Rabu, 18 Oktober 2017

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak cara yang dilakukan setiap umat Muslim untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, tak terkecuali Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Tanggulangin Sidoarjo ini.

Dalam memuliahkan Hari Kelahiran Nabi akhir zaman ini, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin bersama ratusan warga se-Kecamatan Tanggulangin mengkhatamkan (khotmil) Al-Quran di masjid Al-Istiqomah desa Gempolsari Tanggulangin Sidoarjo, Ahad (13/12). Kemudian, malam harinya, dilanjutkan dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan membaca diba.

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

"PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin mengajak kepada warga se-Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo untuk turut serta meneladani dan memuliahkan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Agar kita semua senantiasa mendapatkan safaatnya kelak di akhirat," kata ketua PAC IPNU Tanggulangin, M Ilmi Abdillah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Abdillah berharap, momen seperti itu tidak hanya berhenti saat ini saja, akan tetapi bisa terlaksana setiap tahunnya. Menurutnya, dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin Sidoarjo kembali mengingatkan dan mengajak warga NU agar bisa mengikuti jejak-jejak sang Reformasi iman dan Islam ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semoga acara tersebut tidak sekadar menjadi peringatan semata. Namun, kita mampu mencontoh dan mengaplikasikan segala sifat terpuji Nabi Muhammad. Tidak hanya itu saja, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW juga untuk menjaga amaliyah NU yang telah diajarkan oleh para pendiri," tukas Abdillah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Oktober 2017

KH Muhaiminan Gunardo Meninggal Dunia

Temanggung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahi wa inn ailaihi raajiuun, kiai sepuh dari Parakan, Temanggung, KH Muhaiminan Gunardo, petang kemarin sekitar pukul 17.30 meninggal dunia di rumahnya kompleks pondok Kiai Parak, Kauman Parakan. Almarhum meninggal setelah beberapa hari lalu sempat menjalani rawat inap di RS Kariadi Semarang karena sakit liver.

Semalam jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, dengan ditunggui istri, anak-cucu dan para kerabat serta para santri pondok yang diasuhnya itu. Rencananya, jenazah akan dikebumikan di pemakaman umum Kiai Parak, Parakan, pada hari ini sekitar pukul 08.00, setelah sebelumnya dilakukan upacara pemakaman.

KH Muhaiminan Gunardo Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muhaiminan Gunardo Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muhaiminan Gunardo Meninggal Dunia

Mbah Hinan, panggilan akrab KH Muhaiminan Gunardo, dilahirkan di Parakan, 74 tahun lalu. Dia meninggalkan seorang istri, Hajjah Jayidah Muhaiminan, 4 orang anak laki-laki dan 2 orang perempuan. Selain dikenal sebagai kiai karismatik, dia juga merupakan pendiri dan pengasuh pondok pesantren Kiai Parak.

Sedangkan aktivitas berdakwah menjadi kegiatan utamanya selama ini. Selain di Kabupaten Temanggung sendiri, dia seringkali diundang ke kota-kota lain di Jawa Tengah, terutama di kawasan pantura, bahkan juga di luar Jawa. Sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat sering berkunjung ke kediamannya untuk mendapatkan nasihat-nasihat.

Ahli Hikmah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selama ini masyarakat lebih mengenal Mbah Hinan selain sebagai alim ulama yang ahli di bidang agama juga ahli di bidang ilmu hikmah. Tak sedikit yang berhubungan dengan almarhum berkaitan dengan ilmu kekebalan untuk pertahanan diri bahkan tak sedikit yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan. Kiai khos itu telah tiada, selamat jalan Mbah Hinan.

Dunia politik pernah digelutinya dengan menjadi salah seorang pengurus Dewan Syuro DPP PKB sebelum terjadi konflik. Ketika PKB pecah menjadi PKB kubu Muhaimin Iskandar dan Alwi Shihab, dia berafiliasi ke PKB Alwi Shihab.

Adapun di lingkungan NU almarhum masih menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jamiyyah Ahlut Tariqah al Muqtabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan Tariqah Syadzaliyah.

Sementara itu, Bupati Temanggung Irfan mengatakan, KH Muhaiminan Gunardo merupakan seorang tokoh panutan yang sangat dikenal masyarakat luas. Selain itu, beliau juga banyak memberikan sumbangan spiritual bagi kehidupan masyarakat dan perhatian kepada dunia birokrasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan wafatnya KH Muhaiminan Gunardo, bupati dan masyarakat Kabupaten Temanggung merasa kehilangan, tutur Bupati, sembari berdoa agar wafatnya dalam keadaan khusnul khatimah. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wakfuanhu. Amin. (Suara Merdeka)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 16 Oktober 2017

Kepengurusan NU di Daerah Perlu Diisi Berbagai Unsur

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Sekjen PBNU H Abdul Munim DZ mengatakan, stuktur NU harus meliputi keterwakilan berbagai unsur. Pengurus NU di jajaran tanfidziyah atau lembaga dan lajnah di bawahnya tidak hanya berasal dari kalangan kiai.

Kepengurusan NU di Daerah Perlu Diisi Berbagai Unsur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan NU di Daerah Perlu Diisi Berbagai Unsur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan NU di Daerah Perlu Diisi Berbagai Unsur

"Tidak hanya kiai, tetapi juga kalangan ahli ekonomi, kalang pendidikan, dan berbagai kalangan lainya. Unsur-unsur tersebut tujuanya untuk meningkatkan khidmat terhadap umat," kata Abdul Munim dalam seminar ke-NU-an dalam acara Mukercab NU Subang, Senin (31/3) lalu.

Dalam memenuhi khidmat terhadap umat, tutur Munim, ada tiga lembaga yang mesti di perkuat, pertama ada penguatan dilembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, dan Penguatan lembaga ekonomi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kalau tiga lembaga itu sudah kuat, maka NU akan menjadi ormas yang  mandiri dan bisa mendapat kewibawan dari masyarakat maupun pemerintahan, dan NU akan lebih membasis di masyarakat," pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, guna mendapat  dukungan dari PCNU Kabupaten Subang, para calon legeslatif berbondong-bondong ikut menghadiri Mukercab I PCNU Kabupaten Subang yang digelar di pondok pesantren Attawazun, Kalijati, Subang itu.

Adapun Caleg yang hadir dalam acara tersebut Calon DPR RI  Nana Rukamana, Ratih Sanggarwati, DPR RI PP, Oman Warjoman, Caleg DPRD Provinsi, Beny Rudiono,Caleg DPRD Kabupaten Subang, Aan Iswandi Caleg DPRD Subang dan Caleg DPD RI  Eman Suheraman.

Sekjen PCNU Kabupaten Subang, Aep Sepul Zaman, mengatakan, bahwa kehadirian para Caleg tersebut memang sengaja di undang dalam acara ini." Para caleg ini memang orang NU bahkan ada juga pengurus NU, kita memang itu memang sengaja kami undang," ujarnya.

Dengan diundangnya para caleg tersebut, di harapkan para caleg itu  mengerti apa itu NU secara luas, selain, itu diharapkan paham apa yang menjadi tujuan dari pada perjuangan NU." Meski demikian NU tetap merupakan ormas yang berdiri di atas semua golongan, dan tetap menjaga kedaulatan NKRI," paparnya. (Zaenal Mutaqin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 15 Oktober 2017

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Mata Santrinya Berusia 96 Tahun

Purworejo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah -

Di sebuah dusun yang tenang dan damai, bernama Brunosari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tinggal seorang kakek berusia hampir seabad. Ia merupakan sedikit di antara murid langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari – sang? pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia – yang kini masih tersisa.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Mata Santrinya Berusia 96 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Mata Santrinya Berusia 96 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Mata Santrinya Berusia 96 Tahun

Dalam suasana Hari Lahir (Harlah) NU ke-94 pada 16 Rajab 1438 H. ini, reporter Ahmad Naufa Khoirul Faizun dan juru kamera Ahmad Nasuhan menemuinya, dan mengulasnya khusus untuk Anda, pembaca setia Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Untuk menuju kediamannya, kita akan disuguhi pemandangan hijau nan asri. Perbukitan yang tak henti-hentinya bergandeng-gandeng mesra begitu menyejukkan mata. Juga pemandangan para petani yang mengolah sawah, pencari rumput ternak dan suasana alam pedesaan yang jauh dari ingar-bingar kota. Dengan memakai sepeda motor, kediamannya dapat ditempuh satu jam perjalanan dari kota.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum menemukan alamat pastinya, kami menemui Kiai Mahmud Ali, mantan Ketua GP Ansor Anak Cabang Bruno, yang kebetulan sedesa dengan beliau. “Daya ingatnya masih luar biasa, tak seperti orang seumurannya,” ungkap Mahmud Ali, berkomentar tentang sosok santri Kiai Hasyim Asy’ari. Setelah diberi informasi, kami bergerak menuju rumahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika kami menemuinya, sang kakek yang bernama KH Abdullah Bajuri itu datang sendiri ke ruang tamu, tanpa dipapah. Ia memakai kopiah putih, batik dan sarung cokelat. Di usianya yang renta, kesehatan fisiknya seakan lebih muda dari umurnya. Usai bersalaman – mencium? tangannya – kami disilakan duduk kembali. Dengan nada datar, ia menanyakan maksud dan tujuan kedatangan kami. “Di hari ulang tahun Nahdlatul Ulama ini, kami ingin menggali lebih dalam tentang sosok KH Hasyim Asy’ari,” jawab kami.

Setelah kami berkenalan ala kadarnya, kemudian ia memperkenalkan diri dan bercerita tentang sosok gurunya. “Saya lahir tahun 1921, Mas, masuk Pesantren Tebuireng tahun 1938 sampai keluar pas zaman kemerdekaan (1945). Namun saya sempat berhenti setahun, pulang, ketika Jepang masuk,” ujarnya, mengenang masa silam. Kini usia kakek yang ada dihadapan kami ini 95 tahun, hampir genap 96 tahun, sebuah usia yang panjang untuk ukuran sekarang.

“Kiai Hasyim itu orangnya sabar, tak pernah marah. Kalaupun harus marah karena ada santri yang berbuat kesalahan, beliau marah sambil ternyum,” tutur Kiai Bajuri.

Beliau pun melanjutkan cerita. “Pada awalnya, Kiai Hasyim setiap Pon (salah satu nama lekatan hari dalam penanggalan Jawa – pen) pergi ke pasar untuk jualan sapi, ngajinya libur. Sampai-sampai, kalau libur, santri-santri menamainya dengan istilah Pon. Namun ketika saya disana, Kiai Hasyim sudah kaya, mobilnya sudah dua. Padahal ketika itu orang Jawa masih jarang yang punya mobil,” terang Kiai Abdullah. “Uang beliau pun banyak, seakan datang sendiri tiap kali panen. Uangnya belum seperti sekarang, tapi berbentuk koin, ditaruh di kaleng-kaleng. Uang-uang itu, yang menghitung sekitar lima santri, dihamparkan di serambi rumah ketika dihitung. Saya melihatnya sendiri. Beliau sukses dalam bertani gabah, jagung dan ketela. Santri, jika ingin, tinggal ambil sendiri,” kenangnya.

“Pada waktu itu (1938), santri mukim (yang metetap-pen) di Pesantren Tebuireng baru sekitar 1500-an. Ada santri khusus kiai yang jumlahnya 600-700 tiap bulan Rajab sampai 25 Ramadhan. Sedangkan 15 Sya’ban sampai 15 Syawwal libur, diisi santri luar dari seluruh Indonesia. Ada dari Madura, Bawean, Lombok, Bima dll. Yang dibaca adalah kitab Shahih Bukhori-Muslim,” ungkap Kiai Bajuri.

“Kiai-kiai se-Nusantara yang 600-700 itu, urusannya tidak hanya ngaji kitab Bukhori - Muslim. Kalau siang ngaji, dan malamnya dikumpulkan secara bergiliran 150-150, karena aula atas tidak muat waktu itu. Rapatnya tertutup, dijaga oleh beberapa santri. Yang memimpin Mbah Wahab Chasbullah dan diisi oleh Mbah Hasyim. Ini dilakukan selama saya di sana, sampai Indonesia merdeka (1938 – 1945). Mungkin sebelum saya disana juga sudah seperti itu. Acaranya doa bersama, mujahadah, istighosah dan shalat tahajjud,” terangnya, membuat kami semakin penasaran.

Mendengarnya ada ritual tersebut, saya jadi teringat paparan Kiai Muwaffiq dalam Mukernas BEM PTNU di Jogjakarta, 2009 silam. “Mbah Hasyim Asy’ari, ketika membikin Nahdlatul Ulama, meyakinkan dirinya, untuk shalat hajat selama hidup, sampai meninggal, dengan shalat hajat dua rakaat, demi NU dan umat. Jadi, tiap malam dulu beliau shalat dua rakaat dan mendoakan. Cuma rakaat pertama yang dibaca 41x Surat at-Taubah, dan rakaat kedua yang dibaca 41x Surat al-Kahfi. Ini untuk ngetes: sanggup nggak dirinya kalau memperjuangkan Islam,” tuturnya. Apakah ritual bersama para kiai ini yang Gus Muwaffiq maksud, atau yang Mbah Hasyim lakukan sendiri dikamar, saya belum mendapat kejelasan.

Sesekali, kakek yang menurut Mahmud Ali setiap jumat masih rajin mengisi pengajian rutin di Masjid Ismailiyyah – yang tak jauh dari kediamannya – ini menyilakan kami minum teh dan hidangan yang disajikan di meja. Sambil merekan dan mencatat, kami bertanya: apa isi forum tertutup dalam suasana penjajahan itu, selain berdoa? Beliau kembali mengingatnya.

“Lima orang santri berjaga di jalan dan pintu. Semua serba tertutup. Karena penasaran, suatu ketika sewaktu berjaga, saya pernah pura-pura tiduran: menempelkan telinga dibawah pintu. Saya mendengar Mbah Hasyim berpidato di depan para kiai se-Nusantara itu: ‘Jika Indonesia tidak merdeka, Islam tidak akan subur’. Selain itu, saya tidak berani lagi menguping, takut ketahuan, bisa dihukum karena itu sangat rahasia,” terangnya. Ternyata, selain usaha batin, melangitkan doa, juga ada propaganda anti-penjajahan, memupuk spirit islam dan nasionalisme sebagai perlawanan. Semakin nyatalah, bahwa semenjak dahulu, para ulama NU berjuang untuk kemerdekaan Indonesia – baik secara lahir maupun batin – tak mempertentangkan Islam dengan nasionalisme, seperti yang marak dewasa ini.

“Tokoh-tokoh pergerakan nasional sering sowan kepada Mbah Hasyim. Saya pernah mengetahui Bung Karno sowan tiga kali. Kalau Bung Tomo nggak bisa dihitung, saking seringnya. Ketika hendak menurunkan bendera Jepang di Gedung Agung Surabaya, Bung Tomo sebelumnya juga sowan,” katanya.

“Beliau meniatkan diri berjihad, mengunggulkan dan meneruskan agama. Meski dipenjara oleh penjajah Belanda, dan paling lama Jepang, beliau tetap ayem (tenang), sabar, tidak bersedih hati,” tutur Kiai Bajuri, mengenang sosok gurunya. “Yang bagian mengeluarkan (Kiai Hasyim dari penjara) adalah Mbah Wahab,” katanya.

Dalam buku Antologi NU, dijelaskan bahwa pada tahun 1942, karena menolak Saikere, Kiai Hasyim dipenjara oleh fasisme Jepang selama empat bulan, dengan waktu berpindah-pindah: dari penjara Jombang, Mojokerto, hingga Bubutan Surabaya, membaur dengan tawanan Sekutu. Beliau dipenjara Dai Nippon itu akhir April 1942 sampai 18 Agustus 1942.

Dari kesaksian saksi sejarah ini menginformasikan banyak hal: bahwa Kiai Hasyim sosoknya tetap tenang, sabar dan tak sedih, meskipun dipenjara dan di siksa, keyakinan dan prinsipnya kokoh, tak takut, tak goyah melawan musuh. Dan entah mengapa, saya kemudian teringat sebuah ayat Al-Quran, yang intinya bahwa para wali Allah itu tak pernah memiliki rasa takut, tidak pula bersedih hati: Alaa inna auliyaallah la khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun (QS. Yunus: 62).

KH Hasyim Asy’ari, menurut Kiai Bajuri, pengaruhnya sangat besar, baik di kalangan umum maupun kiai. “Beliau jadi ketua apa-apa tidak pernah yang namanya pemilihan, istilah sekarang aklamasi, termasuk ketika berdirinya NU. Kalau sudah ada Mbah Hasyim, semua sudah tidak berani. MIAI (NU, Muhammadiyah, PSII dll) juga aklamasi, dua kali berturut-turut. Kemudian Masyumi,” terangnya.

Pesan-Pesan Mbah Hasyim

Kemudian saya penasaran, adakah pesan-pesan tertentu Kiai Hasyim kepada para santrinya, khususnya yang pernah di dengar oleh santri beliau ini? Jawabannya ada. Diantara pesannya kepada para santri adalah himbuan untuk tidak kebanyakan jajan dan makan. “Koe ning kene lak ngaji, luru ilmu. Nek balik lak ditakokke. Ngerti yo? (Kamu disini ngaji, menuntut ilmu. Ketika pulang kan akan ditanyakan. Tahu ya maksud saya?,” ungkapnya, menirukan nasehat Kiai Hasyim.

“Beliau juga sering berpesan: ‘Nek moco kitab ati-ati, sing ngarang sinten (Kalau baca kitab hati-hati, lihat siapa pengarangnya)’”, imbuhnya. Pesan ini nampak sederhana, namun masih sangat relevan sampai sekarang, dimana banyak orang (ter) sesat karena membaca tulisan di internet, buku atau kitab yang salah, tergiur judul atau sampulnya, lebih-lebih tak ada arahan dari guru.

Ada lagi:”Kowe suk luruo duit nggo ngangkat derajat agomo, ojo agomo nggo luru duit (kamu kelak carilah uang untuk mengangkat derajat agama, jangan jadikan agama untuk mencari uang) ”. Dewasa ini, kita tentu banyak menyaksikan wanti-wanti Kiai Hasyim ini, dimana industri motivasi, spiritual dan ayat-ayat tumbuh bak jamur di musim hujan.

Diberbagai kesempatan, menurut beliau, Kiai Hasyim juga sering berpesan untuk senantiasa takut, bertaqwa kepada Allah. Terakhir, pesan yang masih direkam oleh beliau, sosok yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Bung Karno itu berpesan: “Sregepo nuduhke wong-wong marang barang kang mbejaake dunyo lan akhirat (jadilah orang yang memberitahukan orang lain pada hal-hal yang memberi kemanfaatan di dunia dan akhirat)”.

Dalam kesempatan itu, beliau juga bercerita suasana politik pasca-kemerdekaan, dimana Indonesia diuji oleh berbagai pemberontakan, salah satunya PKI di Madiun.

“Peristiwa 48 itu yang dibunuh pertama kali kiai, dari Madura sampai Termas (Pacitan). Kiai Termas ada 6 yang dibunuh. Saya tahu, karena guru saya termasuk: Gus Habib Termas. Orang? beliau itu tidak apa-apa kok dibunuh, padahal kita tidak sedang perang terbuka atau perang tentara. Saya empat kali ikut perang melawan PKI. Yang ampuh ketika itu menantu Mbah Hasyim, Kiai Idris Cirebon. Di tubuhnya, pedang tidak mempan,” ungkapnya, memberi kesaksian.

Paham NU Tidak Radikal

Kemudian kami menanyakan sosok Kiai Hasyim ketika ada di mimbar. Tentang hal ini, Kiai Bajuri punya jawaban tersendiri. “Mbah Hasyim tidak bisa ceramah, dalam artian tidak seperti orator ulung yang disukai para jamaah. Beliau orangnya lugu, lempeng, lurus kalau berceramah. Seperti khotbah jumat.? Meski begitu, tiap kali beliau dipanggil ke panggung, semua orang langsung fokus, yang sedang ngopi di warung ditinggal untuk mengikuti pengajian beliau,” tuturnya.

Tak hanya itu, Kiai Bajuri juga menginformasikan ayat yang sering dikutip oleh Sang Kiai dalam forum-forum ulama pesantren. “NU itu tidak radikal. Mbah Hasyim sering mengutip surat Ali Imr?n sebagai pedomannya,” tuturnya, dilanjutkan melafaldkan dengan fasih barisan kalam Tuhan yang berusia lebih dari 14 abad lalu.

Fabim? rahmatim minall?h linta lahum, walau kunta fadzdzann ‘ghalidzal qalbi la angfaddhuu min chaulika, fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wasy?wirhum fil amri, faiz? ‘azamta fatawakkal ‘alall?h, innall?ha yuhibbul mutawakkiliin;

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal. (Ali Imr?n: 159)

“Kalau dakwahnya keras, orang bisa lari. Walau disalahkan-salahkan seperti apa, Mbah Hasyim tidak jengkel. Mereka (yang menyalah-nyalahkan) kan tidak atau belum tahu,” tegasnya.

Kalau dalam pidato-pidato untuk orang umum di lapangan besar seperti di Jombang, Kediri, Pare, beliau sering mengutip Surat Al-A’raf.

Walau anna ahlal qur? ?manuu wattaqauu lafatahn? ‘alaihim barak?tim minassam?i wal ardli wal?kin kazzabuu faakhadzn?hum bim? k?nuu yaksibuun.

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka seseuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf: 96)

Tak terasa, sudah satu jam setengah kami bertamu di sore itu. Kami baru menyadari, diluar sudah terdengar gemuruh hujan. Meski begitu, tak enak jika terlalu lama dengan beliau yang telah berusia senja. Kami pamit, mohon undur diri meski membelah hujan yang mengguyur jalanan. Sebelum kami pulang, beliau sempat berpesan, entah itu menerjemahkan pemikiran Kiai Hasyim, pesan untuk kami atau menyoroti fenomena jihad dewasa ini, kami tidak tahu. Dari dan untuk ntuk siapapun pesan itu, yang penting kami tulis disini.

“Jihad itu bi amwa likum (dengan harta kalian) dan angfusikum (diri, pertaruhan jiwa kalian). Jihad nabi dulu membawa pedang, jihad hari ini pedangnya pena,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagai orang yang bergaul lintas batas, KH Wahab Chasbullah bertemu siapa saja. Dari rakyat biasa, pedagang, pemuka agama sampai politisi. Dalam pergaulan itu tak jarang ia harus berdebat dengan kalangan yang ditemuinya.

Menurut sejarawan Choirul Anam, Kiai Wahab sering bergaul dengan kelompok diskusi pendiri Budi Utomo, yaitu Indonesiche studieclub di Surabaya.

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab Ahli Debat Berbekal Fathul Mu’in

Malah, lanjut Choirul Anam, di kelompok diskusi itu, Kiai Wahab kerapkali menjadi pembicara inti. “Seringkali dalam klub Dr Soetomo sendiri mengakui bahwa kalau dia itu berdebat dengan Mbah Wahab itu nggak akan menang,” katanya pada Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara karya H Abdul Mun’im DZ. Launching yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9) tersebut dalam rangka Haul Kiai Wahab yang ke-43.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Choirul Anam menyebutkan pengakuan Soetomo tersebut dalam buku Kiai Abdul Halim Kedung: Perjuangan Kiai Wahab pada halaman 5. Anam memepertegas Kiai Abdul Halim yang dimaksud adalah kiai? Kebon Dalem Surabaya yang sama-sama terlibat di forum diskusi tersebut. “Jadi beliau itu orang pondokan tapi teori-teori debatnya luar biasa,” tambahnya lagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Chorul Anam kembali menukli kembali pengakuan Kiai Abdul Halim. Karena kepandaian debatnya itu, Kiai Abdul Halim pern menanyakannya kepada Kiai Wahab, “’Bagaimana kok bisa berdebat seperti itu?’ tanya Kiai Abdul Halim. ‘Ya sudah Fathul Mu’in itu saja,’jawab Mbah Wahab,” kutip Cak anam.

Chorul Anam juga mengatakan, Kiai Wahab orang sabar menyanpaikan idenya. Ketika NU mau didirikan, 10 tahun sebelumnya ia berkali-kali mengemukakannya kepada KH Hasyim Asy’ari. Setelah 10 tahun bersabar, akhirnya didirikan tahun 1926. Menurut Anam, Kiai Wahab pada waktu itu sampai pada kesimpulan, kalau NU tidak diizinkan, ia akan masuk ke Sarekat Islam dan akan berdebat tiap hari dengan orang-orang yang ada di dalamnya.

“Saya sudah 10 tahun membela ulama pesantren yang dicaci maki karena berpegang pada mazhab. Kita harus berhasil membentuk perkumpulan sendiri. Kalau tidak saya akan lembali mengajar di pondok atau masuk organisasi lain dengan berdebat terus,” kutip Cak Anam dari buku KH Abdul Halim.

Kiai sampai pada pernyataan itu, menurut Cak Anam karena pada waktu itu pertentangan antara kelompok tradisionalis dan modernis di dunia Islam semakin memuncak. Waktu itu arus pembaharuan pemikiran Islam masuk tanah air. Mereka datang dengan semangat memurnikan Islam dengan jargon kembali pada Al-Quran dan Hadits, membasmi bid’ah, khurafat dan takhayul, mengharamkan tahlil, selamatan, maulidan, dan mencaci ulama-ulama karena menganut mazhab.

“Kiai Wahab pada waktu itu berada di geras depan membela pesantren. Bahkan beliau sering melayani debat terbuka dengan kelompok muslim yang disebut pembaharu aatau modernis dalam masalah furu’iyah, ” tegas Cak Anam.

Seusai sarasehan, Cak Anam juga mengemukakan data lain tentang kehalian debat Kiai Wahab. Ia pernah mengalahkan Mbrechten, di pengadilan Semarang. "Saya punya datanya tentang itu," lanjutnya.

Sebagai ahli debat, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Abdul Mun’im DZ menyebut Kiai Wahab sebagai orang yang pandai meyakinkan orang. Ketika NU mau berubah status menjadi partai, kritik muncul dari dalam NU dan luar. Ia dicap sebagai orang yang akan membelah persatuan umat.

“Silahkan Saudara tetap di Masyumi, saya akan sendirin mendirikan Partai NU dan hanya butuh seorang sekretaris. Insya Allah NU akan menjadi partai besar,” kata Mun’im menirukan ucapan Kiai Wahab.

Dalam pemilu 1955 hal itu terbukti. NU menjadi partai terbesar ketiga mendapat 45 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan 93 kursi di Konstituante, ditambah 8 kader NU menjadi menteri.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PCNU Subang Inisiasi Peringatan Hari Santri Setingkat Daerah

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kegiatan peringatan Hari Santri Nasional yang diinisasi oleh PCNU Kabupaten Subang rencananya akan melibatkan Kanwil Kemenag Jawa Barat dan levelnya akan naik menjadi kegiatan Peringatan Hari Santri Nasional tingkat provinsi Jawa Barat.

Demikian disampaikan Kepala Kankemenag Kabupaten Subang H Abdurrohim dalam kegiatan rapat gabungan membahas persiapan Hari Santri Nasional di aula Kementerian Agama Kabupaten Subang, Jumat (13/10).

PCNU Subang Inisiasi Peringatan Hari Santri Setingkat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Inisiasi Peringatan Hari Santri Setingkat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Inisiasi Peringatan Hari Santri Setingkat Daerah

"Awalnya saya melapor rencana kegiatan Hari Santri ini ke Pak Kanwil Jawa Barat karena dalam kegiatan ini Kemenag Subang akan membagikan rekening PIP kepada 500 santri dan ia merespon positif bahkan berencana akan berpartisipasi dalam kegiatan ini," ungkapnya.

Sebelumnya Kanwil Kemenag Jawa Barat memiliki rencana akan menggelar kegiatan Hari Santri Nasional di Bandung pada tanggal 26 Oktober mendatang, namun setelah mendapatkan informasi bahwa PCNU Subang telah bekerja sama dengan Kemenag Subang dan SKPD Subang, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat berkeinginan agar kegiatan peringatan Hari Santri ini digabung supaya lebih meriah, efektif dan efesien.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Keputusan jadi atau tidaknya Insyaallah hari Senin atau Selasa, tapi 70 persen kemungkinan jadi karena Pak Kanwil sudah berkomunikasi dengan Kiai Musyfiq (Ketua PCNU Subang, red) membahas kegiatan ini," imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam rapat yang melibatkan PCNU Subang, SKPD, Kemenag dan Ormas Islam itu, KH Dadan Hamdani yang mewakili PCNU Subang menyampaikan beberapa rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional, yaitu halaqah ulama tarekat Subang, bahtsul masail gabungan tiga zona dan puncaknya adalah apel akbar, kirab dan tabligh akbar yang akan diisi oleh KH Manarul Hidayat.

"Hari Ahad besok kita ada halaqah ulama tarekat, hari Rabu bahtsul masail di kantor PCNU dan Ahad 22 Oktober di Kemenag kita menggelar apel akbar santri dan pelepasan rombongan kirab menuju alun-alun Subang. Puncak kegiatan akan kita laksanakan di alun-alun," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Amalan, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terungkap, Mahasiswa Jepang Ingin Gabung ISIS

Tokyo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Polisi menginterogasi seorang pelajar Jepang Muslim berusia 26 tahun karena dicurigai mencoba untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Syuriah (ISIS) di Suriah, kata media lokal dan juru bicara pemerintah di Jepang, Selasa. 

Pelajar pria itu adalah seorang mahasiswa di Universitas Hokkaido, yang dilaporkan telah merencanakan untuk terbang ke Timur Tengah pekan ini untuk berjuang dengan kelompok IS, yang telah masuk melintasi Suriah dan Irak.

Terungkap, Mahasiswa Jepang Ingin Gabung ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Terungkap, Mahasiswa Jepang Ingin Gabung ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Terungkap, Mahasiswa Jepang Ingin Gabung ISIS

Mahasiswa Universitas Hokkaido itu mengatakan kepada polisi ia "berencana untuk melakukan perjalanan ke Suriah agar dapat bergabung dengan ISIS dan bekerja sebagai pejuang", seperti disampaikan Mainichi Shimbun dan media lainnya di Jepang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menyusun rencana tersebut setelah melihat iklan lowongan pekerjaan yang dimuat di toko buku bekas di Tokyo.

Iklan yang ditampilkan di media NHK itu mengarahkan orang-orang yang tertarik bekerja di Suriah kepada petugas toko.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada iklan lowongan kerja itu disebutkan gaji bulanan sebesar 15.000 RMB atau Yuan (setara 2.400 dolar AS) akan diberikan kepada mereka yang "tidak takut kekerasan" untuk bekerja bersama orang-orang Uighur di Suriah.

Iklan itu menyatakan tidak diperlukan kemampuan berbahasa Tionghoa. Namun, tidak ada penjelasan tentang deskripsi pekerjaan, atau alasan mengapa upah diberikan dalam mata uang Tiongkok (Yuan).

Uighur adalah penduduk Tionghoa Muslim yang tinggal di provinsi Xinjiang, di sebelah barat laut Tiongkok. 

Pemerintah Tiongkok sedang menghadapi meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut, yang diduga disebabkan oleh kelompok separatis Uighur yang dinilai menjadi radikal setelah berhubungan dengan kelompok teroris yang berbasis di luar negeri.

Kebanyakan masyarakat terpelajar memandang skeptis penilaian pemerintah Tiongkok itu, dan berpendapat bahwa pemerintah telah melebih-lebihkan adanya ancaman kelompok separatis untuk membenarkan tindakan kerasnya di Xinjiang.

Sejauh ini, belum ada laporan terkonfirmasi mengenai masyarakat Uighur yang berjuang bersama kelompok ISIS.

Ratusan orang yang sebagian besar pemuda telah melakukan perjalanan dari Eropa dan Amerika Utara untuk bergabung dengan kelompok jihadis, yang telah menyatakan diri sebagai "khalifah" Islam. 

Namun, kejadian pelajar Jepang Muslim ini diyakini sebagai upaya pertama oleh orang Jepang untuk bergabung dengan ISIS. Jepang memiliki populasi Muslim yang kecil, dan kebanyakan merupakan imigran yang relatif baru.

Detektif sampai sekarang masih menyelidiki pemasang iklan lowongan kerja itu, tetapi pihak Yomiuri Shimbun mengatakan si pemasang iklan tidak memberikan rincian identitas dirinya.

Sementara seorang karyawan di toko buku itu mengatakan ia berperan memperkenalkan beberapa orang kepada seorang mantan profesor universitas yang mengajar hukum Islam.

Namun, sampai saat ini polisi belum menemukan hubungan yang jelas antara toko buku itu dengan si pengiklan lowongan kerja di Suriah. Juru bicara kepolisian pun menolak mengomentari kasus ini.

"Kami menyadari bahwa polisi sedang menyelidiki kasus ini berdasarkan hukum pidana, tetapi kami menolak untuk berkomentar lebih lanjut karena hal ini masih dalam penyelidikan," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Soga.

Kyodo News menyebutkan bahwa di bawah hukum Jepang, kegiatan mempersiapkan atau merencanakan "perang melawan negara asing dalam kapasitas pribadi" merupakan tindakan ilegal, yang dapat dijerat dengan hukuman penjara maksimum lima tahun. (antara/mukafi niam) foto: alarabiya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah