Jumat, 23 April 2010

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama kembali memperkuat basis pendidikan Islam ramah, damai dan manusiawi dengan memberikan wawasan kebangsaan dan pemahaman Islam inklusif kepada para instruktur PAI nasional.

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis

Direktur PAI H Amin Haedari menegaskan kepada para instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas agar selalu mengedepankan Pendidikan Islam yang ramah dan humanis kepada para siswa di sekolah sehingga moderatisme Islam dapat terus terawat.

Hal ini ditegaskan oleh pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PP RMINU ini dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Ahad-Selasa (12-14/6).

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 400 instruktur PAI nasional ini, Amin menerangkan bahwa saat ini wajah Islam telah ternodai dengan ekstremisme. Hal ini menimbulkan citra bahwa Islam identik dengan kekerasan dan terorisme.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebab itu peran para guru, kepala sekolah, dan pengawas sangat penting untuk memberikan pemahaman Islam yang sejuk, ramah, dan humanis kepada siswa,” tegas Amin.

Nuansa pendidikan Islam ramah ini bukan hanya pada tataran pemahaman atau ideologi saja, tetapi juga pada tataran praktik. Sehingga dalam hal ini, Amin menekankan kepada guru bahwa pemahaman Islam yang damai harus disampaikan.

“Begitu pula kepada kepala sekolah dan pengawas bagaimana menyusun kurikulum dan materi pembelajaran Islam yang penuh dengan kesejukkan dan menghargai sesama sehingga kekerasan tidak terjadi lagi di lingkungan sekolah dan hal ini harus dimulai dari pendidikan Agama Islam,” papar Amin Haedari. (Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 April 2010

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU), Royandi Haikal, SH, MH, menandatangani Perjanjian Pelaksanaan Hukum Bagi Orang Miskin dengan Kepala Kanwil Kemenkumham Provinsi DKI Jakarta, di kantor Kanwil Kemenkumham RI Provinsi DKI Jakarta, Selasa 29 Maret 2016. 

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin

Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari telah diakuinya LPBHNU sebagai Organisasi Bantuan Hukum (OBH) yang telah lulus verifikasi dengan akreditasi C, sebagaimana Sertifikat Akreditasi berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH-01.HN.03.03 Tahun 2016, thl 7 Januari 2016. 

Royandi Haikal menjelaskan, penganugerahan Sertifikat Akreditasi OBH kepada LPBHNU merupakan pengakuan terhadap eksistensi LPBH NU sebagai OBH yang sejajar dengan OBH lain seperti YLBHI, Posbakum, dan lainnya. Sertifikat Akreditasi tersebut juga menjadi dasar bagi LPBHNU untuk berperan dalam layanan bantuan hukum secara resmi, profesional dan akuntabel, sekaligus diisi dengan dakwah sebagai salah satu misi NU. “Semoga hal ini menjadi langkah awal yang positif bagi LPBHNU untuk berperan dalam proses penegakan hukum dan dakwah,” katanya.

Ia menambahkan wujud kemitraan antara LPBHNU dengan Pemerintah dalam memberikan bantuan hukum baik litigasi maupun nonlitigasi kepada orang miskin atau kelompok orang miskin sesuai dengan amanah UU No 16 Tahun 2016 tentang bantuan hukum. Red: Mukafi Niam

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 Maret 2010

Memikirkan Kembali Pesantren

Nasaruddin Umar selaku penulis buku ini gerah dengan pertanyaan orang Barat yang menstigmatisasi pondok pesantren. Nasar yang seringkali berkunjung ke Amerika mendapatkan sederet pertanyaan dari warga di sana, tentang bagaimana sebenarnya pesantren itu. Bagaimana model pendidikannya, materi apa saja yang diajarkan. Bermula dari sinilah Nasar menuliskan buku kecil tentang pesantren ini.

Walaupun Nasar memiliki kesadaran bahwa kemampuan dan keluangan waktu yang terbatas untuk menorehkan pemikirannya tentang pesantren. Buku ini bisa menjadi jawaban singkat untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat awam yang belum memiliki pengetahuan mengenai seluk-beluk pesantren.

Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Memikirkan Kembali Pesantren

Buku ini bercerita tentang sejarah awal pesantren bermula. Banyak ahli menyatakan tentang berbagai definisi tentang pesantren. Setidaknya Nasar menarik benang merah dari sekian pendapat yang telah dipaparkan bahwa pesantren tak akan lepas dari kata dasarnya yaitu santri. Santri menurut Nasar tidak hanya terbatas pada orang yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun dibawah asuhan kiai-ulama. Tetapi, kepada mereka yang belajar dan memahami ilmu-ilmu keagamaan baik secara otodidak maupun secara institusi formal yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas kesehariannya. (halaman 6)

Selain itu, keberadaan pesantren menjadi tulang punggung bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Namun, secara mudahnya kita bisa melacak keberadaan pesantren mulai abad 15 ketika Walisongo mulai menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua seiring berkembangnya kerajaan dan kesultanan Islam di Nusantara. Ditambah bahwa pesantren tidak hadir ruang kosong. Melainkan mengisi ruang kosong pendidikan keagamaan masyarakat. Berawal dari pengajaran Al-Qur’an bertambah kitab kuning hingga kita bisa melihat perkembangan pesantren yang sedemikian pesatnya. Dengan berbagai ikhtiar yang dikerjakan. Pesantren salaf (tradisional) dengan di bawah naungan yayasannya memiliki perguruan tinggi, lembaga keuangan, lembaga perekonomian dan lain sebagainya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nasar yang juga pernah menjabat sebagai wakil menteri agama memiliki optimisme tinggi terhadap perkembangan pesantren ke depan. Dalam Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK)  yang diselenggarakan Kementerian Agama secara berkala dan tahun ini berlangsung di Jambi (3/9) menyatakan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. Pondok pesantren di Indonesia terus bergerak maju dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. Tidak heran, jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. "Suatu saat nanti, Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam," demikian penegasan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar  saat mengisi Talkshow di TVRI Jambi, Selasa (02/09). (kemenag.go.id)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kontribusi pesantren

Pesantren tumbuh menjadi pohon tinggi menjulang ke angkasa. Dahan dan daunnya meneduhkan masyarakat sekitarnya sebagai tempat menimba ilmu, tempat menempa diri dan membentuk karakter seseorang agar memiliki akhlaq yang mulia. Dan akarnya kuat menghujam ke tanah dengan memegang tradisi masyarakat yang ada di sekitar tanpa harus menghilangkannya. Dari sinilah sebenarnya kita bisa melihat mutakhorijin (baca: alumni pesantren) telah mewarnai perjalanan bangsa ini. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI keempat merupakan salah satu contohnya. Gus Dur kita kenal dengan tokoh pluralis, inklusif, moderat dan terbuka.  

Nasar juga menyisipkan secuil biografi tokoh pesantren Teuku Fakinah dan Kiai Syamun (halaman 87). Keduanya merupakan potret kiai dalam ranah perjuangan. Disinilah peran kita sebagai bangsa mulai menggali, menyemai dan mengingatkan sejarah kepada penerus bangsa untuk terus. Ikatan itulah yang sejatinya mempererat kita sebagai bangsa utuh hingga sekarang.

Selain itu perjalanan awal sebelum kemerdekaan dari kalangan pesantren dalam hal ini kelahiran Nahdlatul Ulama, berawal dari Komite Hijaz dibentuk untuk menyuarakan ketidak- setujuannya terhadap pemerintah Hijaz pada waktu itu yang hendak menghancurkan seluruh makam di Mekah termasuk makam Rasulullah SAW. (halaman 23) Selain itu karya-karya kiai pesantren juga digunakan sebagai kurikulum pesantren di Indonesia bahkan di Yaman. Salah satunya adalah kitab Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul karya KH Sahal Mahfudz. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)

Kita juga bisa menilik laskar Hizbullah yang menjadi "bumper" perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kiai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (Zainul Milal Bizawie: 2014). Bahkan pahlawan bangsa kita juga banyak dari kalangan pesantren seperti Imam Bonjol, Pengeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar dan lainnya.

Karel A Steenbrink (1986) salah satu peneliti dari Belanda menyatakan bahwa perkembangan pesantren memantik lembaga pendidikan yang lain untuk lahir. Yaitu madrasah. Banyak juga pesantren yang memiliki madrasah sebagai penguatan pesantrennya. Terakhir, ditilik dari sisi modernitas dan globalisasi beberapa pesantren mengikuti arus yang menjadi sebuah keniscayaan dengan segala konsekuensinya. Namun, masih ada pesantren yang berteguh diri menggunakan sistem klasikal tradisional misalnya penggunaan penanggalan hijriyyah dan bulan Syawwal menjadi awal tahun ajaran baru. Dari sinilah yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan keagamaan yang secara tidak langsung meneruskan perkembangan intelektual Islam.

Data Buku

Judul : Rethinking Pesantren  

Penulis : Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

Penerbit : PT Elex Media Komputindo 

Cetakan : 2014

Tebal: XVI + 142 halaman

ISBN : 978.602.02.3761.9  

Peresensi: Mukhamad Zulfa, penikmat buku keagamaan dan kebudayaan tinggal di Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Maret 2010

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun

Akhir tahun merupakan momentum untuk melihat diri sendiri. Banyak hal terkait diri sendiri yang bisa diperhatikan dengan jujur. Segala hal di tahun ini baik berupa kebaikan maupun keburukan diri kita, tidak lepas dari kekurangan. Untuk itu, ada baiknya penutup tahun diisi dengan doa sebagai bentuk kepasrahan tertinggi kepada Allah.

Berikut ini doa warid yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dibaca di akhir tahun. Doa ini dimasukkan oleh Mufti Jakarta abad 19-20 Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar sebagai berikut.

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berrarti mendurhakai-Mu.

Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.

Doa yang dibaca sebanyak 3 kali ini diharapkan menjadi akhir tahun yang baik. Semoga Allah menerima doa yang kita baca di akhir Dzulhijjah sekurang-kurangnya sebelum Maghrib hari ini. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Pahlawan, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Maret 2010

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. "Siapa yang tahu organisasi?" pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh wakil ketua bidang Kaderisasi Alkaisu Dana Habibi dihadapan ratusan peserta sosialisasi IPNU-IPPNU. Ahad (27/3) malam di Ponpes Minhajut thulab, Krikilan, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa menit peserta yang terdiri dari SMPN 3 Glenmore dan SMAN 1 Glenmore tak ada yang berani menjawab. Dana sapaan akrabnya menerangkan, organisasi adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu

"Sehingga nantinya, apapun beban masalah yang sedang dan akan kita hadapi terasa ringan karena diputuskan jalan keluar dan diselesaikan bersama," terang Dana, sembari menjelaskan maqolah (ungkapan) suatu kemungkaran yang terorganisasi akan mampu menghancurkan kebaikan tanpa terorganisir.

Pasalnya banyak sekali macam organisasi yang mungkin kalian semua ikuti. Seperti: organisasi pelajar, keagamaan, dan kemasyarakatan dengan berbagai nama dan identitas.

"Di sini saya menegaskan untuk kalian semua memilih organisasi yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Selain organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, di sini juga wadah ajaran agama yang penuh toleran, moderat, dan tidak radikal," terang Dana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

.

Disamping itu, para senior banyak yang yang telah membuktikan kenikmatan berorganisasi dan menjadi tokoh-tokoh yang sukses berkat perantara keterlibatan perjuangan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

"Seperti Bapak Zainut Tauhid, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Bapak Abdullah Azwar Anas, dan tokoh-tokoh sukses lainnya," jelas Dana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil ketua bidang kaderisasi PC IPNU Banyuwangi ini, juga berharap semoga kelak seluruh ratusan pelajar putra-putri yang hadir menjadi regenerasi NU yang militan.

"Langkah konkrit sedekah banom termuda Nahdlatul Ulama adalah terus melanjutkan roda kaderisasi organisasi ini. Seperti yang saat ini sedang dan akan terus kita lakukan," tegas Dana.?

Gelaran sosialisasi ini juga dihadiri oleh pengurus harian PC IPNU IPPNU Banyuwangi beserta puluhan Majelis Almuni. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 13 Maret 2010

Dari Situbondo ke Banyuwangi

Situbondo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Situbondo, menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda), di aula PCNU Situbondo, Sabtu, (23/2).

Dari Situbondo ke Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Situbondo ke Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Situbondo ke Banyuwangi

Rapimda tersebut dalam rangka konsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan ta’mir masjid dengan tema “Mewujudkann masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”. Kegiatan tersebut diikuti 200 orang peserta dari  17 kecamatan.

Dalam sambutannya, KH Fauzan Masruri mengatakan warga NU harus mewaspadai kelompo-kelompok yang terang-terang bergerilya merebut masjid di kantong-kantong NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Hal itu dikarenakan mesjid adalah sumber umat,” katanya.

Ia mengimbau kepada peserta untuk mengikuti Rapimda sampai usai supaya tahu bagaimana cara mempertahankan masjid dan pengelolaannya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rapimda tersebut dibuka Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. MAsudi, difasilitasi PP LTM NU bekerjasama dengan PT Sinde Budi Sentosa. Setelah dilaksanakan di Situbondo, besok Ahad (24/2), akan digelar di Kabupaten Banyuwangi.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Maret 2010

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Nias Selatan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nias Selatan mengadakan aksi sosial dalam bentuk khitanan massal bagi anak-anak yatim dan fakir miskin di gedung Madrasah Ibtidaiyah Negeri Telukdalam, Nias Selatan, Ahad (25/12). Pihak PCNU Nias Selatan merekrut 40 anak yatim untuk dikhitan.

Aksi sosial ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat badar. Acara ini dilanjutkan dengan penyampaian taushiyah oleh H Dedi Iswandy yang ditutup dengan do’a oleh Rais Syuriyah PCNU Nias Selatan Ahmad Yunan Waruwu.

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Ketua Panitia Pelaksana Sulaiman Waruwu melaporkan, donasi yang terkumpul dari kegiatan khitanan massal ini sebesar Rp. 11.510.000 yang berasal dari pengurus harian NU Nias Selatan, beberapa instansi, dan para dermawan. Bantuan juga datang dari rumah makan yang menyediakan makanan, para tenaga medis yang mengurangi biaya khitan sehingga harga terjangkau.

“Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu suksesnya acara khitan massal ini. Semoga Allah membalasnya,” kata Sulaiman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aksi sosial ini dihadiri oleh pengurus harian PCNU Nias Selatan, unsur parpol, MUI Nias Selatan, perwakilan Muhammadiyah Nias Selatan, Tokoh Masyarakat Telukdalam, dan tokoh-tokoh lain.

Ketua PCNU Nias Selatan Amsir Siregar mengatakan, aksi sosial ini adalah sebagian dari program kerja PCNU Nias Selatan. Sejak Konfercab II PCNU Nias Selatan sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan termasuk khataman Al-Qur’an yang dipusatkan di Masjid Agung Ar-Rahman.

“Pelaksanaan khitanan massal ini salah satu upaya yang direncanakan untuk membantu sebagian para orang tua dan anak-anak yatim-piatu untuk melaksanakan khitanan. Kegiatan ini takkan terselenggara tanpa bantuan pihak lain. Hal ini sesuai prinsip NU at-taawun, yakni tolong-menolong, setia kawan, gotong-royong utamanya dalam kebaikan dan takwa,” kata Amsir.

Usai acara pembukaan jam 10.00 WIB, khitanan massal segera dilangsungkan oleh para tenaga medis di bawah Koordinator Arianti Waruwu. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah