Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya harus lebih waspada terhadap kemunculan gerakan, paham dan kelompok Islam garis keras yang marak belakangan ini. Karena, sedikitnya tiga masjid milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) di Banyuwangi, Jawa Timur, sudah diambilalih oleh kelompok tersebut.
“Setidaknya yang saya tahu masjid-masjid NU yang sudah diambilalih ada di Purwoharjo, Genteng dan Ketapang,” kata Muhdor Adib, Ketua Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Indonesia (LTMI) dalam perbincangan dengan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (19/2)
Senin, 14 Agustus 2017
Minggu, 13 Agustus 2017
Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air
Sebagai salah seorang ulama Nusantara berkaliber internasional yang kepakaran dan keilmuannya di bidang agama diakui dunia Islam, Syekh Mahfudz bin Abdullah Attarmasi tidak lantas melupakan tanah kelahiranya begitu saja. Ia yang dilahirkan dari daerah kecil di Kabupaten Pacitan yang bernama “Tremas” itu masih tetap berbakti terhadap tanah airnya, Indonesia.
Kecintaanya pada tanah kelahiran, yang pertama diwujudkan dengan seringnya Syekh Mahfudz menggunakan Bahasa Jawa sebagai ciri khasnya saat mengajar para santrinya di Masjidil Haram Mekah. Penggunaan Bahasa Jawa itu tidak terlepas dari banyaknya santri yang berasal dari Jawa. Walaupun tidak sedikit santri yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, India dan Syiria.
Syekh Mahfudz berangkat ke Mekah bersama adiknya, Kiai Dimyathi pada tahun 1872 M. Ia mulai mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1890 M. Sewaktu ayahnya (Kiai Abdullah) wafat pada tahun 1894 M, ia mengirim adiknya, Kiai Dimyathi untuk pulang ke Jawa. Kemudian Kiai Dimyathi inilah yang menjadi kiai di Tremas. Sementara ia tidak kembali ke Nusantara dan memilih berkarir di Mekah.
Tiap musim haji tiba, banyak orang Jawa bermukim di Mekah dan berguru langsung kepada Syekh Mahfudz. Bila santrinya hendak kembali pulang ke Jawa, Syekh Mahfudz selalu menitipkan salam untuk saudaranya yang berada di Jawa. Selain itu, para santrinya juga diminta untuk meneruskan belajar kepada adiknya, Kiai Dimyathi yang kala itu mulai mengasuh Pesantren Tremas.
Ini merupakan cara Syaikh Mahfudz mengenalkan Pesantren Tremas kepada para santrinya sehingga sejak saat itu Pesantren Tremas mulai banyak didatangi para santri dari penjuru Nusantara.
Padahal sebelumnya sulit dibayangkan, Tremas yang terletak di daerah Pacitan yang kala itu sulit dijangkau oleh manusia karena daerahnya yang berbukit-bukit dan masih berupa hutan belantara serta belum tersedianya sarana transportasi yang memadai dapat dikenal luas sebagai tempat untuk menimba ilmu.
Selanjutnya seperti kebanyakan ulama Nusantara lainya, Syekh Mahfudz kembali mengabadikan nama tempat ia dilahirkan dengan menyandangkan nama “Attarmasi” di belakang namanya. Seperti Syekh Nawawi yang menisbatkan nama Banten menjadi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minagkabawi yang menisbatkan nama Minangkabau.
Sedang nama Attarmasi merupakan nisbat dari sebuah desa bernama Tremas. Keterangan lain menyebut “Atturmusi” dan “Attirmisi”, namun nama yang paling populer adalah Attarmasi. Hingga kesohorlah nama Syekh Mahfudz Attarmasi, yang berarti ulama dari daerah Tremas.
Tidak sampai di situ, ia juga menulis nama Attarmasi pada judul kitab yang dikarangnya. Yaitu kitab Hasyiah at-Tarmasi ala Syarah Bafadhal dan Al-Fawaidz At-Tirmisiah ‘ala As-Sanid Al-Qiro’at As’ariyahs.
Asal Mula Nama Tremas
Tremas berasal dari kata Patrem yang berarti senjata atau keris kecil dan Mas berasal dari kata emas yang berarti logam mulia yang biasa dipakai untuk perhiasan kaum wanita. Kata ini berkaitan erat dengan cerita tentang dibukanya sebuah hutan yang akhirnya dinamakan Tremas. Yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah seorang punggawa keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot atas perintah raja keraton Surakarta sebagai hadiah atas jasanya yang telah berhasil mengamankan keraton dari mara bahaya.
Perlu diketahui, bahwa sebelum Ketok Jenggot membuka hutan Tremas, di daerah tersebut sudah ada sekelompok orang yang lebih dahulu datang dan bermukim, yaitu R Ngabehi Honggowijoyo (ayah Kiai Abdul Manan, pendiri pertama Pesantren Tremas). Maka dari itu setelah meminta izin dan memberi keterangan tentang tugasnya, barulah Ketok Jenggot mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka sebagian besar hutan di daerah tersebut.
Setelah tugasnya selesai, senjata Patrem Emas yang dibawanya itu kemudiam ditanam di tempat ia pertama kali membuka hutan tersebut, dan akhirnya daerah yang baru dibukanya tersebut diberi nama “Tremas“.
Melalui cerita singkat ini, sangat tepat apabila seseorang ingin selalu dikenang, maka ia harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Selaras dengan ungkapan “Barangsiapa yang tidak punya tanah air, maka tidak mungkin punya sejarah. Barangsiapa yang tidak punya sejarah, maka akan terlupakan”.
*) Disarikan dari buku Mengenal Pondok Tremas dan Perkembanganya, dan terjemah kitab Al-Minhah Al-Khoiriyyah; Kumpulan 40 Hadits Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdulllah Attarmasi. (Zaenal Faizin)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Kecintaanya pada tanah kelahiran, yang pertama diwujudkan dengan seringnya Syekh Mahfudz menggunakan Bahasa Jawa sebagai ciri khasnya saat mengajar para santrinya di Masjidil Haram Mekah. Penggunaan Bahasa Jawa itu tidak terlepas dari banyaknya santri yang berasal dari Jawa. Walaupun tidak sedikit santri yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, India dan Syiria.
| Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online) |
Cara Syekh Mahfudz Attarmasi Berbakti pada Tanah Air
Sementara beberapa tradisi muslim Nusantara seperti dibaan dan tahlilan pada masa Syekh Mahfudz juga dilakukan dengan baik di sana. Diceritakan, tiap datang bulan maulid, nuansa tradisi muslim Jawa terasa begitu kental. Layaknya tradisi di Jawa, lantunan sholawat nabi dan terbangan bergema di serambi Masjidil Haram.Syekh Mahfudz berangkat ke Mekah bersama adiknya, Kiai Dimyathi pada tahun 1872 M. Ia mulai mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1890 M. Sewaktu ayahnya (Kiai Abdullah) wafat pada tahun 1894 M, ia mengirim adiknya, Kiai Dimyathi untuk pulang ke Jawa. Kemudian Kiai Dimyathi inilah yang menjadi kiai di Tremas. Sementara ia tidak kembali ke Nusantara dan memilih berkarir di Mekah.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Syekh Mahfudz turut mengangkat dan mengharumkan nama pesantren yang didirikan kakeknya, Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, pada tahun 1830 M itu hingga terkenal ke saentero dunia.Tiap musim haji tiba, banyak orang Jawa bermukim di Mekah dan berguru langsung kepada Syekh Mahfudz. Bila santrinya hendak kembali pulang ke Jawa, Syekh Mahfudz selalu menitipkan salam untuk saudaranya yang berada di Jawa. Selain itu, para santrinya juga diminta untuk meneruskan belajar kepada adiknya, Kiai Dimyathi yang kala itu mulai mengasuh Pesantren Tremas.
Ini merupakan cara Syaikh Mahfudz mengenalkan Pesantren Tremas kepada para santrinya sehingga sejak saat itu Pesantren Tremas mulai banyak didatangi para santri dari penjuru Nusantara.
Padahal sebelumnya sulit dibayangkan, Tremas yang terletak di daerah Pacitan yang kala itu sulit dijangkau oleh manusia karena daerahnya yang berbukit-bukit dan masih berupa hutan belantara serta belum tersedianya sarana transportasi yang memadai dapat dikenal luas sebagai tempat untuk menimba ilmu.
Selanjutnya seperti kebanyakan ulama Nusantara lainya, Syekh Mahfudz kembali mengabadikan nama tempat ia dilahirkan dengan menyandangkan nama “Attarmasi” di belakang namanya. Seperti Syekh Nawawi yang menisbatkan nama Banten menjadi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minagkabawi yang menisbatkan nama Minangkabau.
Sedang nama Attarmasi merupakan nisbat dari sebuah desa bernama Tremas. Keterangan lain menyebut “Atturmusi” dan “Attirmisi”, namun nama yang paling populer adalah Attarmasi. Hingga kesohorlah nama Syekh Mahfudz Attarmasi, yang berarti ulama dari daerah Tremas.
Tidak sampai di situ, ia juga menulis nama Attarmasi pada judul kitab yang dikarangnya. Yaitu kitab Hasyiah at-Tarmasi ala Syarah Bafadhal dan Al-Fawaidz At-Tirmisiah ‘ala As-Sanid Al-Qiro’at As’ariyahs.
Asal Mula Nama Tremas
Tremas berasal dari kata Patrem yang berarti senjata atau keris kecil dan Mas berasal dari kata emas yang berarti logam mulia yang biasa dipakai untuk perhiasan kaum wanita. Kata ini berkaitan erat dengan cerita tentang dibukanya sebuah hutan yang akhirnya dinamakan Tremas. Yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah seorang punggawa keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot atas perintah raja keraton Surakarta sebagai hadiah atas jasanya yang telah berhasil mengamankan keraton dari mara bahaya.
Perlu diketahui, bahwa sebelum Ketok Jenggot membuka hutan Tremas, di daerah tersebut sudah ada sekelompok orang yang lebih dahulu datang dan bermukim, yaitu R Ngabehi Honggowijoyo (ayah Kiai Abdul Manan, pendiri pertama Pesantren Tremas). Maka dari itu setelah meminta izin dan memberi keterangan tentang tugasnya, barulah Ketok Jenggot mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka sebagian besar hutan di daerah tersebut.
Setelah tugasnya selesai, senjata Patrem Emas yang dibawanya itu kemudiam ditanam di tempat ia pertama kali membuka hutan tersebut, dan akhirnya daerah yang baru dibukanya tersebut diberi nama “Tremas“.
Melalui cerita singkat ini, sangat tepat apabila seseorang ingin selalu dikenang, maka ia harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Selaras dengan ungkapan “Barangsiapa yang tidak punya tanah air, maka tidak mungkin punya sejarah. Barangsiapa yang tidak punya sejarah, maka akan terlupakan”.
*) Disarikan dari buku Mengenal Pondok Tremas dan Perkembanganya, dan terjemah kitab Al-Minhah Al-Khoiriyyah; Kumpulan 40 Hadits Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdulllah Attarmasi. (Zaenal Faizin)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama
Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sudah menjadi kebiasaan mayoritas muslim di Indonesia pada momentum Lebaran tidak ketinggalan mengadakan tradisi yang dinamakan Halal bihalal. Acara yang rutin digelar oleh masyarakat di bulan Syawal sejak puluhan tahun silam ini diyakini sebagai tradisi yang selaras dengan ajaran Islam.
Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.
Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.
Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.
Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.
Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.
"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Khutbah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
| Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online) |
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama
Masyarakat dari generasi ke generasi berupaya melestarikan tradisi Halal bihalal bukan tanpa sebab. Misal yang dijalani oleh keluarga besar keturunan Mbah Mastam dan Mbah Zonah. Pasangan yang wafat puluhan tahun silam itu pernah tinggal di desa Papringan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai 7 anak, kemudian hingga kini beranak pinak sampai melahirkan anak, cucu dan cicit yang jumlahnya sudah ratusan.Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.
Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.
Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
"Kalau berkumpul seperti ini rasanya senang bukan? Rasanya kita ingin berlama-lama sebab setahun ada yang tidak bertemu," tutur kiai Masykuri di hadapan ratusan anggota keluarga Bani Mastam-Zonah, Jumat (8/7) siang, di salah satu kediaman keluarga di desa Daren, Jepara, Jawa Tengah.Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.
Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.
"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Dari Nu Online: nu.or.idAhmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Khutbah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Ansoruna GP Ansor Karanganyar Rintis Tabungan Kader
Karanganyar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) Ansoruna di bawah naungan GP Ansor Karanganyar saat ini tengah gencar menyosialisasikan program tabungan kepada kader Ansor di daerah lereng gunung Lawu. Sosialisasi ini dimaksudkan untuk memperkuat peran koperasi dan kemandirian ekonomi keder.
Langkah konkret sosialisasi tabungan ialah membagikan kotak tabungan kepada semua kader Ansor, agar para kader dapat menabung di Ansoruna.
“Kotak tabungan tersebut diberikan kepada setiap kader Ansor di masing-masing pimpinan anak cabang, kotak tersebut diambil setiap bulan oleh petugas Ansoruna,” tambahnya.
“Tabungan itu nanti akan diambil setiap bulannya, dan dari tabungan tersebut para kader diminta untuk menyisihkan hasil tabungannya untuk kas PAC secara sukarela,” terang Arif.
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Langkah konkret sosialisasi tabungan ialah membagikan kotak tabungan kepada semua kader Ansor, agar para kader dapat menabung di Ansoruna.
| Ansoruna GP Ansor Karanganyar Rintis Tabungan Kader (Sumber Gambar : Nu Online) |
Ansoruna GP Ansor Karanganyar Rintis Tabungan Kader
“Ansoruna Karanganyar merupakan lembaga perekonomian kini memilki program kotak tabungan bagi setiap kader Ansor di Karanganyar,” ujar Direktur Ansoruna Arif Riyadi kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah pada pertemuan kader PAC GP Ansor Jenawi, Jumat (11/4) malam.“Kotak tabungan tersebut diberikan kepada setiap kader Ansor di masing-masing pimpinan anak cabang, kotak tersebut diambil setiap bulan oleh petugas Ansoruna,” tambahnya.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Dengan program itu, ternyata minat kader Ansor sangat tinggi. Di PAC GP Ansor Mojogedang, setiap bulannya tabungan dari para kader berhasil terkumpul 7 juta. Setiap bulannya hasil tabungan itu terus bertambah. Ini baru satu kecamatan. Sedangkan Karanganyar memiliki 12 kecamatan, ujar Arif.“Tabungan itu nanti akan diambil setiap bulannya, dan dari tabungan tersebut para kader diminta untuk menyisihkan hasil tabungannya untuk kas PAC secara sukarela,” terang Arif.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Karenanya, program itu sangat penting agar setiap PAC mandiri khususnya para kadernya. Arif berharap dengan program ini dapat tercapai maksimal. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
KH Syaroni: Sebarkan Islam Seperti Sunan Kalijaga
Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Syaroni Ahmad dari Kudus merasa prihatin dengan munculnya berbagai kelompok Islam garis keras dan radikal. Ia meminta para ulama, kiai dan umaro untuk selalu waspada namun tetap arif dan bijaksana.
"Akhir akhir ini ada beberapa orang atau kelompok yang mengatasnamakan mubaligh maupun ulama yang dalam menyampaikan dawahnya selalu memaksakan pendapatnya agar dianut dan diterima dan ini sangat memprihatinkan bagi umat Islam itu sendiri," kantanya.
"Sunan kali jaga itu punya gong sekaten (syahadatain), beliau berdakwah atau mulai pagelaran wayang kalau gong sudah berbunyi, la gong dipukul kalau semua yang hadir sudah bersahadad," tambah kiai Syaroni.
"Masyarakat Demak berniat membangun umat dan mental masyarakatnya dan itu butuh dukungan dan kerja sama para alim, tokoh, kiai dan umaro se kabupaten Demak," demikian pinta Dachirin dihadapan 600-an ulama dan umaro di pendopo kemaren
Dachirin juga menyampaikan bahwasannya dalam menindaklanjuti program semacam itu juga dilakukan di tingkat kecamatan yang melibatkan kiai desa.
"Silaturrahmi ini akan kami lanjutkan di tingkat kecamatan kalau tahun kemaren hanya sekali dalam setahun maka tahun depan kita lakukan dua kali dalam setahun," paparnya.
Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam
Kontributor: A.Shiddiq Sugiarto?
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
| KH Syaroni: Sebarkan Islam Seperti Sunan Kalijaga (Sumber Gambar : Nu Online) |
KH Syaroni: Sebarkan Islam Seperti Sunan Kalijaga
Demikian disampaikan KH Syaroni Ahmad saat menyampaikan mauidhotul hasanah di hadapan ulama, kiai dan umaro sekabupaten Demak dalam rangka pertemuan rutin antara ulama umaro yang diselenggarakan oleh forum komunikasi ulama umaro se Kabupaten Demak di pendopo kabupaaten Demak, Ahad (18/11) lalu."Akhir akhir ini ada beberapa orang atau kelompok yang mengatasnamakan mubaligh maupun ulama yang dalam menyampaikan dawahnya selalu memaksakan pendapatnya agar dianut dan diterima dan ini sangat memprihatinkan bagi umat Islam itu sendiri," kantanya.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Kiai Sya;roni mengimbau agar para ulama meniru cara dakwah Wali Songo. Ia menyontohkan,Sunan Kalijaga yang selalu menggunakan cara budaya adat yang mudah dan bisa diterima oleh umat itu secara halus dan tidak adanya unsur kekerasan sesuai dengan cara yang dilakukan para Nabi."Sunan kali jaga itu punya gong sekaten (syahadatain), beliau berdakwah atau mulai pagelaran wayang kalau gong sudah berbunyi, la gong dipukul kalau semua yang hadir sudah bersahadad," tambah kiai Syaroni.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Bupati Demak H Dachirin Said dalam sambutannya memaparkan program pemkab Demak dalam membangun sikap dan mental masyarakat Demak. Diantaranya menjalin kerjasama dan saling dukung antara pemerintah, ulama, kiai dan tokoh masyarakat Demak."Masyarakat Demak berniat membangun umat dan mental masyarakatnya dan itu butuh dukungan dan kerja sama para alim, tokoh, kiai dan umaro se kabupaten Demak," demikian pinta Dachirin dihadapan 600-an ulama dan umaro di pendopo kemaren
Dachirin juga menyampaikan bahwasannya dalam menindaklanjuti program semacam itu juga dilakukan di tingkat kecamatan yang melibatkan kiai desa.
"Silaturrahmi ini akan kami lanjutkan di tingkat kecamatan kalau tahun kemaren hanya sekali dalam setahun maka tahun depan kita lakukan dua kali dalam setahun," paparnya.
Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam
Kontributor: A.Shiddiq Sugiarto?
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Sabtu, 12 Agustus 2017
Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga?
Klaten, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah -
“Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna “berbeda-beda tapi tetap satu” menjadi semboyan bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku, ras, agama dan sebagainya, akan tetapi dapat dipersatukan dalam sebuah negara.
Dari literatur sejarah yang populer diajarkan di dunia pendidikan kita, kalimat ini merupakan kutipan yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup sekitar pada masa abad ke-14.
Namun, tidak demikian menurut sejarawan, Prof. Ahmad Manshur Surya Negara. Ia berpendapat filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” ini, justru dicetuskan oleh Sunan Kalijaga sewaktu membangun masjid yang soko (tiang), dari potongan kertas dan kayu.
Pada acara yang bertema “Peran Ulama Dalam Menghantarkan Indonesia Menuju Kemerdekaan” itu, Ahmad Manshur juga menyinggung soal simbol negara Indonesia, burung Garuda, yang di dalamnya terdapat simbol dan lambang.
Pada kesempatan itu, diungkapkan penulis buku "Api Sejarah" itu, bahwa teks Proklamasi yang ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta, diproklamirkan setelah meminta restu dari Hadratussyaikh? KH Hasyim Asyari. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna “berbeda-beda tapi tetap satu” menjadi semboyan bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku, ras, agama dan sebagainya, akan tetapi dapat dipersatukan dalam sebuah negara.
Dari literatur sejarah yang populer diajarkan di dunia pendidikan kita, kalimat ini merupakan kutipan yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup sekitar pada masa abad ke-14.
Namun, tidak demikian menurut sejarawan, Prof. Ahmad Manshur Surya Negara. Ia berpendapat filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” ini, justru dicetuskan oleh Sunan Kalijaga sewaktu membangun masjid yang soko (tiang), dari potongan kertas dan kayu.
| Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga? (Sumber Gambar : Nu Online) |
Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga?
“Hal tersebut bermakna bahwa meskipun beraneka ragam, kecil, dan banyak tetapi bila menjadi satu akan menjadi kuat dan kokoh, layaknya tiang ini,” terang guru besar sejarah Universitas Padjajaran tersebut, pada acara “Ceramah Ilmiah” yang diselenggarakan PCNU Klaten, di Kantor NU Klaten, Jawa Tengah, Jumat (18/11) malam.Pada acara yang bertema “Peran Ulama Dalam Menghantarkan Indonesia Menuju Kemerdekaan” itu, Ahmad Manshur juga menyinggung soal simbol negara Indonesia, burung Garuda, yang di dalamnya terdapat simbol dan lambang.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Simbol Garuda ini diciptakan oleh Sultan Hamid II Kesultanan Pontianak atas permohonan Bung Karno, yang beliau contoh dari Rajawalinya Sayyidina Ali,” ungkapnya.Pada kesempatan itu, diungkapkan penulis buku "Api Sejarah" itu, bahwa teks Proklamasi yang ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta, diproklamirkan setelah meminta restu dari Hadratussyaikh? KH Hasyim Asyari. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
PWNU Jatim Bantu Bina Mantan Penghuni "Dolly"
Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mendukung upaya Pemerintah Kota Surabaya yang akan menutup lokalisasi atau tempat prostitusi Dolly dan akan membantu proses pemulihan di masyarakat para mantan penghuni lokalisasi tersebut.
Mutawakkil mengatakan PWNU Jatim siap memberikan dukungan tertulis yang melibatkan seluruh pengurus NU mulai dari pengurus wilayah hingga level anak ranting.
"Sebenarnya, penutupan ini merupakan keinginan lama yang baru terealisasi saat kepemimpinan Bu Risma, karenanya kami akan mendukung total langkah pemkot ini. NU juga siap bekerja sama dengan aparat keamanan bilamana dibutuhkan," tegasnya.
Menurut Risma, menutup kawasan prostitusi sejatinya bukan perkara sulit. Namun, yang perlu mendapat perhatian lebih dari pemkot yakni pengondisian pascapenutupan.
"Kalau sekadar menutup, sekarang pun bisa. Tapi masalahnya, kami harus menyiapkan tindakan pascapenutupan. Pengondisian itu jauh lebih berat karena sangat menentukan keberlanjutan kawasan tersebut," katanya.
Sebagai gambaran, lanjut dia, untuk kawasan eks lokalisasi Sememi dan Klakahrejo, pemkot mengalokasikan anggaran sebesar Rp28 miliar.
Dana tersebut digunakan membangun pasar, sentra PKL, dan sejumlah sarana fasilitas umum lainnya. Dengan demikian, warga penghuni eks lokalisasi mendapat peluang kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Ditanya apakah upaya revitalisasi Dolly memerlukan persetujuan warga sekitar, ia menegaskan bahwa proses penutupan lokalisasi terus berjalan kendati tanpa persetujuan karena berdasar Perda 7/1999 secara jelas menyebutkan bahwa kawasan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal, bukan tempat prostitusi.
"Dengan landasan perda tersebut pemkot berhak mengambil tindakan untuk kebaikan kota, sehingga untuk penutupan lokalisasi itu tidak diperlukan persetujuan apa pun," terang Risma.
Adapun salah satu alasan kuat wali kota ingin segera merombak kawasan Dolly dan menjadikannya sentra bisnis adalah keprihatinan akan kondisi sekolah.
Risma mengaku beberapa kali mengunjungi sekolah yang terletak di kawasan prostitusi yang hasilnya memprihatinkan.
Anak-anak di lingkungan lokalisasi cenderung minder, malu, rendah diri, dan lebih parah lagi ada yang sampai frustasi.
Belum lagi, geliat bisnis prostitusi akan mempengaruhi tumbuh kembang anak yang tinggal di sekitarnya. "Dan itu pasti menimbulkan dampak buruk bagi psikologis anak," katanya. (antara/mukafi niam)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
| PWNU Jatim Bantu Bina Mantan Penghuni Dolly (Sumber Gambar : Nu Online) |
PWNU Jatim Bantu Bina Mantan Penghuni "Dolly"
"Kami menyampaikan amanat para kiai yang mendukung penutupan lokalisasi di Surabaya," ujar Ketua PWNU Jatim KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah bersama enam pengurus saat menemui Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, di Balai Kota Surabaya, Senin.Mutawakkil mengatakan PWNU Jatim siap memberikan dukungan tertulis yang melibatkan seluruh pengurus NU mulai dari pengurus wilayah hingga level anak ranting.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Selain itu, lanjutnya, bentuk dukung PWNU juga tertuang dalam tindakan pascapenutupan. PWNU sudah menyiapkan program pendampingan perubahan perilaku, sekaligus pengembangan "skill" dan sejumlah kegiatan lain sebagai bentuk tindak lanjut setelah penutupan lokalisasi."Sebenarnya, penutupan ini merupakan keinginan lama yang baru terealisasi saat kepemimpinan Bu Risma, karenanya kami akan mendukung total langkah pemkot ini. NU juga siap bekerja sama dengan aparat keamanan bilamana dibutuhkan," tegasnya.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan rencananya penutupan lokalisasi Dolly bakal dilaksanakan sebelum bulan Ramadhan pada 2014.Menurut Risma, menutup kawasan prostitusi sejatinya bukan perkara sulit. Namun, yang perlu mendapat perhatian lebih dari pemkot yakni pengondisian pascapenutupan.
"Kalau sekadar menutup, sekarang pun bisa. Tapi masalahnya, kami harus menyiapkan tindakan pascapenutupan. Pengondisian itu jauh lebih berat karena sangat menentukan keberlanjutan kawasan tersebut," katanya.
Sebagai gambaran, lanjut dia, untuk kawasan eks lokalisasi Sememi dan Klakahrejo, pemkot mengalokasikan anggaran sebesar Rp28 miliar.
Dana tersebut digunakan membangun pasar, sentra PKL, dan sejumlah sarana fasilitas umum lainnya. Dengan demikian, warga penghuni eks lokalisasi mendapat peluang kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Ditanya apakah upaya revitalisasi Dolly memerlukan persetujuan warga sekitar, ia menegaskan bahwa proses penutupan lokalisasi terus berjalan kendati tanpa persetujuan karena berdasar Perda 7/1999 secara jelas menyebutkan bahwa kawasan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal, bukan tempat prostitusi.
"Dengan landasan perda tersebut pemkot berhak mengambil tindakan untuk kebaikan kota, sehingga untuk penutupan lokalisasi itu tidak diperlukan persetujuan apa pun," terang Risma.
Adapun salah satu alasan kuat wali kota ingin segera merombak kawasan Dolly dan menjadikannya sentra bisnis adalah keprihatinan akan kondisi sekolah.
Risma mengaku beberapa kali mengunjungi sekolah yang terletak di kawasan prostitusi yang hasilnya memprihatinkan.
Anak-anak di lingkungan lokalisasi cenderung minder, malu, rendah diri, dan lebih parah lagi ada yang sampai frustasi.
Belum lagi, geliat bisnis prostitusi akan mempengaruhi tumbuh kembang anak yang tinggal di sekitarnya. "Dan itu pasti menimbulkan dampak buruk bagi psikologis anak," katanya. (antara/mukafi niam)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Langganan:
Komentar (Atom)