dan masyarakat di masa mendatang. Buku-buku amarah itu akan hilang dengan sendirinya. Dalam konteks ini, dunia perbukuan Indonesia harus menundukkan setiap hal-ihwal secara proporsional.

Hanya buku yang mempunyai ikatan batin dengan jiwa Indonesia yang bisa eksis dan terus langgeng. Buku yang suka marah, buku yang penuh porno, dan penuh tipu muslihat akhirnya secara teratur hilang dari peredaran. Dengan mendudukkan perbukuan Indonesia dalam konteks jiwa Nusantara ini, maka arah perbukuan bisa menjadi mercusuar peradaban dunia masa depan.

*) Penulis adalah Wartawan Majalah Bangkit dan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Warta, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Nuril Huda berpendapat bahwa perda ketertiban umum yang melarang memberi pada pengemis, menjadi pengamen, pedagang asongan atau pengelap mobil dilematis.

“Persoalannya memang dilematis, disatu sisi kalau kita memberi uang pada pengemis, mereka kadang tak mau berusaha, disisi lain, kalau tidak kita beri, mereka kelaparan,” katanya di PBNU, Jum’at (14/9).

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis

Dalam aturan ketertiban umum yang merupakan revisi dari Perda 11/1988, mereka yang melanggar bisa dikenai pidana kurungan 20 hari sampai 90 hari atau denda Rp 500 ribu hingga maksimal Rp 30 juta.

Kiai Nuril lebih setuju jika dana yang diinfakkan diserahkan kepada lembaga amal, rumah yatim piatu, rumah jompo yang selanjutnya mereka akan mengelola dana tersebut buat yang berhak.

“Kita shodaqohkan atau infakkan harta kita kepada yayasan yatim piatu atau lembaga lainnya, biar mereka yang mengelola anak yatim, pengemis dan lainnya,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Tumbuhnya para pengemis, pedagang asongan dan lainnya di Jakarta diakibatkan oleh magnet yang menjadi daya tarik masyarakat dari daerah untuk datang ke ibukota dengan modal nekat. Karena tidak memiliki keahlian, akhirnya mereka berusaha bertahan hidup dengan segala cara.

“Idealnya, fakir miskin dan anak yatim memang dipelihara oleh negara seusai amanat UUD 1945. Namun departemen sosial yang bertugas mengelolanya memang belum maksimal karena yang miskin memang banyak sekali,” katanya.

Dijelaskannya bahwa sudah sunnatullah di sebuah negara ada orang kaya dan orang miskin. Disinilah peran zakat, infak dan shodaqah bisa membantu mereka yang kekurangan. “Shodaqoh terbaik adalah kepada para saudara yang masih memiliki hubungan darah yang masih kekurangan, ini akan sangat membantu mereka,” paparnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lajnah Falakiyah NU KH Ghozalie Masroeri berpendapat bahwa intervensi pemerintah sah dalam beberapa masalah keagamaan, termasuk dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri demi kemaslahatan ummat.

Demikian diungkapkannya dalam pembukaan Silaturrahmi Nasional Ahli Hisab dan Ahli Rukyah yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) di Ponpes Al Hikmah 2 Benda Bumiayu Brebes, Kamis malam (6/9).

Kiai Ghozalie memberi contoh adanya tiga metode dalam melakukan ibadah haji. Namun demikian, pemerintah memutuskan menggunakan metode haji tamattuk bagi jamaah haji dari Indonesia.

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan

Dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri 1428 H. pemerintah akan melakukan rukyah online pada 11 dan 12 September mendatang yang ditampilkan di TV dari lima lokasi yang mencakup Aceh, Semarang, Bandung, Makassar dan Gresik agar masyarakat bisa melihat secara langsung munculnya awal bulan.

Kiai Ghozalie menjelaskan bahwa pertemuan nasional ahli hisab dan rukyah ini dilakukan untuk menghasilkan rukyah yang berkualitas dilingkungan NU. Terdapat sekitar 100 ahli perwakilan LFNU dan pesantren yang datang dari seluruh Indonesia.

Untuk Ramadhan dan Lebaran mendatang, LFNU siap melakukan rukyah di 31 titik strategis diseluruh Indonesia. Mereka yang melakukan rukyah adalah para ahli rukyah yang sudah bersertifikat agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan rukyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hasil rukyah ini nantinya menjadi masukan dalam sidang istath di departemen agama dan menjadi keputusan PBNU yang diikhbarkan ke seluruh masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelumnya PBNU telah mengadakan pelatihan bagi ahli hisab dan rukyah di Semarang Jawa Tengah. Kegiatan ini diinspirasi oleh perbedaan Idul Fitri antara PBNU dan PWNU Jawa Timur. (mkf)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Sejarah, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah