Rabu, 09 Agustus 2017

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan

Kota Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Selain mendorong peningkatan ketakwaan, puasa Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk membangun persatuan dan persaudaraan kemanusiaan. Ibadah puasa menitipkan pelajaran saling menghargai sesama kepada umat Islam tanpa melihat asal usul masing-masing.

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan

Dalam acara buka puasa bersama di aula kediaman Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang, Senin (14/7), ustadz Muhammad Camuda dalam taushiyahnya mengajak umat Islam NTT untuk bersatu meningkatkan keimanan.

“Keimanan dalam Islam mencakup keyakinan kepada rukun Iman dan menjaga kepercayaan terhadap sesama. Di sini letak substansi puasa. Muslim dan nonmuslim perlu perlu mempererat tali persaudaraan dengan menjunjung tinggi nilai toleransi,” kata ustadz Camuda di hadapan ratusan hadirin dari kalangan NU dan sejumlah ormas Islam lainnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Persaudaraan, lanjut ustadz Camuda, tidak mengenal agama, suku, dan budaya. Kalau rasa persaudaraan terbangun, maka satu sama lain akan saling melindungi.

“Contoh, kita tidak perlu memagar rumah dengan tembok yang setingi-tingginya. Kita cukup memagarnya dengan kebaikan. Jika kita baik terhadap sesama, maka tetangga kita dan orang lain yang akan menjaga rumah dan lingkungan kita,” tandas Camuda.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil Gubernur NTT Beni Litel Noni dalam sambutannya membenarkan taushiyah agama Camudi. Bulan puasa bagi umat Islam NTT, menurut Beni, bulan penuh berkah.

“Puasa yang penuh hikmah ini harus dijadikan kesempatan agar kita saling menjaga suka cita di antara kita. Buka puasa bersama ini mencerminkan kita saling mengedepankan nilai toleransi antarkelompok beragama dan antarumat beragama yang ada di NTT,” tutup Beni. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Lomba, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus

Tidak jauh berbeda dari Indonesia, menjelang Idul Fitri di Damaskus, Suriah, pasar tradisional dan tempat perbelanjaan ramai dikunjungi warga. Uniknya, di Damaskus, tempat perbelanjaan dan mall baru buka setelah shalat tarawih dan ramai hingga menjelang sahur.

Pusat-pusat belanja di Damaskus, seperti Pasar Hamidiye, Jisr Abyad, Hamra, Sya’laan, Salihiye, dan mall-mall seperti Mall Town Center, Mall Qasiun, Cham City Center dan lainnya juga penuh sesak dengan para pengunjung yang berbelanja untuk kebutuhan menjelang lebaran. Bazar Idul Fitri juga banyak digelar, seperti di Orient Club, yang menjual banyak kebutuhan warga dengan harga yang “miring”. Hiruk pikuk menjelang lebaran seolah melupakan krisis yang masih terjadi, melupakan segala kesedihan.

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)
Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus

Tua muda sibuk berbelanja pakaian untuk dipakai di hari lebaran, ibu-ibu rumah tangga sibuk berbelanja bahan makanan/kue atau membeli kue instan serta kebutuhan rumah tangga lainnya, sedangkan bapak-bapak sibuk mengantar keluarga membeli kebutuhan keluarga dan tidak lupa menyiapkan uang tukaran untuk dibagikan kepada anak-anak. Tidak ketinggalan arena bermain sementara juga sedang dipasang di lapangan atau taman-taman untuk kebutuhan main anak-anak. Kebiasaan yang tidak jauh berbeda dari yang kita dapati di Tanah Air.

Dubes RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, turut memantau fenomema unik ini dengan melihat ke lapangan secara langsung membaur dengan warga dan meliput keramaian aktivitas tengah malam menjelang akhir Ramadhan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Suatu pemandangan unik dan istimewa di negara yang masih dilanda krisis sejak lebih dari 5 tahun ini, tetapi kegembiraan menyambut lebaran mengalahkan suasana krisis,” ujar Dubes Djoko dalam siaran pers Ahad (3/7) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya di pusat perbelanjaan, kegiatan ibadah keagamaan di masjid-masjid Damaskus juga? tidak kalah semaraknya selama bulan suci Ramadhan, terutama pada malam 27 Ramadhan. Jemaah berbondong ke masjid menghidupkan malam lailatul qadar. Tua-muda, besar-kecil, laki-laki dan perempuan semua ke masjid beribadah bersama, berdoa bersama untuk keselamatan Suriah dan berakhirnya krisis sesegera mungkin. Saking banyaknya, jemaah masjid hingga membludak ke jalanan di luar masjid.

Begitulah kebiasaan dan suasana umum menjelang Lebaran di Damaskus yang tetap semarak di tengah situasi krisis yang belum usai. Rona bahagia, tertutama pada anak-anak, tetap terpancar meski ancaman konflik dan kekerasan masih menghantui. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 08 Agustus 2017

Permintaan Terakhir

Oleh Usmar Ismail

Aku terpekur di tanah merah yang masih basah itu, basah karena hari baru hujan, ditambah oleh air mata, yang aku cucurkan di atas pekuburan yang terletak di tepi hutan, jauh dari kota itu. Perkataannya yang terakhir masih mendengung di telingaku, orang yang baru kukenal ini, tetapi sungguhpun demikian seorang yang telah jadi perintis jalan bagiku.

Permintaan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Permintaan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Permintaan Terakhir

Semasa ia seorang ahli gambar yang termasyhur, sewaktu ia jadi buah bibir orang, aku turuti ia, sedangkan aku orang yang tak bernama, tak bergelar, seorang yang di jalan hanya dapat teguran, “Ah, kau itu, Anu.” Aku turuti ia di dalam hidupnya dari jauh. Teringat aku akan suatu peristiwa, suatu kejadian yang hidup dalam sanubariku, di suatu pertunjukan gambar-gambar, ciptaannya. Aku tertegun melihat keindahan cahaya sukmanya yang membayang di kain yang tergantung di dinding itu.

“Guru dan Murid,” demikianlah nama gambar itu, merupakan seorang tua duduk di atas balai-balai; di bawah, di kakinya, bersila seorang anak muda. Pada wajah orang tua itu tergambar kekuatan batin yang tak terhingga, gores-gores tertera di keningnya, di sebelah menyebelah pipinya, dan kupiahnya berkerumuk menutup kepalanya sehingga sedikit saja kelihatan rambutnya yang putih, di sela di sana-sini oleh rambut hitam; bibirnya membayangkan kekuatan kemauan hatinya yang terdesak, dan tangannya terletak di atas bahu pemuda itu, ringan tetapi kuat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di segala, “gerak-gerik” gambar itu tampak olehku guruku yang tak kenal padaku. Hanya ketika aku terdiam, terdiri melihat muka yang berseri itu, terasa olehku bahwa suatu alun meresap ke dadaku, menahan nafasku, suatu alun pengertian di antara dia dan aku. Dan guruku yang tak bernyawa itu, tak mendengar, tak melihat, hanya menerima dengan kesabaran hati yang kukuh, biarpun tak selalu mengaminkan sesuatu dengan begitu saja. Dab aku berkata kepada diriku sendiri, “Sekiranya aku bertemu dengan penderitaan yang sangat, di sinilah tempat aku mendapat perdamaian hati, di temat perjuangan dan penderitaan sehari-hari, pecah, hancur luluh di puncak hari kemarin, dan mudah-mudahan tanggunganku akan lebur menjadi debu dan perdamaian.”

Aku perhatikan anak muda yang duduk di bawahnya itu bersila, menengadah ke atas melihat gurunya dalam ketakjuban dan kehormatan, dan dari sedetik ke sedetik, dari semenit ke semenit aku kenal rupaku di wajah anak muda itu.

Demikianlah asal mulanya aku bergiat, mencoba menggamabar, membayangkan penghidupan di atas layar penghidupan dengan tak mengacuhkan caci pujian, tetapi terus berusaha, tak putus-putusnya, hanya dengan seorang guru yang tinggi perasaan keseniannya, yang tak kenal akan muridnya. Terkadang kalau terlambat pensilku di atas kain, tak berdaya, tak berjiwa lagi akan terus, akan kenang kembali gambar “Guru dan Murid” itu dan berkata aku kepada diriku, “Tidak, aku tidak hendakkan bayangan hidup, tiruan hidup, tetapi aku berkehendak hidup semata-mata.”

Ah, berapa pun uanga akan kubayar, untuk belajar kenal dengan perintis jalanku itu, jikalau ada padaku, tetapi … di dalam hatiku aku takut akan menemuinya. Betapa dambanya aku kadang-kadang akan membawa “ciptaan-ciptaan”ku kepadanya, mempersembahkan kerja yang jauh dari sempurna itu, mengatakan, “Ini hasil cucur peluhku, cacilah aku, katakanlah aku tidak ada kepandaian, buanglah pekerjaanku ke dalam bandar sampah,” tetapi hatiku takut, takut akan perkataan-perkataan itu, jika sekiranya nanti betul dilemparkannya ke mukaku.

Tak dapat tiada aku akan patah, jatuh, tak akan bangkit lagi, sebab terasa olehku, aku bergantung kepada guruku seperti seorang bergantung di akar yang tak kelihatan pangkalnya, sedangkan di bawahnya lembah yang dalam.

Oleh karena itu aku jauhakan diirku daripadanya, dan dengan tumpuan batin gambar yang telah terguris, tak dapat dihapus dari kalbuku itu, aku capai tingkat yang tinggi dalam dunia kesenian. Dan ketika aku mesti bercerai dengan “Guru”ku karena diundang orang ke luar negeri, coraknya masih gillang-cemerlang, biarpun tak gemerlapan seperti dahulu lagi.

Ketika aku kembali pulang, tiga tahun kemudian, tak ada kedengaran namanya lagi. Aku tanyakan ke sana-sini. Hingga pada suatu hari, ketika aku duduk di serambi muka rumahku, lalu seorang berjual gambar. Ia berhenti di muka rumahku, melepaskan lelah, menghapus peluhnya, dan karena aku senantiasa memperhatikan buah seni-seni yang tersembunyi, aku hampiri orang itu. Seorang pembeli sedang menawar sebuah gambar yang aku kenal, yang telah jadi teladan bagiku, yaitu gambar “Guru dan Murid”.

Kalau sekiranya aku tak kenal betul akan ciptaan “guru”ku niscaya aku akan terperdaya oleh tiruan itu. Si pembeli tadi menawar satu rupiah, sedangkan si penjual meminta serupiah setengah.

Mendengar harga yang disebut-sebut itu, mendidih darahku, bukan buatan marahku.

“Tunggu dulu,” aku berseru, “tahukah Tuan-tuan, bahwa gambar ini sepuluh tahun yang lampau harganya seribu rupiah, dan sekarang Tuan-tuan berani menjual atau membeli serupiah setengah?”

“Tetapi gambar ini kemarin baru siap,” jawab tukang jual itu.

Ketika itu jelas padaku, bahwa catnya masih baru, hilang marahku, hanya sekarang berganti dengan perasaan benci yang tak terhingga, benci terhadap orang yang meniru ini, yang menjual jiwa dan sukma seorang ahli seni yang besar. Dan ketika kulihat gambar-gambar yang lain, teringat olehku bahwa gambar-gambar lain itu pun pernah kulihat dahulu, dan sesudah kuperhatikan seketika, nyatalah padaku, bahwa ini barang tiruan semata-mata.

“Bang!” kataku kepada orang penjual itu,”kalau Abang bawa aku ke tempat orang yang membuat ini, aku beri Abang nanti persen lima rupiah.” Segera orang itu mau dan kami pun berangkatlah menuju sebuah kampung tak jauh dari kota. Tak lain maksudku, hanya hendak mengata-ngatai si peniru yang tak berperasaan itu.

Di tengah jalan aku perhatikan terus gambar-gambar itu dan makin lama kulihat, makin terharu pikiranku, karena barang tiruan itu tak dapat disangkal, diperbuat dengan tangan yang cakap dan tumbuhlah syak wasangka dalam hatiku yang membuat hatiku berdebar.

Setiba kami di sebuah kampung yang belum pernah aku jejak, dibawa aku oleh si penjual tadi ke sebuah pondok bambu, rendah dan tak teratur tampaknya.

“Silakan Tuan,” katanya dan berseru ia dari luar ke dalam,” Tuan, ini ada tamu!”

Dari dalam rumah itu kedengaran suara yang lemah, tak tegap lagi, ”Suruhlah masuk, Din!”

Aku masuk dan sejurus kemudian aku tertegun, hatiku bedebar, tak salah lagi, yang duduk di atas balai-balai ini ialah guruku, telah agak tua tampaknya, kupiahnya bekerumuk di atas kepalanya dan dari sana sini tersembur dari dalam tutup kepalanya itu rambut putih. Tak tahan hatiku lagi, aku meniarap di bawah lututnya, tak sadarkan diri. Ketika aku angkat kepalaku, heran aku melihat wajah yang tenang itu, sedikit pun tak terlihat keheranan di mukanya yang pucat itu.

“Kaulah yang aku nanti-nanti, Nak,” katanya, “harapan inilah yang memberi aku tenaga untuk hidup terus.”

“Aku yakin,” sambungnya lagi, “gambarku yang satu itu akan memutuskan penderitaanku. Lihatlah kita sekarang, tak ubahnya seperti gambarku dahulu. Aku kenal akan kau, Anakku. Aku turuti engkau semenjak cahayamu mulai terang bersinar dan aku mengerti, engkaulah yang akan menggantikan kedudukanku dalam kesenian Indonesia yang sepi ini. Sekarang aku bersyukur kepada Yang Maha Esa.”

Aku bercerita pula tentang segala hal yang aku alami, dan kunyatakan terima kasihku kepadanya yang tak terhingga.

“Tak usah kau mengucapkan terima kasih pula lagi; pada waktu ini akulah yang sangat bergirang hati, karena masih ada seorang di atas dunia in yang ingat kepadaku; bersuka hati buat pertama kali semenjak … isteriku meniggalkan daku. Semenjak itu tak datang lagi hasrat padaku hendak menggambar. Hilang segala kekuatanku; terkadang aku coba jua dengan bersusah payah, tetapi sia-sia belaka. Tak terperikan perasanku pada waktu itu, kelemahan yang tak terhingga. Perassaan untuk menciptakan sesuatu yang baru, telah hilang, ibarat sebuah lilin yang makin lama makin kurang jua terang nyalanya, pada akhirnya padam, tak dapat hidup lagi. Berkali-kali aku bertempur, kemauan ada, tetapi daya tak ada, karena setiap aku ambil pensilku hendak memulai suatu gambar, hilang kekuatan tanganku.”

“Dan ketika habis uangku, tak lain jalan hanya mengulang-ulang kaji yang lama, membuat gambar yang telah kuciptakan dahulu. Bagaimanakah sekarang penghargaan kepada gambarmu, Nak?

“Tidak seperti dahulu lagi,” sahutku. Bukannya karena orang tak lagi menghargai kesenian, tetapi terkadang uang yang hendak dikeluarkan untuk itu lebih baik lagi dipergunakan untuk yang lebih perlu.”

Ia diam, terpekur.

“Tak usah kau bersusah hati, Nak. Nasib ahli seni sekaliannya sama, seperti hari cerah di waktu pagi, tetapi kian lama kian kelam jua, hingga akhirnya datang awan hitam menutup bentangan langitnya,” ujarnya, setelah hening sejurus.

“Sungguhpun demikian,” sambungnya pula dengan suara yang terharu,”jangan kau berputus asa, sedetik pun jangan, sebab di waktu sekejap mata itulah kadang-kadang menyerang suatu kodrat yang meruntuhkan apa yang telah kita tegakkan dengan bersusah payah.”

Ia berhenti sebentar, mengambil nafas panjang.

“Sekarang, sementara badanku masih mengandung nyawa, ada permintaanku kepadamu…”

“Ah, Bapak jangan berkata begitu,” aku memotong perkataannya. “Seharusnya Bapak beristirahat dahulu, bersenang-senang di tempat saya dan insya Allah, akan kembali lagi kelak apa yang telah hilang buat sementara itu…”

“Tidak, Nak tak usah, dan lagi aku telah tahu, aku takkan lama lagi di dunia yang fana ini, oleh karena aku sendiri pun tak begitu berkehendak lagi akan hidup… Tidak, bukannya aku seorang yang tak berterima kasih kepada Tuhan, tetapi… ah, apakah gunanya bercakap tentang hal ini lagi. Permintaanku Nak, buatkanlah aku suatu gambar, ciptaanmu, sebagai balasan gambarku dahulu. Lihatlah di dinding itu, aku simpan buat Nak.”

Aku menoleh dan di dinding yang ditunjukkannya itu kelihatan olehku gambar “Murid dan Guru,” kotor tak pernah dibersihkan penuh debu, tapi sungguhpun demikian masih mempunyai sinar yang membayang dari bawah kotoran yang menutupinya itu. Terharu pikiranku bukan buatan, hanya Allah saja yang mengetahui, bagaimanakah gerangan.

***

Lima hari lamanya aku bekerja, berusaha mencari “tumpuan”, tapi suatu pun tak masuk dalam dadaku, hilang rasanya segala kekuatanku untuk menggambar; pada waktu subuh, telah mulai aku duduk di muka kain gambarku dan apabila telah terbenam matahari, kainku masih putih, di sana-sini tercoret oleh warna-warna yang tak berkententuan. Sehingga, pada hari keenam aku dipanggil orang, mengatakan guruku menyuruh aku datang.

Aku dapati ia terbujur di atas balai-balai, aku hampiri dan aku singgung lengannya. Lambat matanya baru terbuka dan ketika aku tegur, bertanya ia, “Kau itu Nak? Cobalah lihatkan kepadaku gambarmu itu.”

Aku tertegun, tak tahu apa yang harus kukatakan, hatiku dalam perjuangan, sebab suatu akal timbul dalam dadaku. Tetapi sebentar kemudian aku lemparkan ingatan itu jauh-jauh dari diriku, “Tidak! Aku takkan mengecoh orang tua ini.”

“Mana, Nak” tanyanya sekali lagi, sayup-sayup terdengar. Mendengar suaranya yang lemah itu, patah pula ketetapan hatiku, aku pergi ke dinding dan aku ambil gambar “Guru dan Murid” itu dan aku peragakan kepadanya, sedangkan pada batin bukan main maluku, karena telah mempermain-mainkan guruku yang tak berdaya itu. Tetapi lama kelamaan timbul perasaan lain dalam kalbuku mengatakan bahwa semestinyalah aku tak boleh mengganding guruku yang besar itu dan mulailah tenang hatiku.

Sungguhpun demikian, sekarang di atas tanah, tempat ia tidur selama-lamanya tak putus-putusnya aku menyesali diri, “Sehendaknya aku meluluskan permintaannya yang terakhir, sehendaknya…” Dan terkadang malu aku kepada diriku sendiri karena tak sanggup, tak berdaya, tetapi kemudian pula berpikir aku, “Bukankah ia guruku?” Sebenarnya ia guruku, biarpun ia telah terbujur, terbelintang berkalang tanah, dan aku muridnya, biarpun aku masih hidup bermegah di atas dunia. Mudah-mudahan Allah memaafkan daku, dunia akhirat, tak lain pengharapanku lagi!

Panji Pustaka, Th. XX No. 17, 1 Agustus 1942

USMAR ISMAIL, dilahirkan di Bukittinggi, Minangkabau, 20 Maret 1921. Pendidikan: AMS-A II Yogya, Sekolah Menengah Tinggi Jakarta, tamat 1943. Pada waktu penjajahan Jepang, Usmar dikenal sebagai pengarang yang produktif, melahirkan sajak-sajak, cerita pendek, sandiwara. Ciri khas dari karya-karyanya adalah keagamaan dan kebangsaan.

Usmar mendirikan sandiwara penggemar “Maya” pada permulaan tahun 1944, sebagai imbangan terhadap badan propaganda “Pusat Kebudayaan”. Sesudah Proklamasi Indonesia merdeka, pindah dari Jakarta ke Yogya dan mendirikan Majalah Tentara dan Patriot, yang kemudian menjadi harian dan majalah kebudayaan dan kesusasteraan Arena.

Di tahun 1962, Usmar bersama Djamaluddin Malik, Asrul Sani, Anas Ma’ruf bergabung di Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, sebuah lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

Kemudian Usmar lebih dikenal sebagai tokoh film. Film Darah dan Doa dijadikan sebagai tonggak hari film nasional. Dan ia ditetapkan sebagai Bapak Film Indonesia

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wabup Tegal Lepas Kontingen Perwimanas II

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebanyak 32 Pramuka Penegak yang tergabung dalam kontingen Perkemahan Wirakarya Maarif NU Nasional (Perwimanas) II PC LP Maarif NU Kabupaten Tegal dilepas Wakil Bupati Tegal, Umi Azizah untuk mengikuti perkemahan di lapangan Tembak Akmil Magelang.

Acara pelepasan berlangsung di lantai 3 Gedung PCNU Kab. Tegal, Sabtu (16/9), dan dihadiri PC LPMNU, Pengurus Sako Maarif NU, Wakil Ketua Kwarcab Pramuka Tegal, Agus Subagyo, Kepala Sekolah pengirim dan sejumlah undangan lain.

Wabup Tegal Lepas Kontingen Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Tegal Lepas Kontingen Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Tegal Lepas Kontingen Perwimanas II

32 Pramuka yang diberangkatkan terdiri dari 16 Penegak putra dan 16 Penegak putri yang berasal dari pangkalan SMA/SMK/MA dibawah naungan Maarif NU Kabupaten Tegal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain peserta, kontingen juga didampingi 2 pimpinan kontingen dan 2 pendamping putra dan putri yang bertugas mengarahkan langsung kepada peserta dalam melaksanakan kegiatan.

Wakil Bupati Tegal, Umi Azizah dalam sambutannya mengatakan, Gerakan Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda agar kelak memiliki daya juang dan daya saing dalam menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Umi yang juga Ketua PC Muslimat NU Tegal menyambut baik dan mengapresiasi pengiriman kontingen Perwimanas II ini, sebagai ajang untuk mengembangkan potensi dan jatidiri, sekaligus menyelami serta mengevaluasi sejauh mana perkembangan gerakan Pramuka Maarif NU di tingkat Nasional.

"Jadikan ajang Perwimanas ini, untuk menjalin relasi, saling bertukar informasi dan pengalaman tentang kegiatan kepramukaan se Nusantara," tandasnya

Ketua PC LP Maarif NU Kab. Tegal, H Alfatah menjelaskan, kegiatan Perkemahan Wirakarya Maarif NU Nasional (Perwimanas) II akan dilaksanakan di lapangan Tembak Akmil Magelang tanggal 18-24 September 2017mendatang.?

"Kabupaten Tegal mengirimkan 4 regu terdiri dari 2 sangga putra dan 2 sangga putri. Mereka berasal dari SMA/SMK/MA dibawah naungan Maarif NU," ujarnya

Dikatakan, dalam kegiatan Perwimanas II akan diisi beragam kegiatan antara lain Pentas Seni budaya, Olimpiade Aswaja, Teknologi tepat guna, Apel kesetiaan NKRI harga mati, kebangsaan dan sebagainya.

"Diharapkan kegiatan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, mempererat persahabatan dan persaudaraan dalam Bhinneka tunggal Ika," pungkasnya. (Hasan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 07 Agustus 2017

Jokowi Sebut Khofifah Menteri yang Cekatan

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Presiden Joko Widodo yang hadir pada puncak acara Hari Lahir (Harlah) ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Stadion Gajayana Malang, Sabtu (26/3) sempat memberikan pujian kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indarparawansa yang juga salah satu menteri dalam Kabinet Kerja yang dipimpinnya.

Jokowi memuji Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sebagai menteri yang cerdas, giat dan cekatan. "Ibu Khofifah ini warga Muslimat, orangnya cekatan. Belum disuruh sudah di lokasi," ucap Jokowi disambut tepuk tangan meriah ribuan jamaah Muslimat NU yang hadir.

Jokowi Sebut Khofifah Menteri yang Cekatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Sebut Khofifah Menteri yang Cekatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Sebut Khofifah Menteri yang Cekatan

Kehadiran Jokowi sekaligus mengobati keresahan anggota Muslimat terkait informasi bahwa dirinya tidak akan hadir pada puncak acara Harlah ke-70 Muslimat NU. Di awal sambutannya presiden menegaskan, informasi ketidakhadirannya pada acara tersebut juga sudah sampai kepada dirinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya tahu ada informasi dan kabar saya tidak datang, tapi mana berani saya dengan ibu-ibu Muslimat? Dan, akhirnya saya tetap memilih datang. Apalagi, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa merupakan sosok menteri yang tangguh dan cekatan. Bu Khofifah ini sangat sigap, cepat, lincah dan sama seperti para ibu-ibu Muslimat di sini," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jokowi menyampaikan, selama 70 tahun banyak yang sudah dilakukan Muslimat NU untuk memajukan bangsa ini, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan hingga anti-radikalisme.

Salah satu peran paling penting dari Muslimat NU adalah menjadikan anak-anak bangsa menjadi sehat, pintar dan mengerti agama. Ibu berperan penting dalam menanamkan budi pekerti, sopan santun, dan hal-hal mendasar lainnya. "Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anak kita," kata presiden. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Makam, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 06 Agustus 2017

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka mengembangkan pendidikan berkarakter, kitab Ta’lim Muta’allim perlu dijadikan mata pelajaran utama. Pasalnya kitab ini mengajarkan secara detil perihal akhlak manusia sebagai individu, murid, sahabat, pengajar terhadap relasi sosialnya.

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

Demikian dinyatakan pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak KH Muhammad Hanif Muslih ketika menyambut kunjungan ketiga kalinya rombongan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa (4/3).

“Walaupun memang belakangan ini banyak yang menganggap bahwa kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji itu sudah tidak relevan lagi untuk diajarkan di pesantren ataupun lembaga pendidikan lainnya,” terang Kiai Hanif menyayangkan hadirnya anggapan demikian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, pelajaran akhlaq masih cukup diandalkan sebagai alternatif untuk menanamkan sikap atau akhlaq terpuji bagi kalangan pelajar atau santri. (Dliya Uddin/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU Desak Pemerintah Proteksi Produk Lokal Jelang Pasar Bebas ASEAN

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah untuk menyiapkan regulasi yang berpihak pada produsen lokal. Berkaca pada norma jual-beli dalam fiqih, para kiai memandang strategis peran negara dalam melindungi produk dalam negeri di tengah persaingan dagang masyarakat ASEAN per Desember 2015.

NU Desak Pemerintah Proteksi Produk Lokal Jelang Pasar Bebas ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Desak Pemerintah Proteksi Produk Lokal Jelang Pasar Bebas ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Desak Pemerintah Proteksi Produk Lokal Jelang Pasar Bebas ASEAN

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi memandang pemerintah perlu menerjemahkan norma-norma jual-beli di fiqih untuk dituangkan dalam bentuk regulasi yang bersifat mengikat.

“Kontekstualisasi fiqih sangat penting dalam dunia ekonomi modern. Etika pasar dalam fiqih yang melarang pemalsuan dan kecurangan, mesti dijunjung tinggi dalam wujud regulasi. Belum lagi istilah ‘talaqqi rukban, menghadang penjual di tengah jalan.’,” kata Kiai Masdar membuka diskusi terbatas soal pasar bebas pra muktamar NU ke-33 di Jakarta, Senin (11/5) sore.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Kiai Masdar, dalam Islam pasar itu bebas jika tidak terdistorsi. Tetapi negara maju tidak boleh begitu saja berdagang di negara berkembang. Harus ada proteksi dari negara terhadap rakyat lemah. Negara perlu memberi subsidi. Negara menjadi pelindung bagi yang lemah.

“Dan negara tidak boleh mengelak. Negara menjadi pelindung terakhir bagi yang kalah dalam persaingan,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Afifuddin Muhajir yang selama ini menyatakan keresahan atas menjamurnya toko waralaba mengatakan, pada dasarnya mekanisme pasar dalam Islam itu bebas, sesuai hukum alam. Tetapi kebebasan pasar tanpa intervensi pemerintah itu berlaku saat kondisi masih bersifat alami. Artinya, mekanisme pasar berjalan secara wajar.

“Kalau sudah tidak alamiyah, ada talaqqi rukban dan hal negatif lain, perlu ada intervensi pemerintah,” kata Kiai Afif yang baru saja mengeluarkan cetakan kedua karyanya, Fathul Mujib.

Menurutnya, dalam pasar bebas ada yang kuat dan ada yang lemah. Kalau ada persaingan, tentu ada pemenangnya. Lalu bagaimana kita yang berada dalam posisi lemah dari segi permodalan, dan aspek lainnya?

Kiai Afif menegaskan bahwa NU harus menyampaikan tentang tanggung jawab negara terkait pasar bebas, tentang ekonomi, perspektif Islam. Kita perlu mengingatkan negara.

“Pasar bebas banyak menguntungkan negara yang lebih siap. Indonesia belum siap karena tidak memiliki ini dan itu. Kita harus mendorong negara melalui regulasi dan program penguatan ekonomi lokal,” tandas pengasuh sepuh pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah