Rabu, 10 Desember 2014

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Oleh: Faiqotun Ni’mah

Sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, Jawa memberikan tak sedikit sumbang sih budaya terhadap Indonesia sehingga ia bisa disebut negara kaya budaya. Banyak budaya berasal dari Jawa yang terepresentasikan dalam bentuk tradisi-tradisi, baik tradisi yang berupa hiburan, bersifat spiritual, berbau mistik, maupun kolaborasi dari ketiganya. Contoh tradisi berupa hiburan, misalnya wayang, tari-tarian, dan ketoprak. Tradisi bersifat spiritual, misalnya  tradisi keraton. Tradisi berbau mistis, misalnya mantera-mantera, azimat, dan ramalan. Sedangkan wayang adalah salah satu dari sekian banyak varian budaya Jawa yang mengandung ketiganya.

Tradisi Wayang

Sebut saja, para mistikus kejawen, mereka menjelaskan bahwa pertunjukan wayang bisa dipahami sebagai gambaran dunia. Allah diibaratkan sebagai dalang dan makhluk ciptaan-Nya (manusia) tak ubahnya seperti wayang yang bisa pentas di pertunjukan karena ada dalang. Ini adalah aura spiritual dari dunia wayang.

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Dalam pewayangan pun terdapat kisah-kisah maupun tokoh-tokoh yang sering diharmonisasikan dengan Islam. Sebagai contoh, tokoh pewayangan Yudhistira; salah satu dari lima Pandawa dalam kisah Mahabaratha.

Yudistiralah satu-satunya tokoh pewayangan yang diyakini konversi ke Islam. Dalam mitos konversi ini, Sunan Kalijaga memainkan peran yang penting. Mitos ini menyebutkan Yudistira tidak mau berperang sebab kebebasan dan kemurniannya yang sempurna dari nafsu amarah. Untuk melindunginya, Batara Guru memberinya sebuah azimat yang bernama Serat Kalimasada. Azimat ini bisa menjauhkan musuh, memelihara stabilitas kerajaan Pandawa, dan bahkan bisa menghidupkanorang yang sudah mati. Serat kalimasada itu adalah sebuah teks yang tertulis dalam bahasa yang asing yang tak terbaca. Karena ia memilki azimat itu ia bisa hidup beberapa tahun setelah para pandawa lain meninggal, dan ia mengembara sendirian dalam hutan. Setelah waktu yang begitu lama, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang datang untuk menyebarkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga bisa membaca teks tersebut, karena merupakan teks bahasa Arab. Teks tersebut berbunyi: ”Ashadu alla ilaha illa Allah wa’asyhadu anna muhammadar-rasul Allah”.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan membaca berulang-ulang kalimat tersebut dan menerima kebenarannya, Yudistira meninggal sebagai seorang Islam, yang memang telah ditakdirkan oleh Allah.

Orang Jawa mengakui, istilah Jawa Kalimasada berasal dari kata kalimat dan syahada (bersaksi/bersumpah). Syahada bisa digunakan sebagai suatu istilah yang  umum dipakai untuk menyebut pengakuan iman. Mengakui kebenaran pernyataan ini merupakan persyaratan minimal untuk menentukan seseorang beragama Islam atau tidak. Sebab, syahadat merupakan rukun Islam yang pertama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu, bau mistis bercampur spiritual wayang dapat dilihat dari beberapa penjelasan mistikus Jawa kontemporer yang menyatakan bahwa daftar nabi yang tercatat dalam Al-Qur’an hanyalah nama-nama yang dikenal oleh orang Arab dan Budha, Wisnu dan Krisna adalah nabi-nabi Jawa pra-Islam.

Membahas mitologi wayang, tentu tak lepas dari pengaruh budaya pra-Islam yaitu Hindu maupun Budha. Dan sudah tentu terpengaruh dari budaya India, sebab Hindu-Budha datang di Jawa berasal dari India. Maka tak heran jika kisah-kisah dalam pewayangan Jawa hampir mirip bahkan dikatakan sama dengan cerita-cerita yang ada di India, semisal cerita tentang dewa Krisna, sebenarnya sama dengan cerita pewayangan Jawa mengenai Prabu Kresna yang terangkum dalam kisah Mahabarata. Hanya beda sebutan nama saja yaitu di India disebut Krisna tiba di Jawa mengikuti lidah orang Jawa menjadi Prabu Kresna.

Sebenarnya ada banyak hal positif yang dapat diambil dari pertunjukan wayang. Sehingga dapat menepis anggapan negatif yang ditujukan terhadapnya seperti yang dilakukan para kaum reformis yang menganggap menontot wayang itu adalah perbuatan maksiat.

Sebagai produk budaya, sesungguhnya wayang diakui keunikannya tidak hanya di kalangan masyarakat Jawa saja, namun juga di kalangan masyarakat belahan Asia lainnya. Von Grunebaum melaporkan bahwa “wayang Cina” adalah bentuk hiburan paling umum di kalangan masyarakat Muslim Timur Tengah pada abda ke-13. Ini berarti wayang pun diakui oleh kaum Muslim tidak hanya subyektif oleh para mistikus kejawen.

Namun, banyak perdebatan mengenai anggapan terhadap pertunjukan wayang maupun tradisi budaya Jawa lainnya. Bagi masyarakat yang sepakat dengan pelestarian budaya dengan tegas menyatakan kita sebagai generasi penerus harus melestarikannya, dalam istilah Jawa ”nguri-uri”. Namun bagi masyarakat lain yang lebih “sufi” ber-Islamnya akan menolak dengan tegas tradisi Jawa yang diakui kebanyakan bersifat mistis karena  dikhawatirkan menimbulkan kesyirikan.

Kasus selain wayang yang lebih banyak di perdebatkan di kalangan ulama’ Islam Jawa adalah mengenai mantera-mantera atau do’a-do’a yang pada puncaknya dianggap sebagai ilmu perdukunan atau pun sihir.

Dalam bukunya yang berjudul Islam Jawa Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Mark R. Woodward menjelaskan bahwa pandangan Jawa kontemporer mengenai hubungan antara kesaktian dan kesalehan Muslim sangat serupa, dan ada perbedaan antara bentuk sihir yang legal dan ilegal. Legenda-legenda Sulaiman dan legenda-legenda dari buku Arabian Nights (Seribu Satu Malam) memberikan preseden yang jelas terhadap pemakaian sihir oleh kalanagan Muslim yang saleh. Kekuatan-kekuatan magis Sulaiman digambarkan dengana panjang lebar dalam Al-Qur’an (34: 12). Ia dipercayai menguasai kerajaan dunia dan mempunyai kemampuan untuk memerintahkan para jin, burung, binatang, dan angin. Kekuatannya berasal dari suatu cincin bertanda yang terpahat rahasia nama Allah yang Agung. Tetapi ia juga dikatakn mempelajari seni-seni sihir itu di Mesir dan menjadi guru ahli matematika Yunani, Phytagoras. Sulaiman memberikan suatu paradigma bagi pemakaian sihir secara legal sebab ia seorang nabi sekaligus ahli sihir terbesar dalam sejarah.

Akhirnya, berbagai tradisi yang sudah berlaku dapat senantiasa dihargai dan dilestarikan. Harmonisasi antara agama dan budaya pasti akan tercipta. Wallu a’lam bi al-shawab.

 

Faiqotun Ni’mah, mahasiswa Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang dan Penerima Beasiswa Unggulan Monash Institute Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Berita, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Desember 2014

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Komunitas ilmu falak Pondok Pesantren Al-Wafa’ Kabupaten Bandung mengadakan rihlah ilmiah ke Planetarium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Kunjungan ke planetarium terbesar se-Asia Tenggara itu diikuti 60 santri.

Salim Mahfudh, ketua panitia rihlah ilmiah mengatakan, acara bertajuk “Aktualisasi dan Implementasi Ilmu Falak di Era Modern”, Jumat (6/2), ini dimaksudkan untuk mengenalkan ilmu falak terapan dalam bentuk alat-alat berbasis teknologi, seperti teleskop, rubu’ mujayyab, mizwala, dan lain-lain.

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

“Mengembangkan penalaran dan keilmuan, penelusuran minat dan bakat santri Al-Wafa’ terhadap ilmu falak. Selain itu, juga sebagai sarana menyatukan dan mempererat tali silaturahim antarsantri di pondok pesantrenAl-Wafa’,” tambah mahasiswa fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, pihak Planetarium Bosscha memberikan materi kepada para santri tentang sejarah dan peran Bosscha terhadap perkembangan astronomi di Indonesia.? Lebih dari itu, santri-santri yang juga mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati tersebut mendapatkan pengetahuan seputar planet-planet, bintang-bintang di galaksi, serta cara kerja ala-alat astronomi yang ada di Bosscha.

Selain berkunjung ke Planetarium Bosscha, para santri sebelumnya berkunjung ke Observatorium Imah No’ong yang letaknya tidak jauh dari Planetarium Bosscha. Di situ terdapat pula alat-alat astronomi seperti teleskop, jam matahari, alat penentuan arah kiblat, dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Arjun Abdullah, salah satu peserta mengaku senang lantaran bisa langsung praktik ilmu falak dengan menggunakan alat-alat modern maupun klasik. “Manfaat yang didapat saat kunjungan ke planetarium salah satunya adalah kita dapat mengetahui bagaimana cara menentukan arah kiblat,” terang santri Ternate ini. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 04 Desember 2014

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan Agama di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa disamping menumbuhkan keterampilan ilmu pengetahuan. Itulah yang membedakan fungsi dan tujuan pendidikan agama di Indonesia dengan negara-negara lain di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, Senin (10/8) di Kantor Kemenag RI Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat saat jumpa pers mengenai perhelatan Pentas PAI Nasional VII 2015.

Kamaruddin menjelaskan, bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika, pendidikan agama hanya sebagai instrumen menciptakan kohesi sosial. Sedangkan di negara-negara Timur Tengah, pendidikan agama untuk membentuk manusia yang shaleh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di Indonesia, pendidikan agama mempunyai tujuan kedua-duanya. Selain untuk menciptakan manusia-manusia berilmu pengetahuan dan menumbuhkan kohesi sosial, artinya mewujudkan keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, pendidikan agama di Indonesia juga untuk membentuk manusia yang shaleh,” terangnya didampingi Direktur Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Dr H Amin Haedari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manusia yang shaleh pun, lanjutnya, bukan hanya shaleh secara spiritual, tetapi pendidikan agama di Indonesia juga berupaya menciptakan manusia yang shaleh secara sosial dan moral.

“Sehingga dengan demikian, pemahaman pendidikan agama tersebut, akan membentuk generasi bangsa  yang bisa menghargai perbedaan, tradisi, dan budaya, bersikap moderat, demokratis, inklusif (open minded, red), dan damai,” paparnya.

Dengan mencanangkan pengajaran Islam damai di sekolah, Kamaruddin berharap melalui gelaran Pentas PAI Nasional ketujuh ini, pendidikan dan pengajaran PAI di sekolah agar lebih menarik lagi sehingga memotivasi siswa belajar agama. “Pemahaman Islam damai harus kita wujudkan, karena potensi radikalisme di sekolah-sekolah tetap ada,” tegasnya.

Tahun 2015 ini, Kemenag RI melalui Ditjen Pendis menyelenggarakan Pentas PAI VII bertajuk ‘Sportif Berkompetisi, Raih Prestasi, Bumikan PAI’. Kegiatan ini berlangsung pada 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi Jawa Barat.

Kegiatan ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi. Adapun jenis kreativitas lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kudus mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat) Kewirausahaan di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Selasa (9/4). 

Kegiatan yang diikuti 60 peserta utusan LTMNU kecamtan se–Kudus ini menghadirkan narasumber dari  Pimpinan Pusat (PP) LTMNU.

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan

Ketua LTMNU Kudus Moh. Said mengatakan kegiatan dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran mengembangkan usaha dan mewujudkan kemandiran bagi warga NU terutama pengurus masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kegiatan ini sebagai ikhtiar untuk membangun perekonomian warga NU sehingga mampu menopang semangat mengembangkan perjuangan NU dan ummatnya,”ujarnya.

Dijelaskan, Diklat ini merupakan tindak lanjut dari rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kudus dalam upaya menggali potensi ekonomi warga NU.

“LTMNU tidak hanya memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah saja melainkan juga turut andil membangun usaha warga NU. Ke depan nantinya Nahdliyin tidak hanya menjadi obyek tapi pelaku usaha,” tandas Said.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PCNU Kudus KH Chusnan MS menyatakan NU selalu mendorong upaya pemberdayaan ekonomi melalui berbagai harakah dikalangan nahdliyyin. Harapannya tercipta kemandirian ekonomi pada diri warga NU maupun organisasi.

“Selama ini, para penggerak (aktifis) yang memiliki ketekunan berjihad di NU juga perlu dipompa dari sisi ekonomi,” tandasnya saat membuka acara.

Ia mengharapkan kepada PP LTMNU atau PBNU selalu memberikan dorongan dan petunjuk praktis penguatan maupun pemberdayaan ekonomi Nahdliyin di daerah.

“Adanya kegiatan ini semoga menjadikan NU dan masjid kita lebih makmur,” harapnya.

Pada kesempatan itu, PP LTMNU yang diwakili KH Mansur menjadi narasumber tunggal. Ia memberikan motivasi seraya mendorong peserta melakukan aktifitas ekonomi.

Disamping itu, peserta diajak langsung melaksanakan praktek usaha menjadi distributor sebuah air kesehatan Sohat.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 29 November 2014

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penasihat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Achmad Sujudi mengatakan, dasar perjuangan pemberantasan Tuberculosis (TB) adalah semangat atau passion. Semangat tersebut dapat bisa dibangunkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui inspirasi dari karya seni.?

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Sujudi menyampaikan hal itu dalam diskusi bertema “Praktik Terbaik Program Kemitraan Stop Tuberculosis dengan LSM/CSO” di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12) siang.

“Karya seni dari poster, sajak dan lagu dapat menjadi semangat. Dari puisi Chairil Anwar berjudul Aku terdapat kata-kata ’tak perlu sedu sedan itu/aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang/biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih perih/dan aku akan lebih tidak perduli/aku mau hidup seribu tahun lagi,” demikian Sujudi mengutip puisi karangan Chairil Anwar.

Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004) ini menjelasakan penderita TB ibaratnya seperti binatang jalang dari kumpulan sampah yang terbuang.?

“Tapi mereka tidak menyerah, justru ingin hidup (sampai) seribu tahun lagi. Itu bisa menjadi slogan dan semangat para penderita TB,” tegas Sujudi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bentuk seni berikutnya adalah poster yang bisa diambil dari karya pelukis Sudjojono berjudul “Bung, Ayo Bung!”

“Poster itu mengajak semua orang untuk berjuang. Semangat perjuangannya bisa ,” kata Sujudi dalam diskusi yang dihadiri para pemerhati penanganan TB.

Berikutnya dalam lagu karangan Ismail Marzuki berjudul “Indonesia Pusaka”. Menurut Sujudi, ? lagu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga Indonesia, termasuk melalui perbaikan kesehatan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 November 2014

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 04 November 2014

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan konferensi, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2013-2018, secara resmi dilantik di kantor MWC NU setempat, Jumat (31/1).

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Selain pelantikan, rangkaian acara juga meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara pelantikan dilanjutkan dengan musyawarah kerja (Musker) MWC NU Balen.

Panitia pelantikan, Mulazim, menjelaskan, sebelum pelantikan Jumat siang ini, tahtimul Quran lebih dulu digelar Kamis (30/1) malam di kantor MWC NU Balen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC NU Bojonegoro, Cholid Ubed berpesan kepada seluruh pengurus hinga tingkat ranting, termasuk jajaran badan otonom NU, baik IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor, untuk tetap memegang sikap kejujuran.

"Kuncinya jujur, karena kejujuran merupakan pondasi yang tidak akan pernah terkalahkan. Serta orang yang mau mengurusi, baik meengurusi NU maupun organisasi dan masyarakat," sambung dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan, kebersamaan, kejujuran dan kepedulian perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat bisa bersatu dan tidak terjadi konflik sosial.

Rais Syuriyah MWC NU Balen Abdullah Hilmi Al-Jumadi mengajak para undangan dalam acara pelantikan, untuk meneladani sosok Gus Dur. Pasalnya presiden keempat RI itu tidak pernah diskriminatif di tengah keragaman budaya dan agama di Tanah Air.

"Kita orang Indonesia yang beragama islam, bukan islam yang hidup di makkah," ujar Kepala KUA Kecamatan Malo, Bojonegoro ini. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah