Kamis, 26 Juni 2014

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Slamet Effendi Yusuf mempersoalkan validitas argumentasi penolakan atas konsep berikut mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi untuk diberlakukan di Muktamar NU Agustus ini. Slamet menganggap penolakan Ahlul Halli oleh sejumlah cabang itu lebih didasarkan pertimbangan politis.

“Kita harus memerhatikan apa dasar setuju atau menolak penerapan Ahlul Halli ini. Apakah lebih bersifat politis atau memiliki dasar keilmuan yang memadai,” ujar Slamet menceritakan pengalamannya di sejumlah cabang NU yang menolak Ahlul Halli.

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Argumentasi Penolakan Ahlul Halli wal Aqdi Tidak Berdasar

“Kalau kita perdalam alasan penolakannya, mereka jawab ‘Pokoknya tidak’,” cerita Slamet dalam rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pekan lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada Munas NU pertengahan Juni 2015 ini, para pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU akan melaporkan bahwa tugas PBNU untuk menyusun konsep mekanisme Ahlul Halli sesuai amanah Munas NU sebelumnya, sudah selesai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita ingatkan para pengurus wilayah di Munas nanti bahwa konsep Ahlul Halli ini berurusan dengan sesuatu yang fundamental untuk membuat NU sebagai jam’iyah diniyah, bukan siyasiyah. Keinginan kita bersama ialah mengangkat Rais Aam yang hebat, berwibawa, wir’oi, dan bahkan kita menginginkan Rais Aam yang tidak menghendaki diri untuk menjadi Rais,” kata Slamet.

Slamet mengingatkan teladan para guru-guru perihal imam di masjid. Ketika adzan tiba, mereka saling mempersilakan satu sama lain untuk menjadi imam. “Para kiai kita mempraktikkan ini dalam memilih Rais Aam NU.”

Ia lalu menceritakan kembali pengalamannya menghadiri Muktamar. Kiai Ali Maksum, Slamet menyambung, pernah pulang dari Muktamar di Kaliurang ke Krapyak hanya karena takut dipilih jadi Rais Aam. Kiai Mahrus juga pulang ke Kediri, takut dipilih.

Bahkan Kiai Ali Maksum mengatakan seperti penuturan Slamet, “Kalau ada sebiji dzarroh saja kehendak ingin menjadi Rais Aam, maka orang lain tidak boleh memilih saya.”

“Begitu juga soal Kiai Wahab dan Kiai Bisri. Inikan sering kejadian di masjid kita ketika hendak sembahyang. Para guru kita saling mempersilakan sesamanya untuk menjadi imam. Mari kita kembalikan kepada seperti ini,” pungkas Slamet.

Sementara Prof DR Maksum Mahfudz mengatakan, Ahlul Halli ini hakikatnya lebih pada membangun supremasi syuriyah di masing-masing cabang dan wilayah NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 21 Juni 2014

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Kabupaten Demak mengadakan maulid Rasulullah SAW dan istighotsah di halaman pesantren, Sabtu (9/1). Acara ini diikuti oleh lebih dari 5000 hadirin. Mereka terdiri atas para kiai, dewan guru, dan siswa lembaga yang ada di Yayasan Pesantren Futuhiyyah.

Acara diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah, dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qu’an, sambutan, pembacaan istighotsah serta pembacaan maulid Simtud Duror yang dipimpin oleh grup hadrah Babul Musthofa pimpinan Habib Luthfi dari Pekalongan.

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid Nabi di Pesantren Futuhiyyah Mranggen

Menurut pengasuh Pesantren Futuhiyah KH Muhammad Hanif Muslih, kegiatan ini merupakan salah satu agenda tahunan di Yayasan Pesantren Futuhiyyah. Kegiatan semacam ini perlu dilaksanakan untuk membekali baik para guru maupun siswa yang ada di yayasan untuk senantiasa meniru dan meneladani Rasulullah SAW, terutama akhlak Beliau. Karena pada Rasulullah terdapat suri teladan yang bagus sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. “Selama ini kita sulit untuk mencari suri tauldan yang bagus.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menjelaskan pentingnya kegiatan semacam ini. Kegiatan ini mendorong guru dan siswa di yayasan ini untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan ala Aswaja seperti istighotsah, pembacaan manaqib, tahlil serta maulid nabi yang selama ini sudah dilaksanakan oleh para guru pendiri yayasan.

Semua amalan itu harus terus dilestarikan walaupun akhir-akhir ini banyak aliran dan paham yang menyatakan bahwa pembacaan manaqib, tahlil, ziarah kubur, istighotsah, maulid adalah bid’ah, bahkan ada yang menyatakan syirik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia meminta segenap guru untuk senantiasa meniru akhlak rasul, berakhlak dengan Al-Qur’an. Pembina yayasan ini memerintahkan dewan guru untuk memberikan teladan baik kepada siswa. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 19 Juni 2014

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak

Banjarbaru, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak orang tua untuk "bermimpi" dan berani menggantungkan cita-cita yang tinggi untuk mendukung kesuksesan anak-anaknya di masa depan.

"Ibu-ibu harus berani "bermimpi" dengan menggantungkan cita-cita yang tinggi bagi anak-anaknya," ucap mensos di depan ratusan ibu-ibu di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (19/9) dilansir Antara.

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak

Pernyataan bernada ajakan tersebut disampaikan Mensos usai menyerahkan bantuan sosial berupa uang tunai kepada masyarakat penerima Program Keluarga Harapan di kota setempat. Mensos yang berbicara lugas dan penuh semangat sambil mengitari kursi ratusan ibu-ibu meminta agar setiap orang tua mendorong anaknya bercita-cita tinggi di masa depan.

"Di sini ada wali kota, ketua DPRD, jaksa, polisi dan PNS. Ayo siapa ibu-ibu yang ingin anaknya jadi seperti mereka," ucap mensos namun hanya sedikit dari ibu-ibu yang mengacungkan jarinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut mensos, pihaknya sengaja mendorong ibu-ibu agar berani dalam mempersiapkan masa depan anaknya sehingga mereka mampu menjadi orang "besar" dan bermanfaat. "Kaum ibu harus didorong seperti itu sehingga mereka berani mempersiapkan masa depan anaknya. Jika tidak didorong mereka justru diam karena tipikal kaum ibu seperti itu," ujarnya.

Ditekankan, dorongan itu juga sebagai penyemangat agar ibu-ibu merelakan anaknya mengasah keterampilan meski jauh dari keluarga melalui program yang dicanangkan Kemensos. "Kami punya program mendidik dan melatih anak-anak lulusan SMA sederajat mengikuti pelatihan di Jepang dan Korea Selatan. Jika anaknya berminat, ibu-ibu harus rela yaa," pesan mensos.

Dikatakan mensos, pendidikan dan pelatihan yang dicanangkan kemensos direncanakan mulai bulan November 2016 dan diharapkan anak-anak keluarga penerima PKH bisa mengikutinya. "Mereka dididik dan dilatih selama 2,5 tahun di dua negara itu sehingga setelah menjalaninya diharapkan memiliki ilmu dan keahlian di berbagai bidang yang dipelajarinya," kata mensos. (Red: Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Ubudiyah, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Juni 2014

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Mojokerto, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengajak seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Mojokerto untuk melakukan penanaman 1000 pohon di titik PAC yang tersebar di Mojokerto, Jumat (23/6). Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan alam.?

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Bibit pohon tersebut merupakan hibah dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) berupa 1500 bibit pohon sengon, sirsak, dan jambu merah. Selain disebar di seluruh PAC, PC IPNU-IPPNU Mojokerto juga menggandeng Kampung Main Majapahit (Kamajo).?

Kamajo merupakan pusat penelitian implementasi permainan Majapahit dan pengembangan budidaya tanaman langka. Terdapat lahan seluas 2,1 hektar dengan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. PC.IPNU-IPPNU Mojokerto turut menyumbang bibit pohon dengan harapan nantinya Kamajo bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang memiliki beragam jenis pohon.?

"Kegiatan penanaman ini sangat tepat dilakukan di Kamajo, karena Kamajo mencoba untuk terus berupaya dalam mengembangkan budidaya aneka jenis tanaman langka," ujar Muhsinin selaku pengelola.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk melakukan kegiatan yang memiliki dampak positif kepada masyarakat luas. Salah satunya yaitu dengan mengikuti gerakan menanam 1000 pohon. Ramadhan bukan lagi menjadi alasan untuk bermalas-malasan, karena dengan apa yang kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi orang banyak maka pahala akan dilipatgandakan oleh-Nya," ujar Sofiyuddin Ketua PC.IPNU Mojokerto. Oleh karena itu program ini dirasa sangat mendukung tumbuhnya lingkungan yang asri di kawasan Mojokerto. (Nuruddin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 12 Juni 2014

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam

Saadnayel, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam menghadapi musim dingin yang keras, pengungsi Suriah hanya dapat berlindung di tenda-tenda plastik di wilayah Saadnayel Lebanon Selatan.

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam

"Saya lebih baik mati sejuta kali daripada hidup dalam kondisi dihinakan seperti ini,” kata Faisal, (48) kepada Agence France Presse (AFP) Kamis, (12/12).

Faisal adalah satu dari 500 pengungsi yang tidak terlindungi dalam menghadapi badai musim dingin yang sangat keras yang terjadi beberapa hari lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti ratusan ribu pengungsi lainnya, ayah dari empat anak ini terpaksa mengungsi dari rumahnya di Suriah utara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam tenda pengungsian, tidak terdapat pemanasan yang memadai untuk mengatasi badai yang sangat menusuk tulang.

"Ketika terjadi hujan salju, air yang mencair masuk meruntuhkan tenda karena bertanya salju,” kata Sakr (13).

? Anak-anak lainnya, beberapa diantaranya tidak menggunakan topi sama sekali, bersin-bersin dan menggosok tangan mereka yang membeku bersama-sama. Sepatu mereka dipenuhi lumpur.

"Berikan kami sesuatu untuk membuat kami hangat,” kata mereka pada sekelompok wartawan.

Di tenda lain, laki-laki dan perempuan memeluk dan membelai bayi-bayi mereka untuk mentransfer kehangatan tubuh mereka pada bayi.

Beberapa pengungsi harus menggunakan apa saja untuk mengatasi dinginnya udara.

"Kami harus membakar sepatu untuk menjaga kehangatan karena tidak ada yang lain yang bisa digunakan,” kata Najla (40).?

PBB mengkonfirmasi kondisi ini sangat memerlukan perhatian agar para pengungsi dapat mengatasi musim yang mengerikan ini.

"Kami khawatir karena udara benar-benar dingin di wilayah Bekaa, dan kami sangat khawatir kondisi pemukiman pengungsian karena banyak diantaranya dibawah standar,” kata juru bicara The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Lisa Abou Khaled.

UNHCR dan tentara Lebanon telah membagi-bagikan selimut hangat dan uang untuk membeli bahan bakar penghangat.

Paling tidak 125,835 meninggal sejak konflik Suriah, menurut Syrian Observatory for Human Rights yang diumumkan minggu lalu.

Konflik tersebut menyebabkan lebih dari dua juta rakyat Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga, selain dua juta lainnya yang terpaksa pindah ke tempat lain di dalam negeri. (onislam/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 05 Juni 2014

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Oleh Suwendi



PAI (Pendidikan agama Islam) pada PTU (Perguruan Tinggi Umum) memiliki peran yang sangat strategis, baik pada pemenuhan kompetesi mahasiswa yang beragama Islam untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang Muslim, maupun dalam konteks kaderisasi pembangunan bangsa. Sebagai seorang Muslim, mahasiswa perlu diberikan layanan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan PAI yang memadai guna menjalankan segala kewajiban dan peranan dirinya sebagai Muslim. Demikian juga, wawasan dan komitmen kebangsaan bagi mahasiswa juga perlu diberikan secara cukup sehingga pada gilirannya lulusan PTU mampu berkiprah dalam membangun bangsa dan memiliki integritas nasionalisme yang tinggi.

Dengan demikian, kompetensi keagamaan Islam dan semangat nasionalisme menjadi barometer atas keberhasilan layanan PAI pada PTU dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen PAI pada PTU. Untuk itu, institusi PTU dan utamanya dosen PAI pada PTU dituntut untuk dapat memberikan fasilitasi dan proses pembelajaran PAI secara maksimal sehingga para lulusannya yang beragama Islam memiliki dua kompetensi sekaligus itu, yakni keislaman dan kebangsaan.

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengamanatkan bahwa Kementerian Agama menjadi leading sector atas pelayanan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan itu, tak terkecuali pendidikan agama Islam pada PTU. Oleh karenanya, kita patut memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah melahirkan PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama dan membuat salah satu unit kerja baru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni lahirnya Sub Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Subdit PAI pada PTU) pada Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit. PAI).

Selain Subdit PAI pada PTU, dalam ortaker tersebut tetap mempertahankan Subdit PAI untuk mulai jenjang usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, yakni Subdit PAI pada PAUD, Subdit PAI pada SD, Subdit PAI pada SMP, dan Subdit PAI pada SMA. Hanya saja, Subdit PAI pada SMK yang sebelumnya tersendiri kini melebur dengan Subdit PAI pada SMA. Kelahiran subdit-subdit ini mencerminkan bahwa pelayanan Pendidikan Agama Islam (PAI) mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah hingga jenjang pendidikan tinggi diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Tentu saja, capaian yang diharapkan atas sejumlah subdit itu adalah secara struktural dapat memfasilitasi atas ketercapaian pembelajaran PAI yang berorientasi pada dua kompetensi di atas, yakni keislaman dan kebangsaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sungguhpun demikian, Kemenristek Dikti telah melakukan upaya dan kebijakan yang cukup baik dalam melakukan pelayanan PAI pada PTU, meski perlu diakui tidak sebesar sebagaimana kebijakan atas pelayanan mata kuliah umum. Sejauh ini, penyelenggaraan PAI pada PTU didasarkan atas Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Nomor: 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dalam keputusan itu, mata kuliah PAI ada PTU menjadi salah satu dari komponen MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian) dengan bobot 2 SKS. Dapat dimaklumi, porsi 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini bisa jadi linier dengan bobot mata pelajaran PAI pada sekolah yang mendapatkan alokasi 2 atau 3 jam pelajaran saja.?

Sebagaimana dimaklumi, bobot 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini menjadi tantangan serius bagi dosen PAI pada PTU. Dosen PAI pada PTU dituntut untuk mampu melakukan serangkaian pendekatan dan proses pembelajaran agar dengan bobot 2 SKS itu dapat menghadirkan kompetensi mahasiswa yang mampu menjalankan kewajiban dan peran dirinya sebagai Muslim, di samping berintegritas kebangsaan yang baik.

Berdasarkan data PPDIKTI (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) Kemenristek-Dikti tahun 2017, jumlah perguruan tinggi umum secara total berjumlah 4.490 lembaga, yang terdiri atas Akademi sejumlah 1.101 lembaga, Politeknik sebanyak 250 lembaga, Sekolah tinggi berjumlah 2.433 lembaga, Institut sebanyak 148 lembaga, dan Universitas sejumlah 558 lembaga. Pada PTU itu, ada sebagian kecil yang memiliki Fakultas Agama Islam, yang pengelolaan dosennya diakomodasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama. Sementara dosen PAI pada PTU masih mengalami bias yang luar biasa. Untuk jumlah dosen PAI pada PTU, data yang diterima dari ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia) menunjukkan bahwa dosen PAI pada PTU yang sudah terdata baru sekitar 446 dosen dari seluruh perguruan tinggi. Tentu jumlah ini menunjukkan masih banyaknya dosen PAI pada PTU yang belum terdata, sebab 446 dosen itu tidak memungkinkan untuk dapat mengajar pada 4.490 PTU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sejumlah amatan, pengangkatan dosen PAI pada PTU setidaknya terdapat 4 (empat) pola, yakni [1] PNS yang diangkat oleh Kementerian Agama sebagai dosen Dpk (diperbantukan); [2] PNS yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti; [3] Diangkat oleh Pemerintah Daerah; dan [4] Diangkat sebagai dosen kontrak oleh PTU yang bersangkutan. Empat pihak yang mengangkat ini kemudian berimplikasi pada problemnya pembinaan karir dan profesi. Secara mayoritas dosen-dosen PAI pada PTU ini menghadapi problem karir dan profesi yang cukup serius.

Bagi dosen yang diangkat oleh Kemeterian Agama, ke mana mereka memproses karir dan profesinya itu? Sebab, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam atau Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta) di beberapa PTKIN tidak memfasilitasi pembinaan karir dan profesinya itu. Demikian juga, dosen yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti,tidak serta merta dapat diproses melalui Direktorat Jenderal Pembinaan SDM atau Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) dengan maksimal. Belum lagi dosen PAI yang diangkat oleh Pemerintah Daerah atau PTU yang bersangkutan, di lapangan menghadapi problematikanya yang lebih dahsyat.?

Persoalan home base bagi dosen PAI pada PTU mengalami kendala yang tidak sederhana. Pasalnya, home base dosen itu didasarkan pada Program Studi. Pada fakultas-fakultas umum di PTU tentu tidak memiliki program studi pendidikan agama Islam. Demikian juga, tidak semua PTU itu memiliki Fakultas Agama Islam. Akibanya tidak adanya home base ini berimplikasi pada tidak adanya layanan pengembangan akademik bagi dosen PAI. Akhirnya, tidak sedikit dosen PAI pada PTU yang menempel dan bahkan diambil dari dosen-dosen yang berasal dari program studi umum, semisal MIPA atau lainnya. Tentu praktik-praktik demikian sangat tidak menguntungkan bagi masa depan PAI pada PTU.

Terkait dengan penambahan jam untuk memenuhi tuntutan BKD (Beban Kerja Dosen) dan sertifkasi dosen, tampaknya belum dilakukan penataan yang ideal. Beban 2 SKS untuk mata kuliah PAI pada PTU berimplikasi pada keharusan dosen PAI pada PTU untuk “ngamen” dan inisiasi kegiatan lainnya sehingga dapat memenuhi tuntutan itu. Dalam banyak kasus, dosen-dosen PAI pada PTU berkiprah pada sejumlah kegiatan baik di masjid kampus atau LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau lainnya.?

Atas sejumlah problematika di atas, sejumlah penelitian menunjukkan keprihatinan yang luar biasa. Hasil penelitian Balitbang Kementerian Agama RI berjudul “Penelitian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum” tahun 2015 menunjukkan sebagai berikut.?

Pertama,pembelajaran PAI di PTU masih menjemukan. Meski pembelajaran PAI disampaikan dengan cara yang cukup variatif, tetapi yang kerap digunakan adalah metode ceramah atau kuliah mimbar, tanya jawab, dan diskusi. Hanya sedikit dosen PAI yang menggunakan metode brainstorming,small group discussion, role play, dan concept maps. Hal itu disebabkan karena rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa di PTU sangat tidak ideal. Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak membuat perkuliahan diformat semacam kuliah umum dan hasilnya pembelajaran berpusat pada dosen (lecturer centered) yang cenderung menjemukan.

Kedua, peran dan fungsi PAI di Perguruan Tinggi Umum lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibandingkan dengan peran dosen PAI. Dikesankan fungsi dan tanggung jawab dosen PAI di PTU “telah diambil alih oleh organisasi kemahasiswaan maupun oleh organisasi kemasyarakatan yang ada di lingkungan kampus”, melalui berbagai tawaran kegiatan keagamaan yang dikoordinasikan oleh mahasiswa maupun ormas. Namun diakui, kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan yang diikutinya lebih banyak mengembangkan ide-ide pemikiran radikal dan transnasional.

Temuan Balitbang tahun 2015 itu kemudian mendapatkan justifikasi oleh hasil temuan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dilakukan oleh Anas Saidi dan Endang Turmudzi yang berkesimpulan bahwa radikalisme tumbuh subur di kampus Perguruan Tinggi Umum.Sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Bahkan, menurut survei The Pew Research Center pada 2015 disebutkan 4 persen orang Indonesia mendukung IS.

Masih menurut hasil penelitian LIPI, pola radikalisme melalui organisasi eksternal kampus telah dimulai pasca-reformasi. Organisasi-organisasi mainstream di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terpinggirkan. Hampir seluruh kader kelompok dengan ideologi Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) atau salafi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan KAMMI, menjadi pimpinan badan eksekutif mahasiswa di PTU ternama di Indonesia.Kelompok seperti Ikhwanul Muslimin memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah.Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan.

Problematika dan implikasi destruktif yang demikian dahsyat, menurut hemat penulis, tidak dapat ditunda-tunda. Kementerian Agama, Kemenristek-Dikti dan sejumlah Kementerian/Lembaga lainnya segera untuk turut serta dalam menangani problematika pada dosen PAI pada PTU dan problematika lainnya di PTU, tentu dengan batas kewenangannya. Demikian juga sejumlah organisasi ekstra kampus yang berbasis keindonesiaan dan Islam moderat, seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpinan Mahasiswa Indonesia), dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) segera untuk merapatkan barisan guna penanaman pendidikan agama Islam yang berkarakter keindonesiaan.?

Penulis adalah Parktisi Pendidikan Islam; Doktor Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 Juni 2014

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para karyawan dan staf kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, mulai dari satpam sampai cleaning service, juga tak mau ketinggalan ? menonton film ‘Sang Kiai’. Karena itu, Sabtu (2/6) di Bioskop 21 TIM.

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng

Mereka mengikuti acara nonton bareng film yang menceritakan sejarah kebesaran dan nasionalisme pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Koordinator acara Kholili Muhammad menjelaskan, acara dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para karyawan PBNU untuk menonton film ‘Sang Kiai’ secara lengkap.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemarin pada saat acara Harlah NU kan baru potongan-potongan film yang dipertunjukkan,” ungkapnya.

Menurutnya, para karyawan PBNU merupakan bagian dari keluarga besar NU dan warga Nahdliyyin yang sepatutnya turut meneladani KH Hasyim Asy’ari atau paling tidak dapat mengetahui bagaimana sosok utama pendiri organisasi Islam terbesar tempat para karyawan itu sekarang mengabdi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Hasyim Asy’ari merupakan tokoh bangsa yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya, yakni melalui Resolusi Jihad 10 November 1949.?

“Apa yang dilakukan Hadratusysyaikh itu merupakan penggalan pengorbanan NU sebagai pengejawantahan semangat kebangsaan yang tidak bisa diragukan lagi komitmennya,” ungkap Idy Muzayyad, yang menginisiasi dan menfasilitasi acara nonton bareng tersebut.

Idy yang pernah menjadi ketua umum IPNU periode 2006-2009 menambahkan, tanpa Resolusi Jihad bisa saja perjalanan bangsa ini akan berbeda. ?

“Sangat mungkin kalau Mbah Hasyim tidak mencetuskan Resolusi Jihad, maka kondisi bangsa akan kembali ke alam penjajahan, atau setidaknya bangsa Indonesia akan lebih lama lagi berada dalam alam penindasan,” katanya.

Karenanya, orang NU harus bangga terhadap sejarah Resolusi Jihad dan keunggulan politik kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari. Harapannya, generasi NU sekarang tidak sekedar berhenti di kebanggaan terhadap tokoh pendahulu, tiba berikhtiar dengan kuat dan benar untuk meneruskan serta mengaktualisasikan keluhuran politik tokoh pendiri NU.

Acara nonton bareng yang diikuti 100-an orang itu juga mengajak para pedagang kaki lima di sekitar PBNU dan sebagian pengurus Banom dan Lajnah, antara lain IPNU, IPPNU, Ansor, Warga NU DKI dan lainnya.

Redaktur: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaNu, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah