Dalam arena Muktamar, Kiai Ali adalah Rais Aam yang memang akan dipilih lagi oleh para kiai sepuh. Karena Kiai Ali terbukti mampu membawa NU menjaga keseimbangan dalam diri NU, disamping kapasitas keilmuan yang sudah diakui publik. Saat itu akhirnya disepakati Ahlul halli wal aqdi (AHWA), Kiai Ali ada di dalamnya bersama Kiai Asad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur.
| Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online) |
Ketika Kiai Ali Maksum Tak Lagi Rais Aam
Dalam AHWA ini, Kiai Ali tidak bersedia melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam. Kiai Ali malah mengharapkan NU dipimpin yang lebih muda, sehingga regenerasi di tubuh NU berjalan dengan baik. Akhirnya, terpilih KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Seusai Muktamar, Kiai Ali kembali ke pesantren, fokus mengaji dengan para santri dan masyarakat. Kiai Ali fokus membangun generasi NU yang kelak siap memimpin NU dan bangsa di masa depan. Tidak lupa, Kiai Ali memenuhi janjinya memberikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi. Sekali lagi, Kiai Ali malah memberikan sejumlah uang kepada santrinya ketika tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam.Kisah ketidaksediaan Kiai Ali akhirnya ditiru santrinya bernama KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), walaupun sudah ditetapkan AHWA sebagai Rais Aam, tetap saja Gus Mus menolaknya. Inilah akhlak yang dimiliki Kiai NU, sangat tepat menjadi pembelajaran bagi bangsa dan negara dalam berbagai agenda demokrasi. Pilpres dan Pilkada di Indonesia harus belajar kepada NU, karena demokrasi tanpa nilai-nilai kearifan, maka akan melahirkan pemimpin yang merusak dan menghancurkan demokrasi itu sendiri.
Akhlak para kiai NU menjadi referensi yang sangat tepat untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia. (Muhammadun, aktif di LTN NU DIY)
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Dari Nu Online: nu.or.idAhmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah