Rabu, 11 Oktober 2017

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan generasi muda saat ini, ilmu agama melalui pendidikan Madrasah Diniyah (Madin) sangat penting diberikan sebagai penyeimbang pendidikan di sekolah umum.?

Hal ini disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin saat menghadiri Haflatul Imtihan di Madrasah At Taroqqi ke-23 di Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Ahad (7/5) malam.

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin menghimbau kepada seluruh warga dan wali murid untuk semaksimal mungkin mempersiapkan pendidikan anak-anaknya, baik ilmu agama maupun ilmu umum di sekolah.?

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum

“Habiskan waktu mereka untuk menuntut ilmu. Setelah dari sekolah, segera siapkan mereka untuk mengikuti pelajaran agama Islam di Madrasah Diniyah. Selepas Adzan Maghrib lanjutkan lagi untuk mengaji Al-Quran di mushola-mushola dekat rumah,” katanya.

Tidak berhenti sampai disitu jelas Hasan, setelah itu pada malam harinya ulangi lagi pelajaran-pelajaran yang telah didapat di sekolah. Dengan demikian anak-anaknya akan menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia.

“Pendidikan anak memang butuh biaya yang tidak sedikit. Namun dengan doa dan ikhtiar niscaya Allah SWT akan memberikan jalan. Doakan mereka bersama sholat 5 waktu tepat waktu. Karena waktu sholat adalah waktu istijabah, semua bacaan dalam sholat adalah kumpulan doa dan pahala bacaanya akan dilipat gandakan,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan ini pula, Hasan Aminuddin menghimbau untuk mengamalkan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali untuk menyambut malam Nisfu Syaban yang jatuh pada malam Jum’at depan.?

“Kepada para pemilik usaha warung untuk membuka usahanya menjelang Maghrib saja pada saat bulan Ramdhan yang akan datang. Hormati datangnya bulan Ramadhan ini, bukalah warung di sore hari, menjelang berbuka puasa. Insyaallah, malaikat akan mengintervensi kelancaran rezeki selama sebulan penuh,” pungkasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap jajaran PCNU Kota Kraksaan baik lembaga maupun badan otonom (banom). Tidak ketinggalan pula hadir pula sejumlah ulama dan habaib yang berada di wilayah Kota Kraksaan dan sekitarnya. (Syamsul Akbar/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah

Al-Quran dan hadits sudah jelas menyebut dosa besar yang harus dijauhi oleh bukan hanya pemeluk Islam, tetapi juga non-Muslim. Pasalnya, dosa besar merupakan pelanggaran hukum dan kejahatan yang sejalan dengan common sense, nalar umum. Allah menyediakan sanksi keras bagi para pelaku dosa besar.

Meskipun demikian, Allah SWT tetap membuka lapang karunia dan pintu rahmat-Nya sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Athaillah berikut ini.

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Tak ada dosa besar ketika kau disambut dengan kemurahan-Nya.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelaku dosa besar dianjurkan untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama atau melakukan dosa besar lainnya. Mereka tidak perlu berkecil hati karena pintu tobat dan anugerah Allah masih terbuka.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dosa besar adalah pelanggaran yang pelakunya diancam dengan siksa atau diancam dengan hudud di Al-Quran atau hadits. Sebagian ulama mengatakan, dosa besar bukan yang disebut itu. Apapun itu, semuanya ditinjau secara lahiriah. Sedangkan di sisi Allah, dosa besar ditinjau dari kemurahan dan keadilan-Nya. Kadang fakta yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita duga seperti firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 47, ‘Maka tampaklah bagi mereka dari Allah apa yang mereka tidak perkirakan sebelumnya.’

Mereka yang mendapat inayah dari Allah, tidak akan menjadi sulit karena dosa besar. Mereka adalah orang pilihan Allah yang dosanya digantikan dengan kebaikan. Amal itu memang menjadi tanda yang kadang berbeda untuk sejumlah maqam sehingga harap dan takutnya mengambil porsi 50%-50% pada sejumlah maqam. Kepasrahan mereka sepenuhnya hanya kepada Allah di setiap waktu karena ketentuan Allah telah selesai sehingga tidak berubah. Beberapa ulama mengatakan, ‘Kalau harap dan takut orang beriman ditimbang, niscaya salah satu piring timbangan takkan berat sebelah. Orang beriman itu seperti burung yang terbang dengan kedua sayapnya,’ sebagaimana dikatakan oleh Syekh Zarruq.

Menurut saya, sebuah hadits yang menceritakan seseorang yang sedang dihadapkan dengan 99 dokumen berisi catatan amal buruknya di mana tiap dokumen memiliki panjang sepandangan mata, kemudian muncul secarik kertas seukuran jari yang bertuliskan kalimat tauhid La ilâha Illallâh sehingga catatan kejahatan di banyak dokumen itu tampak keliru, menunjukkan kebesaran tanggungan dan rahmat Allah, serta keluasan cakupan kemurahan dan karunia-Nya,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa keterangan tahun, juz I, halaman 85).

Orang yang melakukan pelanggaran berat masih mendapat kesempatan untuk menerima kasih sayang Allah. Mereka berkesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka tidak boleh berputus asa karenanya mereka tidak boleh menjauh dari Allah.

? ? ? ? ? ? [?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak ada yang disebut dosa besar–baik itu menurut ketentuan syar‘i maupun secara kualifikasi. Itu menjadi kecil, tetapi justru tidak ada sama sekali ketika kau disambut dengan kemurahan-Nya melalui pemberian maaf atau ampunan, dan rahmat-Nya sehingga terlebih lagi tak ada penyiksaan. Bayangkan bagaimana jika kau adalah hamba yang taat. Pada ketaatanmu itu ihsan, penyaksian, dan penglihatanmu bekerja di mana itu terjadi karena kau lenyap dari pandangan atas amal saleh saat mengerjakannya,” (Lihat Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan I, 2008 M/1429 H, halaman 54).

Rahmat dan karunia Allah begitu besar untuk mereka yang melakukan dosa besar. Kabar gembira ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini.

? ? ? ? ? ? (49) ? ? ? ? ?

Artinya, “Kabarkanlah kepada para hamba-Ku bahwa Aku maha pengampun lagi maha penyayang dan sungguh siksa-Ku adalah siksa yang pedih,” (Surat Al-Hijr ayat 49-50).

Hikmah ini bukan anjuran bagi manusia untuk melakukan dosa besar karena kita tidak tahu apakah dosa besar kita akan disambut dengan pada maghfirah dan rahmat-Nya atau dihadapkan pada keadilan dan kebesaran-Nya. Hikmah ini lebih merupakan kabar gembira bagi mereka yang terlanjur berdosa besar agar bertobat serta tidak berputus asa dari rahmat Allah dan tidak mengulangi dosa besarnya. Hikmah ini menunjukkan besarnya rahmat dan karunia Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

Lampung Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harits Dimyati menyampaikan, santri-santri NU selain menguasai kitab kuning dan hidup bermasyarakat harus memahami pilar-pilar negara. Salah satunya adalah mamahami Pancasila. Bagi NU, Pancasila sudah final dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Demikian disampaikan Kiai Harits di hadapan seribu warga dalam rangka khataman kitab Al-‘Imrithi Haflah Akhirussanah di halaman kompleks Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah asuhan Ketua Idaroh Syu’biyyah Jatman Lampung Tengah KH Muhtar Ghozali, Ahad (14/5).

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

“Warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung umumnya dan khususnya di Kabupaten Lampung Tengah harus hati-hati dengan adanya upaya gerakan-gerakan, kelompok Islam radikal yang merongrong Pancasila. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 adalah harga mati. Yang Tidak sepaham dengan Pancasila. Silakan pergi dari Indonesia,” kata Kiai Harits yang juga Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren ini.

“Gerakan merongrong Pancasila jangan-jangan juga menjalar ke para pegawai negeri sipil di Lampung Tengah. Pak Wakil Bupati Lampung Tengah mohon disisir para ASN (aparatur sipil negara) di kabupaten ini. Mereka anti-Pancasila, pemerintah adalah thoghut tapi setiap bulan menerima gaji negara. Pemkab Lampung Tengah harus tanggap dengan kondisi ini,” tegas Katib Suriyah PBNU ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampak hadir pada haflah ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Sekretaris Jatman Lampung Tengah KH Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar, Sekretaris Fatayat NU Lampung Nurhayati, Wakil Bupati Lampung Tengah H Lukman Djoyosumarto, Dosen IAIM NU Kota Metro Lampung Aminan, Kabag Perekonomian Lampung Tengah Ahmad Jailani, Kadis Kominfo Lampung Tengah H Sarjito, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, Camat Punggur, para kepala kampung, anggota TNI dan Polri, dan puluhan generasi muda NU lainnya. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sejarah, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 09 Oktober 2017

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Seiyun, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Forum Lingkar Pena (FLP) Hadramaut yang beranggotakan para pelajar Indonesia menggelar "Pentas Seni Islami" atas kerjasama Ibn Obaidillah Islamic Center di kota Seiyun.

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Acara Rabu (20/3) lalu seyogyanya ditujukan untuk memperingati harlah ke-16 FLP ini bertajuk "Karisma Hadhramaut dalam Ideologi Ke-Indonesia-an."? Grand opening mencuplik senandung Al-Quran yang mencerminkan kandungan pentas seni Islami.

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian beragam suku dan budaya agar kalian saling mengenal, sungguh yang paling mulya diantara kalian adalah mereka yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mewaspadai." (Al Hujurat : 13)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Habib Muhammad Hasan Ibnu Ubaidillah, direktur utama Ibn Obaidillah IC mempersilahkan kepada Miqdarul Khoir, ketua FLP Hadhramaut untuk menyampaikan sepatah dua kata mengiringi pembukaan acara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Marilah kita telaah kembali sejarah nenek moyang kalian dengan bahasa modern, bahwa bilamana suatu relasi ini didirikan atas nama Allah, maka hubungan tersebut akan kekal, berbeda halnya jikalau relasi tersebut dibangun atas nama material, maka tak heran suatu ketika akan berujung pertumpahan darah," katanya mantap.

Sebelum memasuki inti pentas, hadirin sempat dikejutkan dengan film dokumenter berjudul "Hadharim fi Indonesia" yang dicuplik dari channel Al Jazeerah. Sebuah video singkat yang mengungkap pengaruh masyarakat Hadhramaut dalam seluruh element kehidupan Indonesia.

Acara berlanjut dengan pembacaan syair oleh Ahmad Fathur Rahman. Mahasiswa universitas Al Ahgaff ini sukses menitikan air mata mayoritas hadirin malam itu. Gubahan baitnya meranakan kalbu pendengarnya.

Apalagi disusul pencitraan biografi ulama fenomenal dari kota Teris, Hadhramaut, yang akhirnya berhijrah dan berhasil mengubah pola kehiduan masyarakat Palu. Habib Idrus bin Salim Al Jufri, pendiri pesantren Al Khairat, Palu Sulawesi Utara. Habib Alwi Al-Atthas yang merupakan salah satu santri di pesantren tersebut mengungkapkan bahwa tanpa beliau, kota Palu tak akan seperti kota Palu yang sekarang.

Tak kalah mengesankan, dialog interaktif antar hadirin dibuka setelah habib Zainal Aibidin Al Haddar bercerita tentang napak tilas hijrah masyarakat cadas tandus Hadhramaut ke Gujarat hingga akhirnya berujung penyebaran Islam di Indonesia.

Euforia pentas seni yang dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai Negara tersebut mengundang simpatik Habib Ali bin Salim Al Haddad untuk turut aktif menyumbang riset ilmiahnya tentang prestasi Hadhramaut dalam kemajuan Indonesia.

"Sayangnya terjadi pemutar balikan fakta yang menyatakan bahwa hijrahnya para musafir Hadhramaut hanyalah berdasarkan asas dagang, padahal jauh sebelum mereka ada Fatimah binti Maimun pada tahun 700 H menyebar benih Islam, hanya saja sejarah terkesan menutup-nutupi tujuan asal mereka, yaitu berdakwah," pungkasnya menutup.

Acara pentas seni ditutup dengan marawis dengan lagu khas Hadhramaut yang dipandu oleh Shautul Muhibbin, grup marawis dan rebana Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI Al Ahgaff). Turut hadir dekan fakultas Syareat dan Hukum universitas Al Ahgaff, Dr. Muhammad bin Abdul Qodir Alydrus, delegasi universitas Hadhramaut for Sains and Technology, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Yaman) cabang Hadhramaut, Pandi Yusron serta delegasi lembaga kedaerahan lainnya, seperti Padjajaran Jawa Barat, Sulawesi, GAMA Jatim, PPJJ Jateng dan Yogyakarta dan Opisi Sumatra.?

Redaktur ? ? : A. Khirul Anam

Kontributor: Adly Al-Fadlly*

*Koordinator Kaderisasi FLP Hadhramaut

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Jadwal Kajian, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah

Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika ibadah membuat pelakunya ujub pada dirinya sendiri dan angkuh terhadap orang lain yang tidak mengamalkannya, maka ibadah ini menjadi tercela sebagai disebutkan oleh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hikmah ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh jauh-jauh dari sifat kerendahan dan kefakirannya di hadapan Allah. Manusia tidak boleh memakai kebanggaan dan keangkuhan yang menjadi sifat ketuhanan. Ketaatan seseorang bukan alasan baginya untuk bersikap angkuh dan merasa suci sebagai disebut Syekh Ibnu Abbad berikut ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kerendahan diri dan kefakiran adalah sifat kehambaan. Kebanggan dan keangkuhan bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena dua sifat yang disebut terakhir adalah sifat ketuhanan. Tak ada kebaikan apapun pada amal ibadah yang lazim padanya sifat (bangga dan angkuh) yang bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena sifat ketuhanan itu dapat mengugurkan dan membatalkan amal itu sendiri. Sebaliknya, (Allah) tidak peduli pada maksiat yang lazim padanya sifat kehambaan (kerendahan diri) karena sifat itu akan menghapus dan menghilangkan kadar kesalahan maksiat tersebut. Syekh Abu Madyan berkata, ‘Kerendahan diri pelaku maksiat lebih baik daripada kewibawaan orang yang beramal saleh,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 72).

Syekh Ibnu Ajibah mengaitkan masalah ini dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Allah tidak memandang rupa dan amalmu, tetapi hatimu.” Ia dengan tegas mengingatkan bahwa jantung dari hubungan manusia dan Allah adalah adab. Manusia dituntut untuk beradab dengan baik di hadapan-Nya (husnul adab). Allah akan murka jika manusia melakukan su’ul adab kepada-Nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, maksiat yang membuahkan kerendahan diri lebih utama dibanding ketaatan ibadah yang memicu keangkuhan karena tujuan hakiki atas amal ibadah adalah ketundukan, penyerahan, kepatuhan, ketaklukan, dan kerendahan diri sebagai terncantum pada hadits qudsi ‘Aku bersama mereka yang rendah diri demi Aku.’ Kalau sebuah ibadah sunyi dari makna-makna kehambaan, tetapi justru melahirkan benih sifat ketuhanan, maka maksiat yang membuahkan makna kehambaan dan mendatangkan kebaikan-kebaikan lebih utama dibandingkan amal ibadah karena bentuk konkret ibadah (formalitas) atau maksiat tidak menjadi ukuran. Yang jadi patokan adalah hasil atau buah dari keduanya sebagai tercantum pada hadits Rasulullah SAW ‘Allah tidak memandang bentuk rupa dan amalmu. Allah hanya melihat hatimu.’ Buah ibadah harusnya ketaklukan dan kerendahan diri. Sementara efek maksiat adalah kekerasan hati dan keangkuhan. Tetapi jika buah keduanya itu bersalahan, maka hakikat keduanya itu pun berubah di mana amal ibadah lahiriyah itu sejatinya maksiat

dan maksiat lahiriyah itu hakikatnya adalah ibadah... Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Setiap su’ul adab (maksiat secara formal) yang berbuah adab tidak bisa disebut sebagai su’ul adab.’ Syekh Abul Abbas Al-Mursi juga kerap mengimbau para hamba Allah yang terperosok di jurang dosa karena kuasa-Nya untuk melihat keluasan rahmat-Nya... Mahaguru kami berkata, ‘Sebuah maksiat kepada Allah lebih baik daripada seribu amal ibadah dengan nafsu,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Perihal ini, Syekh Ibnu Ajibah mengutip hadits Rasulullah SAW di mana ujub yang melahirkan kebesaran dan keangkuhan merupakan sebuah penyakit berbahaya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau pun kamu sekalian tidak berdosa, aku khawatir sesuatu yang lebih buruk dari itu menjangkiti kamu semua, yaitu ujub’ sebagaimana tercantum pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah SAW juga bersabda, ‘Kalau sekiranya dosa itu tidak lebih baik daripada ujub, niscaya Allah takkan memisahkan seorang mukmin dan dosa selamanya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan hikmah ini dengan moderat. Dengan uraian filosofis ia menyebutkan bahwa idealnya manusia taat kepada Allah lahir dan batin. Menurutnya, ketaatan lahir (formalitas ibadah) tidak menjamin seseorang taat dengan batin kepada Allah.

?: ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, kebaikan yang terkandung dalam ketaatan kepada Allah itu bersifat identik. Sedangkan keburukan yang terkandung dalam ketaatan bersifat tidak identik. Sebaliknya, keburukan pada maksiat bersifat identik. Sedangkan kebaikan yang terkandung pada maksiat bersifat tidak identik. Kebaikan yang terkandung dalam ketaatan dilihat dari kehambaan, ketundukan di hadapan Allah, penyerahan diri kepada-Nya, dan pengharapan karunia-Nya. Sementara keburukan pada maksiat ditinjau dari semua kebalikan sifat ketaatan (bangga dan angkuh). Tetapi ketika sebuah amal ketaatan melahirkan bibit keburukan yang identik pada maksiat (ujub dan angkuh), maka amal ibadah itu bernilai buruk. sebaliknya, ketika sebuah maksiat berbuah kebaikan yang identik pada amal ketaatan (rendah diri dan fakir), maka maksiat (formalitas) itu bernilai baik,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 97).

Singkat kata, Allah menuntut manusia untuk berserah diri, menyatakan kedhaifan dan kefakiran melalui amal ibadah baik lahir maupun batin. Hikmah ini bukan berarti merupakan anjuran Syekh Ibnu Athaillah untuk berbuat maksiat. Kita tetap harus berupaya untuk menaati perintah Allah dan mengejar ibadah sunah. Penekanannya terletak pada sejauhmana manusia menjaga husnul adab di hadapan-Nya dengan sifat kerendahan diri dan kefakiran. Dengan kata lain, ibadah tidak hanya mengandung formalitas, tetapi juga perlu dipertimbangan substansinya. Penulis Al-Hikam ini mengingatkan bahaya ujub yang kemudian memandang orang lain tidak lebih taat, tidak lebih suci, dan tidak lebih baik dibanding orang yang menaati perintah Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 07 Oktober 2017

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggandeng Badan Narkotika Nasional provinsi tersebut untuk melaksanakan bimbingan teknis di lingkungan masyarakat. Hampir semua lembaga dan banom NU di lingkungan PWNU Jatim mengikuti acara yang diselengarakan di Kantor BNNP Jatim Jl Ngagel Madya V/22, Bratang, Surabaya Kamis (15/09).

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

"Kegiatan ini Ini adalah awal untuk pencegahan narkoba. Ini adalah awal yang sifatnya koordinatif untuk memerangi narkoba di Jawa Timur," kata Amrin Remico, Ketua BNNP Jawa Timur, saat memberikan sambutan dihadapan 30 peserta perwakilan PWNU Jatim.

Amir Remico berharap kepada ormas Islam terbesar di Indonesia ini, terus berkomitmen bersama BNNP Jatim menyuarakan bebas narkoba, mencegah lebih baik dari pada mengobati. "Kegiatan ini diharapkan bisa menyentuh pesantren dan bisa masuk pada materi khutbah Jumat," pintanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PWNU Jatim bertekad memerangi penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya. "Dari kita untuk keselamatan generasi bangsa," kata KH Hasan Mutawakkil Alalllah, Ketua PWNU Jatim.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Mutawakkil juga menegaskan bahwa narkoba tidak kalah bahayanya dengan teroris dan radikal. Narkoba ini musuh bersama semua elemen bangsa termasuk NU. "Semua agama mengharamkan penggunaan narkoba, apalagi sekarang narkoba sudah masuk pada generasi muda," tegasnya.

Hal serupa juga disampaikan atas nama NU Jawa Timur, akan terus mensosialisasikan pencegahan narkoba di pesantren, madrasah dan sekolah di lingkungan NU. "Hasil kegiatan ini terus kita kawal hingga nantinya akan melahirkan MoU, pembuatan buku saku (pedoman) kepada santri dan masyarakat umum di tahun depan," pungkasnya. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 06 Oktober 2017

Ada Kebakaran di Pusat Bersejarah Jeddah, 60 Orang Dievakuasi

Jeddah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Insiden kebakaran terjadi di pusat bersejarah di Distrik Al-Balad, Jeddah, Arab Saudi. Si jago merah melalap enam bangunan, tiga di antaranya ambruk, serta menyebabkan 60 orang harus dievakuasi.

Seperti dilaporkan Arab News, peristiwa tersebut berlangsung Selasa (15/8) malam waktu setempat. Tim penyelamat dan petugas pemadam kebakaran telah bergerak menyelamatkan korban.

Ada Kebakaran di Pusat Bersejarah Jeddah, 60 Orang Dievakuasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Kebakaran di Pusat Bersejarah Jeddah, 60 Orang Dievakuasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Kebakaran di Pusat Bersejarah Jeddah, 60 Orang Dievakuasi

Walikota Distrik Al-Balad Sami Nawar mengatakan, keenam bangunan terdampak bernama Al-Qumsani, Al-Ashmawi, dan Abdel-Aal. Sedangkan ketiga lainnya belum dirilis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih dari sepuluh tim pemadam kebakaran dan penyelamat dari Direktorat Pertahanan Sipil Jeddah berupaya menaklukkan kobaran api. Menurut Nawar, pukul 10 malam, petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan sekitar 80 persen api.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Al-Balad adalah pusat bersejarah Jeddah dan pintu gerbang utama menuju kota suci Makkah dan Madinah. Jeddah adalah daerah yang sangat sibuk di musim haji. Di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini juga terdapat bandara terkenal King Abdul Aziz. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah