Minggu, 31 Januari 2016

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Karakter dan jenis musik Indonesia masih dikendalikan oleh media. Tidak salah jika dikatakan seni musik di Indonesia ditentukan oleh media. Media membopong seni musik tersebut.

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Demikian disampaikan pentolan grup hadrah pesantren Yafata Deden Muhammad Fauzi Ridwan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah saat di temui di Pesantren Yafata yang beralamat di Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (12/3) malam.

“Memang masih banyak musisi yang tetap bergerak tanpa dukungan media, bahkan memang mereka tak peduli media. Seperti pejuang-pejuang musik daerah. Namun akhirnya tidak populer, termasuk hadroh, hentakannya tak dipedulikan. Wal hasil masyarakat menganggap tak ada," keluh Fauzi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Musik kita, kata Fauzi, itu ditentukan TV. "Dulu waktu ramainya band Ska bermunculan di mana-mana, tapi kini hilang entah ke mana. Kemudian dulu juga ramenya grup band, sama seperti itu juga banyak yang muncul tapi redup lagi, sekarang yang sedang trend kan musik K-Pop, boyband dan Girlband menjamur, tapi sebentar lagi sepertinya akan redup juga,” jelas Fauzi yang juga ketua PAC IPNU Kalijati tersebut.

Melihat fenomena tersebut, santri Pesantren Yafata ini berinisiatif untuk membuat grup musik hadrah. Santri-santri kemudian mengajukan permohonan kepada pengasuh Pesantren Yafata, yang juga Rais PCNU Subang, KH. Moh. Musa Muttaqin, pada tahun 2010 permohonan tersebut dikabulkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita tidak ingin mengikuti musik di TV yang menurut saya araraneh, karena nanti kita pasti akan gonta-ganti musik, karena mereka kan melihatnya penontonnya. Kalau banyak yang nonton ya lanjut, kalau tidak ya ganti, kan kalau seperti itu kita tidak istiqomah. Jadi kita milih hadrah saja, Insya Allah kalau hadrah kita bisa istiqomah ditambah lagi kan kita ini di pesantren, hadrah kan identiknya,” paparnya.

Saat ini, personil Grup hadrah tersebut berjumlah 10 orang yang digawangi oleh Deden MFR, Uswanto, Deden MZ, Rijal, Abdul Fatah, Afif, Iqbal, Ilham, Opik dan Cecep, disepakati jadwal latihannya adalah setiap hari Jumat dan atau hari Ahad.

Perlahan tapi pasti, hadrah pesantren Yafata ini mulai dikenal di berbagai daerah dan jam terbang “manggung” mereka sudah lumayan banyak. Tidak sedikit masyarakat yang meminta hadrah Yafata untuk tampil dalam acara walimah, maulidan, rajaban, dan lain sebagainya, bahkan pada bulan Rabi`ul Awal kemarin mendapat juara harapan 1 dalam lomba seni musik yang diadakan oleh Ikatan Remaja masjid Nurul Huda Kecamatan Binong, Subang.

"Alhamdulillah, meski media tidak memperhatikan, masyarakat masih suka mendengarkan. Semoga NU, juga PBNU, selera musiknya tidak ikut media. Artinya apa? Ya minta dukungan, Ishari itu didukung." ujara Fauzi, dengan tegas.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 Januari 2016

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Memasuki usia 55 tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pengurus Besar PMII menggelar beragam kegiatan mulai dari seminar nasional, donor darah, bantuan sosial, ragam perlombaan, panggung seni budaya, istigotsah dan doa bersama untuk bangsa.

Menurut Ketua Panitia Harlah PMII ke-55 Mukafi Makki, tema harlah ini adalah “Pembela bangsa, Penegak agama.” Sebuah kalimat yang tertera dalam mars PMII.

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama

“Tema ini mengambil intisari dari mars PMII yang diciptakan H Mahbub Djunaidi,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Surabaya, Kamis (16/4).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pembela bangsa, menurut dia, adalah komitmen PMII untuk membela identitas kebangsaan seperti setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undan-Undang Dasar 1945.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara penegak agama, menurut dia, maksudnya adalah penegak Islam Ahlussunah wal-Jamaah (Aswaja) yang bisa toleran kepada pihak yang lain dan menghargai para kiai.

Sebagai penegak Islam Aswaja, maka kata dia, pada malam puncak Harlah Jumat 17 April 2015 akan berlangsung istigotsah dan doa bersama yang dihadiri para kiai. (Abdullah Alawi)

Mars PMII

Pencipta: H Mahbub Djunaidi

Inilah kami wahai Indonesia

Satu barisan dan satu cita

Pembela bangsa, penegak agama

Tangan terkepal dan maju ke muka

Habislah sudah masa yang suram

Selesai sudah derita yang lama

Bangsa yang jaya

Islam yang benar

Bangun tersentak dari bumiku subur

Denganmu PMII

Pergerakanku

Ilmu dan bakti, ku berikan

Adil dan makmur kuperjuangkan

Untukmu satu tanah airku

Untukmu satu keyakinanku

Inilah kami wahai Indonesia

Satu angkatan dan satu jiwa

Putera bangsa bebas meerdeka

Tangan terkepal dan maju kemuka

Denganmu PMII

Pergerakanku

Ilmu dan bakti, ku berikan

Adil dan makmur kuperjuangkan

Untukmu satu tanah airku

Untukmu satu keyakinanku

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Pertandingan, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 15 Januari 2016

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!

Bantul, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat mesti membentengi diri dari ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Namun demikian, mereka tak perlu mengucilkan para mantan anggotanya. Eks Gafatar adalah korban dari dangkalnya pemahaman agama yang tidak boleh diperlakukan diskriminatif.

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!

Demikian pandangan KH Hendri Sutopo, penasehat Yayasan Kodama, dalam acara Mujahadah Rutin Malam Selasa Kliwon di Masjid Kodama Bantul, DI Yogyakarta.

“Eks Gafatar jangan dikucilkan. Karena bisa jadi mereka korban. Pemahaman sepenggal atas Al-Qur’an bisa membuat seseorang salah paham terhadap agama. Lebih parahnya, bisa berbuat radikal dan takfir (gemar memvonis kafir). Ini tugas pesantren untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,” jelasnya, Senin (25/1) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai yang pernah dibimbing Alhamrhum KH Ali Maksum Krapyak tersebut menilai, kebanyakan orang-orang yang ikut Gafatar itu disebabkan punya problem ekonomi dan keluarga. Masalahnya, imbuh Hendri, mereka tidak mau berkonsultasi kepada para kiai terkait masalahnya itu.

“Mereka tidak mau diskusi bareng-bareng. Sehingga saat ada yang mendoktrin untuk melakukan sesuatu, mereka langsung ikut,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, Yayasan Kodama yang juga bergerak di bidang sosial harus memiliki konsep deradikalisasi yang jelas. Para kiai harus menerangkan deradikalisasi dalam setiap pengajian di desa maupun kota.

Sebelum pengajian, acara Mujahadah dipimpin KHR Chaidar Muhaimin Afandi, Pengasuh Pondok Pesantren Padang Jagat Al-Munawwir Krapyak. Tampak hadir dalam forum tersebut H Suharto Djuwaini, Wakil Ketua PWNU DIY. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Januari 2016

Bagi-bagi HP

Suatu ketika Gus Dur membagi-bagikan handphone kepada sejumlah kiai NU. Beberapa kiai agak kikuk dengan teknologi telepon genggam itu.

Karena merasa sejumlah kiai koleganya sudah mendapatkan handphone, Gus Dur pun dengan mudah menghubungi mereka lewat telepon genggam tersebut.

Pada satu kesempatan, Gus Dur meminta kepada asistennya untuk mengirimkan SMS ke salah seorang kiai. Namun, lama ditunggu, jawaban dari sang kiai tak kunjung didapat. Alhasil Gus Dur pun menelepon sang kiai.

Bagi-bagi HP (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi-bagi HP (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi-bagi HP

“Pak kiai, kalau ada SMS dari umat mbok ya dijawab,” kata Gus Dur.

Lantas sang kiai menjawab, “Waduh Gus, saya nggak nulis di handphone ini, soalnya tulisan saya jelek.” (Ahmad Syaefudin-Staf Majalah Bangkit PWNU DIY)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Habib, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 10 Januari 2016

Santri NU Tidak Telan Mentah Berita di Medsos

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, menggelar dialog interaktif bertajuk "Menyikapi Berita “hoax” dan Santun dalam Bermedia Sosial" di aula pertemuan Pesantren Durruto Aswaja Jalan Kalimasada Sekaran, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Rabu malam (18/1).

Dalam kesempatan itu, hadir Wakil Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jepara M. Abdullah Badri dan Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah Hamidulloh Ibda. Badri, sapaan M. Abdullah Badri, menegaskan bahwa mengonsumsi berita “hoax” memang harus cerdas. Sebab, menurut dia, santri tidak hanya menelan mentah-mentah berita yang beredar di media sosial.

Santri NU Tidak Telan Mentah Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri NU Tidak Telan Mentah Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri NU Tidak Telan Mentah Berita di Medsos

"Kalau tidak memakai pola pikir yang benar, berita “hoax” kalian konsumsi, makanya kalian mudah mengatakan “kafir”, “cina”, “wahabi”, “yahudi”, “halal darahnya” dan lainnya itu. Santri NU tidak boleh begitu, dan harus cerdas menyikapinya," ujar Badri di hadapan ratusan santri tersebut.

Penulis buku "Kritik Tanpa Solusi" tersebut juga menandaskan, bahwa di dunia pemberitaan, berita “hoax” tidak selamanya bohong, tapi juga ada yang direkayasa dan menjadi propaganda untuk kepentingan tertentu. "“Hoax” itu bukan selalu bohong, bisa dibuat nyata, tapi catatannya bohong kalau fake news (berita palsu), itu direkayasa, dan tidak jelas rujukannya. Jadi, itu harus dibedakan, mana “hoax” news dan mana fake news," beber Badri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alumnus MA TBS Kudus itu juga mencontohkan bahwa NU saat ini diserang dengan memberitakan “hoax” Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. "Memang Indonesia dan Islam saat ini mau dipecah. Salah satunya menyerang lewat NU. Memang NU kuat kultur dan budaya pesantrennya, makanya diserang dulu," lanjut dia.

Ia juga membeberkan, belakangan ini banyak sekali berita “hoax” yang bertujuan melemahkan dan menyerang KH Said Aqil Siroj dalam rangka melemahkan NU. "Konsep hubbul wathon minal iman, itu yang pertama kali memelopori ya NU. Makanya kita harus menjadi NKRI ini dari perusak, salah satunya penyebar “hoax” itu," beber dia.

Oleh karena itu, kata dia, saya memegang teguh dawuh Habib Luthfi Bin Yahya bahwa kita harus menjaga NU, kiai dan NKRI. "Kalau ada, siapa saja yang menghina, merendakah dan memberitakan “hoax” pada kiai NU, kita wajib melawannya," tegas dia.

Menjaga kiai, kata Badri, menjaga NU dan jaga NKRI, itu yang dipesan Habib Luthfi yang harus dipegang teguh agar Indonesia dan NU aman. "Kita ini memang berada dalam kondisi peperangan, yaitu perang siber, maka berita “hoax” harus dilawan dan disikapi dengan cerdas," imbuh dia.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda Direktur Utama Formaci Jateng juga menambahkan, data tahun 2014 menyebutkan pengguna Facebook di Indonesia mencapai 77 juta, sementara 2015 mencapai 82 juta pengguna. "Sampai Oktober 2016 menurut catatan Kompas, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 88 juta orang. Sedangkan pengguna layanan chatting WhatsApp sebanyak 1 miliar pengguna dan Messenger sebanyak 1 miliar pengguna, serta Instagram sebanyak 500 juta pengguna," beber alumnus Pascasarjana Unnes tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Data tersebut sangat berpengaruh terhadap komsumsi berita di medsos, baik itu Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya. Apalagi, masyarakat saat ini, kata dia, lebih percaya isu daripada berita valid. Ironisnya, berita “hoax” menjadi alat untuk menghancurkan jurnalisme demi mendapatkan kekuasaan dan perang politik.

Padahal sebuah berita, lanjut dia, dalam kerja jurnalistik harus melalui tahap wawancara dan klarifikasi serta memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, Who, Why, Where, When dan How). "Idealnya, sebelum membaca, mengomentari dan membagikan berita di medsos, santri harus membaca dan klarifikasi, jangan asal membagikan," imbuh dia.

Menurut dia, santri dan utamanya mahasiswa harus pandai memilah dan memilih berita yang datang dari media online saat ini. Dijelaskan dia, bahwa syarat menjadi media online saat ini minimal harus berbadan hukum PT (Perseroan Terbatas), dapat SIUP dan didaftarkan di Dewan Pers agar bisa dapat barcode.

"Kalau media onlinenya tidak jelas, ya sudah kita tabayyun, klarifikasi saja kepada narasumber atau kepada pihak yang bisa kita kroscek. Soalnya kita saat ini memang dalam banjir berita, jadi kalau tidak bisa menangkal berita “hoax”, kita ya akan terprovokasi dan tertipu," ujar penulis buku “Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner” tersebut.

Anda di sini mahasiswa dan mahasiswi, kata dia, maka kalau sumber mendapatkan kebenarannya tidak jelas ya lucu. "Kalau wartawan bisa saja mendasarkan kebenaran pada wawancara dan klarifikasi. Tapi kalau ilmuwan kan harus empiris, minimal memenuhi standar kualifikasi ilmu, yaitu melalui tahap ontologi, epistemologi dan aksiologi. Bukan asal percaya informasi, apalagi itu “hoax”," ujar mantan Sekretaris IPNU Dukuhseti Pati itu.

Ia berharap, santri Pondok Pesantren Durrotu Aswaja ke depan semakin menggali potensi literasi yang ada guna untuk menangkal berita “hoax”. "Santri kan punya metode sendiri dalam mendapatkan kebenaran yang sudah diajarkan di pondok. Nah itu silakan dimaksimalkan agar terhindar dari “hoax”," pesan dia.

Di sisi lain, Ketua Pengurus Pondok Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Rodli Mahfudin, berharap agar kegiatan itu mampu membuat santri tercerahkan atas berita “hoax” yang selama ini beredar pesat di media sosial. "Harapannya santriwan dan santriwati menyerap materi berita “hoax” dan menyikapinya dengan santun," beber dia. (Siwi Fatmawati /Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Ubudiyah, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 Januari 2016

Mbah Munawwir Punya Riyadhah Spesial

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Ahad (21/4) malam, menggelar acara puncak haul ke-74 KH Munawwir, sang pendiri pesantren.

Tentu saja, ada yang berbeda dalam haul kali ini, karena baru saja Pesantren Al-Munawwir Krapyak berduka dengan wafatnya salah satu pengasuhnya, KH Ahmad Warson Munawwir, salah satu putra Mbah Munawwir yang sukses membuat kamus Arab-Indonesia ‘Al-Munawwir’.

Mbah Munawwir Punya Riyadhah Spesial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Munawwir Punya Riyadhah Spesial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Munawwir Punya Riyadhah Spesial

Menurut KH. Munawir AF, alumnus Krapyak dan Mustasyar PWNU DIY, Mbah Munawwir adalah sosok yang penuh teladan. Sebagaimana umumnya ulama, para Kyai, Mbah Munawwir juga mempunyai wirid/riyadhah yang spesial dalam hal Al-Quran. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Selama 7 hari 7 malam, beliau mengkhatamkan Al-Quran 1 kali - selama 3 tahun. Setiap 3 hari 3 malam, mengkhatamkan Al-Quran 1 kali - selama 3 tahun. Setiap 1 hari 1 malam, mengkhatamkan Al-Quran 1 kali - selama 3 tahun. Selama 40 hari/malam membaca Al-Quran tanpa henti,” tegasnya. 

Kiai Munawir AF juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Mbah Munawwir tersebut merupakan teladan yang dilaksanakan para sahabat Nabi. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW dulu, mereka mengkhatamkan Al-Quran ada yang 5 hari sekali, tetapi yang banyak setiap 7 hari sekali, seperti: Zaid bin Tsabit, Ibnu Masud, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dll, termasuk Mbah Munawwir, beliau lakukannya sehingga wafat,” lanjutnya.

“Suatu riyadhah yang tidak mungkin dilaksanakan kecuali hamilul Quran yang memiliki kemauan yg kuat, semangat yang tinggi seperti Mbah Munawwir atau yang setara dengannya. Berbahagialah santri Krapyak yang mempunyai Mbah Munawwir sebagai cermin keteladanan yang bermutu tinggi,” kenangnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammadun-Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 Januari 2016

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Sijunjung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nahdlatul Ulama tidak pernah menolak tradisi Nusantara, selama hal itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits. Selagi itu budaya positif, NU tak segan mengakomodasi tradisi tersebut dalam kehidupan beragama.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Sijunjung Buya Bustamam Habib pada acara halal bihalal PCNU Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (3/8/2016) di Mesjid Raya Baiturrahman Sungai Lansek, Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Buya Bustamam mencontohkan, tradisi halal bihalal yang dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia tidak diterangkan secara eksplisit di dalam Al-Quran dan Hadist Nabi. Namun, halal bihalal ini sangat dianjurkan karena menjadi sarana meningkatkan silaturahim.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di bagian lain Buya Bustaman menyebutkan, semangat ber-NU terbersit dari nilai-nilai perjuangan NU di masa silam untuk bangsa Indonesia. Selain ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang tertanam di dalam diri setiap individu masyarakat NU juga nilai bahwa NKRI adalah sebuah kajian final untuk sebuah negara yang wajib ditaati oleh setiap warganya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari awal perjuangan sampai kepada kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, NU berkomitmen untuk menjaga dan merawat bangsa Indonesia secara utuh. Maka, kecintaan masyarakat NU harus dibuktikan dengan kembalinya ke pesantren dan masjid.

“Seperti yang kita lakukan pada saat ini. Bukti pertama bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung sedang mendirikan pesantren Nurul Ilmi,” kata Buya Busatamam Habib yang juga akan mengasuh dan memimpin langsung pesantren tersebut.

Bukti kedua bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung dalam setiap acara dilakukan di masjid mulai dari pelantikan MWC NU sampai dengan perayaan-perayaan hari besar.

Halal bihalal dihadiri lebih kurang 300 jamaah dengan penceramah Buya Hendri Malin Sulaiman yang juga ulama NU Kabupaten Sijunjung.

Turut memberikan sambutan Staf ahli Bupati Kabupaten Sijunjung Syahril dan hadir juga Kasi Pontren Kemenag Sijunjung Yoni Hendra, Dandim, MWCNU, camat dan wali wagari setempat. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Pesantren, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah