Jumat, 29 Desember 2017

Walikota Pekalongan Khitan Dua Muallaf

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Walikota Pekalongan dr H Basyir Ahmad Ahad pagi kemarin (21/4) dengan cekatan mengkhitan 34 peserta khitanan masal bertempat di Aula Gedung Aswaja, Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan.

Walikota Pekalongan Khitan Dua Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Walikota Pekalongan Khitan Dua Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Walikota Pekalongan Khitan Dua Muallaf

Diantara 34 peserta diikuti oleh anak anak, ada dua peserta usia dewasa berasal dari Medan Sumatra Utara, mereka merupakan muallaf (orang baru masuk Islam-red) yang saat ini tinggal di Kota Pekalongan. Untuk mengkhitan 34 peserta Basyir dibantu oleh beberapa asistennya dengan menggunakan sistem laser.

Saat mengkhitan dua muallaf, Basyir meminta ibu-ibu yang mendampingi untuk keluar ruangan sementara. Pasalnya, yang dikhitan sudah berusia dewasa dan hanya bisa didampingi laki laki. Karena kedua muallaf berbadan besar, tentu panitia kerepotan menyiapkan dipan khusus, akhirnya dua dipan untuk anak-anak digandeng jadi satu sehingga bisa menampung badan peserta yang ingin segera dikhitan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Basyir, khitan laser memiliki beberapa keunggulan antara lain si pasien tidak merasa sakit, tidak berdarah dan yang lebih penting ialah steril dari kuman, sehingga setiap dirinya diminta mengkhitan, metode laser ini yang selalu digunakan. 

Kegiatan khitanan masal diantara salah satu kegiatan yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama Pekalongan Barat dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) yang diisi dengan pengajian umum, lomba murotal, donor darah, bazar dan pawai mobil hias.

Ketua PAC Fatayat NU Pekalongan Barat Hj Khusnul Khotimah kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Fatayat dan Muslimat di Pekalongan Barat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, untuk kegiatan besar ini, pihaknya mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Walikota Pekalongan dan beberapa donatur lainnya.

Kegiatan peringatan harlah mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat, terlihat sejak pagi gedung Aswaja telah dipadati ratusan pengunjung, baik keluarga peserta khitan maupun peserta pawai mobil hias serta berbagai aktifitas kegiatan lainnya seperti bazar dan donor darah.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz P

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman

Brebes,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Qudrotillah Bulakamba Kabupaten Brebes tak kalah dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Pada Senin (17/8) lalu, mereka menggelar upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70.

Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman

Peserta upacara tidak memakai celana panjang dan sepatu layaknya pelajar sekolah umum, melainkan bersarung dan kopiahnya. Mereka khidmat mengikuti prosesi upcara detik-detik proklamasi di bawah sengatan sinar matahari.

Pesantren yang diasuh oleh Kiai Ibnu Aif ini memang kental dengan aroma tradisionalisme lokalitas dan keindonesiaan. "Santri dan pengurus pondok ini ikut upacara kemerdekaan karena kami bagian dari NKRI, athiullaha wa athiu ulil amri. Patuh kepada Allah berarti patuh pada pemerintah atau negara," kata pria yang kerap dipanggil Gus Alif itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, meski dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, upacara bendera sebagai perlambang dari wujud nasionalisme. Pihaknya ingin menanamkan semangat NKRI kepada para santri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagi pesantren tersebut, nasionalisme sebagai perwujudan hubbul wathan minal iman dalam semangat ukhuwah wathoniyah. Itu juga yang melatarbelakangi perjuangan para ulama dan kaum santri dalam pertempuran melawan penjajah demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

"Di sini pesantren salaf ahlussunah wal jamaah, tidak bisa melepas begitu saja kultur dan budaya bangsa. Santri juga perlu mendapat wawasan sejarah kebangsaan akan pentingnya NKRI. Harus ditanamkan kuat-kuat NKRI, tidak boleh ada negara dalam negara," jelas dia.

Pesantren yang berdiri hampir lima tahun itu, cukup berkembang pesat. Jumlah santri mukim mencapai 70 anak dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa. Suasananya masih sangat tradisional. Seluruh bangunan dan bilik santri masih terbuat dari kayu dan bambu.

Setiap harinya, kegiatan belajar mengajar kitab kuning dan pendidikan Al-Quran ditanamkan kepada santri. Bahkan hingga pelajaran bahasa Inggris. Santri juga diperbolehkan mengambil sekolah umum.

"Kapasitas pondok sekarang baru menampung maksimal 70 santri, karena terbatas. Sehingga tahun ini kami tidak bisa menerima 200-an santri karena tidak muat," pungkasnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara memeriahkan Lebaran Ketupat dengan Karnaval Pesta Syawalan (KPS) dilaksanakan Senin (04/8) pagi.?

Kegiatan yang diikuti 6 tim, 5 IPNU-IPPNU Ranting dan 1 Remaja Masjid start dari pendopo kecamatan Kalinyamatan dan finish gedung MWCNU Kalinyamatan.?

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)
Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat

Ahmad Alimul Hasan, ketua panitia menyatakan kegiatan bertujuan melestarikan budaya Islam di Indonesia. Disamping itu, Hasan menyampaikan sebagai wahana silaturrahim sesama Muslim, utamanya IPNU-IPPNU.?

“Momen ini menjadi wahana silaturrahim IPNU-IPPNU baik Ranting, PAC dan PC. Juga dengan sesama banom NU di kecamatan Kalinyamatan,” jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari silaturrahim tersebut kegiatan juga menjadi nuansa baru sekaligus hiburan positif baik untuk kader IPNU-IPPNU maupun khalayak luas.?

Ketua PAC IPNU Kalinyamatan, Rifqi Septian Prayogo menambahkan kegiatan untuk melestarikan program kerja. Rifqi menyebutkan sesuai dengan tema yang diusung Pelajar Hijau Peduli Palestina—pihaknya mengungkapkan hal tersebut sebagai bentuk kepedulian IPNU-IPPNU terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal senada disampaikan Nur Faizin. Salah satu dewan juri tersebut menilai kegiatan menjadi menarik karena sesuai dengan kondisi kekinian.?

“Ini adalah bentuk kepedulian pelajar NU terhadap bencana yang terjadi di Palestina,” paparnya.?

Setelah proses penjurian yang diketuai Muhammad Khoironi memutuskan Juara I diraih PR IPNU-IPPNU Sendang dengan 7.445 disusul PR Kriyan dengan nilai 7.353 dan juara III PR Banyuputih dengan skor 7.155. Juara mendapat piala dan bingkisan dari panitia. (syaiful mustaqim/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Mobil-mobil Tokoh NU (1)

Siapa saja boleh pasang anggapan bahwa PP GP Ansor dibanjiri oleh barisan pemuda. Pori-pori muka kencang seperti kulit buah apel segar. Pandangan mata tajam. Setidaknya mereka mempunyai kesanggupan melompat dari duduk sunyi saat mendengar teriakan “maling” dalam kejauhan.

Hanya saja anggapan itu tidak secara bulat benar. Generalisasi sebagai metode, kata orang, mengandung cacat bawaan. Artinya, pengecualian hampir selalu ada. Buktinya, di kantor PP GP Ansor yang menjadi kantong para pemuda terdapat minimal seorang orang tua. Warhoni namanya.

Pada pokoknya begini. Siapa saja bisa singgah mengamati sekretariat PP GP Ansor di Jalan Kramat Raya Nomor 65A, Jakarta Pusat. Satu jam pengamatan dalam setiap harinya sudah lebih dari cukup. Kalau mau mengerjakan selama seminggu itu bagus. Tetapi, tiga hari pun memadai.

Mobil-mobil Tokoh NU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mobil-mobil Tokoh NU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mobil-mobil Tokoh NU (1)

Dalam amatan siapa saja yang berminat, Warhoni yang berusia lebih 60 tahun akan hadir di tengah mereka. Belum ada penelitian baik ilmiah, setengah ilmiah, maupun tampak ilmiah berani terbuka mengategorikan anak manusia berusia 60 tahun sebagai pemuda.

“Pak Roni,” para pemuda Ansor menyapa Warhoni. Kakeknya asal Brebes Jawa Tengah. Ia sendiri kelahiran DKI Jakarta.

Di malam basah itu, ia yang mengenakan kaos salah satu calon pasangan Pilkada lalu DKI Jakarta menyuguhkan minum hangat di malam hujan. Maklum, dari sekian orang yang berkegiatan di GP Ansor, ia terbilang paling sering keluar dan masuk dapur GP Ansor. Ia selalu membuatkan minuman hangat bagi pengunjung GP Ansor. Selain sudah tidak lagi muda, perannya di GP Ansor tidak menonjol mungkin karena hanya main di dapur dan belakang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pria yang tinggal di Kramat Sawah, Paseban, Senen memiliki ingatan cukup baik terkait tokoh-tokoh NU. Adalah Roni, pria yang bersisir menyamping sanggup menjelaskan mobil berikut nomor polisi mobil tokoh-tokoh NU di zaman itu.

“Waktu tinggal di Mangunsarkoro, Menteng, Kiai Idham Cholid masih menjabat sebagai wakil perdana menteri. Mobilnya Impala, sebuah merk sedan keluaran Chevrolet yang cukup laris di eranya. Namun setelah 1965, ia kerap diantar oleh Mercedes-Benz dengan nomor polisi ‘B 25’. Kalau bukan Brimob, maka sejumlah prajurit Angkatan Udara (AU) mengawalnya,” ungkapnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, di Kantor PP GP Ansor, Rabu (3/4) malam.

Sementara Pak Subhan ZE selalu berkendaraan dengan Pontiac, sebuah sedan panjang dengan plat nomor ‘B 4’. Sedangkan Pak Mahbub dan Pak Zamroni, hanya mengendarai VW Kodok. Alm Kiai Musthofa Bisri, mbah dari Wakil Rais Aam PBNU kini KH Musthofa Bisri, lain lagi. Mobilnya, imbuh Roni, hanya Datsun yang telah keropos.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Roni cukup melek dengan kendaraan. Ini bisa dipahami. Karena, lepas usia sepuluh tahun ia sudah bergelut dengan dunia itu. Ia menjadi tenaga tambahan di sebuah bengkel Vespa di bilangan Senen selama 40 tahun.

Kini ia kerap membersih-bersih di sekretariat PP GP Ansor. Tangannya akan segera bergerak membersihkan tumpukan cangkir bekas pakai dengan sisa ampas kopi berkerak. Di akhir perjumpaan ia selalu menggaungkan kesederhanaan dan keikhlasan dalam keorganisasian.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rendahnya kualitas hidup kaum perempuan di Indonesia salah satunya adalah akibat kebijakan pembangunan yang bias gender. Pola pembangunan semacam ini berdampak serius dalam marginalisasi kepentingan perempuan di semua sektor kehidupan, dari mulai masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan lain-lain.



Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Di sektor pendidikan misalnya, kebanyakan warga negara yang buta huruf dan berpendidikan rendah adalah kaum perempuan. Sehingga mereka kerap menjadi korban tindak kekerasan maupun sasaran eksploitasi.

“Karena itu Fatayat NU kini memiliki program yang lebih terarah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi kaum perempuan, khususnya warga nahdliyin,” ungkap Ketua Pengurus Pusar Fatayat Fatayat Nahdlatul Ulama, Hj Maria Ulfa saat memberikan sambutan pada acara Pelantikan Pengurus Cabang Fatayat NU Kab Tegal masa khidmat 2007-2011, Ahad (20/5).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang bertempat di aula SMK Negeri 1 Slawi itu sekaligus juga Pengesahan Pusat Informasi Konsultasi Kesehatan dan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) PC Fatayat NU Kab Tegal. Turut hadir pada kegiatan tersebut, Rois Syuriah NU Kab Tegal, KH Chambali Utsman, Katib Syuriah KH M Abror Jamhari, Ketua DPRD H Ahmad Husein, Kepala Dinas PMKB & Kesos Pemkab Tegal Haron Bagas Prakosa, dan seluruh pengurus Cabang dan Anak Cabang Fatayat NU se-Kabupaten Tegal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan Maria Ulfa, isu kesehatan yang menimpa kaum hawa juga telah lama menjadi “pekerjaan rumah” bagi kader-kader Fatayat dari tingkat pusat hingga cabang. Kasus banyaknya kematian ibu karena proses melahirkan, kematian balita, penyakit animea dan lain sebagainya adalah menjadi bagian dari garapan program kerja Fatayat NU saat ini. “Sehingga kemudian kita bekerjasama dengan Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk membentuk PIK-KRR sampai ke setiap Pengurus Anak Cabang Fatayat NU,” ujarnya.

Selain itu, rendahnya kualitas hidup kaum perempuan juga akibat kesenjangan ekonomi. Banyak kaum ibu yang tertindas secara ekonomi tidak mendapatkan perlindungan ataupun keberpihakan yang lebih nyata. “Fatayat NU telah bermitra dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan suatu program terkait masalah ini. Fatayat juga akan memberikan advokasi terhadap kaum perempuan yang menjadi korban kesenjangan ekonomi dan kebijakan pembangunan daerah,” katanya.

Sementara itu, Ketua PC Fatayat NU Kab Tegal Hj Nur Khasanah menegaskan, pihaknya siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk merealisasikan program-program yang bersifat kemanusiaan. “Selama ini, kami juga telah bekerjasama dengan LSM luar negeri seperti FHI, UNICEF dan UNDP. Terutama program pencegahan HIV/Aids, Flu Burung, Deman berdarah dan lain-lain,” katanya.(fei)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Keputusan untuk berkiprah dalam organisasi tanpa melalaikan kewajiban sebagai Ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itulah yang dilakukan Nyai Solichah Saifuddin Zuhri. Mertua KH Salahuddin Wahid ini berprinsip aktif dalam sebuah organisasi tak harus meninggalkan peran utama dalam keluarga.

Karena itu pula, dia selalu mengajak anak-anaknya dalam kegiatan organisasi yang dia lakukan. Seperti saat kampanye Pemilu 1955, saat itu Nyai Solichah diberi tanggung jawab sebagai Juru Kampanye (Jurkam) NU (ketika masih menjadi partai politik) keluar daerah. Bertepatan kala itu dia punya momongan yang masih kecil, yakni seorang putri berusia 10 tahun bernama Farida dan adiknya yang masih bayi bernama Baihaqi.

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Meski berada di panggung kampanye, Nyai Solichah tetap membawa kedua anaknya menghadiri undangan rapat kampanye. Alhasil, Nyai Solichah berpidato sementara si kecil Baihaqi digendong sang kakak tanpa bantuan baby sitter. Hal itu sebagai bukti kemandirian sosok Nyai Solichah Saifuddin Zuhri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang, selama hidupnya Nyai Solichah berpandangan bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Selain itu, seorang perempuan harus menguatkan kehidupan keluarganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkarir atau pun berorganisasi. Karena tanggung jawab sebagai Ibu Rumah Tangga menjadi tanggung jawab utama. Karena prinsip-prinsip yang dia pegang itu lah tak ayal dia tetap membawa Sang Anak kala beraktivitas dalam organisasi.

Keterlibatan Nyai Sholihab dalam Muslimat NU dimulai dari bawah ketika menjadi Ketua Muslimat NU wilayah Jawa Tengah tahun 1950-1955. Baru sekitar 1956-1989, dia dipercaya sebagai salah satu ketua di PP Muslimat NU. Bahkan hingga Nyai Solichah wafat 6 Maret 1990, beliau masih berstatus sebagai pengurus PP Muslimat NU.

Kiprahnya dalam Muslimat NU tampak di bidang kesehatan. Dia pernah menjabat sebagai Direktris Rumah Bersalin Muslimat NU di Hang Tuah, Jakarta Selatan. Rumah bersalin itu dibangun di atas tanah wakaf suaminya KH Saifuddin Zuhri. Meski menjadi bagian dari Direktris, dia tetap menjalankan hobinya dalam hal menjahit dan berkebun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari perkawinannya dengan KH Saifuddin Zuhri, Nyai Solichah dikaruniai 10 anak yakni Fahmi D Saifudin, Farida Salahuddin Wahid, Annisa S Hadi, Aisyah Wisnu, Andang Fatati, Ahmad Baehaqi Saifudin, Yulia Nur Soraya, Annie Lutfia, Adib Daruqutni, dan Lukman Hakim Saifudin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI. (Mahbib)

Diolah dari buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir

Kendati baru sekitar satu tahun merintis dari nol dalam usaha memproduksi tempe, kini Abdullah (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda santri yang kedua orang tuanya telah tiada ini sudah bisa merekrut dua karyawan. Dengan dibantu dua orang tersebut, sekarang saban harinya pemuda kelahiran Temanggung 1985 ini sudah berani mengolah sedikitnya 50 kilogram kedelai untuk diproses menjadi tempe. Saat jumlah kedelai yang diolahnya baru lima kiloan di awal-awal membuka usaha dia mengerjakan sendiri semua proses kerja pembuatan tempenya itu, mulai dari belanja kedelai di pasar, mematangkan kedelai, meracik campuran ragi, hingga mendistribusikannya ke konsumen.

Munculnya inspirasi membuka usaha produksi tempe ini tidak ia peroleh dari pelatihan atau pembinaan dari suatu instansi tertentu, melainkan atas penemuan kesadarannya sendiri setelah beberapa tahun lamanya dirinya ditempa di perantauan dengan pekerjaan yang tidak pasti dan seringnya menjadi kuli bangunan. Meski tempo itu Abdullah senantiasa giat bekerja serabutan di Jakarta, dia merasa jiwanya gersang jika sepanjang tahun bekerja tanpa jeda, maka tiap bulan Ramadhan ia memanfaatkannya untuk libur bekerja, lalu sepanjang satu bulan itu ia pergunakan mengikuti ngaji pasaran di salah satu pesantren di daerah Cirebon. Saat menimba ilmu dalam momen bulan Ramadhan inilah dirinya acap mendapatkan nasihat dari kiainya supaya tahun berikutnya mencari pekerjaan di kampung halamannya saja, syukur-syukur bisa membuka suatu usaha di desanya. ?

Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Berkah Bisnis Tempe dengan Filosofi Dzikir

Bagi alumni dari salah satu pondok pesantren di Kaliwungu Kendal ini usaha membuat tempe itu dapat disebut sebagai suatu karya juga. Oleh karena itu menurutnya dalam memproduksi tempe seyogiayanya tidak sebagaimana seorang tukang yang umumnya mekanis cara kerjanya. Melainkan perlu juga adanya penjiwaan laiknya sastrawan dalam menulis puisi atau novelnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Yang dimaksud dengan penjiwaan ialah ketika mengolah dan memproses bahan mentah berupa kedelai ia niatkan bertasbih seraya membayangkan dirinya selaku khalifahnya Allah sedang menjalankan perintah mengelola ciptaan Tuhan. Berkarya membuat bahan-bahan yang masih mentah menjadi produk yang siap dinikmati orang merupakan manifestasi dari ungkapan tasbih. Berkarya dalam bidang apa saja perlu menghidupkan rasa seninya," tutur lajang yang kedua orang tuanya kini sudah tiada itu.

Yang kedua, lanjutnya,? setelah tasbih yaitu tahap tahlil. Esensi dari tahlil adalah mentauhidkan Allah. Bila diterapkan dalam konteks berkarya ialah setelah seseorang berusaha dengan maksimal menciptakan karyanya, hasil akhirnya dipasrahkan pada Allah juga. Artinya siap berhasil, siap pula gagal. Dengan demikian seorang pengusaha tidak mudah frustasi jika mengalami kegagalan, karena tugasnya berkarya sudah ia tunaikan, soal keberhasilan bukan wewenangnya tapi otoritasnya Tuhan. Dengan modal tauhid ini pula seseorang menjadi berani memulai dalam karya apa saja, dan tidak takut gagal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Yang ketiga istighfar. Yaitu mengevaluasi terhadap hasil produknya, membenahi kelemahahan-kelamahan dan kekurangan selama ini dan terus berusaha membuat produknya semakin baik kualitasnya dari waktu ke waktu. Itulah hakikat istighfar diterapkan dalam suatu usaha atau pekerjaan."

Bahkan, menurut Abdullah, dalam suatu usaha yang terpenting bukan seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari produk karyanya. Melainkan proses seni dalam berkarya itu sendirilah yang terpenting. Dalam proses pembuatan tempe tersebut misalnya, selalu ia tanamkan dalam benaknya bahwa ia tidak semata sedang bekerja mencari uang, tetapi dalam rangka melayani bagi siapa pun orangnya yang membutuhkan tempe.

Dengan konsepsi macam itu, maka dia dalam membuat tempe berusaha menghasilkan produk yang bermutu, agar para konsumen maupun dirinya sama-sama mendapatkan manfaat. Karena produk yang jelek meskipun laku dijual namun membawa kerugian para pembelinya. Dia tidak hanya berharap tempenya laku, tapi sekaligus berharap dapat memuaskan pelanggannya. (M. Haromain)

*) Ditulis dari kisah nyata seorang wirausahawan muda yang nama dan fotonya tidak mau dipublikasikan

=====

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah