Rabu, 24 Maret 2010

Memikirkan Kembali Pesantren

Nasaruddin Umar selaku penulis buku ini gerah dengan pertanyaan orang Barat yang menstigmatisasi pondok pesantren. Nasar yang seringkali berkunjung ke Amerika mendapatkan sederet pertanyaan dari warga di sana, tentang bagaimana sebenarnya pesantren itu. Bagaimana model pendidikannya, materi apa saja yang diajarkan. Bermula dari sinilah Nasar menuliskan buku kecil tentang pesantren ini.

Walaupun Nasar memiliki kesadaran bahwa kemampuan dan keluangan waktu yang terbatas untuk menorehkan pemikirannya tentang pesantren. Buku ini bisa menjadi jawaban singkat untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat awam yang belum memiliki pengetahuan mengenai seluk-beluk pesantren.

Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Memikirkan Kembali Pesantren

Buku ini bercerita tentang sejarah awal pesantren bermula. Banyak ahli menyatakan tentang berbagai definisi tentang pesantren. Setidaknya Nasar menarik benang merah dari sekian pendapat yang telah dipaparkan bahwa pesantren tak akan lepas dari kata dasarnya yaitu santri. Santri menurut Nasar tidak hanya terbatas pada orang yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun dibawah asuhan kiai-ulama. Tetapi, kepada mereka yang belajar dan memahami ilmu-ilmu keagamaan baik secara otodidak maupun secara institusi formal yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas kesehariannya. (halaman 6)

Selain itu, keberadaan pesantren menjadi tulang punggung bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Namun, secara mudahnya kita bisa melacak keberadaan pesantren mulai abad 15 ketika Walisongo mulai menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua seiring berkembangnya kerajaan dan kesultanan Islam di Nusantara. Ditambah bahwa pesantren tidak hadir ruang kosong. Melainkan mengisi ruang kosong pendidikan keagamaan masyarakat. Berawal dari pengajaran Al-Qur’an bertambah kitab kuning hingga kita bisa melihat perkembangan pesantren yang sedemikian pesatnya. Dengan berbagai ikhtiar yang dikerjakan. Pesantren salaf (tradisional) dengan di bawah naungan yayasannya memiliki perguruan tinggi, lembaga keuangan, lembaga perekonomian dan lain sebagainya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nasar yang juga pernah menjabat sebagai wakil menteri agama memiliki optimisme tinggi terhadap perkembangan pesantren ke depan. Dalam Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK)  yang diselenggarakan Kementerian Agama secara berkala dan tahun ini berlangsung di Jambi (3/9) menyatakan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. Pondok pesantren di Indonesia terus bergerak maju dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. Tidak heran, jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. "Suatu saat nanti, Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam," demikian penegasan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar  saat mengisi Talkshow di TVRI Jambi, Selasa (02/09). (kemenag.go.id)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kontribusi pesantren

Pesantren tumbuh menjadi pohon tinggi menjulang ke angkasa. Dahan dan daunnya meneduhkan masyarakat sekitarnya sebagai tempat menimba ilmu, tempat menempa diri dan membentuk karakter seseorang agar memiliki akhlaq yang mulia. Dan akarnya kuat menghujam ke tanah dengan memegang tradisi masyarakat yang ada di sekitar tanpa harus menghilangkannya. Dari sinilah sebenarnya kita bisa melihat mutakhorijin (baca: alumni pesantren) telah mewarnai perjalanan bangsa ini. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI keempat merupakan salah satu contohnya. Gus Dur kita kenal dengan tokoh pluralis, inklusif, moderat dan terbuka.  

Nasar juga menyisipkan secuil biografi tokoh pesantren Teuku Fakinah dan Kiai Syamun (halaman 87). Keduanya merupakan potret kiai dalam ranah perjuangan. Disinilah peran kita sebagai bangsa mulai menggali, menyemai dan mengingatkan sejarah kepada penerus bangsa untuk terus. Ikatan itulah yang sejatinya mempererat kita sebagai bangsa utuh hingga sekarang.

Selain itu perjalanan awal sebelum kemerdekaan dari kalangan pesantren dalam hal ini kelahiran Nahdlatul Ulama, berawal dari Komite Hijaz dibentuk untuk menyuarakan ketidak- setujuannya terhadap pemerintah Hijaz pada waktu itu yang hendak menghancurkan seluruh makam di Mekah termasuk makam Rasulullah SAW. (halaman 23) Selain itu karya-karya kiai pesantren juga digunakan sebagai kurikulum pesantren di Indonesia bahkan di Yaman. Salah satunya adalah kitab Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul karya KH Sahal Mahfudz. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)

Kita juga bisa menilik laskar Hizbullah yang menjadi "bumper" perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kiai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (Zainul Milal Bizawie: 2014). Bahkan pahlawan bangsa kita juga banyak dari kalangan pesantren seperti Imam Bonjol, Pengeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar dan lainnya.

Karel A Steenbrink (1986) salah satu peneliti dari Belanda menyatakan bahwa perkembangan pesantren memantik lembaga pendidikan yang lain untuk lahir. Yaitu madrasah. Banyak juga pesantren yang memiliki madrasah sebagai penguatan pesantrennya. Terakhir, ditilik dari sisi modernitas dan globalisasi beberapa pesantren mengikuti arus yang menjadi sebuah keniscayaan dengan segala konsekuensinya. Namun, masih ada pesantren yang berteguh diri menggunakan sistem klasikal tradisional misalnya penggunaan penanggalan hijriyyah dan bulan Syawwal menjadi awal tahun ajaran baru. Dari sinilah yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan keagamaan yang secara tidak langsung meneruskan perkembangan intelektual Islam.

Data Buku

Judul : Rethinking Pesantren  

Penulis : Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

Penerbit : PT Elex Media Komputindo 

Cetakan : 2014

Tebal: XVI + 142 halaman

ISBN : 978.602.02.3761.9  

Peresensi: Mukhamad Zulfa, penikmat buku keagamaan dan kebudayaan tinggal di Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Maret 2010

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun

Akhir tahun merupakan momentum untuk melihat diri sendiri. Banyak hal terkait diri sendiri yang bisa diperhatikan dengan jujur. Segala hal di tahun ini baik berupa kebaikan maupun keburukan diri kita, tidak lepas dari kekurangan. Untuk itu, ada baiknya penutup tahun diisi dengan doa sebagai bentuk kepasrahan tertinggi kepada Allah.

Berikut ini doa warid yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dibaca di akhir tahun. Doa ini dimasukkan oleh Mufti Jakarta abad 19-20 Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar sebagai berikut.

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bunyi Doa Akhir Tahun

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berrarti mendurhakai-Mu.

Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.

Doa yang dibaca sebanyak 3 kali ini diharapkan menjadi akhir tahun yang baik. Semoga Allah menerima doa yang kita baca di akhir Dzulhijjah sekurang-kurangnya sebelum Maghrib hari ini. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Pahlawan, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Maret 2010

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. "Siapa yang tahu organisasi?" pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh wakil ketua bidang Kaderisasi Alkaisu Dana Habibi dihadapan ratusan peserta sosialisasi IPNU-IPPNU. Ahad (27/3) malam di Ponpes Minhajut thulab, Krikilan, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa menit peserta yang terdiri dari SMPN 3 Glenmore dan SMAN 1 Glenmore tak ada yang berani menjawab. Dana sapaan akrabnya menerangkan, organisasi adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu

"Sehingga nantinya, apapun beban masalah yang sedang dan akan kita hadapi terasa ringan karena diputuskan jalan keluar dan diselesaikan bersama," terang Dana, sembari menjelaskan maqolah (ungkapan) suatu kemungkaran yang terorganisasi akan mampu menghancurkan kebaikan tanpa terorganisir.

Pasalnya banyak sekali macam organisasi yang mungkin kalian semua ikuti. Seperti: organisasi pelajar, keagamaan, dan kemasyarakatan dengan berbagai nama dan identitas.

"Di sini saya menegaskan untuk kalian semua memilih organisasi yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Selain organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, di sini juga wadah ajaran agama yang penuh toleran, moderat, dan tidak radikal," terang Dana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

.

Disamping itu, para senior banyak yang yang telah membuktikan kenikmatan berorganisasi dan menjadi tokoh-tokoh yang sukses berkat perantara keterlibatan perjuangan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

"Seperti Bapak Zainut Tauhid, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Bapak Abdullah Azwar Anas, dan tokoh-tokoh sukses lainnya," jelas Dana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil ketua bidang kaderisasi PC IPNU Banyuwangi ini, juga berharap semoga kelak seluruh ratusan pelajar putra-putri yang hadir menjadi regenerasi NU yang militan.

"Langkah konkrit sedekah banom termuda Nahdlatul Ulama adalah terus melanjutkan roda kaderisasi organisasi ini. Seperti yang saat ini sedang dan akan terus kita lakukan," tegas Dana.?

Gelaran sosialisasi ini juga dihadiri oleh pengurus harian PC IPNU IPPNU Banyuwangi beserta puluhan Majelis Almuni. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 13 Maret 2010

Dari Situbondo ke Banyuwangi

Situbondo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Situbondo, menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda), di aula PCNU Situbondo, Sabtu, (23/2).

Dari Situbondo ke Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Situbondo ke Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Situbondo ke Banyuwangi

Rapimda tersebut dalam rangka konsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan ta’mir masjid dengan tema “Mewujudkann masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”. Kegiatan tersebut diikuti 200 orang peserta dari  17 kecamatan.

Dalam sambutannya, KH Fauzan Masruri mengatakan warga NU harus mewaspadai kelompo-kelompok yang terang-terang bergerilya merebut masjid di kantong-kantong NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Hal itu dikarenakan mesjid adalah sumber umat,” katanya.

Ia mengimbau kepada peserta untuk mengikuti Rapimda sampai usai supaya tahu bagaimana cara mempertahankan masjid dan pengelolaannya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rapimda tersebut dibuka Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. MAsudi, difasilitasi PP LTM NU bekerjasama dengan PT Sinde Budi Sentosa. Setelah dilaksanakan di Situbondo, besok Ahad (24/2), akan digelar di Kabupaten Banyuwangi.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Maret 2010

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Nias Selatan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nias Selatan mengadakan aksi sosial dalam bentuk khitanan massal bagi anak-anak yatim dan fakir miskin di gedung Madrasah Ibtidaiyah Negeri Telukdalam, Nias Selatan, Ahad (25/12). Pihak PCNU Nias Selatan merekrut 40 anak yatim untuk dikhitan.

Aksi sosial ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat badar. Acara ini dilanjutkan dengan penyampaian taushiyah oleh H Dedi Iswandy yang ditutup dengan do’a oleh Rais Syuriyah PCNU Nias Selatan Ahmad Yunan Waruwu.

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Ketua Panitia Pelaksana Sulaiman Waruwu melaporkan, donasi yang terkumpul dari kegiatan khitanan massal ini sebesar Rp. 11.510.000 yang berasal dari pengurus harian NU Nias Selatan, beberapa instansi, dan para dermawan. Bantuan juga datang dari rumah makan yang menyediakan makanan, para tenaga medis yang mengurangi biaya khitan sehingga harga terjangkau.

“Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu suksesnya acara khitan massal ini. Semoga Allah membalasnya,” kata Sulaiman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aksi sosial ini dihadiri oleh pengurus harian PCNU Nias Selatan, unsur parpol, MUI Nias Selatan, perwakilan Muhammadiyah Nias Selatan, Tokoh Masyarakat Telukdalam, dan tokoh-tokoh lain.

Ketua PCNU Nias Selatan Amsir Siregar mengatakan, aksi sosial ini adalah sebagian dari program kerja PCNU Nias Selatan. Sejak Konfercab II PCNU Nias Selatan sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan termasuk khataman Al-Qur’an yang dipusatkan di Masjid Agung Ar-Rahman.

“Pelaksanaan khitanan massal ini salah satu upaya yang direncanakan untuk membantu sebagian para orang tua dan anak-anak yatim-piatu untuk melaksanakan khitanan. Kegiatan ini takkan terselenggara tanpa bantuan pihak lain. Hal ini sesuai prinsip NU at-taawun, yakni tolong-menolong, setia kawan, gotong-royong utamanya dalam kebaikan dan takwa,” kata Amsir.

Usai acara pembukaan jam 10.00 WIB, khitanan massal segera dilangsungkan oleh para tenaga medis di bawah Koordinator Arianti Waruwu. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 04 Maret 2010

Kemenag Resmi Keluarkan SK Pendidikan Kesetaraan Berbasis Pesantren

Ponorogo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama menyerahkan 18 Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pendidikan Islam tentang Penetapan Status Kesetaraan Satuan Pendidikan Muadalah kepada sejumlah pondok pesantren setingkat Madrasah Tsanawiyah/sederajat dan Madrasah Aliyah/sederajat.?

Kemenag Resmi Keluarkan SK Pendidikan Kesetaraan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Resmi Keluarkan SK Pendidikan Kesetaraan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Resmi Keluarkan SK Pendidikan Kesetaraan Berbasis Pesantren

Penyerahan SK Ponpes Muadalah (Penyetaraan) kepada 18 ponpes dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan momentum pertemuan alumni Gontor dalam rangka Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor ke-90, Jumat (2/9).

SK tentang penetapan status keseteraan satuan pendidikan muadalah tersebut merupakan penjabaran dari Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dan PMA nomor 18 tahun 2014 tentang satuan pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren.

Dijelaskan Menag Lukman bahwa, kedua PMA tersebut, setidaknya terdapat dua nomenklatur satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yakni pendidikan Diniyah formal dan satuan pendidikan Muadalah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kedua nomenklatur itu merupakan ikhtiar Kementerian Agama dan masyarakat pesantren untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama Islam), guna menjawab atas langkanya kader mutafaqqih fiddin dan memberikan civil effect bagi dunia pesantren, disamping sebagai bagian ikhtiar konservasi dan pengembangan disiplin ilmu-ilmu keagamaan Islam," ujar Menag.

"Baik pendidikan Diniyah formal maupun satuan pendidikan Muadalah, wajib diselenggarakan oleh pesantren,” tambahnya.

Khusus untuk satuan pendidikan Muadalah, Menag menyampaikan bahwa terdapat karakteristik yang tidak berbeda dengan pendidikan diniyah formal. Karakteristik itu meliputi kurikulum pendidikan keagamaan, tidak adanya ujian yang diselenggarakan secara nasional dalam bentuk Ujian Nasional (UN), dan kualifikasi pendidik yang tidak mengharuskan sarjana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kurikulum pendidikan keagamaan sepenuhnya menjadi otoritas satuan pendidikan Muadalah yang bersangkutan, baik yang satuan pendidikan muadalah jenis salafiyah (berbasis kitab kuning) maupun muallimin (berbasis dirasah Islamiyah dengan pola muallimin), sementara Kementerian Agama memfasilitasi pada standar minimal kurikulum keagamaan untuk keduanya," papar Menag.

Selanjutnya, Menag memaparkan penjelasan lebih dalam, bahwa, terkait penilaian dalam konteks ujian, hanya diselenggarakan melalui pendidik dan lembaga pendidik semata. Bahkan, untuk ketenagaan, guru atau ustadz yang mengajar pada satuan pendidikan muadalah ini tidak diarahkan pada kualifikasi, baik yang telah sarjana maupun yang belum, akan tetapi lebih didekatkan pada standar kompetensi. Namun, lanjutnya, bagi pendidik yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan guru profesional lainnya maka hak-hak yang melekat sebagai guru profesional juga berlaku bagi seorang pendidik.

"Karakteristik tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari rekognisi pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan formal ala pesantren," kata Menag.

Dari segi keunikan, Menag menjelaskan bahwa pesantren memiliki sisi-sisi keunggulannya yangharus diakui sehingga diberikan ruang dalam konteks sistem pendidikan nasional secara terintegrasi. "Keunikan degan terus memelihara jatidiri dan ke-ikhlasan pesantren merupakan karakteristik dasar bagi pesantren,” kata Menag. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 Februari 2010

Muhammad Busro Pemimpin Baru GP Ansor Kota Semarang

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gerakan Pemuda (GP)Ansor Kota Semarang telah melaksanakan pemilihan ketua GP Ansor baru. Konferensi berlangsung di di Pondok Pesantren Al-Itqon Pedurungan, Ahad (7/12) kemarin. Ada dua calon yang dinilai layak memimpin Ansor Semarang yakni Muhammad Sodri dan Muhammad Busro.

Dari perwakilan Ranting dan Pimpinan Anak Cabang Se-Kota Semarang yang lulus verifikasi untuk memilih Ketua Ansor Kota Semarang ini berjumlah 39 suara. Konferensi Ansor Kota Semarang ini langsung terfokus pada pemilihan ketua baru, sebab pembahasan tata tertib maupun laporan pertanggung jawaban pengurus Ansor Kota Semarang telah dibahas seminggu yang lalu di Gedung PWNU Kota Semarang.

Muhammad Busro Pemimpin Baru GP Ansor Kota Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad Busro Pemimpin Baru GP Ansor Kota Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammad Busro Pemimpin Baru GP Ansor Kota Semarang

Hasil pemungutan suara pun diumumkan dengan kemenangan untuk Muhammad Busro yang akan menjadi nahkoda Ketua GP Ansor Kota Semarang. Setelah Busro mendapatkan 22 suara dan sodri hanya mendapatkan 17 suara, dari total 39 suara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam orasinya Muhammas Busro mengatakan, ada dua hal yang harus dilakukan yakni pertama perkaderan, sebab perkaderan menjadi tombak regenerasi kader. Kedua, pendayagunaan yakni tahapan yang dilakukan setelah pengaderan kader agar siap terjun ke dunia kemasyarakatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saatnya Ansor di wilayah Kota Semarang siap untuk melakukaan pemberdayaan, mewujudkan tujuan berorganisasi untuk membangun GP Ansor tetap solid dan bisa berperan aktif untuk masyarakat,” lanjutnya. (Lukni Maulana/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Hadits, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah