Minggu, 24 September 2017

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Perguruan tinggi Islam di Indoensia masih menyimpan pertanyaan. Sumber dan arah pendidikan sering terasa jauh dari idealisme pendidikan tinggi Islam. Sebagian terlalu liar sehingga melunturkan nuansa keislamannya, sebagian yang lain terlalu kolot dan tidak ramah. Lalu bagaimana dengan Perguruan Tinggi NU? Adakah revitalisasi atau adaptasi pendidikan model pesantren yang lazim di NU? Apa yang harus dilakukan para kader potensial NU untuk mewujudkan semua ini? Berikut hasil perbincangan Mahbib Khoiron dari Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dengan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Drs HM Mujib Qulyubi, MH, Rabu (7/3), di kantor STAINU Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Menurut Bapak kondisi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia sekarang seperti apa?.
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Saya masih melihat pendidikan tinggi Islam kita di Indoensia mengalami keguncangan. Setelah dulu kita berkiblat ke Timur Tengah, sekarang Islamic studies kita sudah ke Amerika, Australia, dan lainya. Bersamaan dengan itu perguruan tinggi kita sudah banyak yang menjadi universitas. Sedikitnya sudah ada lima IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Ini berakibat kiblat kita mengalami ketidakjelasan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berbarengan dengan itu pula, kita melihat sudah banyak Sekolah Tinggi Agama Islam, IAIN, atau bahkan UIN itu sudah berlomba-lomba untuk membuka fakultas umum untuk disiplin exact, sehingga ciri khas keislaman kita sebenarnya sedang mencari bentuk. Tidak jelas. Ya, secara umum kondisinya seperti itu.

Idealnya, upaya-upaya yang harus dilakukan?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Harus ada pembongkaran kembali tentang disiplin ilmu. Harus ada pembicaraan lebih serius tentang disiplin ilmu menurut Islam. Sehingga nanti, misalnya, ekonomi Islam itu masuk ke mana. Kalau ekonominya masuk ke Dikbud, tapi begitu ada Islamnya masuk ke Departemen Agama. Ada potensi terjadinya rebutan kapling dan tarik menarik. Sehingga kalau ada mahasiswa yang menekuni ekonomi Islam atau ekonomi syari’ah ini kiblatnya ke Depag atau ke Dikbud. Apalagi sekarang ada uforia umat bersyari’ah yang tinggi. Meskipun juga harus digali kembali, maksudnya syari’ah di sini apa. Isinya syari’ahnya itu apa. Jadi sudah tegas, hal-hal yang berbau Islam punya daya tarik tersendiri bagi mahasiswa.

Keguncangan yang Bapak maksud apa terjadi juga di perguruan tinggi NU?. Perguruan tinggi NU tidak bisa dipisahkan dari mekanisme dari perundang-undangan sistem pendidikan nasional yang ada. Mau nggak mau akhirnya ikut terseret, dan ini yang kita sayangkan. Ini terjadi pula di Muhammadiyah, dan perguruan tinggi ormas yang lain. Selama mereka tidak memiliki perguruan tinggi yang representatif, selama belum jelas kita berkiblat ke Dikbud atau ke Menag, ya seperti ini. Ini kita sayangkan. Padahal di NU itu kan punya modal yang sangat bagus di tingkat SLTA yang tidak dimiliki ormas lain, yakni modal pesantren. Di pesantren keilmuan sangat dihargai dan dinamis, tetapi saat memasuki perguruan tinggi, mahasiswa mengulangi materi yang pernah diajarkan. Lulusan pesantren kan umumnya mengambil studi Islam baik di fakultas syari’ah, ushuluddin atau bahasa Arab. NU dirugikannya di sini karena secara keilmuan menjadi turun. Walaupun secara teoritis dan wawasan naik, tapi secara substansi turun. Makanya banyak anak lulusan pesantren di perguruan tinggi merasa santai. Untungnya sebagian dari mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk ekstrakurikuler.

Untuk STAINU sendiri, misi dan proyeksi ke depan kira-kira seperti apa?. STAINU ini sesungguhnya sasaran antara. Tentu kita semua sebagai warga Nahdliyyin harus jujur dan sadar bahwa dunia perguruan tinggi kita sangat tertinggal. Kita selama ini memang lebih banyak menggeluti pesantren atau madrasah. Berbeda dengan teman kita di Muhammadiyah yang banyak bergelut di sekolah dan perguruan tinggi. Sadar akan kondisi ini maka kita tidak boleh diam seribu bahasa. Saya yakin, kita nanti akan mempunyai universitas yang bagus.

Nah, STAINU ini ke depan kita proyeksikan menjadi UNU (Universitas Nahdlatul Ulama). Sudah menjadi prioritas bersama dari PBNU baik dari Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPT NU), Lembaga Pendidikan Maarif NU, bahkan STAINU sendiri dari dalam. Kami sudah berusaha betul dari berbagai segi untuk mewujudkan berdirinya UNU Jakarta. Dari tiga belas program Pak Said (Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, red) selama priode beliau antara lain yang diprioritaskan adalah STAINU Jakarta menjadi UNU Jakarta. Jadi UNU Jakarta cikal bakalnya ya dari STAINU Jakarta ini. STAINU yang selama ini masih menangani prodi-prodi agama, nanti akan menjadi fakultas agama.

Untuk mengantisipasi tergerusnya unsur keislaman di Universitas Nahdlatul Ulama sebagaimana yang Bapak khawatirkan tadi?. Kita akan memperkuat setiap fakultas itu dengan kebutuhan masyarakat. Tentu akan kita sesuaikan dengan kearifan lokal. Misalnya UNU Jakarta akan mengadakan fakultas pertanian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Itu untuk yang materi umum. Untuk yang agama, kita sudah punya basis yang cukup bagus di NU. Kita punya tradisi kuat di kitab kuning. Orang NU itu militansinya tinggi dalam hal agama, tapi argumentasinya kurang.

Nah, di UNU nanti itu khususnya untuk fakultas agama bisa memperkuat amaliyah Ahlussunnah waljama’ah secara aqliyah dan naqliyah, sehingga berimbang. Jadi ajaran NU bisa diterima seperti dulu lagi, ya militan tapi sekaligus dibekali dasar alasan yang kuat. Kita kalau menghadapi ideologi transnasional, Wahabi, kan seringnya marah-marah. Kita tidak bisa mengimbangi dengan apa yang mereka lakukan. Kalau mereka mempunyai sistem yang bagus, ya kita bikin sistem yang bagus; kalau mereka bikin buku, ya kita juga bikin buku; kalau mereka dakwah dengan radio, ya kita lewat radio juga. Artinya, kita tidak cukup memperkuat ahlussunnah wal jamaah dengan pidato-pidato, atau dengan teori-teori yang sudah tidak sesuai dengan keadaan zaman. Mengumandangkan Islam rahmatan lil’alamin, ya melalui perguruan tinggi. Itu yang pertama.

Yang kedua, NU ini kan sudah terkotak-kotak oleh politik. Karena longgarnya NU banyak kader-kader politik ini menyebar di mana-mana. Mereka tidak bisa ketemu dalam satu forum sebab mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Nah, yang mempertemukan mereka ini ya perguruan tinggi, karena di tempat ini mereka dijauhkan dari kepentingan politik. Yang ada adalah kepentingan ilmu. Kita berharap dari perguruan tinggi NU yang bagus ini menjadi poros persatuan umat Islam.

Sebagai tambahan, Kongres ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) beberapa waktu lalu ada yang luar biasa. Kita menemukan bukti riil bahwa intelektual dan sarjana kita ada di mana-mana. Latar belakangnya pun bermacam-macam, ada yang dari PKB, PPP, Golkar, PDI, dan lain-lain. Bagaimana mengaktualisasikan ilmu dari ISNU ini? Saya kira ya di perguruan tinggi ini.

Apakah ada upaya menjadikan ISNU sebagai pihak yang turut berkontribusi di perguruan tinggi NU?. Saya kira ini bukan sekadar upaya, tapi keharusan. Bahkan bukan hanya ISNU saja tapi juga LP Ma’arif, LPT NU, Fatayat, dan lainnya. Mereka semua harus kita rangkul. Kalau memang ada kecenderungan untuk menjadi dosen, dan sudah memenuhi kualifikasi, maka kita rekrut. Jaringan di dalam kita perkuat, jaringan di luar juga kita perkuat. Tanpa itu kita sulit menjadi besar. Saya melihat potensi NU yang sangat besar ini masih tercecer-cecer, belum bersinergi secara utuh.

Untuk jaringan keluar, kita harus cukup terbuka dengan siapapun yang sehaluan dengan kita, bahkan luar negeri sekalipun. Kemarin kita sudah memberikan contoh dengan membuka kerja sama dengan Universias Ibnu Thufail, Universias Sa’ad Ibnu Malik, bahkan beberapa waktu lalu melalui PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa NU)  Mesir sudah dijajaki untuk bisa bekerjasama dengan Al-Azhar University. Kalau di Aljazair kita sudah kontak Dubesnya, Pak Ni’am Saim, dan beliau sudah welcome. Ini yang akan kita rajut menjadi kukuatan perguruan tinggi NU. Tentu yang bebas dari kepentingan politik praktis.

Kalau semua sesuai harapan Insya Allah akan mengembalikan kebesaran tradisi keilmuan di NU, dan otomatis akan membesaran NU sendiri di mata umat. Saya optimis itu.

Tantangan terbesarnya kira-kira apa?. Pertama, SDM (sumber daya manusia) NU kurang terbiasa mengurus perguruan tinggi yang bagus. Betul kata orang, kita masih terbiasa mengurus madrasah atau pesantren. Sehingga mencari figur yang mendudukan lembaga perguruan tinggi yang tidak seperti pesantren itu susah. Seperti saya ini sering dipanggil dengan sebutan “kiai”, lama-lama menjadi pesantren STAINU ini. Akibatnya, dinamika dan demokratisasi berembug menjadi berkurang. Ini harus kita pisahkan, karena perguruan tinggi harus di-manage sebagaimana perguruan tinggi, bukan seperti pesantren.

Kedua, belum ada contoh yang sukses di NU tentang mekanisme dan cara yang bagus. Termasuk belum seimbang antara kuantitas masa dan jumlah perguruan tinggi yang ada. Kalaupun disebutkan Unisma (Universitas Islam Malang) atau Unwahas (Universitas Wahid Hasyim Jombang), itu kan baru satu-dua. Dibanding Muhammadiyah sangat kontras, jumlah perguruan tinggi mereka justru terlalu banyak. Itu sebetulnya juga bukan dosa orang sekarang karena dulu kita memahami sekolah itu seperti Belanda. Akhirnya menempuh pendidikan di pesantren, kemudian jadi kiai, bikin pesantren lagi, begitu seterusnya. Saya ingat tahun 1977 sarjana pertama NU itu Pak Asnawi Lathif. Itu sekitar tahun 60-70an. Dengan gelar “BA” sebagai ketua IPNU banyak dibanggakan oleh orang NU.

Nah sekarang ini tidak seperti ini lagi kita. Kader kita yang sarjana S2, S3, bahkan guru besar sudah sangat banyak, dan sudah merambah ke perguruan tinggi negeri, tidak hanya di perguruan tinggi Islam tapi juga di ITB (Institut Teknologi Bandung), IPB (Institut Pertanan Bogor), UI (Universitas Indonesia), dan lain-lain. Dan sebenarnya juga sedang mencari-cari bagaimana mereka bisa mengabdi untuk NU ini. Saya di STAINU sudah menerima banyak sekali lamaran-lamaran kader-kader NU yang sudah memenuhi kualifkasi S2 dan S3. Jadi kalau kelak menjadi UNU sudah memenuhi persyaratan administratif kualitatif.

Bagaimana mengatur porsi unsur pesantren dalam universitas tanpa harus menghilangkan idealisme universitas sebagai lembaga intelektual yang demokratis?. Saya kira itu sesuai dengan slogan Pak Said untuk kembai ke pesantren. Saya memaknai “kembali ke pesantren” itu bukan kita harus mondok lagi secara fisik, tapi kita kembali ke nilai-nilai pesantren, yaitu ketulusan, kesederhanaan, dan penghormatan tinggi terhadap keilmuan.

Soal penghormatan kepada kiai saya kira menjadi keharusan. Tapi harus kita pilah mana kiai yang punya kapasitas keilmuan dan spiritualitas yang mumpuni sehingga layak dihormati dan mana yang tidak. Dengan kecenderungan kiai politik yang cukup massif sekarang, hal ini menjadi sulit. Kiai dulu tidak banyak berkecimpung langsung di dunia politik, tapi pengabdiannya terhadap umat luar biasa. Nah, hari ini susah sekali menemukan yang seperti itu.

Jadi unsur-unsur pesantren harus tetap ada di perguruan tinggi. Tradisi pesantren harus ada. Tapi soal demokratisasi juga harus tetap ada. Bukan berarti pesantren tidak demokratis, tapi secara manajemen perguruan tinggi dan pesantren berbeda. Perguruan tinggi tidak harus dipimpin oleh figur sentris seperti pesantren. Manajemennya harus kolektif, demokratisasi intelektual harus tetap ada, budaya filsafat ilmu juga harus ada, dialog harus ada, budaya diskusi juga harus hidup. Jadi tidak boleh semua yang dari dosen dan rektor itu benar. Rektor bisa dikasih masukan dan harus menerima masukan. Model pendidikan pesantren cocok diterapkan dengan kultur pesantren, tapi perguruan tinggi punya kultur lain. []

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 September 2017

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh telah berwasiat kepada beberapa kiai Kajen agar dimakamkan di kompleks pemakaman Syeikh KH Ahmad Mutamakkin. Ia mengkaveling tanah makam di sana tiga tahun silam karena berharap bisa dekat dengan leluhurnya.

KH Muadz Thohir yang masih kerabat dekat Mbah Sahal menceritakan hal tersebut kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dan beberapa tamu usai tahlilan mitung dino atau peringatan tujuh hari wafatnya Rais Aam PBNU tiga periode tersebut di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen-Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (28/1) malam.

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)
Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Menurut Pengasuh Pesantren Putri Roudloh At-Thahiriyyah Kajen ini, mula-mula dirinya diajak Pengasuh Pesantren Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kajen KH Junaidi Muhammadun untuk menghadap KH A Nafi’ Abdillah. Mereka berdua ingin mengklarifikasi kebenaran informasi ihwal wasiat Mbah Sahal kepada sepupu Ketua Umum MUI Pusat tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya masih ingat betul, awalnya Pak Jun ngajak saya untuk datang ke Kak Fe’ (Gus Nafi’). Saya tanya, ‘Ada apa?’ Jawab Pak Jun, ‘Sudahlah, nanti juga tau sendiri.’ ‘Jangan begitu, sebenarnya ada apa kok tumben ngajak ke sana?’ Saya masih penasaran,” terang Kiai Muadz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai tiga kali bertanya, lanjut Kiai Muadz, Kiai Junaidi tetap tidak mau bercerita. Lalu, sesampainya di kediaman Gus Nafi’, mereka berdua dikasih cerita oleh Gus Nafi’ tentang wasiat Mbah Sahal tersebut. Gus Nafi’ yang putra Almaghfurlah KH Abdullah Salam (Mbah Dulah) adalah orang yang diberi wasiat tentang makam oleh Mbah Sahal. Sontak, ketiganya tergugu menahan tangis lantaran belum siap ditinggal Mbah Sahal.

“Meski Kiai Sahal jarang mengajar di madrasah (Matholi’ul Falah-red), tapi ruhnya sangat terasa. Jadi, ketika beliau sudah bilang seperti itu rasanya tak lama lagi benar-benar akan meninggalkan kami semua,” ujar Kiai Muadz berkaca-kaca.

Ditanya seputar percepatan acara mitung dino Mbah Sahal, Musytasyar PCNU Pati itu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan wasiat kakeknya, KH Nawawi. Mbah Nawawi khawatir jika tradisi masa lalu itu dipahami layaknya syariat Islam. Oleh karenanya, beliau berpesan agar tidak terjadi hal demikian maka perlu dibuat beda.

“Mbah saya dari bapak mewasiatkan hal itu. Jadi, biar tidak sama persis dengan tradisi Hindu-Budha. Kita bikin netral dan luwes aja waktunya. Tidak harus tepat pada hari ketujuh to,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 September 2017

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Musyarrofah berhasil menyabet juara II pada ajang lomba Game Matematika Bela Negara, Rabu (2/8). Kompetisi ini diadakan oleh Kodim 0826 Pamekasan di Desa Bukek Tlanakan.

Lembaga di bawah naungan LP Maarif NU ini berhasil menyisihkan beberapa sekolah negeri dan swasta yang ada di Kabupaten Pamekasan. Dalam penyerahan hadiah, Musyarrofah diapit oleh Pangdam V Brawijaya dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii.

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Wakil Kepala SMA Maarif 1 Pamekasan Ainul Gurrih merasa bangga atas prestasi yang diraih Musyarrofah. Pihaknya mendoakan semoga prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi yang lain untuk semakin rajin belajar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dan semoga menjadi awal untuk bisa berpartisipasi di ajang perlombaan yang lain, baik lokal, regional, nasional, dan internasional. Dengan begitu, bisa membawa nama baik lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan LP Maarif NU Pamekasan," tukasnya.

Sementara itu, Musyarrofah menyatakan, dirinya merasa bangga dan bersyukur atas prestasi yang diperolehnya. Ia berjanji akan terus belajar guna meraih cita-cita yang diinginkannya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 20 September 2017

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alunan shalawat Nabi mengiringi peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan PBNU, Rabu (16/3) di lantai 8 Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Puluhan Habib Se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) turut hadir meramaikan kegiatan tersebut.?

Setelah pembacaan shalawat burdah, acara disusul dengan sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan perwakilan Habaib se-Jabodetabek Habib Husein bin Hamid Al-Attas.

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Kiai Said mengatakan bahwa banyak orang yang salah paham terhadap konsep Islam Nusantara. “Banyak yang salah paham, tapi mereka tidak mau bertabayun (minta penjelasan atau konfirmasi, red) ke PBNU,” jelas Kang Said.

Kang Said menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Islam dengan budaya, Islam yang bersatu dengan nasionalis, dan Islam yang bersatu dengan kebangsaan. Ia menerangkan bahwa Wali Songo-lah yang menjadi panutan dalam mengembangkan Islam Nusantara yang melebur dengan budaya, toleran, dan ramah.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun puncak konsep Islam Nusantara, imbuh Kang Said, adalah dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari dengan konsep penggabungan Islam dan kebangsaan. ? ?

“Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais,” terangnya.

Demikian, Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. “Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Setuju dengan Islam Nusantara silakan, tak setuju tidak apa-apa,” pungkasnya.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqofah tersebut mengaku kalau istilah dan konsep Islam Nusantara adalah gagasan PBNU. Ia membeberkan bahwa konsep ini dibahas di rapat gabungan Tanfidziyah dan Syuriyah PBNU sebelum akhirnya menjadi tema Muktamar Ke-33 NU di Jombang 2015 lalu.

Sejauh ini, banyak pihak yang tertarik dan ingin mengetahui lebih dalam tentang konsep Islam Nusantara, diantaranya adalah Laurent Booth (adik ipar Tony Blair), Dubes Perancis, Dubes Austria, Dubes Australia, Dubes Inggris, Mufti Ankara, dan Rektor Dar Al-Quran Sudan. ?

Acara tersebut dihadiri juga oleh Habib Abdurrahman Al-Attas, Habib Mahdi, Habib Muhsin Al-Habsyi, Sayyid Abu Bakar Al-Hamid, Habib Zein bin ? Hamid Al-Attas. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendaftaran mahasiswa baru (PMB) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) tahun ke-3 ini, menerapkan sistem PMB secara online. Strategi itu untuk menjangkau mahasiswa yang berada di luar Sidoarjo. Bagi calon mahasiswa dapat mengunjungi laman pmb.unusida.ac.id dan langsung melakukan registrasi.

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Kabag Promosi dan Humas (Promas) Unusida Achmad Wahyudi menjelaskan, waktu pendaftaran terbagi menjadi empat gelombang dengan batas penerimaan mahasiswa sampai tanggal 9 September 2016. Diantaranya jalur prestasi 4 Januari- 29 Februari, reguler I 1 Maret-29 April, reguler II 2 Mei-1 Juli, dan reguler III 4 Juli-9 September. Selama penerimaan tersebut juga diberikan potongan uang gedung sebesar 30 persen.

“Calon mahasiswa mulai sekarang seharusnya sudah aktif mencari informasi jurusan di perguruan tinggi. Sekaligus mereka harus tahu potensi dalam diri mereka masing-masing, agar tidak salah jurusan nantinya,” kata Achmad Wahyudi, Senin (11/1).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Wahyudi, di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya, jurusan yang ada di Unusida sangat prospect untuk membantu mencari kesempatan berkarir. Selain itu, empat fakultas yang terdiri dari 10 program studi yang ada bisa bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Wahyudi menambahkan, panjangnya masa pendaftaran diharapakan bisa dimanfaatkan calon mahasiswa untuk mencari informasi jurusan di Unusida. "Yang terpenting adalah prospect jurusan. Karena itu menentukan masa depan dan kualitas lulusan," tutup Wahyudi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Ubudiyah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah